Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Pengaruh spiritual emotional freedom technique (SEFT) terhadap skor kecemasan narapidana Annas, Grandis Dwi; Estria, Suci Ratna; Linggardini, Kris; Muzaenah, Tina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.615

Abstract

Background: Anxiety is a feeling of worry, discomfort, uncertainty, or fear that arises from real or perceived events. It is often characterized by vague fears, accompanied by feelings of helplessness, isolation, and insecurity. Anxiety is a common mental health problem that can affect anyone, including their superiors. Anxiety experienced by revenge can stem from various events and experiences that occur during the isolated period. Several factors contribute to the development of anxiety disorders, including compensation, including age, length of sentence, time remaining before custody, and level of family and social support from the community. Purpose: To determine the effect of spiritual emotional freedom technique (SEFT) on anxiety scores of prisoners. Method: Quantitative research with pre-experimental design using one-group pretest-posttest methodology. This study was conducted on prisoners at Class IIB Purbalingga Penitentiary who had served more than four years. The sampling method used total sampling because the population was less than 100. The total number of participants in this study was 42 prisoners. This study used the Zung Self Anxiety Rating Scale (ZSAS), a questionnaire to measure anxiety. Results: The anxiety scores of the participants were at a mild level of 35.7%, a moderate level of 47.6%, and a severe level of 16.7%. The results of the analysis showed that there was a significant difference in anxiety scores from SEFT therapy in participants before and after the intervention with a p value of 0.001 ≤ ɑ (0.05) which indicated a decrease in anxiety scores before and after the intervention. Conclusion: There was an effect before and after the SEFT intervention with a p value = 0.001 and there was a difference in the decrease in score of 29.6 which shows that SEFT had an effect in reducing participants' anxiety scores.   Keywords: Anxiety; Prisoners; Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT).   Pendahuluan: Kecemasan adalah perasaan khawatir, tidak nyaman, tidak pasti, atau takut yang muncul dari peristiwa nyata atau yang dipersepsikan. Sering kali ditandai dengan ketakutan yang samar, disertai perasaan tidak berdaya, terasing, dan tidak aman. Kecemasan merupakan masalah kesehatan mental yang umum dan dapat memengaruhi siapa saja, termasuk narapidana. Kecemasan yang dialami oleh narapidana dapat berasal dari berbagai peristiwa dan pengalaman yang dihadapi selama masa penahanan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh spiritual emotional freedom technique (SEFT) terhadap skor kecemasan narapidana. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain pra-eksperimental menggunakan metodologi one-group pretest-posttest. Studi ini berkaitan dengan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Purbalingga yang telah menyelesaikan lebih dari empat tahun masa hukuman. Metode pengambilan sampel menggunakan total sampling karena ukuran populasi kurang dari 100. Jumlah total partisipan dalam penelitian ini adalah 42 narapidana. Studi ini menggunakan Zung Self Anxiety Rating Scale (ZSAS) yaitu kuesioner untuk mengukur kecemasan. Hasil: Skor kecemasan partisipan berada dalam tingkat ringan sebanyak 35.7%, tingkat sedang 47.6%, dan berat 16.7%. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan skor kecemasan yang signifikan dari terapi SEFT terhadap partisipan sebelum dan sesudah intervensi dengan p value 0.001 ≤ ɑ (0.05), menunjukkan terdapat penurunan skor kecemasan sebelum dan sesudah intervensi. Simpulan: Terdapat pengaruh sebelum dan setelah dilakukan intervensi SEFT dengan p value = 0.001, dan terdapat selisih penurunan skor sebanyak 29.6, menunjukkan bahwa SEFT berpengaruh dalam menurunkan skor kecemasan partisipan.   Kata Kunci: Kecemasan; Narapidana; Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT).
Barriers To Healthcare Access: Examining Travel Time, Waiting Times, And Service Costs in Indonesia Primary Health Care Purwito, Dedy; Linggardini, Kris; Jaitieng, Arunnee
Jurnal Berita Ilmu Keperawatan Vol. 18 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bik.v18i2.9068

