Endang Supriyantini
Departement Of Marine Science, Faculty Of Fisheries And Marine Sciences Diponegoro University Jl. Prof. H. Soedarto, S.H, Tembalang Semarang. 50275 Telp/fax (024)7474698

Published : 65 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Penambahan Berat, Panjang, dan Lebar dari Ukuran Benih yang Berbeda pada Budidaya Kepiting Soka di Desa Mojo Kabupaten Pemalang Muswantoro, Anggit Puji; Supriyantini, Endang; Djunaedi, Ali
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.713 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v1i1.1995

Abstract

Soka crabs is also called soft-shelled crabs. Soft shell in crab was not because of different type of crab, but it is due to the crab just molted. Events of molting is marked with the release of the old shells and formed newly shells. This molting process produces an increase in body size (Growth). The experiment was conducted in September-October 2011. The research was conducted at Soka crab aquaculture in Mojo village, Ulujami Sub-District, Pemalang District. The method used in this study was field research, by using design random complete with 4 treatment 10 times deut.. Test animals used were the mud crab (Scylla serrata), a total of 40 crabs with initial weight size of 70-110 grams. Test animals were grouped into 4 groups of of weight, which were A (of weight 70-80 grams), B (80.1 to 90 grams), C (90.1 to 100 g) and D (100.1 to 110 grams). Each group of size consisted of 10 crabs. Test containers used were plastic box with a density of 1 individual / box. The results showed that the difference in weight grouping gave results that were not significantly different (p> 0.05) for weight, length and width after molting. Differences in weight grouping also gave different FCR values that were not significantly different (p> 0,05). This was probably due to the grouping of weight used was still relatively narrow. Mangrove crab survival rate level for all groups of size showed an average value of 100% and water quality was quite good and decent for soft-shelled crabs aquaculture.
Kandungan Logam Berat Besi (Fe) Dalam Air, Sedimen Dan Kerang Hijau (Perna viridis) Di Perairan Trimulyo, Semarang Murraya, Murraya; Taufiq-Spj, Nur; Supriyantini, Endang
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.826 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v7i2.25902

Abstract

ABSTRAK : Perairan Trimulyo merupakan salah satu perairan di kota Semarang yang menjadi tempat pembuangan limbah domestik maupun limbah industri dan banyak ditemukan kerang hijau yang masih dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kandungan logam berat besi (Fe) pada air, sedimen dan kerang hijau (P.viridis) dan mengetahui tingkat pencemaran logam besi (Fe) di Perairan Trimulyo, Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 11 Januari 2016 hingga 15 Maret 2016 dengan metode studi kasus. Logam  berat  Fe  dalam  sampel  air, sedimen  dan  kerang  hijau  dianalisis  di  Balai  Besar  Teknologi  Pencegahan Pencemaran  Industri  (BTPPI)  Semarang  dengan  menggunakan  alat  AAS (Atomic Absorption  Spectrophotometry). Konsentrasi logam berat Fe di perairan Trimulyo memiliki nilai yang tidak terdeteksi di setiap stasiun yaitu <0,001 mg/L. Kandungan logam berat Fe pada sedimen berkisar antara 1,96-3,30 mg/kg dan kandungan logam berat Fe pada kerang hijau (P. viridis) berkisar antara 150,93-153,64 mg/kg.  Kandungan logam Fe di perairan belum melewati ambang batas baku mutu menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001, sedangkan sedimen belum melebihi batas batas baku mutu menurut Wisconsin Department of Natural Resources tahun 2003 dan pada kerang hijau (P. viridis) telah melebihi baku mutu menurut Badan Standarisasi Nasional (BSN) tahun 2009: Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 7387 tentang maksimal cemaran logam berat dalam pangan. ABSTRACT : Trimulyo waters is one of the waters in Semarang that becoming domestic and industrial waste sewage and many of green mussels are found and still consumed. The purpose of this study is to determine the content of iron (Fe) in water, sediment and green mussel (P. viridis) and to find out its polution level Trimulyo waters, Semarang. This study was conducted on January 11, 2016 to March 15, 2016 using case study method. Iron (Fe) found in sample of water, sediments and mussels were analyzed in Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BTPPI) Semarang using AAS method (Atomic Absorption Spectrophotometry). Concentration of iron (Fe) in Trimulyo waters has an undetected value on each stations, which is <0.001 mg/L. While in sediment varies from 1.96 to 3.30 mg/kg and 150.93 to 153.64 mg/kg in green mussel (P. viridis). Waters quality in the water column and sediment have not exceed the limit of quality standard according to Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 and the 2003 Wisconsin Department of Natural Resources respectively, while green mussel (P. viridis) has passed the quality standard by Badan Standarisasi Nasional (BSN) tahun 2009: Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 7387 about the maximum contamination amount of heavy metals in food.
Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Air, Sedimen, Dan Kerang Hijau (Perna Viridis) Di Perairan Tanjung Emas Semarang Sijabat, Emilia; Trinuraini, Ria Azizah; Supriyantini, Endang
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.852 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i4.11397

