Claim Missing Document
Check
Articles

Analisa dan Desain Compact Condensor di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tanjung Priok I Wayan Sutina; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Gusti Ngurah Priambadi
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/METTEK.2020.v06.i01.p05

Abstract

Kondensor merupakan salah satu komponen penukar panas yang berfungsi untuk membuang panas dari fluida uap air (steam) pada sebuah sistem pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU). Namun komponen kondensor ini memiliki dimensi yang cukup besar sehingga memerlukan lahan yang luas. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan dimensi kondensor yang lebih ringkas (compact) yang memerlukan lahan yang sedikit dalam penerapannya dilapangan. Desain Compact kondensor diawali dengan pengambilan data dilapangan, menghitung efisiensi kondensor awal (0,44), dan proses simulasi pada aplikasi CFD desain kondensor exisiting untuk mengetahui gambara dari proses perpindahan panas yang terjadi. Proses perhitungan untuk desain compact kondensor dilakukan untuk mendapatkan ukuran dimensi dan kinerja compact kondensor. Dari hasil perhitungan desain yang dilakukan didapatkan dimensi compact kondensor dengan panjang : 2 ft = 0,6096 m, lebar : 1 ft = 0,3048 m, dan tinggi 8 ft = 2,4384 m, dengan Volume Compact kondensor = 16 ft3 = 4,8768 m3, Efisiensi Sirip : 0.924027, Efisiensi Sirip Overall: 0.936563, Efisiensi kondensor : 0.60, Pressure Drop Sisi uap : 0,5184 Bar, Pressure Drop Sisi air : 1,4734 Bar, Daya Sisi uap : 70.43555 Watt, Daya Sisi air : 25.03529 Watt. Nilai efisiensi yang dihasilkan dari desain compact kondensor lebih tinggi dibandingkan dengan kondensor awal dengan dimensi yang lebih kecil. The condenser is one of the heat exchanger components that functions to remove heat from the water vapor fluid (steam) in a gas and steam power plant (PLTGU) system. However, this condenser component has dimensions large enough to require a large area. This research was conducted to obtain a condenser dimension that is more compact (compact) which requires less land in its application in the field. Compact condenser design begins with data collection in the field, calculating the efficiency of the initial condenser (0.44), and the simulation process in the application of the exisiting condenser CFD design to find out the details of the heat transfer process that occurs. The calculation process for compact condenser design is carried out to get the dimensions and compact condenser size. From the results of design calculations performed, the dimensions of the compact condenser with length: 2 ft = 0.6096 m, width: 1 ft = 0.3048 m, and height 8 ft = 2.4384 m, with condenser Compact Volume = 16 ft3 = 4 , 8768 m3, Fin Efficiency: 0.924027, Overall Fin Efficiency: 0.936563, Condenser efficiency: 0.60, Pressure Drop Vapor side: 0.5184 Bar, Pressure Drop Water side: 1.4734 Bar, Steam Side Power: 70.43555 Watt, Water Side Power : 25,03529 Watt. The efficiency value resulting from the compact condenser design is higher than the initial condenser with smaller dimensions.
Analisis Performansi Kolektor Surya Pelat Datar Sirip Berlubang I Wayan Suirya; I Gusti Bagus WIjaya Kusuma; I Made Widiyarta
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolektor surya merupakan salah satu contoh alat untuk pemanfaatanenergi surya.Dengan kolektor surya kita dapat memanfaatkan energi surya untuk pemanas udara.Kolektor surya adalah sebuah alat yang mampu menyerap dan memindahkan panas dari energi surya ke fluida kerja. Pada penelitian ini kolektor surya pelat datar ditambahkan pelat berlubang dengan diameter lubang yang bervariasi. Panjang pelat Lp = 1200 mm dan lebar kolektor Wp = 500 mm. Diameter pelat berlubang dari diameter besar ke diameter kecil yaitu 90 mm, 70 mm, 50 mm, 30 mm, dan 10 mm. Diameter pelat berlubang dari diameter kecil ke diameter besar yaitu 10 mm, 30 mm, 50 mm, 70 mm, dan 90 mm. Jarak antara pelat berlubang 200 mm.Dari hasil pengujian yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa kolektor surya pelat datar dengan variasi diameter lubang dari diameter besar ke kecil menghasilkan performansi lebih