Endang Supriyantini
Departement Of Marine Science, Faculty Of Fisheries And Marine Sciences Diponegoro University Jl. Prof. H. Soedarto, S.H, Tembalang Semarang. 50275 Telp/fax (024)7474698

Published : 65 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Konsentrasi Bahan Organik Pada Perairan Mangrove Di Pusat Informasi Mangrove (PIM), Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan Endang Supriyantini; Nirwani Soenardjo; Sabrina Arifiani Nurtania
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.712 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i1.15735

Abstract

Rencana pengelola Pusat Informasi Mangrove (PIM) kecamatan Pekalongan, kota Pekalongan kedepannya akan dibangun area pemancingan ikan, oleh karena itu dilakukan analisis kualitas perairan sejak awal, terutama konsentrasi bahan organik yang terkandung dalam perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi bahan organik pada perairan di Pusat Informasi Mangrove (PIM) Kota Pekalongan, dan untuk mengetahui tingkat pencemaran bahan organik di PIM Kota Pekalongan dengan membandingkan baku mutu yang ada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Sampel diambil dari tiga stasiun yang ditentukan secara purposive. Untuk setiap stasiun dilakukan pengulangan pengambilan sampel sebanyak 3 kali.     Pengujian bahan organik dilakukan dengan metode kolorimetris (perbandingan menggunakan perbedaan warna). Hasil dari analisis konsentrasi BOT (Bahan Organik Total) di perairan PIM pada bulan November 2015 berkisar antara 47 – 52,72 mg/L dan mengalami penurunan pada bulan Januari 2016 berkisar antara 25,8 – 29,52 mg/L, hal ini dapat diartikan bahwa konsentrasi BOT pada bulan Januari 2016 berada di bawah baku mutu yang bernilai sebesar < 30 mg/L. Perairan PIM dapat dikatakan tercemar bahan organik dan bersifat toxic bagi biota karena konsentrasi amonia dan nitrit dari bulan November 2015 hingga Januari 2016 meningkat melebihi dari nilai baku mutu yang ada.    Mangrove Information Center (MIC) plan’s for the future is to build fishing area, therefore water quality analysis must be done since the beginning of the project, especially for the organic matter concentration in the water. This research was aimed to determine the concentration of organic matters in the Pekalongan Mangrove Information Center water and to find out the organic matter pollution at Pekalongan PIM by comparing it with existing quality standards. The method used in the research was descriptive method. Samples were taken from three stations with each of the three sampling points as the repeated purposively. Testing of organic matter carried out by the colorimetric method (comparison using color differences). The results of the analysis of the concentration of TOM (Total Organic Matter) in the water of PIM in November 2015 ranged from 47 to 52.72 mg/L and declined in January 2016 ranged from 25.8 to 29.52 mg/L, it means that the TOM concentration in January 2016 below the standard values of < 30 mg/L. If could be said that PIM waters polluted by organic matter and were toxic to biota because of  ammonia and nitrite concentration  from November 2015 until January 2016 increased above of the values of the existing quality standard.
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Mangrove Rhizopora mucronata Ali Ridlo; Rini Pramesti; Koesoemadji Koesoemadji; Endang Supriyantini; Nirwani Soenardjo
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.292 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i2.16555

