Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Program Variety Show Dangdut Academy Asia 2 sebagai Alat Diplomasi Publik Indonesia Intan Rizkia Futri; Dade Mahzuni; Nandang Rahmat
PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.374 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v28i4.710

Abstract

ABSTRACT Music as cultural diplomacy has been a subject of scholarly attention around the world. This research explores the subject within the Asia region. The purpose of this research is to describe the efforts in strengthening international diplomacy of Indonesia through dangdut music, namely Dangdut Academy Asia 2 TV program, throughout Asia specifically. Dangdut music which is originated from Indonesia gains a strong base of enthusiasts. The music genre has also established a niche market in the world of music. Popular culture and cultural diplomacy theories used in the research to explain how dangdut music which is formatted into a television variety show can positively affect the life of the society, nation, and state within Indonesia and throughout Asia. From this research, I found that the TV program has contributed in a very positive way to cultural diplomacy for Indonesia. This cultural diplomacy has been done through various cultural forms, including costumes, songs, foods, tourist attraction information, etc.Keywords: dangdut show, pop culture, cultural diplomacy, Dangdut Acadaemy Asia 2, variety show   ABSTRAK Musik sebagai diplomasi budaya telah menjadi perhatian ilmiah di seluruh dunia. Penelitian ini juga mengeksplorasi subjek di wilayah Asia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan upaya Indonesia dalam memperkuat diplomasi internasional melalui musik dangdut, yaitu program TV Dangdut Academy Asia 2, yang ditayangkan khusus di Asia. Musik dangdut berasal dari Indonesia yang memiliki penggemar fanatik. Jenis musik ini telah membentuk pasar khusus di dunia musik. Teori budaya populer dan diplomasi budaya digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana musik dangdut yang dikemas menjadi program variety show  televisi dapat secara positif memengaruhi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara di Indonesia dan Asia.Dari penelitianini penulis menemukan bahwa program TV tersebut telah berkontribusi sebagai sarana diplomasi budaya Indonesia. Diplomasi budaya ini dilakukan melalui berbagai bentuk budaya yang tersaji dalam acara tersebut, seperti pakaian, lagu-lagu, makanan, informasi tempat wisata, dan lain-lain.Kata kunci: pertunjukandangdut, budaya pop, diplomasi budaya, Dangdut Academy Asia 2, variety show.
PERAN ORMAS ISLAM DALAM MENOLAK ISLAM LIBERAL (SEJARAH DAN PERAN FUUI DALAM MENOLAK ISLAM LIBERAL BANDUNG 2000-2003) Samsudin Samsudin; Mumuh Muhsin Zakaria; Dade Mahzuni
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 17, No 1 (2020): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v17i1.9034

Abstract

Ulil Abshar Abdalla sebagai tokoh Islam Liberal pernah mengungkapkan Pemahaman ”hukum tuhan” yang oleh kebanyakan orang orang islam sebetulnya tidak ada. Aspek yang dibahas meliputi hukum pernikahan, jual beli, pencurian dan lain sebagainya yang tergolong prinsip umum lebih dikenal maqashidusy syari’an dalam tradisi pengkajian hukum klasik. Pernyataan ini mendapat kritikan tajam dari Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) terhadap pernyataan tidak ada namanya “hukum Tuhan” adalah sebuah prilaku penghinaan. Dengan kritik tajam terhadap Islam liberal itu, maka penulis tertarik untuk meneliti FUUI tersebut dengan tujuan diperoleh gambaran sejarah berdirinya FUUI, bagaimana peran FUUI dalam menolak pemikiran Islam Liberal, dan bagaimana pengaruh FUUI dalam menolak Islam Liberal. Penulis menggunakan dengan metode sejarah, terdiri dari heuristik, kritik (Intern dan Ekstern), interpretasi, juga historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, FUUI didirikan pada hari Selasa tanggal 1 November 2000 di mesjid Al-Furqan UPI Bandung, dengan sekretariat di Mesjid Al-Fajr Jl.Situsari VI No 2 Cijagra Bandung. Keanggotaan FUUI terdiri dari seluruh wilayah Indonesia dengan penasehat H. Prof. Dr. M. Djawad Dahlan, ketua umum pertama K.H. Atiyan Ali. M. Da’I, MA, dan sekretris jendral Ustadz. Hedi Muhammad Suwandi. Peranannya dalam menolak Islam Liberal Semua Ulama dan umat Islam yang ada di Jawa Barat, Jawa Tengah serta Jawa Timur sepakat mengeluarkan pernyataan, dari penolakan ini. Kemudian dampaknya memengaruhi ormas lain yang menolak Islam liberal, seperti Forum Bandung Circle, Majelis Mujahidin Indonesai (MMI), Institut for the Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Indonesia Tanpa JIL (ITJ), dan Pimpin Bandung serta puncaknya dikeluarkan fatwa MUI yang mengharamkan liberalisme.Kata Kunci: Islam liberal, sejarah, dampak penolakan FUUI
MAKNA SEJARAH DAN BUDAYA DALAM SITUS JATIGEDE SUMEDANG Dade Mahzuni
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.362 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.268

