Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Kortikosteroid Terhadap Proses Penyem-buhan Luka pada Mencit (Mus Musculus) Muhamad Febry; Aswiyanti Asri; Laila Isrona
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.917 KB)

Abstract

Latar belakang Proses penyembuhan luka terjadi melalui beberapa tahapan dan dipengaruhi berbagai faktor lokal dan sistemik seperti benda asing, nutrisi, konsumsi obat-obatan. Kortikosteroid banyak digunakan secara bebas oleh masyarakat untuk berbagai tujuan. Penggunaan kortikosteroid dapat mempengaruhi proses penyembuhan luka, dengan cara menurunkan proses pembentukan fibroblas, menurunkan jumlah gerakan dan fungsi leukosit, mengurangi pergerakan polimorfonuklear (PMN) keluar dari kompartemen vaskular, dan mengurangi jumlah sirkulasi limfosit, monosit, dan eosinofil, terutama dengan meningkatkan gerakan sel radang keluar dari sirkulasi. Tujuan penelitian ini untuk melihat perbedaan proses penyembuhan luka secara histopatologi pada mencit (Mus musculus) yang diberi kortikosteroid dengan jangka pemberian yang berbeda. Metode Penelitian ini adalah penelitian ekserimental dengan desain post test only controlled group yang menggunakan 18 ekor mencit putih (Mus musculus) yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol, perlakuan 1 dan perlakuan 2. Kelompok perlakuan 1 diberikan kortikosteroid dalam bentuk preparat deksametason dengan dosis 16 mg/kg/bb selama 10 hari, sedangkan kelompok perlakuan 2 diberikan deksametason dosis yang sama, selama 30 hari. Pada hari terakhir pemberian deksametason, semua kelompok, termasuk kontrol dilakukan luka insisi di punggung sepanjang 2 cm. Setelah hari ke-9 pembuatan luka, mencit diterminasi untuk diambil jaringan luka, dan dilakukan pemeriksaan histopatologik untuk menilai pembentukan jaringan granulasi dengan menghitung jumlah pembuluh darah baru, fibroblast dan sel radang menggunakan mikroskop cahaya pembesaran 400 kali pada 3 lapangan pandang. Hasil Neovaskularisasi yang terbentuk pada kelompok kontrol lebih sedikit dibandingkan kelompok perlakukan, sebaliknya jumlah fibroblast lebih banyak ditemukan pada kelompok kontrol. Jumlah netrofil pada kempok kontrol lebih sedikit dibandingkan kelompok perlakuan dan sebaliknya jumlah limfosit lebih banyak ditemukan pada kelompok kontrol dibanding perlakuan. Setelah dilakukan uji statistik menggunakan uji One Way ANOVA didapatkan perbedaan bermakna antar kelompok pada jumlah neovaskuler, fibroblas, neutrofil, limfosit, berturut-turut 0,007; 0,025; 0,009;
Perbedaan Derajat Kecemasan pada Mahasiswa Baru Preklinik dan Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Lily Fajriati; Yaslinda Yaunin; Laila Isrona
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v6i3.736

Abstract

Pendidikan kedokteran dikenal sebagai stressful environment yang dapat menimbulkan kecemasan pada mahasiswa kedokteran. Mahasiswa kedokteran harus menjalani dua fase pendidikan kedokteran yaitu fase pendidikan preklinik dan klinik. Kedua fase pendidikan ini dapat memicu munculnya kecemasan pada mahasiswa kedokteran terutama pada mahasiswa baru. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan perbedaan derajat kecemasan antara mahasiswa baru preklinik dan klinik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional menggunakan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 92 responden yang dipilih dengan teknik purposive random sampling dan menggunakan kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A), kemudian dianalisis dengan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian ini menunjukan pada mahasiswa baru preklinik didapatkan 43 orang (93,5%) tidak ada cemas, dua orang (4,3%)dengan kecemasan ringan, dan satu orang (2,2%) kecemasan sedang. Pada mahasiswa baru klinik didapatkan 39 orang (84,8%) tidak ada kecemasan, lima orang (10,9%) kecemasan ringan dan dua orang (4,3%) mengalami kecemasan sedang. Stressor utama pada mahasiswa preklinik dan klinik adalah kecemasan mengenai proses pembelajaran selama fase pendidikan. Hasil uji statistik chi-square didapatkan p value= 0,315 (p > 0.05) yang artinya tidak didapatkan perbedaan bermakna antara derajat kecemasan antara mahasiswa baru preklinik dan mahasiswa klinik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Gambaran Zat Pewarna Merah pada Saus Cabai yang Terdapat pada Jajanan yang Dijual di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Padang Utara Ilham Rizka Putra; Asterina Asterina; Laila Isrona
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.108

