Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

The Role of Understory Plants in Microclimate in Coconut-Based Agroforestry Pangemanan, Euis F.S.; Kalangi, Josephus I.; Saroinsong, Fabiola B.; Ratag, Semuel P.
Jurnal Agroekoteknologi Terapan (Applied Agroecotechnology Journal) Vol. 6 No. 2 (2025): ISSUE JULY-DECEMBER 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v6i2.64481

Abstract

The use of land with a coconut-based agroforestry system is currently widely practiced in the South Minahasa region. In this agroforestry system, coconut trees are planted together with other plants on a single plot of land. The diversity of underplanting also plays a role in modifying the microclimate around the coconut trees, which in turn can affect the growth and productivity of the plants. Microclimate is the climatic conditions that occur around plants and is greatly influenced by various factors, including plant diversity. Coconut trees in coconut-based agroforestry systems bring about changes in the microclimate under the canopy and can lower air temperature, reduce radiation, and decrease wind speed under the canopy. This study aims to determine the effect of various types of vegetation on the microclimate in coconut-based agroforestry. The research was conducted in Ongkaw Village using a survey method. Microclimate measurements included solar radiation transmission, air temperature, air humidity, and wind speed at each observation plot. Data on underplant vegetation was observed using a purposive sampling plot method on coconut agroforestry land with different vegetation structures. The results showed that, compared to monoculture areas, the presence of understory plants significantly reduced air temperature, increased relative humidity, slowed wind speed, and reduced the intensity of light reaching the ground. Compared to other types of plants, plots with multi-strata fruit plants had the best microclimate conditions; shrub plots showed a moderate effect on microclimate moderation, while more open plots tended to have higher temperatures and lower humidity. The conclusion of this study is that the selection of understory plants in coconut agroforestry systems greatly influences microclimate conditions. Multi-strata fruit trees have been proven to be the most effective in creating a cooler and more humid microclimate, which can contribute to improved soil health and reduced stress on the main crop
PENYULUHAN PENGELOLAAN LANSKAP PEMUKIMAN BERBASIS KEANEKARAGAMAN HAYATI DI KELURAHAN WINANGUN DUA KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Saroinsong, Fabiola B.; Sumakud, Maria Y. M. A.; Kalangi, Josephus I.; Nurmawan, Wawan
Jurnal Dinamika Pengabdian Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 11 NO. 2 JANUARI 2026
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v11i2.48401

