Claim Missing Document
Check
Articles

Komunikasi Digital di Media Sosial dan E-Commerce dalam Menentukan Keputusan Pembelian Produk Lilin Aromaterapi Janessa Pandi; Roswita Oktavianti
Kiwari Vol. 1 No. 2 (2022): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v1i1.15744

Abstract

Digital communication in social media and e-commerce can influence and determine purchasing decisions for a product. Digital communication on social media and e-commerce also makes it easier for people to shop. This research raises about how digital communication in social media and e-commerce in purchasing decisions of aromatherapy candle products. The method used in this paper is a qualitative research method. Collecting data by interviewing resource persons and non-participant observation. Then for the theory used in this study is the theory of Attention, Interest, Desire, Action (AIDA) and the concept of purchasing decisions. Based on the results of this study, it is known that digital communication on social media in determining purchasing decisions does not always go well, there are obstacles that occur in communicating on social media. Communication can only be done through chat, not face-to-face, requiring a strong and good signal or internet connection. There are several factors that determine purchasing decisions for a product, including good communication between sellers and buyers, speed in responding to messages or buyer questions. The trust given by online sellers is also one of the important factors in determining the purchase decision of a product. Komunikasi digital di dalam media sosial maupun e-commerce dapat mempengaruhi dan menentukan keputusan pembelian suatu produk. Komunikasi digital di media sosial dan e-commerce juga memudahkan masyarakat untuk berbelanja. Penelitian ini mengangkat tentang bagaimana komunikasi digital di media sosial dan e-commerce dalam keputusan pembelian produk lilin aromaterapi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dengan cara wawancara narasumber dan observasi non partisipan. Kemudian untuk teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Attention, Interest, Desire, Action (AIDA) dan konsep keputusan pembelian. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, diketahui bahwa komunikasi digital di media sosial dalam menentukan keputusan pembelian tidak selalu berjalan dengan baik, terdapat hambatan-hambatan yang terjadi dalam berkomunikasi di media sosial. Komunikasi yang dilakukan hanya dapat melalui chatting, tidak melalui tatap muka, membutuhkan sinyal atau koneksi internet yang kuat dan baik. Terdapat beberapa faktor yang menentukan keputusan pembelian suatu produk, diantaranya adalah komunikasi yang baik antar penjual dan pembeli, kecepatan dalam merespon pesan atau pun pertanyaan pembeli. Kepercayaan yang diberikan oleh penjual online juga salah satu faktor yang penting dalam menentukan keputusan pembelian suatu produk. 
Komunikasi Pemasaran Bisnis Daring Melalui Media Sosial Instagram (Studi Kasus Pada Reseller Produk Kosmetik Bellshops) Irene Angelina; Roswita Oktavianti
Kiwari Vol. 1 No. 4 (2022): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v1i4.15954

Abstract

Online business is a business that is carried out using the internet and is carried out through social media as a tool to introduce or sell products that you want to market. In this study, the researcher raised the topic of marketing communications in the Bellshops online business. Bellshops is one of the online business in the cosmetic field that uses social media as a promotional medium. This study uses a qualitative approach with a case study method conducted on Bellshops social media. Data collection is done by interview technique. The results of this study indicate that the marketing communication carried out by Bellshops in increasing buying interest through social media is considered effective. The marketing communications carried out by Bellshops through social media are in the form of interesting and informative content. other than through content, Bellshops carries out various promotional activities such as endorsements, discounts, giveaways, and so on. Bisnis daring atau biasa disebut dengan bisnis online merupakan bisnis yang dilakukan menggunakan internet dan dilakukan melalui media sosial sebagai alat untuk memperkenalkan atau menjualkan produk yang ingin dipasarkan. Pada penelitian ini, peneliti mengangkat topik menggenai komunikasi pemasaran pada bisnis daring Bellshops. Bellshops merupakan salah satu bisnis daring dalam bidang kosmetik yang menggunakan media sosial sebagai media promosi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang dilakukan pada media sosial Bellshops. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran yang dilakukan Bellshops dalam meningkatkan minat beli melalui media sosial berupa konten-konten yang menarik dan informatif. Selain melalui konten-konten, Bellshops melakukan berbagai kegiatan promosi seperti endorsement, diskon, giveaway, dan sebagainya.
Producing News Stories on the YouTube Platform by Mobile Journalists in Indonesia Roswita Oktavianti; Sinta Paramita; Gregorius Genep Sukendro
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 22, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jik.v22i1.6907

