Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Analisis Sosiologi Konflik Akibat Kasus Keracunan Program Makan Bergizi Gratis: Antara Kebijakan dan Keselamatan Sede, Roswita; Waso, Ansellalu; Sunbanu, Cince; Talonggoe, Dian; Jehamat, Lasarus; Nahak, Imelda; Mite, Petrus Sales
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i2.7927

Abstract

Penelitian ini menelaah konflik sosial yang muncul setelah kasus keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memusatkan perhatian pada pengalaman orang tua siswa serta respons institusi melalui wawancara, analisis pemberitaan, dan studi dokumen. Temuan menunjukkan adanya implementation gap yang dipicu oleh lemahnya pengawasan keamanan pangan, proses pemeriksaan laboratorium yang tidak transparan, serta praktik pengadaan yang rentan penyimpangan sehingga memperburuk ketegangan antara orang tua, sekolah, dan pemerintah. Studi ini menegaskan pentingnya peningkatan akuntabilitas, transparansi informasi, partisipasi publik, serta reformasi tata kelola pelaksanaan program untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan memastikan keselamatan siswa. This study explores the social conflict that emerged following the food-poisoning incident in the Free Nutritious Meal Program (MBG), focusing on parents’ experiences and institutional responses through interviews, media content analysis, and document review. The findings reveal a clear implementation gap driven by inadequate food-safety monitoring, non-transparent laboratory reporting, and procurement practices vulnerable to irregularities, all of which intensified tensions among parents, schools, and government actors. The study highlights the need for stronger accountability, transparent information flow, public participation, and governance reforms to restore community trust and ensure student safety.
Ekologi Sosial Di Bawah Tekanan Iklim: Pola Adaptasi Masyarakat Pesisir Oeba, Kota Kupang Terhadap Perubahan Lingkungan pada Musim Penghujan Akhir Tahun: Penelitian Olivia, Irene; Melani Ndun; Femy Taek; Petrus Selestinus Mite; Lasarus Jehamat; Imelda Nahak
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.4343

Abstract

Perubahan iklim di wilayah pesisir Oeba menyebabkan tekanan ekologis yang signifikan, termasuk peningkatan curah hujan, banjir bandang, dan ketidakstabilan cuaca ekstrem yang mengganggu kegiatan sosial-ekonomi masyarakat, terutama nelayan. Melalui perspektif ekologi sosial, perubahan ekologi ini tidak hanya mempengaruhi sistem sosial, tetapi juga mendapat umpan balik melalui respon adaptif masyarakat yang berdampak langsung pada kelangsungan lingkungan pesisir. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi untuk mengkaji hubungan timbal balik antara sistem ekologi yang tertekan dan strategi adaptasi sosial masyarakat pesisir Oeba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan iklim mendorong lahirnya berbagai bentuk adaptasi masyarakat, seperti diversifikasi mata pencaharian (menjual makanan olahan ikan, menjadi pekerja pelabuhan), memperkuat jejaring sosial, dan memanfaatkan kearifan lokal. Adaptasi ini tidak hanya berfungsi sebagai strategi bertahan hidup, tetapi juga sebagai mekanisme sosial-ekologis yang membantu menstabilkan kondisi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masyarakat Oeba tidak hanya menjadi korban perubahan iklim, tetapi juga aktor aktif yang mampu menciptakan strategi bertahan hidup berdasarkan pengetahuan dan pengalaman bersama. Namun, ketimpangan kebijakan dan dukungan pemerintah yang tidak merata menjadi hambatan dalam membangun ketahanan jangka panjang. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kapasitas sosial dan kebijakan adaptif berbasis masyarakat. Perubahan iklim di wilayah pesisir Oeba menyebabkan tekanan ekologis yang signifikan, termasuk peningkatan curah hujan, banjir bandang, dan ketidakstabilan cuaca ekstrem yang mengganggu aktivitas sosial-ekonomi masyarakat, terutama nelayan. Melalui perspektif ekologi sosial, perubahan ekologis ini tidak hanya memengaruhi sistem sosial, tetapi juga memperoleh umpan balik melalui respons adaptif masyarakat yang secara langsung berdampak pada keberlanjutan lingkungan pesisir. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi untuk meneliti hubungan timbal balik antara sistem ekologis yang tertekan dan strategi adaptasi sosial masyarakat pesisir Oeba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan iklim mendorong munculnya berbagai bentuk adaptasi dari masyarakat, seperti diversifikasi mata pencaharian (menjual ikan olahan, menjadi pekerja pelabuhan), memperkuat jaringan sosial, dan memanfaatkan kearifan lokal. Adaptasi ini tidak hanya berfungsi sebagai strategi bertahan hidup, tetapi juga sebagai mekanisme sosial-ekologis yang membantu menstabilkan kondisi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Studi ini menyimpulkan bahwa masyarakat Oeba bukan hanya korban perubahan iklim, tetapi juga aktor aktif yang mampu menciptakan strategi bertahan hidup berdasarkan pengetahuan dan pengalaman bersama. Namun, ketidaksetaraan kebijakan dan dukungan pemerintah yang tidak merata merupakan hambatan dalam membangun ketahanan jangka panjang. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kapasitas sosial dan kebijakan adaptif berbasis komunitas.
FOMO dan Negosiasi Identitas Generasi Z Di Ruang Digital Mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang: (Scrooling- Self Constrution) Petrus Selestinus Mite; Maria Valentina Jelita; Dafrosa Desfita Atriwanti; Angely Victory; Yohanes Debrito Pake; Lasarus Jehamat; Imelda Nahak
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3506

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat telah secara signifikan mengubah cara individu membangun, menampilkan, dan menegosiasikan identitas sosial mereka. Media sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang untuk representasi diri dan konstruksi makna sosial baru. Generasi Z, sebagai penduduk asli digital yang tumbuh dengan akses konstan terhadap teknologi, merupakan kelompok yang paling terpengaruh oleh dinamika ini. Studi ini bertujuan untuk meneliti peran media sosial dalam membentuk fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan untuk memahami bagaimana FOMO berkontribusi pada proses konstruksi identitas di kalangan Generasi Z, khususnya mahasiswa Universitas Nusa Cendana di Kupang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi yang melibatkan informan yang dipilih secara purposif yang merupakan pengguna media sosial aktif dan menunjukkan perilaku terkait FOMO. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intensif, terutama pengguliran pasif, paparan konten viral, dan interaksi antar teman sebaya mendorong perbandingan sosial yang memicu FOMO. Fenomena ini memotivasi siswa untuk mengikuti tren, terlibat dalam konsumsi simbolis, dan mengelola presentasi diri mereka untuk mendapatkan pengakuan sosial. Akibatnya, identitas siswa bersifat cair, performatif, dan terus-menerus dinegosiasikan antara otentisitas pribadi dan ekspektasi sosial digital. Meskipun demikian, beberapa siswa menunjukkan kesadaran reflektif dan mengembangkan strategi untuk mengelola FOMO, mengatur penggunaan media sosial, dan menjaga kesejahteraan mental. Studi ini menyimpulkan bahwa media sosial memainkan peran penting dalam membentuk FOMO dan konstruksi identitas digital di kalangan siswa Generasi Z dalam konteks lokal Kupang. Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah cara individu membangun dan menegosiasikan identitas sosial, khususnya pada Generasi Z yang tumbuh menjadi digital native. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang representasi diri, konstruksi makna sosial, serta pembentukan identitas digital. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran media sosial dalam menciptakan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) serta bagaimana FOMO berkontribusi dalam proses konstruksi identitas Generasi Z, khususnya mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap informan yang dipilih secara purposive, yaitu mahasiswa Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial dan menunjukkan kecenderungan perilaku FOMO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial, terutama aktivitas scrolling dan paparan konten viral, memicu komunikasi sosial yang berakhir pada FOMO. Fenomena ini mendorong mahasiswa untuk mengikuti tren, melakukan konsumsi simbolik, serta mengelola citra diri demi memperoleh pengakuan sosial. Proses tersebut menunjukkan bahwa identitas siswa bersifat cair, performatif, dan terus dinegosiasikan antara keaslian diri dan tuntutan norma digital. Meskipun demikian, sebagian mahasiswa juga menunjukkan kesadaran reflektif dan resistensi strategi untuk mengelola tekanan FOMO dan menjaga kesehatan mental. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial berperan signifikan dalam membentuk dinamika FOMO dan konstruksi identitas digital mahasiswa Generasi Z di Kota Kupang.
Dinamika Interaksi Sosial, Persaingan Ruang, dan Adaptasi Digital UMKM di CFD El Tari Kupang Chetryn Malelak, Ajeng; Fangidae, Yuliati; Telik, Yovita Febiana; Afriano, Blasius; Jehamat, Lasarus; Nahak, Imelda; Mite, Petrus Salestinus
Journal of Entrepreneurship and Strategic Management Vol. 4 No. 02 (2025): Journal Of Entrepeneurship and Strategic Management
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jesm.v4i02.628

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika interaksi sosial, persaingan ruang, dan adaptasi digital pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada kegiatan Car Free Day (CFD) El Tari Kupang sebagai ruang publik yang berfungsi sebagai arena ekonomi dan sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dan observasi terhadap empat pelaku UMKM yang aktif berjualan di CFD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antar pelaku UMKM berlangsung secara situasional dan fungsional, yakni meskipun berada dalam ruang yang kompetitif, mereka tetap menjaga komunikasi, etika sosial, dan solidaritas sederhana. Interaksi pelaku UMKM dengan konsumen menunjukkan adanya dinamika pelayanan terutama ketika kondisi ramai, di mana kesalahpahaman terkait antrian dan waktu pelayanan kerap muncul, namun dapat dikelola melalui komunikasi interpersonal yang baik. Di sisi lain, persaingan ruang menjadi tantangan utama akibat tidak adanya penataan lapak yang terstruktur sehingga lokasi strategis banyak diperebutkan dan memicu sensitivitas antar pelaku usaha. Penelitian ini juga mendapati bahwa digitalisasi melalui pemanfaatan media sosial (TikTok, Instagram, Facebook, WhatsApp) serta sistem pembayaran QRIS telah menjadi strategi penting bagi UMKM dalam mempromosikan produk, memperluas jangkauan pasar, mempercepat transaksi, dan meningkatkan tata kelola keuangan. Temuan penelitian menegaskan bahwa keberhasilan UMKM di CFD ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan interaksi sosial, navigasi terhadap dinamika ruang, dan pemanfaatan teknologi digital secara bersamaan. Kajian ini berkontribusi pada pengembangan strategi pemberdayaan UMKM berbasis digital dan pengelolaan ruang publik yang lebih efektif.
Analisis Efektivitas OSS terhadap Aksesibilitas, Legalitas, dan Daya Saing UMKM di SABOAK Kota Kupang Fuah, Rakhel Gabriela; Doren, Gabriela Mariana Barek; Neken, Lilis Verlin Chandraning; Tumur, Avensius; Jehamat, Lasarus; Nahak, Imelda; Khairunnisa
Journal of Entrepreneurship and Strategic Management Vol. 4 No. 02 (2025): Journal Of Entrepeneurship and Strategic Management
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jesm.v4i02.631

Abstract

Sistem Online Single Submission (OSS) dirancang untuk memudahkan perizinan UMKM, tetapi adopsinya di pasar informal masih terhambat. Penelitian ini menganalisis bagaimana aksesibilitas OSS, kapital sosial, dan legalitas usaha berdampak pada daya saing UMKM informal. Mengidentifikasi research gap studi tentang OSS di pasar informal daerah tertinggal masih sangat langka, demikian pula penelitian yang mengintegrasikan aksesibilitas, legalitas, dan daya saing dalam satu kerangka analitik berbasis teori sosial. Menggunakan Teori Kapital Sosial Bourdieu sebagai lensa analitis, penelitian kualitatif deskriptif melibatkan lima UMKM di Sunday Market SABOAK Kota Kupang melalui wawancara mendalam (18 jam), observasi partisipatif, dan dokumentasi, dianalisis dengan prosedur tematik Braun & Clarke terintegrasi teori. Hasil menunjukkan aksesibilitas OSS ditentukan oleh kombinasi literasi digital, infrastruktur internet, dan krusial dukungan pendampingan lokal; kapital sosial (panitia SABOAK) berfungsi sebagai mediator yang menurunkan hambatan adopsi legalitas meningkatkan kredibilitas tetapi daya saing tetap bergantung pada faktor tradisional (kualitas produk, harga, pelayanan). Teoritis, penelitian ini menunjukkan kapital sosial lebih determinan daripada asumsi teknodeterminisme dalam menjelaskan adopsi teknologi digital di pasar informal. Praktis, merekomendasikan penguatan pendampingan lokal berbahasa, penyediaan infrastruktur digital publik, dan integrasi status legalitas dalam strategi pemasaran komunitas.
The dilemma between helping and perpetuating the problem: Kupang city's public perception of child beggars or vendors at traffic lights Mite, Petrus Selestinus; Jehamat, Lasarus; Jeraman, Maria Roshanty Trinitasya Djoka; Tiran, Irma Susanti
The International Journal of Politics and Sociology Research Vol. 13 No. 4 (2026): Law, Politic and Sosiology
Publisher : Trigin Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/ijopsor.v13i4.307

Abstract

This study looks at the moral conundrum that drivers in Kupang, Indonesia, face every day when they come across street merchants and child beggars at traffic signals. There is a conflict between the want to help out out of sympathy and the worry that doing so could make the child's precarious condition worse. The study explores how people understand and navigate these fleeting street interactions using a qualitative technique and Symbolic Interactionism as its theoretical framework. It concludes that visual clues, such as the children's looks, gestures, and approaches to cars, significantly influence public perception and reaction. Giving is primarily motivated by sympathy, but this inclination is crucially moderated by the knowledge that financial support may unintentionally prolong homelessness, interfere with education, and raise vulnerability to exploitation. As a result, people learn sophisticated, practical ways to deal with this dilemma. These include giving under certain conditions, providing food or beverages rather than money, or purposefully refusing material assistance while still being courteous and compassionate. The survey also shows that the public holds family and political institutions accountable for systemic solutions, with a focus on protection, support, and regulation. The study advances theory by showing how Symbolic Interactionism clarifies a contemporary urban conundrum, emphasizing that the decision to assist or not is a socially formed process rather than just an individual moral calculation. Its originality is in describing the commonplace meaning-making and adaptive tactics that the public uses to jointly manage ethical ambiguity in shared urban areas, such as contributing without anticipating a material exchange or utilizing politeness as a non-monetary reaction.
Peningkatan Literasi dan Numerasi Melalui Program Pengabdian di UPTD SD Inpres Oebobo 01 Kupang: Pengabdian Kristin Tinenti; Maria Sinar Jaya; Yerinta Dooh; Lasarus Jehamat; Christine Erika Meka
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6960

Abstract

Literasi dan numerasi merupakan kompetensi dasar yang sangat penting bagi peserta didik sekolah dasar dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Namun, kemampuan literasi dan numerasi sebagian siswa masih perlu ditingkatkan melalui kegiatan pendampingan yang terstruktur dan berkelanjutan. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa di UPTD SD Inpres Oebobo 01. Metode yang digunakan adalah pendampingan partisipatif yang melibatkan mahasiswa, guru, dan peserta didik. Kegiatan dilaksanakan pada siswa Kelas IV B dengan jumlah peserta yang mengikuti program sebanyak 19 siswa. Bentuk kegiatan meliputi membaca teks, menjawab pertanyaan berdasarkan bacaan, menyusun kalimat, mengerjakan soal perkalian dan pembagian, serta mempresentasikan hasil pekerjaan di depan kelas. Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipasi siswa dan penilaian hasil kegiatan. Hasil menunjukkan bahwa siswa mengikuti program dengan antusias dan aktif. Kemampuan memahami bacaan, menjawab pertanyaan, menyusun kalimat, serta menyelesaikan soal perkalian dan pembagian mengalami peningkatan. Selain itu, kegiatan presentasi berhasil meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi siswa. Tingkat kehadiran peserta mencapai 95%, yang menunjukkan tingginya partisipasi dalam kegiatan. Dengan demikian, program ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa serta mendukung terciptanya pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Kata Kunci: literasi, numerasi, sekolah dasar, pendampingan belajar, pengabdian masyarakat. Abstract: Literacy and numeracy are fundamental competencies that play an essential role in supporting elementary school students' learning success. However, the literacy and numeracy skills of some students still require improvement through structured and continuous assistance programs. Therefore, this community service program aimed to enhance the literacy and numeracy abilities of students at UPTD SD Inpres Oebobo 01. The method employed was participatory mentoring involving university students, teachers, and elementary school students. The program was implemented in Class IV B with 19 participating students. Activities included reading texts, answering comprehension questions, constructing sentences, solving multiplication and division problems, and presenting answers in front of the class. Evaluation was conducted through observation of student participation and assessment of literacy and numeracy task performance. The results indicated that students participated actively and enthusiastically throughout the program. Improvements were observed in reading comprehension, answering questions, sentence construction, and solving multiplication and division problems. In addition, classroom presentations helped improve students’ confidence and communication skills. The attendance rate reached 95%, indicating a high level of student participation. In conclusion, the program had a positive impact on improving students’ literacy and numeracy skills while supporting the creation of an active, engaging, and student-centered learning environment. Keywords: literacy, numeracy, elementary school, learning assistance, community service.
STUNTING DAN PERANGKAP KEMISKINAN: ANALISIS MOBILITAS SOSIAL MELALUI PROGRAM CEGAH DAN ATASI STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OESAPA Yasinta Felomena Jebarus; Andreas Alfrianto Purnama; David Raden Andji; Julian Soli Bolo; Bretny Stefi Kale Bule; Lasarus Jehamat; Imelda Nahak; Balkis Soraya Tanof
Ensiklopedia Research and Community Service Review Vol 5, No 3 (2026): Vol. 5 No. 3 Juni 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/err.v5i3.3958

Abstract

Abstract: Stunting is a chronic nutritional problem with medical, social, cultural, and economic dimensions. This study analyzes the role of the Stunting Prevention and Overcoming program in the Oesapa Community Health Center (Puskesmas) working area, Kupang City, East Nusa Tenggara, as a channel for social mobility to break the intergenerational poverty trap. A descriptive-analytical qualitative approach was used through in-depth semi-structured interviews with nutritionists in charge of the nutrition program, supported by passive participant observation and documentation studies. Data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The results show that the two-pillar intervention preventive and curative-rehabilitative which runs in layers following the life cycle successfully reduced the prevalence of stunting significantly, from 51.7% in 2021 to below 3% in 2025. The key finding of this study is that the main obstacle is not material poverty, but rather a lack of knowledge or nutritional literacy, which accounts for approximately 95% of cases, exacerbated by the persistence of maladaptive eating practices such as the dominance of porridge as the main food for toddlers and the erosion of the culture of consuming nuts. From a sociological perspective, this program functions as a community-based human capital investment mechanism that protects children's cognitive development, transforms family nutrition literacy, and structurally contributes to breaking the intergenerational chain of poverty. The program's success confirms that nutrition interventions are not merely clinical and medical efforts, but rather social empowerment strategies that transform knowledge and parenting practices within the community. Consequently, community-based nutrition interventions can serve as a model for replication in other regions with similar socio-cultural characteristics in Indonesia. This study recommends expanding nutrition promotion through mass media, strengthening changes in cultural norms at the community level, and more integrated cross-sectoral coordination to ensure the sustainability of stunting reductions and the breaking of intergenerational poverty chains.Keywords: Stunting, Social Mobility, Nutrition, Poverty.
Lippo Plaza Kupang Sebagai Ruang Konsumsi Urban: Analisis Ketimpangan Sosial Dan Perilaku Pelajar Maria Jesika Pajong; Enjelina Nelo; Elza Melsiana Putri Kanni; Kristin Melani Tinenti; Gilardino Sergius Kaesnube; Sandiang Kaya Ndapa Namung; Lasarus Jehamat; Petrus Selestinus Mite
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.9057

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Lippo Plaza Kupang sebagai ruang konsumsi perkotaan dalam membentuk perilaku sosial mahasiswa dan mencerminkan dinamika ketidaksetaraan sosial dalam masyarakat perkotaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi informan yang terdiri dari mahasiswa, mahasiswi, pengunjung umum, dan pelaku usaha di Lippo Plaza Kupang. Informan dipilih menggunakan purposive sampling, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lippo Plaza Kupang telah bertransformasi menjadi ruang konsumsi perkotaan yang berfungsi tidak hanya sebagai tempat berbelanja tetapi juga sebagai tempat berkumpul, bersosialisasi, mencari hiburan, dan membangun hubungan sosial. Kehadiran berbagai fasilitas modern menjadikan mal ini bagian integral dari gaya hidup mahasiswa dan pelajar universitas. Selain mendorong perilaku konsumerisme, mal ini juga berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan identitas pribadi dan mendapatkan pengakuan sosial. Studi ini juga mengidentifikasi ketidaksetaraan sosial yang tercermin dalam kemampuan pengunjung yang berbeda-beda dalam mengakses fasilitas. Perbedaan modal ekonomi menyebabkan diferensiasi sosial dalam pola konsumsi dan penggunaan ruang mal. Dengan demikian, Lippo Plaza Kupang tidak hanya berfungsi sebagai pusat perbelanjaan modern tetapi juga sebagai ruang konsumsi perkotaan yang membentuk perilaku sosial sekaligus merepresentasikan dinamika ketidaksetaraan sosial dalam masyarakat perkotaan. Kata kunci: ruang konsumsi perkotaan, perilaku sosial, budaya konsumen, ketidaksetaraan sosial, Lippo Plaza Kupang.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Lippo Plaza kupang sebagai ruang konsumsi perkotaan dalam membentuk perilaku sosial pelajar serta merefleksikan dinamika ketimpangan sosial di masyarakat perkotaan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi terhadap informan yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, pengunjung umum, serta pelaku usaha di Lippo Plaza kupang. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lippo Plaza kupang telah bertransformasi menjadi ruang konsumsi perkotaan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat berbelanja, tetapi juga sebagai tempat berkumpul, bersosialisasi, mencari hiburan, dan membangun hubungan sosial. Keberadaan berbagai fasilitas modern menjadikan mall tersebut sebagai bagian integral dari gaya hidup pelajar dan pelajar. Selain membentuk perilaku konsumtif, mall juga menjadi sarana mengekspresikan identitas diri dan memperoleh pengakuan sosial. Penelitian ini juga mengidentifikasi ketimpangan sosial yang tercermin melalui perbedaan kemampuan pengunjung dalam mengakses fasilitas. Perbedaan modal ekonomi menimbulkan diferensiasi sosial dalam pola konsumsi dan pemanfaatan ruang mall. Dengan demikian, Lippo Plaza kupang tidak hanya berfungsi sebagai pusat perbelanjaan modern, namun juga sebagai ruang konsumsi perkotaan yang membentuk perilaku sosial sekaligus merepresentasikan dinamika ketimpangan sosial dalam masyarakat perkotaan.
Gerakan Sosial Organisasi Mahasiswa sebagai Agen Perubahan Sosial: Studi Komparatif GMNI, PMKRI, dan LMND Kupang Esmeralda Dasi; Melyani Radja; Jansen E. Lado Djo; Dina Madi Mogu; Lasarus Jehamat; Helga M. Evarista Gero; Hoiril Sabariman
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Interaksi Sosiologi Volume 5 Nomor 1 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v5i1.18781