Abstract

Mitra Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini adalah masyarakat Kelurahan Winangun Dua Kecamatan Malalayang Kota Manado. Masalah mitra adalah ancaman menurunnya keanekaragaman hayati dalam lanskap pemukiman akibat terbatasnya ruang terbuka hijau (RTH) dan tingginya stres lingkungan diantaranya yang disebabkan polusi. Hal ini terkait juga dengan masih rendahnya pengetahuan dan keterampilan yang memadai mengenai pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam lanskap pemukiman.  Tujuan pelaksanaan kegiatan PKM ini yaitu memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pengelolaan lanskap pemukiman yang tepat untuk melestarikan sekaligus memanfaatkan keanekaragaman hayati. Solusi yang ingin dicapai adalah 1) meningkatkan pengetahuan beragam vegetasi dan desain lanskap pemukiman kawasan perkotaan untuk mendukung keanekaragaman hayati dan meningkatkan apresiasi dan motivasi untuk berkontribusi (luarannya adalah perbaikan tata nilai masyarakat yaitu pendidikan) dan 2) meningkatkan keterampilan pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman hayati di lanskap pemukiman dengan memberikan demo beberapa tindakan praktis pemilihan vegetasi dan aplikasi desain lanskap pemukiman (luarannya adalah peningkatan penerapan IPTEK di masyarakat dalam hal ini manajemen). Lebih spesifik lagi, melalui penyuluhan Tim Pengusul memperkenalkan beragam vegetasi dan desain lanskap yang cocok untuk pemukiman perkotaan. Pelaksanaan penyuluhan dalam PKM ini terdiri dari ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi dengan pelibatan peserta secara langsung. Secara lebih terperinci, tahapan pelaksanaan kegiatan penyuluhan yaitu : a) Tahap peningkatan kesadaran (awareness); b) Tahap peningkatan minat (interest); c) Tahap peningkatan kemampuan menilai (evaluation); d) Tahap stimulasi untuk mencoba (trial). Kegiatan PKM ini memberikan dampak positif berupa meningkatnya pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan lanskap pemukiman yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati.    Kata kunci: Keanekaragaman hayati, lanskap pemukiman, pendidikan lingkungan, pengelolaan lanskap, penyuluhan.   ABSTRACT The community partner for this Community Partnership Program (PKM) is the residents of Winangun Dua Village, Malalayang District, Manado City. The partner's issue revolves around the threat of declining biodiversity in residential landscapes due to limited green open spaces (RTH) and high environmental stress, including pollution. This is also related to the still low level of adequate knowledge and skills concerning the utilization of biodiversity in residential landscapes. The objective of this PKM activity is to provide education to the community on the proper management of residential landscapes to conserve and utilize biodiversity. The solutions aimed to be achieved are 1) increasing knowledge of various vegetations and urban residential landscape design to support biodiversity and enhance appreciation and motivation to contribute (the outcome being the improvement of societal values, namely education), and 2) enhancing skills in utilizing and conserving biodiversity in residential landscapes by providing demonstrations of practical actions in selecting vegetation and applying residential landscape design (the outcome being the increase in the application of science and technology in the community, specifically in management). More specifically, through educational outreach, the Proposing Team will introduce various vegetation and landscape designs suitable for urban residential areas. The implementation of educational outreach in this PKM involves lectures, question-and-answer sessions, and demonstrations that engage participants directly. The detailed stages of the educational outreach activities are a) Awareness-raising stage; b) Interest enhancement stage; c) Evaluation skill improvement stage; d) Trial stimulation stage. Keywords: Biodiversity, residential landscape, environmental education, landscape management, outreach.
Persepsi Persepsi Pengunjung terhadap Kualitas Lanskap dan Fasilitas di Destinasi Ekowisata di Bukit Doa Mahawu di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara Paembonan, Nista Paembonan; Saroinsong, Fabiola B.; Kalangi, Josephus I.
Silvarum Vol. 4 No. 3 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i3.63587

Abstract

Persepsi pengunjung sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan destinasi ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi pengunjung terhadap kualitas lanskap dan fasilitas di Bukit Doa. Mahawu, destinasi wisata religi dan ekowisata populer yang terletak di kaki Gunung Mahawu, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Indonesia. Sebanyak 51 responden disurvei menggunakan kuesioner terstruktur yang mencakup kualitas lanskap, kualitas fasilitas, dan kepuasan keseluruhan. Hasilnya menunjukkan bahwa pengunjung sangat menghargai keindahan alam, sudut pandang yang indah, dan suasana damai di lokasi tersebut, didukung oleh ruang hijau yang terawat baik dan lingkungan pegunungan yang segar. Lanskapnya secara umum dinilai estetis, bersih, dan tertata rapi. Dari segi fasilitas, pengunjung menyatakan kepuasan terhadap aksesibilitas, kebersihan, area tempat duduk, infrastruktur ibadah, pengelolaan sampah, dan ketersediaan tempat parkir. Keberadaan rambu petunjuk arah yang jelas semakin meningkatkan pengalaman pengunjung. Secara keseluruhan, sebagian besar responden melaporkan sangat puas dengan lanskap dan fasilitasnya, dengan banyak yang menunjukkan niat kuat untuk mengunjungi kembali dan merekomendasikan lokasi tersebut kepada orang lain. Temuan ini menyoroti pentingnya menjaga kualitas lanskap yang tinggi dan fasilitas yang memadai untuk meningkatkan kepuasan pengunjung dan loyalitas destinasi. Studi ini memberikan wawasan praktis bagi pengelola ekowisata dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan kualitas destinasi sekaligus melestarikan nilainilai lingkungan dan budaya Bukit Doa yang unik. Mahawu.
Kualitas Fasilitas Ekowisata di Makatete Hills, Minahasa Berdasarkan Perspektif Pengunjung Zega, Wina Arlina; Kalangi, Josephus I.; Saroinsong, Fabiola B.
Silvarum Vol. 4 No. 3 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i3.63824

