Endang Supriyantini
Departement Of Marine Science, Faculty Of Fisheries And Marine Sciences Diponegoro University Jl. Prof. H. Soedarto, S.H, Tembalang Semarang. 50275 Telp/fax (024)7474698

Published : 65 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengembangan Dan Karakterisasi Bioplastik Karagenan-Alginat-Gliserol Dengan Perlakuan Kalsium Klorida Ali Ridlo; Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Dinda Ayuniar Zanjabila
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.48020

Abstract

Material biopolimer tunggal seperti alginat dan karagenan tidak memiliki sifat fisiko-kimia dan mekanik yang mencukupi untuk digunakan sebagai produk spesifik seperti bioplastik, sehingga diperlukan kombinasi agar diperoleh hidrogel yang lebih kuat dan tahan air. Ion Ca2+ berperan sebagai crosslinker polimer bermuatan negative (alginat dan karagenan) serta meningkatkan struktur jaringan, sifat reologi dan hidrofobisitasnya, dengan cara berikatan silang dengan gugus karboksil alginat daan gugus sulfat karagenaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman dalam larutan CaCl2 terhadap karakteristik (ketebalan, keburaman, ketahanan air, biodegradabilitas, kuat tarik dan elongasi) bioplastik alginat-karagenan-gliserol. Alginat diperoleh dari ekstraksi Sargassum sp., sedangkan karagenan diperoleh dari ekstraksi rumput laut K. alvarezii yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Bioplastik dibuat dengan cara mencampur 1,5 g karagenan dan 0,5 g alginat dalam 146 mL akuades pada suhu 90℃ selama 45 menit, lalu ditambahkan gliserol 2 mL  pada suhu 70℃ dan dihomogenkan selama 15 menit, kemudian dicetak pada cetakan gelas dan dikeringkan dalam oven pada suhu 50℃ selama 18 jam. Setelah itu bioplastik dilepas dari cetakannya dan direndam dalam larutan CaCl2 (1%; 2%; 3% dan 4%) selama 5 menit lalu dikeringkan pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman dalam larutan CaCl2 meningkatkan secara signifikan (p < 0,05) kuat tarik, ketahanan air, dan opacity dan menurunkan ketebalan, elongasi, dan biodegradabilitas bioplastik alginat-karagenan-gliserol. Ketebalan dan kuat tarik bioplastik alginat-karagenan-gliserol yang dihasilkan telah memenuhi Japanese Industrial Standard.Single biopolymer materials such as alginate and carrageenan do not have sufficient physico-chemical and mechanical properties to be used as specific products such as bioplastics, so a combination is needed to obtain stronger and water-resistant hydrogels. The Ca2+ ion acts as a crosslinker for negatively charged polymers (alginate and carrageenan) and improves the network structure, rheological properties and hydrophobicity, by cross-linking with the carboxyl group of alginate and the sulfate group of carrageenan. This study aims to determine the effect of immersion in CaCl2 solution on the characteristics (thickness, opacity, water resistance, biodegradability, tensile strength and elongation at break) of alginate-carrageenan-glycerol bioplastic. Alginate was obtained from the extraction of Sargassum sp., while carrageenan was obtained from the extraction of K. alvarezii seaweed from Jepara, Central Java. Bioplastics were made by mixing 1.5 g of carrageenan and 0.5 g of alginate in 146 mL of distilled water at 90℃ for 45 minutes, then adding 2 mL of glycerol at 70℃ and homogenized for 15 minutes, then molded on a glass mold and dried in the oven at 50℃ for 18 hours. after that, the bioplastic was removed from the mold and immersed in a solution of CaCl2 (1%; 2%; 3% and 4%) for 5 minutes and then dried at room temperature. The results showed that immersion in CaCl2 solution significantly increased (p < 0.05) tensile strength, water resistance, and opacity and decreased thickness, elongation, and biodegradability of alginate-carrageenan-glycerol bioplastics. The thickness and tensile strength of the alginate-carrageenan-glycerol bioplastic produced complies with the Japanese Industrial Standard.
Peningkatan Kadar Fenolik Total dari Chlorella sp. Menggunakan Cekaman Radiasi Ultraviolet-B Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Sri Yulina Wulandari; Nur Islamiah Sulastri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 1 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i1.15559

