Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search
Journal : JURNAL ILMIAH PLATAX

Longitudinal Distribution and Morphometric Character of Eel at the Downstream Site of Kabur River, East Likupang, North Minahasa Hartanto, Frengky; Bataragoa, Nego E.; Lohoo, Anneke V.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 3, No 2 (2015): EDISI JULI - DESEMBER 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.3.2.2015.13220

Abstract

Eel is a unique organism that grows in the freshwater habitat and when they have reached adult stage of life they will migrate thousands of kilometers to the sea for spawning. This research was aimed at identifying the eel species, defining the breadth composition of longitudinal distribution, describing and analyzing the relationship between length and weight (alometric, isometric growth) and the conditional factors, and determining the feeding habit of eels hauled in Kabur river, Rinondoran village, East Likupang District, North Minahasa Regency, North Sulawesi Province. The samples have been collected in April 19th 2015 based on the river length survey method. The hauling process was started at the downstream site which then headed to the upstream. The result of the research showed that there were two (2) species of eel that have been hauled they are Anguilla marmorata and Anguilla celebesensis. The value of F-count < F-table so the H0 is acceptable. It means that there is no difference in the size of eels in terms of their growing sites along the river. b value is 3,19217 so the growing pattern of A. marmorata in Kabur river is positive alometric ( b > 3 ). The average condition factor of every class of the total A. marmorata length is from 0,1691 to 0,2426. In general, the kinds of food usually consumed by the eels are shrimp, worm, and crab. Based on the index of preponderance, the highest percentage of diet is crab. Therefore, crab becomes the main diet with IP value of 78,2. Keywords: Eel, size, growth, conditional factor, feeding habit   A B S T R A K   Sidat adalah organisme unik yang bersifat katadromous yaitu tumbuh di habitat air tawar dan ketika dewasa akan bermigrasi ribuan kilometer untuk mengadakan pemijahan di laut. Penelitian ini bertujuan yaitu mengidentifikasi spesies sidat, menentukan komposisi ukuran sebaran longitudinal, mendeskripsikan dan menganalisis hubungan panjang berat (pertumbuhan alometrik, isometrik) serta faktor kondisi, menentukan kebiasaan makanan sidat yang tertangkap di Sungai Kabur, Desa Rinondoran, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 19 april 2015 berdasarkan metode survei sepanjang sungai. Penangkapan di mulai dari hilir sampai menuju hulu sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua spesies yang tertangkap yaitu Anguilla marmorata dan Anguilla celebesensis. Nilai F-hitung < F-tabel maka H0 diterima.  Ini berarti tidak terdapat perbedaan ukuran sidat pada tempat di sepanjang sungai.  Nilai b adalah 3,19217 jadi pola pertumbuhan A. marmorata di Sungai Kabur adalah allometrik positif (b > 3).  Nilai faktor kondisi rata – rata pada masing - masing selang kelas panjang total A. marmorata yaitu dengan kisaran antara 0,1691 - 0,2426. Secara keseluruhan makanan yang paling sering dijumpai pada lambung A. marmorata adalah udang, cacing, dan kepiting. Berdasarkan nilai indeks bagian terbesar (Indeks of Preponderance), persentase tertinggi terdapat pada jenis makanan yang berupa kepiting, dengan demikian kepiting menjadi makanan utama dengan nilai IP yaitu 78,2.   Kata Kunci : Sidat, ukuran, pertumbuhan, faktor kondisi, kebiasaan makanan 1Mahasiswa Program Studi MSP FPIK-UNSRAT 2Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Size Structure, Growth Pattern and Factors of the Condition of Baronang Fish (Siganus canaliculatus) from Ratatotok Waters, Ratatotok District, Southeast Minahasa Regency Rivany Turang; Victor N. R. Watung; Anneke V. Lohoo
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.22750

