Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Hubungan dukungan teman sebaya dengan perilaku vulva hygiene pada remaja putri Rieke Diah Fitaloka; Diah Nur Anisa; Dwi Sri Handayani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2565

Abstract

Background: Poor vulva hygiene behavior can cause various negative impacts on the reproductive health of adolescent girls, such as vaginal discharge, urinary tract infections, reproductive tract infections, and long-term reproductive health problems. Purpose: To determine the relationship between peer support and vulva hygiene behavior among adolescent girls. Method: This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. The sampling technique used was purposive sampling. Data were collected using peer support questionnaires and vulva hygiene behavior questionnaires, then analyzed using the Spearman Rank correlation test. Results: The most respondents had a high level of peer support and good vulva hygiene behavior. Statistical analysis indicated a significant relationship between peer support and vulva hygiene behavior among adolescent girls, with a p-value of 0.000 and a correlation coefficient (r) of 0.717. Conclusion: There is a significant relationship between peer support and vulva hygiene behavior among adolescent girls. Good peer support plays an important role in improving healthy vulva hygiene behavior.   Keywords: Adolescent Girls; Peer Support; Vulva Hygiene Behavior.   Pendahuluan: Perilaku vulva hygiene yang tidak dilakukan dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada kesehatan reproduksi remaja putri, seperti keputihan, infeksi saluran kemih, infeksi saluran reproduksi, hingga gangguan kesehatan reproduksi jangka panjang. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan teman sebaya dengan perilaku vulva hygiene pada remaja putri Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dukungan teman sebaya dan kuesioner perilaku vulva hygiene, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Sebagian besar responden memiliki dukungan teman sebaya kategori tinggi dan perilaku vulva hygiene kategori baik. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan teman sebaya dengan perilaku vulva hygiene pada remaja putri, dengan hasil p value 0.000 dan korelasi r 0.717. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan teman sebaya dengan perilaku vulva hygiene pada remaja putri. Dukungan teman sebaya yang baik berperan dalam meningkatkan perilaku vulva hygiene yang sehat.   Kata Kunci: Dukungan Teman Sebaya; Perilaku Vulva Hygiene; Remaja Putri.  
Efektivitas penyuluhan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan anemia pada remaja Nuke Arifah Maharani; Yuni Purwati; Dwi Sri Handayani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2641

Abstract

Background: Knowledge about anemia among adolescents is the understanding of the definition, causes, signs, impacts, and prevention of anemia. The level of knowledge about anemia among adolescents is influenced by education, age, socioeconomic-cultural factors, environment, and the lack of health education, which is the main cause of low knowledge. Purpose: To determine the effectiveness of health education on the level of knowledge about anemia among adolescents. Method: This study wa s pre-experimental study with a one-group prestes-posttest design. Ninety adolescents at SMP Negeri 1 Ngluwar Magelang waresampled using a purposeve sampling technique. A questionnaire was used as the research instrument. The results ware analyzed using the Wilcoxon signed rank test. Results: This study was a pre-experimental study with a one-group pretest-posttest design. A purposive sampling technique was used to select 90 adolescents. The research instrument used a questionnaire. The results of the study were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. Conclusion: Health education is effective in improving the level of knowledge about anemia among adolescents. Keywords: Adolescent Knowledge; Health Education; Knowledge About Anemia. Pendahuluan: Pengetahuan anemia pada remaja adalah pemahaman tentang definisi, penyebab, tanda, dampak, dan pencegahan anemia. Tingkat pengetahuan anemia remaja dipengaruhi pendidikan, usia, sosial-ekonomi-budaya, lingkungan, dan kurangnya penyuluhan kesehatan yang menjadi penyebab utama rendahnya pengetahuan. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas penyuluhan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan anemia pada remaja. Metode: Jenis penelitian ini adalah pre-eksperimental dengan rancangan one-group pretest-posttest design. Sempel diambil dengan teknik purposive sampling sebanyak 90 remaja di SMP Negeri 1 Ngluwar Magelang. Intrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Hasil penelitian dianalisis dengan uji wilcoxon sign rank test. Hasil: Tingkat pengetahuan anemia sebelum diberikan penyuluhan kesehatan tentang pada remaja sebagian besar adalah kategori tingkat pengetahuan kurang sebanyak 64 remaja (71.1%). Tingkat pengetahun remaja setelah diberikan penyuluhan kesehatan tentang anemia pada remaja sebagian besar adalah dengan katerogri baik sebanyak 85 remaja (94.4%). Hasil uji wilcoxon sign rank test diperoleh p-value 0.000. Simpulan: Terdapat efektivitas penyuluhan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan anemia pada remaja. Kata Kunci: Pengetahuan Anemia; Pengetahuan Remaja; Penyuluhan Kesehatan.      
Hubungan perilaku pemakaian pembalut dengan kejadian fluor albus santriwati Maharani, Charlie Fatria Izha; Handayani, Dwi Sri; Sarwinanti, Sarwinanti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2620

