Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

PENATAAN SUARA PADA FILM FIKSI TENTANG PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT DI DESA GUNUNG PUNTANG Fauziyah, Eva; Fiandra, Yosa; Aprilian Anwar, Ardy
eProceedings of Art & Design Vol. 10 No. 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Desa Gunung Puntang, wilayah pedesaan di Gunung Malabar, menawarkan pesona alam pegunungan dan perkebunan kopi. Kopi Puntang meraih prestasi dalam pameran kopi internasional, memberi dampak positif pada ekonomi petani. Adaptasi masyarakat terhadap perubahan sosial budaya membuka peluang meningkatkan kualitas hidup, meskipun adaptasi lebih lambat di pedesaan. Meski ada tantangan, dampak positif adaptasi terlihat pada ekonomi, teknologi, dan pendidikan. Perubahan sosial budaya membawa manfaat seperti peningkatan ekonomi dan kualitas hidup, dengan masyarakat yang beradaptasi mampu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup mereka. Penelitian ini fokus pada perubahan sosial budaya di Desa Gunung Puntang untuk film fiksi. Film fiksi mampu menyampaikan pesan melalui teknik sinematik dan naratif. Dengan fokus pada adaptasi dan perubahan sosial budaya, penulis ingin menyampaikan pesan melalui karya film fiksi dengan elemen dramatik dalam segi audio. Penelitian ini dilakukan melalui Teknik Observasi, Wawancara, Studi Pustaka, dan juga Kuesioner, yang kemudian diaplikasikan dalam pembuatan film fiksi dengan mengacu pada karya-karya sejenis seperti "Negeri Di Bawah Kabut" (2011), "Banda: The Dark Forgotten Trail" (2017), dan "Aroma Of Heaven" (2014). Hasil penelitian menunjukkan pendekatan unsur dramatik dalam penataan suara film adalah cara efektif untuk menyampaikan pesan dan tujuan. Penata suara berperan penting dalam menciptakan atmosfer dan mengekspresikan pendekatan unsur dramatik. Pendekatan ini memperkuat narasi dan karakter dengan menggunakan musik, sound effect, dan dialog untuk menggambarkan perjalanan emosional karakter utama dan masyarakatnya. Efek suara yang diselaraskan dengan dramatisme adegan memberikan dampak emosional yang kuat pada penonton, memungkinkan mereka merasakan kedekatan dengan cerita yang disajikan.Kata kunci: Perubahan Kebudayaan, Desa Gunung Puntang, Film Fiksi, dan Penata Suara
PENULISAN NASKAH SKENARIO PADA FILM RESTU MENGENAI MITOS PERNIKAHAN ANTARA ETNIS JAWA DAN SUNDA Anjli Silalahi, Fithrah; Aprilian Anwar, Ardy
eProceedings of Art & Design Vol. 10 No. 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Hubungan ketertarikan antar etnis berjalan kurang baik karena masih ditemukan beberapa etnis yang meyakini adanya mitos atau menyarankan kedua etnis tersebut tidak melangsungkan pernikahan. Sebagai penulis naskah skenario dalam produksi film fiksi bersama dengan tim produksi akan membahas tema pernikahan tersebut dengan judul <Penulisan Naskah Skenario Pada Film Restu Mengenai Mitos Pernikahan antara Etnis Jawa dan Sunda= yang bertujuan untuk mengurangi mitos yang masih tersebar diantara beberapa etnis, salah satunya yang terjadi yakni etnis Jawa dan Sunda. Konsep perancangan menggunakan pendekatan Three Act Of Structure yang terdiri dari 3 babak yakni pengenalan, konfrontasi, dan resolusi bertujuan untuk mengorganisir cerita menjadi bentuk yang koheren dan memungkinkan pengembangan plot yang efektif pada film <Restu= berdasarkaninformasi yang telah dikumpulkan melalui penelitian lapangan dari etnis Jawa dan Sunda. Melalui metode penelitian yang bersifat kualitatif dengan pengumpulan studi pustaka, wawancara, observasi dan kuesioner sebagai metode pendukung dalam observasi. Dengan demikian penulis berkesimpulanbahwa mitos yang terjadi merupakan munculnya cerita antara kerajaan Padjajaran dan kerajaan Majapahit, namun pada era modern saat ini fenomena terkait mitos menjadi hal yang mulai ditinggalkan karena kembali lagi dengan sifat antar pasangan yang akan menerimanya. Kata Kunci : Skenario, Film Fiksi, Mitos, Pernikahan antar Etnis Jawa dan Sunda