Abstract

 The treatment of abiotic stressing in microalgae cultures can trigger the production of secondary metabolites that have a variety of bioactivity. Phenolic compounds are one of the secondary metabolites produced by Chlorella sp. and have been categorized as an important  antioxidants that play a role in the scavenging of free radicals.  This research uses ultraviolet (UV)-B (λ 280-320 nm) as a stressing in Chlorella sp. cultures.  The aim is to determine the effect of UV-B radiation on the biomass production of Chlorella sp. and total phenolic content (TPC), as well as its antioxidant activity.  The research method used is experimental with a completely randomized design (RAL).  The treatment tested was UV-B radiation with different duration of 0 (control), 40, 80, and 120 minutes/day during the culture period. Chlorella sp. culture is carried out using 12 glass containers with seawater (salinity 35 ppt) as culture media and enriched by Walne fertilizer (1 mL/L).  During the culture period, photosynthetically active radiation (PAR) light and aeration are carried out for 24 hours.  Biomass of Chlorella sp. was harvested 1 day after the peak of growth, then determined the weight of biomass and ethanol extract, followed by TPC, and antioxidant activity. The TPC test was carried out using the Follin-Ciocalteu reagent, while antioxidant activity used an inhibition test against 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH).  The results showed that UV-B radiation  had no significant effect on the biomass (p=0.122) and its ethanol extract yield (p=0.194), but had a significant effect on TPC (p=0.003) and DPPH inhibition percentage (p=0.036).  The UV-B radiation for 80 minutes/day for 10 days of the Chlorella sp. culture can be used to increase phenolic production with a TPC value of 4.906 mg GAE/g extract.  Pemberian cekaman abiotik pada kultur mikrolga dapat memicu produksi metabolit sekunder yang memiliki beragam bioaktivitas.  Senyawa fenolik adalah salah satu metabolit sekunder yang diproduksi oleh Chlorella sp. dan telah dikatagorikan sebagai antioksidan penting yang berperan dalam penangkalan radikal bebas.  Penelitian ini menggunakan cahaya ultraviolet (UV)-B (λ 280-320 nm) sebagai cekaman dalam kultur Chlorella sp.  Tujuannya adalah untuk menentukan pengaruh radiasi UV-B terhadap produksi biomassa Chlorella sp. dan kadar fenolik total/ total phenolic content (TPC), serta aktivitas antioksidannya.  Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan desain rancangan acak lengkap (RAL).  Perlakuan yang diujicobakan adalah pemberian radiasi UV-B dengan durasi yang berbeda, yaitu 0 (kontrol), 40, 80, dan 120 menit/hari selama masa kultur. Kultur Chlorella sp. dilakukan menggunakan 12 wadah kaca dengan media kultur berupa air laut (salinitas 35 ppt) dan ditambahkan pupuk Walne (1 mL/L).  Selama masa kultur, pemberian cahaya photosynthetically active radiation (PAR) dan aerasi dilakukan selama 24 jam.  Biomassa Chlorella sp. dipanen 1 hari setelah tercapai puncak pertumbuhan, kemudian ditentukan berat biomassa dan ekstrak etanolnya, dilanjutkan uji TPC, dan aktivitas antioksidannya. Uji TPC dilakukan menggunakan reagen Folin-Ciocalteu, sedangkan aktivitas antioksidan menggunakan uji inhibisi terhadap 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa radiasi UV-B tidak berpengaruh signifikan terhadap biomassa Chlorella sp. (p=0,122) dan rendemen ekstrak etanolnya (p=0,194), namun berpengaruh signifikan terhadap TPC (p=0,003) dan persentase inhibisi DPPH (p=0,036).  Pemberian radiasi UV-B selama 80 menit/hari selama 10 hari masa kultur Chlorella sp. dapat digunakan untuk meningkatkan produksi fenolik dengan nilai TPC sebesar 4,906 mg GAE/g ekstrak. 
Karakteristik Bioplastik Berbahan Karagenan-Alginat-Gliserol dengan Penambahan BaCl2 sebagai Crosslinker Dinda Ayuniar Zanjabila; Ali Ridlo; Endang Supriyantini
Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.35245

