Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Profil Hemodinamik Anak dengan Sindrom Syok Dengue Berdasarkan Pemeriksaan Ultrasonic Cardiac Output Monitor Ida Bagus Gede Suparyatha; Siska Permanasari Sinardja; I Nyoman Budi Hartawan; I Wayan Gustawan; Dyah Kanya Wati; I Made Gede Dwi Lingga Utama
Sari Pediatri Vol 21, No 6 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.6.2020.371-6

Abstract

Latar belakang. Pemantauan hemodinamik secara klinis masih merupakan tantangan klinisi dalam menangani kasus Sindrom syok dengue (SSD) anak. Pengukuran parameter hemodinamik dengan USCOM dapat menilai fungsi jantung dan status hemodinamik secara kuantitatif dan real-time, dengan harapan intervensi adekuat dapat diberikan untuk mengurangi morbiditas.Tujuan. Mengetahui profil hemodinamik secara kuantitatif pada anak dengan SSD.Metode. Penelitian ini merupakan pilot study pada tahun 2016 dengan mengukur parameter hemodinamik menggunakan USCOM. Pengukuran dilakukan saat awal terdiagnosis SSD selama perawatan di RSUP Sanglah. Hasil. Hasil USCOM pada 69 subjek menunjukkan rerata cardiac index, systemic vascular index, kontraktilitas jantung, dan tingkat perfusi yang rendah, yaitu 3,03 (±1,06) L/min/m2, 27,4 (±9,7) ml/m2, 0,92 (±0,27) m/s, 474 (±188) ml/min, dengan rerata afterload yang sangat tinggi, yaitu 2.409 (±950) ds cm-5m2.Kesimpulan. Terdapat hasil USCOM serupa pada SSD kompensata maupun dekompensata, dengan luaran syok hipodinamik. Kewaspadaan tentang komplikasi yang akan terjadi pada tiap kasus SSD dapat membantu klinisi untuk mencapai luaran yang lebih baik.
Korelasi antara Kadar Seng Serum dengan Kadar Interleukin-6 dan Skor PELOD-2 pada Sepsis Defranky Theodorus; Dyah Kanya Wati; I Gusti Ngurah Sanjaya Putra; Ida Bagus Subanada; Eka Gunawijaya; Komang Ayu Witarini; Wayan Gustawan
Sari Pediatri Vol 23, No 4 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.4.2021.262-9

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak dengan penyakit kritis yang dirawat di unit perawatan intensif anak (UPIA). Pada 24 jam sepsis, terjadi penurunan kadar seng serum dan secara bersamaan terjadi peningkatan kadar interleukin-6 (IL-6) dan skor PELOD-2. Hasil sebaliknya terjadi pada 72 jam sepsis.Tujuan. Untuk membuktikan korelasi negatif antara kadar seng serum dengan IL-6 dan skor PELOD-2 pada sepsis.Metode. Penelitian dengan rancangan potong lintang dua kali pengukuran dari Januari - Desember 2019 di UPIA RSUP Sanglah Denpasar. Subjek penelitian adalah anak berusia 29 hari sampai 18 tahun dengan sepsis berdasarkan skor PELOD-2 > 7 menggunakan metode consecutive sampling. Uji korelasi Pearson untuk menilai korelasi bivariat dan uji multivariat menggunakan uji korelasi parsial.Hasil. Empatpuluh subjek memenuhi kriteria inklusi. Rerata kadar seng serum pada 24 dan 72 jam adalah 59,5 µg/dl versus 64,2 µg/dl. Median IL-6 pada 24 dan 72 jam adalah 8,6 pg/dL versus 4,4 pg/dL, rerata skor PELOD-2 24 dan 72 jam adalah 11,2 versus 11,0. Korelasi Pearson kadar seng serum dengan kadar IL-6 pada 24 dan 72 jam adalah r= -0,078, p= 0,632 versus r= -0,218, p= 0,178. Korelasi Pearson kadar seng serum dengan skor PELOD-2 pada 24 dan 72 jam adalah r= -0,513, p= 0,001 versus r= 0,242, p= 0,132. Analisis korelasi parsial kadar seng serum dengan PELOD-2 pada 24 jam adalah r= -0,493, p= 0,002.Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif sedang bermakna pada 24 jam sepsis antara kadar seng serum dengan skor PELOD-2 setelah mengontrol variabel kendali.
Faktor Risiko pada Lama Rawat dan Luaran Pasien Perawatan di Unit Perawatan Intensif Anak RSUP Sanglah Denpasar Silvia Sudarmadji; Dyah Kanya Wati; Lanang Sidiartha
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.653 KB) | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.455-62

