Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : agriTECH

Komposisi Kimia dan Kristalinitas Tepung Pisang Termodifikasi secara Fermentasi Spontan dan Siklus Pemanasan Bertekanan-Pendinginan Nurhayati Nurhayati; Betty Sri Laksmi Jenie; Sri Widowati; Harsi Dewantari Kusumaningrum
agriTECH Vol 34, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.404 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9504

Abstract

Studies on the chemical composition and crystallinity of the native banana flour and modified banana flour were carried out on “agung var semeru” banana (Musa paradisiaca formatypica). Native banana flour was produced by drying the banana slice, ground and passed through a 80 mesh screen. Modified banana flour were produced by spontaneous fermentation (room temperature, 24 h)and one or two cycles of  autoclaving (121 oC, 15 min) followed by cooling (4 oC, 24 h) of the slices before drying process. The results showed that spontaneous fermentation of banana slices increased amylose content. Two cycles of autoclaving-cooling significantly increased resistant starch content of banana flour (39.13 – 42.68% db) than the one cycle (29.34 – 35.93% db). Retrogradation process decreased the crystallinity from 18.74% -20.08% to 6.98% - 9.52%. X-ray diffraction showed that the starch granule was type C granule as a mixtureof A and B polymorphs.ABSTRAKKajian tentang komposisi kimia dan kristalinitas tepung pisang alami dan tepung pisang termodifikasi dilakukan pada pisang var agung semeru (Musa paradisiaca formatypica). Tepung pisang alami (kontrol) dihasilkan dengan mengeringkan irisan pisang, menghancurkan dan mengayak tepung dengan ayakan 80 mesh. Tepung pisang modifikasi dihasilkan dengan cara irisan pisang diberi perlakuan fermentasi spontan (suhu kamar, 24 jam) dilanjutkan dengan satu atau dua siklus pemanasan bertekanan (121 oC, 15 menit) yang diikuti dengan pendinginan (4 oC, 24 jam) sebelum dilakukan proses pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi spontan mampu meningkatkan kadar amilosa. Dua siklus pemanasan bertekanan-pendinginan meningkatkan pati resisten (RS) tepung pisang dengan nyata (39,13 – 42,68% bk) dibandingkan dengan yang satu siklus (29,34 – 35,93% bk). Proses pemanasan bertekananpendinginan menurunkan kristalinitas tepung pisang dari 18,74-20,08% menjadi 6,98-9,52%. Difraksi sinar X menunjukkan granula pati pisang adalah granula tipe C yang merupakan campuran dari granula tipe A dan tipe B.
Kondisi Penyimpanan Kacang Tanah dan Potensi Cemaran Aspergillus flavus pada Pedagang Pengecer Pasar Tradisional di Wilayah Jakarta Widya Eka Prayitno; Harsi Dewantari Kusumaningrum; Hanifah Nuryani Lioe
agriTECH Vol 38, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3811.375 KB) | DOI: 10.22146/agritech.26113

Abstract

Factors affecting contamination on peanut kernel marketed in Jakarta has not been investigated yet. The purpose of the research was to investigate and evaluate the storage condition and the behavior of retailers on the way of peanuts storage and also to investigate the presence of Aspergillus flavus infection in the peanuts. The research was conducted at traditional market with 15 peanut retailers as respondents (n=15). The research stages included survey at retailer area including interview, observation, temperature and relative humidity measurements as well as peanuts analysis including moisture content, defective seeds and presence of A. flavus. The results of research revealed that the average temperature of peanut storage area at retail stalls range from 29.6 to 31.2 °C which is not in accordance with the Codex Alimentarius Commission (CAC) recommendation, while the average of storage room RH ranged between 53.6–73.1% and moisture content of peanuts of 6.23–7.86% were mostly in accordance to CAC recommendation. The percentage of damage, shrivelled and splitted seeds ranged between 3.9–19.1%, 5.4–32.3% and 0.2–8.8%, respectively. The range of mean of total molds and A. flavus were 2.5–5.6 log cfu/g and 1.3–4.0 log cfu/g, respectively. Total molds had a strong correlation to damage kernels (r = 0.74), and had a moderate correlation to the temperature (r = 0.41), moisture content (r = 0.42) and behavior of retailers, especially in cleaning the ceiling (r = 0.44) and placing the storage container (r = 0.44). The presence of A. flavus had a slight correlation to relative humidity on storage (r = 0.26), and had no significant correlation to peanuts damage and all storage conditions. ABSTRAKFaktor-faktor yang mempengaruhi cemaran aflatoksin pada biji kacang tanah atau ose di wilayah Jakarta belum pernah dilaporkan. Penelitian ini dilakukan di pasar tradisional dengan 15 pedagang pengecer kacang tanah sebagai responden (n=15). Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi penyimpanan dan perilaku pengecer dalam menyimpan kacang tanah serta mengidentifikasi potensi cemaran Aspergillus flavus pada kacang tanah. Tahap penelitian meliputi survei di area pengecer (wawancara, pengamatan langsung dan pengukuran suhu serta kelembaban relatif (RH) di area penyimpanan) serta analisis kacang tanah (kadar air, biji cacat, dan keberadaan A. flavus). Hasil studi menunjukkan rata-rata kisaran suhu area penyimpanan kacang tanah di kios pengecer berkisar antara 29,6–31,2 °C. Hal ini tidak sesuai dengan rekomendasi Codex Alimentarius Commission (CAC), meskipun sebagian besar rata-rata kisaran RH area penyimpanan berkisar antara 53,6–73,1% dan kadar air kacang tanah sebesar 6,23–7,86% yang sesuai dengan rekomendasi CAC. Rata-rata biji rusak, biji keriput dan biji belah ditemukan pada kisaran, berturut-turut, 3,9-19,1%, 5,4–32,3% dan 0,2–8,8%. Rata-rata total kapang dan A. flavus pada sampel kacang tanah, masing-masing, ditemukan berkisar antara 2,5–5,6 log cfu/g dan 1,3–4,0 log cfu/g. Total kapang pada sampel kacang tanah memiliki korelasi positif yang kuat dengan biji rusak (r = 0,74), dan berkorelasi positif pada tingkat sedang dengan suhu (r = 0,41), kadar air (r = 0,42) dan perilaku pengecer dalam pembersihan langit-langit kios (r = 0,44) serta penempatan wadah simpan kacang tanah (r = 0,44). Studi ini menunjukkan bahwa keberadaan A. flavus pada sampel kacang tanah berkorelasi positif lemah dengan kelembaban relatif di area penyimpanan (r = 0,26) dan tidak memiliki korelasi secara signifikan dengan biji rusak maupun semua kondisi penyimpanan lainnya.  
Prevalensi Kapang Okratoksigenik dan Kandungan Okratoksin A pada Kopi Selang Semende Rika Puspitasari MZ; Harsi Dewantari Kusumaningrum; Ratih Dewanti Haryadi
agriTECH Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (26.326 KB) | DOI: 10.22146/agritech.39542