Abstract

The purpose of this study was to determine the size stucture, growth pattern, and relative conditions of rabbitfish (Siganus canaliculatus). Sampling was randomly done from the catches of fishermen in fesh condition. The number of fish samples taken for analysis was 61 individuals. Their fin color was yellowish or sometimes reddish purple. Measurements found that the fish samples had length range of 127 mm - 270 mm, and weight range of 21 and 249 g. Males had size range of 131-270 mm long with a body weight of 26-249 g and females had a body length of 127-249 mm, with a  weight range of 21-191 g.Key words: Factor conditions, catches, fishermen, measurements. ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur panjang, berat, pola pertumbuhan dan faktor kondisi relatif ikan Baronang (Siganus canaliculatus). Pengambilan sampel di lapangan  dilakukan dengan metoda sampling yaitu dengan cara mengambil sampel ikan secara acak dari hasil tangkapan nelayan yang masih berada dalam kondisi segar. Jumlah sampel ikan yang diambil untuk dianalisis sebanyak  61 ekor. Hasil pengukuran secara keseluruhan menunjukkan bahwa ikan memiliki kisaran panjang 127 mm - 270 mm, dan berat antara 21 dan 249 g. Jantan  memiliki kisaran panjang 131-270 mm dengan berat tubuh  26-249 g, dan betina memiliki panjang tubuh 127-249 mm, dengan berat tubuh 21-191 gram.Kata kunci: Faktor kondisi, hasil tangkapan, nelayan, pengukuran.
Diversity, Distribution Pattern, Morphometric of Box Mussel Septifer bilocularis (Linnaeus, 1758) on the Reef Flat in Cape Lampangi, South Minahasa Grace Mustamu; Lawrence J. L Lumingas; Anneke V. Lohoo
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 2 No. 1 (2014): Edisi Januari - April 2014
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.2.1.2014.4402

Abstract

Septifer bilocularis (Linnaeus, 1758) is a suspension feeder organisms which are found live clustered on dead coral . This study aims to estimate the average density, analyzes the distribution patterns and analyze morphometric aspects of a long-high (thick) relation, length-total weight relation and length-weight index without shell  relation of S. bilocularis at that location. Sampling method using transect squares method, with the length of each line is 50m, on each transect placed 10 squares (measuring 1m x 1m). Based on the data analysis of the average density in both transect was 214 individuals with a clustered deployment pattern, with a maximum shell length of 29,64mm. The relation between length and high of shell shows that the growth is allometri negative, length and total weight shell relationships is allometri negative, where the contents of the weight index does not increase with increasing length but declined. Box mussel Septifier bilocularis live clustered with very dense aggregations in intertidal reef flat area on the intertidal zone are exposed at the lowest tide at Cape Lampangi.   Keywords : box mussel, morphometric, Cape Lampangi, South Minahasa   ABSTRAK Septifer bilocularis (Linnaeus, 1758) merupakan organisme pemakan suspensi yang banyak ditemukan hidup secara mengelompok pada rataan terumbu karang mati. Penelitian ini bertujuan untuk menduga kepadatan rata-rata, menganalisis indeks dispersi atau pola sebaran dan menganalisis aspek morfometrik berupa hubungan panjang-tinggi (tebal), panjang-berat dan panjang-indeks berat tubuh tanpa cangkang dari S. bilocularis di lokasi tersebut. Pengambilan sampel menggunakan metode transek kuadrat, dengan panjang setiap garis 50 meter, pada masing-masing transek diletakkan 10 kuadrat (berukuran 1m x 1m). Berdasarkan analisis data kepadatan rata-rata secara keseluruhan (kedua transek) adalah 214 individu dengan pola penyebaran mengelompok, dengan panjang cangkang maksimum 29,64mm. Hubungan pertumbuhan panjang dan tinggi cangkang ‘allometri negatif’, hubungan panjang cangkang dan berat total ‘allometri negatif’, di mana pertambahan indeks isi tidak sejalan dengan pertambahan panjang tetapi menurun. Kerang kotak Septifier bilocularis hidup mengelompok dengan agregasi yang sangat padat di daerah intertidal rataan terumbu pada zona intertidal yang terekspos pada saat surut terendah di Tanjung Lampangi.   Kata kunci : karang kotak, morfometrik, Tanjung Lampangi, Minahasa Selatan
Community Structure of Gastrpods in Mokupa Beach, Sub-district of Tobariri,Minahasa Regency, North Sulawesi Province Alinaung F. Firgonitha; Anneke V. Lohoo; Alex D. Kambey
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 3 No. 1 (2015): EDISI JANUARI-JUNI 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.3.1.2015.13215