Abstract

AbstrakRencana pemerintah untuk membangun bendungan atau Waduk Jatigedetentunya akan membawa manfaat bagi masyarakat Sumedang khususnya dan JawaBarat pada umumnya. Akan tetapi di balik manfaat dan keuntungan yang akandidapatkan dari pembangunan Waduk Jatigede tersebut, terdapat pula dampaknegatifnya, yaitu berkaitan dengan keberadaan situs-situs sejarah yang terdapatdi daerah setempat. Secara historis, situs-situs yang berada di daerah Jatigede dansekitarnya, yang berjumlah sekitar 25 situs, merupakan peninggalan masa prasejarah(megalitikum) dan masa Kerajaan Tembong Agung atau Sumedang Larang. Olehkarena itu, keberadaan situs-situs tersebut memiliki arti dan nilai yang penting untukpendalaman pengkajian sejarah kuno Jawa Barat.Informasi arkeologis dan kesejarahan yang dikandung dalam situs-situstersebut, baik secara tersurat mapun tersirat, mengandung makna bahwa masyarakatJatigede dan sekitarnya, sejak awal keberadaannya sudah memiliki budaya yangmapan: masyarakat sudah hidup dengan pola menetap, memiliki pengetahuan danpengalaman bercocok tanam dan membuat barang-barang keperluan rumah tanggadan keperluan hidup lainnya, mereka juga sudah memiliki kepercayaan animisme dandinamisme. Selain itu, melihat arah dan posisi makam-makam pada sejumlah situs,menunjukkan makam Islam, tetapi dengan struktur makam berupa punden berundak.Hal ini menunjukkan telah terjadinya akulturasi budaya. Makna budaya pada situsjuga tercermin dari cerita-cerita rakyat yang berkaitan dengan situs, yang di dalamnyamengandung nilai-nilai budaya dan sastra.Apabila seluruh atau sebagian situs-situs yang berada di daerah Jatigede dansekitarnya ditenggelamkan atau direlokasi ke tempat lain sejalan dengan pembangunanwaduk Jatigede, maka makna dan nilai sejarah dan budayanya akan turut hilang atauberkurang. Hal ini disebabkan karena kesejarahan dan kebudayaan selalu berkaitandengan tempat (site) dan benda-benda.AbstractThe government plans to build a dam in Jatigede. This dam will be beneficialto the people of West Java, especially Sumedangians. On the other hand, the dam willhave negative impacts on historical sites in the area. Jatigede has approximately25 historical sites than spans from prehistoric period (megalithicum) to the time ofTembong Agung Kingdom or Sumedang Larang. These sites are very important to thestudy of ancient history of West Java.From the historical and archaeological point of view, those sites inform usthat the people of Jatigede developed a quite complex culture at that time: they livedsedentarily, and already had techniques and knowledge for cultivating lands. Theyalso made household apparatus and any other equipments as well as developingbeliefs in animism and dynamism. Their cemeteries show that there was acculturation between Islam (the orientation) and local beliefs (pyramidal structure). The folktalesof the sites contain cultural and literary values.If all the sites have to be drowned due to the construction of the dam, thehistorical meaning and values of them will be vanished forever.
PENGOBATAN ALTERNATIF PENYAKIT TULANG STUDI KASUS KEARIFAN LOKAL PARA TERAPIS PENYAKIT TULANG DI WILAYAH JAWA BARAT Mumuh Muhsin Zakaria; Dade Mahzuni; Ayu Septiani
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.931 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.544