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan dan tingkat pencemaran logam berat Pb pada air, sedimen, dan kerang hijau (Perna viridis) di perairan Tanjung Emas Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 November dan 7 Desember 2013 dengan metode penelitian deskriptif.  Sampel air, sedimen dan kerang hijau dianalisis di Laboratorium menggunakan alat AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). Hasil penelitian kandungan logam berat Pb di setiap titik stasiun menunjukkan pola akumulasi yang sama pada air. Kandungan logam berat Pb pada sedimen dan kerang hijau (Perna viridis) menunjukkan nilai yang bervariasi, terkait dengan sifat dari logam berat yang cenderung mengendap dan terakumulasi dalam organisme. Meskipun demikian variasi faktor lingkungan seperti suhu, salinitas, pH, kecepatan arus dan jenis sedimen juga memberikan kontribusi yang cukup penting. Kandungan Logam berat Pb pada Kerang Hijau (Perna viridis) telah melampaui batas yang diperbolehkan
Pengaruh Nitrat Dan Fosfat dalam Sedimen terhadap Kerapatan Lamun di Jepara Rayyis, Ahmad; Suryono, Suryono; Supriyantini, Endang
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i2.30163

Abstract

Ekosistem lamun memiliki fungsi ekologis sebagai produsen dan habitat biota (tempat pemijahan biota, daerah mencari makan), melindungi dan menstabilkan garis pantai, serta memainkan peran penting dalam siklus dan pemyimpanan nutrien dan karbon. Ketersediaan nutrien di perairan padang lamun berperan dalam faktor pertumbuhan lamun tersebut sehingga efisiensi daur nutrisi dalam sistemnya menjadi sangat penting untuk memelihara produktivitas primer padang lamun. Hasil penelitian menunjukan bahwa kerapatan lamun total di Teluk Awur sebesar 202,55 ind/m2, sedangkan di Pulau Panjang memiliki kerapatan total sebesar 424.36 ind/m2 dengan rata-rata 50,64 ind/m2 dan 85,67 ind/m2 Pulau Panjang memiliki kerapatan yang lebih tinggi dibandingkan di Teluk Awur. Hasil Kandung nitrat dan fosfat pada sedimen di Teluk Awur didapatkan masing-masing dengan rata-rata 7,67 ppm dan 25,61 ppm, sedangkan kandungan nitrat dan fosfat sedimen di Pulau Panjang didapatkan masing-masing dengan rata-rata 6,38 ppm dan 24,44 ppm. Analisis regresi korelasi menunjukan bahwa di Teluk Awur memiliki keeratan korelasi negatif dan kuat antara nitrat sedangkan dengan fosfat memiliki keeratan korelasi positif dan sedang, kemudian pada Pulau Panjang menunjukan hubungan positif yang kuat dan sangat kuat antara nitrat dan fosfat sedimen terhadap kerapatan lamun. The seagrass ecosystem has an ecological function of the seagrass ecosystem as a producer and habitat for biota (spawning grounds for biota, foraging areas), protects and stabilizes shorelines, and plays an important role in cycling and storing nutrients and carbon. The availability of nutrients in the seagrass beds plays a role in the growth factor of the seagrass so that the efficiency of the nutrient cycle in the system is very important to maintain the primary productivity of the seagrass beds.The results showed that the total seagrass density in Teluk Awur was 202.55 ind/m2, while in Panjang Island it had a total density of 424.36 ind/m2 with an average of 50.64 ind/m2 and 85.67 ind/m2. higher density compared to Teluk Awur Results Nitrate and phosphate content in sediments in Teluk Awur were obtained respectively with an average of 7.67 ppm and 25.61 ppm. Meanwhile, the nitrate and phosphate content of sediment in Panjang Island were obtained with an average of 6.38 ppm and 24.44 ppm, respectively. The results of the correlation analysis of the correlation between nitrate and phosphate content of sediments on seagrass density in Teluk Awur have a negative and strong relationship between nitrate while phosphate has a positive and moderate relationship. In Panjang Island, the results of the correlation analysis showed a positive and strong relationship between nitrate, while phosphate had a positive and very strong relationship between sediment and seagrass density.
Kandungan Nitrat dan Fosfat dalam Air Pori Sedimen dan Kolom Air di Daerah Padang Lamun Perairan Pantai Prawean, Bandengan, Jepara Tampubolon, Eko Wardana Parsaulian; Nuraini, Ria Azizah Tri; Supriyantini, Endang
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.28261

