Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Formulasi Ilam dalam Konteks Tabligh Aliyudin, Mukhlis
Prophetica Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Since the information era that leads by technological growth, tabligh has been enhanced in forms and areas. Among areas and domain of tabligh activities is !lam (broadcasting). Nevertheless, seeking the formula of !lam is not that simple therefore it need some serious efforts so can be appiicable in practives. On the other hand, Ilam needs some effort that more than justification of Islam on the growth of technological and information phenomena
Pengembangan Masyarakat Islam dalam Sistem Dakwah Islamiyah Aliyudin, Mukhlis
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 4, No 14 (2009): Jurnal Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jid.v4i14.421

Abstract

For moslem community, da’wah hold essential role with the importance for with development, and even that da’wah the reality is development. Amends and dont it a community (ummat) really hinges on intensity and da’wah quality that did by moslems. With da’wah moslems can get role in engineers the moslem community social living well in social, economy, culture, politics, even it’s no impossible will make them as “ trend setted “ and main factor and actor in changed social development. Da’wah constitutes aware job in order to uphold justice, increasing welfare, enriching equation, and reaches happiness.
NARASI SEJARAH DALAM UPACARA ADAT SUNDA: KAJIAN ETNOGRAFI ATAS UPACARA ADAT NGALAKSA DI RANCAKALONG SUMEDANG Aliyudin, Mukhlis
Sosiohumaniora Vol 22, No 2 (2020): SOSIOHUMANIORA, JULY 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v22i2.21887

Abstract

Upacara adat merupakan sesuatu yang kerap ditemui dalam masyarakat adat di Indonesia yang mengindikasikan keluhuran nilai-nilai yang mereka yakini.Artikel ini merupakan deskripsi tentang Upacara Adat Ngalaksa yang dipraktikkan oleh masyarakat adat Rancakalong di Jawa Barat.Artikel ini berargumen bahwa Upacara Adat Ngalaksa bukan semata-mata rangkaian ritual yang menjadi rutinitas sebuah komunitas dalam masyarakat adat Rancakalong, tetapi juga dapat dilihat sebagai salah satu bentuk narasi sejarah tentang suatu peristiwa yang berhubungan dengan komunitas tersebut. Dengan menggunakan metode etnografi, artikel ini menguraikan bahwa bagi masyarakat Rancakalong Upacara Adat Ngalaksa merupakan narasi sejarah atas peristiwa pada masa lampau sekaligus imajinasi tentang masa depan. Oleh sebab itu dapat diidentifikasi tiga bentuk narasi sejarah dalam Upacara Adat Ngalaksa, yakni, repetisi (pengulangan) melalui prosesi membuat orok-orokan (boneka bayi) yang merupakan gambaran peristiwa ketika leluhur mereka begitu menyesal karena keputusan mereka menggantikan padi dengan hanjeli telah berujung pada kematian seorang anak di lumbung dimana mereka menyimpan hanjeli; amplifikasi yang terlihat melalui senandung yang bercerita tentang peristiwa dan asal mula adat ini, dan elaborasi, yang yakni melalui upaya penyesuaian dengan nilai-nilai masyarakat modern sehingga upacara ini tidak lagi sepenuhnya sama dengan pertama kali dilakukan.
NARASI SEJARAH DALAM UPACARA ADAT SUNDA: KAJIAN ETNOGRAFI ATAS UPACARA ADAT NGALAKSA DI RANCAKALONG SUMEDANG Mukhlis Aliyudin
Sosiohumaniora Vol 22, No 2 (2020): SOSIOHUMANIORA, JULY 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v22i2.21887

