Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBELAJARAN MICROTEACHING SELAMA MASSA COVID-19 BERBASISKANTUGAS PROYEKBAGI MAHASISWA PENDIDIKAN KIMIA I Nyoman Tika; Siti Maryam2
Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpk.v5i2.38465

Abstract

Matakuliah microteaching merupakan salah satu mata kuliah yang menekankan pada kegiatan praktek mengajar, hanya saja dengan adanya kebijakan pembelajaran jarak jauh pelaksanaan praktek tidak dapat berlangsung dengan maksimal.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keterampilan mengajar mahasiswa calon guru Kimia  saat pandemic COVID-19 melalui pemberian tugas berbasis proyek. Jenis penelitian ini adalah pra-eksperimental dengan desain One Group Pretest dan Posttest. Subjek penelitian ini adalah 8 orang mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Pengajaran Mikro. Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan angket.Instrumen yang digunakan adalah lembar penilaian video mengajar mahasiswa. Keterampilan dasar mengajar dinilai atas 8 komponen yaitumembuka pelajaran, mengelola kelas, memberikan penguatan, bertanya, menjelaskan pelajaran, penggunaan media pembelajaran, mengadakan variasi, dan menutup pelajaran. Skor penilaian setiap komponen menggunakan skala 5 Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata keterampilan mengajar mahasiswa pada saat pre-test sebesar 61 sedangkan pada saat posttest sebesar 89.38. Nilai komponen keterampilan mengajar saat pretest yang terendah adalah keterampilan mengelola kelas, sedangkan yang tertinggi adalahketerampilan membuka pelajaran. Dengan demikian,  pemberian tugas  berbasis  proyek  meningkatkan  keterampilan mengajar mahasiswa calon guru kimia saat pandemic COVID-19 sebesar 28,38 poin, dengan komponen keterampilan mengajar yang paling tinggi adalah penggunaan membuka pelajaran dengan nilai Gain sebesar 85. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan model pembelajaran berbasis pryek secara signifikan mampu melatih keterampilan dasar mengajar calon guru kimia, dengan kriteria tinggi.
PRODUKSI PIGMEN WARNA MERAH DARI JAMUR PENICILLIUM PURPUROGENUM YANG DIISOLASI DARI TANAH TERCEMAR LIMBAH SUSU KAMBING DENGAN METODE SUBMERGED FERMENTATION I Dewa Gede Agus Sudarma; I Dewa Ketut Sastrawidana; Siti Maryam
Wahana Matematika dan Sains: Jurnal Matematika, Sains, dan Pembelajarannya Vol. 11 No. 1 (2017): APRIL 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.666 KB) | DOI: 10.23887/wms.v11i1.11844

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum produksi pigmen warna merah dari jamur Penicillium purpurogenum yang diisolasi dari tanah tercemar limbah susu kambing. Produksi pigmen menggunakan metode submerged fermentation pada media PD Broth dengan variasi solid support (ampas kelapa dan rumput laut), suhu (30oC, 35oC, 40oC, dan 45oC), pH (4-10) sumber karbon (glukosa, sukrosa, dan pati) dan sumber nitrogen (ekstrak ragi dan pepton). Pigmen merah yang dihasilkan diekstrak dengan menggunakan akuades dan diukur nilai absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis model 1800 pada panjang gelombang 490 nm. Jumlah pigmen yang dihasilkan, direpresentasikan oleh nilai absorbansi pigmen pada setiap kondisi yang terukur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi pigmen warna merah dari jamur Penicillium purpurogenum berlangsung optimum menggunakan media PDB yang disuplementasi ampas parutan kelapa, sukrosa 2%, ektrak ragi 2% yang dikondisikan pada suhu 30oC,dan pH 5 dengan lama waktu inkubasi 12 hari.
Ectoine and Hydroxyectoine from Halophilic Bacteria Isolated from Traditional Solar Saltern at Pejarakan Village, Buleleng Regency, Bali I Putu Parwata; Siti Maryam; I Nyoman Tika
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 29 No. 5 (2022): September 2022
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4308/hjb.29.5.669-680

