Endang Supriyantini
Departement Of Marine Science, Faculty Of Fisheries And Marine Sciences Diponegoro University Jl. Prof. H. Soedarto, S.H, Tembalang Semarang. 50275 Telp/fax (024)7474698

Published : 65 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Kandungan Bahan Organik dan Karakteristik Sedimen di Perairan Betahwalang, Demak Jamaludin Jamaludin; Sri Sedjati; Endang Supriyantini
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.30046

Abstract

Betahwalang is a coastal village located in Demak Regency. As a village located in a coastal area, the local population mostly relies on the fisheries sector sourced from sea products. Betahwalang Village has a Mangrove Ecosystem, which is included in the tidal river area of Betahwalang Village. This study aims to look at the comparison of organic matter levels in sediments during tidal and receding river water. Sampling in the field was conducted in March 2019. Sediment samples were taken from 5 stations divided into jetty, mangrove, estuary, and beach areas, where each station was repeated 3 times during high tide and low tide. Analysis of organic matter content of sediment samples using gravimetric methods and data analysis using Non-Parametric Kruskal-Wallis H. The results showed the highest levels of sediment organic matter at station 5 were 74.87 ± 1.81% (low tide) and 66.99 ± 0.38% (high tide) and the lowest sediment organic matter content. at station 4 were 31.56 ± 2.14% (low tide) and 26.93 ± 2.51% (high tide). These results indicate that the organic matter content in the sediment at low tide is higher than at high tide with results that are not significantly different (sig = 0.05).  Betahwalang adalah desa pesisir yang terletak di Kabupaten Demak. Sebagai desa yang terletak di wilayah pesisir, penduduk setempat sebagian besar mengandalkan sektor perikanan yang bersumber dari hasil laut. Desa Betahwalang memiliki Ekosistem Mangrove yang termasuk dalam wilayah sungai pasang surut di Desa Betahwalang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat kondisi perairan sungai Betahwalang ditinjau dari kandungan bahan organik dalam sedimen selama pasang dan surut. Pengambilan sampel di lapangan dilakukan pada bulan Maret 2019. Sampel sedimen diambil dari 5 stasiun yang dibagi menjadi area dermaga, mangrove, muara dan pantai, di mana setiap stasiun diulang 3 kali selama pasang dan surut. Analisis kandungan bahan organik sampel sedimen menggunakan metode gravimetri, dan analisis data menggunakan Non-Parametrik Kruskal-Wallis H. Hasil penelitian menunjukkan kadar bahan organik sedimen tertinggi di stasiun 5 sebesar 74,87 ± 1,81% (air surut) dan 66,99 ± 0,38 % (air pasang) dan  kandungan bahan organik sedimen terendah. di stasiun 4 sebesar 31,56 ± 2,14 % (air surut) dan 26,93 ± 2,51% (air pasang). Hasil ini menunjukkan bahwa kandungan bahan organik dalam sedimen pada saat air surut lebih tinggi daripada saat air pasang dengan hasil yang tidak berbeda nyata (sig=0,05). 
Pengaruh Salinitas terhadap Kandungan Nutrisi Skeletonema costatum Endang Supriyantini
Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.371 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v2i1.6927