Abstract

Rhizopora mucronata merupakan salah satu jenis mangrove yang berpotensi  sebagai sumber antioksidan alami. Daun tanaman ini mengandung senyawa metabolit sekunder seperti tanin, fenolat, klorofil, karotenoid dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antioksidan ekstrak daun R. mucronata. Sampel diambil dari kawasan mangrove Tugurejo, Semarang dan diekstraksi  secara bertingkat berturut-turut dengan pelarut n-heksana, etil asetat dan metanol. Aktivitas antioksidan diukur dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) dan nilainya ditentukan berdasarkan nilai Inhibitory Concentration (IC50)pada panjang gelombang 516,5 nm. Kadar senyawa fenolat total ditentukan secara spektrofotometri pada panjang gelombang 725 nm dengan metode Folin-Ciocalteu, kadar klorofil a dan b ditentukan dengan metode spektrofotometri pada panjang gelombang 663 nm dan 645 nm dan kadar karotenoid diukur pada 480 nm. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak metanol memiliki nilai IC50terkecil (113,41  ppm), diikuti ekstrak n-heksana 151,13 ppm dan ekstrak etil asetat 184,78 ppm. Kandungan total fenolat tertinggi terdapat pada ekstrak metanol yaitu 21,06 mg GAE/g sampel, ekstrak n-heksana 13,27 mg GAE/g sampel dan ekstrak etil asetat 2,08 mg GAE/g sampel. Kandungan klorofil a tertinggi terdapat pada ekstrak metanol yaitu 2,304  mg/g, diikuti ekstrak n-heksana 0,705 mg/g dan ekstrak etil asetat 0,64 mg/g. Kandungan klorofil b tertinggi dicapai ekstrak metanol yaitu 0,97 mg/g, ekstrak n-heksana 0,50 mgg dan ekstrak etil asetat 0,13 mg/g. Kandungan karotenoid tertinggi dicapai pada ekstrak metanol yaitu 6,49 mg GAE/g, diikuti ekstrak etil asetat (0.54 mg GAE/g) dan ekstrak n-heksana (1,37 mg GAE/g). Ekstrak metanol memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dan termasuk dalam antioksidan kategori sedang, sedangkan ekstrak etil asetat dan  n-heksana termasuk dalam  antioksidan kategori lemah.   Rhizopora mucronata is one type of mangrove that has the potential as a source of natural antioxidants. The leaves of this plant contain secondary metabolite compounds such as tannins, phenolics, chlorophyll, carotenoids and alkaloids. This study aims to determine the antioxidant activity of R. mucronata leaf extract. Samples were taken from Tugurejo mangrove area, Semarang and extracted successively with n-hexane, ethyl acetate and methanol solvent. Antioxidant activity was measured by DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) method and its value was determined based on Inhibitory Concentration (IC50) value at 516,5 nm wavelength. Total phenolic compound concentration was determined spectrophotometrically at 725 nm wavelength with Folin-Ciocalteu method. The levels of chlorophyll a and b was determined by spectrofotometry method at 663 nm and 645 nm wavelength and carotenoid levels were measured at 480 nm. The results showed that methanol extract had the smallest IC50 value (113,41 ppm), followed by n-hexane extract 151,13 ppm and ethyl acetate extract 184,78 ppm. The highest total phenolic content was found in methanol extract, 21.06 mg GAE / g sample, n-hexane extract 13,27 mg GAE / g sample and ethyl acetate extract 2.08 mg GAE / g sample. The highest content of chlorophyll a contained in methanol extract is 2,304 mg / g, followed by n-hexane extract 0,705 mg / g and ethyl acetate extract 0,64 mg / g. The highest content of chlorophyll b was methanol extract of 0.97 mg / g, n-hexane extract 0,50 mgg and ethyl acetate extract 0,13 mg / g. The highest carotenoid content was achieved in the methanol extract of 6.49 mg GAE / g, followed by ethyl acetate extract (0.54 mg GAE / g) and n-hexane extract (1.37 mg GAE / g). Methanol extract has the highest antioxidant activity and is included in medium category antioxidants, while ethyl acetate and n-hexane extracts are included in weak category antioxidants. 
Pertumbuhan Rumput Laut Gracilaria sp. pada Media yang Mengandung Tembaga (Cu) dengan Konsentrasi yang Berbeda Endang Supriyantini; Gunawan Widi Santosa; Ladies Nikita Alamanda
Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.7 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v7i1.19038

