Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

URBAN WALKABILITY DI KOTA MANADO (STUDI KASUS: KEC. MAPANGET) Wowor, Vita Debora; Kumurur, Veronica A.; Lefrandt, Lucia I. R.
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan kota yang pesat perlu diimbangi dengan penyediaan fasilitas pejalan kaki dalam mendukung terwujudnya kota yang nyaman (Livable City) dan ramah bagi pejalan kaki (Walkable). Berdasarkan pengamatan di beberapa kecamatan yang ada di Kota Manado nampak bahwa fasilitas pedestrian yang ada sudah banyak yang rusak dan tidak berfungsi dengan baik. Kondisi ini jelas akan berpengaruh pada kenyamanan pejalan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kenyamanan pejalan kaki di Kota Manado, khususnya Kecamatan Mapanget berdasarkan teori urban walkability. Teknik pengambilan data menggunakan kuesioner dan wawancara tersturktur, selanjutnya data diolah menggunakan Metode Likert. Parameter walkability yang digunakan terdiri dari enam paramenter, yakni: ketersediaan jalur pejalan kaki, konflik jalur pejalan kaki dengan moda transportasi lainnya, keamanan dari kejahatan, perilaku pengendara kendaraan bermotor, amenities (kelengkapan pendukung), dan kendala/hambatan. Untuk menguji adanya korelasi dan konsistensi daripada parameter tersebut digunakan uji statistik validitas dan realibilitas dengan menggunakan aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kenyamanan pejalan kaki di Kecamatan Mapanget berdasarkan teori urban walkability dapat dikatakan masih tergolong nyaman. Hal ini berdasarkan hasil uji validitas dan realibilitas terhadap parameter yang digunakan, ternyata memiliki korelasi signifikan, serta dinyatakan konsisten atau reliabel untuk pengukuran walkability.Kata Kunci : Urban Walkability, Walkable, Pedestrian, Kecamatan Mapanget
PRODUK RANCANGAN URBAN DESAIN : PENDEKATAN KONSEP “MARRIAGE OLD AND NEW” PADA PERANCANGAN KAWASAN WISATA RELIGI SCHWARZ DI LANGOWAN - MINAHASA Atteng, Richard E.; Kumurur, Veronica A.; Wuisang, Cynthia E.V.
MEDIA MATRASAIN Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Langowan adalah salah satu wilayah di kabupaten Minahasa provinsi Sulawesi Utara yang telah berkembang dan dipersiapkan menjadi salah satu kota otonom baru yaitu Kota Langowan. Di perkotaan Langowan teridentifikasi adanya satu kawasan bersejarah yang berkaitan dengan Kristenisasi di Minahasa oleh Misionaris Kristen Johann Gottlieb Schwarz. Dalam perkembagan Langowan menjadi kota yang definitif muncul kekuatiran terjadinya demolisi terhadap kawasan bersejarah ini termasuk pula objek-objek bersejarah didalamnya. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi kawasan termasuk artefak dan bangunan-bangunan bersejarah didalamnya. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan historis. Kawasan bersejarah dari Schwarz di Langowan yang telah dikonotasikan sebagai Kawasan Schwarz merupakan objek penelitian yang dikaji berdasarkan Sejarah Penginjilan Schwarz di Minahasa serta Sejarah Langowan. Adapun pengumpulan data diperoleh dari wawancara, obsevasi, studi dokumentasi, data dari beberapa institusi terkait, dan studi literatur. Data yang diperoleh selanjutnya dilakukan analisis dengan teknik deskriptif naratif.Hasil dari penelitian ini adalah berupa penentuan delineasi kawasan Schwarz serta penentuan artefak dan bangunan bersejarah di dalam Kawasan Schwarz.Dalam koteks urban desain, hasil dari penelitian ini merupakan input untuk dijadikan acuan pengembangan kawasan dalam bentuk perancangan sebagai kawasan wisata religi. Perancangan kawasan Schwarz dilakukan melaui pendekatan konsep Marriage Old And New untuk menghasilkan produk rancangan urban desain secara kontekstual. Kata kunci : Urban desain, marriage old and new, kawasan Schwarz, wisata religi, Langowan
RUMAH SAKIT BERSALIN DI MANADO (Therapeutic Environment) Junan, Venesia; Kumurur, Veronica A.; Tinangon, Alvin J.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan Ibu dan Anak merupakan salah satu unsur penting pembangunan, hal ini mengandung pengertian bahwa dari seorang ibu akan dilahirkan calon – calon penerus bangsa yaitu anak. Tetapi dalam menjalani proses mengandung dan melahirkan tersebut tidak selalu berlangsung baik dan lancar, seringkali mengakibatkan kematian bagi sang ibu maupun bayi yang dilahirkannya. Aktivitas pasien ibu hamil memerlukan lingkungan fisik yang sesuai untuk mendukung kesehatannya. Rumah Sakit Bersalin adalah tempat yang memberikan fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat membantu para ibu hamil untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal pada masa antepartum, intrapartum, postpartum. Konsep therapeutic environment pada rancangan arsitektural bisa menciptakan lingkungan terapi yang membantu pengguna objek khususnya pasien ibu hamil untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara optimal sehingga tidak hanya nyaman secara fisik tapi juga nyaman secara psikis. Dimana dalam kajian tema ini arsitektur atau bangunan harus berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan pengguna secara fisik dan psikis. Kata kunci : Rumah Sakit Bersalin, therapeutic environment.
EVALUASI PENGGUNAAN LAHAN PERMUKIMAN PADA KAWASAN NEGATIVE LIST BERDASARKAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA MANADO TAHUN 2014-2034 Natan, Selfi; Kumurur, Veronica A.; Gosal, Pierre H.
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 2 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v18i2.37066