Abstract

Bioplastik adalah plastik berbahan dasar polimer organik alami (biopolimer), dapat digunakan seperti plastik pada umumnya akan tetapi lebih mudah diuraikan. Penelitian mengenai bioplastik diperlukan untuk mendapatkan plastik yang ramah lingkungan. Karagenan dan alginat adalah polisakarida dari rumput laut yang berpotensi sebagai bahan bioplastik. Resistensi bioplastik karagenan-alginat-gliserol terhadap air dapat ditingkatkan dengan proses crosslink menggunakan logam divalen. Kation divalen akan bereaksi dengan asam guluronat alginat membentuk interaksi yang kuat (egg-box). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan crosslinker BaCl2 terhadap karakteristik (ketebalan, ketahanan air, dan biodegradabilitas) bioplastik karagenan-alginat-gliserol. Karagenan diperoleh dari ekstraksi Kappaphycus alvarezii dan alginat diperoleh dari ekstraksi Sargassum sp yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Bioplastik dibuat dengan 1,5 g karagenan dan 0,5 g alginat yang dicampur dalam 146 mL akuades pada suhu 90ºC selama 45 menit. Gliserol sebanyak 2 mL ditambahkan pada suhu 70ºC selama 15 menit, kemudian dicetak dan dikeringkan dalam oven bersuhu 50ºC selama 18 jam. Bioplastik direndam pada larutan BaCl2 (1%; 2%; 3% dan 4%) selama 5 menit dan dikeringkan pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi crosslinker berpengaruh (p<0,05) terhadap ketebalan, ketahanan air dan biodegradabilitas bioplastik. Peningkatan konsentrasi crosslinker meningkatkan ketahanan air dan biodegradabilitas, namun menurunkan ketebalan. Bioplastik terbaik pada penelitian ini adalah bioplastik dengan perendaman BaCl2 4% karena memenuhi standar ketebalan (0,008 cm), mendekati standar ketahanan air (52,25%) dan biodegradabilitas (25,68%).  Bioplastics are plastics based on natural organic polymers (biopolymers) and are easier to decompose. Research on bioplastics is needed to obtain environmentally friendly plastics. Carrageenan and alginate are polysaccharides from seaweed that have the potential to be bioplastic materials. The resistance of carrageenan-alginate-glycerol bioplastics to water can be improved by a crosslinking process using divalent metals. Divalent cations will react with alginic guluronic acid forming a strong interaction (egg-box). This study aims to determine the effect of the addition of BaCl2 crosslinkers on the characteristics (thickness, water resistance, and biodegradability) of carrageenan-alginate-glycerol bioplastics. Carrageenan was obtained from the extraction of K. alvarezii and alginate was obtained from the extraction of Sargassum sp from Jepara, Central Java. Bioplastics were prepared with 1.5 g of carrageenan and 0.5 g of alginate mixed in 146 mL of aqueous at 90ºC for 45 min. 2 mL of glycerol 2 mL is added at 70ºC for 15 minutes, then molded and dried in a 50ºC oven for 18 hours. Bioplastics were soaked in BaCl2 solution (1%; 2%; 3% and 4%) for 5 minutes and dried at room temperature. The results showed that crosslinker concentrations had an effect (p<0.05) on the thickness, water resistance, and biodegradability of bioplastics. Increased crosslinker concentration increases water resistance and biodegradability, but decreases thickness. The best bioplastics in this study were bioplastics with 4% BaCl2 immersion because they met thickness standards (0.008 cm), close to water resistance standards (52.25%), and biodegradability standards (25.68%). 
Perendaman Daging Kerang Hijau (Perna viridis) Menggunakan Asam Asetat dan Bubuk Sargassum sp. sebagai Penurun Kadar Logam Timbal (Pb) Khoirunnisah Riswanti; Sri Sedjati; Endang Supriyantini
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.35603