Abstract

ABSTRAK : Secara alamiah konsentrasi zat hara dalam perairan bervariasi untuk masing-masing bentuk senyawanya, termasuk nitrat dan fosfat. Lamun berperan penting terhadap sumbangan nutrien di perairan dengan hasil dekomposisi serasah lamun oleh mikroorganisme pengurai. Fungsi sistem lamun terletak pada pemahaman faktor-faktor yang mengatur produksi dan dekomposisi bahan organik serta efisiensi daur nutrisi dalam sistemnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nitrat dan fosfat air pori sedimen dan kolom air serta mengetahui jenis dan jumlah kerapatan lamun yang terdapat di perairan Pantai Prawean Bandengan Jepara. Metode penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Analisa kandungan nitrat menggunakan metode analisis SNI 06-6989.31-2005 dan fosfat menggunakan metode analisis BP2-MU-A-08. Pengamatan lamun menggunakan transek kuadrat 50x50cm menurut panduan LIPI. Kandungan nitrat air pori sedimen berkisar 1,85 – 2,82 mg/l, tergolong sedang. Sedangkan kandungan nitrat kolom air berkisar 0,63 – 1,09 mg/l, tergolong rendah. Kandungan fosfat pada air pori berkisar 0,09 – 0,15 mg/l, tergolong sangat subur. Sedangkan kandungan fosfat kolom air berkisar 0,02 – 0,04 mg/l, tergolong cukup subur. Jenis lamun yang ditemukan pada lokasi penelitian sebanyak 4 spesies yaitu Enhalus accoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea serullata, dan Cymodocea rotundata. Kerapatan lamun tertinggi di stasiun 2 sebanyak 132 tegakan/m2 (rapat) sedangkan stasiun 1 sebanyak 95 tegakan/m2 (agak rapat) dan stasiun 3 sebanyak 123 tegakan/m2 (agak rapat). Lamun jenis Cymodocea serullata memiliki dominansi tertinggi pada setiap stasiun. ABSTRACT : Naturally the concentration of nutrients in the waters varies for eachthe form of its compounds, including nitrates and phosphates. Seagrass plays an important role in the contribution of nutrients in waters with the result of decomposition of  seagrass litter by decomposing microorganisms. The function of the seagrass system lies in understanding the factors that govern the production and decomposition of organic matter and the efficiency of nutrient cycling in the system. This research aims to determine the content of nitrate and phosphate in sediment pore water and water columns in the seagrass beds of Prawean Coast waters Jepara and determine the type and the amount of seagrass density. This research method uses descriptive analysis. Nitrate content analysis using SNI 06-6989.31-2005 and phosphate analysis using BP2-MU-A-08. Seagrass observations using the Transect squared 50x50cm according to the LIPI guidelines. The content of nitrates sediment pore water in the seagrass beds of Prawean Coast ranges from 1,85 to 2,82 mg/l, while the content of nitrate in water column ranges from 0,63 – 1,09 mg/l. The content of phosphate in pore water ranges from 0,09 – 0,15 mg/l, while the phosphate content of the water column ranges from 0,02 to 0,04 mg/l. Four types of seagrass found were Enhalus accoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea serullata, and Cymodocea rotundata. The highest seagrass density at station 2 was 132 stands/m2, while the station 1 was 95 stands/m2 and station 3 was 123 stands/m2. Seagrass type Cymodocea Serullata has the highest dominance at each station.Kata Kunci :   Nitrat, Fosfat, Air Pori Sedimen, Kolom Air, Lamun.
Antibacterial Activities of the Extracts of Sponge-Associated Fungus Trichoderma longibrachiatum against Pathogenic Bacteria Sedjati, Sri; Ambariyanto, Ambariyanto; Trianto, Agus; Supriyantini, Endang; Ridlo, Ali; Bahry, Muhammad Syaifudien; Wismayanti, Gita; Radjasa, ocky Karna; McCauley, Erin
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v15i2.438

