Claim Missing Document
Check
Articles

TINGKAT PENGETAHUAN MENCUCI TANGANPENUNGGU PASIEN RUANG TERAPI INTENSIF INSTALASI ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR Ida Bagus Aditya Mayanda; I Gusti Agung Gede Utara Hartawan
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 9 (2021): Vol 10 No 09(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i9.P09

Abstract

Menjaga kebersihan tangan sangatlah penting dikalangan praktisi kesehatan karena dapat mencegah penularan infeksi nosokomial pada pasien lain maupun penunggu pasien. Perilaku cuci tangan yang benar di pulau Bali menurut data Riskesdas pada tahun 2013, sebesar 66,7% masyarakat pulau Bali sudah mencuci tangan dengan benar. Menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan pakai sabun dapat mencegah beberapa penyakit yang sering terjadi dimasyarakat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional study. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling. Tempat penelitian ini dilakukan di ruang tunggu Ruang Terapi Intensif (RTI) RSUP Sanglah Denpasar. Subjek penelitian adalah seluruh penunggu pasien yang dirawat di RTI RSUP Sanglah Denpasar periode April – September 2016. Pada penelitian ini didapatkan 102 orang responden bersedia menjadi sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dari 102 responden didapatkan: katagori rendah sebanyak 41,2% (n=42), katagori sedang sebanyak 22,5% (n=23), katagori tinggi sebanyak 36,3% (n=37). Responden dengan tingkat pendidikan sarjana memiliki persentase tertinggi mendapatkan tingkat pengetahuan tinggi (57,1%), Sedangkan responden dengan tingkat pendidikan SMA memiliki persentase tertinggi mendapat tingkat pengetahuan rendah (48,0%). Responden dengan kelompok umur 20-30 tahun memiliki persentase tertinggi mendapatkan tingkat pengetahuan tinggi (48,5%), sedangkan responden dengan kelompok umur 41-50 tahun memiliki persentase tertinggi mendapat tingkat pengetahuan rendah (48,1%). Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan mempertimbangkan pekerjaan, jenis kelamin, sikap dan perilaku terhadap kebiasaan mencuci tangan. Kata kunci: tingkat pengetahuan mencuci tangan , pengetahuan penunggu pasien, RTI, RSUP Sanglah
PROFIL PENGGUNAAN ANTIKOAGULAN PADA PASIEN KARDIOVASKULAR YANG DIRAWAT DI RUANG ICCU RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI 2016 - JUNI 2016 Gusti Ayu Putu Giti Livia Devi; I Wayan Aryabiantara; IGAG Utara Hartawan
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.063 KB)

Abstract

Penyakit kardiovaskular di Indonesia merupakan salah satu penyebab kematian terbesar, dengan prevalensi yang cukup tinggi dan angka kejadian yang diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya. Salah satu obat yang digunakan dalam menangani penyakit kardiovaskular adalah antikoagulan. Namun, pencatatan penggunaan antikoagulan yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan di Indonesia masih kurang lengkap. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan antikoagulan pasien kardiovaskular yang dirawat di Ruang ICCU dimulai dari Ruang ICCU RSUP Sanglah. Metode yang digunakan adalah deskriptif retrospektif dimana data berasal dari rekam medis pasien kardiovaskular yang dirawat di ICCU RSUP Sanglah pada periode Januari 2016 – Juni 2016, dengan menggunakan teknik total sampling. Dari 85 pasien yang memenuhi kriteria, 55 orang diantara menggunakan antikoagulan dan 30 orang tidak menggunakan antikoagulan. Sehingga didapatkan angka proporsi 64,7% untuk pasien dengan antikoagulan yang dirawat di ICCU RSUP Sanglah dan 35,3% untuk pasien tanpa antikoagulan yang dirawat di ICCU RSUP Sanglah. Profil penggunaan antikoagulan pada pasien yang dirawat di ICCU RSUP Sanglah memiliki karakteristik subyek pasien kardiovaskular mayoritas dengan jumlah 40 (72,7%), usia 65-74 tahun dengan jumlah 17 subyek (30,9%), dan merupakan pasien infark miokard dengan jumlah subyek 22 (40%), dengan jenis antikoagulan terbanyak menggunakan enoxaparin sebanyak 36 subyek (60%). Kata kunci: antikoagulan, ICCU
Eutanasia dalam Perspektif Hak Asasi Manusia dan Hukum Positif di Indonesia I Gusti Agung Gede Utara Hartawan; Anak Agung Sagung Laksmi Dewi; I Nyoman Sutama
Jurnal Konstruksi Hukum Vol. 1 No. 2 (2020): Jurnal Konstruksi Hukum
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.361 KB) | DOI: 10.22225/jkh.2.1.2564.310-314