Abstract

Akumulasi logam berat berlebih pada kerang hijau (Perna viridis) dapat membahayakan konsumen. Sargassum sp. merupakan rumput laut yang berpotensi sebagai penurun kadar logam karena mengandung alginat yang memiliki gugus fungsi penyerap logam. Gugus fungsi seperti hidroksil dan karboksil dapat menjerap ion logam timbal (Pb) yang terdapat pada daging kerang hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bubuk rumput laut Sargassum sp. dan asam asetat sebagai penurun kadar logam timbal pada daging kerang hijau serta mengidentifikasi gugus fungsi yang terkandung dalam bubuk Sargassum sp. Metode yang digunakan yaitu percobaan labotatoris, menggunakan perlakuan konsentrasi sebanyak 3 kali pengulangan. Bubuk Sargassum sp. dikeringkan menggunakan oven suhu 45°C selama 24 jam, kemudian dihaluskan dan diuji FTIR. Daging kerang direndam pada konsentrasi bubuk Sargassum sp. 0%, 4%, 6%, dan 8%, dengan pH 5 (penambahan asam asetat) selama 90 menit. Sampel didestruksi dan dilakukan pengukuran kadar logam timbal menggunakan Atomic Adsorption Spectrofotometri (AAS). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi bubuk rumput laut Sargassum sp. tidak mempengaruhi penjerapan logam timbal dengan uji Anova (P≤0,05). Konsentrasi bubuk rumput laut Sargassum sp. dengan penurunan kadar logam tertinggi yaitu konsentrasi 8% sebesar 0,111 mg/kg. Gugus fungsi yang terdapat pada bubuk Sargassum yaitu hidroksil (-OH), amina (-NH2), dan alkana (-CH2).  Excessive accumulation of heavy metals in green mussels (Perna viridis) can harm consumers. Sargassum sp. is a seaweed that has the potential as a metal reducing agent because it contains alginate which has a metal-absorbing functional group. Functional groups such as hydroxyl and carboxyl can absorb lead metal (Pb) ions found in green mussel meat. This study aims to determine the effect of using powdered seaweed Sargassum sp. and acetic acid as lowering metal levels of lead in green mussels as well as identifying the functional groups contained in powdered Sargassum sp. The method was used is a laboratory experiment, using a concentration treatment of 3 repetitions. Sargassum sp. powder dried using an oven at 45°C for 24 hours, then mashed and tested FTIR. Scallop meat soaked in powder concentration of Sargassum sp. 0%, 4%, 6%, and 8%, with pH 5 (addition of acetic acid) for 90 minutes. The sample was destroyed and the lead content was measured using Atomic Adsorption Spectrophotometry (AAS). The results showed that the concentration of Sargassum sp. powder not affect lead metal adsorption by Anova test (P≤0.05). The concentration of powdered seaweed Sargassum sp. with the highest decrease in metal content, namely the concentration of 8% at 0.111 mg/kg. The functional groups in Sargassum powder are hydroxyl (-OH), amine (-NH2), dan alkane (-CH2).
Kitosan sebagai Bioadsorben Logam Besi (Fe) pada Jaringan Lunak Kerang Hijau (Perna viridis) Pramastuti, Fransisca Ria; Supriyantini, Endang; Pramesti, Rini; Sedjati, Sri; Ridlo, Ali
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.41095

