Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Representasi Perempuan Penyintas Kekerasan Seksual Dalam Film Demi Nama Baik Kampus Aldy Solehudin Mahendra; Ade Kusuma
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 1, No 1 (2023): Juni
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/hawapsga.v1i1.10441

Abstract

Darurat kekerasan seksual tidak hanya dimaknai dengan semakin tingginya angka kekerasan seksual, namun justru akibat kegagalan penanganan kasus yang tidak tuntas. Pandangan atau penilaian mengenai kasus kekerasan seksual, khususnya kepada penyintas kekerasan seksual dapat menimbulkan sebuah stereotip. Stereotip semakin dikukuhkan dan disebarluaskan melalui media film. Film Demi Nama Baik Kampus mengisahkan tentang isu kekerasan seksual di lingkungan pendidikan atau kampus. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji bagaimana perempuan penyintas kekerasan seksual digambarkan dalam film Demi Nama Baik Kampus. Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan semiotika John Fiske yang mengacu pada teori kode-kode televisi. Penelitian ini bersifat deskriptif dan kualitatif. Peneliti menganalisis level realitas, level representasi, level ideologi dalam film. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa perempuan penyintas kekerasan seksual digambarkan sebagai kelompok subordinat. Pada film Demi Nama Baik Kampus, peneliti menemukan adanya konsep ideologi patriarki dan ketimpangan relasi kuasa dengan petunjuk tentang sosok tokoh utama yang diperlihatkan menjadi sosok yang lemah, sosok yang tidak memiliki kekuasaan, dan sosok yang menderita.
Analisis Semiotika Terhadap Tokoh Utama Perempuan Dalam Film Perempuan Tanah Jahanam Glen Aviaro Samanda; Ade Kusuma
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v17i1.4331

Abstract

Horor masih menjadi genre populer pada pertumbuhan film Indonesia. Tokoh perempuan seringkali ditampilkan dengan sangat ikonik dalam cerita naratif pada sebuah film horor. Namun terdapat stigma negatif tentang hadirnya tokoh perempuan dalam film horor yang muncul sebagai karakter antagonis. Tokoh perempuan sering berperan sebagai sosok hantu, korban tindakan kejahatan, dan tokoh pelengkap lainnya. Studi ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan semiotika Roland Barthes untuk menganalisis bagaimana representasi tokoh perempuan dalam film Perempuan Tanah Jahanam. Penelitian ini berfokus pada para tokoh perempuan utama dalam film tersebut. Hasil studi ini menjelaskan bahwa para tokoh perempuan dalam film Perempuan Tanah Jahanam merupakan subjek dan penggerak cerita dalam film tersebut. Tokoh utama perempuan mendapatkan peran kunci untuk dapat menyelesaikan masalah dan menjadi penyelamat bagi orang lain. Para tokoh perempuan dalam film ini juga digambarkan sebagai sosok perempuan yang bekerja keras, mandiri dan mampu bertahan hidup tanpa bergantung dengan laki-laki. Selain itu perempuan ditampilkan saling mendukung dan berani bertindak melawan tindakan pelecehan seksual yang dihadapinya. Peneliti menemukan bahwa tokoh utama perempuan tidak lagi direpresentasikan sebagai tokoh hantu yang menggoda dan seksi. Tokoh perempuan juga tidak dijadikan sebagai alat pendukung kesuksesan dan kepentingan komersialisme dalam sebuah film horor. Film Perempuan Tanah Jahanam lebih mengedepankan teror psikologis dan perilaku sadis selayaknya film horor yang menakutkan dan mencekam.
Pelatihan dan Pendampingan Budidaya Microgreens Sebagai Ketahanan Pangan Keluarga di Masa Pandemi Ade Kusuma; Aryadeva Kemal Rafli; Chitra Laksmi Rithmaya
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ITK (PIKAT) Vol. 4 No. 1 (2023): PIKAT : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Institut Teknologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35718/pikat.v4i1.709

Abstract

Kondisi pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada permasalahan kesehatan dan lingkungan, namun juga berpengaruh pada ketidakstabilan ekonomi, sosial dan politik di suatu negara. Ketahanan pangan juga menjadi salah satu isu penting yang menjadi perhatian program kerja mahasiswa kelompok 13 KKN Tematik Bela Negara Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur yang berkolaborasi dengan PKK Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Surabaya. Hal ini diwujudkan dengan penyelenggaraan palatihan dan pendampingan budidaya microgreens sebagai upaya untuk memberikan inspirasi kegiatan bermanfaat di rumah saja pada masa pandemi. Selain itu budidaya microgreens juga bisa menjadi solusi bagi pemenuhan kebutuhan sayuran bagi warga secara mandiri, terutama masyarakat perkotaan yang tidak memiliki lahan luas untuk berkebun. Keterbatasan masa Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PKKM membuat kegiatan pelatihan dilakukan secara daring, namun perwakilan mahasiswa dan dosen pembimbing lapang juga melakukan kunjungan langsung ke Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Surabaya untuk memberikan paket bibit dan peralatan agar dapat digunakan warga untuk mempraktikkan budidaya microgreens dari rumah masing-masing. Luaran dari kegiatan pelatihan ini adalah modul dan video cara budidaya microgreens.
PRANK CREATIVITY IN ADVERTISING Almira Anindita; Andayu Farah Devani; Ade Kusuma
JOSAR (Journal of Students Academic Research) Vol 6 No 3: September 2021
Publisher : Universitas Islam Balitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35457/josar.v7i1.1545

