Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Rancang Bangun Sistem Otomasi Pemberian Larutan Nutrisi Dan Ph Pada Sistem Hidroponik Nutrient Film Technique (nft) Dengan Metode Fuzzy Logic Pada Tanaman Kailan Muhamad Haryanto; Ahmad Qurthobi; Rahmat Awaludin Salam
eProceedings of Engineering Vol 8, No 5 (2021): Oktober 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari tahun ke tahun lahan menjadi permasalahan utama dalam bercocok tanam. Salah satu solusi terhadap hal tersebut yaitu dengan menerapkan sistem hidroponik menggunakan metode Nutrient Film Technique (NFT). Metode ini memiliki kelebihan yaitu memanfaatkan air yang tersirkulasi sebagai media tanam agar memperoleh nutrisi, oksigen dan air sehingga pertumbuhan tanaman dapat meningkat dengan hasil yang optimal. Pada penelitian ini, tanaman yang digunakan yaitu tanaman kailan dengan nilai kebutuhan nutrisi 500-600 ppm di minggu pertama HSS dan nilai kadar pH 5.5-6.5 yang dapat digunakan sebagai setting point sistem. Untuk mempertahankan kedua nilai tersebut maka diperlukan sistem kendali fuzzy logic dengan menggunakan Arduino Mega 2560 sebagai mikrokontroler, baling-baling sebagai pengaduk larutan, pompa air DC 12 volt dan pompa peristaltik DC 12 volt sebagai aktuator, sensor pH dan sensor total dissolved solid (TDS) sebagai input. Ketika nilai pH <5.5 dan TDS <500 ppm maka pompa pada buffer pH up (kalium hidroksida) dan pompa TDS up (Nutrisi AB mix) aktif namun ketika nilai pH >6.5 dan TDS >600 ppm maka pompa pada buffer pH down (asam fosfat) dan pompa TDS down (air baku) aktif hingga kedua nilai sesuai setting point dengan dibantu pengaduk yang aktif setiap 20 detik. Pada pengujian sensor pH dan sensor TDS memiliki nilai error yang kecil dengan Error rata-rata sensor pH adalah 0,078 dan akurasi mencapai 99,92%. Error rata-rata sensor TDS 5,88 ppm dengan akurasi mencapai 99,31%. Perbedaan pertumbuhan tanaman kailan menggunakan sistem kendali cenderung lebih cepat jika dilihat dari jumlah daun, lebar batang, lebar daun dan tinggi tanaman dibandingkan tanpa menggunakan sistem kendali. Kata Kunci: Aktuator, Hidroponik, Logika Fuzzy, Nutrisi, Sensor, pH
Potensi Kadar Konsentrasi Co2 Dan Pm2.5 Yang Dihasilkan Dari Pembakaran Sampah Organik Dan Anorganik Menggunakan Insinerator Suhartanto Nugroho; Indra Chandra; Rahmat Awaludin Salam
eProceedings of Engineering Vol 7, No 1 (2020): April 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu sumber polusi udara yang berasal dari antropogenik yaitu pembakaran sampah yang pada temperatur rendah/tinggi dapat menghasilkan gas (Karbon Dioksida/CO2) dan/atau partikulat (PM2.5). Oleh karenanya, pengelolaan sampah dengan menggunakan insinerator merupakan salah satu cara untuk membakar sampah dengan kemampuan memfilter emisi tersebut. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran konsentrasi CO2 dan PM2.5 pada pembakaran sampah daun (organik), botol plastik (anorganik), dan campuran (komposisi 1:1 dari sampah organik dan anorganik), serta derajat keasaman (pH) dan turbiditas pada cairan dari hasil kondensasi asapnya, dengan menggunakan insinerator dari Bandung Techno Park (BTP), yang berlokasi di Universitas Telkom, Bandung. Alat ukur diletakkan pada jarak 30 cm dari cerobong dengan bantuan blower untuk mengarahkan sebagian besar asapnya menuju ruang pengukuran. Teknik tersebut lebih optimal apabila dibandingkan dengan penempatan alat secara langsung pada keluaran cerobongnya yang menyebabkan terhalangnya deteksi konsentrasi massa partikulat pada sensor PM2.5 akibat asap tersebut. Dari hasil pengukuran menunjukkan bahwa konsentrasi puncak CO2 pada pembakaran sampah campuran mencapai ~5000 ppm. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan sampah anorganik (~3100 ppm) dan organik (~1200 ppm). Tingginya konsentrasi CO2 sebagian besar disebabkan oleh pembakaran sampah plastik yang mengalami proses gasifikasi yang lebih besar daripada sampah daun. Hal tersebut dapat dilihat pada tingkat kekeruhan larutan hasil kondensasi asap pembakaran anorganik yang lebih jernih (~400 NTU) dibandingkan dengan organik (~2000 NTU). pH larutan anorganik adalah 2, lebih rendah daripada organik (pH = 5). Derajat keasaman pada anorganik mengandung konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan organik yang cenderung netral karena masing-masing