Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PENGARUH AKTIVITAS BERLARI TERHADAP TEKANAN DARAH DAN SUHU PADA PRIA DEWASA NORMAL Handayani, Go; Lintong, Fransiska; Rumampuk, Jimmy F.
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.11044

Abstract

Abstract: Movement is a certain habit that never gone from every human being. A Person never stop to move even when he was asleep, because without realizing our heart is settled to pump out blood going to entire body. The quick heart beat can be feel on some situation for example; run, bike or heavy lifting. While run the heartbeat feel faster. Beside heartbeat, breathing and body temperature is also rise where breathing get deeper and faster resembling with body that feel hotter. The aim of this study is to see the influence of running activity toward blood pressure and body temperature. The research methodology used is cross sectional design. The research was conducted between September to November 2015. Subjects are 30 teenager attain the age of 18- 25 years old that selected through inclusion and exclusion criteria. Data analysis performed by Wilcoxon test using SPSS.The result showed that there are 24 people that has rise blood pressure and on the measuring body temperature there are 20 people has decrease of blood temperature after run. Conclusion: Research shows that there are significant contradiction of blood pressure before and after run. On the measure body temperature there are no significant contradiction before and after run.Keywords: run, blood pressure, body temperatureAbstrak: Gerak merupakan suatu kebiasaan yang tidak lepas dari setiap manusia. Manusia tidak pernah berhenti bergerak bahkan disaat seorang tidur, karena tanpa disadari jantung manusia tetap bergerak untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Detak jantung yang kencang dapat kita rasakan pada keadaan-keadaan tertentu, contohnya; berlari, bersepeda atau mengangkat beban. Saat berlari, detak jantung terasa lebih kencang dan lebih cepat. Selain detak jantung, pernapasan dan suhu tubuh juga meningkat, dimana pernapasan lebih dalam dan cepat bersamaan dengan tubuh yang terasa panas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh berlari terhadap tekanan darah dan suhu. Metode penelitian yang digunakan adalah design potong lintang (cross sectional) yang dilaksanakan pada bulan September sampai November 2015. Subjek penelitian adalah 30 orang remaja yang berumur 18-25 tahun melalui kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan uji statistik Wilcoxon dengan menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 24 orang yang mengalami peningkatan pada pengukuran tekanan darah dan pada pengukuran suhu ditemukan 20 orang yang mengalami penurunan suhu setelah berlari. Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan pada pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah berlari. Pada pengukuran suhu, tidak terjadi perbedaan yang signifikan sebelum dan setelah berlari.Kata kunci: berlari, tekanan darah, suhu
Pengaruh lamanya paparan energi panas terhadap suhu tubuh dengan metode mandi uap pada wanita dewasa Wangean, Lesley Z.; Lintong, Fransiska; Rumampuk, Jimmy F.
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.10871