Abstract

Access to primary health care in Indonesia faces significant challenges, including long travel times, high transportation costs, and poor quality of care due to a lack of health workers. These factors contribute to delays in treatment and increase the risk of severe health outcomes. Additionally, out-of-pocket expenses not covered by the national insurance program are major barriers, particularly for low-income families. To analyze the relationship between travel time, waiting time, transportation costs, service fees and access to health services. A cross-sectional study conducted in Banyumas district during May–June 2022 with 100 randomly selected adult respondents. Data were collected using a validated structured questionnaire consisting of six sections covering demographics, travel time, waiting time, transportation cost, service cost, and accessibility. Chi-Square test was used to examine relationships between the independent variables (travel time, transportation cost, service cost, and waiting time) and the dependent variable (healthcare accessibility). Travel time was significantly associated with access to health services (p = 0.041), as was waiting time (p = 0.035). However, transportation costs (p = 0.405) and service fees (p = 0.096) did not show a significant relationship. Improving transportation infrastructure and reducing waiting times through more staff and better service processes are key to enhancing healthcare access. Although transport and service costs were not statistically significant, they are still important for inclusive policy planning.
Preventif Diabetes Millitus Pada Remaja Melalui Edukasi, Pemeriksaan Gula Darah Dan Pegukuran Indek Masa Tubuh Etlidawati, Etlidawati; Bahar, Yenni; Linggardini, Kris
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 3 No. 5 (2025): Juli
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v3i5.2696

Abstract

Diabetes mellitus (DM) dan penyakit lainnya yang tergolong sebagai non-communicable diseases semakin menonjol sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara-negara yang sedang berkembang. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi Diabetes mellitus di Indonesia berdasarkan diagnosis medis pada individu berusia 15 tahun mencapai 2%. Angka prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan darah di kalangan penduduk berusia ≥ 15 tahun menunjukkan peningkatan dari 6,9% (2013) menjadi 8,5% (2018). Remaja sangat rentan terhadap makanan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik, yang membuat mereka lebih berisiko mengalami diabetes mellitus. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mendeteksi dini dan mencegah terjadinya Diabetes mellitus di kalangan remaja melalui pemeriksaan gula darah, indekmassa tubuh. . Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini meliputi pemeriksaan kadar gula darah (KGD) , IMT ,kemudian diikuti  dengan penyuluhan melalui ceramah serta distribusi leaflet yang memuat informasi pencegahan Diabetes mellitus bagi remaja remaja putri dipanti asuhan muhammadiyah. Target kegiatan ini adalah remaja putri, dengan kehadiran 31 orang remaja. Kadar gula darah remaja putri tersebut masih berada dalam batas normal. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan para remaja putri memahami edukasi yang disampaikan. Mereka menunjukkan pemahaman tentang cara mencegah diabetes mellitus, yang tercermin dalam perubahan gaya hidup yang lebih sehat.
Pengaruh Support Educative dengan Media Audio Visual Terhadap Self Care Management pada Hipertensi Anjelita, Karina; Linggardini, Kris
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i9.20991