Abstract

Penelitian tentang pengobatan alternatif penyakit tulang ini dilakukan dengan tujuan, pertama, untuk mengungkap faktor-faktor  yang menjadi alasan pengobatan alternatif penyakit tulang masih sangat diminati oleh masyarakat; kedua, menjelaskan kearifan lokal yang digunakan oleh  para terapis penyakit tulang dalam praktik pengobatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kearifan lokal para terapis penyakit tulang di wilayah Jawa Barat. Pengumpulan datanya dilakukan melalui studi lapangan, wawancara, dan studi pustaka. Hasil yang diperoleh dari penelitian lapangan adalah terungkapnya alasan masyarakat masih menggunakan jasa pengobatan tradisional. Alasan itu meliputi alasan praktis, ekonomis, berdaya guna, dan berhasil guna. Selain itu, terungkap juga kearifan lokal yang diwujudkan dalam cara penanganan pasien. Simpulannya adalah pengobatan alternatif penyakit tulang bukan lagi sebagai alternatif tetapi menjadi pilihan utama dan pertama. Oleh karena itu, kearifan lokal yang berkait dengan hal itu perlu diwariskan kepada generasi berikutnya dan sekaligus disistematisasi secara metodologis.This research aims to study why alternative medicine for bone disease is still in great demand by the public and to explain the local wisdom used by therapists for bone disease in West Java. This study uses a descriptive-qualitative method. Data collection is carried out through field studies, interviews, and literature studies. The results show that efficaciousness of its treatment are the reasons why the appeal for alternative medicine for bone disease aren’t declining, besides it having practical and economic advantages. In addition, local wisdom in handling patients plays an important part in its success. The conclusion is that alternative treatments for bone disease are no longer an alternative but they are becoming the first and foremost choice. Therefore, its local wisdom needs to be passed on to the next generation and at the same time methodologically systematized.
Sosial Ekonomi Masyarakat Madura Abad 19-20: Sebuah Kajian Ekologi Sejarah Mohammad Refi Omar Ar Razy; Dade Mahzuni
Jurnal Siginjai Vol 1 No 2 (2021): Siginjai: Jurnal Sejarah
Publisher : Prodi Ilmu Sejarah, Jurusan Sejarah, Seni dan Arkeologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi, bekerja sama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.679 KB) | DOI: 10.22437/js.v1i2.16241

Abstract

This study aims to analyze the concept of Madurese culture in the context of settlement and agriculture. The Madurese community is an agrarian society originating from the island of Madura with the dominant characteristic of using the Madurese language. Today, the Madurese are famous for the habit of people who often migrate outside the island of Madura, this is done solely to meet the economic needs of the Madurese. Many factors affect the migration activity, but the most dominant is that on the island of Madura the land is not fertile so that the Natural Resources in Madura are not well developed, especially in the agricultural sector. Even so, the Madurese have the concept of living and farming. In the concept of living it is known as the Tanean Lanjheng, while in the agricultural system it is known as the Moor Ecological system. This study uses a historical method approach consisting of heuristics, criticism, interpretation and historiography. Therefore, in this study, it is known: 1) Ecological systems in the agricultural system on the island of Madura, 2) The housing ecology system of the Madurese community, and 3) Implications of the agricultural and housing system on the socio-economy community of Madura.
SAPI DALAM SOSIAL-BUDAYA MASYARAKAT MADURA ABAD 19-20 Mohammad Refi Omar Ar Razy; Dade Mahzuni
Siginjai: Jurnal Sejarah Vol 2 No 1 (2022): Siginjai: Jurnal Sejarah
Publisher : Prodi Ilmu Sejarah, Jurusan Sejarah, Seni dan Arkeologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi, bekerja sama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.521 KB) | DOI: 10.22437/js.v2i1.18618