baik dibandingkan dengan kolektor surya pelat datar dengan variasi diameter dari kecil ke besar. Performansi kolektor dengan sirip berlubang dari diameter besar ke kecil yaitu temperatur keluarannya sebesar 321 K, energi bergunanya sebesar 128,6 W dan efisiensinya sebesar 17,75 % yang lebih tinggi dari performansi kolektor dengan sirip berlubang dari diameter kecil ke besar yaitu temperatur keluarannya sebesar 319 K, energi bergunanya sebesar 80,6 W dan efisiensinya sebesar 11,1 %. The solar collectors are one example of tools to harness solar energy. With solar collectors we can utilize solar energy to heat the air. The solar collector is a device capable of absorbing and transferring heat from solar energy to the working fluid. In this study flat plate solar collector added hollow plate with varying hole diameter. Length of plate Lp = 1200 mm and collector width Wp = 500 mm. Diameter of the perforated plate from large diameter to small diameter ie 90 mm, 70 mm, 50 mm, 30 mm, and 10 mm. Diameter of the perforated plate from small diameter to large diameter ie 10 mm, 30 mm, 50 mm, 70 mm, and 90 mm. The distance between the 200 mm perforated plate. From the results of tests that have been implemented it can be concluded that flat solar collector with variations in diameter of holes from large to small diameter produces better performance compared with flat plate solar collector with variations in diameters from small to large. The performance of collector with hollow fins from large to small diameter is the output temperature of 321 K, the useful energy of 128.6 W and the efficiency of 17.75% which is higher than the collector performance with hollow fins from small to large diameter ie the output temperature is 319 K, its useful energy is 80.6 W and its efficiency is 11.1%.
A Analisis Kinerja Pembangkit Listrik Dual-Fuel Berbasis Gasifikasi Municipal Solid Waste I Gede Suparsa Adnyana; Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Gusti Agung Kade Suriadi
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 5 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/METTEK.2019.v05.i01.p05

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh dual-fuel hasil gasifikasi bahan bakar biomasa terhadap daya keluaran pada mesin diesel kapasitas 40 kW. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aliran gas hasil gasifikasi biomasa sampah campuran perkotaan terhadap daya keluaran pada mesin diesel kapasitas 40 kW. Pengukuran dilakukan dengan mengukur laju udara pembakaran bukaan 0 %, 50 % dan 100%, laju alir syngas, konsumsi bahan bakar spesifik, daya yang dihasilkan dan beban listrik yang diberikan 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, 100%. Data menunjukan bahwa penggunaan, dual-fuel menghasilkan daya keluaran yang lebih besar dibandingkan dan juga mengurangi penggunaan solar sebesar 53.25% dibandingkan single-fuel. Sedangkan dengan membandingkan konsumsi bahan bakar total antara Bukaan Penuh dan Setengah, Bukaan Setengah untuk menghasilkan daya yang sama dengan Bukaan Penuh pada rasio beban 100% yaitu 36.6 kW perlu melakukan pengoperasian lebih banyak 3.05 kali namun mampu mengurangi konsumsi bahan bakar total sejumlah 5.835 kg/Jam. Research on the effect of dual-fuel biomass fuel gasification results on the output power of diesel engines with a capacity of 40 kW. This study aims to determine the effect of gas flow from urban mixed biomass gasification results on the output power of diesel engines with a capacity of 40 kW. Measurements were made by measuring the open air combustion rate of 0%, 50% and 100%, syngas flow rate, specific fuel consumption, power generated and electrical loads given 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50 %, 60%, 70%, 80%, 90%, 100%. Data shows that the use of dual-fuel produces greater output power and also reduces diesel fuel use by 53.25% compared to single-fuel. Whereas by comparing the total fuel consumption between Full and Half Openings, Half Openings to produce the same power as Full Openings at a load ratio of 100%, which is 36.6 kW, it needs to do more operation 3.05 times but is able to reduce the total fuel consumption by 5,835 kg / hour .
