Claim Missing Document
Check
Articles

Penggunaan Aplikasi Media Sosial Berbasis Audio Visual dalam Membentuk Konsep Diri (Studi Kasus Aplikasi Tiktok) Dian Novita Sari Chandra Kusuma; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8214

Abstract

TikTok social media is popular with various groups and age groups. TikTok is an audio visual based social media application that contains short videos that are homemade or made by other people who entertain with interesting features such as the latest music, unique face filters and others. This study uses the Theory of Uses and Gratifications to determine individual satisfaction in using TikTok social media. Social media can shape the self-concept of its users based on internal factors (physical and psychological) and external factors (other people and reference groups). This study aims to find out how the use of audio visual-based social media in shaping the self-concept of users with different age levels. This study uses a qualitative approach with a case study method for users of TikTok social media. Data collection was carried out using observations and interviews with 4 sources of users of TikTok applications who have different age levels. The results of this study indicate differences in the age level of TikTok users affect the duration of using the application also affect the formation of self-concept formed by the speakers. The use of the TikTok application forms the self-concept of the resource person in a positive direction such as increasing the confidence of the resource person to show his identity and negative self-concepts such as lack of time management.Media sosial TikTok digemari oleh berbagai kalangan dan jenjang umur. TikTok adalah aplikasi media sosial berbasis audio visual yang berisikan video-video pendek buatan sendiri maupun buatan orang lain yang menghibur dengan fitur-fitur menarik seperti musik terbaru, filter wajah yang unik dan lain-lain. Penelitian ini menggunakan Teori Uses and Gratifications untuk mengetahui kepuasan individu dalam menggunakan media sosial TikTok. Media sosial dapat membentuk konsep diri dari penggunanya berdasarkan faktor internal (fisik dan psikis) dan faktor eksternal (orang lain dan kelompok rujukan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggunaan media sosial berbasis audio visual dalam membentuk konsep diri penggunanya dengan jenjang umur yang berbeda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus terhadap pengguna media sosial TikTok. Pengumpulan data dilakukan menggunakan observasi dan wawancara kepada 4 narasumber pengguna aplikasi TikTok yang memiliki jenjang umur yang berbeda. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perbedaan jenjang umur pengguna TikTok mempengaruhi durasi dalam menggunakan aplikasi juga mempengaruhi pembentukan konsep diri yang dibentuk oleh narasumber. Penggunaan aplikasi TikTok membentuk konsep diri narasumber ke arah positif seperti meningkatkan kepercayaan diri narasumber untuk menunjukkan jati dirinya dan konsep diri negatif seperti kurangnya dalam mengatur waktu.
Kepatuhan Masyarakat Pada Komunikasi Persuasif Social Distancing yang Dilakukan Pemerintah di Media Massa Saat Pandemi COVID-19 Joshua Yonathan; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10392

