Triyono Lukmantoro
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 46 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Impression Management pada Akun Twitter @sudjiwotedjo Irara, Wahyu; Widagdo, Muhammad Bayu; Santosa, Hedi Pudjo; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.229 KB)

Abstract

Sejak kemunculannya pada Maret 2006, popularitas Twitter mananjak tajam. Fungsinya pun sudah mengalami perkembangan dari micro blogging menjadi media yang digunakan untuk citizen journalism, online marketing, pencitraan, dan lain sebagainya. Twitter juga menjadi wadah pengelolaan kesan para penggunanya, seperti halnya yang dilakukan oleh Sujiwo Tejo melalui akun Twitternya @sudjiwotedjo. Penelitian ini bertujuan untuk melihat impression management pada akun @sudjiwotedjo. Analisis yang dilakukan adalah analisis isi teks yang terkandung dalam tweet yang diunggah dengan tema seksual dengan menggunakan analisis linguistik. Penulis meneliti tweet yang diunggah oleh @sudjiwotedjo selama dua bulan, yaitu pada bulan Desember 2013 sampai Pebruari 2014. Penelitian ini merupakan kualitatif yang menggunakan perspektif impression management dari Erving Goffman. Dari penelitian yang telah dilakukan, hasilnya menunjukkan bahwa Sujiwo Tejo adalah idividu yang nyeleneh, slengekan, sarkasme, witty, dan cabul. Sujiwo Tejo memilih untuk melawan pakem dan norma sosial yang sudah ada, dengan mengunggah tweet yang banyak mengandung kata-kata vulgar, kasar, dan berasosi dengan makna negatif tetapi dikemas dengan gaya humoris. Sujiwo Tejo mengaburkan batasan yang didefinisikan oleh Erving Goffman antara front stage dan backstage. Key Words : Twitter, impression management, linguistik
KAJIAN SERTIFIKASI PADA PROFESI JURNALIS B.K., Dheayu Jihan; Lestari, Sri Budi; Suprihartini, Taufik; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.098 KB)

Abstract

ABSTRAKSIPelanggaran yang dilakukan oleh insan jurnalis Indonesia masih saja banyak dilakukan, hal ini dapat dilihat dari tingginya angka pelaporan kasus yang berkaitan dengan pers dari tahun ke tahun di Dewan Pers. Angka ini meski cenderung menurun sedikit demi sedikit, namun tetap mengkhawatirkan. Sikap tunduk terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang kurang, dianggap menjadi salah satu faktor pers Indonesia yang masih belum sehat. Bermimpi mengembangkan pers di Indonesia, Dewan Pers mengupayakan sertifikasi bagi jurnalis melalui Uji Kompetensi Wartawan untuk menguji kecakapan jurnalistik, pengetahuan umum, hingga etika profesi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman jurnalis terhadap etika dan Kode Etik Jurnalistik. Selain itu juga untuk mengetahui urgensi sertifikasi di mata para jurnalis. Teori-teori yang digunakan yakni teori-teori etika dan Kode Etik Jurnalistik. Subyek penelitian ialah jurnalis lintas media baik dari media elektronik Kompas TV Jateng dan Sindo Trijaya Fm, media cetak Suara Merdeka, hingga media siber detik.com. Selain itu juga perwakilan dari organisasi kewartawanan AJI Semarang dan PWI Jawa Tengah, serta dari Dewan Pers.Hasilnya sebagian jurnalis memahami etika dalam Kode Etik Jurnalistik tidak secara utuh, mereka hanya mengambil benang merahnya seperti independen dan menghargai narasumber. Sementara pemahaman soal urgensi sertifikasi sendiri bagi para jurnalis dianggap kurang bermanfaat karena tidak menghasilkan dampak yang positif seperti kesejahteraan atau jaminan ketaatan pada etika. Bahkan di beberapa situasi justru dianggap membahayakan bila status tersertifikasi disalahgunakan oleh jurnalis-jurnalis yang tidak bertanggungjawab.
Memahami Identitas Hibrida pada Komik Indonesia Kontemporer (Analisis Semiotika Komik Garudayana) Ridho, Luthfi Fazar; Santosa, Hedi Pudjo; Suprihatini, Taufik; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.964 KB)

