Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Agrikultura

In Vitro Sensitivity of Phytophthora infestans (Mont.) de Bary Isolated from Cikajang, Garut, to Several Fungicides Widiantini, Fitri; Maksum, Muhammad; Dono, Danar
Agrikultura Vol 33, No 2 (2022): Agustus, 2022
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v33i2.40357

Abstract

Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh oomycete Phytphthora infestans merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kentang. Metode pengendalian utama yang digunakan oleh petani adalah dengan menggunakan fungisida sintetis. Akan tetapi, penggunaan fungisida secara terus menerus dapat menyebabkan timbulnya populasi patogen yang resisten sehingga dapat menurunkan keefektifan fungisida tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengevaluasi sensitivitas P. infestans yang diisolasi dari pertanaman kentang di Desa Cikajang, Kabupaten Garut terhadap beberapa fungisida berbahan aktif metalaksil, mankozeb, dimetomorf, klorotalonil dan oksatiapiprolin. Eksperimen dilaksanakan dengan menggunakan metode makanan beracun dan detached-leaf assay. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa P. infestans sensitif terhadap metalaksil dan mankozeb pada konsentrasi 2000 ppm dengan penghambatan pertumbuhan koloni masingmasing mencapai 93,3%. Lebih lanjut, berdasarkan hasil detached leaf assay, penghambatan terbentuknya lesi mencapai 100% pada perlakuan fungisida berbahan aktif metalaksil. Sementara penghambatan sebesar 70% diperoleh pada perlakuan fungisida berbahan aktif mankozeb. Sensitivitas P. infestans dikategorikan sebagai sedang terhadap fungisida berbahan aktif dimetomorf pada konsentrasi 1000 ppm dan klorotalonil pada konsentrasi 2000 ppm dengan penghambatan koloni masing-masing sebesar 65,5% dan 75,8% serta penghambatan pembentukan lesi 54,7% dan 59,1%. Eksperimen ini juga menemukan adanya indikasi penurunan sensitivitas P. infestans terhadap oksatiapiprolin yang ditunjukkan dengan rendahnya penghambatan pertumbuhan yang hanya sebesar 8,5% dengan penghambatan pembentukan lesi sebesar 48,8% ketika dibandingkan dengan keempat jenis fungisida lainnya.
Volatile Compound Detection of Banana Anthracnose Caused by Colletotrichum musae using Electronic Nose Maksum, Muhammad; Putra, Yogi Kurnia; Chairuddin, Chairuddin; Gunawan, Hendra
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.63320

Abstract

Food rotting is one of the many research topics that electronic nose technology can be used to target. This study examined the electronic nose capacity to detect the presence of Colletotrichum musae, the causative agent of anthracnose fruit rots on bananas using gas sensors by detecting the concentration of volatile compound. C. musae was identified visually and microscopically. Detached-fruit assay method was used in this experiment. A conidial fungal suspension at a concentration of 2.5 × 106 conidia/ml was injected into nine replication of homogenous banana samples, while nine other samples were injected with sterile aquadest served as negative controls. The information obtained from the electronic nose was analyzed using principal component analysis (PCA). The results showed that from six gas sensors used in the electronic nose, MQ-4, MQ-5, and MQ-8 were the gas sensors that have detected significant difference between the infected banana and the control with a concentration value of 166.83, 173.02, and 87.40 ppm in banana infected with C. musae and 20.90, 0.01, and 44.97 ppm in controls. Therefore, this three sensor can be used as a reference for detecting anthracnose disease in bananas.