Claim Missing Document
Check
Articles

PERANAN WANITA DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI LOKAL (STUDI KASUS TENTANG POLA RUANG BELANJA WANITA DI DAERAH PINGGIRAN KOTA SEMARANG) Ariyani Indrayati
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v7i2.80

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui peran wanita dalam pemberdayaan ekonomi lokal, dengan tekanan pada studi ruang belanja wanita. Penelitian bersifat deskriptif-eksploratif, dengan menggunakan metode survei. Ruang lingkup kajian terdiri dari empat aspek, yaitu : (1) karakteristik sosial ekonomi wanita, (2) peran wanita dalam mengatur pengeluaran keluarga, (3) pola orientasi ruang belanja wanita, dan (4) faktor-faktor yang mempengaruhi orientasi ruang belanja. Penelitian dilakukan terhadap wanita rumah tangga di kompleks perumahan di daerah pinggiran kota Semarang dengan mengambil 3 sampel strata perumahan berdasarkan tingkat ekonomi masyarakatnya, yaitu Perumahan Puri Sartika, Trangkil Sejahtera, dan Palm Hill. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sosial ekonomi wanita rumah tangga di pinggiran kota memiliki modal dasar dan potensi besar bagi pemberdayaan ekonomi lokal, ditandai tingkat pendidikan, penghasilan dan pengeluaran yang tinggi. Wanita juga memiliki peran penting dan dominan dibanding pria dalam mengatur pengeluaran keluarga (60%). Selanjutnya dari aspek 10 jenis kebutuhan belanja, wanita memegang peran dominan lebih dari 50%. Potensi ekonomi yang besar dan peran wanita yang dominan tersebut ternyata kurang banyak memberikan manfaat bagi pengembangan ekonomi lokal. Hal ini disebabkan sebagian besar wanita membelanjakan uang atau pengeluarannya di kota Semarang (70%) dan hanya 30,28% yang berputar di wilayah lokal, tempat perumahan berada dan sekitarnya. Hal ini dipengaruhi oleh faktor pendidikan, penghasilan, pengeluaran, lokasi sekolah, lokasi kerja, dan jenis kebutuhan. Selain itu karena harga murah, barang lengkap dan berkualitas, serta kesamaan tempat kerja atau sekolah. Hasil analisis komparasi antar strata perumahan terhadap pola ruang belanja menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Semakin tinggi strata perumahan, semakin jauh ruang belanjanya. Dengan kata lain dampak terhadap upaya pemberdayaan ekonomi lokal semakin kecil. Hasil studi merekomendasikan : (1) Pengembangan perumahan kelas menengah ke bawah di pinggiran kota lebih disarankan dibanding dengan perumahan mewah. (2) penjelasan kontinyu dan intensif tentang peran wanita dalam pengembangan ekonomi lokal. (3) pengembangan wilayah pinggiran kota secara terpadu, khususnya dengan kota utama. (4) sarana dan prasarana ekonomi; (5) integrasi sosial dan ekonomi, (6) riset terpadu wilayah pinggiran kota. Kata kunci : Peranan wanita, pemberdayaan lokal, pola ruang
IMPLEMENTASI MODEL DISCOVERY LEARNING TERHADAP KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X DALAM MATA PELAJARAN GEOGRAFIMATERI BIOSFER DAN ANTROPOSFER DI MAN 1 KEBUMEN Setianingrum, Wiwit Lutfita; Indrayati, Ariyani; Setyowati, Dewi Liesnoor; Santoso, Apik Budi
Journal of Edugeography Vol. 12 No. 3 (2024): VOL 12 NO 3 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/zav4c926

Abstract

Penerapan Kurikulum Merdeka di MAN 1 Kebumen belum berjalan dengan optimal dan cenderung menggunakan metode pembelajaran yang masih terfokus pada guru (teacher centered), sehingga dibutuhkan model pembelajaran yang mampu mengembangkan keterampilan siswa, salah satunya adalah discovery learning. Penelitian ini bertujuan 1) Membuat rancangan pembelajaran Model Discovery Learning pada mata pelajaran geografi materi biosfer dan antroposfer kelas X MAN 1 Kebumen, 2) Menganalisis implementasi Model Discovery Learning pada mata pelajaran geografi materi biosfer dan antroposfer kelas X MAN 1 Kebumen, 3) Menganalisis keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran geografi materi biosfer dan antroposfer kelas X MAN 1 Kebumen, 4) Menganalisis hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi materi biosfer dan antroposfer kelas X MAN 1 Kebumen. Penelitian ini merupakan penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan bentuk double shoot case pretest -posttest design. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) Rancangan pembelajaran discovery learning sesuai standar dan mendukung tujuan pembelajaran, 2) Implementasi model discovery learning pada materi biosfer dan antroposfer berjalan sesuai rancangan dan memenuhi kriteria model discovery learning, 3) Keaktifan siswa tergolong tinggi dengan keterlibatan yang baik selama pembelajaran, 4) Hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan setelah penerapan model discovery learning, dimana meningkat dari 75,00% pada posttest pertama menjadi 87,50% pada posttest kedua.
EVALUASI KETERJANGKAUAN DAN KETERSEDIAAN SMA NEGERI BERDASARKAN SISTEM ZONASI PPDB PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2023/2024 DI KOTA SEMARANG Nigrum, Prisma Tia; Hayati, Rahma; Suharini, Erni; Indrayati, Ariyani
Jurnal Spasial Vol 12, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/js.v12i1.9757

