Endang Supriyantini
Departement Of Marine Science, Faculty Of Fisheries And Marine Sciences Diponegoro University Jl. Prof. H. Soedarto, S.H, Tembalang Semarang. 50275 Telp/fax (024)7474698

Published : 65 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Cahaya Terhadap Produksi Fukosantin Chaetoceros calcitrans (Paulsen) Takano 1968 (Bacillariophyceae: Chaetocerotaceae) Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Ali Ridlo; Ervia Yudiati; Linggar Dirgantara Prasetyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.617 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.5633

Abstract

Fucoxanthin is a pigment of the carotenoid group that can be used in the food and human health. The demand for natural carotenoid in the global market is quite high for food nutrition, food colorant, medicine, and cosmetic. Chaetoceros calcitrans included sea diatom rich in carotenoid, mainly fucoxanthin. This research aim  is to optimize C. calcitrans cultivation using different light intensity treatment to create high fucoxanthin quantity. Light intensity treatment consisted of 4 levels : 1.000, 1.500, 2.000, and 2.500 lx with 2 replications. The culture process was done in medium-scale (60 L) for 14 days, enriched with diatom’s fertilizer, vitamin B, silica at  temperature 25-27oC, salinity 32-33‰, pH 8-8,5, and DO 7-9 mg/g. Biomass and pigments were harvested in stationer phase, two days after the peak of logarithmic growth. Pigments analysis used Spektrofotometry method, absorbance values were measured in wavelengths 445, 632, 649, 663, 665, and 696 nm. The results showed that light intensity treatment was not significant in biomass weight (p=0,06), but it is very significant to cells density (p=0,01) and fucoxanthin production (p=0,01).  In conclusion, the light intensity of 2.500 lx was effective to  obtain the highest fucoxanthin  at the amount of 10,13 ±1,62 mg dw with productivity at  0,17±0,03 mg/g culture media. The increase of light intensity correlated positively with the increase of fucoxanthin production with regression equation  y = 0,006x-4,938 (r = 0,96). The increase in light intensity reaching 2500 lx in Chaetoceros calcitrans culture is proven can accelerate fucoxanthin biosynthesis, therefore the method can be applied to increase its  production. Fukosantin merupakan salah satu karotenoid yang bermanfaat dalam bidang pangan dan kesehatan manusia. Permintaan karotenoid alami di pasar global besar sekali untuk berbagai kegunaan dalam bidang nutrisi makanan, pewarna makanan, obat-obatan, dan kosmetik. Chaetoceros calcitrans  termasuk diatom laut yang kaya karotenoid, terutama fukosantin. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi kultur C. calcitrans dengan menggunakan perlakuan intensitas cahaya berbeda agar memproduksi fukosantin yang tinggi. Perlakuan intensitas cahaya terdiri dari 4 taraf : 1.000, 1.500, 2.000, dan 2.500 lx dengan 2 kali ulangan.  Kultur dilakukan dalam skala medium (60 L) selama 14 hari, diperkaya dengan pupuk diatom, vitamin B, silikat pada suhu 25-27oC, salinitas 32-33‰, pH 8-8,5, dan DO 7-9 mg/g.   Pemanenan biomassa dilakukan saat fase stasioner, yaitu 2 hari setelah puncak logaritmik.  Analisis pigmen menggunakan metode Spektrofotometri, nilai absorbansi diukur pada panjang gelombang 445, 632, 649, 663, 665, dan 696 nm.  Hasil penelitian membuktikan bahwa perlakuan intensitas cahaya tidak berpengaruh nyata (p=0,06) terhadap berat biomassa, tetapi sangat berpengaruh nyata terhadap kepadatan sel (p=0,01) dan produksi fukosantin (p=0,01). Pemberian intensitas cahaya 2.500 lx menghasilkan produksi fukosantin tertinggi, yaitu sebesar 10,13 ±1,62 mg dw dengan produktivitas sebesar 0,17±0,03 mg/g media kultur. Kenaikan intensitas cahaya berkorelasi positif dengan kenaikan produksi fukosantin dengan persamaan regresi  y = 0,006x - 4,938 (r = 0,96).  Peningkatan intensitas cahaya sampai 2500 lx  pada kultur Chaetoceros calcitrans terbukti dapat memacu biosintesis  fukosantin, sehingga metode tersebut  bisa diaplikasikan untuk menaiknya produksinya.
Akumulasi logam Pb pada Air, Sedimen, dan Kerang Hijau (Perna viridis) di Perairan Tambak Lorok serta Analisis Batas Aman Konsumsi untuk Manusia Rizky Budhi Kusuma; Endang Supriyantini; Munasik Munasik
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.31781