Abstract

Abstract: In the medical field, heat energy has been often used in the treatment of various types of diseases. The steam bath is one example of the methods of treatment with heat energy by conduction. If there is a temperature difference between two objects, the heat is transferred by conduction from the hotter object to the colder object. This study aimed to obtain the effect of steam on changes of body temperature during a 20-minute steam bath. This was an analytical study with a cross sectional design. Samples were obtained by using random sampling. There were 40 adult women aged 20-25 years who met the inclusion criteria: having a normal BMI, and without hypertension, asthma, or heart disease. The study was conducted at Tikala Shiatsu Sario Manado. Data were analyzed by using SPSS and Paired T Test. The results showed a very significant difference in temperatures before and after the steam bath in the 10th minute (p < 0.001), 15th minute (p < 0.001), and the 20th minute (p < 0.001). Conclusion: There was a very significant difference between the body temperatures before and after the steam bath.Keywords: temperature , steam bathAbstrak. Dalam bidang kedokteran, energi panas sudah sering dimanfaatkan dalam penyembuhan berbagai macam jenis penyakit. Mandi uap termasuk dalam salah satu contoh pengobatan energi panas dengan metoda konduksi. Bila terdapat perbedaan temperatur antara kedua benda maka panas akan ditransfer secara konduksi yaitu dari benda yang lebih panas ke benda yang lebih dingin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mandi uap terhadap perubahan suhu tubuh selama mandi uap selama 20 menit. Jenis penelitian ini yaitu analitik dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel secara simple random sampling berjumlah 40 orang wanita dewasa usia 20-25 tahun yang memenuhi kriteria inklusi yaitu tidak terdapat penyakit Hipertensi, Asma dan Penyakit Jantung, serta memiliki IMT normal. Lokasi penelitian bertempat di Tikala Shiatsu Sario Manado. Data dianalisis dengan SPSS dan Uji T Berpasangan. Hasil penelitian mendapatkan adanya perbedaan yang sangat bermakna antara suhu sebelum dan sesudah mandi uap pada menit ke-10 (p < 0,001), menit ke-15 (p < 0,001), dan menit ke-20 (p < 0,001). Simpulan: Terdapat perbedaan yang sangat bermakna antara hasil pengukuran suhu tubuh sebelum mandi uap dan sesudah mandi uap.Kata kunci: suhu tubuh, mandi uap
Hubungan penggunaan smartphone dengan fungsi penglihatan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado angkatan 2016 Bawelle, Christo F.N.; Lintong, Fransiska; Rumampuk, Jimmy
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14865

Abstract

Abstract: Smartphone is a kind of cellular phone that has high capability, and worked by radiate the electromagnetic radiation of radio frequency. The eye is visual sense that can capture the reflected light beam of an object. The increased of using smartphone nowadays made the community worry about the effects of smartphone radiation for health especially on the visual function. Objective: To know the correlation between the duration of using smartphone with visual function, and to know the correlation between the intensity of using smartphone with visual function in students of Medical Faculty Unsrat 2016 generation. Method: The research conducted was analytic survey with used cross sectional approach, the research conducted on Oktober 2016 at Department of Physics in Medical Faculty of Manado Sam Ratulangi University. Result: Based on the analysis result by Chi Square test obtained p= 0,033 which means there was the correlation between the duration of using smartphone with the visual function, and there was no correlation the between intensity of using smartphone with visual function with score p=0,786. Conclusion: There was a correlation between the duration of using smartphone with visual function in students of Medical Faculty Manado Sam Ratulangi University. There was no correlation between the intensity of using smartphone with visual function in students of Medical Faculty Manado Sam Ratulangi University.Keywords: smartphone, visual function Abstrak: Smartphone merupakan sejenis telepon seluler yang mempunyai kemampuan tinggi, dan bekerja dengan cara memancarkan sejenis radiasi elektromagnetik radio frekuensi. Mata merupakan indra penglihatan yang dapat menangkap berkas cahaya yang dipantulkan dari sebuah benda. Peningkatan penggunaan smartphone di era sekarang ini menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat tentang efek radiasi sinar smartphone terhadap kesehatan terutama fungsi penglihatan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara lama penggunaan smartphone dengan fungsi penglihatan, dan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan smartphone dengan fungsi penglihatan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsrat angkatan 2016. Metode: Penelitian yang dilakukan bersifat survei analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional, penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2016 di Bagian Fisika Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil: Berdasarkan hasil analisis dengan uji Chi Square diperoleh p=0,033 yang artinya ada hubungan lama penggunaan smartphone dengan fungsi penglihatan. Tidak terdapat hubungan secara statistik antara intensitas pengguanaan smartphone dengan fungsi penglihatan dengan nilai p=0,786. Simpulan: Ada hubungan antara lama penggunaan smartphone dengan fungsi penglihatan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Tidak ada hubungan antara intensitas penggunaan smartphone dengan fungsi penglihatan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.Kata kunci: smartphone, fungsi penglihatan
KORELASI ANTARA TEKANAN DARAH DAN INDEKS MASSA VENTRIKEL KIRI (LEFT VENTRICULAR MASS INDEX) PADA PENDERITA HIPERTENSI DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Nur, Asdiana; Lintong, Fransiska; Moningka, Maya
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.6631

