Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Political communication of the capital placement in NTT Gubernatorial election Bataona, Mikhael Rajamuda; Riang, Yoseph; Silaban, Donna Isra; Leuape, Emanuel Sowe; Nggili, Agnes Lidia Herlina
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 13, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkk.v13i2.66469

Abstract

Background: This study is driven by concerns over the political practices seen during the 2024 NTT gubernatorial election. It examines political communication strategies, particularly how political capital was used by both candidates and voter groups. The study assumes that political capitalization does not always have positive dimensions; in this election, some forms of political capital were aggressively traded. Goals: To map the political modalities present during the election, analyze how candidates’ political modalities were distributed through political communication activities, and describe the symbolic rivalry among voter groups shaped by these modalities. Methods: This study employs a critical paradigm and uses a case study approach. Field data were gathered through in-depth interviews with 27 relevant informants, along with document observation related to the research focus. Pierre Bourdieu’s theory of “Modalities” is applied to critically analyze the realities of the research subject. Results: In the 2024 NTT gubernatorial election, each candidate pair relied on distinct political modalities: Melki–Johni emphasized economic capital, Ansy–Jane mobilized symbolic capital through millennial and female representation, and Simon–Andrianus drew upon ethnic identity. Voter groups also reflected this stratification—upper-class voters leveraged financial and business capital, the middle class relied on educational and political capital, and lower-class groups contributed numerical strength. Political rivalries, rooted in religion and ethnicity, further shaped communication practices, expressed both directly and symbolically. Conclusion: The 2024 NTT gubernatorial election was marked by political communication strategies that relied on capitalizing various political modalities in transactions between candidates and voter groups. This use of political modalities also generated political rivalries within society. Implications: The research findings may provide a basis for recommendations on transforming political culture—particularly during electoral contests—to support the development of local political life and democracy.
Literasi Politik Pemilih Muda di Kalangan Mahasiswa Mikhael Rajamuda Bataona; Yoseph Riang; Donna Isra Silaban; Emanuel Sowe Leuape
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v7i1.1269

Abstract

Mahasiswa memiliki peran yang cukup strategis dalam dinamika politik di Indonesia. Data menunjukkan bahwa pemilih muda mencakup hampir setengah dari keseluruhan pemilih. Namun demikian, keterlibatan politik mereka masih tergolong minim karena sebagian besar baru pertama kali berpartisipasi dalam proses pemilihan. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai pemilih pemula perlu dibekali pemahaman dan keterampilan politik yang memadai agar mampu menentukan sikap serta pilihan politik secara rasional dan bijaksana. Kondisi ini juga menjadi tantangan bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Nusa Cendana. Kegiatan pengabdian ini dirancang untuk menjawab permasalahan tersebut melalui pelatihan bertema literasi politik. Adapun tujuan pelatihan ini adalah: (1) meningkatkan pemahaman politik mahasiswa, dan (2) memberikan panduan kriteria utama yang dapat digunakan untuk menilai kandidat politik secara objektif. Pelatihan ini telah dilaksanakan dengan baik dan dinilai efektif, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil evaluasi yang mengindikasikan adanya peningkatan kompetensi politik peserta serta respon positif terhadap seluruh rangkaian kegiatan. Materi literasi politik yang disampaikan diharapkan dapat menjadi rujukan yang bermanfaat bagi peserta, khususnya dalam mempertimbangkan pilihan politik saat menentukan pemimpin di masa depan.
Makna Komunikasi Ritual dalam Praktik Kahik Malar pada Suku Tetun Belu Donna Isra SIlaban; Mikhael Rajamuda Bataona; Marianus Diaz Yanto; Aprilia Kuth; Maria Lelugoa
WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Volume 25, No. 1 June 2026
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/wacana.v25i1.6242

Abstract

This study examines the meaning of ritual communication in the Kahik Malar practice of the Tetun tribe in Belu, East Nusa Tenggara. Kahik Malar is a healing tradition believed to recall the souls of accident victims. Using a qualitative descriptive method with an interpretive paradigm and James W. Carey's theory of ritual communication, this study aims to understand the meaning of messages within the context of the ritual. Data were collected through in-depth interviews, observations, and literature studies. The results show that ritual communication in Kahik Malar does not only focus on the transfer of information, but rather emphasizes sharing a common culture and strengthening collective identity. This is evident in the collective involvement of the community, the use of the symbolic Tetun language, and the utilization of various ritual media such as cotton, koba, white chicken, bamboo twigs, and thread, each of which has a special meaning. This ritual serves as a means to strengthen social solidarity, preserve cultural values, and strengthen the belief system of the Belu community. This study provides an in-depth understanding of the meaning of the spiritual ritual of Kahik Malar as an integral part of local culture that needs to be preserved.
PEMAKNAAN SIMBOL DISKRIMINASI DAN PERLAWANAN PEREMPUAN DALAM FILM WOMEN FROM ROTE ISLAND Fransiska Delsita Dama; Mikhael Rajamuda Bataona
Deliberatio: Jurnal Mahasiswa Komunikasi Vol 6 No 1 (2026): April 2026
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Undana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59895/deliberatio.v6i1.873

