Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PEKAN LITERASI UNTUK MENUMBUHKAN MINAT MEMBACA, MENULIS DAN BELAJAR SISWA DI DESA CAMPOR Safitri, Aizun Riski; Putri, Sari Nusantara; Ghofur, Abd.
Ngejha Vol. 5 No. 1 (2025): Ngejha
Publisher : LP2M IAI Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/nja.v5i1.1252

Abstract

Kegiatan Pekan Literasi di Desa Campor, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, dilaksanakan menggunakan metode Participatory Action Research (PAR) yang memadukan unsur partisipasi masyarakat, aksi, dan riset pada setiap tahapannya. Perancangan program dilakukan melalui serangkaian langkah, mulai dari observasi lapangan, verifikasi data, diskusi kelompok terfokus (FGD), konsultasi program, pelaksanaan kegiatan, dokumentasi, hingga evaluasi. Rangkaian kegiatan mencakup seminar motivasi pendidikan, lomba literasi, pendampingan belajar, serta penguatan pendidikan keagamaan yang mencakup seluruh 12 dusun. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran pendidikan (85% peserta memahami lebih dalam pentingnya pendidikan), peningkatan keterampilan literasi (72% peserta lebih termotivasi untuk membaca dan menulis), keterlibatan aktif masyarakat, serta penemuan potensi lokal di bidang pendidikan keagamaan. Hasil ini mengindikasikan bahwa pendekatan PAR efektif dalam mendorong motivasi belajar dan keterampilan literasi melalui kerja sama antara mahasiswa, pendidik, dan masyarakat. Meskipun terdapat hambatan berupa keterbatasan fasilitas literasi dan durasi kegiatan yang singkat, Pekan Literasi mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah pedesaan.
Keterampilan 4C dalam Pendidikan Indonesia: Analisis Peran Mediasi antar Dimensi Kolaboratif, Komunikatif, Berpikir Kritis dan Kreatif Yunia Nabila Aziziy; Ghofur, Abd; Rasyid, Abdur
Jurnal Ilmiah Pendidik Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Pendidik Indonesia
Publisher : Papanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56916/jipi.v4i2.2298

Abstract

Tuntutan pendidikan abad ke-21 yang terus berkembang menekankan urgensi bagi para pendidik untuk memahami keterampilan berpikir siswa melalui kerangka yang koheren dan terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi secara empiris sebuah model teoretis yang menjelaskan hubungan antar empat komponen utama keterampilan abad ke-21, yaitu Berpikir Kritis, Kreativitas, Komunikasi, dan Kolaborasi (4C). Dengan menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS) melalui aplikasi SmartPLS, data dikumpulkan dari 300 siswa sekolah menengah atas di Jawa Timur, Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa Berpikir Kritis secara signifikan memprediksi Kolaborasi dengan nilai R² sebesar 0,641, yang berarti 64,1% variansi dalam Kolaborasi dijelaskan oleh Berpikir Kritis. Selain itu, Berpikir Kritis juga menjelaskan 45,4% variansi dalam Komunikasi (R² = 0,454). Temuan ini mendukung keterkaitan struktural antar konstruk 4C dan menegaskan peran sentral Berpikir Kritis dalam meningkatkan keterampilan abad ke-21 lainnya. Variansi yang tidak terjelaskan menunjukkan adanya faktor lain yang memengaruhi namun tidak tercakup dalam model ini.
Reinterpreting Learning Preferences through Deep Learning Practices in Indonesian Senior High School English Classrooms Ahmad Ghufran Ferdiant; Abd. Ghofur; Yunia Nabila Aziziy; KJ Vargheese
Script Journal: Journal of Linguistics and English Teaching Vol. 11 No. 1 (2026): April (Article in Press)
Publisher : Teacher Training and Education Faculty, Widya Gama Mahakam Samarinda University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/sj.v11i1.2361

Abstract

Background: In Indonesian senior high school English classrooms, English learning is increasingly expected to involve interpretation, reflection, and sustained engagement rather than simple recall. Yet many students still use learning style labels to explain difficulty, participation, and their own sense of fit with particular tasks, despite the limited scientific support for such claims. This study explores how students draw on that language to interpret challenge and learner positioning in deep learning-oriented classrooms across culturally diverse regions of Indonesia. Methodology: Using a qualitative interpretive design, this study drew on classroom observations, in-depth interviews, and reflective learning artifacts from twenty-five purposively selected senior high school students across five Indonesian provinces representing diverse sociocultural contexts. The qualitative data were analysed through reflexive thematic analysis, with attention to both site-specific meanings and patterns across provinces. Findings: Learning style labels did not appear to represent fixed cognitive ability. Instead, students often used them to explain why certain analytical tasks felt difficult or uncomfortable Through sustained participation in scaffolded deep learning activities, many students revised earlier self-perceptions that had cast them as ‘not analytical,’ not suited’ to long texts, or weak in writing. This revision was evident when interview accounts and classroom observations showed students moving from style-based explanations of difficulty toward more flexible interpretations grounded in practice, guidance, peer interaction, and increased confidence. Differences across contexts were also visible, particularly in whether students described difficulty in terms of anxiety, restraint, dialogic support, perseverance, or intellectual challenge. Conclusion: Students’ engagement in deep learning seems to depend less on perceived learning-style fit than on how they interpret difficulty in relation to themselves as learners The findings indicate that teaching could beneficially combine cognitive support with identity-sensitive scaffolding, flexible strategy use, and the normalization of intellectual struggle. Originality: Across multiple Indonesian contexts, the originality of this study lies in reframing learning-style discourse from a presumed cognitive typology into a socially and culturally mediated interpretive resource that students use to negotiate difficulty, participation, and learner identity in deep learning contexts.