Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Sejarah Peninggalan Benteng Pertahanan Jepang Di Desa Sumlili Di Kecamatan Kupang Barat Pada Masa Perang Dunia II Tahun 1942 Modena, Maria; Taneo, Malkisedek; Wisnuwardana, I Gede W
FLORESIENSIS Vol 3 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/floresiensis.v3i1.17755

Abstract

This study aims to 1) determine the history of Japanese defense forts, 2) determine the functions of Japanese defense forts, and 3) determine the current structure of Japanese defense forts. The location of this study is in Sumlili Village, West Kupang District. The technique for determining informants was carried out using snowball sampling. The data sources in this study were primary and secondary data sources. The data collection techniques used were interviews, observation, and document study. The results of this study are as follows: (1) The Japanese entered Sumlili Village in 1942, using warships and landing at Batulesa. (2) The Japanese fort in Sumlili Village was built during World War II and was used by the Japanese army to store weapons, as a place of rest, and for defense during the war. (3) Two Japanese forts remain today, located in different places but with the same structure.
Persepsi Masyarakat Suku Boti Terhadap Agama Dan Pendidikan Di Desa Boti Kecamatan Ki’e Kabupaten Timor Tengah Selatan Solle, Serliani Mariani; Taneo, Malkisedek; Wisnuwardana, I Gede Wayan
FLORESIENSIS Vol 4 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/floresiensis.v4i1.17757

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan adat istiadat dengan masuknya agama dan Pendidikan di Desa Boti Kecamatan Ki’e Kabupaten Timor Tengah Selatan dan persepsi Masyarakat suku Boti terhadap agama dan Pendidikan di Desa Boti Kecamatan Ki’e Kabupaten Timor Tengah Selatan. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penentuan informan dilakukan secara snowball sampling. Teknik pengumpulan data: wawancara, observasi dan studi dokumen. Teknik analisis data: Teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Masuknya agama dan pendidikan telah mengubah adat istiadat Masyarakat Suku Boti, membagi mereka menjadi dua kelompok: Boti Dalam dan Boti Luar. Boti Dalam masih setia pada adat istiadat, tanpa agama dan pendidikan formal, sementara Boti Luar menganut agama Kristen dan menerima pendidikan, serta mengikuti perkembangan zaman. (2) Persepsi Boti Dalam memandang agama leluhur sebagai pedoman hidup yang mengacu pada 9 hari yang diisi dengan larangan, di mana pelanggaran dapat menimbulkan malapetaka.
Tradisi Lisan Takanab Sebagai Wujud Identitas Masyarakat Dawan Di Desa Oelnaineno Kecamatan Takari Kabupaten Kupang Oemanu, Septenia Betnesia; Taneo, Malkisedek; Wisnuwardanah, I Gede Wayan
FLORESIENSIS Vol 1 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/floresiensis.v1i2.14694

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pelaksanaan Tradisi Lisan Takanab sebagai identitas masyarakat Dawan di Desa Oelnaineno Kecamatan Takari Kabupaten Kupang, untuk mengetahui makna , nilai dan fungsi Tradisi Lisan Takanab sebagai wujud identitas masyarakat dawan di Desa Oelnaineno Kecamatan Takari Kabupaten Kupang. Teknik penentuan informan dilakukan dengan cara snowball sampling. Sumberdata yang digunaan adalah primer data sekunder. Teknik pengumpulan data adalah wawancaea, observasi dan studi dokumen. teknik analisis data penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini bahwa (1) peoses pelaksanaan tradisi lisan takanab di Desa Oelnainenodilakukan dengan melalui tahap (a) tahap persiapan keluarga meminta ijin atau mengundang majelis ( tokoh agama), iman ( tokoh adat)dan keluarga yang bersangkutan untuk melakukan tradisi lisan Takana. Kemudian keluarga mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam proses pelaksanaan tradisi lisan takanab seperti: oko mama (tempat siri,beserta siri pinang ( puah nok manus), hewan (muit), uang (noni). (b) tahap pelaksanaan setelah bahan dipersiapkan waktu pelaksanaan ditentukan maka tradisi lisan Takana akan segera dilaksanakan dengan beberapa cara yaitu:percakapan antara tua adat dan orang tua yang bersangkutan selanjutnya di buka dengan Doa. (c) tahap terakhir tahap dimana semua pelaksanaan tradisi lisan takanab sudah dilaksanakan dan selanjutnya mereka akan makan besama. (2) maknaada juga simbol-simboldalamtradisitersebutyaitu: tempatsiri(okomama,hewan(muit)dan uang (noni)dan siri pinang (puahnok manus), nilai dan fungsi yang terkandung dalam tradisi Lisan Takanab.(a) makna makna yang terkandung dalam tradisi lisan takanb yaitu dimaknai dalam sebuah aktivitas ritual atau adat bagi masyarakat dawan dalam relasi dengan alam dan para leluhur. (b) nilai antara lain nilai kejujuran, nilai musyawarah, nilaikebesamaan dan nilai religi (c) fungsi dari tradisi lisan takanab mereka sebagai malaikat pelindungbukan malikat maut dari anak cucutetapi mereka melindungi anak yang sudah diberi nama.
Utilization of Historical Site Media by Teachers in Building Student Character in Junior and Senior High Schools in the Central Amanuban Sub-District Taneo, Malkisedek; Madu, Aleksius; Utomo, Susilo Setyo
Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement Vol. 5 No. 1 (2024): Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement
Publisher : LP2M INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/amalee.v5i1.4853

