Claim Missing Document
Check
Articles

PERSEPSI GURU TERHADAP PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN SEJARAH (STUDI KASUS GURU SEJARAH DI SMAN 1 SAWAN) ., Nengah Cipta Sari; ., Dra. Tuty Maryati,M.Pd; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v5i2.5312

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui persepsi Kepala SMA Negeri 1 Sawan dan Wakasek Kurikulum SMA Negeri 1 Sawan terhadap pelaksanaan Kurikulum 2013; (2) Mengetahui persepsi guru sejarah terhadap mata pelajaran sejarah pada Kurikulum 2013; (3) Mengetahui persepsi siswa terhadap proses pembelajaran sejarah pada Kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan langkah-langkah: (1) penentuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, kuesioner, studi dokumen); (4) teknik penjaminan keabsahan data; dan (5) teknik analisis data. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa; (1) Persepsi Kepala SMA Negeri 1 Sawan dan Wakasek Kurikulum SMA Negeri 1 Sawan memberikan apresiasi dan penilaian positif terhadap Kurikulum 2013, karena Kurikulum 2013 menerapkan metode scientific approach dalam proses pembelajaran; (2) Persepsi guru sejarah terhadap mata pelajaran sejarah pada Kurikulum 2013 menunjukan bahwa guru sejarah di SMA Negeri 1 Sawan mendukung sepenuhnya mata pelajaran sejarah dikelompokan menjadi wajib dan peminatan, Kurikulum 2013 dinilai oleh guru sangat lengkap dan lebih rinci, namun tidak diimbangi dengan pelatihan sejak dini sehingga guru sejarah mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan Kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran terutama pada aspek penilaian yang dinilai terlalu rumit; (3) Persepsi siswa terhadap proses pembelajaran sejarah dengan menggunakan Kurikulum 2013 menunjukan bahwa minat siswa untuk belajar sejarah pada Kurikulum 2013 cukup tinggi, hal ini tampak pada persepsi siswa terhadap pentingnya pelajaran sejarah dan siswa sangat antusias untuk belajar sejarah pada Kurikulum 2013 karena dengan mata pelajaran sejarah pada Kurikulum 2013 siswa dapat berinovasi dan mengetahui metode pembelajaran yang baru.Kata Kunci : Persepsi, Guru Sejarah, Mata Pelajaran Sejarah, Kurikulum 2013 This research aims (1) knowing the perception of the Head of SMA Negeri 1 Sawan and Vice Principal of Curriculum SMAN 1 Sawan on the implementation of the 2013 curriculum; (2) knowing the history teacher's perception of the historical subjects on 2013 curriculum; (3) knowing the students' perception of the process of teaching history on the 2013 curriculum. This study used a qualitative approach with measures: (1) the determination of research location; (2) the determination of informants techniques; (3) data collection techniques (observation, interview, questionnaire, study document); (4) the validity of data guarantee techniques; and (5) data analysis techniques. The results of the research show that; (1) the perception Head of SMA Negeri 1 Sawan and Vice Principal of Curriculum SMAN 1 Sawan give appreciation and positive assessment to the 2013 curriculum, because the 2013 curriculum is implement the scientific approach method on the learning process; (2) the history teacher's perception of the historical subjects on 2013 curriculum shows history teachers in SMA Negeri 1 Sawan fully support historical subjects are divided into compulsory and specialization and 2013 curriculum assessed by teacher was complete and more detail but not in balance with training from the outset so that history teacher experienced difficulty in applying the 2013 curriculum in the process of learning especially from the perspective of an assessment that was thought to be too complicated; (3) the students' perception of the process of teaching history on the 2013 curriculum showed that interest on the part of the student to study history at the 2013 curriculum is quite high, it looks on the view of students on the importance of the lessons of history and students are very enthusiastic to learn history on the 2013 curriculum because with historical subjects on the 2013 curriculum students can innovate and know the new method of learning.keyword : Perception, History Teacher, History Subject, 2013 Curriculum.
