Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Mitis dan Ontologi sebagai Kekayaan Kajian Seni Tari Hasprina Resmaniar Boru Mangoensong; Setyo Yanuartuti
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 4, No 2 (2020): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1702.956 KB) | DOI: 10.24114/gondang.v4i2.18317

Abstract

Human has their own way to resolve their life problem and to adapt with their environment according to their knowledge and culture. People's culture with mythical paradigm about tales and myths are often used as life guidance that need to be applied. They blend themselves in environment and actualize it in ritual and arts. Society with ontology paradigm consider myths as an entertainment, not to be applied in life. They lean on science to explain anything in life, also in arts. These two paradigms spread in some area, villagers and urban society. This distinction of perception produce an argue over which culture and arts are better. Based on this issue, this article aims to inspire mythical community and ontology to use experience capital, knowledge, thoughts, and their culture as substance to study art, to be specific dance art. Each culture has the same material, the only thing that differentiate is the form which is not realized by the community.Also in arts, whether it involves feel or using scientific techniques can be regarded as the property of arts studies.
Kreativitas Tri Broto Wibisono sebagai Seniman Tari Jawa Timur Endang Kumala Ratih; Setyo Yanuartuti
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 4, No 2 (2020): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.086 KB) | DOI: 10.24114/gondang.v4i2.19745

Abstract

The discussion in this study examines the creativity of Tri Broto Wibisono who is one of the traditional dance artists in East Java. The aim of the research is to explore the process that Tri Broto Wibisono does in making a dance work so that he is able to come up with his own dance style. This study uses a descriptive analysis method that describes the creative process of Tri Broto Wibisono in making a dance work and elaborates with Sigmund Freud's psychoanalytic theory. In this research, Tri Broto Wibisono in his creative process carried out several stages, namely nyantrik (studying local dance artists), deepening the material, interpreting traditions, and new interpretations. The conclusion from the creative process of Tri Broto Wibisono is that in creating a dance, a stimulus from outside and inside is needed which will lead to an idea which is then continued by expressing it into creativity and producing a dance work that gives rise to the Tri Broto Wibisono style.
Pembelajaran Mandiri Seni Tari Melalui Konten Youtube sebagai Inovasi Pembelajaran Masa Kini Fahmida Yuga Pangestika; Setyo Yanuartuti
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 4, No 2 (2020): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.256 KB) | DOI: 10.24114/gondang.v4i2.18098

Abstract

This paper aims to analyze the response of connoisseurs through independent learning through Ombyak Trimurti Dance through Youtube content that serves to hone dance skills and get to know other regional arts. Ombyak Trimurti dance uploaded by the channel of the Department of Tourism and Culture of East Java Province ‘Culture and Art’ is a creative dance originating from Ponorogo Regency, with its proud achievements, the dance received a positive response from elementary school to high school students. This makes researchers who are also the stylists of the Ombyak Trimurti dance very important to appreciate the responses of appreciators or students. Youtube content as an 'Learning Resource for Art' by presenting dance videos can do independent learning with mimicking or observing techniques. This study uses a qualitative approach and is supported by data in the form of dance videos that emphasize independent learning outcomes through imitation techniques. The conclusion of this study is the independent learning of dance through YouTube content which is the response of the community as connoisseurs of dance art from various circles provides inspiration that learning can be done anywhere with any learning resources and the presence of Youtube content is able to provide new insights and knowledge that is to know the special arts from other regions.
APRESIASI ANAK USIA KOGNITIF PRAOPERASIONAL PADA PERTUNJUKAN LUDRUK VIRTUAL ARMADA Elizabeth Suryani Ongko; Setyo Yanuartuti; I Nyoman Lodra
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 6, No 1 (2022): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, JUNI 2022
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v6i1.32250

Abstract

Ludruk adalah sebuah kesenian dari Jawa Timur yang mencakup lagu, musik, gerak, tari, drama dan tata cahaya panggung yang seringkali menjadi wadah penyampaian aspirasi masyarakat. Adapun peneliti menggunakan ludruk sebagai objek penelitian karena ludruk sebagai kesenian daerah yang memiliki berbagai simbol tersirat di dalamnya dan menggunakan bahasa daerah sehari-hari yang mudah dipahami. Adanya fakta mengenai ludruk yang semakin tergerus dan tergantikan oleh kesenian lain yang berasal dari luar negeri membuat peneliti ingin mengenalkan ludruk sedini mungkin. Peneliti menggunakan metode observasi dan wawancara serta studi literatur terhadap ludruk sebagai salah satu kesenian daerah, perkembangan kognitif dan artistik anak, musikologi dan psikomusikologi, serta kaitan antara warna dan usia praoperasional anak. Melalui penelitian ini, peneliti mencoba untuk menganalisis apresiasi anak usia 6 tahun yang berada pada tahap kognitif praoperasional pada sebuah seni pertunjukkan ludruk yang disajikan secara virtual. Hasil yang didapat adalah anak mampu menangkap dan memahami simbol-simbol pada pertunjukkan ludruk, Selain itu, anak juga mengalami proses belajar memahami makna dibalik simbol dan perilaku tokoh kesenian. Anak mampu memberikan apresiasi terhadap sebuah pertunjukkan ludruk dan tidak terlepas dari aspek psikologi kognitif, aspek fisiologis, aspek afektif ataupun emosi, dan juga pengalaman musikalitas mereka sebagai individu.
Interdisiplin: Proses Pembelajaran Di Padhepokan Seni Mangun Dharma Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang Gesti Manggarrani Pratiwi; Setyo Yanuartuti
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 4, No 2 (2020): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.116 KB) | DOI: 10.24114/gondang.v4i2.18099