Abstract

Budidaya rumput laut banyak dilakukan untuk memenuhi dan meningkatkan produksinya, namun masih banyak kendala, sehingga hasil produksinya belum stabil. Hal ini dapat dilihat dengan pemberian nutrien yang diharapkan akan meningkatkan pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pertumbuhan dan kemampuan absorpsi Gracilaria sp. pada media yang mengandung Cu dengan konsentrasi yang berbeda. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental laboratoris dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan penambahan konsentrasi Cu pada media pemeliharaan yang terdiri dari 4 tingkat yaitu kontrol (0,036 ppm, sesuai dengan konsentrasi Cu pada air laut), 0.5 ppm, 5 ppm, dan 50 ppm dengan 3 pengulangan. Hasil memperlihatkan bahwa penambahan Cu dengan konsentrasi yang berbeda  memiliki pengaruh nyata (p < 0,05) terhadap pertumbuhan dan kemampuan absorpsi pada Gracilaria sp. Pertumbuhan Gracilaria sp. tertinggi dicapai pada perlakuan A (kontrol) dengan pertambahan berat sebesar 25,34 g dan laju petumbuhan spesifik (SGR) sebesar 0,43%. Nilai pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik (SGR) yang didapatkan pada perlakuan B (0,5 ppm) sebesar  -80,37 g dan -1,84% per hari, perlakuan C (5 ppm) sebesar -85,19 g dan -2,02% per hari, dan perlakuan D (50 ppm) sebesar -99,19 g dan -2,47% per hari. Semakin tinggi konsentrasi Cu yang diberikan maka pertumbuhan Gracilaria sp. akan semakin rendah. Seaweed cultivation is done to meet and improve its production, but there are still many obstacles, so its results are not yet stable. This can be seen with the awarding of the nutrients that will hopefully increase its growth. The goal of the research is to know the growth and absorption ability of Gracilaria SP. in medium containing different concentrations of Cu with. The method used is the method of experimental design of randomized Complete laboratories (RAL). Addition of Cu concentration on treatment of media maintenance which consists of 4 levels, namely control (0.036 ppm, according to the concentration of Cu in sea water), 0.5 ppm, 5 ppm and 50 ppm, with three repetitions. The results showed that the addition of Cu with a different concentration of real influence (p < 0.05) towards growth and the ability of absorption on Gracilaria sp. Highest growth of Gracilaria sp. was achieved on A treatment (control) and the increase of the weight of 25.34 g and specific growth rate (SGR) of 0.43%. The absolute growth rate and specific growth rate (SGR) obtained at the treatment B (0.5 ppm) of -80.37g and-1.84% per day, treatment C (5 ppm) of -85.19 g and -2.02% per day, and treatment D (50 ppm) for -99.19 g and -2.47% per day. The higher the concentration of Cu given, then the growth of Gracilaria sp. will be even lower. 
Pertumbuhan Mikroalga Chaetoceros calcitrans Pada Kultivasi Dengan Intensitas Cahaya Berbeda Linggar Dirgantara Prasetyo; Endang Supriyantini; Sri Sedjati
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.31698

Abstract

Chaetoceros calcitrans can be used for natural food in aquaculture. Microalgae growth is influenced by several factors, one of which is light intensity. This study aims to determine the intensity of light that can produce the best growth in C. calcitrans microalgae. The study design used was a completely randomized design (CRD) with two replications. This study uses a treatment (light intensity) with  four levels of treatment, namely 1000 (control), 1500, 2000 and 2500 lux with a duration of lighting 12 hours light: 12 hours dark. Calculation of density and measurement of water quality parameters are carried out every day during the cultivation process. Harvesting is done in a stationary phase. The results showed that different light intensities affected the growth of C. calcitrans microalgae (p=0,000). Light intensity of 2500 lux in medium scale C. calcitrans (60 L) culture can produce the highest growth on the tenth day which is 67x10⁵ cells/ml and biomass 13,75 grams.Chaetoceros calcitrans merupakan mikroalga yang dapat digunakan sebagai pakan alami. Pertumbuhan mikroalga dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah intensitas cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas cahaya yang dapat menghasilkan pertumbuhan terbaik pada mikroalga C. calcitrans. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua kali pengulangan. Penelitian ini menggunakan  perlakuan (intensitas cahaya) dengan empat taraf perlakuan yaitu 1000 (kontrol), 1500, 2000 dan 2500 lux dengan durasi pencahayaan 12 terang : 12 gelap. Perhitungan kepadatan dan pengukuran parameter kualitas air dilakukan setiap hari selama proses kultivasi. Pemanenan dilakukan pada fase stasioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas cahaya yang berbeda mempengaruhi pertumbuhan mikroalga C. calcitrans (p=0,000). Intensitas cahaya 2500 lux pada kultur C. calcitrans skala medium (60 L) dapat menghasilkan pertumbuhan tertinggi pada hari ke sepuluh yaitu 67 x 105 sel/ml dan biomasa kering 13,75 gram.
Efektivitas Gracilaria gigas sebagai Biofilter Logam Berat Tembaga (Cu) pada Media dengan Salinitas yang Berbeda Yovita Noor Hidayah; Endang Supriyantini; Suryono Suryono
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.975 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.19486