Abstract

Mobile journalism has been a mainstay in some news media outlets as audiences migrate to smaller screens for news. In response to the competitive media environment, organizations embrace mobile technology to expand the scope of their content. This article employs emerging perspectives as one of the organizational theory approaches. This study aims to determine the process behind news stories created by mobile journalists depending on their institution, the current circumstances, and technological advances. This study compares mobile journalists from two different news YouTube channels in Indonesia. Researchers collected data by observing news videos and interviewing news editors. The result showed that rules upheld by the media organizations would determine their productivity, the topic of news stories, and the quality of news sources. The COVID-19 pandemic has changed the news creation process as they had to work remotely. In addition, it is worth noting that mobile journalists must shoot and edit videos and have a multimedia mindset. This study suggests that a newsroom must have stricter rules and guidelines as it will be the main factor in producing news videos on YouTube channels. Journalists should also be prepared to adopt digital technology to cope with unprecedented situations.
Komunikasi Verbal Body Shaming di Media Sosial Twitter terhadap Kepercayaan Diri Remaja Shavira Shavira; Roswita Oktavianti
Kiwari Vol. 2 No. 1 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i1.23071

Abstract

Bullying of body shaming is increasingly prevalent on Twitter. With the existence of social media, bullying often occurs in cyberspace. Verbal communication is communication that is carried out orally or in writing. Verbal communication on Twitter uses writing. Body shaming is bullying that targets body shape, skin color, and body hair. Meanwhile, what is meant by self-confidence is a strong feeling of trust in one's own abilities. The purpose of this study was to find out if there was any influence of verbal body shaming communication on Twitter social media on adolescent self-confidence. The independent variable in this study is verbal communication and the dependent variable is self-confidence. The approach used for this research is a quantitative approach using a questionnaire method that is spread on social media Twitter. The results of this study show that there is no influence between verbal communication on Twitter social media and adolescent self-confidence. Usually, the perpetrator of body shaming only sees from 1 post that does not represent the overall state of the victim. There are also not a few Twitter users who use pseudonymous identities. What's more, Twitter is limited to 240 characters per tweet. Perundungan (bully) body shaming semakin marak di Twitter. Dengan adanya media sosial, perundungan sering terjadi di dunia maya. Komunikasi verbal merupakan komunikasi yang dilakukan secara lisan maupun tulisan. Komunikasi verbal di Twitter menggunakan tulisan. Body shaming merupakan perundungan yang menargetkan bentuk tubuh, warna kulit, dan rambut tubuh. Sedangkan yang dimaksud dengan kepercayaan diri adalah perasaan percaya yang kuat terhadap kemampuan diri sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh komunikasi verbal body shaming di media sosial Twitter terhadap kepercayaan diri remaja. Variabel independen dalam penelitian ini adalah komunikasi verbal dan variabel dependennya adalah kepercayaan diri. Pendekatan yang digunakan untuk penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode kuesioner yang disebarkan di media sosial Twitter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara komunikasi verbal di media sosial Twitter dengan kepercayaan diri remaja. Biasanya, pelaku body shaming hanya melihat dari 1 unggahan yang tidak mewakili keadaan korban secara keseluruhan. Juga tidak sedikit pengguna Twitter yang menggunakan identitas samaran. Terlebih, Twitter dibatasi hanya 240 karakter setiap tweetnya.
Strategi Komunikasi Pemasaran dalam Penjualan Produk Pakaian Olahraga (Jersey) Sepeda di Pandemi Covid-19 (Studi Kasus Pada Fitamin Lab Studios) Yunas Boentarya; Roswita Oktavianti
Kiwari Vol. 2 No. 2 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i2.24027

