Rosmaida Sinaga
Department Of History Education, Faculty Of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Benteng Marlborough dan Kebun Raya Bogor Sebagai Warisan Peninggalan Inggris di Indonesia Putri Aulia Purba; Lois Zibya Priscilla Batubara; Daniel Anugrah Marbun; Nirwana Dewantari Yani Putri; Rosmaida Sinaga
AR-RUMMAN: Journal of Education and Learning Evaluation Vol 1, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/arrumman.v1i2.3986

Abstract

Benteng Marlborough merupakan salah satu peninggalan sejarah yang dibangun oleh kolonial Inggris di Indonesia, tepatnya di Kota Bengkulu. Benteng ini didirikan pada tahun 1713 hingga 1719 di bawah komando Gubernur Joseph Collett, dan berfungsi sebagai pusat pertahanan sekaligus simbol kekuasaan Inggris di wilayah tersebut. Artikel ini membahas peran Benteng Marlborough dalam konteks sejarah kolonial Inggris di Indonesia, termasuk kontribusinya terhadap perkembangan ekonomi dan militer di Bengkulu. Selain itu, artikel ini juga mengkaji upaya konservasi dan pemanfaatan benteng sebagai warisan budaya yang bernilai bagi pariwisata dan edukasi sejarah di Indonesia. Melalui studi ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya Benteng Marlborough sebagai saksi bisu dari interaksi kolonial di Nusantara serta upaya pelestariannya sebagai salah satu cagar budaya nasional.
Masa Pemerintahan VOC di Nusantara: Awal Kedatangan Hingga Penyebab Bubarnya VOC Rosmaida Sinaga; Juan Vito Simanjuntak; Ocha Primalia Tondang; Suci Larasati
AR-RUMMAN: Journal of Education and Learning Evaluation Vol 1, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/arrumman.v1i2.4065

Abstract

Artikel ini membahas tentang Vereenigde Oostindische Compagnie atau yang sering disebut juga sebagai VOC dimana merupakan sebuah perusahaan kongsi dagang Belanda yang berbadan hukum juga diberi hak istimewa oleh pihak kerajaan Belanda itu sendiri bak sebuah negara berdaulat dan memiliki kekayaan terbesar sepanjang sejarah dan didirikan pada 20 maret 1602, dengan tujuan untuk melakukan monopoli perdagangan di wilayah Hindia-Timur yang berfokus kepada penjualan rempah- rempah. Penulisan artikel ini dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan dari didirikannya VOC juga masa-masa pemerintahan nya selama di Nusantara, yang dimana kedudukan VOC di Nusantara merupakan tonggak dan akar sejarah yang penting di ingat dalam sejarah Indonesia, sebab pada periodesasi nya kehadiran VOC merupakan cikal bakal hadirnya kolonialisme di seluruh wilayah Hindia-Timur atau Nusantara. Masa-masa VOC di Nusantara juga mencetak berbagai alkulturasi budaya yang merambat ke Indonesia melalui penerapan kebijakan yang dilakukan. Pada awalnya VOC datang sebagai perusahaan dagang, namun karena hak istimewa nya VOC menjadi kekuatan politik dan militer yang memiliki pengaruh kuat di Hindia-Timur. Selama VOC memerintah dan melakukan monopoli akibat hak istimewa yang diberikan oleh kerajaan Belanda itu sendiri, VOC mengalami puncak kejayaan akibat penghasilan rempah-rempah hingga mengalami keruntuhan dan kerugian akibat tindakan korupsi dan nepotisme yang terjadi yang membuat pembengkakan hutang kepada VOC sehingga perusahaan kongsi dagang ini bubar pada tahun 1799. Penulisan artikel ini menggunakan metode penelitian sejarah yang berdasarkan kajian heuristik dengan mengumpulkan dan memadukan berbagai sumber-sumber sejarah lewat buku dan artikel pendukung lainnya.
The Contribution of Youth and Women's Movements to the Indonesian National Awakening (1908–1945) Rosmaida Sinaga; Adrian Maulana; Immanuel Steven Limbong; Putri Hasanah Piliang; Yosua Solafide Sinaga
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v14i2.110