Analisa Perpindahan Panas Pada Heater Tank FASSIP - 01 Mahran Noufal; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Nengah Suarnadwipa
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FASSIP-01 adalah sebuah piranti analisa pengembangan metode sirkulasi alamiah yang bertujuan dasar untuk mengedepankan aspek keamanan teknologi struktur untuk PLTN. Prototype FASSIP-01 memiliki beberapa komponen penting, salah satunya adalah Tabung Heater. Tabung ini berfungsi sebagai tabung induk pemanas untuk memanaskan pipa utama FASSIP – 01 yang melintas di dalamnya untuk kemudian terkena efek buoyancy dan bergerak mengikutin untaian. Penelitian FASSIP-01 telah dilakukan di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) namun data yang dihasilkan belum ditemukan yang meliputi temperatur dan kecepatan aliran fluida. Dikarenakan kurangnya data pembanding awal, penulis melakukan beberapa asumsi yang dipakai sebagai acuan daripada penelitian ini. Selanjutnya data hasil simulasi kondisi asumsi tersebut dianalisa dan kemudian hasil simulasi dengan kondisi analisa menjadi hasil utama yang didapat dari penelitian ini. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa telah terjadi peningkatan unjuk kerja yang meliputi laju perpindahan panas dan efektivitas yang dihasilkan. Laju perpindahan panas yang dihasilkan apabila tanpa permukaan tambahan pada pipa menunjukkan hasil 55.760,56 Watt dan efektivitas 56,4 %, sedangkan jika ditambahkan permukaan berbentuk juring berjumlah 2 buah maka akan menghasilkan daya sebesar 64.150,86 Watt dan efektivitas sebesar 64,9 % dengan efisiensi sebesar 98%. FASSIP – 01 was an analysys loop that developed natural sirculation method purposed for leading safe and secure aspect on structure of nuclear power plant. The prototype of FASSIP – 01 had some important component of it, the one is Heater Tank. The tank was build as main heater to made main pipe of FASSIP – 01 heated, located inside of the tank that will affected with buoyancy and then flows following the loop. The research of FASSIP – 01 had been done at Indonesian Nuclear Researcher Agency (BATAN) but the result data was not completely found, included the temperature and real velocity of the flows. Caused by the less of main data that could be compared, we’ve made some assumption used for according to on this research. After all, the datas about simulation with assumption condition would be analyze and the result of simulation with real condition will be the main result as could as we got at this research. From this research, we could know that improvement of performance happened including heat transfer rate and effectivity. The heat transfer result if without the attachment of extended surface would be 55.760,56 Watt, dan the effectivity would be 56,4 %, at the other side if the attachment of extended surface with pie (segments) type with total amount is 2 was active so the heat transfer rate would be 64.150,86 Watt and the effectivity would be 64,9 % with the 98% efficiencies.
PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN BAKAR PERTALITE TERHADAP UNJUK KERJA DAYA, TORSI DAN KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA SEPEDA MOTOR BERTRANSMISI OTOMATIS I Wayan Budi Ariawan; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Wayan Bandem Adnyana
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 2 No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baru-baru ini pemerintah memperkenalkan produk bahan bakar baru yang diberi nama Pertalite dengan nilai oktan 90.Pemerintah mengatakan dari segi kualitas Pertalite memiliki kualitas pembakaran yang lebih sempurna di banding Premium, dan kualitas nya hampir setara dengan Pertamax. Namun dari segi harga Pertalite di pasarkan lebih murah dari Pertamax. Meskipun sudah disampaikan keunggulan bahan bakar Pertalite namun pemerintah belum menyampaikan hasil riset resmi untuk mengetahui performansi mesin akibat pemakaian bahan bakar Pertalite.Untuk mengetahui performa mesin dari pemakaian bahan bakar Pertalite maka perlu dilakukan pengujian unjuk kerja mesin dengan bahan bakar Pertalite, meliputi pengujian daya, torsi, konsumsi bahan bakar, serta konsumsi bahan bakar bakar sfesifik (SFC). Pada pengujian ini bahan bakar Pertalite akan dibandingkan dengan pemakaian bahan bakar Premium dan bahan bakar Pertamax. Pengujian dilakukan dengan variasi putaran mesin yang berbeda.Dari hasil pengujian penggunaan bahan bakar Pertalite menghasilkan uji kerja Daya,Torsi, dan Konsumsi Bahan Bakar yang lebih baik dibandingkan Premium, namun masih kalah unjuk kerjanya dibandingkan bahan bakar Pertamax. Pertalite lebih hemat bahan bakar, dan menghasilkan daya yang lebih besar dibandingkan Premium, sehingga menghasilkan SFC yang lebih baik dibandingkan Premium. Bila dibandingkan Pertamax, SFC Pertalite lebih rendah
Fenomena Transport Heat Exchanger Sistem Untai Miftah Ayu Fauziah; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Nengah Suarnadwipa; Ni Made Dwidiani
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Heat exchanger sistem untai adalah suatu alat yang dibuat khusus untuk aliran satu-fasa dengan variabel diantaranya daya pemanas dan laju aliran fluida. Daya pemanas dalam untai berupa elemen pemanas air yang memiliki daya 1000 Watt. Heat exchanger sistem untai tersusun atas heater tank, cooling tank, dan pipa kaca (pyrex) yang membentuk sebuat siklus. Adapun fungsi dari masing-masing bagian yaitu, heater tank berfungsi sebagai media memanaskan alir dengan elemen pemanas hingga waktu yang telah ditentukan. Cooling tank berfungsi sebagai media mendinginkan air dimana pada cooling tank terdapat heat exchanger berupa coil and shell yang direndam dalam air atau kolam pendingin, di dalam heat exchanger fluida berupa air yang terlebih dahulu telah dipanaskan, air dipanaskan pada heater tank akan memberikan efek perubahan kerapatan fluida yang akan menyebabkan terjadinya pergerakan fluida yang disebabkan oleh efek buoyancy, yang tersusun atas pipa kaca dan membentuk sebuah siklus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan aliran fluida dalam heat exchanger sistem untai melalui simulasi ansys fluent dan menganalisa perpindahan kalor yang terjadi serta dapat mengetahui banyaknya kalor yang mampu dipertukarkan melalui metode perhitungan secara matematis. Dari hasil penelitian, analisa perhitungan, dan simulasi yang telah dilakukan dengan input running simulasi yaitu temperatur dan tekanan didapatkan output yaitu velocity aliran fluida sebesar 1,264 m/s. Adapun panas yang dapat dipertukarkan pada heater tank sebesar 2039,66 Watt dan hanya memiliki efektifitas sebesar 38%. Pada Cooling tank mampu mempertukarkan kalor sebesar11281,53 Watt dan memiliki efektifitas sebesar 84% serta jumlah heat transfer yang mampu disalurkan (NTU) sebesar 1,83. Heat exchanger strand system is a tool made specifically for single-phase flow with variables including heating power and fluid flow rate. Heating power in the strand is a water heater element that has 1000 Watt power. Heat exchanger strand system is composed of heater tanks, cooling tanks, and glass pipes (pyrex) that form a cycle. The function of each section is, heater tank serves as a medium to heat the flow with the heating element until the time specified. Cooling tank serves as a cooling water medium where the cooling tanks contain heat exchanger in the form of coil and shell soaked in water or cooling pool, in a heat exchanger fluid in the form of water that has first been heated, water heated on the heater tank will give effect fluid density change which will lead to fluid movement caused by the buoyancy effect, which is composed of a glass pipe and form a cycle. This study aims to determine the speed of fluid flow in the heat exchanger strand system through simulation Ansys fluent and analyze the heat transfer that occurs and can know the amount of heat that can be exchanged through mathematical calculation method. From the results of research, calculation analysis, and simulations that have been done with input running simulation ie temperature and pressure obtained output velocity fluid flow of 1,264 m / s. The heat that can be exchanged on the heater tank of 2039.66 Watt and only has the effectiveness of 38%. In Cooling tanks capable of exchanging heat of 11281.53 Watt and has an effectiveness of 84% and the amount of heat transfer that can be channeled (NTU) of 1.83.
ANALISIS SIFAT FISIKA BAHAN BAKAR DARI LIMBAH ORGANIK I Komang Santika Yasa; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Gusti Ngurah Santhiarsa
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serangkaian penelitian telah dilakukan oleh beberapa ahli untuk mengatasi krisis energi di berbagai negara, mulai dari pembuatan etanol dan biogasoline (campuran antara gasoline dan alkohol), pemakaian bahan bakar gas, hingga proses pembuatan bahan bakar alternatif pengganti bensin lainnya.Dalam penelitian ini, pembuatan alkohol dari limbah semangka dilakukan dengan metoda fermentasi dalam ruang tertutup (anaerob). Diharapkan proses ini dapat mempercepat proses pembuatan alkohol dan dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Dari hasil pengujian didapatkan bahwa untuk menghasilkan alkohol diperlukan campuran 15 kg sampah organik dengan 0,48 kg ragi dengan kadar alkohol 10,1%. Agar layak menjadi campuran (aditif) dalam biogasoline maka alkohol 10,1% tersebut didestilasi bertingkat hingga menghasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi, yang