Abstract

Film merupakan media komunikasi massa yang memiliki kekuatan dalam merepresentasikan realitas sosial melalui simbol dan tanda visual. Salah satu isu sosial yang sering diangkat dalam film adalah diskriminasi terhadap perempuan serta bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan dalam menghadapi sistem patriarki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk diskriminasi terhadap perempuan yang ditampilkan dalam film Women from Rote Island, mengidentifikasi bentuk perlawanan perempuan yang direpresentasikan dalam film tersebut, serta memahami bagaimana anggota Komunitas Film Kupang memaknai simbolisasi diskriminasi dan perlawanan perempuan yang disajikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui analisis teks film dan wawancara mendalam dengan anggota Komunitas Film Kupang sebagai informan. Analisis data menggunakan teori semiotika Roland Barthes yang meliputi makna denotasi, konotasi, dan mitos untuk mengungkap simbolisasi diskriminasi dan perlawanan perempuan dalam film, serta teori resepsi untuk mengetahui proses pemaknaan penonton terhadap film tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Women from Rote Island merepresentasikan diskriminasi terhadap perempuan melalui simbol kekerasan seksual, stigma sosial, pembungkaman suara perempuan, dan dominasi budaya patriarki. Sementara itu, bentuk perlawanan perempuan ditampilkan melalui keberanian tokoh perempuan dalam melawan budaya diam, mempertahankan martabat diri, serta upaya menolak ketidakadilan yang dialaminya. Resepsi anggota Komunitas Film Kupang menunjukkan bahwa film ini dimaknai sebagai refleksi realitas sosial perempuan di NTT, sekaligus sebagai kritik sosial terhadap praktik diskriminasi dan kekerasan berbasis gender. penelitian ini menyarankan agar film dimanfaatkan secara maksimal sebagai media komunikasi yang bersifat edukatif dan reflektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan.
Analisis Wacana Kritis Konten Youtube Ferry Irwandi Tentang Aksi Massa Agustus 2025 Fransiskus Karlos Paschaliano Riberu; Mikhael Rajamuda Bataona
Deliberatio: Jurnal Mahasiswa Komunikasi Vol 6 No 1 (2026): April 2026
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Undana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59895/deliberatio.v6i1.872

Abstract

Penelitian ini menganalisis persoalan pokok bagaimana hubungan bahasa, ideologi dan kekuasaaan pada konten YouTube Ferry Irwandi tentang aksi massa pada bulan Agustus 2025. Jenis penelitian ini ialah deskriptif-kualitatif. Metode yang digunakan ialah Analisis Wacana Kritis model Teun A. Van Djik. Pada penelitian ini terdapat tiga dimensi yang menjadi acuan dan parameter penelitian yakni dimensi teks, kognisi sosial dan kontek sosial. Data primer yang digunakan adalah dua konten YouTube Ferry Irwandi tentang aksi massa pada bulan Agustus 2025. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan atau relasi yang erat antara bahasa, ideologi dan kekuasaan pada konten YouTube Ferry Irwandi tentang aksi massa pada bulan Agustus 2025. Relasi ini terlihat pada dimensi-dimensi dalam teks atau wacana yakni dimensi teks, kognisi sosial, dan konteks sosial pada dua konten YouTube Ferry Irwnadi tentang aksi massa pada bulan Agustus 2025. Ferry Irwandi sebagai komunikator memanaipulasi bahasa sebagai medan kekuasaan yakni pengatahuan tentang ruang cyber untuk menentang kekuasaan lainnya yang berada di masyarakat. Ferry juga memanipulasi bahasa sebagai alat komunikasi sekaligus sebagai sarana untuk mentransfer ideologi tentang demokrasi. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan analsis wacana kritis dengan model yang berbeda serta pada subjek yang berbeda untuk menghasilkan analisis wacana kritis yang lebih variatif.
Anatomi Histeria Publik dan Panopticon: Dekonstruksi Arsitektur Komunikasi di Masa Pandemi Mikhael Rajamuda Bataona
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol. 5 No. 1. June (2021): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v5i1.12643