Abstract

This study discusses the important role played by youth and women in the Indonesian National Awakening between 1908 and 1945. This study uses a history method. The activeness of youth and women who contributed to increasing national awareness, efforts to unite, and the development of the spirit of independence. Youth organizations such as Budi Utomo, Jong Java, and other youth organizations held the First Youth Congress and culminated in the Second Youth Congress which gave birth to the Youth Pledge. The Youth Congress succeeded in combining local identities into a united national spirit. Likewise, the women's movement led by figures such as R. A. Kartini, Dewi Sartika, and Roehana Kudus, highlighted the importance of education and liberation as a means to achieve equality and active participation in the struggle for independence. The Indonesian Women's Congress held in 1928 became a symbol of the strategic role of women in socio-political aspects. The findings of this study indicate that the struggle for Indonesian independence was not only driven by the elite class, the armed forces, but also by the strength of society from various backgrounds who had a high level of political awareness and nationalism. Therefore, youth and women are key actors in creating national identity and the direction of the nation's struggle towards independence.
Bongal Site of Central Tapanuli: Early Traces of the Spread of Christianity as a Learning Resource for History Subject in High Schools Rosmaida Sinaga; Ichwan Azhari; Lister Eva Simangunsong; Pulung Sumantri
Journal Evaluation in Education (JEE) Vol 6 No 3 (2025): July
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/jee.v6i3.1693

Abstract

Purpose of the study: This study aims to present the findings from the Bongal Site as an essential learning resource for the History subject in Senior High Schools, particularly in exploring the dynamics of cultural interaction and the spread of religion in the Indonesian archipelago during ancient times. Methodology: This research employs a qualitative methodology, integrating historical and archaeological approaches. The historical approach is used to reconstruct the process of Christianity’s arrival on the west coast of Sumatra. At the same time, archaeological data are supported by an extensive literature review and field observations. Main Findings: The findings reveal that the spread of early Christianity to Sumatra, though still debated among historians, is evidenced by written sources indicating the presence of the Nestorian Church in the Fansur (Barus) region. Archaeological excavations at the Bongal Site uncovered various artifacts such as rings engraved with crosses, Roman beads, carved stones with Christian symbols, and Byzantine liturgical spoons that support this narrative. Novelty/Originality of this study: The originality of this study lies in the identification and comparative analysis of artifacts that bear significant resemblance to early Roman and Byzantine Christian objects. These findings not only offer new insights into the early presence of Christianity on Sumatra’s west coast but also support the use of the Bongal Site as a contextual and meaningful historical learning resource in secondary education.
Co-Authors Abd Haris Nasution Adrian Maulana Afifah Najdatul Muna Ajeng Priska Sari Alya Nataly Alya Putri Dania Andrian Maulana Arisya Rajagukguk Cynthia C.A Sitorus* Daniel Anugrah Marbun Dewy Maulidya Ningrum Dian Pratama Edo Immanuel Sinaga Egia Adelia Gurusinga Eka Salva Rila Esa Indriani Br Bangun Flores Tanjung Friska Fransiska Aruan Gabriel Joey Febriand Sinurat Gabriel Pakpahan Galih Raka Siwi Gema Persada Tarigan Harry Kriston Situmeang Hertati Sitanggang Hery Junianto S Marbun Hotmaida Berutu Ichwan Azhari Ilmiyatul Fitri Charisma Immanuel Steven Limbong Iren Sintiya Pelawi Jan Devit Dohardo Saragih Javanya Sinaga Jeremia Nababan Josua Simanjuntak Juan Vito Simanjuntak Karina Karina Kiki Andiani Silaban Kinanti Naya Natasha Lister Eva Simangunsong Lister Eva Simangunsong Lois Zibya Priscilla Batubara Lubis, Hafnita Sari Dewi Lundu Wijaya Simbolon Maria Irma Situmorang Maria Maharani Sitepu Marsella Br Sembiring Mawaddah Mawaddah Mesya Angelina Alo Kusa Nabila Mufti Lestari Nadia Sarita Nadya Khaterina Manurung Najuah, Najuah Nanda Aulia Sahada Natalia Fronika Sianturi Nazwa Khalizah Nelman Wisabla Nirwana Dewantari Yani Putri Nita Pardede Novia Mutiara Ocha Primalia Tondang Oktavia Sitorus Pretty Pakpahan Putri Aulia Purba Putri Hasanah Piliang Rahel Arthaida Hutajulu Rifka Ariani Lubis Risky Manullang Rizki Fadilla Sambas Rizki Hazira Ruth Debora Rumahorbo Ruth Grace Lumbantoruan Salsabila Lubis Salsalina Gurusinga Sen Aron Satahi Simanjuntak Sitevis Ndruru Siti Julaiha Sonia R. Matanari Suci Larasati Supriadi Hartawan Hutabarat Tappil Rambe Tatiah Anisah Lumban Gaol Tengku Riza Fahlevi Tesa Romanti Sibarani Thoriq Aulia Ulya Salisa Raunaq Winda Helena Simangunsong Yeni Utami Hutasoit Yesi Rotuanta Simbolon Yosafat Lesmana Tampubolon Yosua Solafide Sinaga Yuri Nasution Yushar Tanjung