Abstract

Limbah hasil kegiatan industri dan pertanian memberikan efek negatif pada ekosistem perairan laut, seperti logam berat Cu. mempunyai potensi toksisitas yang tinggi terhadap lingkungan perairan. Dinding sel Gracilaria gigas memiliki polisakarida yang mampu menyerap logam Cu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan daya absorpsi Gracilaria gigas terhadap logam Cu dalam  media pemeliharaan dengan salinitas berbeda. . Metode yang digunakan adalah eksperimental  laboratoris, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dan 3 pengulangan setiap perlakuan. Perlakuan menggunakan 5 tingkat salinitas  yaitu 10, 20, 25, 30, dan 40 ‰ dengan  pemeliharaan selama 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan salinitas yang berbeda tidak berpengaruh terhadap penyerapan logam berat Cu oleh Gracilaria gigas (p>0,05). Konsentrasi logam berat Cu dalam media pemeliharaan tertinggi pada perlakuan E (40 ‰) dengan rerata nilai 0,11; 0,10; 0,13; dan 0,17 ppm.  Kapasitas penyerapan logam Cu oleh Gracilaria gigas tertinggi terdapat pada hari ke 7 perlakuan A (25 ‰) dengan nilai rerata 0,007 mg/g dan efektivitas penyerapan sebesar 82,77 %. Berat basah G. gigas tertinggi terjadi pada hari ke 7 dengan rerata nilai A (25 ‰) 227,11 g; B (10 ‰) 240,55 g; C (20 ‰) 236,44 g; D (30 ‰) 221,44 g; dan E (40 ‰) 203,77 g. Berat mutlak dan laju pertumbuhan spesifik (SGR)  tertinggi terdapat pada perlakuan E (40 ‰), yaitu -34,22 g dan -0,70% per hari.  Semakin tinggi salinitas, maka pertumbuhan G. gigas akan semakin rendah sehingga akan mempengaruhi daya absorpsi logam Cu. Waste from industrial and agricultural activities has a negative effect on marine aquatic ecosystems, such as heavy metals Cu has a high potential for toxicity to the aquatic environment. The cell wall of G. gigas has polysaccharides which are able to absorb Cu metal. The purpose of this study was to determine the ability of G. gigas absorption to Cu metal in maintenance media with different salinity. . The method used is an experimental laboratory, using a completely randomized design (CRD) and 3 repetitions of each treatment. The treatment uses 5 levels of salinity namely 10, 20, 25, 30, and 40 ‰ with maintenance for 28 days. The results showed that different salinity treatments did not affect the absorption of heavy metal Cu by G.gigas (p> 0.05). The highest concentration of heavy metal Cu in the maintenance media at treatment E (40 ‰) with a mean value of 0.11; 0.10; 0.13; and 0.17 ppm. The highest absorption capacity of Cu by G. gigas was on the 7th day of treatment A (25 ‰) with an average value of 0.007 mg / g and the effectiveness of absorption of 82.77%. The highest wet weight of G. gigas occurred on the 7th day with an average value of A (25 227) 227.11 g; B (10 ‰) 240.55 g; C (20 ‰) 236.44 g; D (30 ‰) 221.44 g; and E (40 203) 203.77 g. The highest absolute weight and specific growth rate (SGR) was found in treatment E (40 ‰), which was -34.22 g and -0.70% per day. The higher the salinity, the growth of  G. gigas will be lower so that it will affect the absorption of Cu metal.
Pemanfaatan Kitosan untuk Menurunkan Kadar Logam Pb dalam Perairan yang Tercemar Minyak Bumi Rima Rosema; Endang Supriyantini; Sri Sedjati
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i1.31051

