Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Era Disrupsi Di SMA Negeri 2 Mranggen Latri Hastuti; Fathur Rokhman; Cahyo Budi Utomo
Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ) Vol. 6 No. 1 (2025): Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ)
Publisher : Yayasan Pendidikan Riset dan Pengembangan Intelektual (YRPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/msej.v6i1.6973

Abstract

Kepala sekolah sebagai pengelola satuan pendidikan, bertanggung jawab terhadap efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan. Apalagi di era disrupsi Pendidikan saat ini diperlukan proses transformasi yang memerlukan kreativitas dan inovasi-inovasi kekinian sesuai tuntutan perkembangan jaman. Untuk menghadapi tantangan era disrupsi, dibutuhkan sinergi dari semua sumber daya manausia yang ada dalam satuan Pendidikan, mulai dari kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Selain itu juga diperlukan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang sesuai dengan era disrupsi agar berhasil dalam memimpin proses transformasi sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi gaya kepemimpinan kepala sekolah era disrupsi di SMA Negeri 2 Mranggen, menganalisis peranan gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam menghadapi tantangan masa depan yang lebih kompleks di era disrupsi pada SMA Negeri 2 Mranggen, dan untuk menganalisis tantangan implementasi gaya kepemimpinan kepala sekolah era disrupsi di SMA Negeri 2 Mranggen. Metode yang digunakan yaitu dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil peneltian ini menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah SMA Negeri 2 Mranggen dalam menghadapi era disrupsi identik dengan gaya kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional yaitu kemampuan untuk mendorong pengikut melakukan perubahan, dan meningkatkan kemampuan yang dipimpin. Kepemimpinan transformasional juga mendorong kelembagaan untuk selalu bertransformasi atau bergerak progresif (inovasi) sesuai dengan situasi dan kondisi eksternal. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa dalam menghadapi era disrupsi diperlukan gaya kepemimpinan yang tepat dan sesuai dengan kondisi zaman saat ini.
Kebijakan Pengembangan Mutu Pendidikan Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Bangsa Yunita Kwartarani; Eko handoyo; Fathur Rokhman
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4942

Abstract

Pendidikan merupakan faktor fundamental dalam membangun daya saing bangsa di era globalisasi dan transformasi digital. Kajian ini membahas kebijakan pengembangan mutu pendidikan di Indonesia sebagai upaya strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan kompetitif. Penelitian ini menelaah arah, prinsip, serta implementasi kebijakan pendidikan nasional yang berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, profesionalisme guru, pemerataan akses pendidikan, dan integrasi teknologi dalam proses belajar mengajar. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai program seperti Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, dan digitalisasi sekolah untuk mendorong inovasi pembelajaran dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Namun demikian, tantangan utama yang dihadapi meliputi ketimpangan mutu antarwilayah, keterbatasan infrastruktur pendidikan di daerah 3T, rendahnya literasi digital guru, serta lemahnya sistem monitoring dan evaluasi kebijakan berbasis data. Penelitian ini menegaskan pentingnya kebijakan yang berkelanjutan, adaptif, dan berbasis bukti (evidence-based policy) untuk memastikan efektivitas peningkatan mutu pendidikan secara nasional. Upaya strategis yang direkomendasikan meliputi desentralisasi pendidikan yang kontekstual, peningkatan kapasitas guru dan kepala sekolah melalui pelatihan berkelanjutan, penguatan sistem asesmen formatif, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif. Selain kompetensi akademik, penguatan karakter peserta didik melalui program Profil Pelajar Pancasila menjadi fondasi penting untuk menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme, etika, dan gotong royong dalam menghadapi tantangan global. Dengan implementasi kebijakan yang sinergis, sistem pendidikan Indonesia diharapkan mampu menciptakan generasi emas 2045 yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global
EKSPLORASI MANIFESTASI MORALITAS PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN SENI TARI DAN SENI SUARA BERBASIS PROYEK KOLABORATIF: Studi Deskriptif Kualitatif di SMA Kristen Anak Panah Nabire Hana Sumiati Widjaja; Hartono; Fathur Rokhman; Wagiran
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2026): Volume 11 No. 04 Desember 2025 In Build
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.8684

Abstract

This qualitative descriptive study explores the manifestations of student morality in collaborative project-based learning in dance and vocal arts education at SMA Kristen Anak Panah Nabire, Indonesia. This research aims to investigate how aesthetic experiences and collaborative artistic activities contribute to the internalization and expression of moral values. Data collection was conducted through participant observation, in-depth interviews, and documentation analysis during the "Warisan Budaya Nusantara" (Nusantara Cultural Heritage) collaborative art project, with 64 students and 2 art teachers as participants. Data were collected through classroom observations, reflective journals, and semi-structured interviews with students and teachers. The analysis results show four main manifestations of morality: (1) the growth of personal and collective responsibility in group commitments; (2) the development of empathy and social awareness during the rehearsal process; (3) the strengthening of cooperation and solidarity in resolving conflicts and achieving artistic goals; and (4) the emergence of moral reflection through aesthetic experiences. These findings indicate that moral values are not only transmitted cognitively but are also experienced through social interaction, emotional experiences, and shared reflection within a contextual creative process. The implications highlight that project-based learning in arts education can function as a moral ecology—an environment where artistic collaboration becomes a living process of ethical formation. This study contributes to the theoretical discourse on art and morality, and provides practical recommendations for teachers and curriculum designers to foster character development through arts education.
Peningkatan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD Melalui Implementasi Model Problem Based Learning Rizka Fauziyah; Fathur Rokhman; Decky Avrilianda; Ellianawati Ellianawati
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember (2025): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.3149

Abstract

Penelitian ini didasari oleh rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan materi rantai makanan kelas V SD, hal ini dikarenakan pembelajaran belum berpusat pada siswa dan cenderung bersifat satu arah. Untuk mengatasi masalah ini, dilakukan penelitian yang memiliki tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di kelas V SD Negeri 035 Soka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) sebanyak dua siklus. yang terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi berdasarkan model Kemmis dan McTaggart. Data dikumpulkan melalui tes tertulis dan observasi aktivitas siswa selama proses pembelajaran, kemudian dianalisis secara kuantitatif untuk mengukur peningkatan hasil belajar dan keterlibatan siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan model PBL secara signifikan bisa meningkatkan hasil belajar siswa dengan persentase ketuntasan kelas pada akhir penelitian sebesar 85,71%, serta persentase indikator kompetensi yang meningkat setiap siklusnya dan di akhir penelitian indikator kompetensi sudah semuanya memenuhi persentase minimum 80%. Temuan ini mendukung penerapan model pembelajaran berbasis masalah sebagai solusi inovatif yang efektif dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar.