Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

PENINGKATAN P-POTENSIAL, P-TERSEDIA, SERAPAN P SERTA HASIL PADI MELALUI APLIKASI KOMBINASI PEMBENAH TANAH DAN PUPUK N, P, K PADA SAWAH INCEPTISOLS: Peningkatan P-Potensial, P-Tersedia, Serapan P Serta Hasil Padi Melalui Aplikasi Kombinasi Pembenah Tanah Dan Pupuk N, P, K Pada Sawah Inceptisols Emma Trinurani Sofyan; Rija Sudirja; Benny Joy; Ficky Yulianto Wicaksono; Chamid Itmam
Agrifarm : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 14 No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Widya Gama Mahakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/ajip.v14i2.3893

Abstract

Peningkatan hasil padi diperlukan karena meningkatnya kebutuhan beras nasional, namun, produktivitas lahan masih menjadi masalah utama, terlebih maraknya degradasi kesuburan tanah dan alih fungsi lahan. Pemberian bahan organik dibarengi pupuk N, P, K dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dan mengurangi input pupuk kimia. Tujuan percobaan adalah untuk mengetahui pengaruh sinergi kedua bahan dalam meningkatkan P-potensial, P-tersedia, serapan P, dan hasil padi serta mencari dosis terbaik yang menghasilkan gabah kering giling (GKG) tertinggi dengan pengurangan input pupuk kimia. Percobaan dilakukan pada bulan Juli-Desember 2025 di Lahan Percobaan Kimia Tanah dan Nutrisi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Rancangan Acak Kelompok (RAK) dilakukan dalam percobaan ini dengan 9 perlakuan dan 3 kali ulangan dengan rincian: Kontrol; N, P, K rekomendasi; 1 pembenah tanah; ¼ pembenah tanah + 1 dosis N, P, K; ½ pembenah tanah + 1 dosis n, p, k; ¾ pembenah tanah + 1 dosis N, P, K; 1 pembenah tanah + ½ dosis n, p, k; 1 pembenah tanah + ¾ dosis N, P, K; 1 pembenah tanah + 1 dosis N, P, K. Hasil percobaan mengindikasikan bahwa kedua bahan dapat bersinergi dan berpengaruh nyata dalam meningkatkan kadar P-potensial, P-tersedia, serapan P, serta hasil padi kecuali pada persentase gabah bernas. Dosis 8 t ha-1 kombinasi pembenah tanah dan 50% N, P, K anjuran (262,5 kg. ha-1 Urea; 37,5 kg. ha-1 SP-36; dan 37,5 kg ha-1 KCl) dapat meningkatkan hasil gabah kering giling (3,39 kg petak-1) dengan mengurangi input pupuk kimia sebesar 50%.
Karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS) Air Bengkulu dan Perubahan Penggunaan Lahannya dalam Kaitannya dengan Kejadian Banjir Gredia Sekar Saraswati; Chay Asdak; Benny Joy
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.915-922

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu areal tempat berlangsungnya proses-proses biofisik hidrologis; yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya pada sungai utama ke laut atau danau.  Salah satu DAS dengan kepadatan penduduknya paling tinggi di Provinsi Bengkulu adalah DAS Air Bengkulu.  Penelitian ini dilakukan untuk melakukan pengkajian terhadap karakteristik DAS Air Bengkulu, perubahan penggunaan lahan tahun 2013-2022 dan hubungannya dengan frekuensi kejadian banjir. Analisis sistem informasi geografis (SIG), analisis data curah hujan harian, dan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) digunakan dalam penelitian ini.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS Air Bengkulu memiliki luas ± 50.035 ha, keliling DAS-nya 110,63 km, Panjang sungai utama 57,91 km, lebar DAS-nya 20,13 km, Panjang DAS-nya 37,93 km, ketinggian tempat 0-1.000 mdpl, dan jumlah sungai keseluruhan 14 buah. Bentuk DAS ini termasuk paralel, dengan pola aliran sungainya denditrik dan nilai kerapatan sungai 1,06. DAS Air Bengkulu ini termasuk kategori yang harus dipulihkan karena memiliki lahan kritis yang luas. Dalam kurun waktu 10 tahun (2012-2021) telah terjadi perubahan penggunaan lahan di DAS Air Bengkulu. Penggunaan lahan berupa hutan berkurang seluas 2.684 ha (5,4%), perkebunan sawit bertambah 1.966 ha (3,9%), pemukiman bertambah 2.800 ha (5,6%), lahan pertanian campur bertambah 1.973 ha (3,9%), dan areal pertambangan bertambah 1.637 ha (3,2%).  Fluktuasi kejadian banjir yang terjadi di DAS Air Bengkulu dipengaruhi oleh intensitas curah hujan dan penggunaan lahannya. Korelasi luasan lahan pertanian, pemukiman, sawah; perkebunan dan pertambangan bernilai positif artinya meningkatnya jumlah penggunaan ini akan meningkatkan nilai debitnya.  Korelasi luasan hutan dan semak belukar bernilai negatif artinya meningkatnya luas penggunaan lahan ini akan menurunkan debit sungainya. Kelas penggunaan lahan dan curah hujan memiliki hubungan yang kuat terhadap debit total, dengan nilai diterminasi 95%.
Spatial distribution of status silicon availability for plant and its effect to rice yield Qurrohman, Budy Frasetya Taufik; Suriadikusumah, Abraham; Joy, Benny; Sudirja, Rija
SAINS TANAH - Journal of Soil Science and Agroclimatology Vol 20, No 1 (2023): June
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/stjssa.v20i1.65862

Abstract

Silicon (Si) is a beneficial element for rice plants. However, evaluating the Si availability status of paddy soil is rarely done. This study aimed to investigate the Si availability for plant (SiAP), spatial distribution, SiAP correlations with some soil properties and the effect of SiAP status on the rice yield. This study used a survey method to collect paddy soil and water sample. The pot experiment method was used to evaluate paddy plant response to SiAP level. Based on K-means, cluster analysis showed that soil SiAP was categorized low (< 147 mg SiO2 kg-1), moderate (147 – 224 mg SiO2 kg-1) and high (> 224 mg SiO2 kg-1). The SiAP status of the paddy soil area of 26,395 hectares (25%), 61,744 hectares (59%) and 15,952 hectares (15%) was categorized as low, moderate and high, respectively. This present study revealed that the upland area paddy soil has higher SiAP than the lowland area. Total silicon dioxide (SiO2) and clay percentage were negatively correlated with the SiAP in soils. Silicon addition to the paddy soil with SiAP status showed low to high increase in rice yield by 0.2%, 3.9% and 2.7%.