Abstract

This study aims to reveal hidden or marginalized meanings in the metanarrative of the Covid-19 Pandemic. Examine the subject matter with a deeper intention, using the perspective of Jaques Derrida's 'deconstruction' as a frame of mind as well as a framework. This study uses a qualitative approach with a descriptive-critical method specification. The study results show that the pandemic determines how to interact and communicate, even the way citizens exist. The pandemic also gave birth to more significant social problems, namely mass hysteria; A reflection or reflection of the character of the spectacle society. The pandemic presents a new social pathology known as the information pandemic. This pandemic creates images of terror that cause people to be more afraid, frustrated, and stressed because they multiply the fear and trauma in their minds. Prosperous countries practice Panopticon. A gentle and impressive power technique. Discourses, legal codes, norms, rules as well as rituals and symbols displayed by the state apparatus are another power strategy, which is referred to as symbolic violence.Penelitian ini bertujuan mengungkap makna-makna tersembunyi atau terpinggirkan dalam metanarasi Pandemi Covid-19. Menelaah pokok persoalan dengan intensi yang lebih mendalam, menggunakan perspektif ‘dekonstruksi’ Jaques Derrida sebagai kerangka berpikir sekaligus kerangka kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan spesifikasi metode deskriptif-kritis. Hasil kajian menunjukan bahwa, Pandemi mendeterminasi cara berinteraksi dan berkomunikasi, bahkan cara bereksistensi warga negara. Pandemi juga melahirkan problem sosial yang lebih besar, yaitu histeria massal; Sebuah cerminan atau refleksi dari watak masyarakat tontonan. Pandemi menghadirkan patologi sosial baru yang disebut sebagai pandemi informasi.  Pandemi jenis ini menciptakan imaji teror yang menyebabkan orang semakin takut, frustrasi dan stress, karena menggandakan ketakutan dan trauma dalam pikiran mereka sendiri. Negara sukses mempraktekan Panopticon. Sebuah teknik kuasa yang lembut dan impresif. Wacana, kode-kode hukum, norma, aturan serta ritual dan symbol-simbol yang diperagakan apparatus negara adalah strategi kekuasaan lainnya, yang disebut sebagai kekerasan simbolik.
The Affinity of Local Political Branding Toward The Distinction of Constituent Taste in NTT Mikhael Rajamuda Bataona; Donna Isra Silaban; Yoseph Riang; Emanuel Sowe Leuape; Benjamin Laurentino Vaz
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol. 9 No. 1. June (2025): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v9i1.45376

Abstract

This study examines the relationship between candidates’ branding politic and the political preferences (selera) of voter groups during the 2024 Nusa Tenggara Timur (NTT) gubernatorial election. The research is grounded in the strong influence of local political culture in shaping political orientation, both among elites and the general public. The main objectives of this study are: (1) to identify the distingsi of political selera among the public based on their ideal leadership qualifications, and (2) to analyze the alignment between candidates’ branding politik and those political selera. This research employs a critical approach with a single-case study design. The findings reveal three categories of voter selera politik: Legitimate Taste (upper class), Middle-Brow Taste (middle class), and Popular Taste (lower class). The three gubernatorial candidate pairs presented distinct branding: Lema–Natalia portrayed a millennial-opposition figure; Lena–Asadoma emphasized political networks and accommodative communication; Kamlasi–Garu highlighted local Timorese identity. All candidates capitalized on symbolic capital to reach middle- and lower-class voters. The study concludes that political preference in NTT is not entirely shaped by rationality, but rather by culturally and symbolically embedded selera. This research underscores that the hegemony of local political culture remains highly dominant in the dynamics of political contestation and strategy in NTT
Penguatan Literasi Digital melalui Edukasi Bijak Bermedia Sosial sebagai Upaya Pencegahan Cyberbullying pada Siswa/I SMP Yosef Yulianus Pamput; Mikhael Rajamuda Bataona; Marianus Yanto Diaz
Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 6 No 2 (2026): JIPPM - Agustus 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jippm.1422

Abstract

Remaja menjadi salah satu pengguna media sosial yang cukup aktif diberbagai platform digital yang tersedia. Namun, penggunaan media sosial yang tidak disertai pemahaman etika digital dapat meningkatkan risiko terjadinya cyberbullying. Hal ini menunjukan pentingnya penguatan literasi digital bagi remaja, khususnya pada siswa SMP yang sudah mulai aktif menggunakan media sosial. Kegiatan sosialisasi ini dilakukan di SMP Negeri Batu Payung Belogili dengan sasaran siswa kelas VII dan VIII. Tujuan dilakukan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan literasi digital siswa melalui edukasi tentang penggunaan media sosial secara bijak, beretika, dan bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya cyberbullying. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan melalui empat tahap yaitu, observasi, perencanaan program, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi. Evaluasi dilakukan secara deskriptif melalui pengamatan, sesi tanya jawab, diskusi, dan respons siswa selama kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sekitar 70% siswa telah memiliki smartphone sendiri dan menggunakan media sosial, sedangkan sekitar 60% peserta yang berbagi pengalaman dalam diskusi mengaku pernah mengalami cyberbullying. Sosialisasi melalui pemaparan materi, diskusi, dan game interaktif mendapat respons antusias serta membantu siswa mengenali bentuk, risiko, pencegahan, dan respons terhadap cyberbullying. Kegiatan ini menunjukan bahwa sosialisasi yang dilakukan dapat menambah dan memperkuat pemahaman siswa tentang literasi digital dalam penggunaan media sosial yang aman dan bertanggung jawab.