PURA MAJAPAHIT (SEJARAH,STRUKTUT DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA) ., I Made Reynaldi Ambara Gita; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd., M.Pd; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i3.7415

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah terkait dengan tujuan penelitian: 1) Sejarah pendirian Pura Majapahit di Desa Baluk, Negara, Jembrana, 2) Struktur/jajaran pelinggih Pura Majapahit di Desa Baluk, Negara, Jembrana, 3) Aspek- aspek apa saja dari Pura Majapahit di Desa Baluk, Negara, Jembrana yang dapat dijadikan sumber belajar sejarah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan menggunakan langkah-langkah: Heuristik (pengumpulan data) dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, studi dokumen, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa (1) Berdirinya Pura Majapahit di Desa Baluk, Negara, Jembrana tidak dapat dipisahkan kaitanya dengan tiga buah kerajaan yaitu Kerajaan Mengwi, Jembrana dan Blambangan. Hubungan ketiga kerajaan inilah yang nantinya akan mendirikan tempat suci yang ada di Desa Baluk, Negara Jembrana (2) Struktur /jajaran pelinggih Pura Majapahit berjumlah sembilan pelinggihyakni , (1) Taksu (2) Manjang Seluang (3) Meru Tumpeng Tiga (4) Padmasana (5) Meru Tumpeng Lima (6) Gedong Bata (7) Panglurah (8) Bedogol (9) Papelik.(3) Pura Majapahit memiliki potensi sebagai sumber belajar sejarah.Hal ini dapat dilihat dari aspek-aspek Pura Majapahit.Dari setiap aspek-aspek Pura Majapahit dapat dimasukan dalam setiap kompetensi inti.PelinggihGedong Bata dan Meru Tumpeng Lima merupakan aspek yang paling menonjol yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah.Kata Kunci : Sejarah, Struktur Pelinggih, Sumber Pembelajaran This research is aimed at solving problems related to the research objectives: 1) The history of the establishment of Pura Majapahit in Baluk Village, Negara, Bali, 2) Structural / range shrine temple Majapahit in Baluk Village, Negara, Bali, 3) any aspects of the Pura Majapahit in Baluk Village, Negara, Bali which can be used as a source of learning history. The method used in this research is the historical method by using these steps: Heuristics (data collection) by using observation, interview, study documents, source criticism, interpretation and historiography. From these results it can be seen that (1) The establishment of the temple Majapahit in Baluk Village, Negara, Bali inseparable relation to the three kingdoms of the Kingdom Mengwi, Jembrana and Blambangan. Third link kingdom is what will set up a shrine in the village Baluk, Negara, Bali (2) Structure / range pelinggih Pura Majapahit of nine pelinggih namely, (1) Taksu (2) Manjang Seluang (3) Meru Tumpeng Three (4) Padmasana (5) Meru Tumpeng Lima (6) Gedong Bata (7) Panglurah (8) Bedogol (9) Papelik. (3) Pura Majapahit has potential as a source of learning history. It can be seen from the aspects of Pura Majapahit. From every aspect Majapahit temple can be entered in each of its core competencies. Bricks and Meru Gedong shrine Tumpeng Lima is the most prominent aspect that can be used as a source of learning history.keyword : History, Structure Pelinggih, Learning Resources
SEJARAH TARI PIDATA DI DESA LENEK LOMBOK TIMUR SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA ., Baiq Zohrah; ., Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A.; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd., M.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v8i1.12559

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Sejarah tari pidata di desa Lenek Lombok Timur, (2) Sistem Pementasan tari pidata di desa lenek, dan (3) Unsur-unsur tari pidata yang dapat dijadikan sumber belajar sejarah di SMA. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan langkah-langkah: (1) Penentuan lokasi penelitian, (2) Teknik Penentuan Informan, (3) Metode Pengumpulan data, (Observasi, wawancara, kajian Dokumentasi), (4) Teknik penjaminan keaslian data, (Triangulasi data, Triangulasi metode), (5) Teknik analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) latar belakang kemunculan seni tari pidata yaitu adanya sistem kepercayaan dan keyakinan. (2) pementasan tari pidata dilaksanakan pada saat peringatan hari besar nasional dan juga pada saat hari peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, disamping itu juga untuk mempertahankan keberadaan tari ini yang hampir terkikis oleh arus deras globalisasi. (3) Unsur-unsur dari tari pidata yang dapat di jadikan sumber belajar Sejarah di SMA yaitu unsur historis, unsur pendidikan dan unsur sosial yang dapat di jabarkan pada mata pelajaran Sejarah kelas X semester Genap kurikulum 2013.Kata Kunci : Sejarah tari Pidata, desa Lenek Lombok, Sumber Belajar Sejarah This research aims to understand (1) History dance pidata in the village lenek lombok east, (2) Staging system dance pidata in the village lenek, and (3) Elements dance pidata that can be used as a source of studied history in high school .Research methodology used to research this is the method qualitative by steps: (1) The determination of research sites, (2) The determination of informants technique, (3) data collection method, (Observation, interview, study documentation), (4) Insurance technique the authenticity of data, (data triangulation, triangulation method), (5) data analysis techniques. The results of this study suggest that (1) the background to the emergence of the dance art pidata namely belief systems and beliefs. (2) staging dance pidata implemented at a time of great national memorial day and also at the time of the anniversary to celebrate the Prophet Muhammad, in addition also to defend the existence of this dance are almost eroded by torrential currents of globalization. (3) the elements of dance pidata can make learning resources in the history of high school historical elements, i.e. elements of education and social elements that can be describe on subjects of history Even semester curriculum class X 2013.keyword : Dance Pidata history , village Lenek Lombok , source studied history