Abstract

This community service activity aims to explore the positive impact of using historical site media in an educational context, with a focus on student character development. Training and mentoring are directed at improving teachers' skills in integrating such media into the curriculum, so that students can develop a better understanding of historical values and character. The activity method involves intensive training, mentoring, and evaluation of the impact on the success of the activity with the main target being social studies teachers in junior high schools and senior high schools in Amanuban Central District. The stages of the activity are planning, implementation, evaluation, and reflection. The results obtained show 94.5% of teachers are very satisfied with this training activity and can provide practical guidance for teachers, schools, and related parties to more effectively integrate historical site media as a learning tool that can shape students' positive character
Pelatihan Implementasi Kurikulum Merdeka dan Pembelajaran Berdiferensiasi Bagi Guru Profesional Lulusan PPG LPTK FKIP Undana di Kabupaten Timor Tengah Utara Wonda, Hiwa; Parsa, I Made; Budiana, I Gusti Ngurah; Supu, Amirudin; Ande, Andreas; Taneo, Malkisedek; Messakh, Jakobis J.; Samo, Damianus D; Modok, Renold H.
Jurnal Kelimutu Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2025): Kelimutu Journal of Community Service (KJCS)
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/kjcs.v5i2.24909

Abstract

Kurikulum Merdeka menekankan fleksibilitas dalam proses pembelajaran, penguatan karakter, serta pemberian ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensinya sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Salah satu strategi utama dalam implementasi Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi memiliki konsep teoritik yang baik namun dalam praktiknya tidak mudah yang ditemui dalam berbagai kondisi di lapangan termasuk guru-guru profesional di kabupaten TTU. Adapun masalah mitra ini adalah 1) keterbatasan pemahaman mengenai kurikulum merdeka dan pembelajaran berdiferensiasi, 2) kurangnya keterampilan guru dalam merencanakan dan mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi. Solusi dari masalah ini dilaksanakan dalam bentuk pelatihan penguatan kompetensi pedagogi. Kegiatan pelatihan dilaksanakan di Hotel Ariesta Kefa pada Sabtu, 12 April 2025. Peserta dalam kegiatan ini adalah guru-guru alumni PPG LPTK FKIP Undana sebanyak 90 orang. Hasil kegiatan menunjukan adanya perbedaan rata-rata peningkatan pemahaman guru sebelum dan setelah kegiatan pelatihan terkait pemahaman kurikulum merdeka dan pembelajaran berdiferensiasi
Penguatan Kompetensi Pedagogik Guru Profesional Lulusan PPG LPTK FKIP Universitas Nusa Cendana di Kabupaten Belu I Gusti Ngurah Budiana; I Made Parsa; Andreas Ande; Malkisedek Taneo; Moses Kopong Tokan; Jacobis J. Messakh; Damianus D Samo; Imelda Paulina Soko
Jurnal Kelimutu Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): Kelimutu Journal of Community Service (KJCS)
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/kjcs.v5i1.27740