PENYUNTINGAN GAMBAR FILM FIKSI TENTANG PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA PADA MASYARAKAT DI DESA GUNUNG PUNTANG Ar Rafi, Muhammad Arjund; Fiandra, Yosa; Aprilian Anwar, Ardy
eProceedings of Art & Design Vol. 10 No. 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan penyuntingan gambar dalam pembuatan film fiksi dengan menggunakan elemen-elemen visual seperti warna, kontiniti, serta transisi. Tujuan utamanya adalah menciptakan alur agar narasi dapat tercipta secara kuat dan kohesif, yang dimana mampu mempengaruhi pengalaman individu di suatu daerah, dengan fokus pada studi kasus Desa Gunung Puntang. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dan pendekatan lokalitas untuk menggali bagaimana teknik penyuntingan dapat memicu refleksi identitas dalam keragaman budaya di berbagai daerah, dengan Masyarakat Desa Gunung Puntang sebagai contoh. Penelitian ini dilakukan melalui Teknik Observasi, Wawancara, Studi Pustaka, dan Kuisioner. Dalam prosesnya, penulis akan menerapkan teknik penyuntingan gambar dalam pembuatan film fiksi, mengacu pada karya-karya seperti "Negeri Di Bawah Kabut" (2011), "Filosofi Kopi” (2015), dan "Sarvani Buthani" (2018). Elemen visual yang dipilih akan digunakan untuk membangun atmosfer dan memperkuat pesan cerita yang terkait dengan perubahan sosial budaya pada masyarakat di Desa Gunung Puntang. Penulis bertanggung jawab dalam menyusun gambar-gambar yang direkam untuk menciptakan alur cerita yang menarik dan memengaruhi pengalaman penonton. Melalui pengetahuan tentang pengembangan usaha penanaman kopi yang memberikan manfaat ekonomi dan dampak positif pada pendidikan di Desa Gunung Puntang, penulis akan membantu memvisualisasikan keberhasilan masyarakat dalam menemukan identitas mereka melalui medium film.Kata Kunci : Perubahan Sosial Budaya, Masyarakat Desa Gunung Puntang, Film Fiksi, Penyuntingan Gambar.
PENYUTRADARAAN FILM TOURISM TENTANG EKOWISATA RANCAUPAS DI KABUPATEN BANDUNG Putri Pahlevy, Shaula Nuraprilianti; Aprilian Anwar, Ardy
eProceedings of Art & Design Vol. 10 No. 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Ekowisata merupakan pariwisata yang menjamin terciptanya kesejahteraan. Ekowisata dapat diartikan juga dengan perjalanan wisata ke wilayahwilayah alami dan tetap memperhatikan konservasi atau menyelamatkan lingkungan dan memberi penghidupan penduduk lokal. Ekowisata di Indonesia memiliki peluang yang cukup besar dikarenakan keindahan alam Indonesia yang sulit ditandingi. Di balik keindahan tersebut, bagaimana sebuah wisata berpotensi memperbaiki kehidupan masyarakat dan menjaga sustainability alam. Rancaupas saat ini menjadi salah satu ekowisata yang terkenal di Kabupaten Bandung dan sekitarnya. Melalui metode pengumpulan data yang kami lakukan melalui wawancara, studi pustaka, observasi, dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan metode kualitatif terdapat beberapa data yang berhasil dikumpulkan seperti, beberapa masyarakat masih menemukan ekowisata yang dinilai kurang mampu menjaga keberlangsungan lingkungan/alam. Oleh karena itu, pembuatan film tourism ini dapat memberikan gambaran ekowisata yang baik kepada masyarakat juga pengelola ekowisata di Indonesia. Dan menarik lebih banyak pengunjung untuk mengunjungi ekowisata di Indonesia terutama Rancaupas. Rancaupas tetap bisa mempertahankan konsistennya untuk menjadi ekowisata yang mengedepankan konservasi juga kehidupan masyarakat disekitarnya. Kata kunci: Ekowisata, Lingkungan, Penyutradaraan, Film Tourism.
Musical Drama Audio Production for MI Asy Syifa Rancamanyar Teachers: Produksi Audio Drama Musikal bagi para Guru MI Asy Syifa Rancamanyar Anwar, Ardy Aprilian; Fiandra, Yosa; Belasunda, Riksa
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 5 (2024): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v8i5.21292

