Claim Missing Document
Check
Articles

MAKNA DIRI RESCUER PADA BADAN SEARCH AND RESCUE NASIONAL KANTOR SAR PEKANBARU Yose Fratama; Genny Gustina Sari
Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 4, No 2: WISUDA OKTOBER 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rescuer's work in every search and rescue operation is a high-risk job. Working as a Rescuer can endanger their own lives and require them in continuous preparedness. The high humanity and strong mental of Rescuer play a role in saving the lives of those whose bodies are incomplete. In their work, Rescuer always interacts well with fellow Rescuer as well as with the community in every search and rescue operation. This study aims to determine the meaning of Rescuer’s self and the meaning of humanity for Rescuer at National SAR Agency of Pekanbaru SAR Office.This research uses descriptive qualitative research type with phenomenology approach. Research subjects consist of four Rescuer at National SAR Agency of Pekanbaru SAR Office selected by using purposive technique. This study uses data collection techniques through in-depth interviews, observation, and documentation. To achieve the validity of the data in this study, researchers used extension of participation, triangulation, and reference adequacy.The results show that the first, the meaning given by the Rescuer at the National SAR Agency of Pekanbaru SAR Office to himself as a Rescuer that is as a humanity worker, helper in any case, and servant of the state. Second, the meaning of humanity for a Rescuer at the National Rescue Agency of Pekanbaru SAR Office in his work as Rescuer is helping others, as the basis of work, and the task of every human being.Keywords: Rescuer, Self meaning, Humanity
Strategi Pengelolaan Komunikasi Corporate Social Responsibility Melalui Program Bukit Mekar PT. PERTAMINA RU II Dumai Welly Wirman; Genny Gustina Sari; Indah Kus Pratiwi
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study (E-Journal) Vol. 7 No. 1 (2021): JURNAL SIMBOLIKA APRIL
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/simbollika.v7i1.4279

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan-tahapan dalam pengelolaan program CSR Pertanian dan Perikanan Bukit Mekar Terpadu.  Menggunakan metode penelitian kualitatif, dan penentuan informan menggunakan teknik purposive. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pertamina RU II Dumai CSR melaksanakan empat tahapan pengelolaan program CSR Bukit Mekar diantaranya: tahap perencanaan program CSR Dumai RU II melakukan social mapping untuk mengetahui wilayah binaan yang membutuhkan program. pendampingan dan pengumpulan permasalahan sosial di wilayah binaan yang meliputi penyuluhan dan pendampingan tentang program yang akan dilaksanakan. Pemantauan program, termasuk pemantauan sistematis yang dilakukan oleh CSR Pertamina RU II Dumai dan pemangku kepentingan terkait. Evaluasi, yang dilakukan untuk kelangsungan program agar terus berjalan dan untuk meningkatkan kapasitas dan pendapatan masyarakat yang dikelola oleh Kelompok Tani. Untuk melihat upaya perusahaan dalam memberikan pendampingan dan penyuluhan kepada Grup Bukit Mekar atas pengelolaan program Pertanian dan Perikanan Bukit Mekar Terpadu, perusahaan berupaya mewujudkan program CSR ini menjadi Ikon Pariwisata Kota Dumai. Kesimpulan penelitian ini bahwa Pertamina RU II Dumai CSR melaksanakan empat tahapan pengelolaan program CSR Bukit Mekar diantaranya: tahap perencanaan program CSR Dumai RU II, pendampingan dan pengumpulan permasalahan sosial di wilayah binaan, Pemantauan program, Evaluasi, yang dilakukan untuk kelangsungan program agar terus berjalan dan untuk meningkatkan kapasitas dan pendapatan masyarakat yang dikelola oleh Kelompok Tani.
Penyerapan dan Pemanfaatan Kompetensi Komunikasi dalam Membentuk Excellent Public Relation melalui PERHUMAS BPC Riau Genny Gustina Sari; Welly Wirman; Tutut Ismi Wahidar; Ikhma Zurani; Salwa Fahira; Gasela Hardianti
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study (E-Journal) Vol. 7 No. 1 (2021): JURNAL SIMBOLIKA APRIL
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/simbollika.v7i1.4443