Abstract

Ecologically intertidal mollusk has important role in the food chains. As a filter feeder, mollusk is also known as a food source for other marine organisms. The intertidal zone is known as the smallest area in the ocean basin (Nybakken, 1992). This zone is a narrow edge cover only few square meters and position between low tide mark (LTM) and high tide mark (HTM). The study was conducted in Mokupa beach waters, Tombariri sub-district, Minahasa Regency. Coastal area of Mokupa village represent typical tropical ecosystem such as coral reef, seagrass bed and mangrove belt. As many as 45 species in 134 total individuals were recorded during the study. The density of gastropods collected is 4.4667 individual/m2 while density for gastropods species Littoraria scabra Linne was 0.4000 individual/m2 and in term of relative density is 9.834 % and thus considered the highest. Species diversity index of this species is H’ = 2.37594. Keywords: mollusk, diversity, dominance   A B S T R A K   Secara ekologis Moluska yang menempati daerah intertidal memiliki peranan yang besar kaitannya dengan rantai makanan. Karena di samping sebagai filter feeder, moluska juga merupakan makanan bagi biota lainnya. Zona intertidal (pasang-surut) merupakan daerah terkecil dari semua daerah yang terdapat di samudera dunia (Nybakken, 1992). Zona ini merupakan pinggiran yang sempit sekali, hanya beberapa meter luasnya, terletak di antara air pasang tinggi dan air surut rendah. Penelitian ini dilaksanakan di perairan pantai Mokupa Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa. Daerah pantai Desa Mokupa merupakan daerah yang lokasinya terdapat ekosistem yang khas di daerah tropis yaitu terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove. Diperoleh sebanyak 45 spesies dan berjumlah 134 individu. Kepadatan rata-rata organisme Gastropoda diperoleh 4,4667 indv/m2 , dengan  kepadatan spesies tertinggi 0,4000 indv/m2 (Littoraria scabra Linne), dengan Kepadatan relative  adalah 9,834 %.Keanekaragaman spesies diperoleh nilai (H’= 2.37594)   Kata Kunci : Komunitas, keanekaragaman, dominasi 1Mahasiswa Program Studi MSP FPIK-UNSRAT 2Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Community of starfish in the coastal area of Mokupa Village, sub-district of Tombariri, Minahasa district, North Sulawesi Utara Syanet C.S Umboh; Unstain N. W. J. Rembet; Anneke V. Lohoo
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 1 (2016): EDISI JANUARI-JUNI 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.1.2016.13502

Abstract

This study was carried out in the coastal waters of Mokupa, Tombariri District,  Minahasa Regency, North Sulawesi Province. It was aimed to know the sea star community. The study was beneficial as information source of the sea star. Data collection employed a quadrat-transect method in new moon and full moon. There were 3 sampling points randomly selected. Each transect was placed  10 1x1 m quadrats along 100 m-transect seaward. The species found were Protoreaster nodosus, Linckia laevigata, Archaster typicus, Culcita novaeguineae, Pentaster obtusatus. Higher mean number was found in new moon than in full moon. The dominant species in Mokupa waters was Protoreaster nodosus. Keywords : Starfish, community, Mokupa Abstrak Penelitian ini dilaksanakan di perairan pantai Desa Mokupa Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunitas bintang laut. Penelitian ini bermanfaat sebagai sumber informasi tentang bintang laut. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode transek-kuadran pada bulan baru dan bulan purnama. Setiap transek diletakan 10 buah kuadran dengan ukuran 1x1 meter sepanjang 100 m transek ke arah laut. Jenis bintang laut yang ditemukan yaitu Protoreaster nodosus, Linckia laevigata, Archaster typicus, Culcita novaeguineae, Pentaster obtusatus. Jumlah rata-rata individu bintang laut di bulan baru lebih banyak dari pada bintang laut dibulan purnama. Jenis bintang laut yang dominan diperairan pantai Desa Mokupa yaitu Protoreaster nodosus. 2,3 Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Allometry Analysis and Physiological Index of Sea Urchin Heliocidaris crassispina (A. Agassiz, 1864) (Camarodonta, Echinometridae) on the Reef Flat in Tongkeina and Malalayang Dua, Manado, Sulawesi Muhammad S. Hasi; Lawrence J. L. Lumingas; Anneke V. Lohoo
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.13774