Abstract

Latar belakang. Penelitian yang menelaah hubungan faktor risiko jenis kelamin, usia, status gizi, pemakaian jenis terapi oksigen, danpemberian sedini mungkin nutrisi enteral terhadap lama rawat dan luaran perawatan UPIA belum banyak dilakukan.Tujuan. Menilai pengaruh faktor risiko jenis kelamin, usia, status gizi, pemakaian jenis terapi oksigen, pemberian nutrisi enteral diniterhadap lama rawat dan luaran mortalitas pasien.Metode. Penelitian analitik observasional dengan rancang kohort prospektif dilakukan selama periode Mei sampai Juli 2015 terhadap81 pasien usia 1 bulan sampai 12 tahun di rawat di UPIA RSUP Sanglah, Denpasar.Hasil. Terdapat 59,3% pasien laki-laki, 65,4% berusia <5 tahun, berstatus gizi buruk 6,2%, pemakaian jenis terapi oksigen nasalkanula 51,9% dan 60,5% pemberian nutrisi enteral <48 jam. Faktor risiko status gizi dan pemakaian jenis terapi oksigen berbedabermakna (p<0,05) terhadap lama perawatan UPIA. Usia <5 tahun (RR 2,818; IK95% 0,897-8,854), pemakaian jenis terapi oksigen(p<0,001), terutama jenis intubasi (RR 6,000; IK95% 2,775-12,972) dan pemberian nutrisi enteral ≥48 jam (RR 0,003; IK95%1,406-7,830) merupakan faktor risiko terhadap luaran perawatan UPIA, tetapi hanya faktor risiko pengunaan terapi oksigen, terutamajenis intubasi berperan dan berisiko luaran meninggal 16,576 kali terhadap pasien (RR:16,576; IK95% 2,688-102,225).Kesimpulan. Faktor risiko status gizi dan pemakaian alat oksigenasi memperpanjang durasi lama rawat. Usia <5 tahun, pemakaianalat oksigenasi, dan waktu asupan nutrisi ≥48 jam terbukti meningkatkan faktor risiko mortalitas
Profil Sepsis Anak di Pediatric Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar - Bali Dyah Kanya Wati; I Nyoman Budi Hartawan; Ida Bagus Gede Suparyatha; Dewi Sutriani Mahalini; I Gusti Ayu Putu Eka Pratiwi; I Made Gede Dwi Lingga Utama
Sari Pediatri Vol 21, No 3 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.3.2019.152-8

Abstract

Latar belakang. Sepsis dan klasifikasinya merupakan kondisi yang mengancam nyawa dengan angka kematian mendekati 10% dari seluruh pasien dengan sepsis dan syok septik Angka kematian ini akan meningkat pada anak dengan minimal satu penyakit komorbid yang menyertai dan mendekati angka 76% berdasarkan jumlah organ yang mengalami disfungsi. Sampai saat ini belum ada data pasti yang menunjukan prevalensi dan karakteristik pasien dengan sepsis di Unit Perawatan Intensif (UPIA) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar.Tujuan. Mengetahu prevalensi serta karakteristik pasien dengan sepsis pada pasien anak berusia 0-18 tahun di Unit Perawatan Intensif (UPIA) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar tahun 2018.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medis RSUP Sanglah yang dikumpulkan meggunakan metode purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi.Hasil. Penelitian ini sudah berjalan selama 1 tahun dari bulan Januari 2018 sampai dengan Desember 2018. Sampel yang dikumpulkan sebanyak 28 sampel. Kategori usia bayi tertinggi merupakan sampel yang digunakan, yaitu sebesar 57,1%. Diagnosis terbanyak adalah syok sepsis sebesar 60,7%. Skor pediatric sequential failure assesment (pSOFA) didapatkan dengan rerata sebesar 5,94.Kesimpulan. Prevalensi sepsis di UPIA Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar pada tahun 2018 didominasi oleh pasien dengan kategori usia bayi (<2 tahun).
Validitas Skala Nyeri Non Verbal Pain Scale RevisedSebagai Penilai Nyeri di Ruang Perawatan Intensif Anak Dyah Kanya Wati; Antonius Pudjiadi; Abdul Latief
Sari Pediatri Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.1.2012.8-13