Abstract

Background: The prevalence of vaginal discharge (fluor albus) in adolescent girls remains high and is a reproductive health issue that requires attention. Preliminary studies indicate a tendency for sanitary napkin use to be inconsistent with hygiene principles during menstruation, which is accompanied by the appearance of symptoms of vaginal discharge (fluor albus). Purpose: To determine the relationship between sanitary napkin use and the incidence of vaginal discharge (fluor albus) in female students. Method: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The sampling technique used purposive sampling, with a sample size of 85 female students. A questionnaire was used to measure sanitary napkin use and the incidence of vaginal discharge (fluor albus). Data were analyzed bivariately using the Fisher's Exact test and contingency coefficient. Results: The study showed that the majority of respondents (43 respondents) used sanitary napkins correctly. Furthermore, 57 respondents (67.1%) experienced physiological vaginal discharge. Fisher's exact test showed a significant relationship between sanitary napkin usage behavior and the occurrence of fluor albus in female students, with a p-value of 0.000. The contingency coefficient test showed a moderate relationship between the two variables, with an r-value of 0.528 and a positive correlation. Conclusion: Improper sanitary napkin usage behavior is directly related to an increased incidence of fluor albus.   Keywords: Female Adolecent Student; Fluor Albus; Sanitary Pad usage.   Pendahuluan: Kejadian fluor albus pada remaja putri masih menunjukkan prevalensi yang tinggi dan merupakan permasalahan kesehatan reproduksi yang perlu mendapat perhatian. Studi pendahuluan menunjukkan adanya kecenderungan perilaku pemakaian pembalut yang tidak sesuai dengan prinsip kebersihan selama menstruasi, yang disertai dengan munculnya gejala fluor albus. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara perilaku pemakaian pembalut dengan kejadian fluor albus pada santriwati. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 85 santriwati. Instrumen pengambilan data menggunakan kuesioner untuk mengukur perilaku pemakaian pembalut serta kejadian fluor albus. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact dan koefiesien kontingensi. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memakai pembalut dengan cara yang benar, yaitu sebanyak 43 orang (50.6%). Selain itu, sebanyak 57 responden (67.1%) mengalami kejadian fluor albus fisiologis. Uji Fisher’s Exact Test menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkah laku penggunaan pembalut dengan terjadinya fluor albus pada santriwati dengan nilai p-value = 0.000. Hasil uji koefisien kontingensi menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel tergolong sedang, dengan nilai r sebesar 0.528 dan arah hubungan positif. Simpulan: Perilaku pemakaian pembalut yang tidak tepat berhubungan langsung dengan peningkatan kejadian fluor albus.   Kata Kunci : Fluor Albus; Pemakaian Pembalut; Santriwati.
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Alvingra Fani Zaniska; Dwi Sri Handayani; Sri Riyani
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 14 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52657/jik.v14i2.3031