Abstract

Abstract: Left ventricular hypertrophy (LVH) is target organ damage of cardiac with high prevalence in patients with hypertension. Increase of left ventricular mass was caused by increase in wall thickness as compensatory mechanism to minimize wall stress in response to elevated blood pressure. Left Ventricular Mass Index (LVMI) is one of echocardiography parameters used to diagnose LVH. The purpose of this study is to know the correlation between blood pressure and LVMI in patients with hypertension. A cross sectional study was performed at Cardiac Vascular and Brain Centre/ Central General Hospital of Prof. Dr. R. D Kandou. Sample was determined with consecutive sampling. Blood pressure of subjects were measurement and LVMI were taken from medical record. Data were analyzed used SPSS 21. Fifty one subjects, including 34 subjects with adequate blood pressure control and 17 subjects with inadequate blood pressure control are enrolled with ≥60 years old and men (64.7%) mostly found in this study. Pearson Correlation Test found a positive and significant correlation between systolic blood pressure and LVMI (r=0.488;p<0.05) while Spearman Correlation Test found a positive but not significant correlation between diastolic blood pressure and LVMI (r=0.226;p>0.05). In conclusion, there is a positive correlation between blood pressure and LVMI in patients with hypertension but a significant correlation was just found between systolic blood pressure and LVMI.Keywords: hypertension, Left ventricular hypertrophy (LVH), blood pressure, echocardiography, left ventricular mass index (LVMI)Abstrak: Hipertrofi ventrikel kiri (Left Ventricular Hypertrophy= LVH) merupakan kerusakan target organ jantung dengan prevalensi yang tinggi pada penderita hipertensi. Peningkatan massa ventrikel kiri disebabkan oleh penebalan dinding ventrikel kiri sebagai mekanisme kompensasi untuk meminimalkan tegangan dinding akibat respon terhadap peningkatan tekanan darah. Indeks massa ventrikel kiri (Left Ventricular Mass Index= LVMI) merupakan salah satu parameter ekokardiografi yang digunakan dalam mendiagnosa LVH. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui korelasi antara tekanan darah dan LVMI pada penderita hipertensi. Penelitian dengan desain potong lintang dilakukan di instalasi pusat jantung dan pembuluh darah RSUP Prof Dr. R. D. Kandou. Sampel ditentukan secara consecutive sampling. Pengukuran tekanan darah dilakukan pada subyek penelitian dan LVMI diperoleh dari rekam medik. Data dianalisa menggunakan SPSS 21. Sebanyak 51 subyek penelitian, termasuk 34 subyek dengan hipertensi terkontrol dan 17 subyek dengan hipertensi tidak terkontrol, terdaftar pada penelitian ini dengan usia ≥60 tahun (39,2%) dan pria (64,7%)paling banyak ditemukan.Uji Korelasi Pearson menemukan tekanan darah sistolik mempunyai korelasi positif dan signifikan dengan LVMI (r=0,488;p<0,05) sedangkan uji Korelasi Spearman menemukan korelasi yang positif namun tidak signifikan antara tekanan darah diastolik dan LVMI (r=0,226;p>0,05). kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat korelasi positif antara tekanan darah dan LVMI pada penderita hipertensi, namun hubungan yang signifikan hanya ditemukan antara tekanan darah sistolik dan LVMI.Kata Kunci : hipertensi, hipertrofi ventrikel kiri, tekanan darah, ekokardiografi, indeks massa ventrikel kiri
Hubungan Paparan Suhu Dingin terhadap Perubahan Tekanan Darah Sebelum dan Sesudah Bekerja Lopak, Grace N.; Lintong, Fransiska; Moningka, Maya
eBiomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.5.2.2017.18516