kandungan anion/kationnya memiliki konsentrasi yang tinggi. Dengan demikian, metode dan teknik yang baik pada insinerator sangat penting untuk dipahami dan dirancang, agar penggunaannya lebih efektif untuk mereduksi paparan udara tercemar dari pembakaran sampah langsung yang masih banyak digunakan di Indonesia. Kata kunci: CO2, insinerator, kualitas udara, pembakaran sampah, PM2.5 Abstract One of the emission sources of polluted air from anthropogenic is waste combustion which can produce gas (i.e. carbon dioxide / CO2) and/or particulate (PM2.5) under low/high temperatures conditions. Therefore, a waste management system using an incinerator is one of a method to burn waste with an ability that it can filter those emissions. In this research, we have been measuring CO2 and PM2.5 concentrations produced in waste burning of organic (leaf), inorganic (plastic bottle), and mixture (1:1 composition between organic and inorganic waste), and analyzing its physical properties of the condensed liquid (pH and turbidity), using incinerator of Bandung Techno Park (BTP), which is located at Telkom University, Bandung. The measuring device was placed around 30 cm from a chimney with an added blower to flow the most of smoke comes into the measurement chamber. This technique is more reliable when comparing to direct measuring from the outlet that it caused PM2.5 sensors can overestimate the mass concentration of particulate due to the optical detector is blocked by smoke. Results showed that CO2 concentrations were higher came from mixed waste (~5000 ppm) compared to smoke from inorganic (~3100 ppm) and organic (~1200 ppm). Those concentrations mainly caused by the gasification process on plastic bottles than the leaf. Moreover, the turbidity level of inorganic waste is more clear (~400 NTU) than organic waste (up to 2000 NTU). The degree of acidity of a condensed inorganic liquid is 2, which lower than organic liquid (pH = 5). This is due to level acidity in inorganic has more acid concentration compared to the neutralization of higher concentrations of anion and cation in organic waste combustion. Thus, good techniques on incinerators are very important to be understood/designed, so that their use is more effective in reducing exposure to polluted air from direct combustion which is still widely used in Indonesia. Keywords: air quality, CO2, incinerator, PM2.5, waste burning
Analisis Penggunaan Daya Baterai Pada Sistem Monitoring Nirkabel Gelombang Air Laut Fawaz Irfan Mubarok; Rahmat Awaludin Salam
eProceedings of Engineering Vol 8, No 5 (2021): Oktober 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wireless sensor network jaringan yang terdiri dari suatu sensor yang dapat mendeteksi suatu keadaan, hasil yang didapat dari sensor kemudian akan dikirimkan ke penerima. Pemanfaatan wireless sensor netwok dapat digunakan pada untuk memonitoring ketinggian dari gelombang air laut. Pada sistem ini tidak terhubung ke catu daya jala-jala yang mengakibatkan keterbatasan sumber daya (energi) pada sistem tersebut. Pengguna dari sistem tersebut perlu mengetahui daya yang dibutuhkan dan digunakan agar wireless monitoring gelombang air laut ketika di simpan di laut dapat digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama. Oleh karena itu solusi yang dapat digunakan yakni dengan membuat sistem pengukuran daya baterai pada wireless monitoring gelombang air laut. Hasil pengujian menunjukan error pengukuran tegangan dan arus Sensor INA219 0,6% dan 3,8%. Sensor node mengkonsumsi arus saat pengiriman dan pemrosesan data sebesar 49,44 mA dan 42,5 mA dengan jarak pengiriman 50 dan set Tx power 17. Tx power berpengaruh terhadap konsumsi arus pada sensor node. Kata kunci: Wireles Monitoring, Monitoring Daya, Sensor INA219
Sistem Pemantauan Kualitas Udara Di Kawasan Bandung Metropolitan Berbasis Gsm Muhammad Riadhi Subardi; Indra Chandra; Rahmat Awaludin Salam