Abstract

Tambak Lorok merupakan salah satu wilayah di Semarang yang dikelilingi oleh berbagai industri. Tambak Lorok juga menjadi kawasan pemukiman nelayan serta menjadi pusat penjualan hasil laut dengan adanya TPI Tambak Lorok. Limbah buangan industri dan rumah tangga di sekitar Tambak Lorok diduga menyebabkan terjadinya pencemaran logam berat timbal (Pb) di perairan yang tentunya dapat mempengaruhi organisme laut seperti kerang hijau (Perna viridis). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan logam berat Pb pada air, sedimen dan kerang hijau (Perna viridis) di Perairan Tambak Lorok, Semarang serta mengetahui hubungannya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Maret 2021 dengan metode penelitian eksploratif kuantitatif. Analisis kandungan logam berat timbal (Pb) pada air, sedimen dan kerang hijau dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil menunjukkan bahwa kandungan logam berat Pb Nilai determinasi (R2) kandungan logam berat timbal (Pb) dalam sedimen di Perairan Tambak Lorok yaitu R2 = 0,40 dan pada air yaitu R2 = 0,07. Hasil analisis korelasi menunjukkan tingkat keeratan hubungan yang kuat yaitu dengan nilai r = 0,63, sedangkan pada air terhadap kerang hijau (P. viridis) menunujukkan tingkat keeratan hubungan yang lemah dengan nilai r = 0,26.    Tambak Lorok is one of the areas in Semarang which is surrounded by various industries. Tambak Lorok is also a residential area for fishermen and a center for selling marine products with the Tambak Lorok TPI. Industrial and household effluents around Tambak Lorok are suspected of causing heavy metal lead (Pb) pollution in the waters which of course can affect marine organisms such as green mussels (Perna viridis). This study aims to analyze the heavy metal content of Pb in water, sediment and green mussels (Perna viridis) in Tambak Lorok Waters, Semarang and to determine the relationship. This research was conducted in January – March 2021 with explorative quantitative research methods. Analysis of the heavy metal content of lead (Pb) in water, sediment and green mussels was carried out at the Environmental Engineering Laboratory of Diponegoro University using the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) method. The results showed that the heavy metal content of Pb The determination value (R2) of the heavy metal content of lead (Pb) in the sediment in Tambak Lorok waters was R2 = 0.40 and in the water was R2 = 0.07. The results of the correlation analysis showed a strong level of a close relationship with a value of r = 0.63, while in water to green mussels (P. viridis) it showed a weak level of a close relationship with a value of r = 0.26.
Karakteristik Biofilm Komposit CMC- Gliserol-Alginat dari Sargassum sp pada Perlakuan dengan Kalsium Klorida Ali Ridlo; Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Oetari Kusuma Putri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13773