Abstract

Penelitian ini memfokuskan pada upaya-upaya merumuskan kebijakan-kebijakan yang nantinya bisa diterapkan di Intansi-intansi yang ada tidak hanya dalam skala regional namun juga nasional mengenai apa dan bagaimana PR itu selayaknya di lapangan sehingga kita mampu mewujudkan kompetensi komunikasi yang excellent. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara kepada 4 orang informan dari PERHUMAS Wilayah Riau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk mewujudkan excellent PR tidak bisa hanya dari satu pihak saja, kerjasama dan integrasi yang solid antara perusahaan yang berkomitmen mewujudkan excellent PR dengan praktisi PR yang tidak berhenti memperbaiki kualitas mereka. Hambatan dalam mewujudkan excellent PR di Wilayah Riau sejauh ini adalah kurangnya pemahaman mengenai fungsi dan tugas humas, divisi humas masih dianggap sebagai pelengkap dan digabungkan dengan divisi lainnya, minimnya pelatihan kehumasan baik ditingkat akademisi maupun masyarakat serta penerapan excellent PR dianggap terlalu sulit dan rumit untuk diwujudkan. Kesimpulan penelitian ini bahwa Penyerapan kompetensi komunikasi PR di beberapa Intansi di Provinsi Riau dirasa masih belum maksimal.
Bentuk arsitektur sebagai media komunikasi ritual pengobatan suku Akit di pulau Rupat Gun Faisal; Genny Gustina Sari
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 7, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.165 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v7i1.16621

Abstract

Salah satu bentuk aktivitas komunikasi terjadi pada ritual Bedekeh yang dilakukan oleh Suku Akit di Pulau Rupat. Ritual Bedekeh merupakan sebuah ritual pengobatan dimana seorang Bomo (dukun) menjadi perantara antara si sakit dengan arwah nenek moyang yang dipercayai mampu menyembuhkan penyakit. Dalam ritual Bedekeh terdapat aktivitas komunikasi ritual yang sarat dengan makna dan simbol khususnya dari segi bangunan arsitektur serta peralatan yang digunakan Bomo dalam ritual ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana bentuk arsitektur berfungsi sebagai media pengobatan masyarakat suku Akit. Kajian ini membahas bentuk tidak hanya sebagai bagian dari arsitektur tetapi juga bagian dari ritual dan kebudayaan. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi digunakan dalam penelitian ini. Penelitian dimulai dengan mengkaji bentuk arsitektur vernakular dan ritual Bedekeh sebagai background knowledge, dilanjutkan dengan mengumpulkan informasi mengenai tata cara dan ritual pengobatan tersebut. Selanjutnya melihat elemen-elemen arsitektur yang terdapat dalam cara pengobatan beserta fungsi dan maknanya. Berdasarkan temuan lapangan, model Rumah Roh (Huma) dan Istana (Balai) digunakan sebagai media komunikasi antara Bomo (dukun) dengan para roh, jin, maupun hantu. Bentuk dari model Huma dan Balai tersebut tercipta dari wahyu atau bayangan, maupun mimpi Bomo sesuai dengan keinginan roh tersebut. Proses pembuatan Balai dilakukan oleh Bomo dan keluarganya, sedangkan model Huma dikerjakan oleh keluarga pasien dan tetangga pasien. Jika dilihat dari proses terciptanya bentuk dari Balai dan Rumah Roh tersebut, bentukan itu terlihat lazim seperti bentuk dari rumah suku Akit itu sendiri.
Communication Patterns of Adolescent Self-Harm Suffering in Interpersonal Relationships Genny Gustina Sari; Welly Wirman
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkk.v10i1.29384

Abstract

The phenomenon of self-harm is an iceberg phenomenon that generally attacks teenagers. Self-harm is an act of self-harm in which the perpetrator finds pleasure and a feeling of satisfaction and relief. This act of self-harm is not properly recorded, but the times have shown that self-harm sufferers have begun to show their activities on social media such as Twitter. Several previous studies have explained that teenagers self-harm due to a lack of communication and bonding between the perpetrator and his family and closest people. The purpose of this study was to determine the process of social penetration in adolescents with self-harm communication patterns in establishing interpersonal relationships in Pekanbaru City and to determine the communication patterns formed in adolescents with self-harm in establishing interpersonal relationships with family and friends in Pekanbaru City. This study uses a qualitative research method with a phenomenological approach. Based on the findings in the field, the communication pattern found by self-harm sufferers with their families is using permissive communication patterns. Permissive communication patterns of self-harm sufferers are in the form of indifference, indifference, and freedom that goes beyond parents’ boundaries to children. Self-harm sufferers admit minimal verbal and nonverbal interaction with their parents and that self-harm is done not as a form of protest but rather as an emotional outlet. Self-harm is a form of children’s disappointment with their parents, and their actions upload these actions on Twitter as a form of protest and resistance by children against communication patterns and parenting patterns in a wider scope as well as a medium for dancing with friends so that they don’t feel alone.
Instagram dan Ketidakamanan Sosial: Pengalaman Remaja Perempuan Kelas Bawah di Rejang Lebong Muhammad Valiant Dwinanda; Puji Rianto; Genny Gustina Sari
Jurnal Komunikasi Global Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.026 KB) | DOI: 10.24815/jkg.v11i2.26688