Abstract

Skeletonema costatum merupakan salah satu jenis pakan alami yang mempunyai peranan penting dalam pembenihan ikan, udang, kerang-kerangan,dan kepiting. S. costatum mampu beradaptasi pada berbagai salinitas. Sehingga mampu hidup di laut, pantai dan muara sungai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan nutrisi S. costatum yang dikultur pada salinitas yang berbeda dalam skala massal.  Penelitian dilaksanakan di Balai Besar Pengembangan Budi daya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Perlakuan dalam penelitian ini menggunakan 4 salinitas yang berbeda, yaitu  15 ppt, 20 ppt, 25 ppt dan 30 ppt dengan masing-masing 3 ulangan. S. costatum dipanen setelah mencapai fase eksponensial dengan menggunakan plankton net ukuran 10 µm. Hasil penelitian menunjukkan pada salinitas 15 ppt diperoleh kadar protein tertinggi yaitu 22,29 % dan kadar lemak kasar tertinggi pada salinitas 25 ppt yaitu 2,09 %. Serat kasar tertinggi pada salinitas 25 ppt yaitu 1,41 %. Kadar air tertinggi pada salinitas 25 ppt yaitu 12,68 %. Kadar abu tertinggi pada salinitas 20 ppt yaitu 61,14 %. Bahan Ekstrak Tanpa unsur N (BETN) tertinggi pada salinitas 30 ppt yaitu 14,65 %. Kata Kunci  :Skeletonema costatum, salinitas, kandungan nutrisi
Pengaruh Pemberian Tetraselmis chuii dan Skeletonema costatum terhadap Perkembangan Gonad Kerang Totok Polymesoda erosa Endang Supriyantini
Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v1i3.6905

Abstract

Pengetahuan tentang asupan nutrisi yang sesuai untuk Kerang Totok Polymesoda erosa sangat penting selain untuk meningkatkan kegunaan diet mikroalga juga untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan alami Tetraselmis chuii dan Skeletonema costatum terhadap perkembangan gonad kerang Totok. Biota yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerang Totok ukuran 3-4 cm yang diperoleh dari perairan sekitar Pulau Gombol, Segara Anakan, Cilacap. Wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 30 x 30 x 30 cm3 dengan volume media 2 liter. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap, 3 perlakuan, yaitu T. chuii 27 x 104 sel/ml (pakan T1); S. costatum 27 x 104 sel/ml (pakan T2); dan campuran T. chuii 13,5 x 104 sel/ml dan S. costatum 13,5 x 104 sel/ml (pakan T3). Pakan diberikan sekali sehari setiap pk. 08.00 WIB, pemeliharaan dilakukan selama 4 bulan. Pengamatan perkembangan gonad secara makroskopis dan pengukuran oosit secara mikroskopis dilakukan sebulan sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan campuran T. chuii dan S. costatum memberikan pengaruh baik terhadap perkembangan gonad walaupun masih dalam stadia TKG I, dan menghasilkan jumlah oosit, diameter membrane, diameter oosit dan diameter nucleus  yang berbeda nyata (p < 0.05). Kata kunci: kerang Totok P. erosa, T. chuii, S. costatum, TKG
Kajian Pencemaran Perairan Pulau Panjang, Jepara Berdasarkan Indeks Saprobik dan Komposisi Fitoplankton Endang Supriyantini; Munasik Munasik; Sri Sedjati; Sri Yulina Wulandari; Ali Ridlo; Eka Mulya
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i1.27276

Abstract

Indeks saprobik adalah indeks yang digunakan untuk mengetahui status pencemaran suatu perairan dengan menggunakan keberadaan organisme seperti fitoplankton. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat pencemaran di perairan Pulau Panjang, Jepara berdasarkan indeks saprobik dan komposisi fitoplankton. Metode yang digunakan adalah deskriptif eksploratif.Sampel fitoplankton diambil dari 12 titik sampling di sekitar perairan Pulau Panjang. Pengambilan sampel ditentukan secara purposive sampling. Sampel plankton diperoleh secara aktif menggunakan plankton net dengan mesh size 37 μm diameter 21 cm. Hasil penelitian menunjukkankomposisi fitoplankton di P. Panjang terdiri dari 32 genus, termasuk ke-dalam 4 kelas yaitu Bacillariophyceae (18 genus), Dinophyceae (12 genus), Cyanophyceae (1 genus),Chlorophyceae (1 genus). Indek keanekaragaman dan keseragamannya  termasuk dalam kriteria sedang dan tidak ada genus yang mendominasi. Nilai indeks saprobik berkisar antara 0.0 s/d 0.5, yaitu dengan tingkat pencemaran ringan (β/α- mesosaprobik) hingga sedang (α/β- mesosaprobik) oleh bahan organik.Berdasarkan hasil tersebut perairan P. Panjang, Jepara termasuk kedalam perairan yang tercemar rendah hingga sedang. A saprobic index is an index used to determine the status of pollution in waters by using the presence of organisms such as phytoplankton. The purpose of this study was to determine the level of pollution in the waters of Island Panjang, Jepara, based on the saprobic index and phytoplankton composition. The method used is descriptive explorative. Phytoplankton samples were taken from 12 sampling points around Panjang Island by a purposive sampling method. Plankton sampling was carried out using the plankton net with a mesh size of 37 μm in diameter of 21 cm. The results showed that there were 4 classes in  Panjang Island, namely Bacillariophyceae (18 genera), Dinophyceae (12 genera), Cyanophyceae (1 genus), Chlorophyceae (1 genus).  The index of diversity and uniformity are moderate and no dominant genus. The saprobic index was ranged from 0.0 to 0.5, which was light (β / α-mesosaprobic) to moderate (α / β-mesosaprobic) pollution levels of organic matter. Based on the results,  Panjang Island waters in Jepara were polluted in low to-moderate category.
Pengukuran Parameter Bahan Organik Di Perairan Sungai Silugonggo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati Erick Samuel Frederico Hasibuan; Endang Supriyantini; Sunaryo Sunaryo
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.32345