Abstract

Logam besi (Fe) merupakan logam berat essensial yang dibutuhkan oleh makhluk hidup termasuk manusia dalam jumlah sedikit.  Jika jumlahnya melebihi batas ambang dapat menimbulkan efek racun karena bersifat karsinogenik. Salah satu upaya mengurangi kadar logam Fe pada daging kerang tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan kitosan atau turunan kitosan yaitu karboksimetil kitosan (KMK) sebagai adsorben. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi konsentrasi KMK dan kitosan terhadap kapasitas dan daya adsorpsi, serta konsentrasi terbaik dalam menurunkan kandungan logam berat Fe pada jaringan lunak kerang hijau. Metode penelitian secara eksperimental laboratoris. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor. Faktor pertama yaitu sumber kitosan yang digunakan yaitu kitosan dan karboksimetil kitosan (KMK) dan faktor kedua yaitu variasi konsentrasi yaitu kontrol (0%); 0,5%; 1%; 1,5% dan masing-masing perlakuan dengan 3 ulangan. Konsentrasi logam berat Fe awal pada kerang hijau sebesar 13,17 mg/kg. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh variasi konsentrasi kitosan dan KMK terhadap kapasitas dan daya adsorpsi logam berat Fe pada jaringan lunak kerang hijau. Konsentrasi terbaik pada kitosan 1,5% dapat menurunkan logam berat Fe menjadi 2,43 mg/kg dengan kapasitas adsorpsi sebesar 0,72 mg/g dan daya serap 81,56%, sedangkan KMK 1,5% dapat menurunkan logam berat Fe menjadi 3,68 mg/kg dengan kapasitas adsorpsi 0,63 mg/g dan daya serap sebesar 72,04%.  Fe is an essential heavy metal needed by humans in small amounts, if the amount exceeds the threshold, it can cause toxic effects because it is carcinogenic. To reduce the metal content of Fe in mussel meat, it can be done by utilizing chitosan or chitosan derivatives, namely carboxymethyl chitosan (KMK) as an adsorbent. This study aims to determine the effect of variations in the concentration of KMK and chitosan on the adsorption capacity and power as well as the best concentration in reducing the heavy metal content of Fe in the soft tissue of green mussels. The research method is experimental laboratory. The research design used a completely randomized design (CRD) with 2 factors. The first factor is the source of chitosan used, namely chitosan and carboxymethyl chitosan (KMK) and the second factor is the variation in concentration used, namely control (0%), 0.5%, 1%, and 1.5% and each treatment 3 repetition. The initial heavy metal concentration of Fe in green mussels was 13.17 mg/kg. The results showed that there was an effect of variations in the concentration of chitosan and KMK on the capacity and adsorption ability of heavy metal Fe in green mussel meat. The best concentration of 1.5% chitosan can reduce heavy metal Fe to 2,43 mg/kg with adsorption capacity of 0.72 mg/g and absorption ability of 81.56%. Meanwhile, KMK 1.5% can reduce heavy metal Fe to 3.68 mg/kg with adsorption capacity of 0.63 mg/g and absorption ability of 72.04%. 
Co-Authors Ade Kurniawan Ade Kurniawan Adi Santosa Agus Dermawan Agus Trianto Ahmad Rayyis Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo AMANDA, REGINA Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Amtoni Caesario Nainggolan Anggit Puji Muswantoro Anggit Puji Muswantoro Anindya Putri Fadmawati Arif Maa’ruf Al Ayyub Bahry, Muhammad Syaifudien Bambang Yulianto Chika Velita Anindya Yulian Chrisna Adhi Suryono Cintya Pramesthi Dewi Dimas Panji Budi Prasetyo Dinda Ayuniar Zanjabila Diyah Putri Ambarwati Dwi Haryo Ismunarti Dwi Nur Hanifah Eka Mulya Eko Wardana Parsaulian Tampubolon Emia Sayniri Sembiring Emilia Sijabat, Emilia Erick Samuel Frederico Hasibuan Ervia Yudiati Ester Tiurlan Faith Dibri Kimberly Fera Nur Idawati Sahara Fitrianisa Nur Widasari Fitrianisa Nur Widasari Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Ibnu Wardani Ita Widowati Jamaludin Jamaludin Jarot Marwoto Khoirunnisah Riswanti Koesoemadji Koesoemadji Kresna Rangga Darmansyah Ladies Nikita Alamanda Lilik Maslukah Linggar Dirgantara Prasetyo Liningga Adiningtyas Mahadika Fanindhita Sany McCauley, Erin Mimie Saputri Muhammad S. Bahry Murraya Murraya Murraya, Murraya Mutiara Mega Septiningtyas Mutiara Nurul Fajar Utami Nada Kristiani Ginting Nadya Oktavia Nevanda Kusuma Wardani Nirwani Soenardjo Nirwani Soenardjo Nugroho Hendartono Nugroho Hendartono Nur Islamiah Sulastri Nur Taufiq-Spj Nuril Azhar Ocky Karna Radjasa Oetari Kusuma Putri Pramastuti, Fransisca Ria Raden Ario Rayyis, Ahmad Regina Amanda Ria Azizah Tri Nuraini Ria Azizah Trinuraini, Ria Azizah Rima Rosema Rini Pramesti Rizky Budhi Kusuma Rizky Rifatma Jezzi Rizqi Umi Arifah Rudhi Pribadi Sabrina Arifiani Nurtania Sri Redjeki Sri Sedjati Sri Yulina Wulandari Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Susilo Dwi Cahyanti, Susilo Dwi Tampubolon, Eko Wardana Parsaulian Taufiq-Spj, Nur Titik Mariyati Tunas Pulung Pramudya Victorina Yulina Santi Vivian Ayu Cyntya Wardani, Ibnu Widianingsih Widianingsih Wismayanti, Gita Yanuar Sandy Perdana Yanuar Sandy Perdana Yovita Noor Hidayah Yusup Bayu Permadi Yusup Bayu Permadi Zidny Nurfadhli