Abstract

Kompetensi pedagogi mencakup kemampuan guru dalam memahami karakteristik peserta didik, merancang dan melaksanakan pembelajaran, serta melakukan evaluasi pembelajaran secara efektif. Namun demikian, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan termasuk guru profesional lulusan PPG LPTK Universitas Nusa Cendana. Solusi praktis yang dilaksanakan LPTK FKIP Universitas Nusa Cendana yakni dengan mengadakan pelatihan penguatan kompetensi pedagogik berbasis praktik. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kemampuan guru dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Pendekatan yang digunakan adalah praktik langsung (learning by doing) sehingga guru dapat langsung mengaplikasikan konsep yang dipelajari. Indikator keberhasilan kegiatan ini adalah rata-rata keaktifan peserta pada kategori baik, atau minimal memiliki nilai observasi 3,00 dan ≥ 75% guru memiliki pemahaman yang baik terkait kompetensi pedagogi dan praktiknya dalam pembelajaran di kelas. Hasil kegiatan menunjukan nilai hasil observasi berada pada nila 3,53 atau kategori sangat baik dan adanya perbedaan rata-rata peningkatan yang signifikan pemahaman guru sebelum dan setelah kegiatan pelatihan
Sejarah Kerajaan Amanuban di Bawah Kepemimpinan Raja Kusa Nope Tahun 1950-1958 Vento Ketman Alian Taneo; Malkisedek Taneo; Sarlota Naema Sipa
ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisiplin Vol. 4 No. 5 (2026): ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisplin, Mei 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/armada.v4i5.2490

Abstract

Penelitian ini menganalisis sejarah Kerajaan Amanuban di bawah kepemimpinan Raja Kusa Nope pada periode 1950-1958, sebuah era transisi krusial dari sistem kolonial menuju negara kesatuan Republik Indonesia. Fokus utama penelitian adalah (1) latar belakang pengangkatan Kusa Nope sebagai raja, dan (2) strateginya dalam mempertahankan legitimasi kekuasaan tradisional di tengah tekanan modernisasi pemerintahan. Metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan pendekatan kualitatif melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber data primer diperoleh dari wawancara mendalam dengan Pina Ope Nope (46 tahun, cucu istri kedua Raja Pae Nope) dan Gerson Lobis Nope (59 tahun, anak dari istri ketiga Raja Kusa Nope dari marga Nitbani) pada Mei 2026, serta observasi lapangan di situs-situs historis Niki-Niki dan Tunbes. Sumber sekunder mencakup naskah akademik Hans Hägerdal (2025), Algemeine Memorie oleh J. Venema (1916), silsilah tak diterbitkan oleh P.G. Spillett (1999), catatan kolonial L.J. van Dijk (1925 & 1934), serta dokumen silsilah "AMANUBAN" dari keluarga kerajaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kusa Nope diangkat sebagai pemangku raja (Kartikel kedua) pada tanggal 14 Juli 1949 menggantikan saudara tirinya, Paulus Nope, yang sakit. Ia lahir pada tahun 1922 dan wafat pada tahun 1979 (menurut sumber lisan 27 Februari 1980), dimakamkan di Niki-Niki. Ia memiliki tiga istri dan tiga sonaf (istana): Sonaf Sonbesi, Sonaf Ayo di Niki-Niki, dan Sonaf Tae Hue di Soe. Latar belakang pendidikannya di Makassar (program khusus bangsawan oleh Belanda) menjadi modal penting bagi strategi "Adaptasi Diplomatis Elit Tradisional" yang ia kembangkan. Strategi ini meliputi: (1) adaptasi struktural dengan menerima status Kepala Daerah Swapraja (KDS), (2) pemanfaatan pendidikan modern untuk legitimasi rasional, (3) pembangunan jejaring politik nasional hingga anggota Konstituante (1955), dan (4) penghibahan tanah kerajaan kepada pemerintah untuk integrasi administrasi modern. Kesimpulannya, Kusa Nope berhasil melakukan transformasi kepemimpinan dengan mengkombinasikan tiga bentuk otoritas (tradisional, kharismatik, dan legal-rasional), sehingga mampu mempertahankan pengaruh kerajaan hingga penghapusan sistem swapraja pada tahun 1962.
Training and Assistance for History Teachers in Implementing Inclusive Learning Models in Senior High Schools in Malaka Regency Malkisedek Taneo; Susilo Setyo Utomo; Aleksius Madu; Silvanus Jefrino Mali; Nino Mailani
Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement Vol. 6 No. 2 (2025): Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement
Publisher : LP2M INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/amalee.v6i2.7960

Abstract

This service activity was motivated by the lack of training and resources that support inclusive learning in schools. The aim is to equip teachers in Malacca district with the ability to implement inclusive learning models. We used the methods of planning, action, observation, evaluation and reflection. The stages began with coordination with the Malacca District Education and Culture Office, socialization to high school teachers, and program development based on situation and needs analysis. In this activity, teachers received training and mentoring and conducted inclusive learning simulations. The results show that 94.5% of teachers have adequate skills in implementing inclusive learning models in the classroom. This indicates a positive impact, where teachers become more creative in helping students according to their abilities.