Perkembangan Partai Politik di Kabupaten Badung Pada Tahun 1998-2009, dan Potensinya Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah di SMA ., I Putu Edy Saputra; ., Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i1.4171

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) latar belakang perkembangan partai politik di Kabupaten Badung pada periode 1998-2009, (2) perolehan suara partai politik dalam pemilu periode tahun 1998-2009 dan implikasinya bagi demokrasi di DPRD Kabupaten Badung, dan (3) aspek-aspek yang terdapat dari perkembangan partai politik di Kabupaten Badung yang dapat dijadikan sumber pembelajaran Sejarah di SMA. Penelitian ini bersifat deskritif kualitatif dengan menggunakan metode penelitan sejarah, yaitu: (1) Heuristik (studi dokunetasi, wawancara, dan observasi); (2) Kritik sumber; (3) Interprestasi; dan (4) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) adanya latar belakang perkembangan partai politik di Kabupaten Badung pada periode 1998-2009 disebabkan oleh faktor-faktor eksternal dan internal. Faktor internal di antaranya; (1) pergantian rezim ke reformasi, (2) amandemen UUD 1945, munculnya peraturan perundang-undangan tentang pemilu dan partai politik 1998-2009, perubahan sistem pemilu secara nasional, dan (3) dinamika partai politik di tingkat nasional. Sedangkan faktor internal, di antaranya; (1) Kabupaten Badung sebagai bagian dari wilayah provinsi dan negara, (2) corak masyarakat Badung yang multikultur, (3) difungsikannya partai politik sebagai kendaraan calon/pasangan calon dalam pemilu/pilkada. (2) Perolehan suara partai politik dalam pemilu periode 1998-2009 dan implikasinya bagi demokrasi di DPRD Kabupaten PDIP selalu unggul dalam setiap pemilu pada periode tersebut. Oleh karena itu, PDIP selalu mendominasi dalam prolehan kursi di DPRD Kabupaten Badung sehingga kebijakan-kebijakan yang dibuat selalu merepresentasikan visi dan misi partai yang pro rakyat. Dan (3) Aspek-aspek yang terdapat dari perkembangan partai politik di Kabupaten Badung sebagai sumber belajar sejarah di SMA yaitu aspek historis, aspek demokrasi, dan aspek pendidikan yang kemudian dijabarkan ke dalam silabus mata pelajaran sejarah pada kelas XII semester ganjil kurikulum 2013. Kata Kunci : Partai Politik, Demokrasi, Sumber Belajar Sejarah This study aims to knowing; (1) the background of the development of political parties in the Badung Regency in the period 1998-2009, (2) number of votes a political party in an election period 1998-2009 and implication for democracy in DPRD Badung Regency, and (3) there are aspects of the development of political parties in Badung Regency in can be used as a sorce of learning history SMA. This research is a descriptive qualitative study using historycal, namely: (1) heuristic (document, interview, observation), (2) source criticism, (3) interpretation, (4) historiography. The results of this study indicate that, (1) the backgrond of the development of political parties in Badung Regency period 1998-2009 caused by external and internal factors. External factor namely (1) substitution regime change to reform, amendment UUD 1945, emerging regulation concering the election of political parties 1998-2009, (2) changes in electoral systems nationally, and (3) the dynamics of political parties at the national level. While internal factor, such Badung Regency as part of the province and the country, the style of the Badung Community the multicultural, functioned as a political party candidate vehicle/pair of candidate in the election, as well asa goverment policies Badung Regency. (2) Number of votes a political party in the election period 1998-2009 and its implications for democracy in DPRD Badung Regency that PDIP always superior in every election for the period. So PDIP always dominated the seat in DPRD Badung Regency then the policy always represent the visioan and mission of a pro-people party. (3) And the are aspects of the development of political parties in Badung Regency as a source of learning history in SMA namely aspect historical, aspect democracy, and aspect education which is then translated in to a history lesson on the syllabus of the class XII semester odd curriculum 2013.keyword : Political Parties, Democracy, Source Learning History
SARKOFAGUS DI PURA PONJOK BATU DESA PACUNG, TEJAKULA, BULELENG, BALI SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA ., Kadek Dwi Mahayoni; ., Dr. Luh Putu Sendratari,M.Hum; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd., M.Pd
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i1.11289

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan sejarah keberadaan sarkofagus yang terdapat di areal Pura Ponjok Batu Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, (2) Mendeskripsikan unsur-unsur yang terdapat pada sarkofagus yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah di SMA kelas X, (3) Medeskripsikan strategi pembelajaran yang diterapkan dalam memanfaatkan sarkofagus sebagai sumber belajar sejarah di SMA kelas X berbasis Kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap; (1) Teknik penentuan lokasi penelitian, penelitian ini berlokasi di Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, (2) Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, (3) Teknik penentuan informan, penentuan informan dalam penelitian ini yaitu purposive sampling dan snow ball, (4) Teknik pengumpulan data, melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen, (5) Teknik