Abstract

Perairan Silugonggo merupakan area pemukiman warga dengan banyak aktivitas perikanan dan kelautan seperti: pertambakan, industri perikanan dan merupakan alur pelayaran. Tingginya aktivitas pemukiman dan industri akan menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar. Bahan organik yang melimpah dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan bahan organik di perairan sungai Silugonggo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Kandungan bahan organik diketahui melalui analisis parameter TOM (Total Organic Matter), BOD5 (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand). Pengambilan sampel dilaksanakan pada tanggal 20 Desember 2019 dan 20 Januari 2020. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode kasus dengan pengamatan secara langsung di lapangan dan penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling. Hasil pengukuran parameter penelitian dianalisis menggunakan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai TOM sebesar 8,11 – 11,9 mg/L. Hasil pengukuran parameter (a) BOD5 sebesar 8,07 – 24,66 mg/L dan (b) COD sebesar 26,04 – 79,21 mg/L, hasil tersebut berada di bawah baku mutu yang ditetapkan menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah. Tingginya nilai TOM dikarenakan banyaknya masukan limbah bahan organik dari aktivitas di perairan sungai Silugonggo, seperti: pertambakan, industri perikanan, dan alur pelayaran. Silugonggo waters is a residential area with many fishery and marine activities such as: aquaculture, fishing industry and shipping lanes. High residential and industrial activities will produce large amounts of organic waste. Abundant organic matter can cause environmental pollution. This study aims to determine the content of organic matter in the waters of the Silugonggo River, Juwana District, Pati Regency. The content of organic matter is known through parameter analysis of TOM (Total Organic Matter), BOD5 (Biochemical Oxygen Demand) and COD (Chemical Oxygen Demand). Sampling was carried out on December 20, 2019 and January 20, 2020. The method used in this study used the method of direct observation in the field and the date of the research location using the purposive sampling method. The results of the measurement of research parameters were analyzed using analysis of variance. The results showed that the TOM value was 8.11–11.9 mg/L. Parameter measurement results (a) BOD5 of 8.07–24.66 mg/L and (b) COD of 26.04–79.21 mg/L, these results are below the quality standard stipulated according to the Decree of the Minister of the Environment No. 51 of 2004 concerning Wastewater Quality Standards. The high value of TOM is due to the large number of inputs of organic matter from activities in the waters of the Silugonggo river, such as: aquaculture, fishing industry, and shipping lanes.
Studi Kandungan Bahan Organik Pada Beberapa Muara Sungai Di Kawasan Ekosistem Mangrove, Di Wilayah Pesisir Pantai Utara Kota Semarang, Jawa Tengah Endang Supriyantini; Ria Azizah Tri Nuraini; Anindya Putri Fadmawati
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.84 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i1.15739