Abstract

Euthanasia legislation has been approved and enforced in European countries such as the Netherlands. This provides a way for the patient's family with an incurable disease to end the patient's life in order to end the patient's suffering. In Indonesia, currently there are no legal norms that regulate euthanasia. This study aims to analyze euthanasia from a human rights perspective and to know euthanasia from a positive legal perspective in Indonesia. Research is included as normative research with a conceptual approach and statutory regulations. The results of this study indicate that euthanasia is contrary to article 28A, article 28G paragraph (2), and article 28I paragraph (1) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia and articles 338, 340, 344, 345 of the Criminal Code. In the event that there is a request for euthanasia from the patient or the patient's family, the doctor must reject the request and the decision to implement euthanasia should wait for a court decision
PREVALENCE OF BURNOUT SYMPTOMS IN NURSES HOSPITAL ASSIGNED TO COVID-19 ISOLATION ROOMS Sylvia Jessy Kurniawan; Kuswantoro Rusca Putra; I Gusti Agung Gede Utara Hartawan
Indonesian Journal of Health Administration Vol. 10 No. 1 (2022): June
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jaki.v10i1.2022.60-69

Abstract

Background: Burnout is a health problem that may happen to nurses and may impact patient safety and organization in any situations, especially during the second wave of COVID-19 pandemic. Aims: This study aimed to identify the prevalence of burnout among nurses in charge of isolation rooms and its relationship to their demographics factor. Methods: This research design is descriptive-analytic quantitative and cross-sectional. It involved 124 nurses assigned to isolation rooms for COVID-19 patients admitted to the first referral hospital in Bali. Data were collected using a questionnaire adopted from the Maslach Burnout Inventory to identify burnout symptoms. Demographic questionnaire was administered to garner respondents' demographics. Results: High category of burnout was related to emotional exhaustion found in 66.1% of the respondents, depersonalization in 33.1%, and reduced personal accomplishment in 0.8%. Age, marital status, education, and gender were not related to burnout. Nurses who worked in non-ICU experienced higher burnout than ICU (p < 0.05). Conclusions: The prevalence of burnout symptoms in the nurses who were in charge in COVID-19 isolation rooms is in the high category. Hospital management must consider demographic factors to improve the work environment, recruit new employees, conduct routine health checks, and provide mental health treatments consistently.
The use of CONOX as a guide to the general anesthesia on laparotomy patients compared with standard clinical care – A pilot study Brillyan Jehosua Toar; I Putu Pramana Suarjaya; IGAG Utara Hartawan; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Neurologico Spinale Medico Chirurgico Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : Indoscholar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36444/nsmc.v4i2.158

Abstract

Background: Avoiding excessive doses of anesthesia was fundamental, mainly to reduce the adverse effect of anesthesia. Electroencephalography (EEG)-based monitors can be used to measure the depth level of anesthesia and guide intraoperative hypnosis drug and opioid administration. This study aims to evaluate the benefit of using CONOX monitor when administering anesthesia drugs in laparotomy procedures. Method: Twenty patients aged 18-65 years with physical status ASA I-III who underwent major laparotomy surgery with general anesthesia total intravenous anesthesia (TIVA) were divided into two groups. Group A received general anesthesia guided with the CONOX monitor, while group B using standard clinical care. We later evaluate the total use of propofol and fentanyl, intraoperative hemodynamic profile, postoperative cognitive disorder (POCD), intraoperative awareness, postoperative nausea and vomiting (PONV), and moderate to severe pain in the post-anesthesia care unit (PACU). Results: The mean total propofol used is lower in CONOX group (63.6 ± 11.7 mcg/kg/min vs. 74 ± 17.87 mcg/kg/min). A similar result was obtained with fentanyl. The CONOX group use a lower total of fentanyl (212.5 ± 32.3 mcg vs. 249 ± 54.6 mcg) than the control group. POCD was found to be more prevalent in the control group (5 vs 2 patients). While there is no report of intraoperative awareness. Conclusion: The incidence of PONV and moderate to severe pain in PACU was similar between the two groups. This pilot study is a preliminary study to evaluate the benefit of using EEG-based monitors to adjust anesthesia drugs.
TELEDENTISTRY IN A JURIDICAL PERSPECTIVE: CRIMINAL, CIVIL AND ADMINISTRATIVE ASPECTS Nyoman Ayu Anggayanti; Ida Bagus Fajar Manuaba; I Gusti Agung Gede Utara Hartawan
Interdental Jurnal Kedokteran Gigi (IJKG) Vol. 19 No. 2 (2023): Interdental Jurnal Kedokteran Gigi (IJKG)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46862/interdental.v19i2.7804