Abstract

Bioplastics are plastics made from renewable raw materials such as polysaccharides, proteins and lipids. One of the alternative sources of bioplastic raw materials is hydrocolloid from seaweed, which is abundantly available in Indonesia, so that this hydrocolloid-based bioplastic is very prospective to be developed, and can increase the added value of seaweed. The physical and mechanical properties of alginate bioplastics can be improved by combining them with other materials into biocomposite materials that have superior properties and meet specifications. This study aims to determine the effect of calcium chloride (CaCl2) on the physical and mechanical properties of the CMC-Glycerol-Alginate composite bioplastic from Sargassum sp. Bioplastics were made by mixing 0.5 g of alginate flour, added CMC (1.5 g), and 100 ml of distilled water, then stirred with a magnetic stirrer for 10 minutes at 90oC. After that, the temperature was lowered to 40oC and 5 ml of glycerol was added and then homogenized again for 15 minutes. The mixture was filtered and then poured into a glass mold and the surface was leveled using a stainless steel cylinder, then dried in an oven at 80oC for 12 hours. After that the bioplastic is released from the glass plate. In the soaking method, the bioplastic sheets were immersed in a 2% CaCl¬2 solution for 5 minutes, then dried and stored in a desiccator. In the mixing method, 1 gram of CaCl¬2 was put directly into the alginate-CMC-glycerol mixture and homogenized with a magnetic stirrer at 90oC for 15 minutes, then printed on a glass plate, then dried at 100oC for 12 hours. CaCl2 treatment by mixing and soaking decreased elongation, tensile strength, biodegradability and transparency, but increased water resistance and thickness of the alginate-CMC-glycerol composite bioplastic, and changed the surface properties of the bioplastic to be rougher. No new functional groups were formed due to the interaction between alginate, CMC, glycerol, distilled water and CaCl2.  Bioplastik adalah plastik yang dibuat dari bahan baku terbarukan seperti polisakarida, protein dan lipida. Salah satu alternatif sumber bahan baku bioplastik adalah hidrokoloid dari rumput laut yang tersedia melimpah di Indonesia, sehingga bioplastik berbahan hidrokoloid ini sangat prospektif untuk dikembangkan, serta dapat meningkatkan nilai tambah rumput laut.Sifat fisik dan mekanik bioplastik alginat dapat ditingkatkan dengan cara dikombinasi dengan bahan lain menjadi material biokomposit yang memiliki sifat unggul dan memenuhi spesifikasi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kalsium klorida (CaCl2) terhadap sifat fisik dan mekanik bioplastik komposit CMC- Gliserol-Alginat dari Sargassum sp.Bioplastik dibuat mdengan mencampurkan tepung alginat sebanyak 0,5 g ditambahkan CMC ( 1,5 g), dan akuades 100 ml, lalu diaduk dengan magnetic stirrer selama 10 menit pada suhu 90oC. Setelah itu, suhu diturunkan sampai 40oC dan ditambahkan gliserol 5 ml lalu dihomogenkan lagi selama 15 menit. Campuran disaring lalu dituang dalam cetakan kaca dan diratakan permukaannya menggunakan silinder stainless steel, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 80oC selama 12 jam. Setelah itu bioplastik dilepaskan dari pelat kaca. Pada metoda soaking lembaran bioplastik direndam dalam larutan CaCl­2 2% selama 5 menit, lalu dikeringkan dan disimpan dalam desikator. Pada metoda mixing, CaCl­2 sebanyak 1 gram dimasukkan langsung ke dalam campuran alginat-CMC-gliserol dan dihomogenkan dengan magnetic stirrer pada suhu 90oC selama 15 menit, lalu dicetak dalam pelat kaca, lalu dikeringkan pada suhu 100oC selama 12 jam. Perlakuan CaCl2 dengan cara mixing dan soaking menurunkan elongasi, kuat tarik, biodegradabilitas dan transparansi, tetapi meningkatkan ketahanan air dan ketebalan bioplastik komposit alginat-CMC-gliserol, serta mengubah sifat permukaan bioplastik menjadi lebih kasar. Tidak terdapat gugus fungsi baru yang terbentuk akibat interaksi antara alginat, CMC, gliserol, akuades dan CaCl2.
Sebaran Horizontal Konsentrasi Nitrat Dan Fosfat Anorganik Di Perairan Muara Sungai Kendal Kabupaten Kendal Dwi Nur Hanifah; Sri Yulina Wulandari; Lilik Maslukah; Endang Supriyantini
Journal of Tropical Marine Science Vol 1 No 1 (2018): Journal of Tropical Marine Science
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.501 KB) | DOI: 10.33019/jour.trop.mar.sci.v1i1.654

Abstract

Muara sungai Kendal banyak dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas masyarakat seperti pemukiman penduduk, industri, pertambakan dan Tempat Pelelangan Ikan. Aktivitas masyarat di sekitar sungai Kendal akan mempengaruhi kondisi perairan di muara sungai Kendal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2017. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran konsentrasi nitrat dan fosfat anorganik secara horizontal di permukaan perairan muara sungai Kendal. Pengambilan sampel dilakukan pada 12 stasiun menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan dapat mewakili wilayah muara sungai, dekat pantai, wilayah transisi dan laut. Data utama meliputi konsentrasi nitrat dan fosfat. Data pendukung meliputi suhu, salinitas, DO, pH dan kecerahan yang diukur secara langsung di lapangan, serta data yang diperoleh dari berbagai instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat dan fosfat semakin menurun menuju laut. Konsentrasi nitrat berkisar 2,1172 – 3,2459 µmol/l dan konsentrasi fosfat berkisar 0,1699 – 1,0437 µmol/l. Pola sebaran konsentrasi nitrat dan fosfat tidak mengikuti pola arus. The estuary of Kendal is widely used for various activities such as residential, industrial, fishpond and fish auction places. Activity around the Kendal river will affect the conditions at the estuary of Kendal. This research was conducted in November 2017. The purpose of this research was to know the distribution of nitrate and inorganic phosphate concentration horizontally at surface of estuary Kendal. Sampling was conducted on 12 stations used purposive sampling method with consideration to represent the estuary, near shore, transition area and the sea. The Primary data included nitrate and phosphate concentrations. Supporting data included temperature, salinity, DO, pH and brightness measured directly in the field, as well as data obtained from various related agencies. The results showed that the concentration of nitrate and phosphate decreased toward the sea. Nitrate concentrations ranged from 2.1172 – 3.2459 µmol/l and phosphate concentrations ranged from 0.1699 – 1.0437 µmol/l. The distribution pattern of nitrate and phospate concentration did not follow the current pattern.
Pertumbuhan Rumput Laut Gracilaria sp. Dengan Rasio N:P Yang Berbeda Vivian Ayu Cyntya; Gunawan Widi Santosa; Endang Supriyantini; Sri Yulina Wulandari
Journal of Tropical Marine Science Vol 1 No 1 (2018): Journal of Tropical Marine Science
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.796 KB) | DOI: 10.33019/jour.trop.mar.sci.v1i1.655