Abstract

Padhepokan Seni Mangun Dharma is a traditional art studio in Malang Regency. The art taught in this studio is Malang Puppet Mask, kerawitan, dance, pedhdalang, mocopatan. Padhepokan environment that is still fresh and beautiful has always been the basis of the approach in the learning process. The purpose of this paper is to study the nature-based learning process in Padhepokan Mangun Dharma with an interdisciplinary approach. The research method used is descriptive qualitative. Learning with character-based nature is what can be applied to the learning of art in the hospices of Mangun Dharma. Open nature such as in mountain areas, rice fields, rivers around the studio is an excellent ecology to teach children art now. With a free, fresh nature can increase children's focus in learning. The concept of the Maharsi Begawan Pandhito concept is an approach in learning ecology-based arts. Such learning is carried out because in order for the cantrik and mentrik to get to know nature because nature is a source of humanity to explore, create, and express.
Nilai Budaya Panji dalam Wayang Topeng Jombang dan Relevansinya pada Pendidikan Karakter Setyo Yanuartuti; Joko Winarko; Jajuk Dwi Sasanadjati
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 5, No 2 (2021): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.053 KB) | DOI: 10.24114/gondang.v5i2.29295

Abstract

Media sosial yang telah menjadi konsumsi bagi anak-anak setiap hari, Media sosial memiliki pengaruh terhadap sikap moral anak-anak. Nilai-nilai kearifan lokal sangat dibutuhkan untuk membangun karakter anak-anak di masa ini. Wayang Topeng Jombang merupakan seni pertunjukan rakyat yang menyimpan nilai Panji. Tujuan penulisan ini adalah mengkaji nilai-nilai Panji dalam Wayang Topeng di Jombang serta relevansinya bagi Pendidikan katrakter saat ini. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif analitis dengan pendekatan fenomenologi. Pertunjukan Wayang Topeng Jombang ini merupakan onjek material, sementara kajian nilai merupakan objek formal dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi langsung, wawancara mendalam dan studi dokumen. Analisis fenomenologi Creswell digunakan untuk menganalisis data penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya Panji yang masih relevan dalam Pendidikan karakter saat ini adalah nilai kepahlawanan, nilai nilai pengabdian dan perjuangan, nilai kesuburan dan nilai asketis. Nilai-nilai Panji tersebut masih sangat relevan untuk ditanamkan kepada anak-anak sebagai penerus bangsa. Nilai-nilai Panji ini dapat dijadikan sebagai media pendidikan karakter yang berfungsi sebagai pengimbang lajunya teknologi khususnya media sosial yang sudah tidak dapat dibendung lajunya dalam kehidupan saat ini.
Musik Oklik Bojonegoro dalam Kajian Etnomusikologi sebagai Upaya Pelestarian Budaya Elva Rizki Anggraeni; Setyo Yanuartuti; Anik Juwariyah; Yoyok Yermiandhoko; I Nyoman Lodra
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 6, No 1 (2022): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, JUNI 2022
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v6i1.30685

Abstract

Oklik merupakan salah satu kesenian musik tradisi khas Bojonegoro. Alat musik dari bambu ini tercipta berdasarkan latar belakang fenomena sejarah di masa lalu. Tujuan dari penelitian ini ialah mendeskripsikan hasil kajian terhadap musik oklik menggunakan teori etnomusikologi serta upaya pelestarian musik oklik di masa kini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yakni sumber primer dan sekunder. Sumber data primer didapatkan melalui penelitian lapangan. Data sekunder diperoleh melalui kajian pustaka yang berkaitan dengan judul penelitian. Pengumpulan data primer dilakukan melalui tiga teknik yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik oklik dapat memuat kajian etnomusikologi, mencakup unsur sejarah, tradisi ritual masyarakat, organologi dan musikalitas. upaya pelestarian oklik dilaksanakan oleh penggiat seni Bojonegoro dengan melakukan pengembangan unsur organologi, musikalitas, dan proses pementasannya. Upaya pelestarian lainnya ialah dukungan pemerintah daerah dan ketertarikan para akademisi mengenai penelitian dan kajian terhadap musik oklik Bojonegoro. Kata Kunci: Oklik, Etnomusikologi, Pelestarian Budaya
PERAN PENULISAN KARYA ILMIAH DAN PTK BAGI PROFESIONALISME GURU SENI BUDAYA Trisakti Trisakti; Anik Juwariyah; Setyo Yanuartuti; Warih Handayaningrum
Jurnal ABDI: Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ja.v5n1.p51-57