Abstract

Sports activities during the Covid-19 pandemic have increased because exercise is considered to be able to ward off boredom at home, increase immunity, fill spare time, and increase energy in carrying out daily routines. Fitam Lab Studios is a business that sells sports needs, namely performance jersey. This study aims to find out how marketing communication and company communication in the sale of bicycle jersey products during the Covid-19 pandemic were carried out by Fitam Lab Studio. This research was conducted using a qualitative research approach and case study research methods at Fitam Lab Studios. The results of this study indicate that Fitam Lab Studios implements online marketing through social media and offline by going directly to the community. The segmentation and target market for Fitam Lab Studios are cyclists or cyclists. In terms of positioning, Fitam Lab Studios organizes various general activity events. In relation to the 4Ps in the concept of marketing communication, Fitamine Lab Studios always adjusts product, price, place and promotion by looking at market conditions in Indonesia and abroad so that it can adjust the price and quality of the product. Kegiatan olahraga di masa pandemi Covid-19 ini meningkat karena olahraga dianggap dapat mengusir kebosanan di rumah, meningkatkan imunitas, mengisi waktu luang, dan meningkatkan energi dalam menjalani rutinitas sehari-hari. Fitamin Lab Studios adalah bisnis usaha yang menjual kebutuhan olahraga yakni performance jersey. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi pemasaran dan komunikasi perusahaan dalam penjualan produk jersey sepeda saat pandemi Covid-19 yang dilakukan oleh Fitamin Lab Studio. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif serta metode penelitian studi kasus pada Fitamin Lab Studios. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Fitamin Lab Studios menerapkan pemasaran secara online melalui media sosial dan offline dengan cara turun langsung ke masyarakat. Segmentasi dan target pasar Fitamin Lab Studios adalah cyclist-cyclist atau pesepeda. Dari segi positioning, Fitamin Lab Studios menyelenggarakan berbagai event activity secara umum. Berkaitan dengan 4P dalam konsep komunikasi pemasaran, Fitamin Lab Studios selalu menyesuaikan product, price, place dan promotion dengan melihat kondisi pasar yang ada di Indonesia maupun luar negeri sehingga dapat menyesuaikan harga dan kualitas produk.
Peran Brand Ambassador Perusahaan E-Sport dalam Menumbuhkan Loyalitas Penggemar Kellie Wen; Roswita Oktavianti
Kiwari Vol. 2 No. 4 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i4.27274

Abstract

This research aims to find out about the role of ESport company brand ambassadors in growing fan loyalty. ESports or electronic sports is a term for the competitive world of multi- player video game games or competitions. Meanwhile, brand ambassadors are individuals or groups appointed as icons or identities to represent certain products as the best image representation of a product, so that consumers can be attracted and invited to buy or use the product with expertise and attractiveness. The theory used to support this research is public opinion. This study uses a qualitative method. Data collection in this research used focus group discussion techniques. The subjects of this research were brand ambassador followers and ESport followers on social media. In accordance with the objectives of this research, the author wants to see how public opinion is regarding the role and influence of brand ambassadors in growing fan loyalty for ESport companies. This research shows that the influence of a brand ambassador in building fan loyalty for an E-Sport company is very important. Apart from that, this research shows the importance of visibility, credibility, attraction and brand ambassador power indicators to grow or increase fan loyalty. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang peran brand ambassador perusahaan ESport dalam menumbuhkan loyalitas penggemar. ESports atau electronic sports adalah sebuah istilah untuk dunia kompetitif dalam game atau kompetisi video game pemain jamak. Sementara Brand ambassador atau duta merek adalah individu atau kelompok yang ditunjuk sebagai ikon atau identitas untuk mewakili produk tertentu sebagai representasi citra terbaik dari suatu produk, sehingga konsumen dapat tertarik dan diundang untuk membeli atau menggunakan produk dengan keahlian dan daya tarik. Teori yang dipakai untuk mendukung penelitian ini adalah opini publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik focus group discussion atau diskusi kelompok. Subjek dari penelitian ini adalah pengikut brand ambassador dan pengikut ESport di media sosial. Sesuai dengan tujuan dari dari penelitian ini, maka penulis ingin melihat bagaimana opini publik terhadap peran dan pengaruh brand ambassador dalam menumbuhkan loyalitas penggemar untuk perusahaan ESport. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh seorang brand ambassador dalam membangun loyalitas penggemar untuk perusahaan E-Sport sangatlah penting. Selain itu penelitain ini menunjukkan hasil bahwa pentingnya indicator visibility, credibility, attraction, dan power brand ambassador untuk menumbuhkan atau meningkatkan loyalitas penggemar.
Strategi Komunikasi Pemasaran melalui Influencer pada Media Sosial Studi Akun Instagram @secondatebeauty Kezia Therezia Marpaung; Roswita Oktavianti
Kiwari Vol. 2 No. 4 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i4.27276