Abstract

Kitosan telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan manusia, salah satunya dijadikan sebagai adsorben logam berat. Logam berat timbal (Pb) merupakan polutan yang mencemari perairan dan bersifat toksik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kapasitas dan daya adsorpsi larutan kitosan komersial dan non komersial (produk sendiri) dalam konsentrasi berbeda terhadap logam Pb. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimental laboratoris dengan rancangan percobaan Faktorial 2 Aras dengan menggunakan 1 kontrol (0 %) dan 4 perlakuan yaitu konsentrasi 0,5% (A), 1% (B), 1,5% (C) dan 2% (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara sumber kitosan dengan konsentrasi kitosan untuk menurunkan kandungan Pb. Dosis terbaik yang mampu menurunkan logam Pb untuk kitosan komersial yaitu pada konsentrasi 1% dengan kapasitas penyerapan sebesar 0,228 mg/g dan kemampuan penyerapan sebesar 87,870 %. Sedangkan kitosan non komersial mampu menurunkan logam Pb pada konsentrasi 1,5% dengan kapasitas penyerapan sebesar 0,143 mg/g dan kemampuan penyerapan sebesar 82,660 %.  Chitosan has been widely used in various fields of human life, one of which is used as a heavy metal adsorbent. Lead heavy metals (Pb) is a pollutants that pollutes the waters and is toxic. This study aims to examine the capacity and adsorption capacity of commercial and non-commercial chitosan  solutions  (own products) in  different concentrations of Pb metal. The research method used is an experimental laboratories with chitosan from the isolation itself and commercial chitosan. The research method used is an experimental laboratory with 2 Aras factorial experimental design using 1 control  (0%) and 4 treatments namely a concentrations of 0.5% (A), 1% (B), 1.5% (C) and 2% (D). The results showed that there was an interaction between chitosan sources and chitosan concentration to reduce Pb content. The best dose that can reduce Pb metal for commercial chitosan is at a concentration of 1% with an adsorption capacity of 0.228 mg/g, and an adsorption ability of 87.870 %. while non-commercial chitosan can reduce Pb metal at a concentration of 1.5 % with an adsorption capacity of 0.143 mg/g and an adsorption ability of 82.660 %.  
Kualitas Ekstrak Karaginan Dari Rumput Laut “Kappaphycus alvarezii” Hasil Budidaya Di Perairan Pantai Kartini Dan Pulau Kemojan Karimunjawa Kabupaten Jepara Endang Supriyantini; Gunawan Widi Santosa; Agus Dermawan
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.352 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i2.16556