Abstract

AbstrakSaat ini, semakin banyak produsen makanan menggunakan zat pewarna yang sudah dilarang penggunaannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran zat pewarna pada saus cabai yang terdapat pada jajanan yang dijual di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Padang Utara pada bulan November 2013 - Februari 2014. Penelitian dilaksanakan di Balai Laboratorium kesehatan Padang. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 25 sampel yang diambil dari pedagang makanan jajanan saus cabai yang terdapat di SD Negeri pada kecamatan Padang Utara. Pemeriksaan dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan pereaksi kimia NaOH 10%, NH4OH 10%, HCl pekat dan H2SO4 pekat serta dilanjutkan dengan metoda kromatografi kertas untuk mendapatkan jenis zat pewarna yang terdapat didalam jajanan saus cabai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 10 sampel (40%) mengandung Rhodamin B dan 15 sampel (60%) yang diizinkan penggunaannya. yaitu Erytrosin. Rata-Rata kadar Erytrosin dalam saus cabai adalah 639,5% dari 300 mg/kg sampel yang diizinkan.Kata kunci: saus cabai, zat pewarna berbahaya, kadar zat pewarnaAbstractNowadays more and more food manufacturers use dyes that have been banned uses. Applied this study is to describe the dye contained in the chili sauce snacks sold in Elementary School District of the northern desert in November 2013-February 2014. This research was conducted in Health Laboratoratorium Padang. The method used a descriptive with a sample size of 25 samples taken from street food vendors chili sauce found in the districts of SD Negeri Kecamatan Padang Utara. Examination conducted qualitatively by using chemical reagents NaOH 10%, 10% NH4OH, and concentrated HCl and concentrated H2SO4 followed by paper chromatography method to get the type of dye contained in chili sauce snacks.The results showed that 10 samples (40%) containing Rhodamine B and 15 samples (60%) which allowed determination of use, Erytrosin. Concentration of Erytrosin, the average levels in the chili sauce as much as 639,5% of the 300 mg/kg samples were allowed.Keywords: chili sauce, harmful dyes, dye concentration
Hubungan Tingkat Kecemasan dalam Menghadapi Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dengan Kelulusan OSCE pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Dinda Putri Amir; Detty Iryani; Laila Isrona
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i1.458

Abstract

AbstrakKecemasan adalah normal terjadi dalam kehidupan, namun kecemasan dapat menjadi abnormal jika respons terhadap stimulus berlebihan. Pada mahasiswa, kecemasan berpengaruh terhadap proses pendidikan. OSCE merupakan salah satu bagian dari ujian komprehensif yang menguji keterampilan medis mahasiswa yang akan memasuki kepaniteraan klinik. Ujian ini hampir sama dengan ujian skills lab, tapi materi ujian lebih banyak dan setting ujian juga berbeda sehingga situasi tersebut menimbulkan kecemasan pada mahasiswa menjelang OSCE. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan tingkat kecemasan dalam menghadapi OSCE dengan kelulusan OSCE pada mahasiwa FK Unand. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan sampel sebanyak 34 orang. Data diperoleh melalui wawancara kepada peserta OSCE menggunakan kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) dan Bagian Akademik FK Unand yang selanjutnya dianalisis melalui uji korelasi Gamma dan Somers’d. Hasil penelitian ini didapatkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar -0,106 dan nilai signifikansi p>0,05. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kecemasan dalam menghadapi OSCE dengan kelulusan OSCE pada mahasiwa FK Unand.Kata kunci: kecemasan, ujian, OSCE, HRS-A AbstractAnxiety normally occurs in life, but anxiety can become abnormal if the response to the stimulus is excessive. In student, anxiety affects the educational process. OSCE is a part of comprehensive exam that examine medical skills of the students who will enter their clinical stage. Although this exam is similiar like skills lab exam but the matters of exam is more complex and the setting of exam is different too, so these situations cause anxiety in students toward OSCE. The objective of this study was to determine the correlation between anxiety level in facing OSCE to students’ graduation of OSCE in Faculty of Medicine Andalas University. This study was a descriptive analytical and total sample of 34 people. Data were collected through interviewing the students use the questionnaire of Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) and Academic Department of Faculty of Medicine Andalas University. It was analyzed by Gamma and Somerd’s correlation test. The result of this study found a correlation coefficient (r) is -0,106 and level of significance (p) >0,05.  Based on the result, it can be concluded  that there is no correlation between anxiety level in facing OSCE with students’ graduation of OSCE in Faculty of Medicine Andalas University.Keywords: anxiety, exam, OSCE, HRS-A
Hubungan Kolesterol LDL dengan Derajat Retinopati Diabetik di Bagian Mata RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Januari-Desember 2015 Zacky Aulia Mursi; Hendriati Hendriati; Laila Isrona
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 4 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i4.908