Abstract

Nowadays, the prank phenomenon is viral. It is often used for social media content as humor to entertain the audience. The prank displays the audience's expressions and shock by the joke. Several Indonesian YouTubers have shown the pros and cons when the video content of prank displays lies and harms others. The concept of prank also created criticism and sentiment from the public. The phenomenon of Gantung Panci by Indonesian culinary figure, Sisca Soewitomo, was viral on social media and attracted the netizens who felt entertained by the creative content of the GoFood ad. This study aims to see how digital workers accept and interpret creative jokes based on advertising. This study used a qualitative descriptive method with the encoding-decoding reception model analysis approach from Stuart Hall. The data was collected using in-depth interviews with digital workers, observation, documentation, and literature study. The results of this study show how the backgrounds and interpretations of digital workers in a dominant, negotiate, and opposition position uses the creative content of the prank by GoFood Ads ‘Mrs. Sisca Gantung Panci’. This research also finds out how creative advertising strategies in the digital era increase brand awareness and brand engagement of a product.
PENERIMAAN AUDIENS TERHADAP FLEXING PADA VIDEO “FLEXING 2.0: GELOMBANG DISRUPSI KELUARGA PEJABAT” Martha Claurena Yospikha Ade Wiransani; Ade Kusuma
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 6 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i6.2023.2987-2996

Abstract

Penelitian ini membahas tentang fenomena flexing yang sering ditemui di media sosial. Konten flexing dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk keluarga dan teman dekat, vlogger, content creator, serta pejabat beserta keluarganya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis resepsi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa audiens terbagi menjadi tiga kategori. Pertama, posisi hegemoni dominan, di mana audiens menerima bahwa flexing yang dilakukan oleh pejabat atau keluarganya bertujuan untuk menunjukkan kekuasaan dan kekayaan melalui jabatan dan harta benda. Mereka juga ingin mendapatkan pengakuan dan status lebih tinggi di mata masyarakat. Kedua, posisi negosiasi, di mana audiens menerima flexing sebagai bentuk kebutuhan personal, seperti ingin dikenal dan mendapatkan rasa percaya diri. Terakhir, posisi oposisional, di mana audiens menolak dan tidak menerima flexing yang dilakukan oleh pejabat atau keluarganya, merasa kurangnya edukasi terkait fenomena tersebut. Flexing juga dapat memiliki tujuan pemasaran dan branding produk serta kepentingan bisnis lainnya.
REPRESENTASI KONFLIK KELUARGA DALAM SERIAL DRAMA “SUKA DUKA BERDUKA” Yahezkiel Ivandro Nathanael; Ade Kusuma
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 8 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i8.2023.4121-4130

Abstract

Serial drama sebagai salah satu media komunikasi massa memiliki kemampuan untuk menggambarkan fenomena realitas yang ada di masyarakat. Salah satu fenomena di masyarakat yang diangkat dalam serial drama adalah konflik keluarga. “Suka Duka Berduka” adalah sebuah serial drama yang menampilkan konflik keluarga dengan unsur komedi satire di dalamnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana representasi konflik keluarga dalam serial drama “Suka Duka Berduka”.Peneliti akan melihat representasi konflik keluarga menggunakan semiotika John Fiske dengan teori kode-kode televisi terhadap adegan-adegan yang menggambarkan konflik keluarga. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa keluarga tokoh utama dalam serial drama “Suka Duka Berduka” digambarkan sebagai keluarga yang berasal dari kelas sosial atas. Sementara konflik keluarga yang ditampilkan meliputi konflik isi atau substansi, konflik antara pasangan menikah, konflik antara saudara kandung, konflik orang tua-anak, dan konflik pengaruh lingkungan eksternal. Adapun konflik keluarga digambarkan selesai atau berakhir melalui cara penyerahan (submission) dan kebuntuan (standoff). Selain itu, peneliti juga menamukan adanya penggambaran ideologi materialisme dan ideologi kelas.
ANALIS RESEPSI K-POPERS TERHADAP LAGU DI ALBUM BTS “LOVE YOURSELF” UNTUK SELF HEALING Ucik Uswatun Khasanah; Ade Kusuma
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 1 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i1.2023.374-383