Abstract

The purpose of this study was to analysis the structure of the size, morphometry (test diameter-high relationship, test diameter-weight relationship) as well as gonad indices, intestine indices, and Aristotle lantern indices of Heliocidaris crassispina in two different habitats, Malalayang Dua and Tongkeina. At each habitat, free sampling on the reef flat have be done one time for approximately two hours at the lowest tide. The abundance of individuals H. crassispina in Malalayang Dua was much lower than in Tongkeina. The means diameter of sea urchins test were not significantly different between habitats. The comparison of regression lines of both diameter-high and diameter-weight relationships were not differ significantly between habitats. Its morphometry reveal an isometric relationship of high-diameter (slope = 1) in both habitats, while the relationship of weight-diameter reveals a negative allometric growth (slope < 3) in Tongkeina but isometric growth in Malalayang Dua.  The gonad index in Malalayang Dua was higher than in Tongkeina. The intestine index in Tongkeina was higher than in Malalayang Dua. The lantera index in Tongkeina was higher than in Malalayang Dua. The difference in abundance of sea urchins and the acquisition of the energetic value of food presumably serve as the factors affecting the differences of these indices and its weight growth pattern. ________________________________________________________________ Keywords: Heliocidaris crassispina, allometry analysis, physiological index ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur ukuran, morfometri (hubungan diameter-tinggi cangkang, hubungan diameter-berat) serta indeks gonad, indeks usus, dan indeks lentera Aristoteles dari Heliocidaris crassispina di dua habitat yang berbeda, Malalayang Dua dan Tongkeina. Pada setiap habitat, sampling bebas di rataan terumbu telah dilakukan satu kali selama kurang lebih dua jam pada saat pasang terrendah. Kelimpahan individu H. crassispina di Malalayang Dua jauh lebih rendah daripada di Tongkeina. Diameter rata-rata cangkang bulu babi tidak berbeda nyata antara habitat. Perbandingan garis regresi hubungan diameter-tinggi dan diameter-berat tidak berbeda secara signifikan antara habitat. Analisis morfometri menunjukkan hubungan isometrik tinggi-diameter (slope = 1) di kedua habitat, sedangkan hubungan berat-diameter menunjukkan pertumbuhan alometrik negatif (kemiringan <3) di Tongkeina tetapi di Malalayang Dua menunjukkan pertumbuhan isometrik. Indeks gonad di Malalayang Dua lebih tinggi daripada di Tongkeina. Indeks usus di Tongkeina lebih tinggi daripada di Malalayang Dua. Indeks lantera di Tongkeina lebih tinggi daripada di Malalayang Dua. Perbedaan kelimpahan bulu babi dan perolehan nilai energik makanan diduga berperan sebagai faktor yang mempengaruhi perbedaan indeks ini dan pola pertumbuhan beratnya. ________________________________________________________________ Kata kunci: Heliocidaris crassispina, analisis allometri, indeks fisiologis ____________________ 1Bagian dari Skripsi 2Mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK-UNSRAT 3Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNSRAT
Demersal fish stock development as the sustainability of coral fish under artificial reef made of bamboo (BambooReef) in the coastal waters of Malalayang Dua, Manado Alex D. Kambey; Anneke V. Lohoo
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.17485