Abstract

This study attempts to analyze the conservation of cattle in Madura and its relationship with social, cultural and economic studies. Cows are very synonymous with the Madura people’s. In the cultural context, the cows has become a custom for the Madura people’s. It is proven by the existence of an event that involves cows in it, namely the Karapan Sapi festival. For the Madura people’s, Karapan Sapi is not only an ordinary festival activity, but in it there are traditional values and also noble values that also involve the dignity of the Madurese. Cows, which are a custom for the Madura people’s, must be taken care of properly. In the social and economic context, the cows symbolizes the structure and class of the Madura people’s and also symbolizes self-esteem in everyday life. Its motto is "etembhang pote mata, angoan apotea tolang" (rather than white of the eye, bone white is better). This means that instead of holding back shame, it is better to maintain self-respect, in Madurese self-esteem also lies in the cows they have. But then cows also become one of the economic tools that apply to the Madura people’s. In this research using historical research consisting of heuristic, criticsm, interpretation and historgiography. In this study we can find out: 1) the pattern of cows conservation in Madura. 2) Cows conservation and its relation to the socio-cultural society of Madura and 3) Cows conservation and its relation to the socio-economic life of the Madura people’s
MUSLIM PADA MASA AWAL KESULTANAN ISLAM CIREBON DALAM BERITA CHINA KLENTENG TALANG VERSI KOLONIAL Widyo Nugrahanto; Kunto Sofianto; Ade Kosasih; Dade Mahzuni
Metahumaniora Vol 12, No 3 (2022): METAHUMANIORA, DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i3.41029

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan para pemeluk Agama Islam atau muslim yang pertama berada di Cirebon Jawa Barat. Dalam hal ini, penelitian ini menjawab pertanyaan siapakah para muslim pertama yang berada di Cirebon Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah Metode Sejarah yang terdiri dari Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Selain itu juga menganalisis teks dalam Berita China Klenteng Talang Versi Kolonial dengan metode interteks pada teks-teks Berita China Klenteng Talang Versi Kolonial ini. Hasil penelitian ini adalah bahwa muslim yang pertama kali berada di Cirebon atau Jawa Barat adalah orang-orang Tionghoa Muslim. Mereka ini berada di Cirebon setelah pelayaran Cheng Ho ke Nusantara. Setelah pelayaran Cheng Ho berdiri tiga kampung pemukiman orang Tionghoa yaitu Talang, Sarindil dan Sembung. Tionghoa Muslim itu pula yang ikut membantu Sunan Gunung Jati mendirikan Kesultanan Islam Cirebon dan menyebarkan Agama Islam ke daerah Galuh di pedalaman Jawa Barat. Tokoh-tokoh utama Tionghoa Muslim yang hidup ketika itu adalah Tan Eng Hoat, Koeng Woe Ping, Tan Sam Tjai dan Koeng Sem Pak.
Cultural Acculluration in Sunda Translation Raudhatul Irfan Fi Ma'rifati Al-Qur'an Dewi Kuraesin; Dade Mahzuni; Lina Meilinawati Rahayu
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 5, No 4 (2022): Budapest International Research and Critics Institute November
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i4.7157

Abstract

There are several points that need to be considered regarding cultural acculturation including, what elements are accepted, what elements are not acceptable, what channels are used, through what institutions, and why they can be accepted. Of course, these points relate to the acculturation of Sundanese culture and Islamic teachings, especially in the Sundanese. Regarding the elements that can be accepted by Islamic teachings into Sundanese culture, namely Islamic teachings are not much different from the character of Sundanese culture at the time of its initial spread. Meanwhile, elements that cannot be accepted in acculturating Sundanese culture and Islamic teachings, especially in terms of creed. Regarding the channels used in acculturating Sundanese culture and Islamic teachings in the Sundanese, it has been going on since the kingdoms of Cirebon and Banten began exploring remote areas in West Java.KH Ahmad Sanoesi who succeeded in acculturating Sundanese culture and spreading religious ideas in Sundanese land, especially in Sukabumi through his Islamic boarding school educational institutions.Thus the acculturation of Sundanese culture and Islamic teachings became the main factor in the ease with which Islamic teachings spread to Sundanese society. The supporting theory in this research is Islamicate from Marshall G Hodgshon's statement and Vernacularization by Anthony H Johns. Thus, that there is a statement "Urang Sunda mah geus Islam memeh Islam" made by KH Hasan Mustopa is a clear proof of the many acculturation of Sundanese culture and Islamic teachings that have merged into the Sundanese Tatar so that Islamic teachings are easily accepted by the majority of Sundanese people.
EDUKASI PELESTARIAN WARISAN BUDAYA BAGI MASYARAKAT KAMPUNG DUKUH DESA CIROYOM KECAMATAN CIKELET KABUPATEN GARUT Kunto Sofianto; Dade Mahzuni; Ade Kosasih; Widyo Nugrahanto; Etty Saringendyanti; Eko Wahyu Koeshandoyo; Ayu Septiani; Budi Gustaman
Midang Vol 1, No 1 (2023): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Februari 2023
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v1i1.44448