Abstract

Isu kesehatan mental masih dianggap suatu hal yang sepele bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, oleh karena itu perlu dilakukan penyembuhan mental secara mandiri atau self healing. Dimulai dari metode mendengarkan musik terutama musik genre K-Pop, penggemarnya disebut dengan K-Popers. K-Popers memaknai lagu Bahasa Korea yang dapat memberikan ketenangan bagi kondisi mental mereka. Salah satu musik yang dapat didengarkan sebagai self healing adalah album BTS berjudul “Love Yourself” dirilis tepat pada tahun 2017 dan 2018, album ini mengandung pesan untuk mencintai diri sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan makna K-Popers terhadap lagu di album BTS “Love Yourself” sebagai metode self healing. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi analisis resepsi model encoding-decoding oleh Stuart Hall. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam (in-depth interview) pada informan yang merupakan penggemar K-Pop (K-Popers) dan pernah atau sedang mengalami stress, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa K-Popers termasuk ke dalam tiga posisi diantaranya posisi hegemoni dominan, posisi negosiasi, dan posisi oposisi pada proses penerimaan makna self healing terhadap lagu di album BTS “Love Yourself”.
PRESENTASI DIRI INTAN KEMALA SARI SEBAGAI BEAUTY INFLUENCER PLUS SIZE DI INSTAGRAM Tiara Febri Angellia; Ade Kusuma
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 7 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i7.2023.3384-3394

Abstract

Instagram sebagai media sosial telah menjadi sarana untuk mendapatkan informasi dan referensi mengenai konten kecantikan khususnya bagi beauty influencer. Intan Kumala Sari hadir sebagai beauty influencer plus size untuk mengkampanyekan mengenai body positivity yaitu keanekaragaman bentuk tubuh kepada publik dan mendobrak makna cantik bagi perempuan melalui postingan di akun Instagramnya @kumalasari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan presentasi diri Intan Kemala Sari sebagai beauty influencer plus size di Instagram. Dengan teori Impression Management oleh Jones & Pittman, maka penelitian ini difokuskan strategi yang ditampilkan Intan Kumala Sari dalam mempresentasikan dirinya di Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Intan Kemala Sari menggunakan keseluruhan taktik Jones & Pittman yaitu ingratiation, self promotion, exemplification, intimidation dan supplication. Taktik yang digunakan ini pada dasarnya menjadi sebuah upaya membangun atau menjaga citra Intan Kemala Sari sebagai beauty influencer plus size yang mendobrak standar kecantikan dan melawan perlakuan diskriminasi terhadap wanita bertubuh plus size seperti perundungan, hate speech, dan body shaming. Tujuan utama yang terlihat dalam presentasi dirinya adalah ingin mematahkan stereotype bentuk tubuh ideal dan mengajak lebih menghargai secara positif mengenai segala bentuk dan penampilan tubuh.
ChatGPT For Marketing Communications: Friend or Foe? Heidy Arviani; Ririn Puspita Tutiasri; Latif Ahmad Fauzan; Ade Kusuma
Kanal: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 12 No 1 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/kanal.v12i1.1729

Abstract

The release of the ChatGPT chatbot in November 2022 received significant public attention. ChatGPT is an Artificial Intelligence (AI) powered chatbot that allows users to simulate human-like conversations with AI. GPT stands for Generative Pre-trained Transformer, a language processing model developed by the American artificial intelligence company OpenAI. These innovations and technologies are changing business interests, revolutionizing marketing communications strategies, and enhancing the consumer experience. ChatGPT is a powerful tool for marketers, but we need to understand the risks and place realistic expectations for the moment. The author uses data collection techniques using literature studies and observations on ChatGPT about their potential and impact on marketing communications. Authors analyze brand information, data search, reference services, cataloging, content creation, and ethical considerations such as privacy and bias. Result of this study, ChatGPT can provide and support creative content creation or copywriting, improve customer service, automate repetitive tasks, and support data analysis. However, humans are irreplaceable for examining outputs and creating marketing messages consistent with a company's strategy and brand vision. With good marketing strategies, ChatGPT can effectively enhance and support marketing processes.
Desain Pengembangan Prasarana Guna Menunjang Digital Branding Wisata Pesisir (Studi Kasus: Desa Kalanganyar, Sidoarjo, Jawa Timur) Yerry Kahaditu Firmansyah; Megahnanda Alidyan Kresnawati; Ade Kusuma; Prayudi Prayudi
Jurnal Desain Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1690.66 KB) | DOI: 10.30998/jd.v9i2.10231

Abstract