Abstract

Kecamatan Semende, Kabupaten Muara Enim merupakan daerah penghasil kopi dengan produksi mencapai 92% dari komoditi hasil pertaniannya. Kopi selang adalah istilah lokal untuk kopi yang dipanen pada Desember- Juli sebelum musim panen raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi kapang oktratoksigenik dan kandungan okratoksin A pada kopi selang Semende. Sejumlah 40 sampel kopi selang dikumpulkan dari petani (buah dan biji kopi beras), pengumpul (biji kopi beras), dan pengolah (bubuk kopi). Sampel dianalisis kadar air, mutu mikrobiologi dan kandungan okratoksin. Rata-rata kadar air buah kopi dan biji kopi asal petaniditemukan sebesar 69,88% dan 13,90%, sedangkan biji kopi asal pengumpul dan bubuk kopi asal pengolah sebesar 13,45% dan 2,97%. Kadar air biji kopi sedikit melebihi ketentuan dalam SNI yaitu 12,5%. Rata-rata angka lempeng total dan angka kapang-khamir pada bubuk kopi di tingkat pengolah adalah 1,90 Log CFU/g dan 1,99 Log CFU/g, masih memenuhi persyaratan yang berlaku untuk bubuk kopi. A. niger ditemukan pada buah kopi asal petani (50%), biji kopi asal petani (90%) maupun pengumpul (90%) dan pada bubuk kopi (30%). A. ochraceus hanya ditemukan pada biji kopi petani (10% ) dan bubuk kopi (30%). Hal ini menunjukkan bahwa kapang pencemar sudah ditemukan sejak dari tingkat petani. Walaupun demikian, kandungan okratoksin A relatif rendah dan masih memenuhi persyaratan yang ditentukan (maksimum 5 ppb). Okratoksin A pada biji kopi asal pengumpul ditemukan pada kisaran 0,86 ppb-2,81 ppb, sedangkan pada biji kopi asal petani sebesar 0,14 ppb dan pada bubuk kopi asal pengolah sebesar 0,19 ppb.
Co-Authors . Andriani . Nurhayati . Suliantari Achmad Poernomo Agung Santoso Aldilla S. Utami Andiarto Yanuardi Andriani . Andriani a Andriani Andriani Andriani Andriani Apon Zaenal Mustopa Apon Zaenal Mustopa Aris D. Toha Asep Wawan Permana Betty S. L. Jenie Betty Sri Laksmi Jenie Betty Sri Laksmi Jenie Betty Sri Laksmi Jenie Betty Sri Laksmi Jenie Budiatman Satiawihardja Eka Aditya Iskandar Eni Kusumaningtyas Eni Kusumaningtyas Evi Savitri Iriani Hanifah Nuryani Lioe Hartati Chairunnisa Herwin Pisestyani Herza Govina Sobarsa I P G Arya Dharmawan Ihsan Anggara Imawati Eka Putri Jamal Zamrudi Kurnianto, Muhammad Alfid Kusmajadi Suradi Kusmajadi Suradi Lely Rahmawaty Lilis Nuraida Lita Handayani Maggy Thenawidjaja Suhartono Mirnawati Soedarwanto MIRNAWATI SUDARWANTO Mirnawati Sudarwanto Mirnawati Sudarwanto Mirnawati Sudarwanto Mona Nur Moulia N Nurhayati Nugraha E. Suyatma Nugraha Edhi Suyatma Nurhayati Nurhayati Nurhayati Nurhayati Palupi, Nurheni Sri Pika Mustika Puspo Edi Giriwono Raden Haryo Bimo Setiarto Rahmatia Garwan Ramadani, Suci Putri Raphaella Widiastuti Ratih Dewanti -Hariyadi Reni Nofrianti Retnani Rahmiati Reza Fadhilla Rifah Hestyani Arum Rika Puspitasari MZ Rizal Syarief Sindhu H. Putra Siti Mariana Widayanti Sri Budiarti Poerwanto Sri Wahyuningsih Sri Widowati SUMINAR SETIATI ACHMADI Surachmi Setiyaningsih Syahrizal Nasution TATI NURHAYATI Tatik Khusniati Taufikkilah Romadhon Uswatun Hasanah Wendry Setiyadi Putranto Widya Eka Prayitno Winiati P Rahayu Winiati P Rahayu Winiati Pudji Rahayu Yusma Yennie Zakiah Wulandari