Abstract

Terbitnya Garudayana sebagai bagian dari komik Indonesia kontemporer yang mengadopsi dua identitas budaya berbeda bangsa, yaitu wayang (lokal) dan manga (Jepang), menjadikan komik ini memiliki identitas hibrida dalam gaya penyajiannya, di mana unsur wayang terdapat pada keterlibatan tokoh-tokoh populer wayang. Sedangkan unsur manga menonjol pada gaya gambar dan elemen visual.Penelitian ini bertujuan untuk mencari keterpengaruhan komik Garudayana dari manga Jepang dan mendeksripsikan komik Garudayana sebagai media alternatif. Peneliti menggunakan paradigma konstruktivis dan tradisi semiotika dan sub-tradisi pictorial semiotics untuk mengkaji konten komik Garudayana dan mendeskripsikan setiap tanda intrinsik yang mengandung identitas hibrida pada Komik Garudayana yang memiliki kemiripan/ keserupaan dengan tanda-tanda yang ada pada manga. Teori yang digunakandalam penelitian ini adalah Teori Komik Scott McCloud (2006: 49), Teori Identitas Hibrida dari Keri Lyall Smith (2008: 4-6), dan Teori Pictorial Semiotics dari Goran Sonesson (1998: 1)Hasil penelitian menunjukkan bahwa Garudayana memiliki elemen identitas hibrida berupa: tema cerita wayang lakon carangan Mahabharata; tokoh-tokoh Pandawa, Ponokawan dan Kurawa; konsep dan penggambaran visual latar tempat yang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia; konsep tokoh antagonis berupa monster humanoid (yang menyerupai manusia) dari binatang-binatang khas Nusantara; dan panel komik dekoratif khas Nusantara yang memperkuat kesan lokalitas Indonesia. Elemen tersebut bercampur dengan mangasebagai gaya gambar dan identitas kultural Jepang yang memiliki elemen identitas hibrida berupa kode visual dan kode linguistik. Percampuran dua elemen identitas kultural tersebut disebut hibriditas.Dalam rangkaian proses hibriditas, terdapat elemen intertekstualitas dan penokohan berdasarkan jenis kelamin yang dipengaruhi oleh Mahabharata sebagai pakem secara tidak langsung satu sama lain. Keseluruhan proses tersebut menghasilkan Garudayana sebagai komik yang memiliki identitas hibrida dan dianggap sebagai media alternatif karena memiliki Mode of Address dan sifat-sifat Media alternatif.Keywords : Komik, Wayang, Identitas Hibrida, Garudayana
CLICKTIVISM SEBAGAI DRAMATURGI DI MEDIA SOSIAL Zakiyyah, Kuni; Santosa, Hedi Pudjo; Yulianto, Much; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.169 KB)