Abstract

Kegiatan PPM yang dilakukan berjudul “Edukasi Pelestarian Warisan Budaya bagi Masyarakat Kampung Dukuh Desa Ciroyom Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut”. Kegiatan PPM yang dilaksanakan merupakan bagian integral dari riset berjudul Kehidupan Religi (Agama) Masyarakat Sunda di Jawa Barat. Kegiatan PPM ini memiliki tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Adat Kampung Dukuh. Salah satu hal yang melatarbelakangi kegiatan PPM ini ialah generasi muda di sekitar Kampung Dukuh belum memahami dengan baik berbagai regulasi yang terkait dengan pelestarian budaya. Di samping itu, selama ini tidak ada upaya terstruktur yang mengisi kekosongan nilai-nilai di dalam pengembangan masyarakat ini karena tampaknya tidak terjangkau oleh pihak otoritas yang memiliki kewenangan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat tradisi. Setelah kegiatan ini dilakukan diharapkan generasi muda di Kampung Adat Dukuh mengetahui dan memahami regulasi yang berkaitan dengan pelestarian budaya. Selain itu diharapkan pihak otoritas yang memiliki kewenangan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat tradisi dapat menjangkau Masyarakat Adat Kampung Dukuh sebagai bagian dari pelestari warisan budaya di Jawa Barat khususnya dan Indonesia umumnya. 
RUANG DAN KOMUNITAS: IDENTITAS PENGGIAT PAPAN SELUNCUR KOTA BEKASI (Studi Kasus Komunitas Patriot Skate Club 95 Kota Bekasi) Muhammad Adib Al-Fikri; Dade Mahzuni; Tisna Prabasmoro
Metahumaniora Vol 13, No 2 (2023): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i2.47458

Abstract

Bermain papan seluncur di zaman modern saat ini dianggap menjadi aktivitas karena hubungannya terhadap pengelolaan ruang yang dapat dipergunakan secara individu maupun kolektif oleh komunitas tertentu. Dalam proses perkembangan papan seluncur, komunitas spesifik akan memfungsikan ruang sebagai penanda diri yang berhubungan dengan identitas mereka. Artikel ini menjelaskan cara-cara Komunitas Patriot Skate Club 95 Kota Bekasi menghubungkan kelompok mereka dengan ruang di sekitar tempat mereka berada untuk memaknai identitas secara individu ataupun kolektif. Dengan metode kualitatif dan pendekatan etnografi, penelitian ini dilakukan melalui proses wawancara tidak terstruktur dan pendekatan literatur sehingga menghasilkan pemahaman berbeda mengenai ruang, komunitas dan identitas. Hasil temuan kami adalah, bahwa penggiat papan seluncur memahami tersedianya ruang publik sebagai sarana yang dapat dinikmati secara individu atau kolektif. Argumen kami adalah mempertanyakan kembali mengenai konstruksi identitas anak muda akan keberadaan mereka dalam ruang publik di Kota Bekasi. Dengan komunitas Patriot Skate Club 95 sebagai objeknya, mereka terhubung dengan ruang-ruang di sekitarnya, memanfaatkan ruang publik untuk membangun identitas individu maupun kokektif mereka, dan menumbuhkan rasa memiliki dari para anggotanya.