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi pengunjung terhadap fasilitas ekowisata di Makatete Hills, Kabupaten Minahasa, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kepuasannya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner, wawancara, dan observasi. Instrumen penelitian telah diuji validitas dan reliabilitasnya, dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,72 yang menunjukkan tingkat reliabilitas yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunjung memiliki persepsi yang baik terhadap fasilitas yang tersedia, khususnya dalam aspek kebersihan, ketersediaan fasilitas umum, pelayanan staf, dan aksesibilitas. Mayoritas responden menilai fasilitas yang ada telah memadai dan berkontribusi pada pengalaman wisata yang menyenangkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kualitas fasilitas memiliki peran penting dalam membentuk kepuasan pengunjung dan memperkuat posisi Makatete Hills sebagai destinasi ekowisata unggulan di Sulawesi Utara.
Urban Forests as Nature-Based Solutions for Climate Resilience and Human Well-Being in Urban Landscapes. Saroinsong, Fabiola B.; Patinggi, Febi F.; Pangemanan, Euis F. S.; Nurmawan, Wawan; Kalangi, Josephus I.
Jurnal Agroekoteknologi Terapan (JAT) Vol. 7 No. 1 (2026): ISSUE JANUARY-JUNE 2026
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v7i1.49650

Abstract

Rapid urban expansion has increased environmental pressures in cities, including rising urban temperatures, declining air quality, higher stormwater runoff and flood risk, and growing public health concerns. Nature-based solutions have gained attention as cost-effective and multifunctional approaches to address these challenges, with urban forests representing one of the most strategic forms of green infrastructure. This study reviews recent scientific evidence on the role of urban forests as nature-based solutions for strengthening climate resilience and improving human well-being in urban landscapes. A structured literature review was conducted using Scopus, Web of Science, and Google Scholar, focusing on peer-reviewed journal articles published between 2021 and 2025 and indexed with a DOI. Findings were synthesized thematically across key ecosystem service pathways, including urban heat regulation, stormwater and runoff control, carbon storage and sequestration, air quality improvement, and wellbeing-related benefits. The reviewed literature indicates that urban forests contribute to climate adaptation by reducing heat exposure through shading and evapotranspiration and by supporting stormwater regulation through rainfall interception and improved infiltration. Urban forests also contribute to climate mitigation through carbon storage and ongoing sequestration, while providing co benefits for human health through recreation opportunities, psychological restoration, and improved quality of life. However, effectiveness depends on long term canopy continuity, appropriate species selection, maintenance capacity, and governance arrangements, with common challenges including limited land availability, funding constraints, and unequal access to green spaces. Overall, urban forests function as multifunctional nature-based infrastructure that can enhance urban resilience and human wellbeing when integrated into long-term planning and participatory management. Keywords: climate resilience, ecosystem services, human wellbeing, nature-based solutions, urban forest
Kajian Tutupan Lahan di Taman Hutan Raya Gunung Tumpa Menggunakan Sistem Informasi Geografis Aruan Tasik, Hestika; Kalangi, Josephus I.; Saroinsong, Fabiola B.
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/v1n97216

Abstract

Taman Hutan Raya (TAHURA) Gunung Tumpa memiliki peran vital sebagai kawasan konservasi dan satu-satunya area tangkapan air yang tersisa di Kota Manado. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan di kawasan TAHURA Gunung Tumpa dalam kurun waktu 2016 hingga 2025 menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode penelitian yang digunakan adalah survei yang menggabungkan analisis spasial data sekunder citra satelit Sentinel-2 dan validasi lapangan menggunakan GPS. Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika perubahan pada tujuh kelas tutupan lahan. Selama periode 2016–2025, terjadi peningkatan signifikan pada luas hutan sekunder sebesar 11,00 ha (dari 88,12% menjadi 93,39%). Sebaliknya, terjadi penurunan luas pada kelas semak belukar sebesar 9,52 ha dan hilangnya kelas lahan terbuka seluas 3,28 ha. Selain itu, teridentifikasi munculnya kelas tutupan baru pada tahun 2025 berupa ladang (0,08 ha) dan padang rumput (0,21 ha). Secara keseluruhan, perubahan tutupan lahan di TAHURA Gunung Tumpa menunjukkan tren positif yang mengindikasikan terjadinya pemulihan vegetasi alami dan efektivitas fungsi kawasan konservasi.