Abstract

The Indonesian government, especially Jakarta, has taken various ways to prevent the transmission of the COVID-19 virus, one of which is through persuasive communication. The persuasive communication that is always carried out by the government is washing hands, wearing mask, and maintaining distance. This research will only discuss more about maintaining distance or social distancing. The persuasion of the social distancing movement is carried out by the government in various ways, one of which is through the mass media. Mass media is the official journalistic media, such as radio, newspapers, electronic news, and television. Through this persuasive communication, Jakarta government expects public compliance to jointly break the chain of transmission of COVID-19. Therefore, researchers want to see a picture of public compliance with the persuasive social distancing communication carried out by the government in the mass media during the COVID-19 pandemic. This research is a qualitative research using a case study method in West Jakarta, to be precise in Kalideres sub-district. Data were collected by means of interviews. The result of the research is that there are 2 sources who obey and 2 sources who do not comply with social distancing. The persuasion communication that the government has made through the mass media has reached expectations at a cognitive level. This is evidenced by the good knowledge of the informants about social distancing. However, the affective and behavioral aspects are still not maximally implemented because of the lack of clear sanctions for offenders of social distancing so that people tend to conform because of the ambiguous conditions they experience.Pemerintah Indonesia, khususnya Jakarta, melakukan berbagai cara untuk mencegah penularan virus COVID-19, salah satunya dengan melakukan komunikasi persuasif. Komunikasi persuasif yang selalu dilakukan oleh pemerintah adalah gerakan 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Penelitian ini hanya akan membahas lebih lanjut tentang gerakan menjaga jarak atau social distancing. Persuasi gerakan social distancingdilakukan pemerintah dengan berbagai macam cara, salah satunya melalui media massa. Media massa yang dimaksud adalah media jurnalistik resmi, seperti radio, koran, berita elektronik, dan televisi. Melalui komunikasi persuasif ini, tentunya pemerintah mengharapkan kepatuhan masyarakat untuk bersama-sama memutus rantai penularan COVID-19. Maka dari itu, peneliti ingin melihat gambaran kepatuhan masyarakat pada komunikasi persuasif social distancing yang dilakukan pemerintah di media massa saat pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus yang dilakukan di daerah Jakarta Barat, tepatnya di kecamatan Kalideres. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara. Hasil dari penelitian adalah terdapat 2 narasumber yang patuh dan 2 narasumber yang tidak patuh terhadap social distancing. Komunikasi persuasi yang pemerintah lakukan melalui media massa sudah mencapai harapan pada tingkat kognitif. Hal ini dibuktikan dengan pengetahuan yang baik dari para narasumber tentang social distancing. Akan tetapi, aspek afektif dan behavioral masih belum terlaksana dengan maksimal karena kurangnya sanksi yang jelas bagi pelanggar social distancing sehingga masyarakat cenderung melakukan konformitas karena kondisi ambigu yang dialami.
Komunikasi Persuasif Public Speaker Pada Audiens Berbeda Negara (Studi Fenomenologi Master Of Ceremony Pada Audiens China dan Amerika) Calvin Dion; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3892

Abstract

Seorang public speaker harus menentukan komunikasi persuasif seperti apa yang akan digunakan pada audiens yang berbeda negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi persuasif public speaker pada audiens berbeda negara. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi persuasif yang dalam penelitian ini membahas tentang tiga faktor yang perlu diperhatikan seorang komunikator yaitu ethos, pathos, dan logos. Peneliti melakukan studi fenomenologi terhadap Master Of Ceremony pada audiens China dan Amerika. Peneliti memperoleh data dengan melakukan observasi, dokumentasi, studi pustaka dan wawancara dengan tiga orang Master Of Ceremony sebagai informan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, seorang komunikator dalam melakukan komunikasi persuasif pada audiens yang berbeda negara terutama audiens dari negara China dan Amerika harus memperhatikan tiga unsur yang penting yaitu ethos, pathos dan  logos seperti penampilan, persiapan, daya tarik emosional, logika, dan pesan yang masuk akal.
Komunikasi Organisasi Komnas Perempuan dalam Menyikapi Penyelesaian Kasus Pelecehan Seksual Gracela Neoh; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10201