Abstract

Introduction: To address the limitations resulting from the implementation of health protocols in providing healthcare services to patients, a solution was found in the utilization of information and communication technology to support healthcare services for patients in the form of telehealth, often known as telemedicine. Review: According to Article 1, Paragraph 21 of Law Number 17 of 2023 regarding Health, telemedicine is defined as the provision and facilitation of healthcare services, including public health, health information services, and self-care services, through telecommunications and digital communication technology. One of the aspects of telemedicine in the field of dentistry is teledentistry, which can be a solution for optimizing dental and oral healthcare services for individuals and the community. However, there are various issues in its implementation, especially related to legal issues such as licensing, patient electronic medical record privacy and confidentiality, clinical guidelines, and others that are highly vulnerable to data discrepancies, falsification, or digital patient data leakage. Conclusion: These issues can potentially lead to medical disputes that may enter the legal realm. On the other hand, teledentistry services also play a crucial role in improving public health, especially in dental and oral health in Indonesia, particularly during the COVID-19 pandemic. Therefore, the development of teledentistry services needs to be continuously improved, both in terms of systems and regulations, to provide security and legal certainty for the Indonesian population.
PROFILE OF HEMOSTASIS PHYSICAL DISORDERS IN CONFIRMED COVID-19 PATIENTS TREATED IN THE ISOLATION ICU UDAYANA UNIVERSITY HOSPITAL PERIOD OF 2020-2021 Indrastuti, Putu Shintadewi; Aryabiantara, I Wayan; Mas Shintya Dewi, Dewa Ayu; Utara Hartawan, I Gusti Agung Gede
E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 6 (2024): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2024.V13.i06.P07

Abstract

COVID 19 is contagious disease cause by the Coronavirus which is a type of RNA virus that causes symptoms. In some cases, coagulation disorders have been found as a hemostatic dysfunction that occurs due to a decrease patient's immune system. This condition causes patients to experience coagulopathy, endothelial dysfunction, excessive platelet activation and blood flow stasis. This research used descriptive methods and cross-sectional approach. The population of this study was the Isolation ICU patients at Udayana University Hospital in 2020-2021. Data collection uses PT, aPTT, INR, D-dimer and platelet count data. The results of this study found that out of 169 subjects, the most common cases occurred in the male group at 69.2%, the age group most often occurred in the age > 60 years at 42.6%, based on comorbid group, the most common cases occurred in those with no comorbidities at 37.9% with the most common clinical symptom in the form of shortness breath at 77.5%. The most common picture of coagulation parameters was normal PT values in 55%, a normal INR in 81.1%, an increased APTT in 53.3%, an increased D-Dimer in 91.9%, and normal platelets counts in 69.2%. Coagulation parameters in hypertensive and diabetic mellitus type II patients increased on aPTT sequentially by 50% and 52%, respectively. D-dimer increased in 93% and 98% meanwhile PT, INR and Platelets are normal.
PROFIL PASIEN CEDERA OTAK YANG DIRAWAT DI RUANG TERAPI INTENSIF RSUP SANGLAH DENPASAR Sutjipto, Matthew Nathanael; Hartawan, I Gusti Agung Gede Utara; Dewi, Dewa Ayu Mas Shintya; Aryabiantara, I Wayan
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i10.P01