Abstract

Karaginan merupakan senyawa hidrokoloid yang diekstraksi dari rumput laut merah jenis Kappaphycus alvarezii. Karaginan dapat digunakan untuk meningkatkan kestabilan bahan pangan baik yang berbentuk suspensi (dispersi padatan dalam cairan), emulsi (dispersi gas dalam cairan). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui Kualitas ekstrak karaginan hasil ekstraksi rumput laut K. alvarezii dari dua lokasi sampling yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2015 sampai bulan Januari 2016, di perairan Pantai Kartini, Jepara dan peraian Kemojan Karimunjawa, Jepara. Hasil penelitian menunjukkan analisis spektra FTIR produk telah memenuhi spesifikasi karaginan standar karena gugus-gugus fungsi yang terdapat pada spektrum sampel yang dihasilkan sama seperti gugus pada kappa karaginan yaitu gugus ester sulfat, OH, ikatan glikosidik. Hasil analisis sifat fisik-kimia karaginan (rendemen, kadar air, kadar abu, kadar sulfat, viskositas, dan kekuatan gel) yang paling baik yaitu karaginan dari perairan Kemojan Karimunjawa dibandingkan karaginan Pantai Kartini. Kadar sulfat Pantai Kartini dan Kemojan Karimunjawa masih dibawah kadar mutu yaitu 15-40 %, Sedangkan kekuatan gel kedua perairan yaitu Kemojan Karimunjawa 78,57 g.cm-2 dan Pantai kartini 61,86 g.cm-2 masih jauh di bawah baku mutu yaitu 685,50 g.cm2. Carrageenan is a hydrocolloid compounds extracted from red seaweed types Kappaphycus alvarezii. Carrageenan can be used to improve the stability of food in the form of suspension or emulsions. The purpose of this study was to determine the quality of the extract of carrageenan extracted from K. alvarezii at two different sampling locations. This research was conducted in August, 2015 and January, 2016. Samples of seaweed obtained from two different waters, namely Kartini Beach and Kemojan Karimunjawa Island, bolt at jepara regency. The results showed the FTIR spectra analysis of the product met the specifications for a standard carrageenan functional groups contained in the sample spectrum as expressed in clusters of kappa carrageenan namely sulphate ester group , OH , glycosidic bond. The results of analysis  of the physical-chemical properties of carrageenan ( yield, moisture content , ash content , sulphate content , viscosity and gel strength ) the best quality of carragenan was obtained from carrageenophyte taken from Kemojan Karimunjawa Island, although sulphate content from two different waters was under quality level at 15 – 40%, while the  gel strength kartini 61.86 g.cm-2 and Kemojan 78.57 g.cm-2 both were still far below the of carrageenophyte quality at 685.50 g.cm-2.
Pola Pertumbuhan, Biomassa Dan Kandungan Protein Kasar Kultur Skeletonema costatum Skala Massal Dengan Konsentrasi Kalium Nitrat Berbeda Diyah Putri Ambarwati; Ervia Yudiati; Endang Supriyantini; Lilik Maslukah
Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.385 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v7i2.20896

Abstract

Mikroalga Skeletonema costatum merupakan pakan alami yang mengandung nutrisi yang diperlukan untuk budidaya perikanan. Modifikasi media kultur merupakan salah satu upaya optimalisasi produktivitas sekaligus meningkatkan kadar proteinnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian KNO3 dengan berbagai konsentrasi terhadap pola pertumbuhan, biomassa dan kandungan protein kasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap, dengan lima konsentrasi KNO3 (A: 25; B:50; C:75; D:100 dan E:125 ppm) yang diulang sebanyak tiga kali. Inokulum awal adalah satu ton,103 sel/mL. Saat mencapai fase stasioner, kultur massal S. costatum dipanen dan dikeringkan. Kandungan protein kasar dianalisis menggunakan metode Kjeldahl. Hasil penelitian terhadap kepadatan menunjukkan bahwa perlakuan terbaik dicapai pada konsentrasi KNO3 125 ppm (498,88. 103 sel/mL) diikuti D (316,94. 10³ sel/mL), C (313,81.10³ sel/mL), B (246,56. 10³ sel/mL) dan A (195,60. 10³ sel/mL). Terdapat perbedaan fase stasioner pada masing-masing perlakuan yaitu A:32; B:28; C: 37; D:32; E:36 jam. Biomass rata-rata yang dihasilkan pada tiap perlakuan sesuai dengan pola kepadatan sel yaitu E: 8,60, D:7,85, C:6,43, B:5,91 dan A:5,44 g. Analisa terhadap kandungan protein kasar menunjukkan tidak adanya perbedaan antar perlakuan (P>0,05). Pemberian KNO3 terbukti dapat meningkatkan kepadatan sel dan berpengaruh terhadap pola pertumbuhan dan biomassa, namun kandungan protein kasar tidak meningkat. Growth, Biomass and Rough Protein Content of Skeletonema costatum Mass Scale with Different Concentration of Potassium Nitrate (KNO3) Skeletonema costatum is natural microalgae which rich in nutrient. An effort to optimize the protein content was done by modifying the culture media. This research is aimed to find out the effect of various concentration of KNO3 addition to the growth pattern, biomass and crude protein content. The Completely Randomized Design with five treatment KNO3 (A: 25; B:50; C:75; D:100 dan E:125 ppm) in three replication were applied. The starting innoculum was one tonne, 103 cel/mL. The microalgae was harvested at stationary phase and the dried. The crude protein was analised by Kjeldahl methods. The results of cell density showed that the best concentration was E (498,88. 103 cells/mL), D (316,94. 10³ cells/mL), C (313,81.10³ cells/mL), B (246,56. 10³ cells/mL) and A (195,60. 10³ cells/mL) respectively. The stationary phase in every treatment was reached at different time A:32; B:28; C: 37; D:32; E:36 hr. The average biomass were at similar pattern to the cell density (E:8,60, D:7,85, C:6,43, B:5,91 and A:5,44 g). On the other hand, the crude protein content were not significantly different (P>0,05). It is concluded that the KNO3 addition enhanced the cell density, growth pattern, biomass. The protein content was remain similar. 
Laju Filtrasi Kerang Totok Polymesoda erosa terhadap Pakan Alami Skeletonema costatum dan Tetraselmis chuii Endang Supriyantini
Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.508 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v1i5.6915