Abstract

Bahan organik adalah kumpulan senyawa - senyawa organik kompleks yang telah mengalami proses dekomposisi oleh organisme pengurai, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi. Bahan organik merupakan sumber nutrient yang penting, yang sangat dibutuhkan oleh organisme laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter kandungan bahan organik meliputi BOD5 (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid), TDS (Total Suspended Solid) dan TOM (Total Organic Matter) dan menentukan tingkat pencemaran bahan organik berdasarkan baku mutu pada beberapa muara sungai di kawasan ekosistem mangrove, di wilayah pesisir pantai Utara Kota Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, sedangkan penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling method dan untuk pengambilan sampel air menggunakan metode sample survey method. Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan parameter bahan organik selama penelitian di semua lokasi adalah BOD (3,77 – 15,13 mg/L), COD (20,33 – 140,67 mg/L), TSS (1,33 – 13,67 mg/L), TDS (818,33 – > 2.000 mg/L) dan TOM (10,73 – 50 mg/L). Secara umum kandungan COD dan TSS di Maron dan Trimulyo sudah melewati ambang batas baku mutu menurut Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 2 Tahun 1988 tentang Baku Mutu Air Limbah, sedangkan untuk kandungan BOD, TSS dan TOM belum melampaui ambang batas baku mutu yang telah ditetapkan oleh Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. The organic material is set of complex organic compounds that have developed in decomposition process by decomposing organisms, both in the form of topsoil of humification as well as inorganic compounds of mineralization. Organic materials are an important source of nutrients, which are needed by aquatic organisms. This study aimed to analyze the organic material content BOD5 (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid), TDS (Total Suspended Solid) and TOM (Total Organic Matter) and determine the level of pollution of organic materials based on quality standard on some estuaries of the mangrove ecosystem, in North Coast of Semarang. This study carried out in April 2015. A method used in this research is descriptive method, whereas the determination of research location used purposive sampling method and the method intake of the water sample used the sample survey method. The results showed that the content of organic material parameters during the research in all locations are BOD (3.77 to 15.13 mg/L), COD (20.33 to 140.67 mg/L), TSS (1.33 - 13, 67 mg/L), TDS (818.33 - > 2.000 mg/L) and TOM (10.73 – 50 mg/L). In general the content of COD at Maron and Trimulyo, and TDS content Mangkang Wetan, Maron and Trimulyo are already passed the quality standard according to the Decree of the Minister of State for Population and the Environment No. 2 of 1988 on Wastewater quality standard, whereas for the content of BOD, TSS and TOM has not exceeded the limit of quality standards which are established by the Decree of the Minister of State for Population and the Environment No. 51 of 2004.
Kandungan Klorofil dan Fukosantin serta Pertumbuhan Skeletonema costatum pada Pemberian Spektrum Cahaya Yang Berbeda Rizqi Umi Arifah; Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.166 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.19986