Abstract

Latar belakang. Berdasarkan berbagai penelitian, diperlukan skala nyeri yang divalidasi untuk menilai nyeri di ruang perawatan intensif anak dari aspek respon otonom dan evaluasi bentuk intervensi tata laksana nyeri yang diberikan.Tujuan. Mengetahui validitas alat pengukur skala nyeri non verbal pain scale (NVPS) yang dapat dipakai di ruang perawatan intensif anak.Metode. Subyek penelitian yang diberikan intervensi nyeri melalui berbagai prosedur pemeriksaan atau terapi, dinilai respon nyeri melalui perekaman video. Respon dinilai selama 2-10 menit sebelum, selama, dan setelah intervensi nyeri diberikan. Sebagai baku emas digunakan skala nyeri Wong Baker pain scale(WBPS)Hasil. Dari 38 sampel yang dinilai didapatkan sensitifitas NVPSR 85%, spesifisitas 66%, nilai prediksi positif 96%%, negatif prediksi negatif 50%. Nilai korelasi antara skala NVPSR dan WBPS adalah 0,95 (p<0,05).Kesimpulan. Non verbal pain scale revised(NVPSR) memiliki korelasi yang kuat dengan WBPS dalam menilai nyeri pada anak. Sensitifitas yang cukup tinggi sebagai alat skrening nyeri namun memiliki spesifitas yang sedang sebagai alat diagnostik nyeri pada anak.
Pengaruh Menyusui, Glukosa 40% dan Memeluk Bayi terhadap Respon Nyeri pada Bayi Cukup Bulan (Suatu Uji Klinis) Dyah Kanya Wati; Soetjiningsih Soetjiningsih; Retayasa Retayasa
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.207-12

Abstract

Latar belakang. Berdasarkan berbagai penelitian acak, pemberian glukosa, menyusui dan stimulasimultisensoris merupakan penanganan yang dapat dipercaya manfaatnya sebagai bagian dari penanganannon farmakologis.Tujuan. Melihat respon nyeri pada bayi cukup bulan yang diimunisasi intrakutan dalam kondisi disusui,mendapatkan glukosa 40% atau dipeluk oleh ibunya.Metode. Subjek penelitian dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok A untuk menyusui, kelompok Buntuk glukosa 40% dan kelompok C untuk kelompok memeluk bayi. Pada saat penyuntikan, subjekdirekam dengan kamera video dan hasil rekaman dinilai untuk mengetahui respon nyerinya berdasarkanskala DAN (Douleur Aigue Nouveau-ne).Hasil. Dari 116 subjek didapatkan rerata hasil penilaian skala DAN 6,13 (SD 1,17) untuk kelompokmenyusui, 7,93 (SD 1,05) untuk kelompok bayi yang mendapatkan glukosa 40% dan 7,65 (SD 1,12)untuk kelompok memeluk bayi.Kesimpulan. Kelompok menyusui memiliki respon nyeri yang paling rendah secara bermakna. Menyusuimemberikan hasil yang berbeda bermakna dalam memberikan respon nyeri dibandingkan pemberian glukosa40% dan memeluk bayi pada bayi yang diimunisasi.
Karakteristik Pasien yang Dirawat di Unit Gawat Darurat Anak Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar Dyah Kanya Wati; Ida Bagus Suparyatha; I Nyoman Budi Hartawan; Khema Metta Wijaya
Sari Pediatri Vol 24, No 4 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.4.2022.222-31

Abstract

Latar belakang. Jumlah pasien anak yang berkunjung ke ruang gawat darurat terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Studi mengenai analisis data pelayanan gawat darurat penderita anak dengan kegawatan medik dari aspek lama tunggu dan kematian pasien di IGD masih terbatas.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik dan luaran, serta gambaran epidemiologi dari penderita anak dengan kegawatdaruratan medik yang datang ke IGD anak RSUP Prof Dr. I.G.N.G Ngoerah Denpasar.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif retrospektif dengan data dari rekam medis pasien anak yang dirawat di IGD RSUP Prof Dr. I.G.N.G Ngoerah pada periode Februari – Juli 2022 menggunakan metode konsekutif sampling. Analisis deksriptif dilakukan dengan program SPSS.Hasil. Total jumlah sampel yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah 867 sampel. Karakteristik dasar pasien anak yang berkunjung ke ruang gawat darurat adalah mayoritas berjenis kelamin laki – laki, berusia 1 – 5 tahun, memiliki status gizi normal, skor pSOFA < 8 (99,7%), kematian dalam 24 jam terjadi pada 1,3% dan lama waktu tunggu pasien di triase setelah diagnosis ditegakkan adalah segera (90,2%). Keluhan utama yang paling sering dijumpai adalah ganggun sistem pernapasan, febris, dan gangguan sistem pencernaan. Diagnosis terbanyak adalah infeksi COVID-19 (10,4%) dan leukemia (10,3%).Kesimpulan. Infeksi COVID-19 masih merupakan diagnosis tersering di IGD, walaupun begitu pasien dengan keganasan (terutama leukemia) memiliki prevalensi yang cukup besar dibandingkan penyakit lainnya pada pasien pediatri yang memerlukan perawatan di IGD. Mayoritas pasien yang datang ke IGD anak RSUP Prof Ngoerah memiliki tingkat keparahan penyakit yang rendah berdasarkan pSOFA dan lama tunggu yang pendek setelah diagnosis ditegakkan. Kematian dalam 24 jam hanya terjadi pada sebagian kecil pasien.
Studi Pendahuluan Perbandingan Terapi Salin Hipertonik 3% dengan Manitol 20% Intravena terhadap Luaran Anak Sindrom Ensefalitis Akut Dyah Kanya Wati; I Gusti Ngurah Made Suwarba; Anlidya Permatasari Gunawijaya
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.209-14