Abstract

Efforts to maintain and prepare the fish stock availability, coastal resources management in Malalayang Dua waters was carried out through coral reef rehabilitation in public fisheries zone, artificial reef “BambooReef” placement as an effort of innovation creation to prepare an alternative artificial reef model. In 1 -2 years, new habitat is expected to be present, could increase the fish biomass, and create the area to be able to supply reef fish stock in Malalayang Dua waters and its surroundings.The artificial reef “bambooReef” was laid around the natural coral reefs at the depth of 5 to 7 m. Data collected were presence and attraction of the coral fish (no. species and density).Results showed that there were 15 species found around the “BambooReef”, with the highest recorded as mayor species group (13 species), followed by indicator species, and 1 target species. Total number was 137 individuals and the density was 8.56 ind./m2 or 85.625 ind/ha.  The fifteen species of coral fish did not, in general, belong to optimum size for fishing.  Nevertheless, this study reflects that the artificial reef placement has created new habitat for the coral fish. Keywords: Artificial reef, bambooreef, bamboo, demersal.   AbstrakUpaya untuk menjaga, memelihara dan sekaligus mempersiapkan  penyediaan stok ikan di perairan, dibuatkan  pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir di Kelurahan  Malalayang Dua dengan konsep pengelolaan melalui perbaikan  kondisi terumbu karang zona perikanan masyarakat, dengan konsep rehabilitasi tempat hidup dan berkembang ikan yaitu peletakan terumbu buatan dari bahan dasar bambu “BambuReef”, sebagai upaya menciptakan inovasi bahkan menciptakan model terumbu buatan alternatif (baru).  Diharapkan dalam waktu dalam waktu 1-2 Tahun akan tercipta habitat baru, meningkatkan biomassa ikan, menciptakan daerah yang dapat menyediakan stock ikan karang di perairan pantai Kelurahan Malalayang Dua dan sekitarnya.Terumbu buatan “bambooReef” diletakkan pada daerah sekitar  terumbu karang alami di perairan pesisir Malalayang Dua Kota Manado, pada kedalaman 5 s/d 7 meter. Data yang diperoleh dari peletakkan/penerapan terumbu buatan “BambooReef” adalah kehadiran dan ketertarikan jenis ikan karang (jumlah jenis dan kepadatannya),Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 15 spesies yang ditemukan di sekitar terumbu buatan “BambooReef” dimana tertinggi termasuk pada kelompok spesies mayor (13 jenis), kemudian diikuti spesies indikator berjumlah 1 jenis, dan spesies target 1 jenis, dengan jumlah 137 individu, serta kepadatan 8,56 indv/m2 atau sebesar  85.625 individu per hektar.   15 jenis ikan karang yang ditemukan umumnya belum dalam ukuran optimum untuk ditangkap.  Namun demikian hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penempatan  terumbu buatan telah memberikan habitat baru bagi ikan karang.Kata kunci: Terumbu buatan, bambooreef, bambu, demersal.  
Distribution of Size of Banggai Cardinal Fish Pterapogon kauderni Koumans, 1933 in the Front Waters of Dudepo, South Bolaang Mongondow Regency Pongajouw, Oxha Putra; Rondonuwu, Ari B.; Bataragoa, Nego E.; Kalesaran, Ockstan; Lohoo, Anneke V.; Salaki, Meiske S.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.38695

Abstract

 This study aims to determine the distribution of sizes and morphological characters of Banggai Cardinal fish in the waters in front of Dudepo Village, South Bolaang Mongondow Regency. Field data collection using the explorer survey method with diving and snorkeling activities. Fishing in each microhabitat with “Sibu” fishing gear. The size distribution of cardinal Banggai fish is in the range of 2.7 - 9.2 cm. The size of the male Banggai Cardinal fish is in the range of 3.8 - 9.2, while the female is in the range of 3.7 - 8.1 cm. The size of fish in symbiosis with anemones is in the range of 2.7 - 7.1 cm, while those in sea urchins are in the range of 4.8 - 9.2 cm.Keywords: Size Distribution; Banggai Cardinal fish; morphological charactersAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran ukuran dan karakter morfologi ikan banggai kardinal di perairan Desa Dudepo, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Pengambilan data lapangan menggunakan metode survei jelajah dengan kegiatan penyelaman dan snorkling.  Penangkapan ikan di setiap mikrohabitat, dengan alat tangkap “Sibu”.  Sebaran ukuran ikan banggai kardinal berada pada kisaran 2,7 - 9,2 cm.  Ukuran ikan banggai kardinal jantan berada pada kisaran 3,8 - 9,2, sedangkan betina berada pada kisaran 3,7 - 8,1 cm.  Ukuran ikan yang bersimbiosis dengan anemon berada pada kisaran 2,7 - 7,1 cm, sementara yang berada di bulu babi berkisar 4,8 - 9,2 cm.
Meristic And Morfometric Characteristics Of Scad Mackerel Decapterus macarellus (Cuvier, 1833) Karundeng, Christian; Lohoo, Anneke V.; Manginsela, Fransine B.; Tilaar, Ferdinand F.; Sangari, Joudy R. R.; Kusen, Janny D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i2.41285

