Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Hubungan Penggunaan Media Sosial dengan Kualitas Komunikasi Orang Tua dan Anak Berusia Dewasa Awal Putra, Edo Evandio; Ariana, Atika Dian
Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental Vol 2 No 1 (2022): BULETIN RISET PSIKOLOGI DAN KESEHATAN MENTAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.511 KB) | DOI: 10.20473/brpkm.v2i1.31923

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan media sosial dan kualitas komunikasi orang tua dan anak berusia dewasa awal. Penelitian menggunakan metode kuantitatif korelasi dengan melakukan survei yang melibatkan 73 subjek, dengan rentang usia dewasa awal yaitu 18–25 tahun. Analisis data dilakukan menggunakan metode korelasi Pearson dengan bantuan program statistik IBM SPSS Statistic 25 for Windows. Hasil analisis data menunjukan bahwa ada korelasi signifikan antara penggunaan media sosial dan kualitas komunikasi antara orang tua dan anak berusia dewasa awal (r=0,006; p=-0,292) dimana semakin tinggi nilai individu dalam variabel penggunaan media sosial maka semakin rendah nilai individu dalam variabel kualitas komunikasi antara orang tua dan anak berusia dewasa awal.
Kecemasan Diri Dewasa Awal yang Menjalani Hubungan Romantis saat Mendapat Perilaku Silent Treatment Putri, Carissa Nabila; Ariana, Atika Dian
Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental Vol 2 No 1 (2022): BULETIN RISET PSIKOLOGI DAN KESEHATAN MENTAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.293 KB) | DOI: 10.20473/brpkm.v2i1.31926

Abstract

Fase dewasa awal merupakan fase ketidakstabilan sehingga dapat memunculkan perasaan negatif seperti kecemasan, hal ini dapat diakibatkan oleh adanya konflik dalam hubungan romantis. Cara penyelesaian konflik yang kurang tepat seperti silent treatment dapat menyebabkan kecemasan. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini yaitu melihat hubungan antara silent treatment dengan kecemasan pada dewasa awal yang menjalani hubungan romantis. Penelitian ini menggunakan teknik survei dengan total 255 partisipan. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan signifikan positif dengan Sig. (2-tailed) sebesar 0,00 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,428. Hal tersebut menjelaskan apabila silent treatment meningkat maka kecemasan juga akan meningkat.
Hubungan antara Menonton Film Kekerasan dengan Agresivitas pada Remaja Awal Sa'adah, Nur Lailatus; Ariana, Atika Dian
Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental Vol 2 No 1 (2022): BULETIN RISET PSIKOLOGI DAN KESEHATAN MENTAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.819 KB) | DOI: 10.20473/brpkm.v2i1.31954

Abstract

Agresivitas sebuah ledakan emosi yang menjadi sebuah reaksi atas terjadinya kegagalan individu yang dapat dimunculkan melalui tindakan penghancuran kepada orang lain maupun benda, dengan unsur kesengajaan yang dimanifestasikan secara verbal atau perlakuan non-verbal. Agresivitas merupakan suatu perilaku yang ditujukan untuk menyakiti objek yang menjadi sasaran agresif, baik dalam bentuk verbal ataupun perlakuan non-verbal. Di kalangan remaja, wujud agresivitas ini sering dalam wujud tawuran antarpelajar dengan saling menyerang menggunakan senjata tajam, berkelahi antarteman, merusak fasilitas umum, bahkan sampai melakukan pembunuhan. Pengumpulan data menggunakan skala menonton film kekerasan dan skala Agresivitas. Analisis data dilakukan dengan teknik korelasi Bivariate Pearson dan memanfaatkan bantuan SPSS versi 20 for windows. Hasil dari penelitian ini diperoleh koefisien korelasi sebesar 0.312 dengan nilai p-value sebesar 0.00. Terdapat hubungan yang bersifat positif, sehingga semakin tinggi menonton film kekerasan maka semakin tinggi agresivitas pada remaja. Kesimpulan penelitian ini ialah remaja yang menonton film kekerasan memiliki tingkat agresivitas yang sedang.
Hubungan Gaya Kelekatan Romantis dengan Ide Bunuh Diri pada Dewasa Awal dalam Hubungan Pacaran Mutiara, Nabilla Ayu; Ariana, Atika Dian
Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental Vol 2 No 1 (2022): BULETIN RISET PSIKOLOGI DAN KESEHATAN MENTAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.913 KB) | DOI: 10.20473/brpkm.v2i1.34594