eProceedings of Engineering Vol 7, No 3 (2020): Desember 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pencemaran udara yang semakin meningkat merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem pemantauan kualitas udara dengan parameter ukur yang terdiri dari konsentrasi karbon dioksida (CO2) dan partikulat (PM2.5), serta dilengkapi dengan parameter meteorologi seperti temperatur (T), kelembapan relatif (RH), intensitas cahaya (I), tekanan (P), curah hujan, dan kecepatan/arah angin (WS/WD). Penelitian ini menggunakan panel surya untuk sumber tegangan cadangan. Terdapat baterai untuk menyimpan sumber energi listrik dan modul charger yang berfungsi untuk mengontrol pengisian daya baterai dari panel surya. Lokasi pengukuran dilakukan di dua lokasi, yaitu Gedung Tokong Nanas (R1) dan Gedung Deli (R2), Universitas Telkom, Bandung, yang dilakukan pada 1 Februari 2019 - 31 Januari 2020. Komunikasi data menggunakan GSM (SIM900A) yang dikirimkan ke cloud database per 2 menit dan disimpan di data logger. Hasil pengukuran di kedua lokasi memiliki perbedaan pada musim kemarau, hujan, dan pancaroba. Rata-rata harian dan per 8 jam masing-masing untuk konsentrasi PM2.5 dan CO2 di R1 dan R2 adalah 44 μg/m3 dan 521 ppm, serta 60 μg/m3 dan 621 ppm di musim hujan. Sedangkan untuk musim kemarau adalah 35 μg/m3 dan491 ppm, serta 60 μg/m3 dan 686 ppm. Pada musim pancaroba, konsentrasi polutan yang terukur yaitu 41 μg/m3 dan 504 ppm, serta 61 μg/m3 dan 672 ppm. Konsentrasi PM2.5 dan CO2 di R2 lebih tinggi daripada di R1 dikarenakan lokasi R2 lebih rendah dari R1 dan dipengaruhi oleh aktivitas antropogenik. Lokasi R1 lebih tinggi konsentrasi pada musim hujan karena planetary boundary layer di musim hujan mengalami penurunan yang mengakibatkan kualitas udara dipengaruhi oleh transportasi jarak jauh dari polutan. Sedangkan untuk lokasi R2, konsentrasi di musim kemarau lebih tinggi terjadi karena aktivitas vegetasi yang lebih aktif di musim kemarau. Kata kunci: Bandung Metropolitan, GSM, kualitas udara, low-cost sensor, musim. Abstract Increased level of air pollution is one of the environmental problems that occur in big cities in Indonesia. This study aims to develop an air quality monitoring system with measuring parameters are carbon dioxide (CO2) and particulate matter (PM2.5), as well as meteorological parameters (temperature (T), relative humidity (RH), light intensity (I), pressure (P), precipitation, and wind speed/direction (WS/WD). The system is equipped by solar panels as a backup voltage source, a battery to store the electrical energy from the solar panel, and a charger module that functions to control battery charging from the solar panel. Location measurements were carried out in 2 locations, namely Tokong Nanas Building (R1) and Deli Building (R2), Universitas Telkom, Bandung, which was conducted on February 1, 2019 - January 31, 2020. Data communication uses GSM (SIM900A) which is sent to the cloud database every 2 minutes and stored in the data logger. The measurement results at the two locations dif ered from the dry, rainy, and transition seasons. The daily and 8-hour average for the concentration of PM2.5 and CO2 in R1 and R2 respectively is 44 μg /m3 and 521 ppm and 60 μg /m3 and 621 ppm in the rainy season, while for the dry season is 35 μg /m3 and 491 ppm, and 60 μg /m3 and 686 ppm. In the transition season, these concentrations are 41 μg /m3 and 504 ppm, and 61 μg /m3 and 672 ppm. The concentrations of PM2.5 and CO2 in R2 are higher than in R1. This is because the location of R2 is lower than R1 and it is influenced by the location of the anthropogenic activity. Location R1 has a higher concentration in the rainy season because the planetary boundary layer in the rainy season has decreased which results in transboundary air pollution mixing with local air pollution. Whereas for the R2 location the concentration in the dry season was higher because the vegetation activity was more active in the dry season. Keywords: air quality, Bandung Metropolitan, GSM, low-cost sensors, seasonal
Studi Awal: Estimasi Ketinggian Muka Air Laut Berdasarkan Data Percepatan Akselerometer Qur’ainni Jannati Putri Azzahra; Rahmat Awaludin Salam; Casmika Saputra