Abstract

When celebrating graduation or promotion at school level, they are used to holding a celebration event all day long. Various types of competitions were held and competed in, and various artistic performances were shown openly. Performing arts include musical group performances, solo singing, dance, musical ensembles and musical drama. There are still several schools, including MI Asy Syifa Rancamanyar, which still use external assistance to prepare activities on the grounds that they donot have knowledge in the related field. For example, when creating singing accompaniment music, dance accompaniment music, and even audio for musical drama performances with a more complex level of complexity. This study aims to understand teachers who are involved in extracurricular activities, particularly their ability to create audio-musical dramas. The method used is service learning-based training with an active participatory approach that focuses on meeting the community needs identified in previous year's training. The research results indicate an improvement in participants' understanding and knowledge of the recording and audio rendering processes. This audio production training helps teachers gain a better understanding and trains them in audio production for musical dramas using Reaper DAW software. As a result, teachers become more productive and independent in preparing materials for art performances at their schools
KONSTRUKSI IKON, INDEK, DAN SIMBOL DALAM MEMBANGUN VISUALISASI KARAKTER VIDEO GAME HARVEST MOON BACK TO NATURE Budiman, Arief; Anwar, Ardy Aprilian
Jurnal Bahasa Rupa Vol. 4 No. 1 (2020): Jurnal Bahasa Rupa Oktober 2020
Publisher : Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31598/bahasarupa.v4i1.566