Abstract

Upacara adat merupakan sesuatu yang kerap ditemui dalam masyarakat adat di Indonesia yang mengindikasikan keluhuran nilai-nilai yang mereka yakini.Artikel ini merupakan deskripsi tentang Upacara Adat Ngalaksa yang dipraktikkan oleh masyarakat adat Rancakalong di Jawa Barat.Artikel ini berargumen bahwa Upacara Adat Ngalaksa bukan semata-mata rangkaian ritual yang menjadi rutinitas sebuah komunitas dalam masyarakat adat Rancakalong, tetapi juga dapat dilihat sebagai salah satu bentuk narasi sejarah tentang suatu peristiwa yang berhubungan dengan komunitas tersebut. Dengan menggunakan metode etnografi, artikel ini menguraikan bahwa bagi masyarakat Rancakalong Upacara Adat Ngalaksa merupakan narasi sejarah atas peristiwa pada masa lampau sekaligus imajinasi tentang masa depan. Oleh sebab itu dapat diidentifikasi tiga bentuk narasi sejarah dalam Upacara Adat Ngalaksa, yakni, repetisi (pengulangan) melalui prosesi membuat orok-orokan (boneka bayi) yang merupakan gambaran peristiwa ketika leluhur mereka begitu menyesal karena keputusan mereka menggantikan padi dengan hanjeli telah berujung pada kematian seorang anak di lumbung dimana mereka menyimpan hanjeli; amplifikasi yang terlihat melalui senandung yang bercerita tentang peristiwa dan asal mula adat ini, dan elaborasi, yang yakni melalui upaya penyesuaian dengan nilai-nilai masyarakat modern sehingga upacara ini tidak lagi sepenuhnya sama dengan pertama kali dilakukan.
Sunda Wiwitan: The Belief System of Baduy Indigenous Community, Banten, Indonesia Enjang AS; Mukhlis Aliyudin; Farid Soleh Nurdin; Muhibudin Wijaya Laksana; Sitta Resmiyanti Muslimah; Widodo Dwi Ismail Azis
Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : the Faculty of Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.754 KB) | DOI: 10.15575/jw.v5i1.8069

Abstract

The purpose of this study is to determine the construction of the meaning of Sunda Wiwitan religion in Sundanese Baduy indigenous people. The research uses interpretive paradigms with qualitative methods, and symbolic interaction study approaches as a tool of analysis. Data gathered through participatory observation and in-depth interviews. Sunda Wiwitan religion is the main symbol in the Baduy indigenous people, and is a dimension that reaches every side of life, and is a collective representation of the belief system of the Baduy indigenous community. This symbol serves as a reference for the collective paradigm, and as a reference for interpreting natural phenomena and determining the behavior of the Baduy indigenous people. The symbol of traditional institutions and traditional ceremonies represent three essential issues, namely: (1) Understanding and appreciation of religion (belief) of the Baduy indigenous people as Sunda Wiwitan descendants; (2) Observance and practice of the daily life of the Baduy indigenous people as members of the traditional Sundanese or Sunda Buhun social groups; and (3) Symbolization of the existence and recognition of the existence of government and power outside the Baduy Customary institution.
Pengembangan Masyarakat Islam dalam Sistem Dakwah Islamiyah Mukhlis Aliyudin
Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies Vol 4, No 14 (2009): Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies
Publisher : Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/idajhs.v4i14.421

Abstract

For moslem community, da’wah hold essential role with the importance for with development, and even that da’wah the reality is development. Amends and don't it a community (ummat) really hinges on intensity and da’wah quality that did by moslems. With da’wah moslems can get role in engineers the moslem community social living well in social, economy, culture, politics, even it’s no impossible will make them as “ trend setted “ and main factor and actor in changed social development. Da’wah constitutes aware job in order to uphold justice, increasing welfare, enriching equation, and reaches happiness.
Religious Preaching through the Method of Mujawwad Tilawah Mukhlis Aliyudin; Enjang AS; Zaini Hafidh
Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies Vol 12, No 2 (2018): Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies (Accreditated of Sinta 2)
Publisher : Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/idajhs.v12i2.5261