Abstract

Penggunaan Instagram di kalangan anak remaja di daerah kecil seperti Rejang Lebong akan memberikan pengalaman baru dalam kehidupan mereka. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi pengalaman remaja kelas menengah bawah dalam menggunakan media sosial Instagram di Rejang Lebong. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan delapan informan dan observasi di media sosial dengan menjadi follower Instagram informan. Penelitian ini menemukan bahwa para informan yang menjadi subjek penelitian mempunyai pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan ketika menggunakan Instagram. Mereka juga terlibat secara aktif dalam mengelola kesan, baik secara fisik maupun sosial. Pengelolaan kesan ini dilakukan untuk menutupi kelemahan dan kekurangan mereka.  The use of Instagram among teenagers in small areas such as Rejang Lebong has provided new experiences in their lives. This research was conducted to explore the experiences of lower-class teenagers in Rejang Lebong in using Instagram. This study used a qualitative approach with phenomenological methods. Data were collected through interviews with eight participants and observations on social media by following their Instagram accounts. This study found that the informants who were the study subjects had pleasant and unpleasant experiences when using Instagram. They are also actively involved in managing impressions, both physically and socially. This impression management is done to cover their weaknesses and shortcomings.
Identity discourse and phenomenon of reunion on West Sumatran student Wirman, Welly; Marta, Rustono; Sari, Genny Gustina; Azahari, Helmi; Hadisty, Hadisty
Jurnal Studi Komunikasi Vol. 6 No. 3 (2022)
Publisher : Faculty of Communications Science, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/jsk.v6i3.5174

Abstract

This study aims to determine the goals, motives, and discourses on the identity of the West Sumatra overseas student reunion participants in Pekanbaru. Reunions have become popular and seem to be a way of life in our society. Communicative Action Theory will be used to identify a reunion between a school in Pekanbaru. This study uses a qualitative research method with a phenomenological approach. The results showed that the meaning of reunion was divided into three, namely the meaning of the purpose of silaturrahmi, the The motives are divided into the Bacarito Lamak motive, the fierce motive, and the Kepo motive. Furthermore, in the context of motifs consisting of motifs while diving, drinking water motives and motives provide greater benefits in the form of discussion motives and social motives. Identity discourse consists of appearance, self-actualisation, and connectivity rather than a show-off.
PENGELOLAAN KESAN PENGEMIS CACAT FISIK DI KOTA PEKANBARU Tri Melisa Selviani; Genny Gustina Sari
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35967/jkms.v7i1.5673

Abstract

Berdasarkan Dinas Sosial Kota Pekanbaru, jumlah pengemis di Pekanbaru telah meningkat dari 15 orang pada tahun 2015 menjadi 80 pada tahun 2016. Bahwa, ada aturan larangan pengemis yang tercantum dalam Peraturan Daerah Pekanbaru tentang tatanan sosial dalam Bab 3 bagian 3 mengenai larangan untuk pengemis dan tunawisma. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tahap depan dan tahap belakang pengemis yang cacat.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subyek penelitian terdiri dari 4 pengemis cacat, 3 pria dan seorang wanita, yang diperoleh dengan menggunakan teknik bola salju. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Untuk mencapai validitas, penulis menggunakan ekstensi partisipasi dan triangulasi.Hasilnya menemukan bahwa pada tahap depan, pengemis cacat dikelola kesan verbal dan nonverbal. Dalam kesan verbal, pengemis dapat menyapa "Assalamualaikum" untuk target mereka menggunakan intonasi rendah dan lemah. Sementara dalam kesan nonverbal, pengemis menggunakan nada suara yang panjang dan lemah, menggunakan mangkuk dan tangan sebagai tanda bahwa mereka memohon uang, dan bahasa tubuh yang lamban. Munculnya para pengemis di panggung depan mengenakan pakaian lusuh dan membawa tas atau saku untuk menghemat uang dari mengemis. Ekspresi wajah yang mereka tunjukkan menyedihkan, sedih, dan datar. Berbeda dari panggung depan, di tahap belakang, komunikasi verbal menggunakan bahasa daerah dengan intonasi yang jelas dan tinggi, tidak kaku, tegas, dan kasar. Sementara di tahap belakang, mereka menggunakan sikap nonverbal dengan berkomunikasi dengan suara nada tinggi, tertawa lepas, bahasa tubuh gesit, berpakaian bersih, dan ekspresi wajah ceria.
MAKNA DIRI RESCUER PADA BADAN SEARCH AND RESCUE NASIONAL KANTOR SAR PEKANBARU Genny Gustina Sari; Yose Fratama
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35967/jkms.v6i1.4237