Abstract

Pemberian ASI sangat penting diberikan pada bayi terutama pada periode awal bayi baru lahir yaitu pada 1.000 hari kehidupan pertamanya yang disebut dengan ASI eksklusif. Hambatan penerapan pemberian ASI eksklusif salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan pada ibu. Berdasarkan data Dinkes Kota Yogyakarta tahun 2021 capaian ASI eksklusifnya hanya 52,7%. Puskesmas Umbulharjo 1 merupakan salah satu peskesmas yang ada di Kota Yogyakarta dengan tingkat cakupan ASI eksklusif paling rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Umbulharjo 1. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang digunakan adalah 391 ibu yang memiliki bayi usia 6-24 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas. Sampel berjumlah 88 ibu dengan kriteria inklusi bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Umbulharjo 1; tidak mengonsumsi suplemen ASI tambahan; dan tidak memiliki riwayat sakit menular yang mempengaruhi ASI seperti HIV/AIDS, hepatitis B dan C yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Alat pengambilan data menggunakan kuesioner. Analisis statistik data penelitian menggunakan kendall’s tau. Hasil uji korelasi nilai signifikasi tingkat pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif adalah 0,061 > 0.005 menunjukkan keeratan korelasi 0,191 sangat lemah dan arah hubungan positif. Diputuskan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif. Tingkat pendidikan tidak melulu menjadi tolak ukur berhasil atau tidaknya pemberian ASI eksklusif, oleh sebab itu alangkah lebih baiknya yang perlu ditingkatkan adalah tingkat kesadaran dari ibu sejak ibu dinyatakan hamil untuk mempersiapkan kebutuhan penting bayi yaitu pemberian ASI eksklusif.
Pengaruh Edukasi Media Sinematografi Terhadap Pengetahuan Sadari Pada Siswi Kelas X Di SMA Negeri 2 Wates Ani Kurniasih; Dwi Sri Handayani; Diah Nur Anisa
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.657

Abstract

Latar belakang: Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) merupakan metode deteksi dini kanker payudara yang penting, namun tingkat pengetahuan remaja putri mengenai SADARI masih belum optimal. Edukasi kesehatan melalui media audiovisual, khususnya media sinematografi, dinilai mampu meningkatkan pemahaman karena penyajian informasi yang lebih menarik dan mudah dipahami. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi media sinematografi terhadap tingkat pengetahuan pemeriksaan SADARI pada siswi kelas X di SMA Negeri 2 Wates. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan eksperimen semu (quasi experiment) menggunakan desain pretest–posttest with control group. Sampel berjumlah 116 siswi yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol menggunakan teknik proportional random sampling. Pengukuran pengetahuan SADARI dilakukan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan tingkat pengetahuan SADARI antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah pemberian edukasi media sinematografi (p = 0,000). Kesimpulan: Edukasi media sinematografi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan pemeriksaan SADARI pada siswi kelas X di SMA Negeri 2 Wates.
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Alvingra Fani Zaniska; Dwi Sri Handayani; Sri Riyani
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 14 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52657/jik.v14i2.3031

Abstract

Pemberian ASI sangat penting diberikan pada bayi terutama pada periode awal bayi baru lahir yaitu pada 1.000 hari kehidupan pertamanya yang disebut dengan ASI eksklusif. Hambatan penerapan pemberian ASI eksklusif salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan pada ibu. Berdasarkan data Dinkes Kota Yogyakarta tahun 2021 capaian ASI eksklusifnya hanya 52,7%. Puskesmas Umbulharjo 1 merupakan salah satu peskesmas yang ada di Kota Yogyakarta dengan tingkat cakupan ASI eksklusif paling rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Umbulharjo 1. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang digunakan adalah 391 ibu yang memiliki bayi usia 6-24 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas. Sampel berjumlah 88 ibu dengan kriteria inklusi bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Umbulharjo 1; tidak mengonsumsi suplemen ASI tambahan; dan tidak memiliki riwayat sakit menular yang mempengaruhi ASI seperti HIV/AIDS, hepatitis B dan C yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Alat pengambilan data menggunakan kuesioner. Analisis statistik data penelitian menggunakan kendall’s tau. Hasil uji korelasi nilai signifikasi tingkat pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif adalah 0,061 > 0.005 menunjukkan keeratan korelasi 0,191 sangat lemah dan arah hubungan positif. Diputuskan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif. Tingkat pendidikan tidak melulu menjadi tolak ukur berhasil atau tidaknya pemberian ASI eksklusif, oleh sebab itu alangkah lebih baiknya yang perlu ditingkatkan adalah tingkat kesadaran dari ibu sejak ibu dinyatakan hamil untuk mempersiapkan kebutuhan penting bayi yaitu pemberian ASI eksklusif.
Hubungan Pengetahuan HIV/AIDS dengan Pemanfaatan Pelayanan Voluntary Counseling And Tasting Pada Remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Srandakan Bantul Asep Saputra; Diah Nur Anisa; Dwi Sri Handayani
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Menulis - Januari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i1.943