validasi data, triangulasi metode, dan triangulasi sumber, (6) Teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan sejarah keberadaan sarkofagus di Pura Ponjok Batu membuktikan di sekitar pura tersebut dulunya pernah dihuni oleh masyarakat yang menjadi pendukung budaya sarkofah, khususnya pada zaman perundagian dan sekaligus bahwa tempat ini sudah ada tempat sucinya yakni tempat disemayamkannya para petinggi yang dihormati oleh masyarakat setempat. Keberadaan sarkofagus di areal Pura Ponjok Batu dikarenakan adanya pawisik yang mengharuskan sarkofagus ditetapkan berada di Pura Ponjok Batu. Unsur-unsur yang terdapat pada sarkofagus yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah di SMA dapat dibagi menjadi dua yaitu unsur real (denotatif) dan unsur makna (hidden/konotatif). Adapun strategi pembelajaran yang diterapkan dalam memanfaatkan sarkofagus sebagai sumber belajar sejarah di SMA kelas X berbasis Kurikulum 2013 adalah inquiri dan group investigation.Kata Kunci : Sejarah, Sarkofagus, Unsur-unsur, Sumber Belajar. This study aims to (1) Describe the history of the existence of sarcophagus in the area of Ponjok Batu temple, Pacung Village, Tejakula Sub-district, (2) Describe the elements contained in sarcophagus that can be used as a source of learning in high school class X, (3) to describe learning strategies applied in utilizing sarcophagus as a source of learning history in high school class X based on Curriculum 2013. This research uses Qualitative Method with stages; (1) Techniques of determining the location of research, this research is located in Pacung Village, Tejakula District, Buleleng Regency, 2) The research approach used Qualitative approach, (3) Informant determination technique, informant determination in this research is purposive sampling and snow ball, (4) Data collection technique, through observation, interview and document study, (5) Data validation technique , method triangulation, and source triangulation, (6) Data analysis technique. The results showed that the history of the existence of sarcophagus in Ponjok Batu temple proved in the vicinity of the temple was once inhabited by people who became supporters of the sarcophagus culture., especially in the days of perundagian and this place has a holy place to buried an high officials who are respected by the local community. The existence of sarcophagus in the area of Ponjok Batu Temple due to the holy direction which requires that the sarcophagus must be placed in Ponjok Batu temple. The elements contained in the sarcophagus that can be used as a source of history learning in the high school can be divided into two, namely the element of real (denotative) and elements of meaning (hidden / connotative). The learning strategy applied in utilizing sarcophagus as a source of learning history in high school class X based Curriculum 2013 is enquiry and group investigation.keyword : History, Sarcophagus, Elements, Learning Resources
Monumen Perjuangan Wira Bhuwana Di Desa Gitgit, Sukasada, Buleleng (Latar Belakang Pendirian, Bentuk Serta Potensinya Sebagai Media Pembelajaran IPS) ., Gede Adi Putra; ., Drs. I Ketut Margi, M.Si; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i2.3817

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Latar belakang pendirian Monumen Perjuangan Wira Bhuwana; (2) Bentuk Monumen Perjuangan Wira Bhuwana dan (3) Potensi yang bisa dikembangkan sebagai media pembelajaran IPS dari Monumen Perjuangan Wira Bhuwana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan langkah-langhkah: (1) Penentuan lokasi penelitian; (2) Metode penentuan informan; (3) Metode pengumpulan data (observasi, wawancara, dan analisis dokumen); (4) Metode penjaminan keaslian data (triangulasi data dan triangulasi metode); dan (5) Metode analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Monumen Perjuangan Wira Bhuwana didirikan atas tekad dari para veteran kecamatan Sukasada. Ada tiga faktor yang melatar belakangi pendiriannya yakni, faktor historis, faktor sosial, dan faktor religi, (2) Bentuk Monumen Perjuanan Wira Bhuwana mengambil konsep Tri Mandala dalam ajaran agama Hindu. Bentuk Monumen Perjuangan Wira Bhuwana termasuk ke dalam tampilan bangunan figuratif dan non figuratif. Bukti bangunan figuratif pada Monumen Perjuangan Wira Bhuwana adalah adanya beberapa patung-patung berwujud manusia pada areal halaman luar monumen yang melambangkan kesembilan pasukan pribumi yang gugur dalam pertempuran di Kilometer 17 Pangkung Bangka, Desa Gitgit pada 12 Mei 1946. Sedangkan bukti bangunan non figuratif pada Monumen Perjuangan Wira Bhuwana adalah adanya sebuah bangunan tugu pada areal halaman tengah monumen dan terdapat beberapa relief-relief pada dinding halaman luar monumen serta terdapat pelinggih Padmasana pada bagian halaman utama monumen. (3) Potensi Monumen Perjuangan Wira Bhuwana yang dapat dikembangkan sebagai media pembelajaran IPS, yakni Sejarah dan Artefak ( Arsitektur Monumen Perjuangan Wira Bhuwana). Kata Kunci : Media pembelajaran IPS , Potensi, Sejarah Monumen Perjuangan Wira Bhuwana This study aimed to determine (1) the establishment Background of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana; (2) Form of Monumen Perjuanan Wira Bhuwana and (3) the potential that could be developed as a learning media of social science studies from Monumen Perjuangan Wira Bhuwana. This study used a qualitative approach: (1) Determining the location of the study; (2) Method of determination of the informant; (3) Data collection methods (observation, interviews, and document study); (4) Method of guaranteeing the authenticity of the data; (5) The method of data analysis; and (6) The method of research results. The results showed that (1) Monumen Perjuangan Wira Bhuwana founded on the determination of the veterans Sukasada districts. There are three factors namely the establishment background, historical factors, social factors, and religious factors, (2) Monumen Perjuanan Wira Bhuwana shape take the concept of Tri Mandala in the Hindu’s religion. Forms of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana included in the display of figurative and non-figurative building. Evidence figurative building on Monumen Perjuangan Wira Bhuwana is the presence of some form human statues on the outside courtyard area of the monument that symbolizes the nine native troops who died in battle at Kilometer 17 Pangkung Bangka, Gitgit village on May 12 1946. While evidence of non-figurative building on Monumen Perjuangan Wira Bhuwana is the existence of a building pillar in the middle of the courtyard area of the monument and there are some reliefs on the walls of the courtyard outside the monument and there Padmasana shrine monument on the main page (3) Potential of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana that could be developed as a learning media of social science studies is the History and Artifacts (Architecture of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana).keyword : Learning Media of Social Studies, Potential, History of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana,
Sejarah dan Struktur Banua Menyali, di Buleleng - Bali : Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA ., I Komang Edi Heliana; ., Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum.; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd., M.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i2.18131

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Latar belakang empat desa yang memiliki sebuah ikatan membentuk suatu Banua Meyali, (2) Hubungan sosial keagamaan empat desa sebagai pencerminan dari hubungan Banua Menyali, (3) Sejarah dan struktur Banua Menyali di Buleleng – Bali dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) Heuristik; (2) Kritik Sumber; (3) Interpretasi; (4) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, (1) Banua Menyali telah ada pada tahun 1044-an, dilatarbelakangi seorang tokoh dari Desa Menyali bernama Jero Pasek Sakti Menyali melakukan persemedian di Pura Puncak Mangu (di daerah Desa Lemukih). Dan mendapatkan paica (anugrah) berupa Padi Berbuah Ketupat, dan Kapas Mebuah Kamen ; (2) Hubungan sosial keagamaan empat desa sebagai pencerminan dari hubungan Banua Menyali nampak pada aspek Ritual Bersama (Keagamaan), Pelaksanaan Gotong Royong, dan aspek Pengaturan Sistem Perkawinan; (3) Banua Menyali di Buleleng – Bali dapat digunakan sebagai sumber belajar Sejarah di SMA karena mengandung nilai historis sebagai salah satu peninggalan sistem kemasyarakatan dari konsep Bali Aga yang dapat dijadikan sumber belajar sejarah lokal di SMA.Kata Kunci : Banua Menyali, Pencerminan Hubungan Banua, dan Sebagai Sumber Belajar The purpose of this study was to find out (1) the background of the four villages that had a bond forming a Banua Meyali, (2) the social relations of the four villages as a reflection of Banua's relationship, (3) the history and structure of Banua in Baleleng - Bali used as a source of historical learning in high school. This research is a historical research, so the steps taken are (1) Heuristics; (2) Source Criticism; (3) Interpretation; (4) Historiography. The results of this study indicate that, (1) Banua Menyali existed in the year 1044, against the background of a figure from Menyali Village named Jero Pasek Sakti Conducting a ceremony at Puncak Mangu Temple (in the Lemukih Village area). And get paica (gift) in the form of Padi Berbuah Ketupat, and Kapas Mebuah Kamen; (2) The socio-religious relationship of the four villages as a reflection of the Banua Menyali relationship appears in the aspects of the Joint Ritual (Religious), the Implementation of Mutual Cooperation, and aspects of the Regulation of the Marriage System; (3) Banua Spread in Buleleng - Bali can be used as a source of learning History in high school because it contains historical value as one of the social system inheritance from the Bali Aga concept which can be used as a source of learning local history in high school.keyword : Banua Menyali, Reflection of Relationships Banua and As Learning Resources
PENINGGALAN SARKOFAGUS DAN NEKARA DI DESA PAKRAMAN MANIKLIYU, KINTAMANI, BANGLI, BALI (STUDI TENTANG BENTUK, FUNGSI DAN POTENSINYA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA) ., Ni Komang Sukasih; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i3.6290

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Bentuk sarkofagus dan nekara yang terdapat di Desa Pakraman Manikliyu; (2) fungsi sarkofagus dan nekara yang terdapat di Desa Pakraman Manikliyu; dan (3) sarkofagus dan nekara yang ada di Desa Pakraman Manikliyu sebagai media pembelajaran sejarah di SMA sesuai dengan RPP berbasis Kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) Metode pengumpulan data (observasi, wawancara dan studi dokumen); (3) teknik pengolahan data/analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) sarkofagus di Desa Pakraman Manikliyu memiliki bentuk persegi panjang dengan sisi berbentuk lengkung, masing-masing sisi memiliki tonjolan berbentuk persegi empat dan nekara memiliki bentuk seperti sebuah dandang terbalik, bagian atasnya tertutup dan bagian bawahnya (kaki) terbuka dengan tutup berbentuk silinder, (2) sarkofagus dan nekara berfungsi sebagai peti jenazah atau sebagai kuburan atau peti mayat, sarkofagus digunakan oleh orang yang memiliki kedudukan atau status sosial yang tinggi seperti kepada petinggi, ketua suku, atau kaum bangsawan dari penduduk setempat di masa