Abstract

Residential area is an area outside the protected area and is used as an environment settlements/community housing both in urban and in rural areas. Increase in number of population causes the needs for residential land also increases. Availability of land in a limited city causes the emergence of residential land that is not in accordance with the allotment. Similar to Indonesian cities, Manado City is also experiencing increase in population. In the 2011-2019 period, Manado City experienced an increase the total population is 21.399 people (BPS Manado City). With increasing number residents in the city of Manado then began to appear residential land located in the area that is not suitable for its designation. The purpose of this research is to identify the location of residential land use in the negative list area in Manado City and evaluate the use of PKP land in the negative list area. Technique Data collection used is observation, literature review, and documentation study. For analysis technique using spatial analysis techniques (overlay and descriptive). The results of this study is the use of residential land in the negative list area as much as 493,58 ha or 13,09% of the total existing settlements in Manado City. And for the suitability of residential land which is in the negative list area, namely in the less class area of 0,05 ha, for the sufficient class area of 446,78 ha, and the appropriate class area of 46,75 ha.
KAJIAN ASPEK KENYAMANAN JALUR PEDESTRIAN JL. PIERE TENDEAN DI KOTA MANADO Feybe G. Kaliongga; Veronica A. Kumurur; Amanda Sembel
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 6 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v6i2.5280

Abstract

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEKUMUHAN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR TRADISIONAL (Studi Kasus : Desa Bajo Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo) Dhea M. Damisi; Veronica A. Kumurur; Rieneke L.E. Sela
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 6 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v6i1.5282

Abstract

ANALISIS PERUBAHAN LUAS KAWASAN RESAPAN AIR DI KOTA MANADO Amiko Anderson Seng; Veronica A. Kumurur; Ingerid L. Moniaga
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v7i1.8277

Abstract

Pembangunan Kota Manado diarahkan ke lahan-lahan bertopografi berbukit yang berfungsi lindung sehingga banyak kawasan yang berubah fungsi menjadi kawasan pemukiman. Oleh sebab itu dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui sebaran kawasan resapan air dan kelas kesesuaiannya di Kota Manado serta untuk mengetahui luas perubahan kawasan resapan air periode tahun 2000-2012. Metode yang digunakan yaitu skoring dan overlay menggunakan sistem Informasi Geografi (SIG). Data-data yang digunakan yakni peta curah hujan, peta kemiringan lahan, peta eksisting penggunaan tahun 2000 dan tahun 2012, dan peta tekstur tanah. Hasil penelitian memperlihatkan Kota Manado pada tahun 2000 tidak ada kawasan yang memiliki  sebaran kawasan  resapan air dengan kelas sesuai. Kelas kesesuaian yang ada hanyalah kelas cukup sesuai, kelas kurang sesuai dan kelas tidak sesuai. Kelas kesesuaian kawasan resapan air tersebar di seluruh wilayah penelitian. Perubahan  luas kawasan resapan air di Kota Manado adalah sebagai berikut: (a) Kelas kesesuaian kurang sesuai mengalami perubahan penggunaan lahan seluas 967,45 Ha atau 22,87 % dari kawasan-kawasan yang terjadi alih fungsi lahan  atau sebesar 16,14 % dari seluruh luas kelas kurang sesuai; (b) Kelas kesesuaian cukup sesuai mengalami perubahan penggunaan lahan seluas 764,9 Ha atau 23,12% dari seluruh kelas cukup sesuai. Secara keseluruhan perubahan luas penggunaan lahan di kawasan resapan air Kota Manado periode tahun 2000-2012 baik kelas kesesuaian kurang sesuai maupun kelas kesesuaian cukup sesuai yakni sebesar 18,61% dari luas kawasan resapan air yakni seluas 9.307,87 Ha.
GAYA BANGUNAN ARSITEKTUR KOLONIAL PADA BANGUNAN UMUM BERSEJARAH DI KOTA MANADO Fanny Alfrits Wulur; Veronica A. Kumurur; Ivan R.B Kaunang
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v7i1.8279