divariasikan mulai dari kadar 90%, 93% dan 95%. Setelah itu dibuat biogasoline dengan variasi campuran A10, A15 dan A20 untuk bensin dan alkohol. Dari hasil pengujian massa jenis, kekentalan, nilai kalor, titik nyala dan titik bakar dapat diketahui bahwa biogasoline dengan rasio campuran A10 dengan kadar alkohol 95% ternyata memiliki sifat-sifat fisika yang mendekati sama dengan bensin murni. Artinya untuk menghasilkan biogasoline 100 ml dan memiliki sifat fisika yang mendekati sama dengan bensin murni diperlukan bensin sebanyak 90 ml dan alkohol dengan konsentrasi 95% sebanyak 10 ml. A series of studies have been undertaken by experts to address the energy crisis in many countries, ranging from the manufacture of ethanol and biogasoline (a mixture of gasoline and alcohol), the use of gas fuel, to the process of making other alternative gasoline alternatives. In this research, the manufacture of alcohol from watermelon waste is done by fermentation method in an enclosed space (anaerob). It is expected that this process can accelerate the process of making alcohol and with a high enough alcohol content. From the test results obtained that to produce alcohol required a mixture of 15 kg of organic waste with 0.48 kg yeast with alcohol content of 10.1%. In order to be eligible to be a mixture (additive) in biogasoline, the 10.1% alcohol is distilled up to produce higher levels of alcohol, which varies from 90%, 93% and 95%. After that, biogasoline was prepared with mixed variations of A10, A15 and A20 for gasoline and alcohol.From the results of testing of density, viscosity, heat value, flash point and fuel point, it can be seen that biogasoline with mixed ratio of A10 with 95% alcohol content turns out to have physics properties that are close to the same as pure gasoline. This means to produce 100 ml of biogasoline and has physics properties that close to the same as pure gasoline is required as much as 90 ml of gasoline and 95% concentration of alcohol as much as 10 ml.
Analisa Unjuk Kerja Sistem PLTG di PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Bali Musa Aleksander Partogi; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; Ketut Astawa
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 4 No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/METTEK.2018.v04.i01.p03

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) merupakan salah satu mesin pembangkit yang digunakan PT. Indonesia Power UP Bali dalam kegiatan industri pembangkit di Indonesia. Dalam pengoperasiannya mulai tahun 1994 hingga sekarang mesin PLTG masih menggunakan minyak solar/HSD sebagai bahan bakar pembangkit.Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisa unjuk kerja sistem PLTG khususnya analisa keekonomian dengan membandingkan penggunaan bahan bakar minyak solar dan gas pada mesin pembangkit. Spesific Fuel Consumption (SFC) adalah rasio perbandingan total konsumsi bahan bakar terhadap daya listrik yang dibangkitkan, SFC digunakan sebagai salah satu cara untuk mengetahui seberapa efisien sebuah mesin pembangkit dan salah satu penentu biaya produksi khususnya biaya bahan bakar yang diperlukan dalam pembangkit.Berdasarkan hasil penelitian dengan harga minyak solar/HSD Rp 7300,- /liter dan gas US $ 11 /mmBTU, didapatkan biaya produksi listrik bahan bakar HSD secara aktual sebesar Rp 2541,86 /kWh, secara teoritis Rp 2336,00 /kWh dan gas secara teoritis Rp 1714,3 /kWh. Jika penjualan listrik Rp 1352,- /kWh, maka dengan menggunakan bahan bakar HSD akan berpotensi rugi sebesar Rp 1189,86 /kWh secara akutal, Rp 984,00 /kWh secara teoritis, dan Rp 362,00 /kWh dengan menggunakan bahan bakar gas. Gas Power Plant (PLTG) is one of the power plant used by PT. Indonesia Power UP Bali in the power plant industry in Indonesia. In operation from 1994 until now the PLTG engine is still using diesel oil / HSD as fuel generator. This research is intended to analyze the performance of PLTG system, especially economic analysis by comparing the use of diesel fuel and gas in generating machine. Specific Fuel Consumption (SFC) is the ratio of total fuel consumption to electric power generated, SFC is used as one way to find out how efficient a generating machine and one determinant of production cost, especially fuel cost required in generating. Based on research results with the price of diesel oil / HSD Rp 7300, - / liter and gas US $ 11 / mm BTU, the actual cost of producing HSD fuel electricity is Rp 2541,86 / kWh, theoretically Rp 2336,00 / kWh and gas theoretically Rp 1714.3 / kWh. If the sale of electricity is Rp 1352, - / kWh, then using HSD fuel will potentially loss as much as Rp 1189.86 / kWh on a theoretical basis, Rp 984.00 / kWh theoretically, and Rp 362.00 / kWh using gas fuel .
