Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Prevalensi dan Faktor Risiko Tuli Akibat Bising pada Operator Mesin Kapal Feri Jumali, Jumali; Sumadi, Sumadi; Andriani, Sylvia; Subhi, Misbahul; Suprijanto, Damianus; Handayani, Wuri Diah; Chodir, Abdul; Noviarmi, Fadilatus Sukma Ika; Indahwati, Leli
Kesmas Vol. 7, No. 12
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebisingan ruang mesin dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis prevalensi tuli akibat bising Noise Induced Hearing Loss (NIHL) dan faktor yang memengaruhi pada operator mesin kapal feri penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional ini menggunakan metode pengumpulan data dengan wawancara, pengukuran intensitas kebisingan ruang mesin dan pemeriksaan audiometri terhadap operator. Besar sampel adalah 66 operator dari 36 kapal feri yang memenuhi kriteria inklusi dipilih secara acak. Hasil studi menunjukkan 36% kapal memiliki intensitas kebisingan ² 85 dBA dan 64% > 85 dBA. Pemeriksaan audiometri dengan nada murni pada 66 operator didapatkan 34,85% responden mengalami NIHL. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan faktor dominan yang memengaruhi NIHL adalah usia dan lama paparan (p < 0,05). Hasil uji kai kuadrat didapatkan intensitas kebisingan berpengaruh signifikan terhadap NIHL setelah dikoreksi dengan umur dan lama paparan (p < 0,05). Disarankan untuk mengurangi waktu paparan terhadap operator yang terpajan kebisingan tinggi dan menjaga jarak antara operator dengan sumber kebisingan untuk meminimalkan pajanan bising. Engine room noise can cause hearing loss. The objective of this research was to analyze the prevalence of Noise Induced Hearing Loss (NIHL) and its affecting factors on machinery ferry operators at Ketapang-Gilimanuk. This was an observational with cross sectional design, the techniques for collecting data were interviews, noise intensity measurements and audiometric examination.The sample was 66 operators who were selected randomly after inclusion. The study results showed that 36% of ferry have noise intensity ² 85 dBA and 64% have > 85 dBA. The audiometric examination with pure tone result of the 66 operators showed that 34.85% of respondent had NIHL. The age and length of exposure affected NIHL incidence (p < 0.05). While the noise intensity affected the incidence of NIHL (p > 0.05) together with age and lenght of exposure. It is important to reduce exposure time of noisy operations on workers, automation of activities and increase the distance between workers and noisy equipment to minimise the noise exposure.
SPEAKING FOR DEBATE “MEMBANGUN KECAKAPAN BERBICARA, BERFIKIR KRITIS, DAN BERDAYA ANALITIS PADA GEN Z” Isumarni, Isumarni; Kasman, Nuraini; Khalik, Suhartini; Zain, Suardi; samhermansyah; Ryandi, Ryandi; Jumali, Jumali
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): Volume 5 No 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i1.23975

Abstract

Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatkan kemampuan berbicara, berpikir kritis, dan berdaya analitis para siswa melalui teknik debat dan meningkatkan kemampuan para siswa dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar melalui praktik debat di SMKN 2 Sidenreng Rappang. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini dilakukan dalam bentuk kegiatan pelatihan. Adapun teknis pelaksaanaan pelatihan yakni sebelum pelatihan ini dilaksanakan, terlebih dahulu mahasiswa mengambil data proses belajar mengajar di SMKN 2 Sidenreng Rappang melalui kegiatan PLP (Pengenalan Lingkungan Persekolahan), dan ditemukan bahwa beberapa siswa tidak aktif berbicara di dalam kelas. Karena alasan itu dan berdasarkan ilmu pengetahuan serta pengalaman praktis yang dimiliki tim Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang dalam debat maka pelatihan ini diadakan, sebagai harapan siswa di SMKN 2 Sidenereng Rappang dapat meningkatkan kemapuan berbicaranya dan menumbuhkan kepercayaan diri siswa dalam berbicara. Peserta yang mengikuti pelatihan ini sebanyak 15 orang. Kegiatan ini dilaksanakan di SMKN 2 Sidenreng Rappang dalam waktu 1 hari. Selanjutnya, pelatihan keterampilan debat ini akan menerapkan pelatihan aktif, yakni seluruh peserta turut belajar melalui pengalamannya sehingga tujuan yang telah direncanakan dapat diperoleh secara optimal. Pelatihan ini akan menggunakan pendekatan praktik melalui pelatihan terbimbing. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah ceramah, tanya jawab, diskusi, dan demonstrasi.
EFEKTIFITAS PELAKSANAKAN TUGAS POKOK TNI DALAM PERTAHANAN NEGARA BERDASARKAN UU RI NO. 34 TAHUN 2004 TENTANG TNI (Studi di Wilayah Teritorial Kodim 0809 / Kediri) Jumali, Jumali; Nurbaedah, Nurbaedah
MIZAN, Jurnal Ilmu Hukum Vol 14 No 2 (2025): Mizan: Jurnal Ilmu Hukum
Publisher : Universitas Islam Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32503/mizan.v14i2.8497