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: cedera otak dapat diklasifikasikan menjadi cedera otak traumatik dan cedera otak non traumatik. Cedera otak traumatik didefinisikan sebagai perubahan fungsi otak akibat rangsangan dari luar, sedangkan cedera otak non traumatik seringkali disebabkan oleh cedera serebrovaskular (CVA). Tingkat keparahan cedera otak diklasifikasikan menjadi cedera otak ringan, sedang, dan berat yang dinilai menggunakan skor GCS. Data primer mengenai pasien cedera otak di Indonesia khususnya di Denpasar masih terbatas. Keterbatasan informasi ini yang menjadikan penulisn tertarik untuk melakukan penelitian ini. Tujuan: mendapatkan informasi lebih mengenai profil pasien cedera otak yang dirawat di RTI RSUP Sanglah Denpasar. Metode: penelitian deskriptif potong lintang. Populasi target pada register pasien yang masuk dalam kriteria inklusi sejak 1 januari 2021 hingga 30 Juni 2021 di RTI RSUP Sanglah Denpasar. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: kondisi demografi berupa usia, jenis kelamin, alamat, skor GCS, diagnosis, trauma penyerta, komorbid, ventilator, masa hari bebas ventilator, dan angka mortalitas. Hasil: Sampel total penelitian ini sebanyak 89 pasien, dengan 52,93% pasien merupakan pasien cedera otak traumatik. Rata-rata usia pasien cedera otak traumatik adalah 43 tahun, sedangkan rata-rata pasien cedera otak non traumatik adalah 59 tahun. Pada pasien cedera otak, laki-laki memiliki proporsi lebih besar yaitu 78,65% dan sebesar 23,60% pasien cedera otak memiliki alamat tempat tinggal di Denpasar. Skor GCS masuk pada pasien cedera otak traumatik didapatkan sebagai berikut, Skor GCS 3-8 (50%), Skor GCS 9-12 (22,92%), Skor GCS 13-15 (27,08%). Sedangkan skor GCS masuk pada pasien cedera otak non traumatik didapatkan sebagai berikut, Skor GCS 3-8 (48,78%), skor GCS 9-12 (43,90%), skor GCS 13-15 (7,32%). Pada pasien cedera otak traumatik 62,50% pasien yang datang memiliki trauma penyerta dan pada pasien cedera otak non traumatik 85,73% pasien yang datang memiliki komorbid. Penggunaan ventilator pada pasien cedera otak traumatik yaitu sebesar 87,5% dan pada pasien cedera otak non traumatik sebesar 82,93%, dengan rata-rata penggunaan ventilator selama 5 hari. Angka mortalitas pada penelitian ini adalah 29,17% untuk pasien cedera otak traumatik dan 43,90% untuk pasien cedera otak non traumatik. Simpulan: Cedera otak traumatik merupakan cedera otak terbanyak yang dirawat di RTI RSUP Sanglah Denpasar. Dan rata-rata penggunaan ventilator pada pasien cedera otak yang dirawat di RTI RSUP Sanglah Denpasar adalah 5 hari. Kata kunci : Cedera otak, Cedera otak traumatik, Cedera otak non traumatik, Skor GCS.
TINGKAT PENGETAHUAN MANAJEMEN NYERI MAHASISWA TAHAP AKHIR DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA Wahyuni, Ni Kadek Ayuk Ari; Dewi, Dewa Ayu Mas Shintya; Hartawan, I Gusti Agung Gede Utara
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i12.P04

Abstract

Pengetahuan dasar yang wajib diketahui oleh seluruh mahasiswa kedokteran yaitu mengenai manajemen nyeri karena nyeri menjadi penyebab utama pasien datang untuk mendapatkan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan manajemen nyeri mahasiswa tahap akhir di Fakultas Kedokteran Universita Udayana. Metode penelitian dengan responden penelitian ini adalah mahasiswa tahap akhir semester VI program studi pendidikan dokter di fakultas kedokteran universitas udayana. Adapun jenis penelitian ini non eksperimental dengan metode penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan cross-sectional (potong lintang). Teknik pengambilan sampel dengan metode total sampling dan menggunakan kuesioner dari Knowledge and attitudes regarding pain (KASRP). Dari total 213 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa rata-rata tingkat pengetahuan manajemen nyeri mahasiswa tahap akhir di fakultas kedokteran universitas udayana sebanyak 46,94% dengan nilai minumun 28,21% dan nilai maksimun 100%. Mahasiswa tahap semester VI program studi pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana memiliki pengetahuan mengenai manajemen nyeri yang kurang baik. Peneliti menyarankan dilakukan pelatihan dan pembelajaran mengenai manajemen nyeri sebelum mahasiswa masuk ke tahap klinik (co-ass).
Penggunaan Jarum Spinal Atraumatic dalam Menurunkan Kejadian Post-dural Puncture Headache: Telaah Sistematis Pragra, Maria Preicilia; Parami, Pontisomayaa; Sutawan, Ida Bagus Krisna Jaya; EM, Tjahya Aryasa; Utara Hartawan, I Gusti Agung Gede
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 1 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i01.P08