Abstract

Latar belakang. Terapi osmotik merupakan pilihan terapi penting dalam sindrom ensefalitis akut. Manitol adalah salah satu jenis terapi osmotik yang telah banyak digunakan, namun penggunaanya dapat menyebabkan ketidaknormalan elektrolit, seperti hiponatremia dan hipokloremia.Tujuan. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan salin hipertonik dan manitol pada anak-anak dengan sindrom ensefalitis akut.Metode. Penelitian ini menggunakan desain studi klinis pendahuluan untuk mengevaluasi perbedaan dalam durasi penurunan kesadaran, mortalitas, kadar natrium serum, dan osmolaritas darah pada pasien sindrom ensefalitis akutyang diberikan salin hipertonik dan manitol. Pendekatan acak digunakan untuk mengelompokan setiap sampel. Analisis univariat dan bivariat dilakukan menggunakan perangkat lunak analisis statistik. Hasil. Sembilan pasien secara acak dikelompokan pada salin hipertonik, dan sembilan pasien dikelompokan pada manitol dari total 18 subjek dengan usia median 49,5 (5-194) bulan. Kelompok manitol memiliki kadar natrium awal signifikan lebih tinggi (p=0,009). Antara kedua kelompok perlakukan, tidak terdapat perbedaan dalam durasi penurunan kesadaran maupun mortalitas. Perubahan kadar natrium dan osmolaritas menunjukan perbedaan signifikan. Antara sebelum dan setelah perlakuan, penurunan natrium pada kelompok salin hipertonik lebih besar daripada kelompok manitol [median (rentang); -6 (-47 to -4) mmol/L vs 1 (-6 to 17) mmol/L], dan perubahan osmolaritas secara signifikan lebih tinggi [Mean SD; -32,6 ± 26,9 mOsm/kg vs 4,7 ± 13,5 mOsm/kg].Kesimpulan. Salin hipertonik dapat dianggap efektif dan aman seperti manitol dalam pengobatan non-traumatik sindrom ensefalitis akut pada anak.
Faktor Risiko Mortalitas pada Pasien Anak dengan Sepsis di Rumah Sakit Ngoerah Denpasar Tahun 2023 Berdasarkan Skor PELOD-2 dan Skor Vasoaktif Inotropik Haning, Joy Aprianis; Hartawan, I Nyoman Budi; Witarini, Komang Ayu; Suwarba, I Gusti Ngurah Made; Putra, I Gusti Ngurah Sanjaya; Wati, Dyah Kanya
Sari Pediatri Vol 27, No 3 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.3.2025.166-72