eProceedings of Engineering Vol 8, No 5 (2021): Oktober 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tsunami terjadi karena adanya gempa bumi (tektonik maupun vulkanik) bawah laut yang membentuk gelombang dengan pergerakan acak dan kompleks sehingga tinggi serta periodenya sulit untuk diukur dan dirumuskan. Pada penelitian ini diusulkan untuk melakukan suatu proses penyerupaan dari pemantauan ketinggian muka air laut. Proses pengambilan data dilakukan sebanyak dua kali dengan pola gelombang regular dan irregular. Pengolahan data menggunakan aplikasi MATLAB, serta pengolahan video menggunakan aplikasi Tracker. Kedua pengolahan data tersebut untuk menghasilkan nilai ketinggian muka air dan kedua nilai tersebut akan dibandingkan. Di mana, dari masing-masing pola gelombang nilai ketinggiannya mendekati dengan kondisi real pengambilan data, yaitu sebesar 0.107 m untuk pola gelombang regular dan 0.087 m untuk pola gelombang irregular. Pola grafik yang disajikan hampir sama namun terdapat perbedaan time frame dan delay yang diakibatkan oleh proses perekaman video dan pengambilan data dimulai dengan tidak bersamaan, diperoleh selisih waktu sebesar 0.032 s. Simpulannya, penelitian ini mengestimasikan nilai ketinggian yang memiliki tujuan sebagai pengukuran ketinggian muka air laut berdasarkan data percepatan akselerometer, serta menjadikan gambaran untuk kondisi real pengukuran ketinggian muka air laut. Sehingga, bisa mendapatkan data yang akurat dan dapat bermanfaat untuk sistem pemantauan perairan di Indonesia dengan proses yang sederhana. Kata kunci: akselerometer, data percepatan, ketinggian muka air, regular, irregular
Rancang Bangun Sistem Penentu Posisi Koordinat (x,y) Menggunakan Sensor Light Dependent Resistor (ldr) Dan Perhitungan Metode Titik Berat Untuk Koil Pemindai Pada Metode Eddy Current Testing (ect) Putri Suci Febriani; Dudi Darmawan; Rahmat Awaludin Salam
eProceedings of Engineering Vol 8, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Eddy Current Testing (ECT) merupakan salah satu metode dari Non-Destructive Testing (NDT) yang memanfaatkan medan magnet untuk melihat interaksi antara sumber medan magnet dengan objek yang akan diuji. Dalam penerapannya ECT membutuhkan koil untuk digunakan sebagai alat pemindai yang akan memindai cacat atau keretakan pada objek uji. Untuk membantu proses pengujian, dibutuhkan sistem pemindai yang dapat melakukan penginduksian arus pada koil sekaligus dapat mengetahui posisi koordinat penginduksi itu berada sehingga keretakkan/kerusakan pada objek dapat langsung diketahui posisinya. Penelitian ini menggunakan sumber cahaya yang akan ditempatkan satu titik koordinat dengan koil agar koil dan sumber cahaya memiliki titik koordinat yang sama. Untuk mengetahui posisi sumber cahaya tersebut pada penelitian ini juga menggunakan sensor Light Dependent Resistor (LDR). Sensor LDR ini digunakan untuk mendeteksi pergerakan cahaya yang berasal dari sumber cahaya sehingga sensor akan menerima cahaya sesuai dengan cahaya yang diterimanya. Untuk mengetahui posisi koordinat sumbu X dan sumbu Y tersebut, penulis menggunakan perhitungan metode titik berat. Dari percobaan yang telah dilakukan pada 10 titik koordinat didapatkan nilai rata-rata akurasi pada sumbu x adalah 99,6% dan akurasi pada sumbu y adalah 99,7% dengan resolusi pada alat adalah 2,5 cm. Kata Kunci : Eddy Current Testing, Non-Destructive Testing, Light Dependent Resistor, metode titik berat. Abstract Eddy Current Testing (ECT) is one of the methods from Non-Destructive Testing (NDT) which using field magnetic to see the interaction between sources of the magnetic field and the tested object. In Practice, Eddy Current Testing (ECT) requires coil to be used as a scanner for detecting crack or defect on the surface of the object. To do the testing, we need to induct current on the coil to get the position also the coordinate to make sure the defect and cracked area. So, defect objects can be immediately identified on its position.This research use source of the light will be combined in one place with the coil so that the coil and the source of light have the same coordinate points. In this study, for finding the position of the light we need a sensor called LDR (Light Dependent Resistor). This LDR sensor is used to detect the movement of light coming from a light source so that the sensor will receive light according to the light it receives.To find out the position of the coordinates of the X and Y axes, the authors uses the “TITIK BERAT” method. From the experiments that have been tried out at 10 coordinate points, the average value of accuracy on the x-axis is 99.6% and the y-axis accuracy is 99.7% with the resolution at the tool is 2,5 cm. Keywords: Eddy Current Testing, Non-Destructive Testing, Light Dependent Resistors, emphasis method.