Abstract

Retinopati diabetik adalah salah satu komplikasi mikrovaskular Diabetes Melitus (DM) yang merupakan penyebab utama kebutaan pada orang dewasa. Kehilangan perisit adalah awal dari retinopati diabetik yang dapat dipengaruhi oleh modifikasi LDL. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan kolesterol LDL terhadap derajat retinopati diabetik di RSUP DR. M. Djamil Padang. Penelitian ini adalah studi analitik observasional dengan menggunakan desain cross sectional melalui pengumpulan data sekunder di bagian Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari sampai Desember 2015. Jumlah sampel yang digunakan adalah 54 orang. Data yang diperoleh diuji menggunakan uji Mann-Whitney. Berdasarkan penelitian ini ditemukan rerata umur pasien retinopati diabetik adalah 57,02 (7,41) tahun. Jumlah pasien laki-laki dan perempuan sama banyak. Pada pasien dengan kolesterol LDL terkontrol ditemukan retinopati diabetik yaitu mild nonproliferative diabetic retinopathy (mild NPDR) = 57,1% dan moderate NPDR = 42,9%. Pada pasien dengan kolesterol LDL tidak terkontrol ditemukan retinopati diabetik yaitu mild NPDR (32,5%), moderate NPDR (27,5%), severe NPDR (12,5%) dan ditemukan proliferative diabetic retinopathy (PDR) dengan derajat early = 5,0% dan high risk = 22,5%. Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai signifikansi p < 0,015. Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kolesterol LDL terhadap derajat retinopati diabetik.
Decription of Students’ Learning Style Laila Isrona
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.302

Abstract

AbstrakBelajar adalah perubahan mental yang terjadi sebagai repreentasi dan hubungan dari hasil pengalaman dalam jangka panjang. Vermunt mengklasifikasikan empat tipe belajar: meaning-directed, application-directed, reproduction-directed dan undirected learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali secara deskriptif bagaimana tipe belajar mahasiswa di FK-UNAND. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan studi potong lintang dan mendeskripsikan tipe belajar empat orang mahasiswa. Kuesioner ILS dari Vermunt dibagikan kepada enam mahasiswa dan hanya empat kuesioner yang kembali serta bisa dianalisis. Dari hasil penelitian didapatkan: (1) mahasiswa A mempunyai tipe beajar yang tidak spesifik, mahasiswa ini lebih cenderung ke tipe undirected dan reproduction directed, (2) mahasiswa B menunjukkan lebih mahir dalam kegiatan belajar, tipe belajarnya lebih mengarah kepada reproduction dan application directed, (3) mahasiswa C mendapatkan nilai yang lebih tinggi pada tipe undirected, (4) mahasiswa D menunjukkan mahasiswa yang lebih mampu untuk melakukan self regulation, construction of knowledge dan mempunyai motivasi internal yang baik, namun skor yang diperoleh masih terkategori tipe undirected. Kesimpulan penelitian ini ialah terdapat tumpang tindih pola belajar pada mahasiswa, namun profile yang tepat ditunjukkan pada skor yang dominan. Rekomendasi untuk perbaikan proses belajar mengajar di FK-UNAND disampaikan berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh.Kata kunci: ILS, mahasiswa, tipe belajar AbstractDefinition of learning is as changing of mental representation or associations for long term as a result of experience. Vermunt states four learning styles: meaning-directed, application-directed, reproduction-directed and undirected learning styles. The objective of this study was to explore descriptively how is students’ learning style in the MFAU. The research approach was qualitative method and apply cross sectional studies as well as concern at the descriptive of learning style of four MFAU students. The Vermunt’s ILS questionnaire was administered to the six medical students. Four questionnaires were returned and usable for further analysis. The results of the survey that, firstly, student A adopts unspecific learning process and she is more undirected and reproduction directed type. Secondly, the student B performances more advance at learning activities. Her score is higher at reproduction and application directed type. Thirdly, student C gets higher score at undirected type. Then, student D performs an expert learner due to self-regulation, construction of knowledge and personal interested, but the student is still more undirected type.All in all, it was found some overlapping of learning styles among students surveyed, the means of profile showed the dominant type of learning of each student. The results of the survey should provide advises for students and teachers to improve the learning-teaching process in the MFAU as succinctly presented earlier.Keywords: learning style, ILS, student
EDUKASI NARKOBA, HIV/AIDS, PORNOGRAFI DAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI KELURAHAN BALAI GADANG KECAMATAN KOTO TANGAH KOTA PADANG Syafrawati syafrawati; Ahmad Hidayat; Laila Isrona; Nadya Vebrielna
BULETIN ILMIAH NAGARI MEMBANGUN Vol 5 No 1 (2022)
Publisher : LPPM (Institute for Research and Community Services) Universitas Andalas Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/bina.v5i1.375