Abstract

Sexual harassment of women often occurs in Indonesia and is disturbing to society. Based on Komnas Perempuan's 2016 Annual Records, there were 16,217 documented cases of sexual harassment. Along with the times, sexual harassment has penetrated into the digital realm, namely one case of sexual harassment in cyberspace that occurred in 2020 by X baristas. The employee uses Closed Circuit Television to peek at the breasts of female customers and spreads through social media. Based on this case, Komnas Perempuan conducted organizational communication by stating that the actions of former X employees included sexual harassment by means of violence by verbally displaying women's bodies without consent. The formulation of the research problem is how Komnas Perempuan's organizational communication is in addressing the resolution of cases of sexual harassment by X baristas. Based on the theoretical study, this research has used organizational communication theory, public relations, and Komnas Perempuan. This research uses descriptive qualitative research methods through case studies by collecting data in the form of interviews, documentation, and literature study. The results of this study, Komnas Perempuan conducted internal communication by suggesting X to restore a safe space and external communication by responding to journalists through groups on instant messaging applications by maintaining a code of ethics to protect victims.Pelecehan seksual kepada kaum perempuan kerap terjadi di Indonesia dan meresahkan masyarakat. Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2016 terdapat 16.217 kasus pelecehan seksual yang berhasil didokumentasikan. Seiring perkembangan zaman, pelecehan seksual merambah ke ranah digital. Salah satu kasus pelecehan seksual di dunia maya terjadi pada tahun 2020 dilakukan oleh barista kafe X. Pegawai tersebut menggunakan kamera pengawas untuk mengintip payudara pelanggan perempuan dan menyebarkan melalui media sosial. Berdasarkan kasus tersebut, Komnas Perempuan melakukan komunikasi organisasi dengan menyatakan tindakan mantan pegawai kafe X tersebut termasuk pelecehan seksual dengan bentuk kekerasan, dengan cara mempertontonkan secara verbal tubuh perempuan tanpa persetujuan. Rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana komunikasi organisasi Komnas Perempuan dalam menyikapi penyelesaian kasus pelecehan seksual barista X. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskripsif kualitatif melalui studi kasus dengan mengumpulkan data berupa wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Komnas Perempuan melakukan komunikasi internal dengan menyarankan perusahaan atau kafe X mengembalikan ruang aman pada pelanggan. Komunikasi eksternal dilakukan dengan memberikan tanggapan kepada wartawan melalui grup pada aplikasi pesan instan. Tanggapan tersebut diberikan dengan tetap menjaga kode etik untuk melindungi korban.
Representasi Identitas Androgini di Media Sosial Nadya Fhebrianty; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6227

Abstract

Di dalam masyarakat Indonesia, masih banyak terjadi kesalahpahaman mengenai konsep androgini. Androgini memiliki stereotipe homoseksual seperti Lesbi, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT). Padahal konsep awal androgini adalah konsep kesetaraan gender antara femininitas dan maskulinitas. Berbagai pandangan pro dan kontra muncul di tengah masyarakat. Namun, saat ini banyak orang yang beridentitas androgini berani memvisualisasikan dirinya di media sosial terutama Instagram. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses representasi androgini di media sosial Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dan menggunakan metode penelitian fenomenologi. Subjek dari penelitian ini adalah tiga informan androgini. Sedangkan objek dari penelitian ini adalah perilaku androgini dalam merepresentasikan diri di media sosial Instagram. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah androgini merepresentasikan diri di media sosial melalui tiga representasi. Pertama, representasi mental, di mana androgini bersikap acuh terhadap interaksi negatif di media sosial. Selanjutnya, representasi bahasa, di mana androgini memvisualisasikan dirinya dengan penggunaan bahasa yang biasa atau dengan menggunakan simbol-simbol tertentu. Terakhir yaitu representasi sosial, dengan adanya faktor dukungan sosial dari lingkungan sekitar, androgini berani memutuskan untuk terjun ke media sosial.
Personal Branding Influencer di Media Sosial TikTok Yemikaori Yumna Ulya Ishihara; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10162

Abstract

Personal branding is widely used as a communication strategy to instill a positive perception of a person to the public. Personal branding is also done directly and indirectly through social media. An influencer needs to have a strong personal branding to differentiate him from other influencers. One of the Tik Tok influencers is Dhea Dillah with the Tik Tok account @dillaprb. This study aims to determine how Dhea Dillah's personal branding is on Tik Tok social media. The method used is descriptive qualitative with 11 indicators of personal branding criteria according to Rampersad, namely authenticity, integrity, consistency, specialization, authority, diversity, relevance, visibility, persistence, kindness, and performance. This research shows that influencers have characters that are in line with their personal ambitions, namely creating Tik Tok content to inform their followers. Next, influencers are also consistent with a focus on one area, experience, and professionalism towards clients, including making self-improvement if they receive criticism or evaluation.Personal branding banyak dilakukan sebagai salah satu strategi komunikasi untuk menanamkan persepsi positif seseorang kepada publik. Personal branding juga dilakukan secara langsung dan tidak langsung melalui media sosial. Seorang influencer perlu memiliki personal branding yang kuat untuk membedakannya dengan influencer lain. Salah satu influencer Tik Tok yaitu Dhea Dillah dengan akun Tik Tok @dillaprb. Penelitian in bertujuan untuk mengetahui bagaimana personal branding yang dilakukan Dhea Dillah dalam media sosial Tik Tok. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan indikator 11 kriteria personal branding menurut Rampersad yaitu keontentikan, integritas, konsisten, spesialisasi, wibawa, keberbedaan, relevan, visibilitas, kegigihan, kebaikan, dan kinerja. Penelitian ini menunjukkan bahwa influencer memiliki karakter yang sesuai dengan ambisi pribadi yaitu membuat konten Tik Tok untuk memberi informasi kepada pengikutnya. Berikutnya, influencer juga konsisten dengan fokus pada satu bidang, berpengalaman, dan profesional terhadap klien termasuk membuat perbaikan diri jika mendapat kritik atau evaluasi.
Proses Organisasi Informasi COVID-19 Pada Media Sosial Instagram Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Christin Hani; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10189