Abstract

The presence of character visualization becomes part of the aesthetic value in video games, with its presence making events in the video game become interwoven and have a narrative flow. In the end it creates a fantasy as well as the occurrence of increasing emotion in playing video games, where players are expected to feel an understanding of indigo - value. Seeing the magnitude of the role of the presence of character visualization in video games. Then through the study of reading visual signs, it is done as a means to find out the sign construction on character visualization in the Harvest Moon Back to Nature video game. Descriptive Interpretative research methods using the semiotics approach with qualitative data analysis as an instrument to describe and interpret the object of study. Researchers use the Peirce semiotic approach as a signatory analysis theory can read visual signs in the form of icons, indices, and symbols contained in the visualization of characters oriented to aspects of the story in the Harvest Moon Back to Nature video games. Overall the existence of character visualization presented by the construction of visual signs (icons, indices, symbols) in the Harvest Moon Back to Nature video game has been able to describe the characteristics of each character in the game world that suits the personality and profession of the character played in the the Harvest Moon Back to Nature video game.  
PENATA KAMERA FILM 'JAM WAJIB BELAJAR' TENTANG GENERATION GAP TERHADAP PERUBAHAN CARA BELAJAR ANAK Dirga Ali Arsyi; Ardy Aprilian Anwar; Muchammad Zaenal Al Ansory
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah memengaruhi cara belajar anak-anak masakini, yang cenderung lebih menyukai metode belajar visual dan interaktif. Sementara itu,sebagian besar orang tua masih mengandalkan pendekatan belajar tradisional yang lebihterstruktur dan tenang. Ketimpangan ini kerap memicu konflik dalam keluarga,menunjukkan adanya kesenjangan antar generasi. Film pendek fiksi berjudul Jam WajibBelajar dirancang sebagai media reflektif yang menyoroti dinamika tersebut, sekaligusmengangkat pentingnya peran orang tua dalam menyesuaikan pola komunikasi danpengasuhan di era digital. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian inimengumpulkan data melalui observasi, studi literatur, serta analisis terhadap film sejenissebagai acuan visual, dengan analisis deskriptif dan matriks perbandingan untukmerancang konsep visual yang tepat. Tahap pra-produksi mencakup riset, penulisanskenario, dan perencanaan visual, sementara tahap produksi difokuskan pada penataankamera, komposisi gambar, dan pencahayaan guna memperkuat pesan emosional film.Pada tahap pascaproduksi dilakukan penyuntingan visual, koreksi warna, dan penyusunannarasi akhir yang sesuai dengan konsep awal. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah filmpendek berdurasi ±15 menit yang diharapkan mampu menjadi media reflektif sekaligusedukatif untuk mendorong keterlibatan orang tua dalam menciptakan lingkungan rumahyang mendukung pengembangan literasi anak.Kata Kunci: Film Pendek, kesenjangan generasi, Penataan Kamera, Sinematografi.
PENYUTRADARAAN FILM ‘JAM WAJIB BELAJAR’ TENTANG GENERATION GAP TERHADAP PERUBAHAN CARA BELAJAR ANAK Putti Naswa Az Zahra Azwardi; Ardy Aprilian Anwar; Muchammad Zaenal Al Ansory
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan zaman mengubah cara anak-anak menikmati proses belajar. Pada masakini, anak-anak cenderung belajar secara interaktif melalui aktivitas berbasis minat.Sementara itu, sebagian orang tua masih memegang pandangan konvensional bahwabelajar harus dilakukan secara formal. Perbedaan pandangan ini memunculkangeneration gap dalam keluarga yang dapat menghambat komunikasi dan pemahamanterhadap proses belajar anak. Kondisi ini mendorong hadirnya media yang dapatmenyuarakan isu tersebut sebagai bentuk refleksi. Film memiliki kekuatan untukmerekam dan menampilkan realitas, sekaligus memicu dialog antar generasi. Oleh karenaitu, perancangan film pendek fiksi dengan pendekatan realisme dipilih untukmenggambarkan generation gap, dengan mempertimbangkan latar sosial dan budayasetempat. Proses perancangan dilakukan melalui tahap Pra-produksi, Produksi, danPasca-produksi dengan metode observasi lapangan, wawancara, studi literatur, sertaanalisis karya sejenis. Analisis tematik digunakan dalam merumuskan konsepperancangan. Pendekatan realisme AndrÈ Bazin diterapkan dalam teknik visual danpenyutradaraan. Hasil perancangan menunjukkan bahwa film pendek fiksi pendekatanrealisme mampu merepresentasikan realitas sebagai sarana refleksi bagi penontonnya. Kata Kunci : Generation Gap, Perubahan Belajar Anak, Era Digital, Film Pendek, Penyutradaraan, Realisme
Psikoanalisis Musik terhadap Musik Film Sang Pencerah: Aktualisasi Biografis Tya Subiakto Ardy Aprilian Anwar; Pandu Watu Alam; Azuddin Asri
PROMUSIKA Vol 14, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v14i1.17364

