Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Hubungan pemeriksaan LED dan CRP pada penegakkan diagnosis Spondilitis Tb di RSUP dr. M. Djamil Padang tahun 2014-2016 Bayu Fajar Wibowo; Menkher Manjas; Roni Eka Sahputra; Erkadius Erkadius
Majalah Kedokteran Andalas Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v41.i2.p69-77.2018

Abstract

Spondilitis Tuberkulosis (Tb) merupakan manifestasi Tb tulang yang paling berbahaya dan paling sering ditemukan. Perubahan nilai hematologi berupa pengukuran nilai Laju Endap Darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP) digunakan dalam penegakkan diagnosa, penilaian prognosis dan efektivitas pengobatan Spondilitis Tb. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dan akurasi diagnostik LED dan CRP pada pasien spondilitis Tb. Metode: Penelitian ini menggunakan desain retrospective cohort study pada 53 penderita diduga Spondilitis Tb yang belum pernah mendapatkan terapi OAT, tetapi telah menjalani operasi dan pemeriksaan histopatologi pada periode Januari 2014 hingga Desember 2016, di RSUP dr. M. Djamil Padang dan diolah dengan analisis Fisher’s Exact Test. Hasil: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian Spondilitis Tb dan nilai LED dengan p-value 0,280 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan yang  bermakna antara kejadian Spondilitis Tb dengan nilai kualitatif CRP dengan p-value 0,886 (p>0,05). Simpulan: Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan LED dan CRP tidak spesifik untuk diagnosis Spondilitis Tb, kecuali CRP memiliki sensitivitas yang tinggi.
PERKEMBANGAN TISSUE BANK DI ASIA PASIFIC DAN ASPEK BIOETIKA Menkher Manjas
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.685 KB)

Abstract

AbstrakTissue Bank atau Bank Jaringan adalah suatu institusi / organisasi amal non-profit, yangbertujuan untuk mengumpulkan, memproses, mengawetkan, menyimpan, mensterilkan sertamendistribusikan jaringan biologi dan sel guna kepentingan keperluan klinik dalam pengobatanpenyakit manusia. Bank jaringan pertama di dunia didirikan oleh Dr. George Hyatt pada tahun1949 diAmerika yang terkenal dengan US Naval Tissue Bank. Kemudian berkembang ke benuaEropa dan seluruh dunia. DiAsia-Pasific, bank jaringan mulaidi Burma tahun 1980 dan Thailandtahun 1984. Sesudah itu diikuti oleh negara Asia Facifi. . Di lndonesia baru resmi dibuka awaltahun 1990 dengan tiga pusat bank jaringan di Batan jakarta, RS Sutomo Surabaya dan RS DRM Jamil Padang. Semenjak didirikan, bank jaringan telah menolong berjuta juta penduduk darikecacatan dan penyakit lainnya.Jaringan biologi itu dapat dari donor manusia disebut allograftdan dapat pula berasal dari jaringan binatang yang disebut Xeograft. Bentuk jaringan biologibisa dalam bentuk organ yang utuh atau dalam bentuk sel baik sebagai sel dewasa atau selpunca (stem cell). Sebelum di pakai atau di transplantasikan pada manusia maka jaringan ituberasal harus bebas dari berbagai penyakit menular seperti kuman, virus seperti HlV, HepatitisB/C, Tuberculoses/TBC, Syphilis, dan lain lain. Karena itu sebelum dipergunakan pada manusiasakit maka jaringan itu membutuhkan beberapa proses sehingga dapat dipergunakan denganaman. Tahapan tahapan proses dari mulai pengambilan jaringan dari cionor, pengolahan agarjadi aman dan penerapannya pada pengobatan perryakit rnemakai dasar hukum dan bioetikayang jelas. Bioetika itu meliputi persetujuan pengambilan jaringan dan sei dari donor apakahmasih hidup atau meninggal, penggantian pengambilan jaringan, kerahasiaan, keamananpenyimpanan, pen.jaminan mutu dalam menghindari efek samping yang iidak diinginxan.
Kajian Penggunaan Analgetik pada Pasien Pasca Bedah Fraktur di Trauma Centre RSUP M. Djamil Padang Susi Handayani; Helmi Arifin; Menkher Manjas
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 6, No 2 (2019): J Sains Farm Klin 6(2), Agustus 2019
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2076.652 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.6.2.113-120.2019