Abstract

This research departs from the khithabah ta’tsiryah (religious preaching) activity presented by KH. Ujang Hidayat, a preacher who is also the leader of the Asy-Syifa Cicalengka-Bandung Islamic Boarding School. His lecture is unique and distinctive and different from the method commonly used by other preachers. The recitation of the verses of the Qur'an is used as the legal basis of the study or reference in a discussion, recited with special tones or lagham and differs according to the contents of the message contained in the verse of the Qur'an. The purpose of this study is to know and describe the understanding, meaning, and experience of KH. Ujang Hidayat used the recitation method of mujawwad in khithabah ta’tsiriyah in the Majlis Ta'lim As-Sabab. This study uses a qualitative approach to phenomenology study methods. Data collection techniques are carried out by interviews, observation and document study. While the data collection instruments use field notes, cameras and conversation recording devices. While data analysis in the form of unitization of data, categorization, and interpretation of data and validity of data. The results of the study showed that the mujawwad recitation method used by KH. Ujang Hidayat in the khithabah ta’siriyah process in Majlis Taklim As-Sabab was understood as a method of lecture accompanied by rhythms and tones of recitation of the verses of the Qur'an which were adjusted to the contents of the message contained therein. The tilawah mujawwad method is interpreted as a process of delivering the contents of the Qur'an's message, the way of reading is based on the mujahad recitations with slower rhythms of reading and the rhythm of the muratal recitations by adhering to certain tones which are adjusted to qiraat. The use of the tawawah mujawad method can be used in khithabah ta’tsiriyah if the preacher has mastered the ulum al-Qur'an, the interpretation of the Qur'an and qiraa'at sab'ah.Penelitian ini bertolak dari kegiatan khithabah ta’tsiryah (ceramah keagamaan)  yang disampaikan oleh KH. Ujang Hidayat, seorang mubaligh yang menggunakan metode khusus dalam proses tablighnya, yaitu metode tilawah mujawwad. Metode ini dipandang unik dan berbeda dengan metode yang biasa digunakan oleh mubaligh lainnya, terutama dalam pembacaan ayat-ayat al-Qur’an yang digunakan sebagai dasar hukum kajian dalam sebuah pembahasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan pemahaman, pemaknaan, dan pengalaman KH. Ujang Hidayat dalam menggunakan metode tilawah mujawwad dalam khithabah ta’tsiriyah di Majlis Ta’lim As-Sabab. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode studi fenomenologi. Teknik Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan studi dokumen. Sedangkan instrumen pengumpulan data menggunakan catatan lapangan, kamera dan alat perekam percakapan. Sementara analisis data berupa unitisasi data, kategorisasi dan penafsiran data serta uji abash data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode tilawah mujawwad yang digunakan oleh KH. Ujang Hidayat dalam proses khithabah ta’siriyah di Majlis Taklim As-Sabab dipahami sebagai metode ceramah yang disertai dengan irama dan nada pembacaan ayat-ayat al-Qur’an yang disesuaikan dengan isi pesan yang terkandung didalamnya. Metode tilawah mujawwad dimaknai sebagai sebuah proses penyampaian isi pesan al-Qur’an yang cara pembacaannya didasarkan pada tilawah mujawaad dengan irama yang lebih lambat dari bacaan dan irama tilawah muratal dengan tetap berpatokan pada nada tertentu yang disesuaikan qiraa’at sab’ah. Penggunaan metode tilawah mujawwad dapat digunakan dalam khithabah ta’tsiriyah apabila mubaligh-nya menguasai ulum al-Qur’an, tafsir al-Qur’an dan qiraa’at sab’ah.  
Dakwah Kultural dalam Upacara Adat Ngalaksa Mukhlis Aliyudin
Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies Vol 10, No 2 (2016): Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies
Publisher : Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/idajhs.v10i2.1079

Abstract

Religion and culture continue to color the human life. In fact, the two are inseparable, complementary to each other and give meaning. Religion is always alive and embedded in cultural values, otherwise the culture is always cooperative with religious values. Not a bit of cultural values to accommodate religious values. And in between the spread of religious and cultural value to the community is by propaganda. As happened in the community Rancakalong Sumedang ceremony Indigenous Ngalaksa, which indirectly has happened blend of religious values with the local cultural values, and propaganda with the culture in this area is considered appropriate because it has made this region a peaceful, secure, peaceful, and mutual respect among fellow citizens.
Respon Jama'ah Terhadap Pengajian Rutin Tafsir Tematik Devira Aprilianty; Mukhlis Aliyudin; Ahmad Agus Sulthonie
Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 2 No 3 (2017): Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Department of Islamic Communication and Broadcasting, Faculty of Dakwah and Communication, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/tabligh.v2i3.211