Pemantauan Potensi Energi Yang Dihasilkan Sel Surya Polycrystalline Silicon Untuk Pengisian Baterai Lead Acid Di Lingkungan Universitas Telkom Gusti Lucky Lerian; Asep Suhendi; Rahmat Awaludin Salam
eProceedings of Engineering Vol 8, No 2 (2021): April 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada penelitian kali ini telah dilakukan pemantauan pengaruh besar radiasi matahari yang diterima sel surya untuk mengisi baterai lead acid. Dengan menggunakan mikrokontroler Arduino Mega maka dapat diketahui besar energi yang dihasilkan oleh sel surya dan nilai radiasi matahari. Terdapat 2 metode penyimpanan data yaitu menggunakan SD Card dan platform IoT. Dalam proses pengukuran selama 5 hari didapat nilai efisiensi sel surya Polycrystalline Silicon 20Wp dan 10Wp dengan nilai masing-masing 7,298% dan 8,843%. Pengaruh nilai radiasi matahari yang diterima sel surya pun mempengaruhi lama waktu pengisian baterai. Saat kondisi langit cerah, rata-rata energi harian yang dihasilkan oleh sel surya 20Wp dan 10Wp masing-masing adalah 112,245 VAh dan 67,85 VAh, serta mampu mengisi baterai lead acid 86,4 VA masing-masing selama 9¼ jam dan 12½ jam. Namun pada kondisi langit berawan, sel surya hanya menghasilkan energi harian sebesar 47,62 VAh dan 32,33 VAh, serta mengisi baterai lead acid 86,4 VA lebih lama yaitu 19 jam atau ± 1 hari 7 jam dan 20½ jam atau ± 1 hari 8½ jam. Kata kunci: Mikrokontroler, baterai Lead Acid, IoT. Abstract In this research, monitoring of the influence of solar radiation received by solar cells has been carried out to charge the lead acid battery. By using the Arduino Mega microcontroller, it can be seen the amount of energy produced by solar cells and the value of solar radiation. There are 2 data storage methods, namely using an SD card and an IoT platform. In the measurement process for 5 days, the efficiency values of the 20Wp and 10Wp Polycrystalline Silicon solar cells were obtained with a value of respectively 7.298% and 8.843%. The effect of the value of solar radiation received by solar cells also affects the length of time to charge the battery. When the sky is clear, the average daily energy produced by the 20Wp and 10Wp solar cells is 112.245 VAh and 67.85 VAh, respectively, and is able to charge 86.4 VA lead acid batteries for 9¼ hours and 12½ hours respectively. However, in cloudy skies, solar cells only produce daily energy of 47.62 VAh and 32.33 VAh, and charge 86.4 VA lead acid batteries for longer, namely 19 hours or ± 1 day 7 hours and 20½ hours or ± 1 days 8½ hours. Keywords: Microcontroller, Lead Acid battery, IoT
Analisis Pengaruh Variasi Volume Chamber Terhadap Produksi Listrik Pada Stacked Microbial Fuel Cell Yan Khairul Akbar; M. Ramdlan Kirom; Rahmat Awaludin Salam
eProceedings of Engineering Vol 8, No 5 (2021): Oktober 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permintaan akan energi listrik khususnya di Indonesia terus meningkat. Sementara ketersediaan sumber energi fosil semakin menipis. Energi terbarukan berbasis bioelektrokimia dapat dijadikan sebagai solusi. Microbial Fuel Cell (MFC) adalah salah satu perangkat berbasis bioelektrokimia. Tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui efek va
Analisis Potensi Kebakaran Hutan Menggunakan Data Titik Panas Dan Iklim Untuk Pemasangan Alat Kualitas Udara Di Provinsi Riau Elpi Sandra Yunvi; Indra Chandra; Rahmat Awaludin Salam
eProceedings of Engineering Vol 8, No 2 (2021): April 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Riau merupakan salah satu daerah di pulau Sumatera yang memiliki lahan gambut terluas berkisar 55,76% dari total luas di Sumatera. Hal ini menyebabkan Riau rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan akibat proses alami ataupun penyalahgunaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis suatu daerah untuk pemasangan alat kualitas udara berbasis low-cost sensor di Provinsi Riau dengan memanfaatkan data cuaca dan sebaran titik panas (hotspot). Data yang digunakan yaitu kebakaran hutan pada tahun 2015 dan 2019 yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Malaysia Dapartment of Environment (DOE) melalui Air Quality Historical Data. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif yaitu dengan meneliti berbagai kejadian, serta mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data. Dari proses tersebut, cuaca berpengaruh terhadap kebakaran hutan dan lahan serta sebaran titik panas (hotspot). Kebakaran hutan yang terjadi menyebabkan polusi lintas batas yang meningkatkan konsentrasi PM10 dan terjadi degradasi kualitas udara, sebagai contoh di Malaysia. Polutan dari kebakaran hutan berupa fresh (gas rumah kaca (CO2, CH4, N2O) dan black carbon) dan aged (senyawa fotokimia (CO, NMVOC, NOx)) combutions. Adapun parameter ukur yang dapat digunakan yaitu temperatur, kelembapan, arah dan kecepatan angin, Particulate Metter, sensor gas, dan sensor api. Dari hasil analisis didapatkan beberapa daerah yang direkomendasikan yaitu Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Siak, Kabupaten Kepulauan Meranti, Kabupaten Indragiri Hilir, dan Kabupaten Indragiri Hulu. Kata kunci : Cuaca, hotspot, kebakaran hutan, PM10. Abstract Riau is one of the areas on the island of Sumatra, which has the largest peatlands, around 55.76% of the total area in Sumatra. This leaves Riau vulnerable to forest and land fires due to natural processes or land misuse. This study aims to analyze an area for the installation of air quality devices based on low-cost sensors in Riau Province by utilizing weather data and the distribution of hotspots. The data used are forest fires in 2015 and 2019 which were obtained from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG), the Ministry of Environment and Forestry (KLHK), and the Malaysia Department of Environment (DOE) through Air Quality Historical Data. The method used in this research is descriptive by examining various events, as well as collecting, processing, and analyzing data. From this process, the weather affects forest and land fires and the distribution of hotspots. Forest fires that occur cause transboundary pollution which increases PM10 concentrations and degrades air quality, for example in Malaysia. Pollutants from forest fires are fresh (greenhouse gases (CO2, CH4, N2O) and black carbon) and aged (photochemical compounds (CO, NMVOC, NOx)) combutions. The measuring parameters that can be used are temperature, humidity, wind direction and speed, particulate meter, gas sensor, and fire sensor. From the analysis, it was found that several recommended areas were Bengkalis Regency, Rokan Hilir Regency, Pelalawan Regency, Siak Regency, Meranti Islands Regency, Indragiri Hilir Regency, and Indragiri Hulu Regency. Keywords: Forest fire, hotspot, PM10, weather
Aplikasi Ultrasonik Dalam Penentuan Kontur Lapisan Subur Tanah Thresia Margaretha; Dudi Darmawan; Rahmat Awaludin Salam
eProceedings of Engineering Vol 8, No 5 (2021): Oktober 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ultrasonic testing merupakan salah satu metode NDT (Non-Destructive Testing) yang memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk mendeteksi ketebalan suatu objek yang akan diuji. Metode ultrasonic testing ini dapat digunakan untuk penentuan kontur lapisan subur tanah dengan cara memancarkan gelombang ultrasonik melalui transduser ke atas permukaan objek uji. Respon gelombang pantul yang terlihat pada osiloskop kemudian dianalisis untuk melihat waktu tempuh yang dibutuhkan gelombang pada saat ditransmisikan sampai diterima kembali. Dalam penelitian ini digunakan transduser AT200 dengan frekuensi kerja sebesar 200 kHz. Sebelum melakukan eksperimen pengukuran, terlebih dahulu dilakukan karakterisasi objek uji untuk menentukan kecepatan rambat gelombang pada setiap objek diuji. Berdasarkan nilai waktu tempuh dan kecepatan rambat gelombang dapat ditentukan ketebalan lapisan subur tanah yang berfungsi sebagai data dalam pembuatan kontur lapisan subur tanah. Untuk menampilkan kontur lapisan subur tanah secara tiga dimensi, sumbu x dan sumbu y akan diasumsikan sebagai koordinat titik pengukuran dan sumbu z diasumsikan sebagai ketebala tanah humus. Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan nilai pengukuran ketebalan lapisan tanah yang terdeteksi mempunyai rata-rata tingkat kesalahan sebesar 1,009% pada tanah humus dan 0,878% pada tanah laterit. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa metode ultrasonic testing dapat diaplikasikan sebagai penentuan kontur lapisan subur tanah. Kata kunci: kontur lapisan subur tanah, NDT(Non-Destructive Testing), ultrasonic testing.