Abstract

Mengatasi nyeri Pasca bedah fraktur merupakan tindakan penting  dalam mencegah nyeri kronik, mengurangi lama perawatan demi meningkatkan kulitas hidup pasien. Karena itu perlu kajian penggunaan analgetik pasien Pasca bedah fraktur agar tepat guna, menguntungkan serta menghindari efek samping. Penelitian bertujuan mengkaji penggunaan analgetik yang meliputi jenis, dosis, penurunan derajad nyeri, serta efek samping yang ditimbulkan. Penelitian dilakukan pada pasien Pasca bedah fraktur di Trauma Centre RSUP M Djamil Padang Agustus hingga Oktober 2018 sebanyak 45 orang. dan yang menggunakan analgesik ketorolak injeksi 30mg/8jam 31 pasien (68,9%), tramadol injeksi 100mg/8jam 13 pasien (28,9%) dan paracetamol tablet 3x500mg 1 pasien (2,2%). Dari analisa statistik menggunakan Wilcoxon signed rank test, terdapat hubungan bermakna penurunan derajad nyeri, dimana p<0,05. Dari penelitian ini dapat disimpulkan analgetik terbanyak ketorolak injeksi 30mg/8 jam, dapat menurunkan nyeri dari sedang menjadi ringan 45,2%, 51,6% tidak berubah nyeri sedang. dan 3,2% masih dengan nyeri berat. Tramadol injeksi 100mg/8jam, menurunkan nyeri dari berat ke sedang 35,5%, berat ke ringan 61,5%. dan parasetamol tablet 3x500mg pada nyeri ringan 100%. Dengan penurunan derajad nyeri keseluruhan adalah 71,1%. Serta efek samping yang dirasakan berupa kontipasi (tramadol) sebanyak 13,33% dan mual muntah (ketorolak) sebanyak 8,89%.
Hubungan Faktor Demografi dengan Pendapat Masyarakat tentang Cara Mengatasi Trauma Muskuloskeletal berdasarkan Health Belief Model di Kota Sawahlunto Wanra, Fadhlan Agusma; Semiarty, Rima; Isrona, Laila; Lestari, Yuniar; Kurniawati, Yulia; Manjas, Menkher; Akbar, Taufik
Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo Vol 10, No 2 (2024): JMK Yayasan RS.Dr.Soetomo, Oktober 2024
Publisher : STIKES Yayasan RS.Dr.Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29241/jmk.v10i2.1930

Abstract

Angka kejadian trauma muskuloskeletal di Kota Sawahlunto tergolong tinggi dengan jumlah 3.268 orang dalam satu tahun. Pengobatan trauma di Sumatera Barat secara tradisional dikenal dengan sebutan dukun patah tulang. Pandangan untuk memilih pengobatan trauma muskuloskeletal dipengaruhi oleh suatu teori yang bernama health belief model. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional kepada 346 responden di Kota Sawahlunto dari bulan Januari 2023 sampai Maret 2024. Data dikumpulkan menggunakan metode consecutive sampling. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil analisis Chi-Square didapatkan usia dengan perceived susceptibility (p=0,011), tidak ada hubungan jenis kelamin dengan pendapat masyarakat, dan hubungan pekerjaan dengan perceived susceptibility (0,004), pekerjaan dengan perceived benefits (0,041), pekerjaan dengan perceived barrier (0,027), dan pekerjaan dengan cues to action (0,038). Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara usia dengan perceived susceptibility, tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan pendapat masyarakat, dan terdapat hubungan signifikan antara pekerjaan dengan perceived susceptibility, perceived benefits, perceived barrier, dan cues to action.    Kata kunci : Trauma muskuloskeletal, health belief model, dukun patah tulang The incidence of musculoskeletal trauma in Sawahlunto City is high with 3,268 people in one year. Trauma treatment in West Sumatra is traditionally known as fracture healers. The view to choose musculoskeletal trauma treatment is influenced by a theory called the health belief model. This study employed an analytical approach with a cross-sectional design, encompassing 346 respondents in Sawahlunto City from January 2023 to March 2024. Data were gathered using a consecutive sampling method, and analysis was conducted utilizing the Chi-Square test. Chi-Square analysis unveiled a significant association between age and perceived susceptibility (p=0.011), no discernible correlation between gender and public opinion, and notable relationships between occupation and perceived susceptibility (p=0.004), perceived benefits (p=0.041), perceived barriers (p=0.027), as well as cues to action (p=0.038). In summary, this study concludes that age is significantly linked to perceived susceptibility, gender exhibits no significant relationship with public opinion, and occupation is significantly associated with perceived susceptibility, perceived benefits, perceived barriers, and cues to action.Keywords: Musculoskeletal trauma, health belief model, bone fracture shaman.
Hydroxyapatite Bilayers Coating on Screw Implant Ti6Al4V ELI with Electrophoretic Deposition Method for Improving Osseointegration Juliadmi, Dian; Oktaviana, Dili; Tjong, Djong Hon; Manjas, Menkher; Gunawarman, Gunawarman
Journal of Ocean, Mechanical and Aerospace -science and engineering- Vol 51 No 1 (2018): Journal of Ocean, Mechanical and Aerospace -science and engineering- (JOMAse)
Publisher : International Society of Ocean, Mechanical and Aerospace -scientists and engineers- (ISOMAse)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36842/jomase.v51i1.42