Abstract

Rumput laut merupakan tumbuhan yang tidak dapat dibedakan antara akar, batang dan daun, sehingga seluruh bagian tubuhnya disebut dengan thallus. Rumput laut Gracilaria sp. merupakan salah satu sumber daya laut yang mudah dibudidayakan, mempunyai nilai ekomonis penting dan mempunyai prospek pasar yang cerah, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Usaha budidaya rumput laut Gracilaria sp. perlu dilakukan guna meningkatkan produksinya. Rumput laut Gracilaria sp. memerlukan N dan P sebagai unsur hara makro yang digunakan untuk pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan rasio N:P yang berbeda terhadap laju pertumbuhan Gracilaria sp. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini menggunakan 3 perlakuan dan 1 kontrol, yang masing-masing ada 3 ulangan. Media pemeliharaan menggunakan air laut yang ditambah N:P dengan rasio yang berbeda, yaitu : A (Kontrol), B (6:1), C (6:2), D (6:3). Pencapaian berat rerata Gracilaria sp. selama 28 hari adalah sebagai berikut : A = 102,06 ± 0,04 g; B = 103,41 ± 0,57 g; C = 106,53 ± 0,66 g dan D = 108,28 ± 1,25 g. Pertumbuhan mutlak Gracilaria sp. yang dihasilkan selama penelitian adalah sebagai berikut : A = 2,06 ± 0,04 g;B = 3,41 ± 0,57 g; C = 6,53 ± 0,66 g; D = 8,28 ± 1,25 g. Laju pertumbuhan spesifik Gracilaria sp. yang dihasilkan selama penelitian, yaitu : A sebesar 0,07 ± 0,00 % berat (g) per hari; B sebesar 0,12 ± 0,02 % berat (g) per hari; C sebesar 0,23 ± 0,02 % berat (g) per hari dan D sebesar 0,28 ± 0,04 % berat (g) per hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan N:P dengan rasio yang berbeda berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik Gracilaria sp. (p < 0,01). Semakin tinggi konsentrasi rasio N:P dapat meningkatkan total biomassa dan laju pertumbuhan spesifik. Seaweed is a plant which can not be distinguished between true roots, stalks and leaves, therefore its entire body is called a thallus. Gracilaria sp. is a seaweed which is relatively easy to cultivate, has high economical value and bright marketing prospect either in domestic or foreign markets. The effort to cultivate Gracilaria sp. needs to be done in order to increase the production. Seaweed Gracilaria sp. needs N and P as important macronutrients for its growth. This research aims to discover the effect of adding different N:P ratio towards Gracilaria sp. growth rate. The method used in this research was an experimental method with Completely Randomized Design. This research used three treatments and one control, each with three repetitions. The cultivation media was seawater with the addition of different N:P ratios, which were: A (Control), B (6:1), C (6:2) and D (6:3). The average weight of Gracilaria sp. for 28 days were as follows: A = 102,06 ± 0,04 g; B = 103,41 ± 0,57 g; C = 106,53 ± 0,66 g and D = 108,28 ± 1,25 g. The absolute growth of Gracilaria sp. during this research were: A = 2,06 ± 0,04 g;B = 3,41 ± 0,57 g; C = 6,53 ± 0,66 g; D = 8,28 ± 1,25 g. The specific growth rate for Gracilaria sp. during this research were: A = 0,07 ± 0,00 % weight (g) per day; B = 0,12 ± 0,02 % weight (g) per day; C = 0,23 ± 0,02 % weight (g) per day and D = 0,28 ± 0,04 % weight (g) per day. The result of this research showed that the addition of different N:P ratios caused a significant effect on the absolute growth and the spesific growth rate of Gracilaria sp. (p < 0,01). The higher concentratrion ratio of N:P given the higher either total biomassa and specific growth rate achieved.
Analisis Aspek Reproduksi Kepiting Bakau (Scylla sp.) Di Perairan Kendal, Jawa Tengah Ester Tiurlan; Ali Djunaedi; Endang Supriyantini
Journal of Tropical Marine Science Vol 2 No 1 (2019): Journal of Tropical Marine Science
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.313 KB) | DOI: 10.33019/jour.trop.mar.sci.v2i1.911