Abstract

Skeletonema costatum mengandung klorofil-a, klorofil-c, dan fukosantin yang menyebabkan selnya berwarna hijau kecoklatan. Klorofil dan fukosantin memiliki berbagai manfaat, salah satunya dalam bidang kesehatan sebagai anti-bakteri, anti-oksidan, anti-inflamasi, anti-obesitas, anti-diabetes. Cahaya merupakan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kandungan pigmen pada mikroalga. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spektrum cahaya yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan, kandungan klorofil dan fukosantin S. costatum. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Maret 2018 di Laboratorium Biologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro dan pengujian laboratoris di Laboratorium BPIK Srondol, Semarang. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental laboratoris. Diatom S. costatum dikultivasi dengan tiga spektrum cahaya yang berbeda yaitu putih, biru, dan merah. Pertumbuhan sel S. costatum diamati sampai 2 x 24 jam kemudian dipanen untuk perhitungan biomassanya. Biomassa kering hasil kultivasi diekstraksi menggunakan metanol. Kadar pigmen ekstrak metanol dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan identifikasi pigmen dengan uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan cahaya putih secara signifikan meningkatkan kandungan klorofi- a S. costatum dibandingkan spektrum cahaya merah, namun tidak berbeda nyata terhadap spektrum cahaya biru. Pertumbuhan, kandungan klorofil-c dan fukosantin S. costatum pada pemberian spektrum cahaya yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan nyata. Skeletonema costatum contains chlorophyll-a, chlorophyll-c, and fucoxanthin giving to its cells. Chlorophyll and fucoxanthin have various benefits, e.g. in the medicine field as anti-bacterial, anti-oxidant, anti-inflammatory, anti-obesity, and anti-diabetes. Light is one of the environmental factor that affects the growth and pigment content of microalgae. This study aims to determine the spectrum of light that influences growth, chlorophyll content and fucoxanthin of S. costatum. This research was conducted in January-March 2018 at the Biology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Diponegoro University and laboratory testing at the BPIK Srondol Laboratory, Semarang. The method used was a laboratory experimental method. Diatom S. costatum was cultivated with three different spectrums of light (white, blue, and red). Growth of S. costatum cells was observed up to 2x24 hours and then harvested for biomass calculations. Dry biomass was extracted using methanol. Pigment content of The S. costatum methanol extract was analyzed using UV-Vis spectrophotometer and pigments identification using Thin Layer Chromatography (TLC). The results showed that the chlorophyll content of S. costatum under white light spectrum was significantly higher from the red light spectrum, but not significantly different from blue light spectrum. Growth, chlorophyll-c and fucoxanthin content of S. costatum didn’t show significant differences under different light spectra.
Pengaruh Pencahayaan terhadap Kandungan Pigmen Tetraselmis chuii sebagai Sumber Antioksidan Alami Nada Kristiani Ginting; Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.287 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v7i2.19995

Abstract

Tetraselmis chuii merupakan alga hijau yang mengandung senyawa bioaktif seperti pigmen klorofil dan karotenoid. Pigmen klorofil dapat menurunkan risiko terkena kanker dan berpotensi sebagai antioksidan. Salah satu faktor eksternal yang berpengaruh  terhadap kandungan pigmen adalah cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh warna pencahayaan terhadap biomassa, kandungan  pigmen dan aktivitas antioksidan T. chuii. Rancangan penelitian yang digunakan adalah  rancangan acak blok dengan tiga kali pengulangan. Perlakuan pencahayaan yang diberikan adalah putih, merah, dan biru. Perhitungan kepadatan dan pengukuran parameter kualitas air dilakukan setiap hari. Pemanenan dilakukan pada saat fase stasioner hari ke – 4. Kadar pigmen (klorofil a, b dan karotenoid) dilakukan secara spektrofotometri dan uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan sel tertinggi terdapat pada perlakuan pencahayaan putih sebesar 95.800 sel/ml. Kandungan pigmen klorofil a dan klorofil b total tertinggi terdapat pada  pencahayaan merah (48,28 dan 40,86 μg/ml), serta karotenoid total tertinggi terdapat pada pencahayaan biru (6,70 μg/ml). Perlakuan perbedaan pencahayaan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan pigmen (klorofil a, dan b). Aktivitas antioksidan ekstrak T. chuii  semua perlakuan tergolong sangat lemah ( IC50 lebih dari 200 ppm). Effect of Lighting on Pigments Content Tetraselmis chuii  a Source of Natural Antioxidants Tetraselmis chuii is a green algae which is containing bioactive compounds such as chlorophyll and carotenoid pigments. Chlorophyll may reduce the risk of cancer and potentially as an antioxidant. This research aims to know the effect of light colour  on biomass, pigment and antioxidant activity content of T. chuii. The research design used was a complete randomized design with three repetitions. The light treatments provided are white, red, and blue. Calculation of density and measurement of water quality parameters on daily basis. Harvesting is done during the stasionary phase at fourth day. Pigment levels (chlorophyll a, b and carotenoids) were performed by spectrophotometer and an antioxidant activity test was performed by DPPH (1,1-diphenyl-2-picrilhidrazil). The results showed that different colour lighting treatments had an effect (P <0.05) on pigment content (chlorophyll a, b, and carotenoid).The highest total chlorophyll content of a and chlorophyll b were found in the highest red light (48.28 and 40.86 μg/ ml) and the highest total carotenoids were in blue light (6.70 μg /ml). The highest cell desity in white lighting treatment is 95,800 cell/ml. Potential antioxidant activity of T. chuii extract for all treatments were very low (IC50 more than 200 ppm). 
Akumulasi Logam Berat Zn (seng) pada Lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii di Perairan Pantai Kartini Jepara Endang Supriyantini; Sri Sedjati; Zidny Nurfadhli
Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.112 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v5i1.11291