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Perhatian, Pemahaman, dan Penerimaan jama’ah masjid An-Nabati terhadap pengajian Tafsir Tematik di Masjid An-Nabati yang terletak di wilayah kantor Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Cisaranten Endah, Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini mengacu pada kerangka teori psikologi behavioristik S-O-R, yakni stimulus, Organisme, dan Respon. Adapun yang jadi stimulusnya adalah pengajian tafsir tematik, Organismnya adalah jama’ah An-Nabati yang mengikuti pengajian tafsir tematik di Masjid An-Nabati. Sedangkan responnya adalah perhatian, pemahaman dan penerimaaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, pengumpulan datanya dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian ini menggambarkan bahwa pengajian bandung kuping, mendapatkan respon yang baik dari jama’ah An-Nabati yang berjumlah 40 orang. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa respon jama’ah (bapak-bapak) terhadap pengajian Tafsir Tematik sangat baik. Dari respon perhatian, beberapa informan menyatakan mengikuti pengajian secara rutin, respon pemahaman menyatakan memahami terhadap pengajian tafsir tematik, dan respon penerimaan menyatakan menerima pengajian tafsir tematik di Masjid An-Nabati. Berdasarkan temuan ini dapat disimpulkan bahwa pengajian merupakan salah satu istilah yang cukup dikenal di kalangan masyarakat. Istilah ini merujuk kepada salah satu bentuk kegiatan yang sering dilakukan di masjid atau majelis-majelis tertentu. Pengajian juga sebagai salah satu metode pembelajaran dalam memperluas agama Islam. Kata kunci : Jama’ah; Pengajian; Tafsir Tematik The purpose of this study is to find out the Attention, Understanding, and Acceptance of the Jamaah of the An-Nabati mosque to the study of Thematic Interpretation in the Nabati Mosque located in the area of ​​the Forestry Service Office of West Java Province Jalan Soekarno Hatta No.751, Cisaranten Endah , Bandung, West Java 40292. This research refers to SOR behavioristic psychological theory framework, namely stimulus, organism, and response. As for the stimulus is the thematic interpretation of the study, the organism is the Jamaah An-Nabati who follows the thematic interpretation of the An-Nabati Mosque. While the response is attention, understanding and acceptance. The method used in this research is descriptive method, collecting data using interviews, observation, and documentation. From the results of this study illustrate that the recitation of bandung kuping, get a good response from the congregation of An-Nabati which amounts to 40 people. The results of this study indicate that the response of the congregation (fathers) to the study of Thematic Interpretation is very good. From the response of attention, some informants said that following regular recitation, understanding responses to understanding the thematic interpretation of the study, and receiving responses said that they received a thematic interpretation in the Masjid An-Nabati. Based on these findings it can be concluded that recitation is one of the terms that is well known among the public. This term refers to one form of activity that is often carried out in mosques or certain assemblies. Recitation is also a method of learning in expanding Islamic religion. Keywords: Jama'ah; Recitation; Thematic Interpretation
Fenommena Pengajian Shalawat di Pesantren As-Shogiri Auli Muhtarudin; Rohmanur Aziz; Mukhlis Aliyudin
Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 3 No 1 (2018): Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Department of Islamic Communication and Broadcasting, Faculty of Dakwah and Communication, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.491 KB) | DOI: 10.15575/tabligh.v3i1.536

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses dakwah pada saat pengajian dipondok pesantren As-Shogiri , metode yang digunakan yaitu kualitatif fenomenologi, yang memandu peneliti untuk melihat dan mengeksplorasi situasi yang ada secara menyeluruh, mendalam dan luas. Teori fenomenologi yang digunakan adalah teori fenomenologi Edmund Husserl. Hasil penelitian pertama pengajian shalawat di pesantren As-Shogiri Tanah Baru Kota Bogor, mempunyai citra diri yang baik di masyarakat terutama para pecinta shalawat Nabi Muhammad SAW, citra diri ini ditambah oleh sosok guru yakni Ajengan Mama Nahrawi beliau merupakan sosok da’i yang terkemuka di Kota Bogor. Kedua pelaksanaan pengajian shalawat ini banyak mempunyai kebiasaan yang unik yakni jama’ah banyak membawa air doa, membakar dupa, pada saat pengajian tidak menggunakan pengeras suara,tidak diperbolehkan mengambil gambar dan simbolisme ritual pembagian buah anggur diakhir pengajian. Ketiga intensitas jama’ah di pengajian shalawat turun naik bergantung dengan keadaan, jama’ah sangat meningkat pada saat pelaksanaan haul shalawat dan menurun pada saat setelah lebaran idhul fitri. Keempat pengajian shalawat ini mempunyai interaksi yang baik dalam pelaksanaanya baik dari kiyai ajengan Mama Nahrawi ke jama’ah, jama’ah dengan jama’ah yang lainnya dalam pelaksanaanya merupakan proses penyebaran nilai-nilai Ke-Islaman. The purpose of this study was to determine the process of da'wah at the time of recitation in the As-Shogiri boarding school, the method used is qualitative phenomenology, which guides researchers to see and explore the situation thoroughly, deeply and extensively. The phenomenology theory used is the phenomenology theory of Edmund Husserl. The results of the first study of recitation of prayer in the As-Shogiri Tanah Baru Islamic boarding school in Bogor City, have a good self image in the community, especially lovers of the Prophet Muhammad SAW, this self image is added by the teacher figure Ajengan Mama Nahrawi he is a prominent preacher in Bogor city. The two implementation of the prayer service have many unique habits, namely the jama'ah carrying a lot of prayer water, burning incense, when the recitation did not use loudspeakers, it was not permitted to take pictures and ritual symbolism of the distribution of grapes at the end of the recitation. The three intensity of congregation in the recitation of the prayer fell up and down depending on the situation, Jama'ah was greatly improved during the implementation of the haul prayer and decreased after the Idul Fitri Eid. The four recitations of this prayer have good interactions in implementation both from the kiyai ajengan Mama Nahrawi to jama'ah, jama'ah with jama'ah, the other in the implementation is the process of disseminating Islamic values.