Abstract

Media sosial adalah salah satu medium online yang paling banyak digunakan saat ini dengan angka pengguna yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Media sosial dipercaya telah membawa bentuk baru dalam dunia komunikasi, termasuk sosiologi komunikasi. Di Indonesia dan beberapa negara lainnya, penggunaan media sosial dalam sebuah aktivisme telah menjadi hal yang lumrah. Aktivisme suatu gerakan sosial menggunakan fitur-fitur yang terdapat dalam media sosial untuk mencari anggota/relawan dan mendukung penyebaran awareness dari gerakan agar menyebar luas (viral). Dengan tujuan tersebut, aktivisme dalam suatu gerakan sosial rentan berubah menjadi clicktivism, yaitu kemauan untuk menunjukkan kepedulian dari suatu gerakan sosial melalui aktivitas di dunia maya (click), tetapi tidak diimbangi dengan pengorbanan yang berarti (action) dalam membuat suatu perubahan sosial di dunia nyata. Banyaknya clicktivism yang terjadi di media sosial seakan memberi peluang bagi pelaku (clicktivist) untuk memanfaatkan aktivitas tersebut sebagai upaya unjuk diri, seperti yang dijelaskan dalam konsep dramaturgi oleh Erving Goffman (1959). Penelitian bertujuan untuk mengetahui makna dan gagasan-gagasan clicktivist yang menjadikan clicktivism sebagai dramaturgi di media sosial. Penelitian ini menggunakan model penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode analisis semiotika oleh Roland Barthes (1957). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan beberapa post di media sosial tentang gerakan Ice Bucket Challenge pada Agustus 2014. Data kemudian diinterpretasi menggunakan konsep analisis mitos dalam studi semiotika Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa clicktivist menggunakan aksi dalam gerakan Ice Bucket Challenge sebagai upaya untuk menampilkan diri, seperti yang dijelaskan Goffman dalam konsep dramaturgi. Clicktivist menggunakan front stage untuk mempercantik tampilan dirinya melalui aksi yang dilakukan, atau pakaian dan atribut yang dikenakan. Clicktivist juga menggunakan impression management agar dipersepsikan secara positif oleh penonton sesuai dengan gambaran/image ideal dirinya. Impression management ditunjukkan melalui pakaian/atribut yang dikenakan, juga dari dialog dan gesture yang ditampilkan clicktivist. Sedangkan back stage merupakan fakta-fakta yang terdapat dalam aksi Ice Bucket Challenge yang dilakukan clicktivist. Fakta ini seringkali tidak sesuai dengan apa yang diungkapkan clicktivist pada front stage-nya Kata kunci: media sosial, clicktivism, Ice Bucket Challenge, dramaturgi
Pengelolaan Aplikasi Berbasis Lokasi “Dalam Kota” (Dalkot) Sebagai Editor Foto Dachman, Dina Tasyalia; Lukmantoro, Triyono; Setiabudi, Djoko; Sateria, Candra
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.713 KB)

Abstract

“Dalam Kota” atau Dalkot merupakan aplikasi berbasis lokasi asal Semarang dengan segmentasi pengunduh berada di umur 15-25 tahun. Aplikasi ini menyuguhkan informasi panduan wisata yang dapat digunakan sebagai referensi mencari tempat-tempat kuliner, tempat wisata, lifestyle, event, hotel dan transportasi yang ada di Semarang.Aplikasi Dalkot sudah menginjak usia lima bulan sejak didirikan, namun tidak cukup dikenal di masyarakat Semarang, terlihat dari jumlah pengunduhnya yang hanya berjumlah 500 orang. Selain karena kurangnya promosi, konten artikel pun tidak cukup memberikan infromasi kepada para pengguna, serta terdapat teguran dari pihak lain yang merasa karya fotonya diambil tanpa izin untuk ditampilkan di aplikasi. Inilah alasan konten dan tampilanAplikasi Dalkot perlu dikembangkan lagi.Tugas penulis adalah sebagai reporter yang bertugas memverifikasi data di lapangan agar informasi sesuai dengan fakta. Kemudian, sebagai foto editor untuk menyunting foto agar dapat dengan baik ditampilkan di aplikasi. Terakhir, sebagai administrator yang bertugas memasukkan konten ke dalam aplikasi agar dapt dinikmati para pengguna. Selama menjalankan tugas, penulis mengalami beberapa kendala namun semua bisa diatasi sehingga acara tetap berjalan dengan lancar.Selama 5 minggu, penulis berhasil mengembangkan konten aplikasi menjadi lebih baik. Karenanya, pengunduh menjadi bertambah dan Aplikasi Dalkot cukup dikenal. Beberapa pengguna menyebutkan bahwa Aplikasi Dalkot dapat menjadi panduan wisata yang baik di Semarang. Diharapkan Aplikasi Dalkot dapat terus menambah konten yang baik dan kekinian serta mengembangkan fitur-fitur aplikasinya.
Interpretasi Pembaca Terhadap Materi Pornografi dalam Komik Hentai Virgin Na Kankei Putri, Swasti Kirana; Lukmantoro, Triyono; Gono, Joyo NS; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.353 KB)