Abstract

Rescuer's work in every search and rescue operation is a high-risk job. Working as a Rescuer can endanger their own lives and require them in continuous preparedness. The high humanity and strong mental of Rescuer play a role in saving the lives of those whose bodies are incomplete. In their work, Rescuer always interacts well with fellow Rescuer as well as with the community in every search and rescue operation. This study aims to determine the meaning of Rescuer’s self and the meaning of humanity for Rescuer at National SAR Agency of Pekanbaru SAR Office.This research uses descriptive qualitative research type with phenomenology approach. Research subjects consist of four Rescuer at National SAR Agency of Pekanbaru SAR Office selected by using purposive technique. This study uses data collection techniques through in-depth interviews, observation, and documentation. To achieve the validity of the data in this study, researchers used extension of participation, triangulation, and reference adequacy.The results show that the first, the meaning given by the Rescuer at the National SAR Agency of Pekanbaru SAR Office to himself as a Rescuer that is as a humanity worker, helper in any case, and servant of the state. Second, the meaning of humanity for a Rescuer at the National Rescue Agency of Pekanbaru SAR Office in his work as Rescuer is helping others, as the basis of work, and the task of every human being.
PELATIHAN KOMPETENSI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM MEMPERSIAPKAN MASYARAKAT SADAR WISATA DI KOTA SIAK SRI INDRAPURA KABUPATEN SIAK Welly Wirman; Ringgo Eldapy Yozani; Genny Gustina Sari; Chelsy Yesicha
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35967/jkms.v7i2.7338

Abstract

Kabupaten Siak Sri Indrapura adalah salah satu kabupaten yang konsisten dalam mengembangkan industri pariwisata di provinsi Riau. Hal ini dibuktikan dengan perubahan wajah Kota Siak Sri Indrapura yang bersiap dan berbenah untuk menyambut wisatawan yang lebih banyak setiap tahunnya, selain itu juga dibuktikan dengan terpilihnya Istana Siak sebagai situs terpopuler dalam Anugran Sapta Indonesia Tahun 2017 oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pada Event Tour De Siak yang diadakan tahun 2016 lalu, penulis sempat melakukan perbincangan dengan masyarakat setempat mengenai kondisi yang terjadi saat event ini berlangsung. Mayoritas peserta dan wisatawan mancanegara yang datang tidak fasih berbahasa Indonesia apalagi Bahasa Melayu dan sebaliknya juga masyarakat setempat selaku tuan rumah tidak lancar berbahasa Inggris. Berdasarkan realitas di atas, penulis tertarik untuk melakukan pelatihan tentang bagaimana kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh masyarakat Siak guna mempersiapkan Siak sebagai daerah tujuan wisata. Sasaran dalam pelatihan ini lebih difokuskan pada generasi muda yang tinggal di Siak dan belum bekerja, pelatihan ini akan membuka ladang pekerjaan baru di Siak dan tentunya melalui pelatihan yang diadakan dapat bermanfaat menjadikan Siak kabupaten yang tidak hanya layak anak tetapi juga sebagai salah satu daerah tujuan wisatawan dalam dan luar negeri.Pelatihan yang dilakukan pada tanggal 12 September 2018 menghasilkan antusias warga yang sangat tinggi. Kami melihat bukan hanya pemerintah yang bersemangat memajukan daerah namun juga masyarakat yang terlihat antusias menyiapkan daerahnya sebaga tujuan wisata Provinsi Riau. Selain pelatihan, kami juga memberikan praktek public speaking kepada masyarakat untuk menyambut wisatawan yang datang. Kami sedang mengupayakan artikel untuk dimuat di Jurnal Nasional sebagai bentuk publikasi ilmiah serta pamplet yang nantinya akan dibagikan dan disebarkan tidak hanya di Siak tetapi juga di lokasi strategis seperti bandara dan pelabuhan.