Abstract

Proses kreatif komposer dalam musik film, khususnya yang berkaitan dengan dimensi psikologis, merupakan ranah yang masih jarang dieksplorasi dalam literatur musikologi. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi proses kreatif Tya Subiakto dalam skor film Sang Pencerah guna mengungkap relasi antara impuls bawah sadar dan keputusan musikal menggunakan perspektif mekanisme pertahanan diri Sigmund Freud. Penelitian ini menerapkan metode studi kasus kualitatif yang mengintegrasikan analisis tekstual musikal, wawancara biografis mendalam, dan studi dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan adanya manifestasi konkret mekanisme pertahanan Freud dalam struktur komposisi, yaitu: (1) Sublimasi yang teridentifikasi pada crescendo orkestra penuh tema 'Mars Muhammadiyah' (00:01:06) sebagai penyaluran obsesi masa kecil; (2) Represi yang termanifestasi dalam pola ritmis string section repetitif (00:02:15–00:03:00) sebagai pengelolaan ketegangan emosional; dan (3) Pemindahan (displacement) yang terbukti melalui adopsi progresi akor 'Child's Anthem' (Toto) pada tema dialog Dahlan-Nyai (01:10:00). Studi ini menyimpulkan bahwa biografi komposer bukan sekadar latar belakang sejarah, melainkan elemen konstitutif yang membentuk narasi musikal film. Kontribusi teoritis penelitian ini menawarkan model analisis interdisipliner yang memperkaya diskursus musikologi Indonesia dengan menjembatani psikoanalisis dan kritik musik film.Actualization of Tya Subiakto's Biography in the Music of Sang Pencerah: An Analysis of Musicological PsychoanalysisAbstractThe composer's creative process in film music, particularly its psychological dimensions, remains underexplored in musicological literature. This research aims to deconstruct Tya Subiakto's creative process in the Sang Pencerah film score to clarify the relationship between subconscious impulses and musical decisions, drawing on Sigmund Freud's perspective on defense mechanisms. This study employs a qualitative case study method, integrating musical textual analysis, in-depth biographical interviews, and documentary study. The findings demonstrate concrete manifestations of Freudian defense mechanisms within the compositional structure: (1) Sublimation, identified in the full orchestral crescendo of the 'Mars Muhammadiyah' theme (00:01:06) as a channel for childhood obsessions; (2) Repression, manifested in repetitive rhythmic patterns of the string section (00:02:15–00:03:00) as a means of processing emotional tension; and (3) Displacement, evidenced by the adoption of the 'Child's Anthem' (Toto) chord progression in the Dahlan-Nyai dialogue theme (01:10:00). This study concludes that a composer's biography serves not merely as historical background but as a constitutive element shaping the film's musical narrative. Theoretically, this research contributes an interdisciplinary analytical model that enriches Indonesian musicological discourse by bridging psychoanalysis and film music criticism.Keywords: Creative process; Film scoring; Freud psychoanalysis; Composer's biography; Tya Subiakto
Pelatihan Produksi Audio di Sekolah MI Asy Syifa Baleendah untuk Menunjang Kreativitas Ardy Aprilian Anwar; Yosa Fiandra; Yayat Sudaryat
Charity : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2026): Charity-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : PPM Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/charity.v9i1.5683

Abstract

Kreativitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah pertunjukan seni. Secara garis besar, seni dibagi ke dalam rupa, musik, tari, dan drama. Saat melakukan perayaan, baik, kelulusan maupun kenaikan tingkat di sekolah, tidak jarang mereka mengadakan sebuah acara perayaan dalam satu hari. Berbagai jenis perlombaan diadakan dan dipertandingkan, serta berbagai pertunjukan kesenian dipertontonkan secara terbuka. Pertunjukan kesenian berupa penampilan grup musik, bernyanyi solo, tari-tarian, ansambel musik, drama musikal atau biasa disebut kabaret, dan lainnya. Untuk penampilan terbaik, tentunya mereka akan melakukan persiapan-persiapan khusus. Rangkaian persiapan terdiri dari menentukan jenis seni, menentukan para pelaku yang terlibat, menentukan konsep dan tema pertunjukan, produksi konten, latihan, hingga geladi resik. Namun, sayangnya masih ada beberapa penyelenggara yang masih menggunakan tenaga bantuan dari luar dengan alasan tidak memiliki pengetahuan pada bidang terkait. Misalnya saat membuat musik iringan nyanyi, musik iringan tari, hingga audio untuk pertunjukan kabaret dengan kerumitan yang lebih kompleks. Audio untuk pertunjukan kabaret memerlukan kecakapan dalam hal tata olah suara dengan perangkat yang tidak secara umum dimiliki pihak sekolah, terutama tingkat pendidikan dasar. Dalam program Pengabdian pada Masyarakat, kami berinisiatif untuk membagi pengalaman, memberikan pemahaman, dan melatih sumber daya manusia yang ada tentang produksi audio untuk kabaret. Capaiannya adalah guru-guru lebih produktif serta mandiri dalam mengolah bahan-bahan untuk pertunjukan kesenian yang mereka adakan di sekolah.