Abstract

The Ministry of Communication and Informatics of the Republic of Indonesia (Kemenkominfo) is the official reference in delivering guidance and information about Covid-19. Therefore, the Ministry of Communication and Information carries out an information management process that involves organizational subsections within it. This process is studied using organizational information theory. This research raises the issue of the information organization process carried out by organizational members at the Ministry of Communication and Information in receiving and re-analyzing information related to Covid-19 through three stages of analysis, namely, enactment, selection, and retention. The three stages of information organization aim to reduce equivocality or confusion of information related to Covid-19 received between subsections of the Ministry of Communication and Informatics during the Covid-19 pandemic. This research uses a qualitative approach with a case study method. The case study was conducted in the organization subsection of the Ministry of Communication and Information. Data collection was carried out by interviewing techniques. The results of this study indicate that the Ministry of Communication and Informatics carried out the determination process by interpreting the information between the online media subsection and the news by evaluating the information. Then obtained a policy to receive information from official sources. The information selection process is carried out by looking for additional information on external media, especially Instagram. The last is the process of storing information that has been received, not collected during the process of receiving information. The organization of the Ministry of Communication and Information is more focused on evaluating the information received by way of discussion among other subsections and subsections in order to reduce disinformation.Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo) menjadi rujukan resmi dalam menyampaikan panduan dan informasi seputar Covid-19. Oleh karena itu Kemenkominfo melakukan proses pengelolaan informasi yang melibatkan subbagian organisasi didalamnya. Proses ini dikaji dengan menggunakan teori informasi organisasi. Penelitian ini mengangkat persoalan mengenai proses organisasi informasi yang dilakukan oleh anggota organisasi di Kemenkominfo dalam menerima dan menganalisis kembali informasi terkait Covid-19 melalui tiga tahap analisis yakni, penetapan (enactment), pemilihan (selection), dan penyimpanan (retention). Tiga tahap organisasi informasi tersebut bertujuan untuk mengurangi ekuivokalitas atau kesimpangsiuran informasi terkait Covid-19 yang diterima antar subbagian organisasi Kemenkominfo saat pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Studi kasus dilakukan pada subbagian organisasi Kemenkominfo. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan Kemenkominfo melakukan proses penetapan dengan cara menginterpretasikan informasi antara subbagian media online dan pemberitaan dengan cara evaluasi informasi. Kemudian diperoleh kebijakan untuk menerima informasi dari sumber resmi. Proses penyeleksian informasi dilakukan dengan cara mencari informasi tambahan di media eksternal khususnya instagram. Terakhir adalah proses penyimpanan informasi yang telah diterima, tidak dikumpulkan saat proses penerimaan informasi. Organisasi Kemenkominfo lebih fokus mengevaluasi informasi yang diterima dengan cara berdiskusi antar sesama subbagian maupun subbagian lainnya agar dapat mengurangi disinformasi.
Pengaruh Komunikasi Persuasif Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa Saat Pandemi COVID-19 Nathania Juliani Christy; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10231