itu, sedangkan nekara pada umumnya kebanyakan ditemukan dipura-pura sebagai tempat media pemujaan roh leluhur. Akan tetapi, nekara di Desa Pakraman Manikliyu ditemukan diluar pura dan memiliki fungsi yang berbeda yaitu sebagai wadah kubur, (3) aspek-aspek yang terdapat pada peninggalan sarkofagus dan nekara di Desa Pakraman Manikliyu yang bisa dikembangkan menjadi media pembelajaran sejarah di SMA sesuai dengan RPP berbasis Kurikulum 2013 yaitu, aspek bentuk fisik bangunan, aspek historis, aspek keyakinan atau kepercayaan, dan aspek budaya. Kata Kunci : Sarkofagus dan Nekara, Media Pembelajaran Sejarah. The purposes of this study are to determine (1) The shape of the sarcophagus and nekara contained in Pakraman Manikliyu; (2) the function of the sarcophagus and nekara contained in Pakraman Manikliyu; and (3) the sarcophagus and nekara in Pakraman Manikliyu as a medium of teaching history in high school curriculum-based lesson plans in accordance with 2013. This study used qualitative approach, namely: (1) a technique of determining the informant; (2) The data collection method (observation, interviews and document study); (3) engineering data processing / data analysis. The results showed that, (1) the sarcophagus in Pakraman Manikliyu has a rectangular shape with sides curved, each side has protrusions rectangular and nekara has a shape like a cormorant upside down, top closed and bottom (foot) open with closed cylindrical, (2) the sarcophagus and nekara serve as a coffin or a grave or coffin, sarcophagus used by people who have a position or a high social status as the top brass, the head of the tribe, or the nobility of the local population in that period while nekara generally found mostly dipura posed as a media worship ancestral spirits. However, nekara in Pakraman Manikliyu found outside the temple and have different functions, namely as a container tomb, (3) the aspects contained in the relics of a sarcophagus and nekara in Pakraman Manikliyu that could be developed into a medium of learning history in school according to RPP based curriculum in 2013, namely, the physical aspects of the building, the historical aspect, the aspect of belief or faith, and cultural aspects keyword : Sarcophagus And Nekara, Median Learning History
Persepsi Peserta Didik Terhadap Proses Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ( Studi Kasus di Kelas VIII A SMP Bhaktiyasa Singaraja) ., Ni Wayan Suratni; ., Dra. Tuty Maryati,M.Pd; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i3.2306

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui permasalahan dalam pembelajaran IPS di kelas VIII A; (2) Mengetahui model-model pembelajaran yang dikembangkan oleh guru IPS di kelas VIII A SMP Bhaktiyasa Singaraja; (3) Mengetahui persepsi peserta didik terhadap model pembelajaran IPS yang dikembangkan oleh guru di kelas VIII A SMP Bhaktiyasa Singaraja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan langkah-langkah: (1) penentuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, kuisioner, studi dokumentasi dan studi pustaka); (4) teknik penjaminan keabsahan data; dan (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) Permasalahan dalam pembelajaran IPS adalah beban mengajar guru, kualifikasi pendidikan guru IPS yang belum berlatar belakang Sarjana Pendidikan IPS, permasalahan dalam menerapkan konsep IPS Terpadu, kurangnya fasilitas pembelajaran IPS yaitu kurangnya ketersediaan buku penunjang pembelajaran IPS yang dimiliki siswa dan input (Siswa), kurangnya semangat belajar; (2) Model-model Pembelajaran yang Dikembangkan oleh Guru IPS sudah cukup variatif tidak hanya pada metode ceramah tetapi sudah mengembangkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD; (3) persepsi peserta didik terhadap pembelajaran IPS secara umum mengarah ke arah positif, hal ini tampak pada komponen minat kesukaan siswa terhadap pelajaran IPS, dan pandangan siswa mengenai pentingnya pelajaran IPS. Persepsi siswa terhadap model pelajaran IPS, guru sudah menggunakan model pembelajaran inovatif yang menyebabkan minat belajar siswa semakin meningkat. Kata Kunci : Persepsi, Peserta didik, Proses Pembelajaran The purpose of this research (1) Knowing the problem of IPS subject in class VIII A; (2) Knowing the learning models which were developed by the teacher of IPS in class VIII A, Bhaktiyasa Singaraja Junior High School; (3) Knowing the perception of learners to learning model of IPS which was developed by the teacher from class VIII A, Bhaktiyasa Singaraja Junior High School. This research is using a qualitative approach with some steps: (1) determination of research location, (2) determination informant technique, (3) collection data technique (observation, interview, questionnaire, documentation study and literature study), (4) guaranty of validity data technique, and (5) data analysis technique. The result of this research showing that: (1) the problem of IPS teaching load of teachers, education qualification of IPS teacher who don’t have IPS scholars background, the problem of applying concept IPS integrated, lack of IPS studying facilities, availability of the IPS books which is owned by the students dan input (students), lack of studying spirits, (2) the learning model which is developed by the IPS teachers are varied enough and not only a lecture method but it has developed a cooperative learning method STAD, (3) the students perception of IPS subject generally aims to positive thing, this can be seen from the component of studens interest to IPS subject, and the vision important that IPS subject. The studens perception about IPS subject that teachers have been using innovative learning model which effects studens interest is increasingkeyword : perception, the learner, learning process.