Abstract

Kepiting bakau Scylla sp. merupakan salah satu biota laut yang mempunyai nilai ekonomis penting. Penyebarannya hampir di seluruh kawasan pesisir Indonesia, yang memiliki ekosistem mangrove termasuk di perairan Kendal. Banyaknya penangkapan kepiting bakau tanpa memperhatikan ukuran yang layak tangkap. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk memperoleh beberapa aspek reproduksi kepiting bakau Scylla sp. di perairan Kendal, Jawa Tengah. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Februari–Maret 2017, dua minggu sekali selama dua bulan di perairan Kendal, Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif eksploratif dengan parameter pendukung seperti suhu, salinitas, pH, dan DO. Materi yang digunakan adalah kepiting bakau Scylla sp. Analisis yang digunakan untuk menghitung perbandingan jumlah kepiting bakau jantan dan betina adalah uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi ukuran kepiting bakau mempunyai lebar karapas 81-130 mm, berat 100-350 gram dengan ukuran rata-rata yang tertangkap 99,62 mm, perbandingan jantan dan betinanya 1:2,09. Hubungan lebar karapas dengan berat menunjukkan sifat allometrik positif. Faktor kondisi yang didapatkan adalah 1,0185. Tingkat kematangan gonad kepiting bakau di dominasi oleh TKG II, nilai indeks kematangan gonad pada kepiting bakau betina berkisar antara 6,84% - 18,49%. Tingkat kematangan gonad yang di dominasi oleh TKG II dikarenakan di lokasi penelitian tidak sedang masa pemijahan. Mangrove crab (Scylla sp.) is one of the marine biota that it has value economically important. It spreads in almost all over coastal areas of Indonesia, which has the mangrove ecosystem. Mangrove crab has a high nutritional value. Thus, encouraging people in Kendal to consume a large amount of mangrove crab and reach the local market demand.This led to the occurrence of a lot of mangrove crab catching regardless of the size of the catch.Therefore, this study was conducted to obtain some of reproduction aspects of Scylla sp. in the Kendal waters, Central Java. Sampling was conducted in February-March 2017,every two weeks in two months in Kendal waters, Central Java. The method used in this research was descriptive explorative method with supporting parameters such as temperature, salinity, pH, and DO. The used material was mangrove crab (Scylla sp.). Chi square test was used to analyze and calculate the ratio of male and female mangrove crabs. The results showed that the size composition of mangrove crab had a carbide width of 71-130 mm, weight of 100-350 grams, with average size captured was 99.62 mm, male and female ratio of 1: 2.09. The Relations between width and weight of caparace indicated negative allometric properties. The obtained condition factor was 1.0184767. Maturity level of mangrove crab gonad was dominated by TKG II, gonad index maturity value on female mangrove crab ranged between 6.84% - 18.49%. The maturity level of gonad was dominated by TKG IIbecause the research location was not in the spawning period.
Pengaruh Konsentrasi Pupuk Walne Terhadap Laju Pertumbuhan dan Kandungan Klorofil-a Tetraselmis chuii Nevanda Kusuma Wardani; Endang Supriyantini; Gunawan Widi Santosa
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.31732