Abstract

Voluntary counseling and tasting (VCT) merupakan salah salah satu strategi pencegahan penanggulanan HIV/AIDS yang dinilai cukup efisien. Cakupan pemanfaatan VCT di Puskesmas Srandakan Bantul dari tahun 2019 ke 2020 mengalami penurunan sebanyak 957 kunjungan. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan angka penurunan tersebut, salah satu faktor terpentingnya adalah pengetahuan remaja itu sendiri. Apabila pengetahuan remaja terkait pemanfaatan VCT rendah maka angka kejadian HIV/AIDS meningkat. Tujuan penelitian: Mengetahui hubungan pengetahuan HIV/AIDS dengan pemanfaatan Voluntary Counseling and Tasting pada remaja di wilayah kerja Puskesmas Srandakan Bantul. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu 150 remaja. Alat ukur menggunakan kuesioner Pengetahuan HIV/AIDS dan Pemanfaatan Voluntary Counseling and Tasting. Teknik analisa data menggunakan Kendal Tau. Hasil: Menunjukkan bahwa pengetahuan pada remaja mayoritas memiliki pengetahuan kurang sebanyak 136 remaja (90,7 %). Mayoritas responden tidak memanfaatkan VCT sebanyak 137 remaja (91,3%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikan 0,001 (p<0,05). Kesimpulan: Ada hubungan pengetahuan HIV/AIDS dengan pemanfaatan voluntary counseling and tasting pada remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Srandakan Bantul.
Case Report: Nursing Care After Cesarean Section in S P1A0 UK 38 Weeks With Indications Of Presbo Primitua Feriyantika; Dwi Sri Handayani; Diah Nur Anisa
International Journal of Health Engineering and Technology Vol. 4 No. 6 (2026): IJHET MARCH 2026
Publisher : CV. AFDIFAL MAJU BERKAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55227/ijhet.v4i6.656

Abstract

Cesarean section (CS) is a surgical procedure to deliver a fetus through an incision in the abdominal wall and uterus. One of the factors for performing a cesarean section (CS) is breech presentation. Mothers who undergo cesarean section due to breech presentation require intensive care and monitoring. To reduce possible complications, postpartum mothers with this indication require monitoring in nursing care. To analyze nursing care for patients with Primigravida P1A0 in the Kalibiru Lor Ward of Wates Kulon Progo Regional General Hospital.  The research design used an observational case study with the research object obtained from 1 patient with Primigravida Breech Presentation in the Kalibiru Lor Ward of Wates Kulon Progo Regional General Hospital. This case had nursing diagnoses of acute pain, ineffective breastfeeding, and risk of falling. Nursing outcomes were pain level, breastfeeding status, and fall risk. Nursing interventions and implementation included pain management, breastfeeding education, and environmental fall prevention. Conclusion: Nursing care in this case resulted in the resolution of acute pain, effective breastfeeding, and the mitigation of fall risk.
Studi Kasus Penerapan Kompres Hangat dan Pijat Oksitosin pada Ibu Post Sectio Caesarea dengan Nyeri Akut dan Menyusui Tidak Efektif Devi Ristiana; Dwi Sri Handayani
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8784