Abstract

Lamun (seagrass) adalah tanaman air yang berbunga (Antophyta) dan mempunyai kemampuan beradaptasi untuk hidup dan tumbuh di lingkungan laut. Pantai Kartini merupakan kawasan yang strategis, karena sebagai jalur transportasi laut menuju obyek wisata Taman laut Nasional Karimunjawa dan Pulau Panjang. Pantai Kartini merupakan dermaga bagi kapal-kapal besar dan kapal-kapal pariwisata, kegiatan perdagangan, pariwisata serta fasilitas wisatawan yang diduga menjadi sumber logam berat Seng (Zn). Keberadaan lamun di laut dapat menjadi bioindikator pencemaran logam berat karena meyerap dan mengakumulasi bahan pencemar. Logam berat umumnya mempunyai sifat toksik dan berbahaya bagi organisme hidup, walaupun beberapa diantaranya diperlukan dalam jumlah kecil E. acoroides dan T. hemprichii diambil dari 3 stasiun penelitian yang telah ditetapkan. Pengambilan sampel lamun E. acoroides dan lamun T. hemprichii dilakukan dengan memilih lamun yang tua dengan ciri-ciri warna daun lebih pekat dan memiliki tekstur daun yang lebih keras, serta memiliki bagian-bagian yang lengkap dan pengambilan sampel dilakukan dengan cara mencabut hingga akar-akarnya sebanyak 3 tegakan setiap stasiun. Parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, oksigen terlarut, kecerahan, pH dan arus diukur secara in situ. Hasil penelitian menunjukkan nilai akumulasi logam berat Zn (Seng) pada akar E. acoroides berkisar antara 0,98 – 2,06 mg/kg dan pada Daun 0,60 – 1,01 mg/kg, sedangkan akumulasi logam berat Zn (Seng) pada akar T. hemprichii berkisar antara 0,32 – 0,53 mg/kg dan pada daun 0,95 – 1,21 mg/kg. Kemampuan lamun   E. acoroides dan Thalassia hemprichii di Pantai Kartini dalam mengakumulasi logam berat Seng (Zn) termasuk dalam kategori rendah dengan nilai faktor biokonsentrasi rata-rata < 250.   Kata Kunci : E. acoroides, T. hemprichii, Seng (Zn), Faktor Biokonsentrasi (BCF)
ESTIMATION CARBON STOCK ON MANGROVE VEGETATION AT MANGROVE AREA OF UJUNG PIRING JEPARA DISTRICT Dimas Panji Budi Prasetyo; Ria Azizah Tri Nuraini; Endang Supriyantini
International Journal of Marine and Aquatic Resource Conservation and Co-existence Vol 2, No 1 (2017): IJMARCC
Publisher : International Journal of Marine and Aquatic Resource Conservation and Co-existence

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.094 KB) | DOI: 10.14710/ijmarcc.2.1.p