Co-Authors Abdurrachman, Arief Adam, Muhamad Dhani Adiwidya, Andre Suwardana Afryan, Muhammad Beno Ahmad Marjan Ahmad Qurthobi Akhmadi Akhmadi Akmal, Fathir Alexandra, Tania Christiana Amalia, Dini Rizqi Andre Suwardana Adiwidya Annisa Zahwatul Ummi Ardiles, Sopaheluwakan Alesandro Arief Abdurrachman Asep Suhendi Aziz, Reza Mochamad Barus, Robbi Adam Aldino Casmika Saputra Deni Ali Marwan Gajah Dewi Novianti Dini Rizqi Amalia Dudi Darmawan Elfi Yuliza Elisabeth Dian Atmajati Elpi Sandra Yunvi Endang Rosdiana Faisal Budiman Fatah Sulaiman Fathonah, Indra Wahyudhin Fawaz Irfan Mubarok Fikri Firmansyah Fikri Muhammad Farhan Furqan Vaicdan Gajah, Deni Ali Marwan Gusti Lucky Lerian Hakiem, Usamah Saiful Halinda, Maulana Fauzan Athalla Hanif Akbar Dawam Abdullah Hertiana Bethaningtyas Dyah Kusumaningrum Hidayat, Putri Naila Alyana Indah Cikal Al Gyfary Okthaviany Indra Chandra Indra Wahyudin Fathonah Irvin Judah Lalintia Isriyanti Affifah, Isriyanti Jannah, Nur Rawdotul Kampong, Prichel Adisatya Kurniawan, Michelle Lalintia, Irvin Judah Lee, Vivian Lulu Millatina Rachmawati Lutfi Ikbal Majid Majid, Lutfi Ikbal Mardiawan, Jihab Tri Mario Gilang Permadi Maulana Fauzan Athalla Halinda Melina Melina Michelle Kurniawan Muchtar, Rashmei Auliya Muhamad Haryanto Muhamad Ramdlan Kirom Muhammad Ary Murti Muhammad Beno Afryan Muhammad Fajri Hadi Syahputra Muhammad Farisqi Aziz Muhammad Riadhi Subardi Mukhammad Kirom Nabil Ananta Hasmul Nolla Kusumawardani Nur Putri Megalia Sopian Nur Rawdotul Jannah Nurrachman, R Anom Nurwulan Fitriyanti Octo Emerald Siregar Okthaviany, Indah Cikal Al Gyfary Pengada, Fridasa Suflia Permadi, Mario Gilang Prasetio, Dimas Prichel Adisatya Kampong Putri Naila Alyana Hidayat Putri Suci Febriani Qur’ainni Jannati Putri Azzahra Rahmat Firman Septiyanto, Rahmat Firman Restianim, Vivien Reza Fauzi Iskandar Reza Mochamad Aziz Riska Ekawita Sherly Liana Putri Siahaan, Ena Evralentina Siahaan, Prayander Sahatma Sopaheluwakan Alesandro Ardiles Sopian, Nur Putri Megalia Suhartanto Nugroho Sya’bani, Ashari Syamsul Hidayat Tania Christiana Alexandra Thresia Margaretha Ummi, Annisa Zahwatul Vaicdan, Furqan Valentina Adimurti Kusumaningtyas Vivian Lee Yan Khairul Akbar Yusuf, Cintya Yusminar