Abstract

AbstrakPost-dural puncture headache (PDPH) merupakan salah satu komplikasi pasca anestesi spinal yang ditandai dengan nyeri kepala. Kejadian PDPH dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah jenis jarum spinal. Telaah sistematis ini bertujuan untuk mengetahui peran penggunaan jarum spinal atraumatic terhadap kejadian PDPH dibandingkan dengan jarum spinal traumatic pada pasien anestesi spinal.Pencarian literatur studi randomized controlled trial (RCT) dari tahun 2015 sampai 2020 yang membandingkan kejadian PDPH menggunakan jarum atraumatic dan jarum traumatic pada pasien anestesi spinal dilakukan melalui Google Scholar, PubMed, dan hand-searching secara manual. Seleksi studi dilakukan berdasarkan panduan diagram alir PRISMA 2009. Risiko bias masing-masing studi dinilai menggunakan Jadad Scale. Sintesis data didapatkan dari 19 studi dengan jumlah total sampel 4.414 pasien tanpa adanya batasan umur dan jenis kelamin.Berdasarkan studi yang ditemukan, seluruhnya menyatakan bahwa kejadian PDPH dengan jarum atraumatic lebih rendah dibandingkan dengan jarum traumatic dan ditemukan paling tinggi pada pasien operasi cesar. Kejadian PDPH tertinggi sebesar 22% dengan jarum traumatic 25G quincke, sedangkan kejadian terendah sebesar 0% dengan jarum atraumatic 25G sprotte, 27G sprotte, 25G whitacre, dan 27G whitacre. Kegagalan anestesi spinal ditemukan lebih tinggi pada jarum atraumatic dibandingkan dengan jarum traumatic, akan tetapi perbedaan tersebut tidak signifikan. Oleh karena itu, penggunaan jarum atraumatic lebih direkomendasikan dalam tindakan anestesi spinal untuk mencegah terjadinya PDPH.Kata kunci : post-dural puncture headache, anestesi spinal, jarum atraumatic
Co-Authors Adi, Made Septyana Parama Adinda Putra Pradhana Anak Agung Angga Pringga Dana Anak Agung Gde Agung Adistaya Anak Agung Sagung Laksmi Dewi Andi Kusuma Wijaya, Andi Brillyan Jehosua Toar Christopher Ryalino Cristy, Nadia Assecia Dewa Ayu Mas Shintya Dewi Dewi Sinardja, Cynthia Dewi, Dewa Ayu Mas Shintya Eka Nantha Kusuma, Putu Eka Putra, I Wayan Gede Artawan EM, Tjahya Aryasa Emkel Perangin Angin, Emkel Fikrawan, Putu Filla Jaya Gde Agung Senapathi, Tjokorda Gede Semarawima, Gede Gusti Agung Made Wibisana Kurniajaya Gusti Ayu Putu Giti Livia Devi I Gede Budiarta I Gusti Agung Made Wibisana Kurniajaya I Gusti Ngurah Mahaalit I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa I Ketut Sinardja I Made Darma Junaedi, I Made I Made Gede Widnyana I Nyoman Sutama I Putu Fajar Narakusuma I Wayan Aryabiantara, I Wayan I Wayan Suranadi Ida Ayu Mas Sasmari Brahmani Ida Bagus Aditya Mayanda Ida Bagus Fajar Manuaba Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan Ida Bagus Udayana Hanggara IGNA Putra Arimbawa, IGNA Putra Indrastuti, Putu Shintadewi Kadek Agus Heryana Putra Kadek Agus Heryana Putra, Kadek Agus Ketut Semara Jaya, Ketut Semara Khamandanu, Kadek Fabrian Kurniajaya, I Gusti Agung Made Wibisana Kurniawan, Sylvia Jessy Kuswantoro Rusca Putra Labobar, Otniel Adrians Lestari, Kadek Dwi Pradnya Made Agus Kresna Sucandra, Made Agus Kresna Made Oka Widyantara, Made Oka Made Septyana Parama Adi Made Widnyana Made Wiryana Mahaalit, I Gusti Ngurah Mas Shintya Dewi, Dewa Ayu Merry Ni Ketut Supasti Dharmawan Ni Putu Novita Pradnyani, Ni Putu Nyoman Ayu Anggayanti Nyoman Suyatna Parama Adi, Made Septyana Parami, Pontisomayaa Pontisomaya Parami Pragra, Maria Preicilia Pratama, I Wayan Agus Wirya Putra, Made Bagus Cahya Maha Putu Herdita Sudiantara, Putu Herdita Putu Kurniyanta Putu Pramana Suarjaya R. A.T. Kuswardhani Suparna, I Ketut Sutjipto, Matthew Nathanael Syamsuddin, Johanis Bosco Troy Syarifuddin Syarifuddin Sylvia Jessy Kurniawan Tjahya Aryasa Tjahya Aryasa E M Tjokorda Gde Agung Senapathi Wahyuni, Ni Kadek Ayuk Ari Widiasa, Anak Agung Made Wiranata, Jeremia Alvian Yaslis Ilyas