Abstract

Abstract: Exposure to cold temperature causes human body to maintain a fixed normal body temperature, enabling it to adapt to changes in the environment. Blood pressure is the pressure of blood pumped by the heart against the artery walls. Cold temperature of working environment might be a factor effecting blood pressure changes. This study was aimed to obtain the relationship between the exposure of cold temperature and the changes in blood pressure before and after working. This was an analytical experimental study conducted in October to November 2017 at Big Fish and Bakso Mutiara restaurants Manado. The Paired t-test on the relationship between systolic blood pressure before and after working showed a P value of 0.000, meanwhile on the relationship between diastolic blood pressure before and after working showed a P value of 0.000. Conclusion: There was a relationship between the exposure of cold temperature and the changes in blood pressure before and after workingKeywords: cold temperature, blood pressure Abstrak: Paparan suhu dingin menyebabkan tubuh manusia selalu mempertahankan suhu tubuh tetap normal sehingga dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan sekitar. Tekanan darah merupakan tekanan dari darah yang dipompa oleh jantung terhadap dinding arteri. Suhu lingkungan kerja yang dingin dapat menjadi faktor yang memengaruhi perubahan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan suhu dingin terhadap perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah bekerja. Jenis penelitian ialah analitik eksperimental yang dilakukan pada bulan Oktober – November 2017 di RM Big Fish dan RM Bakso Mutiara Manado. Berdasarkan hasil analisis dengan uji Paired t-test terhadap tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah bekerja diperoleh hasil P = 0,000 dan terhadap tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah bekerja dengan hasil P = 0,000. Simpulan: Terdapat hubungan paparan suhu dingin dan perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah bekerja.Kata kunci: suhu dingin, tekanan darah
ANALISA HASIL PENGUKURAN TEKANAN DARAH ANTARA POSISI DUDUK DAN POSISI BERDIRI PADA MAHASISWA SEMESTER VII (TUJUH) TA. 2014/2015 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Amiruddin, Muh A.; Danes, Vennetia R.; Lintong, Fransiska
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.6635

Abstract

Abstract: Blood pressure is the force of blood pumped by the heart against the arterial walls. Blood pressure is the driving force for blood to travel around the body to deliver fresh blood with oxygen and nutrients to the organs of the body. Blood pressure varies for many different reasons, one of conditions is changes in position. The purpose of this research is to know results of blood pressure measurements between sitting position and standing position on Medical students of Sam Ratulangi University. The experiment was conducted at Medical Faculty Collage of Sam Ratulangi University in November-December 2014. The method in this research was cross sectional analytic. The samples taken was 76 Students by simple random sampling. Data were analyzed using SPSS 20 and Wilcoxon Signed Ranks Test. The result of the data shows that there are significant differences between sitting position and standing position. The result of the data shows as follows systolic blood pressure of sitting position vs standing position (115,861±9,3039 vs 110,324±9,1302 mmHg) and diastolic blood pressure of sitting position vs standing position (76,918±7,5981 vs 75,233±7,3319 mmHg). Wilcoxon Signed Ranks Test results show that there is a significant difference between sitting position and standing position with p = 0.000 < α = 0,05. In conclusion, it is found that there is a difference of result between sitting position and standing position.Keywords: blood pressure, sitting position, standing position Abstrak: Tekanan darah adalah tekanan dari darah yang dipompa oleh jantung terhadap dinding arteri. Tekanan darah merupakan kekuatan pendorong bagi darah agar dapat beredar ke seluruh tubuh untuk memberikan darah segar yang mengandung oksigen dan nutrisi ke organ-organ tubuh. Tekanan darah bervariasi pada berbagai keadaan, salah satunya adalah perubahan posisi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hasil pengukuran tekanan darah antara posisi dduk dan posisi berdiri pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsrat. Penelitian dilaksanakan di Kampus Fakultas Kedokteran Unsrat pada bulan November- Desember 2014. Metode pada penelitian ini yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel ditentukan secara simple random sampling yang berjumlah 76 orang. Data dianalisa menggunakan SPSS 20 dan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan hasil pengukuran tekanan darah antara posisi duduk dan posisi berdiri. Hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut: Tekanan darah sistolik antara posisi duduk vs posisi berdiri (115,861±9,3039 vs 110,324±9,1302 mmHg) dan tekanan darah diastolik antara posisi duduk vs posisi berdiri (76,918±7,5981 vs 75,233±7,3319 mmHg). Hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara posisi duduk dan posisi berdiri dengan nilai p = 0.000 < α = 0,05. Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa terdapat perbedaan hasil pengukuran tekanan darah antara posisi duduk dan posisi berdiri.Kata kunci: tekanan darah, posisi duduk, posisi berdiri
HUBUNGAN PENGGUNAAN LAPTOP DAN FUNGSI PENGLIHATAN MAHASISWA ANGKATAN 2011 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Ningsih, Sri S.; Lintong, Fransiska; Rumampuk, Jimmy F.
e-Biomedik Vol 3, No 3 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i3.9627