Abstract

Walne merupakan media sintetis yang sering digunakan sebagai media kultur mikroalgae.  Pupuk Walne sudah cukup memenuhi kebutuhan nutrien bagi mikroalgae kultur jika dibandingkan denga pupuk organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dan kandungan klorofil-a mikroalga Tetraselmis chuii pada kultur dengan perbedaan konsentrasi pupuk Walne. Materi yang digunakan adalah mikroalga Tetraselmis chuii dan pupuk Walne yang diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Metode penelitian ini adalah percobaan di laboratorium (experimental laboratory). Perlakuan yang diberikan adalah dengan pemberian konsentrasi pupuk Walne yang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga taraf perlakuan, yaitu 1 mL/L, 1,5 mL/L dan 2 mL/L. Puncak kepadatan sel dari konsentrasi 1 mL/L dan konsentrasi 1,5 mL/L terjadi pada hari ke-9, dengan jumlah sel 259,25×104 sel/mL dan 323,50×104 sel/mL, sedangkan konsentrasi 2 mL/L mengalami puncak kepadatan pada hari ke-12 dengan jumlah sel 194,58 × 104  sel/mL. Pemberian pupuk Walne 1,5 mL/L menghasilkan nilai tertinggi untuk laju pertumbuhan spesifik dan klorofil-a T. chuii. Nilai laju pertumbuhan spesifik tertinggi adalah 0,38 sel/mL/hari dengan kandungan klorofil-a T. chuii sebesar 2,392 mg/g biomassa basah. Hasil uji ANOVA dari data laju pertumbuhan spesifik dan kandungan klorofil-a menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan (p≥0,05). Konsentrasi yang bisa untuk meningkatkan laju pertumbuhan dan kandungan klorofil-a adalah konsentrasi 1,5 mL/L.  Walne is a synthetic medium that is often used as a microalgae culture medium. Walne fertilizers already supply a complete nutritional needs for microalgae cultivation when compared to organic fertilizer. This study aims to determine the growth rate and content of chlorophyll-a microalgae Tetraselmis chuii in cultures with different concentrations of Walne fertilizer. The materials used were Tetraselmis chuii and Walne fertilizer obtained from Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. This research is using experimental laboratory method. The treatment given was to differentiate Walne fertilizer concentration. This study used a completely randomized design (RAL) three levels treatment, which is 1 mL/L, 1.5 mL/L and 2 mL/L. The peak of cell density from concentration 1 mL/L and concentration 1.5 mL/L occurred on day 9, with a cell number of 259.25×104 cells/mL and 323.50 × 104 cells/mL, while concentration 2 mL/L experienced a cell density peak on day 12 with a cell number of 194.58 × 104 cells/mL. The application of 1.5 mL/L Walne fertilizer resulted in the highest values for the specific growth rate and chlorophyll-a of T. chuii. The highest specific growth rate value is 0.38 cell/mL/day with the chlorophyll-a content of T. chuii is 2.392 mg / g of wet biomass. The ANOVA test results from the growth rate and chloropyll-a content showed that there were no significant differences (p≥0.05). The concentration that can increase the growth rate and chlorophyll-a content is a concentration of 1.5 mL/L.  
Flokulasi Mikroalga Nannochloropsis oculata Menggunakan Kitosan dan pengoptimalan pH Emia Sayniri Sembiring; Widianingsih Widianingsih; Endang Supriyantini
Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i4.36241

Abstract

N. oculata merupakan salah satu jenis mikroalga yang memiliki kandungan nutisi yang tinggi seperti karbohidrat, protein, lipid, dan asam amino, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel, sebagai suplemen pakan ternak, dll. N. oculata memiliki ukuran sel yang sangat kecil yakni berkisar 2-8 µm dan sulit mengendap. Faktor tersebut membuat N. oculata menjadi sulit untuk dipanen. Salah satu cara yang efisien untuk pemanenan mikroalga tersebut adalah metode flokulasi dan pengoptimalan pH. Bahan flokulan yang digunakan adalah kitosan. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efektivitas konsentrasi kitosan untuk flokulasi N. oculata. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium, dan rancangan yang digunakan adalah rancangan faktorial dua faktor (Kitosan dan pH). Tahapan pelaksanaan penelitian dimulai dari kultur N. oculata pada wadah toples kaca selama 6 hari, diikuti dengan flokulasi, dan pengumpulan data, dan analisis data. Penelitian menggunakan dua perlakuan, yakni kitosan dan optimalisasi pH. Perlakuan dikelompokkan menjadi tiga konsentrasi diantaranya adalah 15, 20, dan 25 ppm masing-masing 3 kali pengulangan, sedangkan pH akhir yang digunakan adalah 10. Ketika flokulasi berlangsung sampel diambil pada menit ke 0, 20, dan 40 untuk mengukur efisiensi flokulasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa flokulasi N. oculata menggunakan kitosan dan optimalisasi pH merupakan metode yang efektif dan mudah diterapkan, dimana hasil efisiensi flokulasi yang diperoleh telah mendekati 100% yang berarti flokulasi berhasil dilakukan. Rata-rata nilai efisiensi flokulasi sampel konsentrasi kitosan 15 ppm adalah 85,27%, konsentrasi kitosan 20 ppm adalah 99,17%, dan konsentrasi kitosan 25 ppm adalah 99,99%.   N. oculata is one type of microalgae that has high nutrients, involved carbohydrates, protein, lipids and amino acids, so it is widely used as raw material for biodiesel, as a supplement to animal feed, etc. N. oculata has a very small cell size ranging from 2-8 µm and is difficult to settle. These factors make it difficult for N. oculata to be harvested. One of the efficient ways to harvest microalgae is the method of flocculation and pH optimization. The flocculant material used is chitosan. Thus, this study aims to study the effectiveness of chitosan concentration for N. oculata flocculation. The method used was a laboratory experiment, with a two-factor factorial design as the research design. The stages of the research began with the culture of N. oculata in a glass jar for 6 days, followed by flocculation, data collection, and data analysis. This study used two treatments, namely chitosan and pH optimization. The treatments were grouped into three concentrations including 15, 20, 25 ppm and  each with 3 repetitions, while the final pH used was 10. During the flocculation process, samples were taken at 0, 20, and 40 minutes to measure the flocculation efficiency. The results showed that N. oculata flocculation using chitosan and pH optimization were effective and easy to apply methods, where the flocculation efficiency results obtained were close to 100%, which means that the flocculation was successful. The average value of the flocculation efficiency of the 15 ppm chitosan was 85.27%, the 20 ppm chitosan was 99.17%, and the 25 ppm chitosan was 99.99%. 
Kelimpahan Bivalvia di Muara Sungai Tuntang Morodemak Berdasarkan Kandungan Bahan Organik dan Fraksi Sedimen Mutiara Mega Septiningtyas; Endang Supriyantini; Rudhi Pribadi
Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i4.34045