Abstract

Kota Manado adalah salah satu kota yang dibangun oleh kolonial Belanda. Pusat kegiatan VOC berada di kawasan kota lama, yang mestinya bangunan-bangunan bergaya arsitektur kolonial Belanda masih terbangun di kawasan ini. Saat ini, kota Manado kehilang makna bangunan-bangunan kolonial bersejarah yang mampu memberikan arti bagi generasi sekarang agar mampu membedakan antara kesejarahan kekuasaan-kekuasaan dan kesejarahan karya rancang-bangunnya.. Perlahan, kawasan kota lama Manado mulai kehilangan bangunan-bangunan berwajah kolonial, seiring dengan hilangnya eksistensi bangunan bersejarah berwajah kolonial yang mampu membentuk nilai-nilai lokalitas dalam wujud arsitektural bagi kota Manado. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tipologi wajah arsitektur kolonial Belanda pada 5 bangunan umum bersejarah yang ada di kawasan kota lama Manado. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-eksploratif, analisa deskriptif-kualitatif dengan pendekatan tipologi wajah arsitektur kolonial Belanda pada lima bangunan di kawasan kota lama Manado. Disimpulkan bahwa: (a) Tipologi  bangunan Kapel Biara Santo Yosep Keuskupan Manado  adalah: 23% mendekati Indische Empire (Abad 18-19),  43% mendekati tipologi gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915), dan 34% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940); (b) Tipologi bangunan Gereja Santu Ignatius (Kompleks Persekolahan Don Bosco Manado) 7% mendekati  Indische Empire (Abad 18-19); 25% mendekati gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915); dan 45% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940); (c) tipologi Bangunan Bank Indonesia (dahulu Javasche Bank) 28% mendekati Indische Empire Style (Abad 18-19); 29% mendekati gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915); dan 28% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940); (d) tipologi Bangunan Ex Bioskop Benteng 17% mendekati  Indische Empire Style (Abad 18-19); 25% mendekati gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915); dan 31% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940); dan (e) tipologi Bangunan Minahasa Raad diperoleh bahwa Bangunan Minahasa Raad 31% mendekati  Indische Empire Style (Abad 18-19); 43% mendekati gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915); dan 30% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940).
PERSEPSI PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP AREA BERJUALAN SEPANJANG JALAN PASAR PINASUNGKULAN KAROMBASAN MANADO Beatrix Sister Duwit; Veronica A. Kumurur; Ingerid L. Moniaga
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v7i2.9586

Abstract

Penelitian ini dilatar-belakangi oleh keberadaan PKL (Pedagang Kaki Lima) yang seringkali dianggap menghambat ruang gerak masyarakat di pusat kota, dimana lokasi pasar  tampak kotor karena sampah, sering terjadi kerawanan sosial serta tata ruang kota menjadi tidak teratur. Disisi lain PKL juga memberikan kontribusi yang besar dalam pendapatan daerah. Namun keberadaan PKL  dalam hal ini (bidang sektor informal) sangat menyulitkan pemerintah untuk melakukan penataan dilokasi Pasar Pinasungkulan Kota manado. Berdasarkan pengamatan dilapangan terdapat masalah terkait dengan persepsi pedagang kaki lima pada area tempat berjualan disepanjang jalan pasar pinasungkulan karombasan kota manado. Persepsi PKL pada area tempat berjualan di sepanjang jalan pasar pinasungkulan  menghasilkan interprestasi yang berbeda-beda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik dan untuk mengetahui persepsi  pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan Pasar Pinasungkulan Karombasan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel Random Sampling.
ANALISIS TINGKAT KEKUMUHAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DI KELURAHAN TANJUNG MERAH KOTA BITUNG Gerald Mingki; Veronica A. Kumurur; Esly D. Takumansang
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v7i2.9587

Abstract

Permukiman kumuh merupakan suatu kawasan permukiman yang seharusnya tidak dapat dihuni maupun ditinggali karena dapat membahayakan kehidupan masyarakat yang tinggal dan bermukim di dalamnya, baik dari segi keamanan terlebih lagi dari segi kesehatan. Ketidaklayakan permukiman ini bisa dilihat dari keadaan dan kenyamanan yang tidak memadai dan memprihatinkan, kepadatan bangunan yang sangat tinggi, kualitas bangunan yang sangat rendah, beserta dengan prasarana dan sarana yang tidak memenuhi syarat. Berdasarkan observasi yang dilakukan, permukiman di Kelurahan Tanjung Merah di Kota Bitung memiliki permasalahan-permasalahan yang harusnya tidak dimiliki oleh sebuah permukiman, seperti adanya kepadatan bangunan, kondisi permukiman ini yang tidak teratur, juga kurangnya sarana pendukung atau fasilitasnya yang kurang memadai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kekumuhan di daerah permukiman yang terletak di Kelurahan Tanjung Merah, Kecamatan Matuari, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan scoring atau pembobotan. Hasil dari data primer yang telah dikumpulkan berupa data kuantitatif yang disajikan berupa angka-angka, akan diolah dan selanjutnya dianalisa yang kemudian akan dijabarkan dalam bentuk analisis deskriptif. Kesimpulan yang diperoleh bahwa daerah Kelurahan Tanjung Merah memiliki tingkat kekumuhan sedang, dengan aspek drainase dan sampah memperoleh bobot yang tinggi.