Abstract

Utilization of an alloy titanium (particularly Ti6Al4V), as fracture fixation in biomedical application has restriction because of will associate with osseointegration failure. An effort to titanium coating by hydroxyapatite monolayer still has poor mechanical properties and may lead to implantation failure. Hydroxyapatite bilayers coating aims to protect releasing hazardous ions from implant to the body and improving the osseointegration at the same time. In this research, nanoparticle hydroxyapatite (first layers) and microparticle hydroxyapatite (second layers) were used as coating materials on implant prototype of Ti6Al4V ELI screws. The coating was carried out by electrophoretic deposition (EPD) method used different voltage (2 and 3 volt) for deposition time of 2 and 3 minutes for forming first layers. The process was then continuing for making second layer at 5 and 10 volt for 2 and 5 minutes. In order to intensify of coatings, hydroxyapatite bilayers-coated titanium was air-dried overnight and then sintered at 700oC for 1 hour. The coating layers were characterized by optical microscope, Scanning Electron Microscope (SEM) and thickness gauge series tester. Result of the study show that nanoparticle hydroxyapatite layers are more uniform, thin, dense than microparticle hydroxyapatite layer. Moreover, the second layer shows less adhesion. The obtained voltage and deposition time for best bilayers coating characteristic are 2 volt/3 minutes for nanoparticles hydroxyapatite and 5volt/5minutes for microparticles hydroxyapatite. By approximately 71%-100% surface coverage and 56µm thickness of bilayers coating, that parameters can be considered to improve osseointegration.
Hydroxyapatite Coating on New Type Titanium, TNTZ, Using Electrophoretic Deposition Nuswantoro, Nuzul Ficky; Maulana, Imron; Tjong, Djong Hon; Manjas, Menkher; Gunawarman, Gunawarman
Journal of Ocean, Mechanical and Aerospace -science and engineering- Vol 56 No 1 (2018): Journal of Ocean, Mechanical and Aerospace -science and engineering- (JOMAse)
Publisher : International Society of Ocean, Mechanical and Aerospace -scientists and engineers- (ISOMAse)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.205 KB) | DOI: 10.36842/jomase.v56i1.37

Abstract

In order to improve bioactivity of new type of titanium alloy, TNTZ, Hydroxyapatite (HA) coating is applied. Electrophoretic Deposition (EPD) has chosen as coating method because the simplicity of the instrument and its making, inexpensive cost, and ability to coat things with complicated design. EPD used electric current to move the HA particle through electrode in the suspension of ethanol and HA. Desired HA coating quality can be adjusted with optimizing the voltage and coating time. This research aimed to analyzed the effect of voltage and coating time of EPD process toward the HA coating that produced on the surface of new type titanium implant prototype, Ti-29Nb-13Ta-4.6Zr (TNTZ). Voltages are in range of 3, 5, and 7 volt and coating times are in range of 3, 5, and 7 minutes. Based on the result it is known that the best HA coating that can be produced are on 7 minutes and 7 volt. This best result shows the good surface morphology, highest value of screw mass growth, coating thickness, and surface coverage. Enhancement of voltage will affect the surface coverage value of HA coating, however, coating time will affect the thickness. Based on this research it can be concluded that enhancement of the voltage can produced HA coating that spread more evenly that proved by the increasing of surface coverage value. The enhancement of coating time will produce thicker layer of HA coating and increase deposition rate of HA on the implant surface. This result shows that the EPD can be used to produce TNTZ titanium implant that coated with HA for orthopedic application.
EFEKTIVITAS KERJA PERAWAT DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM MAYJEN H.A. THALIB KABUPATEN KERINCI PROPINSI JAMBI Yulmawati Yulmawati; Menkher Manjas; Hafni Bachtiar
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas Vol 6 No 2 (2012): Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas
Publisher : Faculty of Public Health, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24893/jkma.v6i2.92

Abstract

Pelayanan keperawatan adalah salah satu pelayanan rumah sakit yang berkewajiban memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi, dan efektif. Ukuranpencapaian suatu tugas atau tujuan disebut efektivitas kerja dengan faktor yang mempengaruhinya adalah produksi, efisiensi, kepuasan, adaptasi, perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kerja perawat di instalasi rawat inap Rumah Sakit Umum Mayjen H.A. Thalib Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi Tahun 2011 dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilakukan pada 55 orang perawat rawat inap yang dipilih memakai teknik proporsional simple random sampling. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa perawat yang memiliki efektivitas kerja baik sebanyak 50.9%, produksi baik 58.2%, efisiensi baik 54.5%, kepuasan baik 54.4%, adaptasi baik 58.2% dan perkembangan baik 50.9%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa variabel yang memiliki hubungan yang bermakna dengan efektivitas kerja perawat adalah produksi, efisiensi, perkembangan dengan nilai p<0.05. Sedangkan variabel kepuasan dan adaptasi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan efektivitas kerja dengan nilai p>0.05. Implikasinya adalah diharapkan rumah sakit memperhatikan aspek yang bisa meningkatkan efektivitas kerja perawat serta melakukan pembenahan terhadap aspek tersebut sehingga pencapaian tujuan rumah sakit memangbisa terukur dari efektivitas kerja perawatnya.