Abstract

Fish are cold-blooded vertebrates, whose body movements and balance are mainly using fins, breathing through gills, and living in an aquatic environment. Most vertebrates in the world are fish covering 48.1%, mammals (10.8%), reptiles (14.4%), amphibians (6.0%), and birds (20.7%). One of the fish consumed in North Sulawesi is scad mackerel locally called malalugis. This research focused on the meristic and morphometric characteristics of blue scad. The samples were caught in Makalehi waters and then landed in Manado Bay. Meristic observations (related to the number) included the number of spines and soft dorsal fin, pectoral fin, pelvic fin, anal fin (anal), and caudal fin. There were 9 spines on the first dorsal (D1), 2 spines and 30-37 soft rays on the second dorsal (D2), 3 spines and 24-31 soft rays on the anal fin (A), and 1,327 linea lateralis (LL). The morphometric observations cover total length, standard length, fork length, head length, tail stem length, eye width, body width, pectoral fin length, and anal fin length (anal). The total length ranged from 180 mm to 303 mm with a mean of 223 mm and a standard deviation of 25 mm.Keywords: fin, linea lateralis, Makalehi waters.AbstrakIkan merupakan hewan vertebrata berdarah dingin, yang pergerakan dan keseimbangan tubuhnya terutama menggunakan sirip dan umumnya bernapas dengan insang serta hidup dalam lingkungan air. Spesies hewan vertebrata terbanyak di dunia adalah ikan dengan persentase 48,1 persen dari keseluruhan hewan vertebrata yang ada, pada mamalia memiliki presentase 10,8 persen, reptile memiliki 14,4 persen, amfibi hanya 6,0 persen dan spesies burung 20,7 persen. Salah satu ikan yang dikenal dan dikonsumsi di Sulawesi Utara adalah ikan layang biru atau disebut ikan malalugis. Penelitian ini mengenai karakteristik meristik dan morfometrik ikan layang biru. Penelitian sampel ikan layang biru yang ditangkap di Perairan Makalehi dan kemudian didaratkan di Teluk Manado. Pengamatan meristik (berkaitan dengan jumlah) meliputi jumlah jari-jari keras dan jari-jari lemah pada sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anal (dubur) dan sirip ekor. Terdapat 9 duri sirip pada dorsal pertama (D1), 2 duri dan 30-37 sirip lemah pada dorsal kedua (D2); 3 duri dan dan 24-31 sirip lemah pada anal (A), dan 13-27 linea lateralis (LL). Pengamatan morfometrik (berkaitan dengan ukuran antara lain panjang total, panjang standar, panjang garpu,panjang kepala, panjang batang ekor, lebar mata, lebar badan, panjang sirip dada, panjang sirip anal (dubur). Panjang total berkisar 180-303 mm dengan rerata 223 mm dan standar deviasi 25 mm.Kata kunci: Sirip; Linea lateralis; perairan Makalehi. 
Morphological characteristics of dolphinfish Coryphaena hippurus Linnaeus 1758 landed in Kalinaun Village, East of Likupang District, North Sulawesi Mantiri, Nicola R. K.; Tilaar, Ferdinand F.; Pratasik, Silvester B.; Sinjal, Henky; Lohoo, Anneke V.; Rondonuwu, Ari B.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 1 (2023): ISSUE JANUARY-JUNE 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i1.44916

Abstract

This study aimed to determine the size group of fish caught, compare the morphometric characteristics between sexes, and describe the meristic characteristics of the dolphinfish Coryphaena hippurus. This study used a descriptive method. The morphometric characteristics were measured using a ruler and tape at the accuracy of 1 mm and 5 m, respectively, while the meristic characteristics were obtained by counting the number of spines. This study found a total of 57 individuals of the dolphinfish that had a size range of 48–89 cm, the male from 48 to 95 cm, and the females from 49 to 84 cm, respectively. Four morphometric parameters of male and 2 parameters of female dolphinfish could be used to predict the total length. The dolphinfish also had 59 dorsal soft rays, 25 soft pelvic rays, 22 soft pectoral rays, 26 soft anal rays, and 48 hard caudal rays. Keywords: descriptive, morphometric, meristic, size. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelompok ukuran ikan yang tertangkap, membandingkan karakteristik morfometrik antar jenis kelamin, dan mendeskripsikan karakteristik meristik ikan Lemadang Coryphaena hippurus. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Karakteristik morfometrik diukur menggunakan penggaris dan meteran dengan ketelitian masing-masing 1 mm dan 5 m, sedangkan perhitungan meristik dilakukan dengan cara menghitung jari-jari sirip. Penelitian ini menemukan sebanyak 57 individu ikan Lemadang yang memiliki kisaran ukuran 48-89 cm, jantan 48-95 cm, dan betina berkisar 49-84 cm. Empat parameter morfometrik ikan Lemadang jantan dan 2 parameter ikan lemadang betina dapat digunakan untuk menduga panjang total. Ikan Lemadang juga memiliki 59 jari-jari lemah sirip punggung, 25 jari-jari lemah sirip perut, 22 jari-jari lemah sirip dada, 26 jari-jari lemah sirip dubur, dan 48 jari-jari keras sirip ekor. Kata kunci: deskriptif, morfometrik, meristik, ukuran.