Abstract

The increased use of ectoine and hydroxyectoine in cosmetics and pharmaceuticals has led to the increasing demand for these bioactive compounds. This study aims to investigate the production of ectoine and hydroxyectoine by halophilic bacteria isolated from traditional solar saltern at Pejarakan Village, Buleleng Regency, Province of Bali, Indonesia. The halophilic bacteria were grown from the brine and the sediment samples using Luria Bertani media. The production of ectoine and hydroxyectoine was determined by inoculating the bacteria in MM63 media containing 12% w/v NaCl. Ectoine and hydroxyectoine were then extracted from the bacterial cells using a mixture of methanol/chloroform/water (10/5/4). Finally, the ability of the bacteria to excrete ectoine and hydroxyectoine was investigated using the osmotic downshock technique. The results showed that a total of 88 halophilic bacteria have been isolated which showed varied salt tolerances from 0 to 27.5% w/v. Most of the bacteria (86 isolates) were able to grow in MM63 media, suggesting the potential of the bacteria producing ectoine and hydroxyectoine. Further investigation showed that 33 selected halophilic bacteria were able to produce ectoine and hydroxyectoine with levels of 9.1 to 301.8 mg/L and 3.9 to 122.1 mg/L, respectively. All the bacteria were also able to excrete ectoine and hydroxyectoine after the osmotic downshock process with levels of 9.8 to 277.5 mg/L and 14.3 to 122.7 mg/L, respectively. The best ectoine and hydroxyectoine-producing bacteria showed the closest homology relationship with Salinivibrio costicola and Salinivibrio kushneri. Our study has found several promising candidates for ectoine and hydroxyectoine producers.
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Tin (Ficus Carica L.) Purple Jordan Lebih Kuat Dari Green Jordan Siti Maryam
Wahana Matematika dan Sains: Jurnal Matematika, Sains, dan Pembelajarannya Vol. 16 No. 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.583 KB) | DOI: 10.23887/wms.v16i2.52181

Abstract

Tanaman tin (Ficus carica L.) purple jordan dan green jordan saat ini banyak dimanfaatkan sebagai campuran minuman kesehatan atau ramuan herbal, karena adanya antioksidan berupa flavonoid, fenol dan komponen lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada ekstrak daun tin purple jordan dan green jordan. Sebagai penangkap radikal bebas, 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) digunakan untuk mengukur aktivitas antioksidan. Pada penelitian ini didapatkan bahwa ekstrak daun tin purple jordan dan green jordan mempunyai aktivitas antioksidan sebesar 39,027 µg/mL (ppm) untuk green jordan dan sebesar 31,499 µg/mL (ppm) untuk purple jordan, sehingga dapat dikatakan daun tin varietas purple jordan memiliki daya antioksidan yang lebih kuat.
Eksplorasi Fitokimia Kunyit dan Etnofarmasi Desa Bengkala untuk Pencegahan Diabetes Sebagai Suplemen Pembelajaran Farmakognosi di SMK : Penelitian Putri Layani Gea; I Nyoman Tika; Siti Maryam
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.5926

Abstract

Pembelajaran farmakognosi di SMK Farmasi umumnya masih berfokus pada konsep teoritis dan belum banyak mengaitkan materi dengan praktik pemanfaatan tanaman obat di lingkungan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik etnofarmasi pengolahan kunyit (Curcuma longa L.) di Desa Bengkala, mengkaji kandungan fitokimia kunyit berdasarkan studi literatur, serta mengintegrasikan temuan tersebut sebagai suplemen pembelajaran farmakognosi berbasis kearifan lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi, studi literatur, dan uji organoleptik deskriptif terhadap produk loloh kunyit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Bengkala mengolah kunyit menjadi minuman herbal tradisional melalui proses pencucian, penghalusan, perebusan, dan penyaringan. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa loloh kunyit memiliki karakteristik warna kuning kecoklatan, aroma khas kunyit, rasa pahit sedang, serta tekstur cenderung encer. Kajian literatur menunjukkan bahwa rimpang kunyit mengandung metabolit sekunder seperti kurkuminoid, flavonoid, minyak atsiri, dan tanin yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, serta mendukung pengendalian kadar glukosa darah. Temuan etnofarmasi dan kajian fitokimia tersebut selanjutnya dipetakan ke dalam materi pembelajaran farmakognosi yang meliputi identifikasi simplisia rimpang, metode ekstraksi sederhana berbasis air, serta pengenalan metabolit sekunder tumbuhan obat. Integrasi ini menghasilkan suplemen pembelajaran yang kontekstual dan relevan untuk mendukung pembelajaran farmakognosi di SMK Farmasi.