Abstract

ABSTRACT Inadequate self-care management among hypertensive patients can result in increased risks of complications and prolonged treatment durations. To address this issue, providing educative support through audio-visual media focused on hypertension management is crucial to enhancing health outcomes for residents of the Sudagaran Elderly Social Service Center. This study aims to evaluate the effect of educative support using audio-visual media on improving self-care management among hypertensive patients at the Sudagaran Elderly Social Service Center. Quantitative research approach was adopted, employing a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest method. The study was conducted over 30 days at the Sudagaran Elderly Social Service Center, involving 30 purposively selected participants. Data were analyzed using the Paired Sample T-test to assess the intervention's effectiveness . The findings revealed a significant improvement in self-care management among hypertensive patients following the implementation of educative support using audiovisual media. The effect size calculation indicated a substantial impact, with r=0.95.  This study demonstrates that educative support delivered through audiovisual media has a profound positive effect on self-care management in hypertensive patients at the Sudagaran Elderly Social Service Center. Keywords: Self-Care Management, Educative Support, Audio Visual Media, Hypertension, Elderly care.  ABSTRAK Kurangnya praktik self care management pada penderita hipertensi dapat berdampak pada peningkatan komplikasi dan perawatan yang lebih lama. Oleh karena itu dibutuhkannya memberikan support educative dengan media audio visual tentang kesehatan hipertensi untuk mengoptimalkan kesehatan yang lebih baik di PPSLU Sudagaran. Mengetahui pengaruh support educative dengan media audio visual terhadap self care management pada pasien hipertensi di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Sudagaran. Penelitian kuantitatif dengan desain pre-experimental dengan one grup pretest-posttest. Penelitian dilakukan selama 30 hari di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Sudagaran. Sampel berjumlah 30 orang yang dipilih secara purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Paired Simple T-test. Hasil penelitian menunjukkan pemberian support educative dengan media audio visual berpengaruh besar terhadap peningkatan self care management pada pasien hipertensi di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Sudagaran. Dengan hasil perhitungan effect size r = 0,95. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh support educative dengan media audio visual terhadap self care management pada pasien hipertensi di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Sudagaran. Kata Kunci: Self-Care Management, Educative Support, Audio-Visual Media, Hypertension, Elderly Care.
Pengembangan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja pada Kelompok Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja di SMP Muhammadiyah Purwokerto Etlidawati, E; Linggardini, Kris
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 10th University Research Colloquium 2019: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat baik secara fisik, psikologis maupun intelektual. Berdasarkan data dari UNICEF (2016) dimanan jumlah populasi remaja usia 10 – 19 tahun pada saat ini sebanyak 1,2 milyar atau 16 % dari jumlah populasi penduduk. Sifat remaja mempunyai rasa keinginantahuan yang besar, menyukai petualangan dan tantangan serta cenderung berani menanggung resiko atas perbuatannya tanpa didahului oleh pertimbangan yang matang.. Tujuan.kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi mempengaruhi prilaku remaja dalam mempertahankan kesehatan reprodukasinya . Metode dalam kegiatan desain penelitian deskriptif dengan desain one grup prepost – posttest. Penyuluhan ini diawali dengan pemberian questioner (pretest) oleh peneliti . Kemudian peneliti mengadakan penyuluhan dan diakhir kegiatan dilakukan posttest dengan kuisioner yang sama. Penyuluhan / edukasi ini dilakukan pada siswa/si SMP 1 Muhammadiyah Purwokerto yang mengikuti ekscul PMR yang sebagaian juga anggota PIK dengan jumlah 25. Pengambilan sampel dengan total sampling. Data dioleh dengan univariate untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswa tentang reproduksi . data uji dengan uji hipotesis paired t test dan uji Wilcoxon. Nilai rata – rata pengatahuan siswa yang ikut EKs School PMR yang juga Pengurus Pusat Informasi kesehatan Reproduksi Remaja di SMP 1 Muhammadiyah Purwokerto tentang kesehatan reproduksi remaja sebelum diberikan pendidikan kesehatan reproduksi ialah rata – rata 68,6 dengan kategori rendah. Setelah dilakukan atau diberikan pendidikan kesehatan reproduksi nilai rata – rata menjadi 85,5 dengan kategori tinggi. Dengan edukasi berupa kegiatan penyuluhan dapat dinilai lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja yang terkait dengan kesehatan reproduksi.
Gambaran Morbiditas Premenstrual Syndrome dan Tingkat Kecemasan pada Remaja Putri Qotrunada, Haning Tyas; Linggardini, Kris
Faletehan Health Journal Vol 10 No 02 (2023): Faletehan Health Journal, July 2023
Publisher : Universitas Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33746/fhj.v10i02.451