Abstract

Ibu post sectio caesarea berisiko mengalami nyeri akut akibat insisi pembedahan dan menyusui tidak efektif karena nyeri, keterbatasan mobilisasi, serta hambatan pengeluaran ASI. Kondisi ini dapat memengaruhi proses pemulihan ibu serta keberhasilan pemberian ASI pada bayi. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya melalui pendekatan nonfarmakologis yang aman dan mudah diterapkan. Intervensi nonfarmakologis seperti kompres hangat dan pijat oksitosin dapat digunakan untuk membantu mengurangi nyeri sekaligus merangsang produksi dan pengeluaran ASI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan pada ibu post sectio caesarea dengan masalah nyeri akut dan menyusui tidak efektif melalui penerapan kompres hangat dan pijat oksitosin. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada satu pasien, yaitu Ny. E, yang dirawat di Ruang Bersalin RSUD Wates pada tanggal 17–19 November 2025. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pengukuran skala nyeri, serta telaah dokumentasi keperawatan. Intervensi keperawatan diberikan selama tiga hari sesuai dengan diagnosis keperawatan yang telah ditegakkan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri akut dengan skala 7 pada luka operasi, ASI belum lancar, mobilisasi terbatas, dan konstipasi. Setelah dilakukan intervensi berupa kompres hangat, edukasi manajemen nyeri, pijat oksitosin, edukasi menyusui, peningkatan asupan cairan, mobilisasi ringan, serta kolaborasi terapi, terjadi penurunan skala nyeri dari 7 menjadi 3, ASI mulai lancar, dan konstipasi teratasi. Kesimpulannya, kompres hangat dan pijat oksitosin efektif sebagai intervensi nonfarmakologis dalam asuhan keperawatan maternitas untuk membantu menurunkan nyeri akut dan meningkatkan kelancaran menyusui pada ibu post sectio caesarea.
Pelatihan Kader PKK Sidomakmur sebagai Inisiasi Pojok Konseling Pencegahan Kanker Payudara Dwi Sri Handayani; Diah Nur Anisa; Hari Akbar Sugiantoro; Areindra Putra Wicaksana; Klarisa Puput Kintamani; Juli Suhaidi; Khairil Qalbi Alfiansyah
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 10 No 3 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v10i3.28210

Abstract

Kasus tumor dan kanker payudara ibu PKK Sidomakmur sampai tahun 2025 adalah tiga perempuan dan satu meninggal. PKK Sidomakmur sebagai mitra belum pernah mendapatkan informasi dan pelatihan tentang pencegahan dan skrining kanker payudara. Solusi permasalahan melalui pelatihan kader tentang skrining dan konseling. Tujuan pelatihan meningkatkan pengetahuan, ketrampilan skrining, manajemen stres dan konseling kader sebagai inisiasi pojok konseling pencegahan kanker payudara dalam upaya menurunkan kasus kanker payudara. Metode dengan edukasi dan latihan skrining risiko kanker payudara, konseling dan manajemen stres. Peserta meliputi 6 kader skrining, 6 kader konseling dan 11 kader manajemen stres. Materi pelatihan konsep dan skrining risiko kanker payudara, teknik konseling, komunikasi teraupetik dan manajemen stres. Hasil pengetahuan skrining meningkat dari kategori kurang (50%)  dan cukup (50%) menjadi 3 dari 6 kader kategori tinggi (50%). Pengetahuan komunikasi teraupetik meningkat dari 6 kader kategori kurang (100%) menjadi 4 dari 6 kader kategori cukup (66,67%). Kader  mampu mempraktikkan ketrampilan teknik konseling seperti mendengarkan, konfrontasi dan memberikan informasi. Hasil manajemen stres meningkat 6 dari 11 kader kategori tinggi (54,55%) menjadi 100% kategori tinggi. Pelatihan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan skrining risiko kanker payudara,  manajemen stres dan teknik konseling. Kader yang terlatih menjadi komponen penting dalam inisiasi pojok konseling pencegahan risiko kanker payudara.