Abstract

Abstract: Nowadays, laptop is very trendy because it can be used anywhere. It is very useful in teaching and learning. This study aimed to determine the relation of the use of laptop and visual function. This was a descriptive study using questionnairre and survey. Respondents were students Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi batch 2011. Based on duration, time interval, occurence of complaints, and laptop lighting, the bivariate analysis showed a P value >0.05. Conclusion: There was no correlation between the use of laptop and vision function among students of Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado batch 2011.Keywords: laptop, visionAbstrak: Dewasa ini, laptop sangat diminati karena dapat digunakan dimana saja. Laptop juga berdampak positif bagi proses belajar dan mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hubungan penggunaan laptop dan fungsi penglihatan. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan survei berupa kuesioner pada mahasiswa angkatan 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Analisis bivariat berdasarkan hubungan antara lama penggunaan laptop, waktu rata-rata pengnaan laptop, jeda, timbulnya keluhan, dan pencahayaan laptop memperlihatkan nilai P >0,05. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara penggunaan laptop dan fungsi penglihatan mahasiswa angkatan 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.Kata kunci: laptop, penglihatan
FIBRILASI ATRIAL DARI SUDUT PANDANG BIOFISIKA Ruray, Indra N. S.; Danes, Vennetia R.; Lintong, Fransiska
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2598

Abstract

Abstract: Atrial fibrillation (AF) is the most common type of arrhythmia found in daily practices. Moreover, AF is one of the risk factors of emboli stroke and myocardial ischemia in patients with coronary heart diseases. From the biophysics perspective, alterations in ion currents (especially K+) that play some important role in the occurence of action potential can lead to an arrhythmia state. Mutations of genes S140G and V141M that create slow activation of ion channels can participate in the occurence of AF. Keywords: atrial fibrillation, arrhythmia, biophysics, heart disease.     Abstrak: Fibrilasi atrial (FA) merupakan bentuk aritmia yang paling sering dijumpai dalam praktek sehari-hari. FA merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan stroke emboli, dan dapat mencetuskan gejala iskemik pada kasus dengan dasar penyakit jantung koroner. Ditinjau dari sudut biofisika, gangguan terhadap arus ion (terutama ion K+) yang berperan penting dalam menimbulkan potensial aksi bagi jantung, dapat memicu terjadinya aritmia jantung. Mutasi gen S140G dan V141M yang menyebabkan pengaktifan lambat dari saluran ion turut berperan dalam terjadinya FA. Kata kunci: fibrilasi atrial, aritmia, biofisika,  penyakit jantung.
GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Lintong, Fransiska
Jurnal Biomedik : JBM Vol 1, No 2 (2009): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.1.2.2009.815

