Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : ISTORIA

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENINGKATKAN NASIONALISME DI SEKOLAH PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS YAYASAN GIRLAN NUSANTARA Diana Trisnawati
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 11, No 1 (2015): ISTORIA Edisi Maret 2015, Vol. 11, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.534 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v11i1.5762

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan sistem dan pola pendidikan karakter di Yayasan Girlan Nusantara, (2) Mendeskripsikan pengembangan modul pembelajaran sejarah berbasis pendidikan karakter untuk meningkatkan nasionalisme, dan (3) Menganalisis efektivitas modul pembelajaran sejarah berbasis pendidikan karakter dalam meningkatkan nasionalisme. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan model desain ADDIE. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Pola pendidikan di Sekolah Pendidikan Layanan Khusus tidak menggunakan media dalam pembelajaran, (2) Pengembangan modul pembelajaran sejarah berbasis pendidikan karakter dilakukan melalui tahapan ADDIE dan mengalami 2 kali revisi, serta telah tervalidasi oleh ahli media dan selanjutnya berhasil diujicobakan di Sekolah Pendidikan Layanan Khusus Yayasan Girlan Nusantara Yogyakarta, dan (3) Uji efektivitas modul pembelajaran sejarah berbasis pendidikan karakter dilakukan dengan membandingkan nilai post test kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan menggunakan taraf signifikasi sebesar 5% dan diketahui bahwa nilai t hitung lebih besar dari pada t tabel (8,162 1,734) dan nilai signifikansi lebih kecil dari pada alpha 5%, maka dapat disimpulkan bahwa nilai nasionalisme post test antar kelompok eksperimen yang diberikan modul dengan kontrol yang tidak diberikan tindakan terdapat perbedaan. Kata Kunci: pengembangan, modul pembelajaran sejarah, nasionalisme.
PENANAMAN NILAI-NILAI NASIONALISME DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA NEGERI 2 WATES, KULON PROGO Saefur Rochmat; Diana Trisnawati
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 13, No 2 (2017): ISTORIA Edisi September 2017, Vol. 13, No.2
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.627 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v13i2.17736

Abstract

AbstractThis study aims to: (1) Outlining the history of the learning process in SMA Negeri 2 Wates, Kulon Progo, and (2) Describe efforts to inculcate nationalism in the teaching of history in SMA Negeri 2 Wates, Kulon Progo. The method used in this research is descriptive qualitative research method. The data collection is done through in-depth interviews, direct observation and recording of documents. The results showed that the teaching of history in SMA Negeri 2 Wates do in the classroom during school hours and outside the classroom takes place through extra-curricular activities. Teachers deliver material as specified in the curriculum with the methods and media that support student success. Planting the values of nationalism done in several ways, namely to integrate in subjects such as history subjects, and the subjects Civics. In addition, the values of nationalism is also implanted through habituation attitude in the school environment, such as mutual cooperation, courtesy, tolerance, and so on. Keywords: Nationalism, Teaching History, SMA Negeri 2 Wates.
REVOLUSI MESIR 23 JULI 1952: BERAKHIRNYA PEMERINTAHAN RAJA FAROUK Diana Trisnawati
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 12, No 1 (2016): ISTORIA Edisi Maret 2016, Vol. 12, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.699 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v12i1.9543