Abstract

Komik merupakan salah satu media yang dapat dinikmati dan diakses dengan mudah oleh semua kalangan. Mayoritas komik yang beredar di Indonesia adalah komik yang berasal dari Jepang. Salah satu genre komik Jepang yang beredar di Indonesia adalah komik Hentai. Komik Hentai dianggap sebagai salah satu media yang memuat materi pornografi di Indonesia karena menampilkan gambar tubuh telanjang manusia dan hubungan seks secara vulgar dan erotis. Komik Hentai menampilkan hal yang tidak etis dan tidak sesuai dengan kebudayaan masyarakat Indonesia serta berbahaya dan berdampak buruk bagi pembacanya. Salah satu komik Hentai yang beredar di Indonesia adalah Virgin Na Kankei.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana interpretasi pembaca terhadap materi pornografi dalam komik Hentai Virgin Na Kankei, serta eksploitasi dan komodifikasi tubuh perempuan yang ditampilkan dalam komik tersebut. Teori yang digunakan adalah teori komik (Scott McCloud, 1993), teori analisis resepsi (Ien Ang, 1990) dan teori politik-ekonomi media (Dennis McQuail, 1987). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan indepth interview kepada empat orang informan yang pernah membaca komik Virgin Na Kankei.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perbedaan pemaknaan mengenai eksploitasi perempuan dalam komik Virgin Na Kankei, dua informan berpendapat terjadi eksploitasi sedangkan dua informan lainnya berpendapat tidak terjadi eksploitasi tubuh perempuan dalam komik tersebut. Dalam hal komodifikasi tubuh perempuan dalam komik Virgin Na Kankei, tiga orang informan berpendapat bahwa terjadi komodifikasi tubuh perempuan sedangkan satu orang informan lainnya berpendapat sebaliknya. Perbedaan pemaknaan dari para informan juga terjadi terkait dengan materi pornografi yang ditampilkan dalam komik Virgin Na Kankei. Informan perempuan berpendapat bahwa percakapan yang ditampilkan dalam komik tersebut merupakan materi pornografi, sedangkan informan laki-laki berpendapat sebaliknya. Dari segi penggambaran tokoh yang ditampilkan dalam komik Virgin Na Kankei, tiga informan berpendapat bahwa hal tersebut bukan materi pornografi, sedangkan satu orang lainnya memandang hal tersebut sebagai materi pornografi. Seluruh informan berpendapat bahwa cerita dalam komik Virgin Na Kankei bukan merupakan materi pornografi. Seluruh informan juga sepakat bahwa penggambaran adegan seksual dalam komik tersebut merupakan materi pornografi.
Produksi Program Acara Talk Show “Sore Binggo” di Pro 2 RRI Semarang (Produser) Damayanti, Fitri; Lukmantoro, Triyono; Rahmiaji, Lintang Ratri; Hendriama, Titiek
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.282 KB)