Abstract

This study aims to explore the antibacterial potential of a sponge-associated fungus Trichoderma longibrachiatum isolated from Ternate waters, North Maluku, Eastern Indonesia. Various culture media were used to stimulate the production of secondary metabolites in T. longibrachiatum. The isolate was cultured in various media for 6-9 days. Then, the antibacterial activities of the ethyl acetate extracts were assayed against pathogenic bacteria of Multi-Drug Resistant (MDR) strain (Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, and Bacillus cereus). The results showed that all extracts had similar profiles on the thin layer chromatography. However, two of the most potent extracts were produced from the PCA and MEA media for 9 days. These extracts inhibited methicillin-resistant S. aureus (MRSA) (12.48 mm and 12.27 mm); B. cereus (12.11 mm and 12.12 mm); K. pneumoniae (12.40 mm and 10.76 mm); and P. aeruginosa (11.59 mm and 8.69 mm) at concentrations 500 mg/disc. In conclusion, the fungus T. longibrachiatum that was cultured in PCA and MEA media had the potential to produce antibacterial compounds against MDR pathogens and both had similar compounds.  Meanwhile, the  ethyl acetate extracts from fungus cultured in the TPA and TA media were inactive against all tested bacteria
Korelasi Antara Daya Serap Gracilaria sp. Terhadap Konsentrasi Logam Berat Cu di Media Pemeliharaan Amanda, Regina; Nuraini, Ria Azizah Tri; Supriyantini, Endang
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.30732

Abstract

Pencemaran air terhadap lingkungan dapat menyebabkan dampak membahayakan yang dapat dirasakan oleh makhluk hidup. Salah satu logam berat yang sering mencemari air adalah logam berat tembaga (Cu). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan daya serap rumput laut Gracilaria sp. terhadap logam berat Cu dan pertumbuhannya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratoris dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan penambahan konsentrasi Cu, yaitu kontrol (0,54 ppm, sesuai dengan konsentrasi Cu pada air laut), 3 ppm, 6 ppm, 9 ppm dengan 3 kali pengulangan. Pengukuran kandungan logam Cu terhadap Gracilaria sp. dengan menggunakan Atomic Absorpsion Spektofotometri (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan logam berat Cu tertinggi terdapat pada konsentrasi 9 ppm, yaitu sebesar 3,63 ppm dan terendah pada kontrol yaitu sebesar 0,27 ppm.. Pertumbuhan Gracilaria sp. tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol dengan pertambahan berat sebesar 209,2 gram dan  terendah pada konsentrasi 9 ppm, yaitu sebesar 162,9 gram. Semakin tinggi konsentrasi Cu yang diberikan maka semakin rendah pertumbuhan Gracilaria sp. Water pollution to the environment can cause dangerous impacts that can be felt by living things. One of the heavy metals that often pollutes water is the heavy metal copper (Cu). The purpose of this study was to determine the absorption capacity of Gracilaria sp. to the heavy metal Cu and its growth. This study used a laboratory experimental method with a completely randomized design (RAL) using 4 additional treatments of Cu concentration, namely control (0.54 ppm, according to the Cu concentration in seawater), 3 ppm, 6 ppm, 9 ppm with 3 repetitions. Measurement of Cu metal content against Gracilaria sp. by using Atomic Absorption Spectophotometry (AAS). The results showed that the highest absorption of heavy metal Cu was at a concentration of 9 ppm, which was 3.63 ppm and the lowest was 0,27 ppm in control.. The Growth of Gracilaria sp. The highest was found in the control treatment with a weight gain of 209.2 grams and the lowest was at a concentration of 9 ppm, which was 162.9 grams. The higher the concentration of Cu given, the lower the growth of Gracilaria sp. 
Pengaruh Penggunaan Pakan Alami Tetraselmis chuii dan Skeletonema costatum dengan Dosis yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Kerang Totok (Effect of Using Natural Food Tetraselmis chuii and Skeletonema costatum with Different Doses on the Growth of Totok ..) Endang Supriyantini; Dwi Haryo Ismunarti; Ali Ridlo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.472 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.2.81-86