Analisis Perbedaan Mesh Pada Simulasi Boiler PLTGU Tanjung Priok Berbasis CFD I Nyoman Agus Adi Saputra; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Gusti Ngurah Priambadi
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/METTEK.2020.v06.i01.p06

Abstract

Penelitian Analisis Perbedaan Mesh berbasis Computational Fluid Dynamic (CFD) ini dilakukan Pada Boiler PLTGU Tanjung Priok. Boiler atau reboiler dalam sistem PLTGU dikategorikan sebagai alat penukar kalor karena perpindahan panasnya dilakukan tanpa kontak langsung antara media pemanas dengan media yang dipanaskan. Fluida kerja pada boiler PLTGU Tanjung Priok berupa gas methane dan air. Penelitian ini bertujuan melihat jumlah pembagian elemen terhadap hasil simulasi dengan menggunakan dua model Studi konvergensi grid yaitu dengan grid kasar, dan yang paling optimal melalui hasil simulasi CFD. Metode yang digunakan mulai dari mendesain geometri boiler sesuai kondisi di lapangan menginput initial conditions dan boundry conditions. Data hasil penelitian yang sudah di lakukan pada simulasi boiler menunjukkan bahwa baik temperatur, tekanan dan kecepatan aliran memiliki nilai yang sama besar dan tidak di pengaruhi oleh pembagian elemen yang di lakukan pada saat proses meshing dari elemen yang paling kasar dengan jumlah total sebanyak 203.363 sampai pada tahap proses meshing dengan elemen teroptimal yang berjumlah sebanyak 1.491.428 berdasarkan hal tersebut maka proses simulasi yang dilakukan menjadi lebih efisien karena proses perhitungan data dari elemen yang lebih sedikit mendapatkan hasil yang sama dengan elemen yang lebih banyak. The research on Mesh Difference Analysis based on Computational Fluid Dynamic (CFD) was conducted at Tanjung Priok PLTGU Boiler. Boilers or reboilers in PLTGU systems are categorized as heat exchangers because the heat transfer is done without direct contact between the heating media and the heated media. The working fluid in the Tanjung Priok gas power plant boiler is in the form of methane gas and water. This study aims to look at the number of elements divided against the simulation results by using two grid convergence study models, namely with a coarse grid, and the most optimal through CFD simulation results. The method used starts from designing the boiler geometry according to the field conditions, inputting initial conditions and boundry conditions. Data from research that has been done on boiler simulations shows that both temperature, pressure and flow velocity have the same value and are not affected by the division of elements carried out during the meshing process of the most coarse elements with a total number of 203.363 up to the meshing process stage with the optimum elements totaling 1,491,428 based on this, the simulation process carried out becomes more efficient because the process of calculating data from fewer elements gets the same results with more elements.
Pengujian Kinerja Panel Surya Pembangkit Listrik Tenaga Surya di PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Bali I Ketut Rizki Fibrina Firmandanu; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Wayan Bandem Adnyana
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 5 No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/METTEK.2019.v05.i02.p07

Abstract

Pemanfaatan energi surya sangat berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Energi surya merupakan energi terbarukan yang produktif sehingga melalui penelitian ini sangat erat kaitannya dengan program pemanfaatan sumber – sumber energi terbarukan untuk memasok kebutuhan energi. Penelitian telah dilaksanakan di PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi dan energi optimum yang dihasilkan oleh panel surya. Pengujian dilakukan dengan pengukuran intensitas cahaya, tegangan dan arus pada panel surya dengan pemasangan kemiringan sesuai pada atap Gedung A PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Bali. Hasil pengujian menunjukkan bahwa efisiensi panel surya maksimum di PLTS PT Indonesia Power terjadi pada bulan November sebesar 9,56% dan daya keluaran optimum yang dihasilkan sebesar 240 watt. Daya tersebut dicapai pada bulan November dan Desember pada setiap hari pukul 13.00 sampai 14.00 WITA. Utilization of solar energy potential is exploited as a source of alternative energy. Solar energy is a renewable energy that are productive so that through this research is closely associated with the program source – utilization of renewable energy sources to supply energy needs. Research has been carried out at PT Indonesia Power Generation Business Unit. The test is done by measuring the intensity of light, voltage and current on solar panel installation with the slope of the fit on the roof of the building with PT Indonesia Power Generation Business Unit of Bali. The results of testing shows that maximum efficiency solar panels in PLTS PT Indonesia Power Generation Business Unit of Bali occur in november as much as 9,56 % and power output optimum position produced as much as 240 watts .Power being achieved in november and december at all the appointed 13.00 until 14.00 WITA.