Abstract

Secondate Beauty is a local cosmetic brand that launched a make up brand in 2020 in Indonesia. The owner of Secondate is a rising beauty influencer, namely Titan Tyra, while Gitta Amelia does bookkeeping in the world of Finance and Venture Capital which is more male-oriented. With the emergence of Secondate, Titan and Gitta hope that the products that are born can have value and want to create valuable products at affordable prices through social media, websites and e-commerce. Brand Activation is a form of marketing interaction between consumers and brands so that customers can know the brand carefully. The approach taken by Brand Activation is by introducing significant things through direct marketing activation, promotions activation, social media activation, sponsorship activation, marketing event activation which are aligned with the four main pillars of Brand Activation through product and service, employees, identity, and communication to understand that the role of influencers in Secondary beauty products is to promote products and present influencer marketing trends. This research aims to find out the Role of Influencers in Brand Activation through social media. The research data uses a qualitative approach with a descriptive case study research method to obtain data collection, namely interviews, observation and documentation using three informants with the object of research as Secondate Beauty. The results of this study state that Brand Activation activities also utilize social media through Influencers with promotions and social media that are displayed to the public. Secondate Beauty merupakan sebuah brand kosmetik lokal yang meluncurkan merek make up pada tahun 2020 di Indonesia. Pemilik Secondate merupakan beauty influencer yang sedang naik daun yaitu Titan Tyra sedangkan Gitta Amelia melakukan pembukuan di dunia Keuangan dan Modal Ventura yang lebih mengarah oleh pria. Dengan munculnya Secondate ini Titan dan Gitta berharap produk yang di lahirkan dapat memiliki nilai dan ingin mewujudkan produk yang bernilai dengan harga terjangkau melalui media sosial, website dan e-commerce. Brand Activation merupakan sebuah bentuk interaksi pemasaran antara konsumen dan brand sehingga pelanggan dapat mengetahui brand dengan seksama. Pendekatan yang dilakukan Brand Activation dengan cara memperkenalkan hal yang signifikan melalui direct marketing activation, promotions activation, social media activation, sponsorship activation, marketing event activation yang diselaraskan dengan empat pilar utama Brand Activation melalui product and service, employees, identity, dan communication untuk memahami bahwa peran influencer pada produk Secondate beauty guna mempromosikan produk dan menghadirkan trend influencers marketing. Penelitian ini ditujukan mengetahui bagaimana peran influencer dalam brand activation melalui media sosial. Data Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi kasus deskriptif memperoleh pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi dengan menggunakan tiga narasumber dengan objek penelitian Secondate Beauty. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa kegiatan Brand Activation juga memanfaatkan media sosial melalui Influencer dengan promosi dan sosial media yang ditampilkan kepada khalayak.
Strategi Mempertahankan Brand Knowledge Program Televisi Seputar Indonesia di RCTI Roswita Oktavianti; Budi Utami
Jurnal Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2019): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v11i1.3045

Abstract

Brand of television programs has positive equity. It marks by the strength of audience awareness and familiarity with the name of the program. Marketer of television station are considered can create brand knowledge of the program in the audience memory. Nevertheless, as a business, television industries supposed to dynamically follow market need and wants. The brand of the television program which has strength awareness as well as the image on the audience memory will gradually change as much as a media business. This study using a qualitative method and case study as a research strategy to reveals the research problem about how the newsroom team arranged their strategies to maintain brand knowledge to the popularity program. The case study was conducted on RCTI news program “Seputar Indonesia” which has top of mind in audience memory then changed into “Seputar iNews”. This study aiming to enquire how television broadcasting journalist strategies to maintain brand knowledge of their news program. The result is newsroom team have adapted and innovated their process to maintain brand knowledge. They were using main strategic such as maintain their replacement news program typically, maintain brand element whose have audiences top of mind, also using the digital platform.  Merek sebuah program televisi seringkali memiliki ekuitas yang positif. Hal ini ditandai dengan kesadaran dan keakraban yang kuat antara audiens dengan nama program televisi tersebut. Pemasar pada stasiun televisi telah mampu menciptakan pengetahuan terhadap merek (brand knowledge) dalam hal ini nama program acara, di dalam memori audiens. Namun, sebagai sebuah bisnis, industri televisi juga harus tetap bergerak dinamis mengikuti keinginan dan kebutuhan pasar. Merek program yang telah memiliki kesadaran dan citra (brand awareness dan brand image) yang kuat di dalam memori audiens, berubah mengikuti kepentingan bisnis media. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, peneliti mengangkat permasalahan bagaimana tim redaksi pemberitaan, menyusun strategi guna mempertahankan brand knowledge sebuah program yang sudah populer di mata penonton. Studi kasus dilakukan terhadap program “Seputar Indonesia” di stasiun televisi RCTI yang sudah melekat di benak konsumen, namun kemudian berubah nama menjadi “Seputar iNews”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi yang dilakukan oleh pelaku industri media penyiaran televisi dalam mempertahankan brand knowledge sebuah program berita. Hasilnya, tim redaksi pemberitaan sudah melakukan proses adaptasi dan inovasi untuk mempertahankan brand knowledge. Redaksi menggunakan strategi utama yakni mempertahankan ciri khas program berita pengganti, mempertahankan elemen merek yang sudah menjadi top of mind penonton, serta memanfaatkan media digital dan platform lain dalam satu grup perusahaan.