Abstract

Gaya kelekatan romantis dapat digunakan untuk mengidentifikasi cara individu berperilaku dan berpikir terhadap pasangan. Sedangkan, ide bunuh diri merupakan keinginan, pikiran ataupun rencana untuk mengakhiri hidup. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan gaya kelekatan romantis, spesifiknya kelekatan tidak aman, dengan ide bunuh diri pada dewasa awal dalam hubungan pacaran. Terdapat 133 partisipan dalam penelitian ini yang sedang menjalani hubungan pacaran dan sedang atau pernah mengalami ide bunuh diri. Alat ukur dalam penelitian ini adalah Experiences in Close Relationship-Revised oleh Fraley dkk. (2000) dan Scale for Suicide Ideation oleh Beck dkk. (1979). Analisis data menggunakan teknik korelasi Spearman's rho dengan bantuan Jamovi 2.5.5 for macOS. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan tidak signifikan antara kelekatan menghindar dengan ide bunuh diri (r=0.003; p=0.974) namun terdapat hubungan signifikan antara kelekatan cemas dengan ide bunuh diri (r=0.472; p=<.001). 
Hubungan Literasi Kesehatan Mental dengan Intensi Mencari Bantuan pada Mahasiswa Azedarach, Melia Rizke; Ariana, Atika Dian
Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental Vol 2 No 1 (2022): BULETIN RISET PSIKOLOGI DAN KESEHATAN MENTAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.448 KB) | DOI: 10.20473/brpkm.v2i1.36578

Abstract

Literasi kesehatan mental masyarakat yang rendah menyebabkan kondisi kesehatan mental kurang dilaporkan dan tidak terdiagnosis. Hal ini meningkatkan gangguan yang tidak tertangani, morbiditas, mortalitas, peningkatan stres serta kasus bunuh diri. Ketidakmampuan seseorang dalam mengenali gangguan mental diduga berkaitan dengan berkurangnya kemungkinan mencari bantuan. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa mahasiswa merupakan kelompok terendah dalam mencari bantuan. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara literasi kesehatan mental dengan intensi mencari bantuan pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel dalam penelitian ini meliputi 111 partisipan yang merupakan mahasiswa berusia antara 18-25 tahun di Indonesia. Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala Mental Health Literacy (MHL) dan skala General Help-Seeking Questionnaire (GHSQ). Analisis dilakukan dengan uji korelasi Spearman's rho pada JAMOVI 2.3.0.0 for macOS. Hasil analisis pada penelitian ini adalah tidak ditemukannya bukti yang dapat mengonfirmasi keberadaan hubungan antara literasi kesehatan mental dengan intensi mencari bantuan (r=0,034; p=0,727).
Hubungan Antara Tingkat Perpeksionisme dan Pemikiran Bunuh Diri pada Mahasiswa Kedokteran Fauziah, Ananda Ulfi; Ariana, Atika Dian
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Reguler Issue
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v2i1.67