Abstract

Aktivitas manusia yang dilakukan disekitar wilayah Perairan Morodemak akan memberikan sumbangan terbesar terhadap kandungan bahan organik dan akan berpengaruh terhadap kondisi ekologis perairan. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui fraksi sedimen dan kandungan bahan organik serta kelimpahan bivalvia di Muara Sungai Tuntang Morodemak. Metode penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif. Terdapat tiga stasiun dalam pengambilan sampel yang ditentukan secara purposive. Hasil fraksi sedimen didominasi oleh pasir (sand) berkisar antara 99,9%. Kandungan bahan organik sedimen diperoleh rata – rata sebesar 5,8% yang termasuk dalam kriteria rendah. Kelimpahan relatif tertinggi dimiliki spesies Perna viridis sebesar 78,3 ind/m2 dan kelimpahan relatif terendah dimiliki spesies Anadara granosa sebesar 21,7 ind/m2. Nilai indeks keanekaragaman (H’) dan nilai indeks keseragaman (E) tergolong dalam kriteria rendah. Hubungan kandungan bahan organik sedimen dengan kelimpahan bivalvia diperoleh nilai korelasi positif sebesar 0,99. Hal tersebut berarti terdapat hubungan yang sempurna/sangat tinggi, dimana keberadaan bahan organik pada sedimen mendukung keberlangsungan hidup bivalvia. Hubungan fraksi sedimen pasir dengan kelimpahan bivalvia diperoleh nilai korelasi negatif sebesar -0,55. Hal tersebut berarti terdapat hubungan yang rendah/lemah, dimana fraksi sedimen pasir mengalami penurunan maka kelimpahan bivalvia juga akan menurun. Human activities carried out around the Morodemak waters largely contributee to the organic matter content and affects the ecological conditions of the waters. The purpose of this study was to determine the sediment fraction and organic matter content as well as the abundance of bivalves in the Tuntang Morodemak estuary. This research method is descriptive quantitative. There are three stations in the sampling which were determined purposively. The results of the sediment fraction are dominated by sand ranging from 99,9%. The organic matter content of the sediment obtained an average of 5,8% which is included in the low criteria. Perna viridis species has the highest relative abundance of 78.3 ind/m2 and the lowest relative abundance is Anadara granosa species of 21,7 ind/m2. The diversity index value (H') and the uniformity index value (E) are classified as low criteria. The relationship between sediment organic matter content and the abundance of bivalves obtained a positive correlation value of 0,99. This means that there is a perfect/very high relationship, where the presence of organic matter in the sediment supports the survival of bivalves. The relationship between the sand sediment fraction and the abundance of bivalves obtained a negative correlation value of -0,55. This means that there is a low/weak relationship, where the sand sediment fraction decreases, the abundance of bivalves will also decrease.
Konsentrasi Fe dan Batas Aman Konsumsi Kerang Hijau (Perna viridis) dari Perairan Tambak Lorok Liningga Adiningtyas; Endang Supriyantini; Ita Widowati; Mimie Saputri
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.45754