Abstract

TNI adalah alat pertahanan negara yang memiliki tugas pokok menjaga dan mepertahankan keutuhan dan kedaulatan negara dari segala bentuk ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar negeri yang akan menganggu warga negara Indonesia dan eksistensi NKRI, karena pentingnya peran tersebut maka seyogyanya mendapat payung hokum yang sesuai dengan tupoksinya. UU RI No.34 tahun 2004 tentang TNI masih belum memberikan kepastian hokum bagi TNI dalam pelaksanaan tugasnya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas tugas pokok TNI dalam pertahanan negara, penelitian ini menggunakan metode penelitian Empiris ( Sosio Legal Resech ) dengan cara observasi, wawancara dan pendekatan kepada pihak yang memiliki kompetensi dalam memberikan keterangan atau data – data yang diperlukan. Hasil penelitain yang dilakukan perihal Efektifitas pelaksanaan tugas pokok TNI dalam pertahanan negara sebagaimana tersebut dalam pasal 7 UU RI No. 34 tahun 2004 masih belum berjalan secara optimal hal ini disebabkan karena beberapa aspek: Kurangnya sinkronisasi dan koordinasi antar instansi ( legal struktur), Regulasi yang belum sepenuhnya jelas dan adaptif, pemahaman hokum yang masih beragam diinternal TNI, ketidakjelasan regulasi dan prosedur hokum dilapangan, kondisi geografis dan dukungan logistic di daearah penugasan dan daerah terpencil, keterbatasan anggaran dalam peningkatan profesionalitas dan kapabilitas dalam menghadapi ancaman, Keraguan dalam bertindak karena dilemma antara penegakan hukum dan stabilitas keamanan negara adalah penyebab tidak efektifnya pelaksanaan tugas pokok TNI dalam pertahanan negara.
Penerapan Terapi Orientasi untuk Meningkatkan Realita pada Pasien dengan Waham Kebesaran di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr.Arif Zainudin Surakarta Syaharani, Danisa Bella; Pratiwi, Arum; Jumali, Jumali
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24401

Abstract

ABSTRACT Delusions of grandeur are a thought disorder in schizophrenia patients characterized by excessive beliefs that are not in accordance with reality, resulting in disturbances in reality orientation. This study aims to determine the effectiveness of the application of Reality Orientation Therapy (TOR) in improving reality orientation in patients with delusions of grandeur. The study used a case study design on a 44-year-old male patient who was treated at Dr. Arif Zainudin Surakarta Mental Hospital with a delusional belief that he was the 13th leader of the Mangkubuwono kingdom and was able to behave like the Prophet Muhammad SAW. The intervention was conducted through three sessions over three days, with TOR covering orientation to person, place, and time. Each session lasted 20–30 minutes, using a therapeutic communication approach and repeated stimulation of reality information. Evaluation of therapy success was conducted using an orientation assessment sheet to assess the patient's ability to recognize self-identity, environment, and time, as well as through observation of behavioral changes during the therapy process.TOR showed improvement in scores orientation increase from 3/18 before therapy to 17/18 after three session therapy The patient's reality orientation. After three intervention sessions, the patient was able to state his full name more consistently, recognize that he was at Dr. Arif Zainudin Surakarta Mental Hospital, and state the day and date correctly. In addition to improved orientation, positive changes were also observed, including more relevant speech patterns, more stable emotions, and a decrease in aggressive responses, although these were not the primary focus of therapy. Reality Orientation Therapy is effective in improving reality orientation in patients with grandiose delusions. Further research is recommended in a group of patients with grandiose delusions to improve reality orientation related to the content of their delusions. Keywords: Schizophrenia, Reality Orientation Therapy, Reality Orientation, Delusions of Grandeur, Psychiatric Nursing.   ABSTRAK Waham kebesaran adalah gangguan proses pikir pada pasien skizofrenia yang ditandai dengan keyakinan berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga mengakibatkan gangguan dalam orientasi realitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan Terapi Orientasi Realitas (TOR) dalam meningkatkan orientasi realitas pada pasien dengan waham kebesaran. Penelitian menggunakan desain studi kasus pada seorang pasien laki-laki berusia 44 tahun yang dirawat di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta dengan keyakinan waham bahwa dirinya adalah pemimpin kerajaan Mangkubuwono ke-13 dan mampu berperilaku seperti Nabi Muhammad SAW. Intervensi dilakukan melalui tiga sesi selama 3 hari, TOR yang mencakup orientasi terhadap orang, tempat, dan waktu. Setiap sesi berlangsung selama 20–30 menit, menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik dan stimulasi informasi realitas secara berulang. Evaluasi keberhasilan terapi dilakukan dengan menggunakan lembar asesmen orientasi) untuk menilai kemampuan pasien mengenali identitas diri, lingkungan, dan waktu, serta melalui observasi perubahan perilaku selama proses terapi. TOR menunjukkan peningkatan pada skor orientasi meningkat dari 3/18 sebelum terapi menjadi 17/18 setelah tiga sesi terapi orientasi realitas pasien. Setelah tiga sesi intervensi, pasien mampu menyebutkan nama lengkapnya dengan lebih konsisten, mengenali bahwa ia berada di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta, serta menyebutkan hari dan tanggal dengan tepat. Selain peningkatan orientasi, juga tampak perubahan positif berupa pola bicara yang lebih relevan, emosi yang lebih stabil, dan penurunan respons agresif, meskipun bukan menjadi fokus utama terapi. Terapi Orientasi Realitas efektif dalam meningkatkan orientasi realitas pada pasien dengan waham kebesaran. Penelitian selanjutnya disarankan pada sekelompok pasien waham kebesaran untuk orientasi realita terkait isi wahamnya Kata Kunci: Skizofrenia, Terapi Orientasi Realitas, Orientasi Realitas, Waham Kebesaran, Keperawatan Jiwa.