Abstract

Premenstrual Syndrome (PMS) is one of the most common disorders among women. The prevalence of PMS worldwide is about 48% in women of reproductive age, while in Indonesia, the prevalence reaches 80-90%, with perceived severe symptoms. Anxiety is an emotional occurrence in women and is a distinctive symptom of stress. The incidence of anxiety due to PMS is approximately 20% of the world's population, and in Indonesia, anxiety related to PMS is estimated to range from 9% to 12%. This study aims to assess the morbidity of Premenstrual Syndrome (PMS) and anxiety levels in adolescent girls. The method used is quantitative descriptive with a cross-sectional approach. The sample consists of 76 female students from grade VII and VIII in SMPN 2 Sokaraja, who completed the sPAF and DASS-42 questionnaires. The results show that the respondents experienced symptoms of easy irritability/anger (61.2%), with mild (30.3%), moderate (43.4%), and severe (25%) levels of PMS, while anxiety levels varied from normal (32.9%) to mild (15.8%), moderate (17.1%), severe (15.8%), and panic (18.4%). This study recommends the necessity of health campaigns on PMS and anxiety in adolescent girls to reduce stigma and enhance public understanding.
Self-Management Education pada Pasien Diabetes Melitus Etlidawati, Etlidawati; Romdhoni, Muhammad Fadhol; Yulistika, Diyah; Linggardini, Kris
Faletehan Health Journal Vol 11 No 01 (2024): Faletehan Health Journal, Maret 2024
Publisher : Universitas Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33746/fhj.v11i01.679

Abstract

Diabetes self-management education (DSME) integrates four aspects of diabetes management with an emphasis on behavioral interventions that assist individuals with diabetes in adopting lifestyle changes for their self-care from the desease. DSME encompasses diets, exercises, treatments, and exercise schedules for patients with diabetes, aiming to enhance patients' ability to self-care. This study aimed to assess the effects of DSME on the self-care of patients with diabetes by using a booklet medium at Purwokerto Islamic Hospital. This quantitative research employed a quasi experimental design with a control group pre-post test design and gave a booklet media to the intervention group. This research involved 32 randomly selected respondents who were divided into control and intervention group. The statistical analysis used an independent t-test and showed a significant difference in the care of patients with diabetes (p=0.00<0.05) between the two groups. Following DSME intervention, 75% respondents in the intervention group exhibited a good self-care behavior; meanwhile, the control group was just 56%. The statistical analysis showed a difference in the self-care mean of the intervention group, which improved meaningfully (p-value 0.01); however, the control group was unmeaningful (p-value 0.06). This research showed DSME is able to improve the self-care of patients with diabetes mellitus.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PERAWAT DALAM PELAKSANAAN SOP KONSELING VCT PADA PASIEN SUSPEK B20 DI RAWAT INAP RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO Saputro, Wawan Dwi; Linggardini, Kris; Suroso, Jebul; Estria, Suci Ratna
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.36970

Abstract

Kepatuhan perawat dalam melaksanakan Standar Operasional Prosedur (SOP) konseling Voluntary Counseling and Testing (VCT) pada pasien suspek B20 (HIV/AIDS) sangat penting untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP konseling VCT pada pasien suspek B20 di rawat inap RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 7 perawat konselor VCT di ruang rawat inap RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Analisis data menggunakan teknik Miles dan Hubermen. Hasil penelitian mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP konseling VCT, yaitu: 1. Pengetahuan perawat tentang prosedur konseling VCT, 2. Tingkat pendidikan perawat, 3. Masa kerja. Kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP konseling VCT dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Peningkatan pengetahuan melalui pelatihan, penyediaan fasilitas yang memadai, dan dukungan manajemen merupakan aspek penting dalam meningkatkan kepatuhan perawat terhadap SOP konseling VCT.