Abstract

Kita memang tidak bisa menghindari perkembangan global, mau tidak mau kita harus menerima dan mengikuti perkembangan zaman apabila tidak ingin tertinggal. Perkembangan media informasi baru yang lebih efektif dan efisien sangat pesat sehingga dapat menyingkirkan media informasi konvensional seperti radio. Namun, dengan berbagai inovasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkecimpung di bidang ini, membuat radio sampe sekarang masih eksis dan memiliki kelompok peminatnya sendiri.Inilah alasan penulis memilih membuat program di radio dan menyasar anak muda sebagai target pendengarnya. Karena penulis ingin kembali meningkatkan pendengar radio khususnya Pro 2 RRI Semarang di kalangan anak muda. Selama pelaksanaan program ini, penulis bertugas sebagai produser yang mengkonsep acara, menentukan tema, narasumber, jadwal narasumber, sampai mengawasi proses berjalannya program, serta melakukan evaluasi di akhir program agar kedepannya tidak terjadi kesalahan yang sama.Sore Binggo sendiri merupakan acara talk show yang informatif dan menghibur. Talk show ini berdurasi satu jam mulai pukul 4-5 sore, dan disiarkan setiap hari Kamis dan Jumat. Konsep dari talk show ini selain memberi informasi dan tetap menghibur juga memiliki tema yang berbeda-beda di tiap siarannya. Setiap Kamis, tema yang diangkat seputar kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak muda di Semarang, seperti kegiatan di kampus masing-masing atau bisa juga kegiatan perseorang yang dapat menginspirasi para pendengar. Sedangkan setiap Jumat, tema yang diangkat seputar film. Untuk tema film ini kami berhasil mengundang salah satu nominasi Eagle Award Metro TV untuk berbagi cara membuat film dokumenter bagi para pemula dan respon yang kami dapatkan dari para pendengar pun baik. Begitu pula untuk tema-tema lain.Proses pengerjaan program talk show ini bukan tidak menemui kendala, beberapa kendala yang kami hadapi selama proses pengerjaan adalah, narasumber yang harus diganti karena tidak bisa datang serta narasumber yang harus dihubungi via telephon karena berhalangan hadir. Namun, itu semua dapat dilalui dengan baik dan tidak menghalangi prose produksi. Terbukti dengan pencapaian yang diperoleh dengan berhasil menaikkan jumlah pendengar RRI Pro 2 Semarang yang awalnya hanya 29 % menjadi 70% dan juga bisa menaikkan jumlah pendengar Sore Binggo menjadi 83% yang awalnya hanya sebesar 3% saja.
Pengembangan dan Pengelolaan Situs Berita www.diengsavanaindonesia.com (Sebagai Fotografer) Priambodo, Handono; Rahardjo, Turnomo; Lukmantoro, Triyono; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.655 KB)

Abstract

Kebutuhan masyarakat akan informasi yang cepat dan akurat membuat para penyelenggara media online, khususnya di Indonesia, berlomba-lomba membuat suatu media agar bisa memenuhi permintaan masyarakat tersebut. Hal itu merangsang komunitas maupun organisasi membentuk suatu media yang mampu memberi informasi, berkaitan dengan komunitas dan organisasi mereka.Salah satunya adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa yang membuat media online mengenai kondisi terbaru, adat istiadat serta nilai-nilai budaya yang ada di Dieng dengan situs www.diengsavanaindonesia.com. Situs tersebut memberikan berita kepada khalayak selama satu bulan dengan empat rubrik, yaitu alam, sejarah, budaya, galeri. Penyebaran informasi tentang situs juga dilakukan dengan memanfaatkan media sosial seperti facebook, twitter, dan instagram.Beberapa tugas yang dilaksanakan selama pengerjaan situs tersebut diantaranya adalah reporter, fotografer, dan desainer grafis. Tugas reporter yang dilaksanakan yakni melakukan liputan serta menulis naskah. Sedangkan sebagai fotografer, tugas yang dilakukan tidak hanya mengambil foto, tetapi juga mengedit foto tersebut jika terdapat kekurangan, seperti memangkas dan pengaturan kecerahan warna. Kemudian kegiatan mengunggah berita ke situs dan mempromosikannya ke media sosial dilakukan oleh desainer grafis.Meskipun begitu, terdapat beberapa kendala yang dialami, seperti kualitas foto yang kurang maksimal, hingga kesulitan dalam pemilihan tema berita yang akan di unggah serta pengaturan jadwal wawancara dengan narasumber. Namun, secara keseluruhan kendala tersebut bisa diatasi.Selanjutnya, hasil pelaksanaan pengembangan dan pengelolaan situs www.diengsavanaindonesia.com, dari tanggal 1 Oktober hingga 1 November 2015, mendapatkan jumlah pengunjung sebanyak 5.538 dari target minimal 1.500 pengunjung. Sedangkan rata-rata pengunjung per hari mencapai 178, dari target minimal 50 pengunjung. Meskipun begitu, masih terdapat kekurangan dalam situs tersebut, seperti tidak bisa menampilkan foto secara slide show. Hal tersebut perlu diperbaiki agar situs www.diengsavanaindonesia.com menjadi lebih baik.
KEBERADAAN PROGRAM SIARAN LOKAL DI TELEVISI BERJARINGAN (STUDI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN MEDIA TERHADAP PROTV) Hari Putri, Eva Ratna; Rahardjo, Turnomo; Lukmantoro, Triyono; Yulianto, Much.
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.702 KB)