Monumen Tugu Bambu Runcing di Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagek, Kabupaten Lombok Timur (Sejarah dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) ., Muh. Reza Khaeruman Jayadi; ., Dr. Tuty Maryati,M.Pd; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd., M.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v8i1.13633

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ;1) Latar belakang pendirian Monumen Tugu Bambu Runcing di Desa Lendang Nangka, 2) Proses pembangunan Monumen Tugu Bambu Runcing di Desa Lendang Nangaka, 3) fungsi dan nilai-nilai yang terkandung di Monumen Tugu Bambu Runcing yang bisa dijadikan sumber belajar sejarah di SMA. Motede penelitan yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan langkah-langkah: 1) Penentuan lokasi penelitian, 2) Teknik penetuan informan, 3) Metode pengumpulan data, 4) teknik validasi , 5) Teknik analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa,1) Latar belakang pendirian Monumen Tugu Bambu Runcing ini karena tiga faktor yaitu faktor historis, faktor sosial, dan faktor politik. 2) Proses pembangunan Monumen Tugu Bambu melalui tiga tahap yaitu ide dari masyarakat Desa Lendang nangka, pengajuan ide ke pemerintah daerah, dan pembanguan monumen. 3) Monumen Tugu Bambu Runcing memilki fungsi yaitu edukatif, inspiratif dan rekreatif. Sedangkan Nilai-nilai yang terkandung adalah nilai patriotisme, nasionalisme, pendidikan, dan persatuan dan kesatuan,Kata Kunci : Monumen , Desa Lendang Nangka, Sumber belajar Sejarah This study aims to in order to know; 1) the background pf the establisment monoment Bambu Runcing in the village Lendang Nangka, 2) the development Monoment Bambu Runcing in the village Lendang Nangka (3) the function and values contained in Monoment Bambu Runcing that can be as source of learning history in high school. The research used in this study is a method kualitatif with the steps; (1) determining of rsearch location, 2) he technique of determining the informant, 3) data collection method, 4) validation of the technique. 5) he technique of of the data analysis. This research result indicates that, 1) background the establishment of the Monement Bambu Runcing is because of three factors factor historis, factor social and facktor politics 2) the development Monoment Bambu through theree stages the idea of the village Lendang Nangkacommonity, the submissioof the local goverment, 3) Monoment Bambu Runcing have fungtion education, inspiration and recreation. While the value of the value contained is the value of patriotism, nationalism, education and unity.keyword : Monoment Village Lendang Nngka, Learning Resources History.