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat perfeksionisme dan pemikiran bunuh diri pada mahasiswa kedokteran. Perfeksionisme dicirikan dengan hasrat yang tinggi untuk mencapai kesempurnaan, memiliki standar sangat tinggi atas kinerja diri, serta mengevaluasi diri sendiri secara berlebihan. Individu yang memiliki pemikiran bunuh diri berarti individu memiliki keinginan dan rencana untuk bunuh diri tetapi belum melakukan upaya bunuh diri secara terbuka. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode pengumpulan data berupa survei. Partisipan pada penelitian ini, yaitu 78 mahasiswa kedokteran angkatan 2018-2022 yang sedang menjalani studi tahap preklinik atau klinik di Program Studi Kedokteran Universitas Airlangga. Alat ukur yang digunakan pada penelitian, yaitu Multidimensional Perfectionism Scale untuk mengukur perfeksionisme dan Scale for Suicidal Ideation untuk mengukur pemikiran bunuh diri. Analisis data penelitian dilakukan dengan teknik Spearman’s rho menggunakan Jamovi versi 2.3.21.0. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketiga dimensi perfeksionisme tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan pemikiran bunuh diri pada mahasiswa kedokteran dengan rincian pada socially prescribed perfectionism (r=0,200; p=0,080), self-oriented perfectionism (r=-0,018; p=0,877), dan other-oriented perfectionism (r=0,078; p=0,497).
Peningkatan Literasi Kesehatan Mental Ibu Berbasis Masyarakat pada Tenaga Kesehatan dan Kader di Kabupaten Banyuwangi: Increasing Community Based Maternal Mental Health Literacy among Health Workers and Cadres in Banyuwangi District Sulistyorini, Yuly; Prayoga, Diansanto; Ariana, Atika Dian; Damayanti, Nyoman Anita; Anis, Wahyul; Lailiyah, Syifa’ul; Rosyida, Aulia; Utami, Indah Tri
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 6 (2025): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v10i6.8980

Abstract

Mental health problems in pregnant women are one of the health problems that have not been handled optimally in Banyuwangi Regency both during pregnancy and postpartum. Mental health screening of pregnant/postpartum women in antenatal care services is currently not running optimally because not all health workers have the ability to screen. Likewise, cadres as the spearheads in the community who assist pregnant/postpartum women in their area. Therefore, increasing literacy both knowledge and practice of mental health screening is needed. This capacity-building training activity aims to increase knowledge and skills in mental health screening using SRQ-20 to health workers and cadres. The 88 training participants consisted of 48 health workers and 40 cadres representing all sub-districts in Banyuwangi District. The results of this activity show that there are differences in knowledge and skills before and after with a value of p = 0.000 (health workers) and p = 0.000 (cadres). The average score before training also increased from 65.972 to 90.972 (health workers) and 41.833 to 71.667 (cadres) with a maximum score of 100. This activity is expected to improve antenatal care services and the participation of health workers and cadres in conducting mental health screening at puskesmas and their assisted areas.
Pengaruh Loneliness dan Sensation Seeking terhadap Smartphone Addiction pada Remaja di Surabaya Anugrah, Eka Rahmadani; Ariana, Atika Dian
Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS) Vol 5, No 3 (2023): Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), February
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.88 KB) | DOI: 10.34007/jehss.v5i3.1561

Abstract

This article aims to determine whether there is an influence between loneliness and sensation seeking on smartphone addiction among adolescents in Surabaya. The problem is focused on the excessive use of smartphones which can be caused by loneliness and sensation seeking. In order to approach this problem, a theoretical reference from (Kwon, Kim, Cho, & Yang, 2013). This research used quantitative methods. Subject consist of 101 adolescences in Surabaya. The research data is obtained by using the scale, smartphone addiction scale, loneliness scale, and sensation seeking scale, analyzed by using the multiple regression analysis technique. The results showed that there was a significant influence between loneliness and sensation seeking on smartphone addiction among adolescents in Surabaya (p=0.025<0.05). The contribution value of loneliness and sensation seeking to smartphone addiction is 7.3%. This study illustrates that the higher the loneliness and sensation seeking, the higher the smartphone addiction among adolescents in Surabaya, while the lower the loneliness and sensation seeking, the lower the smartphone addiction.