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak yang dirawat di ruang intensif. Identifikasi faktor risiko kematian pada pasien anak dengan sepsis penting untuk menunjang deteksi dini dan pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat guna menurunkan angka kematian. Namun, penelitian mengenai faktor risiko mortalitas anak dengan sepsis di Indonesia, khususnya yang memanfaatkan skor prognostik seperti PELOD-2 dan Vasoactive-Inotropic Score (VIS), masih sangat terbatas sehingga diperlukan data lokal untuk memperkuat bukti klinis.Tujuan. Mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan mortalitas pada pasien anak dengan sepsis yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Denpasar. Metode. Penelitian ini menggunakan desain case-control retrospektif dengan data diambil dari rekam medis pasien anak usia satu bulan hingga 18 tahun yang dirawat karena sepsis selama periode Januari hingga Desember 2023. Subjek dibagi menjadi kelompok kasus (meninggal) dan kontrol (hidup). Variabel yang diteliti meliputi usia, status gizi, penggunaan ventilator, skor PELOD-2, skor vasoaktif-inotropik, mikroorganisme penyebab, dan lama rawat. Analisis statistik dilakukan dengan uji chi-square dan regresi logistik multivariat. Hasil. Sebanyak 62 pasien sepsis memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari 31 pasien meninggal dan 31 pasien hidup. Analisis bivariat menunjukkan bahwa penggunaan ventilator, skor PELOD-2 ?7, skor vasoaktif-inotropik ?20, dan lama rawat ?12 hari berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko mortalitas. Kesimpulan. Penggunaan ventilator, skor PELOD-2 tinggi, skor vasoaktif-inotropik tinggi, dan lama rawat yang singkat merupakan faktor risiko utama mortalitas pada pasien anak dengan sepsis. Penilaian dini terhadap faktor-faktor ini dapat meningkatkan efektivitas intervensi dan perbaikan luaran klinis.     
Co-Authors Abdul Latief Abdul Latief Adnyana, I Gusti Agung Ngurah Sugitha Anak Agung Ngurah Ketut Putra Widnyana Andreliano Yosua Rompis Andy Halim Anlidya Permatasari Gunawijaya Antonius Pudjiadi Antonius Pudjiadi Artini, Ni Wayan Noni Arya Krisna Manggala Aurelya, Anira Rema Ayu Setyorini Mestika Mayangsari Bagus Ngurah Putu Arhana BNP Arhana Cempaka, Putu Mas Vina Paramitha Clearesta, Kartika Eda Defranky Theodorus Derryl Komala Putra Desak Made Widiastiti Arga Dewi Sutriani Mahalini Djoko, Sri Wahyuni Eka Gunawijaya Estina, Vania Catleya Fajaryani, Putu Ayu Putri Felicia Anita Wijaya Gusti Ayu Nyoman Yulia Sitta Dewi Haning, Joy Aprianis Harsika Sari, Ni Wayan Diah Intan I Gde Doddy Kurnia Indrawan I Gede Deden Susma Sugara I Gede Wikania Wira Wiguna I Gusti Ayu Putu Eka Pratiwi I Gusti Ayu Sri Darmayani I Gusti Lanang Sidiartha I Gusti Ngurah Made Suwarba I Gusti Ngurah Made Suwarba I Gusti Ngurah Sanjaya Putra I Made Bakta I Made Jawi I Made Kardana I Made Karma Setiyawan I Nengah Gandi Karyadi I Nyoman Budi Hartawan I NYOMAN MANTIK ASTAWA I Wayan Darma Artana I Wayan Dharma Artana I Wayan Dharma Artana, I Wayan Dharma I Wayan Gustawan Ida Bagus Gede Suparyatha Ida Bagus Subanada Jumantini, Ni Komang Pasek Nurhyang Ketut Dewi Kumara Wati Ketut Suarta Ketut Suarta Suarta Ketut Tuti Parwati Merati Ketut Wulan Ari Kartika Ardhaputri Khema Metta Wijaya Komang Ayu Witarini Komang Diah Kurnia Kesumaputri Komang Diah Kurnia Kesumaputri Luh Putu Diah Virayanti Luh Putu Putri Sanjiwani Made Gede Dwi Lingga Utama Made Gede Dwi Lingga Utama Made Michel Kresnayasa Made Pande Lilik Lestari Made Sukmawati Made Wiryana Manggala, Arya Krisna Maria Elisabeth Sylvinna Wasi Elannor Maria Pricilla Siboe Nelvina Ginting Ni Luh Sri Apsari Ni Made Ary Sarasmita Ni Putu Siadi Purniti Novita Purnamasari Assa Nyoman Gina Henny Kristianti Pande Made Nova Armita Sari, Pande Made Nova Putri, Ni Kadek Dwi Pramana Putu Andrie Setiawan Putu Aryani Putu Diah Pratiwi Putu Diah Pratiwi Putu Indah Budi Apsari Putu Nandika Tungga Yudanti Mahardani Putu Nandika Tungga Yudanti Mahardani Putu Nandika Tungga Yudanti Mahardani Retayasa Retayasa Ryan Tan Silvia Sudarmadji Siska Permanasari Sinardja Soetjiningsih Soetjiningsih Soetjiningsih Soetjiningsih Soetjiningsih Soetjiningsih Sukarta, Ni Kadek Yusthiani Sukmapermata, Bunga Suparyatha, Ida Bagus Gede Susanto, Yohanes Sutriani Mahalini, Dewi Visakha Karuna Wijaya Wayan Sulaksmana Sandhi Parwata