Abstract

One of the adolescent deviant behavior that is rampant today is drug abuse. In addition, during adolescence, exploration of matters relating to sexuality begins. The search for information about sexual behavior is currently very much supported by technological advances, this has a negative impact in the form of easy access to pornography. Pornography can encourage teens to engage in sexual acts. It is important for adolescents to have knowledge related to reproductive health so as not to fall into free sex behavior that can lead to HIV/AIDS. The purpose of this activity is to provide education to adolescents related to drugs, pornography, reproductive health and HIV/AIDS to improve PHBS in adolescents and prevent adolescents from behavior that poses a risk to health. This activity was carried out on December 19, 2021 at the Nurul Yaqin Mosque, Balai Gadang Village. The target of this activity is 25 youths in Balai Gadang Village. The activity method is in the form of counseling which begins with preparations in the form of hearings with partners, setting a schedule of activities, speakers, and event materials. At the implementation stage, a pre-test was carried out, delivery of material on a predetermined topic and followed by a question and answer session. Then a post-test was conducted to determine the increase in adolescent knowledge. At the end of the session, health promotion media were distributed in the form of flyers to teenagers. The results of the activity showed that participants were enthusiastic in participating in the activity, there was even an increase in participants' knowledge of the material presented. Prior to health education (drugs, HIV/AIDS, pornography) the knowledge of participants was 53%, while after education the average knowledge was 65.2%. It is hoped that similar activities can be carried out to reduce deviant behavior in adolescents in Padang City.
STUDENTS PERCEPTION ON IMPLEMENTATION OF INTERPROFESSIONAL EDUCATION Multazam Fahreza Chandra; Laila Isrona; Emilzon Taslim; Ilmiawati Ilmiawati
Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia: The Indonesian Journal of Medical Education Vol 10, No 2 (2021): July
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpki.59527

Abstract

Background: Collaboration between health professionals is needed to improve health services. The collaboration can be applied to the education system through the Interprofessional Education (IPE) concept. This study aimed to examine students’ perception on the IPE implementation.Methods: This was a descriptive study using cross-sectional method. The study sample were 300 undergraduate students in Medical Faculty Andalas University (MFAU). It consisted of 190 medical students, 72 psychology students, and 38 midwifery students. The sample was determined by proportionate stratified random sampling method. The research instrument used was Interdisciplinary Education Perception Scale (IEPS) questionnaire.Results:     The    252    students    (84%)     showed    positive    perception    on    IPE implementation. The highest percentage (90%) of the component of perception was actual cooperation and the component of understanding of others’ profession had the lowest percentage (51%). Midwifery students had the highest percentage of perception (92.1%), while the lowest percentage of perception was showed by psychology students (72.2%). The perception tended to increase in perception from first-year (85.7%) to second-year (89.9%) and declined in third-year students (76%).Conclusion: Students of MFAU having a good perception on the IPE implementation. However, there is a lack of understanding of others’ profession that needs to be addressed and improved.                   
Mitigasi Gempa dan Tsunami melalui Flipped dan Online Class pada Organisasi Wanita se-Sumatera Barat Laila Isrona; Westi Permata Wati; Yulistini Yulistini; Nur Afrainin Syah; Hardisman Hardisman
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) VOL. 6 NOMOR 1 MARET 2022 JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.299 KB) | DOI: 10.30595/jppm.v6i1.12483