Abstract

The background for conducting the training comes from the teachers need in fulfilling the obligation tocompose scientific works for job promotion matters and teachers achievement documentation. Thisactivity is aimed at improving the understanding and the skills of Arts and Culture teachers in composingscientific works and Classroom Action Research through training. Furthermore, it was carried out throughlecture, discussion, task giving and guidance. The results of the questionnaire showed thatthe ability of theparticipants in composing the Classroom Action Research is 92% very good. Also, with regard tocomposing the Classroom Action Researchand scientific works, it was found that based on the aspect ofunderstanding the contents of the materials presented, the ability of the participants reaches 84,6%percentage. Besides, the easinessof generating ideas in writing Classroom Action Research achieves69%, while the ability of developing Classroom Action Research writing well obtains 69%. In addition, theresponse onthe Classroom Action Research aspect supporting the learning process is 61,5%. Meanwhile,opinion on the Classroom Action Research donethat can be applied gets 69% percentage. The averagescore of the participants in writing proposal is 78. In general, the average score is satisfactory, consideringthat there were some participants who previously did not understand aboutClassroom Action Researchbecause their specialty ispure art. Additionally, the percentage of the participants achieving score above70 is 69%, while the rest 30% got 60 and below. It indicates that the trainingonscientific works andClassroom Action Research writing has been successlly run and shown a noticable result.
BENTUK MUSIK DAN MAKNA LAGU GARUDA PANCASILA NANDA KURNIA NOVANDHI; SETYO YANUARTUTI
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 22, No 2 (2020): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.767 KB) | DOI: 10.26887/ekspresi.v22i2.1267

Abstract

Setiap lagu memiliki bentuk musik yang dapat diuraikan secara jelas, baik lagu dengan tingkat kompleksitas yang tinggi sampai lagu sederhana dapat dipastikan akan selalu memiliki struktur dan bentuk musik di dalamnya. Bentuk musik dibutuhkan di dalam sebuah lagu, agar lagu yang diciptakan memiliki struktur yang jelas dalam urutan musiknya. Tentunya dalam sebuah lagu juga memiliki lirik yang membantu untuk menyampaikan pesan dari lagu yang diciptakan, terlebih dalam lagu nasional. Dalam artikel ini akan membahas bentuk musik dan makna dari lirik lagu nasional yang berjudul Garuda Pancasila. Lagu Garuda Pancasila akan dibedah menggunakan keilmuan musikologi untuk bentuk musiknya dan menggunakan keilmuan sastra untuk makna dari liriknya. Dari hasil pembahasan, diperoleh fakta bahwa musik yang cenderung sederhana dalam lagu Garuda Pancasila memiliki pengolahan motif yang komplek dan memiliki lirik yang mengandung pesan bagaimana seharusnya hidup berbangsa dan bernegara
Kajian Pertunjukan Musik “Thungka” dalam Tinjauan Etnomusikologi Hafi Hilmiah Almanda; Setya Yuwana; Setyo Yanuartuti
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol 5 No 2 (2022): Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.055 KB) | DOI: 10.31539/kaganga.v5i2.4320

Abstract

The purpose of the study was to find an ethnomusicological study and to find out everything contained in the Thungka musical instrument, whether it was in the form of functional, musical, instrumental and socio-cultural aspects. The research method is a qualitative descriptive method with an ethnomusicological approach. Sources of data used in this study were video recordings of the performance of the traditional performing arts of Thungka music by the people of Bawean Gresik, as well as interviews, documentation, and literature studies. The results showed that basically Thungka had a function as a rice pounder in the annual harvest season, but now it has become a medium for traditional art performances, weddings, to welcoming tourist guests to Bawean. Thungka traditional music describes the socio-cultural life of the Bawean people, especially the gratitude of the farmers and in the lyrics also tells the feeling of waiting and longing. The conclusion of this research is that the dynamics used when playing Thungka traditional musical instruments are forte and fortisisimo. Alu' and Ronjengan from traditional musical instruments Thungka made of teak. The way of making it using original human power by using chisels and crab bolsters in the way of making musical instruments. Keywords: Bawean, Ethnomusicology, Thungka Music