Abstract

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta, Peraturan Menteri Kominfo Nomor 43 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Melalui Sistem Stasiun Jaringan oleh Lembaga Penyiaran Swasta Jasa Penyiaran Televisi dan juga Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) merupakan kebijakan media yang memuat mengenai Sistem Siaran Jaringan (SSJ). Undang-undang penyiaran tersebut mengamanatkan bahwa televisi swasta yang mengudara secara nasional wajib mendirikan badan hukum baru, melepas stasiun relai, melepas saham secara bertahap serta pancaran siaran tidak boleh dilakukan dengan pancaran siaran relai. Sistem Stasiun Jaringan adalah tata kerja yang mengatur relai siaran secara tetap antarlembaga penyiaran. Salah satu televisi lokal di Semarang yang bergabung dengan Sistem Stasiun Jaringan yaitu PROTV yang berjaringan dengan SINDO TV. Kebijakan ini lahir dengan semangat diversity of content (keberagaman isi) dan diversity of ownership (keberagaman pemilik), yang menjelaskan bahwa semakin beragam isi siaran dan semakin beragam distribusi kepemilikan media maka ranah penyiaran akan semakin demokratis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui praktik kebijakan sistem stasiun jaringan dan keberadaan program siaran lokal di PROTV.Hasil penelitian yang didapatkan adalah implementasi sistem stasiun jaringan di PROTV sebagai anggota jaringan SINDOTV belum berjalan dengan ideal. Faktor kepemilikan menyebabkan adanya dominasi kekuasaan dari pemilik modal melalui berbagai keputusan yang memengaruhi keberadaan program siaran lokal. Terjadi pengurangan slot time bagi program siaran lokal dan pergeseran prime time program siaran lokal di PROTV. Kata kunci: sistem stasiun jaringan, program siaran lokal, keberagaman
RREPRESENTASI PERAN ORANG TUA TUNGGAL PADA PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DENGAN SINDROM ASPERGER DALAM DRAMA KOREA MOVE TO HEAVEN (ANALISIS SEMIOTIKA JOHN FISKE) Diandra Pratisthita Indraswar, Ni Luh Ayu; Lukmantoro, Triyono; Dwiningtyas Sulistyani, Hapsari
Interaksi Online Vol 12, No 3: Juli 2024
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Single parents certainly experience difficulties in filling multiple roles, but being a single parent with a child with special needs presents challenges and complexities on a different level. Media has a role as a source of information as well as entertainment, to accurately display a social issue in society, so that individuals, groups or a culture are represented. This research describes the role of men as single parents in shaping the character of children with Asperger's syndrome in the Korean drama Move to Heaven by implementing John Fiske's semiotic theory through the level of reality, the level of representation and the level of ideology. The role of men as single parents in forming the character of children with Asperger syndrome shows inconsistencies in the discipline aspect. Then, in the affection aspect, the dominant role of men as single parents is shown, which ignores children's autonomy. Then, in the aspect of self-development, men as single parents show that children who understand their self-concept still need validation from other people. Finally, in the social aspect, it is not shown in depth the instillation of social values by men as single parents with children with Asperger's syndrome. The Korean drama Move to Heaven tends to romanticize the role of men as single parents with children with Asperger's syndrome by presenting dramatic elements that support the conception of hegemonie masculinity in society