Abstract

Pertumbuhan yang optimal dan kelulushidupan kerang yang dibudidayakan dipengaruhi oleh pakan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan filtrasi Kerang Totok pada jenis dan konsentrasi pakan yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratories dengan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan jenis pakan yaitu Tetraselmis chuii, Skeletonema costatum, dan pakan campuran (1:1) dengan tiap jenis pakan  diberikan perlakuan konsentrasi 180.000 sel/ml, 270.000 sel/ml, 360.000 sel/ml dan 450.000 sel/ml. Masing-masing perlakuan dilakukan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan filtrasi rata-rata tertinggi Kerang Totok diperoleh pada perlakuan jenis pakan campuran (1:1), untuk konsentrasi pakan 180.000 sel/ml adalah 1,987 ± 0,0250 l/jam, konsentrasi pakan 270.000 sel/ml adalah 2,144 ± 0,0945 l/jam, konsentrasi pakan 360.000 sel/ml adalah 1,937 ± 0,0365 l/jam dan konsentrasi pakan 450.000 sel/ml adalah 1,864 ± 0,0052 l/jam. Kecepatan filtrasi rata-rata Kerang Totok  menurun pada perlakuan jenis pakan S. costatum, untuk konsentrasi 180.000 sel/ml adalah 1,554 ± 0,0422 l/jam, konsentrasi 270.000 sel/ml adalah 1,669 ± 0,0642 l/jam, konsentrasi 360.000 sel/ml adalah 1,537 ± 0,0603 l/jam dan konsentrasi 450.000 sel/ml adalah 1,587 ± 0,0544 l/jam. Kecepatan filtrasi rata-rata Kerang Totok terendah terjadi pada perlakuan jenis pakan T. chuii, untuk konsentrasi pakan 180.000 sel/ml adalah 1,154 ± 0,0768 l/jam, konsentrasi pakan 270.000 sel/ml adalah 1,161 ± 0,0514 l/jam, konsentrasi pakan 360.000 sel/ml adalah 1,270 ± 0,1432 l/jam dan konsentrasi pakan 450.000 sel/ml adalah 1,267 ± 0,0429 l/jam. Berdasarkan uji ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan yang paling banyak diserap adalah jenis pakan campuran pada konsentrasi 270.000 sel/ml.   Kata kunci :   P. erosa, Kecepatan Filtrasi, Tetraselmis chuii, Skeletonema costatum
Keterkaitan antara Kelimpahan Zooplankton dan Parameter Lingkungan di Perairan Pantai Morosari, Kabupaten Demak Titik Mariyati; Hadi Endrawati; Endang Supriyantini
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i2.27136