Abstract

The high mobility of high school students due to the uneven number of schools and equality in accessing education, initiated the government to form zoning regulations. The practice in the field shows that the zoning system has not been able to eliminate inequality in accessing education. This study aims to (1) analyze the distribution pattern of public high schools, (2) analyze the affordability of public high schools, (3) evaluate the availability of public high schools in Semarang City. Nearest neighborhood data analysis was used for distribution pattern, buffering with SNI 03-1733-2004 standard for affordability, Luthfi Muta'ali's availability formula for availability. The results of the study (1) the distribution pattern of public senior high schools in Semarang City shows a uniform/regular/dispersed pattern, 2) the affordability based on zoning regulations results in all sub-districts of Semarang City being affordable, but if using the SNI 03-1733-2004 standard there are 10 sub-districts and 30 villages that are not affordable or blankspots. (3) the availability of school facilities only three out of 16 sub-districts have a surplus level, around 20 additional schools are needed but still considering the number of private SMK/MA/SMA facilities in each sub-district.
Prediksi Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2034 Dengan Permodelan Cellular Automata Di Kabupaten Semarang Zahrayni, Alfayra Nabila; Tjaturahono Budi Sanjoto; Rahma Hayati; Ariyani Indrayati
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 9 No. 2 (2025): Edisi Bulan Juli
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jgel.v9i2.17775

Abstract

Land use changes reflect the dynamic growth of a region driven by continuously evolving human activities. Semarang Regency, located in Central Java Province, is currently experiencing significant land use changes due to suburbanization, population growth, and increasing population density each year. This study aims to predict land use changes in Semarang Regency as a basis for identifying potential non-compliance with the RTRW, referring to the renewal of the RTRW before the end of its validity period.To analyze these changes, a spatial approach using Geographic Information System (GIS) and Remote Sensing is essential to map land use in 2013, 2018, and 2024. This analysis is further integrated with Cellular Automata (CA) modelling and logistic regression to identify factors influencing land use changes and to predict land use patterns in Semarang Regency through 2034. The study predicts that by 2034, built-up land will expand by 9.315,83 hectares, while agricultural land will increase by 9.054,79 hectares. Conversely, forest and conservation land are projected to decrease by 18.433 hectares, and water bodies will shrink by approximately by 53,94 hectares. The results of this prediction can be used as a reference in preparing spatial planning policies that are more adaptive and in line with field conditions.
POLA SEBARAN KERUANGAN DAN STRATEGI PENANGANAN INDUSTRI KECIL TAHU DI KABUPATEN NGANJUK Sukma, Fitri Hana; Indrayati, Ariyani
Geo-Image Journal Vol. 14 No. 2 (2025): Special Edition - The Interwoven Landscape: Spatial, Ecological and Regional I
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v14i2.21283

Abstract

This study aims to analyze the spatial distribution patterns of small-scale tofu industries, identify the challenges they face, and formulate appropriate strategies for handling it. The research employs a quantitative descriptive approach, utilizing Moran’s I spatial analysis to determine the distribution pattern of tofu industries and SWOT analysis to handle strategic recommendations.The findings indicate that small-scale tofu industries in Nganjuk Regency exhibit a clustered distribution pattern. The main challenges faced by industry players include limited capital, dependence on imported raw materials, a shortage of skilled labor, the use of traditional production technologies, and suboptimal marketing strategies. Based on the SWOT analysis, the recommended strategies for handling the small-scale tofu industry in Nganjuk Regency include improving access to capital through government assistance programs, diversifying product based the innovation, and leveraging digital marketing to expand market reach. The implementation of these strategies is expected to foster more sustainable growth and enhance the industri’s contribution to the regional economy. 
Assessing Urban Level Changes Using GIS and Statistical Analysis in the Kedungsepur Metropolitan, Indonesia Indrayati, Ariyani; Rijanta; Muta'ali, Luthfi; Rachmawati, Rini
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 14 No 3 (2024): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.14.3.494

Abstract

From 2010 to 2020, the Kedungsepur Metropolitan Corridor experienced spatial transformations, converting agricultural areas into built-up areas. This study seeks to identify new insights by examining the correlation between socioeconomic facilities and built-up areas, typically analyzed separately. Satellite imagery interpretation was used to determine the proportion of built-up areas, apply the K-Means Cluster method for the urban level, and conduct statistical analysis using the chisquare test. The findings reveal that the Semarang—Ungaran—Salatiga Corridor has the greatest built-up areas. The average change in built-up area within the Kedungsepur Metropolitan Corridor from 2010 to 2020 was 3.25%. Additionally, the Central Semarang Subdistrict had the highest level of socioeconomic facilities. However, the Chi-Square test results indicated differences between the observed and expected frequencies of built-up area percentages in each subdistrict for both 2010 and 2020. Surprisingly, no correlation was found between urban-level changes related to built-up areas and socioeconomic facilities. These results suggest that urban changes in the primary city are relatively stagnant, while more intensive development occurs in secondary cities withinKedungsepur. The dominant driving factor for urban transformation is the change in built-up areas,which indicates the intensified growth of secondary cities.