Abstract

Pengetahuan tentang asupan nutrisi yang sesuai untuk kerang totok Polimesoda erosa sangat penting selain untuk meningkatkan kegunaan diet mikroalga juga untuk mengetahui dosis pakan alami Tetraselmis chuii dan Skeletonema costatum yang paling efisien terhadap pertumbuhan kerang totok. Biota yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerang totok ukuran 3-4 cm yang diperoleh dari perairan sekitar P. Gombol, Segara Anakan, Cilacap. Wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 30x30x30 cm dengan volume media 2 liter. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan rancangan acak lengkap, 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu campuran T. chuii 36 x 104 sel/ml dan S. costatum 9 x 104 sel/ml (pakan T1); T. chuii 27 x104 sel/ml dan S. costatum 18 x 104 sel/ml (pakan T2) dan T. chuii 18 x 104sel/ml dan S. costatum 27 x 104 sel/ml (pakan T3). Pakan diberikan sekali sehari, pemeliharaan dilakukan selama 3 bulan. Pengukuran beratyang dilakukan seminggu sekali dan dianalisis Specific Growth Rate (SGR) dan Food Convertion Ratio (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran pakan T. chuii dan S. costatum memberikan pengaruhpertambahan berat yang berbeda nyata (p< 0,05), tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap SGR dan FCR kerang Totok (p > 0,05). Pakan campuran T. chuii 27 x 104 sel/ml dan S. costatum 18 x 104 sel/ml meningkatkan nilai SGR namun mempunyai nilai FC yang besar.Kata kunci: Kerang Totok, Polimesoda erosa, Tetraselmis chuii, Skeletonema costatumKnowledge on ideal feeding dose for kerang totok P. erosa is needed to improved the use of microalgae diet and to investigate the most efficient natural feeding dose of T. chuii and S. costatum on growth of kerang totok (P. erosa). The organism used on this study was Kerang Totok size 3-4 cm which harvested from P. Gombol, Segara Anakan, Cilacap. Experiment was conducted in 30cm x 30cm x 30 cm aquarium filled with 2 liter of water each. A fully randomized design of laboratorium experimental method was applied for the study with three treatment i.e; 36 x 104 cell/ml T. chuii : 9 x 104 cell/ml S. costatum (T1); 27 x 104 cell/ml T. chuii : 18 x 104 cell/ml S. costatum (T2) and 18 x 104cell/ml T. chuii : 27 x 104 cell/ml S. costatum (T3), single feed dose per day at 08.00 WIB for 3 month period. Three replications were set up for each treatment. Parameter measured during the study were weight (weekly measurement), Specific Growth Rate (SGR) and Food Convertion Ratio (FCR). The result showed that feeding dose of T. chuii and S. costatum significantly affect the mean weekly weight gain (p< 0,05) but not to mean of SGR or FCR (p > 0,05). Mixture of 27 x 104 sel/ml T. chuii : 18 x 104 sel/ml S. costatum) tend toincrease the SGR values but give bigger FCR during the study period.Key words: Kerang Totok, Polimesoda erosa, Tetraselmis chuii, Skeletonema costatum
Variasi Konsentrasi Kitosan Dan Lama Pengadukan Terhadap Efektivitas Penyerapan Amoniak Nadya Oktavia; Endang Supriyantini; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.31312