Abstract

Abstract: Noise induced hearing loss is often found among industrial workers all over the world, especially in developing countries, such as Indonesia. The permitted maximum limit of noise for a human being is 80 dB. Noise with a high intensity that occurs for a long time can cause some changes in metabolic processes and the blood supply in the organ of Corti. The impacts of these changes are damage and degeneration of hair cells, and in the long run, the total destruction of this organ and permanent hearing loss. Effects of noise to this sense organ are in the forms of acoustic trauma, noise-induced temporary threshold shift, and noise-induced permanent threshold shift. Noise induced hearing loss is a senso-neural deafness, and is generally bilateral. Key words: noise, organ of Corti, permanent loss, senso-neural deafness     Abstrak: Gangguan pendengaran akibat bising sering dijumpai pada pekerja industri di seluruh dunia, terlebih lagi di negara berkembang seperti Indonesia. Ambang batas maksimum aman dari bising bagi manusia adalah 80 dB. Bising dengan intensitas tinggi yang berlang-sung dalam waktu lama akan menyebabkan perubahan metabolisme dan vaskuler. Sebagai akibat terjadi robekan sel-sel rambut organ Corti dan kerusakan degeneratif sel-sel tersebut, yang kemudian berlanjut dengan destruksi total dari organ tersebut dan kehilangan pen-dengaran yang permanen. Efek bising terhadap pendengaran dapat berupa trauma akustik, perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara, dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen. Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising  adalah berupa tuli senso-neural yang biasanya bilateral. Katakunci: Kebisingan, organ corti, permanen, tuli senso-neural
Pengaruh Olahraga Step-up Terhadap Massa Otot Pada Wanita Dewasa Muda Tuerah, Jonathan B.; Rumampuk, Jimmy F.; Lintong, Fransiska
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28702

Abstract

Abstract: Sarcopenia is a major clinical problem in elderly public health; with some bad outcomes such as disability, poor quality of life, and increased risk of death. Several studies have shown that sarcopenia is caused by lack of physical activity. Step-up exercise is an aerobic exercise that has all the benefits of high-intensity cardio training without putting pressure on the joints. The purpose of this study was to determine the effect of step-up exercise on muscle mass in young adult women. This research is an experimental research with one group pre-test and post-test design approach. The location of the study was at the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University, Manado. The sample of this study was determined using a purposive sampling method which numbered 25 people to female students in the Nursing study program at Sam Ratulangi University class of 2019. Measurement of muscle mass was measured using a Bioelectrical Impedance Analysis measuring instrument and data were analyzed using t-paired tests. The results showed that muscle mass before and after step-up exercise showed no significant changes with a value of p=0.983 (p<0.05). In conclusions, A review of factors affecting muscle mass such as diet and lifestyle is needed.Keywords: Step-up, muscle mass, young adult woman.  Abstrak: Sarkopenia adalah masalah klinis utama dalam kesehatan masyarakat lansia; dengan beberapa hasil buruk seperti kecacatan, kualitas hidup yang buruk, dan peningkatan risiko kematian. Beberapa penelitian menunjukan bahwa sarkopenia diakibatkan oleh aktivitas fisik yang kurang. Olahraga step-up merupakan olahraga aerobic yang memiliki semua manfaat dari latihan kardio intensitas tinggi tanpa memberi tekanan pada sendi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh olahraga step-up terhadap massa otot pada wanita dewasa muda. Penelitianini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test design. Lokasi penelitian bertempat di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado. Sampel dari penelitian ini ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling yang berjumlah 25 orang padamahasiswa wanita program studi Ilmu Keperawatan Universitas Sam Ratulangi angkatan 2019. Pengukuran massa otot diukur menggunakan alat ukur Bioelectrical Impedance Analysis dan data dianalisis dengan t-paired test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa massa otot sebelum dan sesudah olahraga step-up menunjukkan tidak adanya perubahan signifikan dengan nilai p = 0,983 (p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah perlu adanya peninjauan kembali faktor yang mempengaruhi massa otot seperti pola makan dan gaya hidup.Kata Kunci: Step-up, massa otot, wanita dewasa muda