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran organisasi mahasiswa dalam mendorong perubahan sosial di Kota Kupang melalui studi komparatif terhadap tiga organisasi, yakni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Dalam kerangka tersebut, mahasiswa diposisikan sebagai agent of change, yaitu subjek sosial yang memiliki kesadaran kritis dan tanggung jawab moral untuk menginisiasi serta menggerakkan transformasi menuju tatanan masyarakat yang lebih adil, demokratis, dan berpihak pada kepentingan rakyat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif-komparatif melalui studi literatur, wawancara mendalam, dan observasi terhadap berbagai aktivitas organisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa GMNI berlandaskan pada ideologi Marhaenisme dengan fokus pada perjuangan politik kerakyatan; PMKRI menekankan nilai-nilai humanisme dan ajaran sosial Gereja Katolik; sedangkan LMND mengusung prinsip demokrasi radikal dan keadilan sosial. Meskipun terdapat perbedaan ideologi dan strategi gerakan, ketiga organisasi tersebut memiliki kontribusi yang signifikan dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat kecil serta berperan sebagai agen perubahan sosial di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Co-Authors Afriano, Blasius Andreas Alfrianto Purnama Angely Victory Balkis Soraya Tanof Bretny Stefi Kale Bule Chetryn Malelak, Ajeng Christine Erika Meka Crisistomus E. Oiladang Dafrosa Desfita Atriwanti David Raden Andji Dina Madi Mogu Dominikus Kopong T. Aman Doren, Gabriela Mariana Barek Elza Melsiana Putri Kanni Enjelina Nelo Esmeralda Dasi Fangidae, Yuliati Felisianus Efrem Jelahut Femy Taek Fuah, Rakhel Gabriela Gero, Helga Maria Evarista Gilardino Sergius Kaesnube Helga M. Evarista Gero Herman Y. Utang Herman Yosep Utang Hoiril Sabariman Imanta Immanuel Perangin Angin Imelda Nahak Imelda Nahak Jansen E. Lado Djo Jeraman, Maria Roshanty Trinitasya Djoka Julian Soli Bolo Keon, Yohanes Fiser Khairunnisa Kristin Melani Tinenti Kristin Tinenti Kristina Jenia Laurensius D.E.P. Putra Liu, Martha Yulianti Maria Jesika Pajong Maria Sinar Jaya Maria Valentina Jelita Mbadhi, Aprilia Clarisa Meka, Christine E. Meka, Christine Erika Meka, Cristin Erika Melani Ndun Melyani Radja Mite, Petrus Sales Nahak, Imelda Neken, Lilis Verlin Chandraning Nenu, Lorensa Marani Panda Olivia, Irene Pellu, Susana C.L Petrus Selestinus Mite Riweng, Aflina Robot, Marselus Rudi Rohi Rudolof Ngalu Saldanah Neno, Marianus Sandiang Kaya Ndapa Namung Sari, Delviana Sayrani, Laurensius Petrus Sede, Roswita Si, Polikarpus Keha Sunbanu, Cince Talonggoe, Dian Telik, Yovita Febiana Tiran, Irma Susanti Tumur, Avensius Utang, Herman Y. Waso, Ansellalu Yasinta Felomena Jebarus Yerinta Dooh Yohanes Debrito Pake Yosef Emanuel Jelahut