Abstract

Provinsi Sumatera Barat berada diantara pertemuan Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia dan patahan (sesar) Semangko. Ketiganya merupakan daerah seismik aktif sehingga ada dua bencana yang mengintai Sumatera Barat terutama Kota Padang yakni gempa dan tsunami. Hal yang disayangkan adalah masih banyak masyarakat yang kurang memahami apa yang harus dipersiapkan dan dilakukan ketika bencana ini terjadi dan saat ini pun Indonesia juga dihadapkan pada pandemi Covid-19 sehingga terdapat tendensi bahwa daerah cenderung terlalu fokus pada pencegahan penyebaran COVID-19 dan tidak menyertakan mitigasi bencana alam dalam strategi penanganan COVID-19. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai mitigasi gempa dan tsunami dengan menggunakan metode flipped class dan online class pada organisasi wanita se-Sumatera Barat. Kegiatan ini dibagi menjadi 2 sesi. Sesi 1 dihadiri 103 peserta dan sesi 2 dihadiri 80 peserta. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pengetahuan peserta mengenai mitigasi gempa dan tsunami mengalami peningkatan setelah seminar ditandai dengan peningkatan nilai post-test. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berpatisipasi aktif dalam membagi ilmunya terutama dalam keluarga sehingga risiko yang ditimbulkan oleh bencana dapat diminimalkan.
Hubungan antara Tingkat Stres dengan Dismenore Primer pada Mahasiswi Tahun Pertama Program Studi Kedokteran Angkatan 2018 Fakultas Kedokteran Almira Rosyidika Sriwati; Ermawati Ermawati; Laila Isrona
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 1 No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1090.917 KB) | DOI: 10.25077/jikesi.v1i2.38

Abstract

Abstrak Dismenore primer merupakan keluhan ginekologis yang sering terjadi pada remaja di dunia. Dismenore primer akan berdampak pada kualitas hidup, dapat menurunkan konsentrasi belajar seseorang karena nyeri yang dirasakan. Salah satu faktor risiko dismenore primer adalah stres. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan dismenore primer pada mahasiswi tahun pertama program studi kedokteran angkatan 2018 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan teknik total sampling dengan jumlah sampel 146 orang. Data responden diperoleh dari kuisioner. Data dianalisis menggunakan uji Fhiser. Hasil penelitian menunjukan lebih dari separuh responden tidak stres (65,1 %) dan tidak dismenore primer (93, 8%). Hasil analisis bivariat menunjukan tidak terdapat hubungan antara tingkat stres dengan dismenore primer dengan p=0,720 (p> 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar mahasiswi tahun pertama tidak mengalami dismenore primer dan tidak stres. Tidak terdapat hubungan antara tingkat stres dengan dismenore primer. kunci : stres, dismenore primer, mahasiswi tahun pertama. Abstract Primary dysmenorrhea is a gynecological complaint that often occurs in adolescents in the world. Primary dysmenorrhea will have an impact on quality of life, can reduce the concentration of learning because of the pain. One of the risk factor for primary dysmenorrhea is stress. This study was conducted to determine the relationship between stress levels and primary dysmenorrhea in the first year female medical students of the 2018 registered year at Medical Faculty of Andalas University.Cross-sectional study design with total sampling technique was used with 146 people of total sample. Respondents's data were obtained from questionnaires. Data were analyzed by using the Fhiser test. The results showed that more than half of the respondents were not stressed (65.1 %) and neither have primary dysmenorrhea (93.8%). The results of bivariate analysis showed that there was no correlation between stress levels and primary dysmenorrhea with p = 0.720 (p> 0.05). The conclusion of this study is most of the first year female medical did not experience primary dysmenorrhea and were not stressed. There are no relationship between stress levels with primary dysmenorrhea. Keywords : stress, primary dysmenorrhea, first year female students