Abstract

Tumpahan minyak mentah di laut akan menimbulkan pencemaran karena memiliki kadar pencemar, salah satunya adalah amoniak. Kitosan merupakan biopolimer alami yang memiliki gugus aktif amina dan hidroksil yang dapat dibentuk sebagai adsorben amonia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas kitosan dalam menyerap amoniak dengan air tercemar minyak mentah di sungai Karawang. Cairan kitosan yang digunakan terdiri dari (kontrol, 0%); (A) 0,3%; (B) 0,6%; (C) 0,9%; (D) 1,2%. Variasi waktu pengadukan yang digunakan adalah 30 menit dan 60 menit dengan kecepatan pengadukan 200 rpm dengan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan variasi konsentrasi kitosan tersebut dapat meningkatkan daya serap kadar amoniak. Penyerapan tertinggi pada waktu pengadukan 30 menit terdapat pada konsentrasi kitosan 0,3% yaitu sebesar 8,709 mg/L dengan daya serap 92, 293 %, dan penyerapan tertinggi pada waktu pengadukan 60 menit terdapat pada konsentrasi kitosan 0,3% yaitu sebesar 8,735 mg/L dengan daya serap 92,566%. Konsentrasi kitosan dan variasi waktu pengadukan yang digunakan dalam penelitian ini berpengaruh nyata terhadap kapasitas dan daya serap terhadap amoniak.  The spills of crude oil on the ocean will cause pollution because it has pollutant levels, one of them is ammonia. Chitosan is a natural biopolymer which has got active group of amine and hydroxyl , they  can be formed as ammonia adsorbents. The purpose of this research is to find out the effectiveness of chitosan in absorbing the ammonia with crude oil contamined water in Karawang river. The liquid  of chitosan which is used consists of (Control, 0%); (A) 0.3%; (B) 0.6%; (C) 0.9%; (D) 1.2%. The variation of Stirring time that is used was 30 minutes and 60 minutes with a stirring speed of 200 rpm with 3 repetitions. The results showed that the treatment with those variation in the concentration of chitosan can increase the absorption capacity of ammonia levels. The highest absorption at the stirring time of 30 minutes was found at the concentration of 0,3 %,which was 8,709 mg/L with an absorption capacity of 92,293 %, while the highest absorption  at the stirring time of 60 minutes was found at the concentration of 0.3% chitosan which was 8,735 mg/L with 92,566 % absorption. The concentration of chitosan and the variation of stirring time used in this study significantly affected the capacity and absorption of ammonia.
Pertumbuhan dan Kandungan Lutein Dunaliella salina pada Salinitas yang Berbeda Faith Dibri Kimberly; Endang Supriyantini; Sri Sedjati
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.529 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.20839