Abstract

Zooplankton berperan sebagai konsumen tingkat pertama, yaitu memindahkan energi dari produsen ke konsumen tingkat dua. Zooplankton dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk mengetahui kualitas dan kesuburan suatu perairan yang sangat diperlukan untuk mendukung pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut. Perairan Morosari mengalami degradasi akibat rob dan berkurangnya tanaman mangrove Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan parameter kualitas air dengan kelimpahan zooplankton di Perairan Pantai Morosari, Demak. Penelitian menggunakan metode survei dan penentuan lokasi dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling, analisis data meliputi kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman, dominasi dan analisis hubungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai korelasi parameter kualitas air yaitu 0,799 (DO), 0,928 (suhu), 0,758 (salinitas), -0,019 (pH), -0,318 (arus). Berdasarkan hasil pengamatan parameter kualitas air terutama DO, suhu, dan salinitas mempunyai kaitan yang erat terhadap kelimpahan zooplankton di perairan Pantai Morosari. Zooplankton acts as the first level consumer, i.e. transferring energy from producers to second level consumers, zooplankton can be used as study material to find out the quality and fertility of water that is needed to support the use of coastal and marine resources. This study aims to determine the abundance of zooplankton, the types of zooplankton and the relation of water quality parameters with the abundance of zooplankton in Morosari Coastal Water, Demak. Research using methods of surveying and determining the location was chosen using the purposive sampling method, data analysis includes abundance, diversity index, uniformity, dominance, and relationship analysis. The results showed that correlation value between water parameters and abundance of zooplankton is 0,799 (DO), 0,928 (temperature), 0,758 (salinity), -0,019 (pH), -0,138 (current). Based on the results of the water quality parameters, especially DO, temperature, and salinity have a close relationship to the abundance of zooplankton in the waters of Morosari Beach.
Co-Authors Ade Kurniawan Ade Kurniawan Adi Santosa Agus Dermawan Agus Trianto Ahmad Rayyis Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo AMANDA, REGINA Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Amtoni Caesario Nainggolan Anggit Puji Muswantoro Anggit Puji Muswantoro Anindya Putri Fadmawati Arif Maa’ruf Al Ayyub Bahry, Muhammad Syaifudien Bambang Yulianto Chika Velita Anindya Yulian Chrisna Adhi Suryono Cintya Pramesthi Dewi Dimas Panji Budi Prasetyo Dinda Ayuniar Zanjabila Diyah Putri Ambarwati Dwi Haryo Ismunarti Dwi Nur Hanifah Eka Mulya Eko Wardana Parsaulian Tampubolon Emia Sayniri Sembiring Emilia Sijabat, Emilia Erick Samuel Frederico Hasibuan Ervia Yudiati Ester Tiurlan Faith Dibri Kimberly Fera Nur Idawati Sahara Fitrianisa Nur Widasari Fitrianisa Nur Widasari Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Ibnu Wardani Ita Widowati Jamaludin Jamaludin Jarot Marwoto Khoirunnisah Riswanti Koesoemadji Koesoemadji Kresna Rangga Darmansyah Ladies Nikita Alamanda Lilik Maslukah Linggar Dirgantara Prasetyo Liningga Adiningtyas Mahadika Fanindhita Sany McCauley, Erin Mimie Saputri Muhammad S. Bahry Murraya Murraya Murraya, Murraya Mutiara Mega Septiningtyas Mutiara Nurul Fajar Utami Nada Kristiani Ginting Nadya Oktavia Nevanda Kusuma Wardani Nirwani Soenardjo Nirwani Soenardjo Nugroho Hendartono Nugroho Hendartono Nur Islamiah Sulastri Nur Taufiq-Spj Nuril Azhar Ocky Karna Radjasa Oetari Kusuma Putri Pramastuti, Fransisca Ria Raden Ario Rayyis, Ahmad Regina Amanda Ria Azizah Tri Nuraini Ria Azizah Trinuraini, Ria Azizah Rima Rosema Rini Pramesti Rizky Budhi Kusuma Rizky Rifatma Jezzi Rizqi Umi Arifah Rudhi Pribadi Sabrina Arifiani Nurtania Sri Redjeki Sri Sedjati Sri Yulina Wulandari Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Susilo Dwi Cahyanti, Susilo Dwi Tampubolon, Eko Wardana Parsaulian Taufiq-Spj, Nur Titik Mariyati Tunas Pulung Pramudya Victorina Yulina Santi Vivian Ayu Cyntya Wardani, Ibnu Widianingsih Widianingsih Wismayanti, Gita Yanuar Sandy Perdana Yanuar Sandy Perdana Yovita Noor Hidayah Yusup Bayu Permadi Yusup Bayu Permadi Zidny Nurfadhli