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui kondisi politik, sosial, dan ekonomi Mesir di bawah pemerintahan Raja Farouk, (2) mengungkapkan peran dan kontribusi gerakan Free Officers dan gerakan Ikhwanul Muslimin dalam menggulingkan kekuasaan Raja Farouk, (3) mengetahui proses terjadinya Revolusi Mesir 23 Juli 1952, dan (4) mengetahui kondisi Mesir pasca Revolusi Mesir 23 Juli 1952. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sejarah kritis seperti yang dijabarkan oleh Kuntowijoyo. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa keadaan politik Mesir masa pemerintahan Raja Farouk banyak mengalami kekacauan, diantaranya sering terjadi pergantian kabinet dalam waktu yang relatif singkat, dan adanya dominasi Inggris yang berperan dalam setiap pengambilan kebijakan pemerintah. Terjadi ketimpangan sosial yang cukup tajam antara golongan elit yang terdiri dari tuan tanah dan pengusaha dengan petani kecil. Keadaan tersebut membuat munculnya banyak kelompok oposisi dalam masyarakat yang diwakili oleh Free Officers dan Ikhwanul Muslimin. Free Officers dan Ikhwanul Muslimin sama-sama merasa prihatin terhadap kondisi Mesir dan memberikan kontribusi yang besar dalam mewujudkan Revolusi Mesir 23 Juli 1952. Revolusi tersebut berhasil dan sekaligus mengakhiri kekuasaan Farouk di Mesir. Pasca revolusi, pemerintahan Mesir dikendalikan oleh Dewan Mangkubumi. Pada tanggal 18 Juni 1953 sistem pemerintahan monarki Mesir diganti dengan republik, sekaligus pengangkatan Muhammad Naguib sebagai presiden. Kata kunci: Revolusi Mesir 23 Juli 1952, Pemerintahan, Raja Farouk
Pembelajaran Sejarah Melalui Pelatihan Kesenian Jathilan untuk Meningkatkan Pemahaman Terhadap Nilai-Nilai Lokal Diana Trisnawati
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 13, No 1 (2017): ISTORIA Edisi Maret 2017, Vol. 13, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.282 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v13i1.17618

Abstract

AbstractOne of the results of this study aims to clarify that the teaching of history has a lot of media or flexible in its delivery methods, such as through training Jathilan Art. Jathilan Art is one of the folk art using braid horse property, as well as players reog or lumping horse or horses braid. Art Jathilan Revelation turonggo in Kulon Progo Regency is one of folk art will be full of local values. Learning history through Art Jathilan training to improve local values are expected to provide new ideas in history. This is because history can not be separated from the cultures in a society. Meanwhile, art is one of the results of the culture. Teaching history at this point also raised many of the local values because Indonesia is a country rich in culture. To increase the love of the Indonesian state (nationalism) not only through pembelajarah history, especially the material history of the struggle of the Indonesian nation. How to boost nationalism can be done by increasing the understanding of local values. Local values can be instilled through training Art Jathilan include the values of mutual cooperation, kinship, the values of religious form of gratitude to God Almighty, the values of love for the surrounding environment, the values of self-reliance as using crops activities in the community, and so on. Keywords: Learning history, the traditional art “Jathilan”, local values
Pemanfaatan Lahan Milik Pakualaman dan Perubahan Status Kepemilikannya di Pesisir Pantai Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo Diana Trisnawati
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 11, No 2 (2015): ISTORIA Edisi September 2015, Vol. 11, No.2
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/istoria.v11i2.7564

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menerangkan perubahan status kepemilikan lahan milik Pakualaman di pesisir pantai Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, (2) Menerangkan alasan mengapa lahan milik Pakualaman dijadikan sebagai lahan pertanian dan perumahan, dan (3) Menjelaskan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan status kepemilikan tanah Pakualaman di pesisir pantai Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kulatitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditinjau dari status kepemilikan tanah, tanah tersebut merupakan hak milik Kraton maupun tanah Pakualaman. Namun, tanah tersebut dimanfaatkan oleh rakyat sebagai tempat mata pencaharian bahkan tempat tinggal mereka. Di antara beberapa tanah milik pakualaman, ada juga yang digunakan sebagai tempat tinggal permanen masyarakat. Tanah yang digunakan masyarakat tersebut berstatus magersari, artinya masyarakat boleh menempati tetapi tetap mengakui bahwa tanah tersebut adalah tanah milik Keraton ataupun Pakualaman. Kata Kunci: lahan, Pakualaman, Perubahan status