Abstract

Communication between teachers and students is an important aspect in learning process, especially during the COVID-19 Pandemic. The learning process, which usually happens face-to-face in schools, is suddenly forced to shift to online learning at home to prevent the spread of the virus. This study aims to determine whether there is an effect of teacher’s persuasive communication on student’s learning motivation during online learning and how much influence it has. This study uses the theory of persuasive communication principles and the theory of sources of motivation. The researcher uses quantitative method with a survey using 5-level Likert scale questionnaire. The population of this study is students of Methodist Banda Aceh junior high school with a sample of 112 respondents using simple random sampling technique. Based on the results of research, teacher’s persuasive communication does effect on student’s learning motivation during online learning. It was found that the student's learning motivation was influenced about 67.6% by the teacher's persuasive communication, while the remaining 32.4% was influenced by other variables that are not examined in this study.Komunikasi antara guru dan siswa merupakan aspek penting dalam pembelajaran khususnya saat pandemi COVID-19. Proses belajar yang biasanya terjadi secara tatap muka di sekolah, secara mendadak dipaksa beralih ke pembelajaran secara daring untuk mencegah penyebaran virus corona. Penelitian ini ingin mengetahui apakah ada pengaruh komunikasi persuasif guru terhadap motivasi belajar siswa selama pembelajaran daring serta seberapa besar pengaruh tersebut. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei menggunakan kuesioner online. Populasi dari penelitian ini adalah siswa/i SMP Methodist Banda Aceh dengan sampel yang diambil sebanyak 112 responden dan menggunakan teknik simple random sampling. Dari penelitian ini ditemukan bahwa ditemukan ada pengaruh komunikasi persuasif guru terhadap motivasi belajar siswa selama pembelajaran daring. Pengaruh tersebut sebesar 67,6%, sementara sisanya 32,4% dipengaruhi oleh variabel- variabel lain.
Pengaruh Terpaan Pesan Portal Berita Media Online dan Opinion Leaders Terhadap Perubahan Aktivitas Bermedia Sosial Cathrine Oktavia; Riris Loisa; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.1974

Abstract

Penelitian ini berangkat dari keprihatinan peneliti terkait berita grup pedofil “Loly Candy” di Facebook. Berita ini turut disebarkan melalui media online dan Facebook. Berita grup pedofil yang diterima melalui Facebook, menunjukkan adanya peranan opinion leaders dalam menyebarkan berita ini. Hal ini sesuai dengan konsep Teori Komunikasi Dua Tahap yang menyatakan penyebaran informasi dari media kepada khalayak terjadi secara bertahap dengan bantuan opinion leaders. Dalam hal ini, opinion leaders merupakan tangan kedua dalam menyebarkan informasi dari media kepada khalayak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan terpaan pesan portal berita media online, opinion leaders, maupun gabungan keduanya terhadap perubahan aktivitas bermedia sosial orang tua, sebagai pihak yang memiliki anak di bawah usia 12 tahun dan menggunakan Facebook. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 responden. Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa tiga variabel independen dalam penelitian ini memberi pengaruh yang sangat kecil terhadap variabel dependen. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari terpaan pesan portal berita media online, atau opinion leaders, atau gabungan keduanya terkait pemberitaan kasus grup pedofil “Loly Candy” di Facebook, terhadap perubahan aktivitas bermedia sosial orang tua. 
Gaya Komunikasi Pimpinan di PD. Mie Sin Sen Mia Rosana; Anoesyirwan Moein; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2029

Abstract

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat terlepas dari makhluk lainnya. Manusia membutuhkan interaksi untuk menunjang kebutuhan hidupnya, baik verbal, maupun non verbal. Kesuksesan sebuah perusahaan sangat bergantung pada komunikasi yang lancar antara atasan dan bawahan. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui gaya komunikasi pimpinan di perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subjek penelitiannya adalah sumber daya manusia (karyawan) di PD. Mie Sin Sen. Penelitian ini meyimpulkan bahwa pimpinan di PD. Mie Sin Sen memiliki gaya komunikasi tim dan santai.