Co-Authors ., Aniqa Faza ., Baiq Zohrah ., CAHYO BINTORO ., Febri Dwi Cahyo ., Gusti Made Sriwidiari ., I Gusti Ayu Ratnasari ., I Km Ega Mahendra ., I Komang Edi Heliana ., I Made Adi Astawa ., I Made Cahyana Mp ., I Made Reynaldi Ambara Gita ., I Putu Yudi Permana Saputra ., I Wayan Edi Setiawan ., Ilham Yahya ., Kadek Ariasa ., Kadek Dwi Mahayoni ., Komang Gede Arya Bawa ., M BUSAR ., Made Pradnyana Putra ., Muh. Reza Khaeruman Jayadi ., N Iputu Sri Widiastuti ., Ni Putu Budiartini ., NUR MINAH ., NURUS MAULIDA ., Nurus Shobah ., Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A. ., Purwa Aditya ., Putu Agustina Setiawan ., Qori Bayyinaturrosyi ., Rini Anggraini A.A. Istri Pradnyana Asrama P. . Abd. Rasyid Syamsuri Alfarizi, Moh Alif Alfi Syahrin Aniqa Faza . Aryantika, I Kadek Adi Baiq Zohrah . Both, Lusitiana CAHYO BINTORO . Desak Made Oka Purnawati Desak Oka Purnawati Dewa Gede Suma Adnyana . Dr. Tuty Maryati,M.Pd . Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum . Drs. I Wayan Mudana,M.Si. . Febri Dwi Cahyo . Gede Adi Putra . Gede Okva Wiguna . Ginting, Enni Maharani Br Gusti Ayu Padmawati . Gusti Made Sriwidiari . I Dewa Gede Yoga I Gede Bayu Ary Hermawan . I Gede Justiasa . I Gusti Ayu Ratnasari . I Gusti Made Aryana I Gusti Ngurah Riki Wahyudi . I Gusti Ngurah Riki Wahyudi ., I Gusti Ngurah Riki Wahyudi I Kadek Adi Aryantika I Kadek Adi Widiastika I Kadek Parmadi . I Ketut Agus Adijaya . I Ketut Anom Mahartawan . I Ketut Anom Mahartawan ., I Ketut Anom Mahartawan I Km Ega Mahendra . I Komang Edi Heliana . I Komang Wisujana Putra . I Made Adi Astawa . I Made Cahyana Mp . I Made Citra Wibawa I Made Pageh I Made Reynaldi Ambara Gita . I Nengah Suastika I Nyoman Jampel I Nyoman Oka Hendrawan . I Nyoman Oka Hendrawan ., I Nyoman Oka Hendrawan I Putu Budiana . I Putu Edy Saputra . I Putu Yudi Permana Saputra . I Wayan Agus Suatmika . I Wayan Edi Setiawan . I Wayan Pardi I Wayan Pardi I Wayan Putra Yasa I Wayan Suastra I Wayan Widiana Ida Ayu Widya Pratiwi Ida Bagus Putu Arnyana Ilham Yahya . Ivanka Angelina Dheyanita Prasada Kadek Ariasa . Kadek Ayu Sutarminingsih . Kadek Dwi Mahayoni . Kadek Mega Arista Sinta Devi Kadek Virgotama Krissanta . Kardila, Maria Marisa Ketut Jasiani . Ketut Jasiani ., Ketut Jasiani Komang Gede Arya Bawa . Lathifah, Desi Fairuz Luh Putu Ayu Diah Pratiwi . Luttfy Chateriyan, Ivan M BUSAR . M.Si Drs. I Ketut Margi . Made Pradnyana Putra . Made Wisnu Dwipayani . Made Wisnu Dwipayani ., Made Wisnu Dwipayani Maria Marisa Kardila Mathias Maranata Surbakti Muh. Reza Khaeruman Jayadi . N Iputu Sri Widiastuti . Nengah Cipta Sari . Nengah Cipta Sari ., Nengah Cipta Sari Ngakan Made Viky Purnama Teja . Ngakan Made Viky Purnama Teja ., Ngakan Made Viky Purnama Teja Ni Kadek Dian Lestari . Ni Komang Sukariasih . Ni Komang Sukasih . Ni Komang Sukasih ., Ni Komang Sukasih Ni Komang Trisna Suparwati . Ni Luh Made Ari Darmini . Ni Made Ary Widiastini Ni Made Ninik Susantini . Ni Made Wibhu Satyayu Ni Nyoman Murdani . Ni Nyoman Tri Cahyani . Ni Putu Budiartini . Ni Putu Rai Yuliartini Ni Putu Ristiana Rahitasari Ni Putu Sri Ratna Dewi Ni Wayan Dewi Lasmi ., Ni Wayan Dewi Lasmi Ni Wayan Nonoriati . Ni Wayan Suratni . NUR MINAH . NURUS MAULIDA . Nurus Shobah . Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A. . Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA . Puger, I Gusti Ngurah Purnawati, Desak Oka Purnawibawa, R. Ahmad Ginanjar Purwa Aditya . Putu Adi Sutama . Putu Adi Sutama ., Putu Adi Sutama Putu Agustina Setiawan . Putu Ari Antara . Putu Sulistyawati Qori Bayyinaturrosyi . Raden Ahmad Ginajar Purnawibawa Raden Ahmad Ginajar Purnawibawa Rini Anggraini . Santhi, Dewa Ayu Aprilia Vidya satria dwi mahendra Satyayu, Ni Made Wibhu Simatupang, Gavin Ar Rasyid Sinta Devi, Kadek Mega Arista Suadnyana, Kadek Nova Sukadi Sukadi Sukadi Sukadi Sulistyawati, Putu Sumiyati , Sumiyati Sumiyati Sumiyati Vita Octavia Anggraini Widiani, Ni Kadek Yiena Yoga, I Dewa Gede Yudi Setiawan