Abstract

Dunaliella salina adalah salah satu mikroalga yang mengandung pigmen lutein. Lutein memiliki manfaat sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas pada mata. Pertumbuhan mikroalga dipengaruhi oleh berbagai macam faktor lingkungan, salah satunya adalah salinitas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan salinitas terbaik guna mengoptimalkan pertumbuhan dan produksi pigmen lutein pada D. salina. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratoris. Mikroalga D. salina dikultivasi dengan lima perlakuan salinitas yang berbeda yaitu 20, 25, 30, 35, dan 40 ppt. Pertumbuhan sel D. salina diamati selama 9 x 24 jam kemudian dipanen untuk perhitungan biomassanya. Biomassa basah hasil kultivasi diekstraksi menggunakan pelarut aseton. Ekstrak aseton D. salina kemudian dianalisis kandungan pigmen luteinnya secara spektrofotometrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan salinitas berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan sel dan kandungan pigmen lutein D. salina. Pertumbuhan sel D. salina optimum pada perlakuan salinitas 30 ppt,yaitu sebesar 125,86 x 104 sel/mL, sedangkan untuk kandungan pigmen lutein     D. salina diproduksi optimum pada salinitas 25 ppt, yaitu sebesar 0,0077 µg/g. Dunaliella salina is a microalga containing lutein pigment. Lutein has the role of being an antioxidant to fight free radicals in the eye. Microalgae growth is influenced by a variety of environmental factors,  such as salinity. The purpose of this research is to determine the best salinity to optimize the growth and production of lutein pigments in D. salina. The method used in this research was a laboratory experiment. Microalgae D.salina was cultivated with five different salinity treatments, which 20, 25, 30, 35, and 40 ppt. Growth of D. salina cells was observed for 9 x 24 hours and then harvested for the biomass determination. The wet biomass from the cultivation results was extracted using acetone solvent. D. salina acetone extract was then analyzed for its lutein pigment content spectrophotometrically. The results showed that salinity treatment had a significant effect on cell growth and pigment content of lutein D. salina. The optimum growth of D. salina cell is optimally achieved in 30 ppt salinity treatment at the amount of 125,86 x 104 cell/mL, while for the lutein pigment content of D. salina is optimally achieved in 25 ppt salinity at the amount of 0,0077 µg/g.
Co-Authors Ade Kurniawan Ade Kurniawan Adi Santosa Agus Dermawan Agus Trianto Ahmad Rayyis Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo AMANDA, REGINA Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Amtoni Caesario Nainggolan Anggit Puji Muswantoro Anggit Puji Muswantoro Anindya Putri Fadmawati Arif Maa’ruf Al Ayyub Bahry, Muhammad Syaifudien Bambang Yulianto Chika Velita Anindya Yulian Chrisna Adhi Suryono Cintya Pramesthi Dewi Dimas Panji Budi Prasetyo Dinda Ayuniar Zanjabila Diyah Putri Ambarwati Dwi Haryo Ismunarti Dwi Nur Hanifah Eka Mulya Eko Wardana Parsaulian Tampubolon Emia Sayniri Sembiring Emilia Sijabat, Emilia Erick Samuel Frederico Hasibuan Ervia Yudiati Ester Tiurlan Faith Dibri Kimberly Fera Nur Idawati Sahara Fitrianisa Nur Widasari Fitrianisa Nur Widasari Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Ibnu Wardani Ita Widowati Jamaludin Jamaludin Jarot Marwoto Khoirunnisah Riswanti Koesoemadji Koesoemadji Kresna Rangga Darmansyah Ladies Nikita Alamanda Lilik Maslukah Linggar Dirgantara Prasetyo Liningga Adiningtyas Mahadika Fanindhita Sany McCauley, Erin Mimie Saputri Muhammad S. Bahry Murraya Murraya Murraya, Murraya Mutiara Mega Septiningtyas Mutiara Nurul Fajar Utami Nada Kristiani Ginting Nadya Oktavia Nevanda Kusuma Wardani Nirwani Soenardjo Nirwani Soenardjo Nugroho Hendartono Nugroho Hendartono Nur Islamiah Sulastri Nur Taufiq-Spj Nuril Azhar Ocky Karna Radjasa Oetari Kusuma Putri Pramastuti, Fransisca Ria Raden Ario Rayyis, Ahmad Regina Amanda Ria Azizah Tri Nuraini Ria Azizah Trinuraini, Ria Azizah Rima Rosema Rini Pramesti Rizky Budhi Kusuma Rizky Rifatma Jezzi Rizqi Umi Arifah Rudhi Pribadi Sabrina Arifiani Nurtania Sri Redjeki Sri Sedjati Sri Yulina Wulandari Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Susilo Dwi Cahyanti, Susilo Dwi Tampubolon, Eko Wardana Parsaulian Taufiq-Spj, Nur Titik Mariyati Tunas Pulung Pramudya Victorina Yulina Santi Vivian Ayu Cyntya Wardani, Ibnu Widianingsih Widianingsih Wismayanti, Gita Yanuar Sandy Perdana Yanuar Sandy Perdana Yovita Noor Hidayah Yusup Bayu Permadi Yusup Bayu Permadi Zidny Nurfadhli