Abstract

Di daerah Tambak Lorok terdapat banyak aktivitas manusia, baik di daratan maupun perairan yang dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi logam berat, salah satunya logam Fe. Salah satu organisme yang hidup di Perairan Tambak Lorok dan mampu mengakumulasi logam Fe adalah kerang hijau (Perna viridis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan konsentrasi logam berat Fe dalam air, sedimen, dan jaringan lunak daging kerang hijau (P. viridis) serta untuk mengetahui tingkat keamanan konsumsi kerang hijau (P. viridis) harian terhadap logam Fe dari Tambak Lorok, Semarang. Penelitian dilakukan pada bulan Maret dan April 2021 dengan menggunakan metode eksploratif kuantitatif. Kadar logam Fe dianalisis dengan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil analisis kandungan logam Fe dalam air berkisar antara 0,16-1,69 mg/L; sedimen 4,39-88,07 mg/kg; dan jaringan lunak kerang hijau (P. viridis) 0,19-2,76 mg/kg. Kandungan logam Fe dalam air menunjukkan peningkatan, sedangkan kandungan Fe dalam sedimen dan jaringan lunak kerang hijau (P. viridis) mengalami penurunan pada bulan April. Nilai BCF (Bioconcentration Factor) < 100 yang menunjukkan akumulasi kerang hijau (P. viridis) terhadap logam Fe rendah. Untuk mengetahui batas aman konsumsi daging kerang hijau per minggu dilakukan penghitungan MTI (Maximum Tolerable Intake). Batas aman konsumsi kerang hijau untuk wanita dengan berat badan 45 kg adalah 657,96 kg/minggu dan 877,28 kg/minggu bagi laki-laki dengan berat badan 60 kg.    Many human activities seen in Tambak Lorok, both on land and in waters, may cause an increase in the concentration of heavy metals, such as Fe. One of the organisms that live in Tambak Lorok Waters and are able to accumulate Fe is the green mussels (Perna viridis). This study aims to determine the concentration of Fe in water, sediment, and soft tissue of green mussel (P. viridis) and to determine the safety level of daily consumption of green mussels (P. viridis) against Fe from Tambak Lorok, Semarang. This study was conducted on March and April 2021 using quantitative exploratory methods. The metal content of Fe was analyzed by AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Fe content in water ranged from 0.16 to 1.69 mg/L; sediment 4.39-88.07 mg/kg; and soft tissue of green mussels (P. viridis) 0.19-2.76 mg/kg. Fe content in water showed an increase, while the Fe content in sediment and soft tissue of green mussels (P. viridis) decreased in April. The BCF (Bio Concentration Factor) value is < 100, which indicates accumulation of green mussels (P. viridis) against Fe metal is low. To determine the safety limit of green mussel consumption per week, MTI (Maximum Tolerable Intake) was calculated. The safety limit for green mussel consumption for women weighing 45 kg is 657,96 kg/week and 877.28 kg/week for men weighing 60 kg. 
Co-Authors Ade Kurniawan Ade Kurniawan Adi Santosa Agus Dermawan Agus Trianto Ahmad Rayyis Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo AMANDA, REGINA Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Amtoni Caesario Nainggolan Anggit Puji Muswantoro Anggit Puji Muswantoro Anindya Putri Fadmawati Arif Maa’ruf Al Ayyub Bahry, Muhammad Syaifudien Bambang Yulianto Chika Velita Anindya Yulian Chrisna Adhi Suryono Cintya Pramesthi Dewi Dimas Panji Budi Prasetyo Dinda Ayuniar Zanjabila Diyah Putri Ambarwati Dwi Haryo Ismunarti Dwi Nur Hanifah Eka Mulya Eko Wardana Parsaulian Tampubolon Emia Sayniri Sembiring Emilia Sijabat, Emilia Erick Samuel Frederico Hasibuan Ervia Yudiati Ester Tiurlan Faith Dibri Kimberly Fera Nur Idawati Sahara Fitrianisa Nur Widasari Fitrianisa Nur Widasari Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Ibnu Wardani Ita Widowati Jamaludin Jamaludin Jarot Marwoto Khoirunnisah Riswanti Koesoemadji Koesoemadji Kresna Rangga Darmansyah Ladies Nikita Alamanda Lilik Maslukah Linggar Dirgantara Prasetyo Liningga Adiningtyas Mahadika Fanindhita Sany McCauley, Erin Mimie Saputri Muhammad S. Bahry Murraya Murraya Murraya, Murraya Mutiara Mega Septiningtyas Mutiara Nurul Fajar Utami Nada Kristiani Ginting Nadya Oktavia Nevanda Kusuma Wardani Nirwani Soenardjo Nirwani Soenardjo Nugroho Hendartono Nugroho Hendartono Nur Islamiah Sulastri Nur Taufiq-Spj Nuril Azhar Ocky Karna Radjasa Oetari Kusuma Putri Pramastuti, Fransisca Ria Raden Ario Rayyis, Ahmad Regina Amanda Ria Azizah Tri Nuraini Ria Azizah Trinuraini, Ria Azizah Rima Rosema Rini Pramesti Rizky Budhi Kusuma Rizky Rifatma Jezzi Rizqi Umi Arifah Rudhi Pribadi Sabrina Arifiani Nurtania Sri Redjeki Sri Sedjati Sri Yulina Wulandari Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Susilo Dwi Cahyanti, Susilo Dwi Tampubolon, Eko Wardana Parsaulian Taufiq-Spj, Nur Titik Mariyati Tunas Pulung Pramudya Victorina Yulina Santi Vivian Ayu Cyntya Wardani, Ibnu Widianingsih Widianingsih Wismayanti, Gita Yanuar Sandy Perdana Yanuar Sandy Perdana Yovita Noor Hidayah Yusup Bayu Permadi Yusup Bayu Permadi Zidny Nurfadhli