Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Kinesik

SELF DISCLOSURE PADA PASANGAN SUAMI ISTRI HASIL PERJODOHAN ETNIK BUGIS DI KOTA PALU Samsinar; Sitti Murni Kaddi
Kinesik Vol. 7 No. 2 (2020): August
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ejk.v7i2.119

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk mengungkap secara mendalam terkait pengalaman pernikahan pasangan suami istri hasil perjodohan Etnik Bugis yang dipersatukan dalam ikatan rumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui self disclosure yang terjadi di dalam pernikahan pasangan suami istri hasil perjodohan Etnik Bugis tersebut dan untuk mengetahui hambatan apa saja yang dirasakan selama merealisasikan self disclosure. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah enam (6) orang yang terdiri dari tiga (3) pasang suami istri hasil perjodohan Etnik Bugis. Narasumber penelitian telah dipilih melalui teknik purposive sampling dengan mempertimbangkan beberapa syarat-syarat tertentu. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan kondisi rumah tangga setiap pasangan meskipun latar belakang pernikahannya sama, yakni karena dijodohkan. Perbedaan ini terjadi karena self disclosure yang dilakukan oleh setiap individu juga berbeda satu sama lainnya. Pasangan pertama melakukan self disclosure dengan komunikasi non-verbal serta saling mendengarkan. Pasangan kedua melakukan self disclosure dengan cara mengendalikan temperamen dan berusaha saling bersikap terbuka. Pasangan ketiga melakukan self disclosure melalui diskusi. Adapun hambatan dalam self disclosure dapat dibagi menjadi dua yakni hambatan internal dan hambatan eksternal. Hambatan internal berupa sulitnya mengontrol emosi saat hendak menyampaikan perasaan, takut mengutarakan perasaan karena dicemaskan akan menimbulkan masalah baru dan khawatir akan mendapatkan respon yang tidak diinginkan. Adapun hambatan eksternal berupa kondisi pasangan yang tidak kondusif atau faktor perbedaan karakter, faktor pendidikan terakhir, faktor usia saat menikah dan faktor ekonomi. Melalui penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa self disclosure memiliki peran yang penting bagi keberlangsungan hubungan pernikahan yang dilatarbelakangi oleh perjodohan. Apabila self disclosure dilakukan secara intensif maka hubungan rumah tangga yang terbentuk ialah hubungan yang harmonis dan akrab.
PERAN HUMAS PEMERINTAH KOTA PALU DALAM MENANGANI ISU NEGATIF MENGENAI PENANGANAN PASCA BENCANA DI KOTA PALU TAHUN 2018 Muh. Lucky Salanggon; Sitti Murni Kaddi
KINESIK Vol. 7 No. 3 (2020): December
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ejk.v7i3.128

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran Humas pemerintah Kota Palu dalam menangani isu negatif mengenai penanganan pasca bencana di Kota Palu tahun 2018. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah sepuluh (10) orang. Semua telah dipilih secara purposive sampling. Adapun teknik analisis data pada penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Berdasarkan hasil analisa data yang dilakukan, diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa dalam peran Humas pemerintah Kota Palu dalam menangani isu negatif mengenai penanganan pasca bencana di Kota Palu yaitu dua peran telah dilakukan Humas pemerintah Kota Palu yakni Humas sebagai fasilitator komunikasi dan Humas sebagai teknisi komunikasi. Sebagai fasilitator komunikasi yakni dengan membuka komunikasi seluasluasnya kepada khalayak dan khususnya ke masyarakat yang terdampak bencana agar diketahui peran-peran pemerintah dalam hal ini Humas pemerintah Kota Palu dan teknisi komunikasi merupakan peran paling umum di lakukan dilapangan pasca bencana, menyiapkan segala informasi dan data-data yang akurat dan terpercaya sesuai perkembangan waktu. Agar dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Selanjutnya, dua peran yang tidak di lakukan yaitu peran Humas sebagai penasehat ahli dan fasilitator proses pemecahan masalah. Peran sebagai penasehat ahli belum pernah dilakukan karena keterbatasan tugas dan fungsi Humas pemerintah itu sendiri. Penasihat ahli juga peran yang jarang atau tidak dilakukan dalam Humas pemerintahan dan terakhir peran sebagai fasilitator proses pemecahan masalah merupakan peran yang tidak dilakukan Humas pemerintah Kota Palu selain penasehat ahli hal ini dikarenakan penanganan pasca bencana pada keseluruhannya merupakan kewenangan dari pemerintah pusat dan daerah kabupaten/kota sebagai fasilitatornya.
DESAIN PESAN PERSUASIF YAYASAN ARSITEK KOMUNITAS INDONESIA PADA KORBAN BENCANA ALAM DI KOTA PALU Sitti Murni Kaddi; Muhammad Isa Yusaputra; Ade Putri Melisa
Kinesik Vol. 9 No. 3 (2022): December
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ejk.v9i3.400

Abstract

This research was motivated by the phenomena of the earthquake, tsunami and liquefaction that occurred in September 2018, which resulted in many people losing their homes, including in the coastal area of Mamboro, North Palu District, Palu City. The purpose of this research is to find out how to design persuasive messages by the Indonesian Non-Governmental Organization Foundation for Community Architects (Arkom). victims of natural disasters in Palu City. This study used a qualitative research method with a case study approach, through in-depth interviews and field observations. The number of informants in this study were 5 people who had been selected through a purposive sampling technique. The results showed that in designing persuasive communication messages carried out by the Non-Governmental Organization Foundation for Community Architecture after the earthquake, tsunami and liquefaction in Mamboro Village, North Palu District, Palu City, it was by using community leaders as media in conveying messages to the communicant, and the messages conveyed by the communicator to the community is designed effectively so that the message can be understood by the communicant during the activity.
STORYTELLING DALAM KAMPANYE PELESTARIAN LINGKUNGAN Stepanus Bo'do; Fadhliah; Sitti Murni Kaddi; Kudratullah; Nurliana
Kinesik Vol. 10 No. 3 (2023): December
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ejk.v10i3.557

Abstract

This research aims to find out and understand the Story Telling training program in the Environmental Conservation Campaign implemented by the Tana Sanggamu Foundation in Toaya Village. This training aims to increase media management capacity for environmental advocacy by the community in Toaya Village, Sindue District, Donggala Regency, Central Sulawesi. Efforts to develop community capacity are expected to be a sustainable process to increase community awareness, especially youth, of the importance of preserving the environment. This research uses a descriptive qualitative approach and is carried out in the form of Participatory Action Research. The results of this research show that the Tana Sanggamu Foundation is conducting story telling training as an environmental conservation campaign technique by utilizing village youth's interest in social media, films and games as learning and training media. Delivery of material using these three training media applies persuasive techniques including dissonance, integration, association, giving rewards, generating fear, obedience and red-herring.