Abstract

ABSTRACTMangrove forrest is an coastal ecosystem which has so many advantages and usages. Mangrove forrest has ecological functions as carbon sink.  This function becomes very important because of the increased greenhouse gas (GHG) emissions in the atmosphere causing climate change. Climate change raises the temperature on the surface of the earth, thus threatening the existence of humans and other living things. The purpose of this research was to determine the amount of biomass, carbon reserve, CO2 absorption and soil organic carbon in mangrove vegetation Ujung Piring, Jepara.The method used in this research was descriptive and location determined by purposive sampling, which is divided into three locations, in each location used 2-3 x sampling. The data were collected using a 10 x 10 m plot. Determination of stored biomass in stands using non-destructive sampling by measuring stem diameter (Dbh) and allometric equation on each mangrove species. Carbon stock was determined using the results of biomass determination, whereas CO2 absorption was determined using carbon stock. Soil organic carbon is determined using the results of organic matter measurement.The result showed that 6 mangroves species were found in the research plots: Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Ceriops tagal, Lumnitzera racemosa, Sonneratia alba, and Sonneratia caseolaris. The largest carbon stock value is in Location I with the dominance of R.apiculata. The carbon stock of mangrove vegetation has a linear relationship with soil organic carbon. Ujung Piring has amount of biomass 16,69 ton/ha, carbon stock 7,85 ton/ha,  CO2 absorption 28,76 ton/ha and soil organic carbon 1706 ton/ha. Key words: Biomass, Carbon Stock, CO2 Absorption, Mangrove forrest, Soil Organic Carbon
Co-Authors Ade Kurniawan Ade Kurniawan Adi Santosa Agus Dermawan Agus Trianto Ahmad Rayyis Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo AMANDA, REGINA Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Amtoni Caesario Nainggolan Anggit Puji Muswantoro Anggit Puji Muswantoro Anindya Putri Fadmawati Arif Maa’ruf Al Ayyub Bahry, Muhammad Syaifudien Bambang Yulianto Chika Velita Anindya Yulian Chrisna Adhi Suryono Cintya Pramesthi Dewi Dimas Panji Budi Prasetyo Dinda Ayuniar Zanjabila Diyah Putri Ambarwati Dwi Haryo Ismunarti Dwi Nur Hanifah Eka Mulya Eko Wardana Parsaulian Tampubolon Emia Sayniri Sembiring Emilia Sijabat, Emilia Erick Samuel Frederico Hasibuan Ervia Yudiati Ester Tiurlan Faith Dibri Kimberly Fera Nur Idawati Sahara Fitrianisa Nur Widasari Fitrianisa Nur Widasari Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Ibnu Wardani Ita Widowati Jamaludin Jamaludin Jarot Marwoto Khoirunnisah Riswanti Koesoemadji Koesoemadji Kresna Rangga Darmansyah Ladies Nikita Alamanda Lilik Maslukah Linggar Dirgantara Prasetyo Liningga Adiningtyas Mahadika Fanindhita Sany McCauley, Erin Mimie Saputri Muhammad S. Bahry Murraya Murraya Murraya, Murraya Mutiara Mega Septiningtyas Mutiara Nurul Fajar Utami Nada Kristiani Ginting Nadya Oktavia Nevanda Kusuma Wardani Nirwani Soenardjo Nirwani Soenardjo Nugroho Hendartono Nugroho Hendartono Nur Islamiah Sulastri Nur Taufiq-Spj Nuril Azhar Ocky Karna Radjasa Oetari Kusuma Putri Pramastuti, Fransisca Ria Raden Ario Rayyis, Ahmad Regina Amanda Ria Azizah Tri Nuraini Ria Azizah Trinuraini, Ria Azizah Rima Rosema Rini Pramesti Rizky Budhi Kusuma Rizky Rifatma Jezzi Rizqi Umi Arifah Rudhi Pribadi Sabrina Arifiani Nurtania Sri Redjeki Sri Sedjati Sri Yulina Wulandari Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Susilo Dwi Cahyanti, Susilo Dwi Tampubolon, Eko Wardana Parsaulian Taufiq-Spj, Nur Titik Mariyati Tunas Pulung Pramudya Victorina Yulina Santi Vivian Ayu Cyntya Wardani, Ibnu Widianingsih Widianingsih Wismayanti, Gita Yanuar Sandy Perdana Yanuar Sandy Perdana Yovita Noor Hidayah Yusup Bayu Permadi Yusup Bayu Permadi Zidny Nurfadhli