Articles
BUDAYA SIBALIPARRIQ DALAM PRAKTIK HOUSEHOLD ACCOUNTING
Eva Musdalifa;
Aji Dedi Mulawarman
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 10, No 3 (2019): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2019.10.3.24
Abstrak: Budaya Sibaliparriq dalam Praktik Household Accounting. Penelitian ini berupaya untuk menelusuri budaya sibaliparriq dalam praktik akuntansi rumah tangga. Fenomenomologi digunakan sebagai metode dengan keluarga nelayan Mandar sebagai informan. Penelitian ini menemukan bahwa budaya sibaliparriq membuat pendapatan sebagai rejeki dan melahirkan rasa saling percaya antara suami dan istri pada aspek pengelolaan pendapatan. Para informan tidak melakukan pencatatan baik pemasukan maupun pengeluaran. Suami langsung memberikan penghasilan kepada istri tanpa meminta istri untuk mempertanggungjawabkan secara tertulis atau memberikan laporan tentang pengalokasian tersebut. Bahasa lisan menjadi bahasa akuntansi mereka dalam mengelola keuangan keluarga. Abstract: Sibaliparriq Culture in Household Accounting Practices. This study seeks to explore the culture of sibaliparriq in household accounting practices. Phenomenology was used as a method with the Mandar fishermen family as informants. This research finds that sibaliparriq culture makes income as a fortune and breeds mutual trust between husband and wife in the aspect of income management. The informants don’t record both income and expenditure. The husband immediately provides income to the wife without asking the wife to take responsibility for writing their report on the allocation. Spoken language becomes their accounting language in managing family finances.
PENDIDIKAN AKUNTANSI BERBASIS CINTA: LEPAS DARI HEGEMONI KORPORASI MENUJU PENDIDIKAN YANG MEMBERDAYAKAN DAN KONSEPSI PEMBELAJARAN YANG MELAMPAUI
Aji Dedi Mulawarman
EKUITAS (Jurnal Ekonomi dan Keuangan) Vol 12 No 2 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya(STIESIA) Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (0.057 KB)
|
DOI: 10.24034/j25485024.y2008.v12.i2.300
The objective of this article is to enlighten and emancipate accounting education basic assumption and concept that match to the objective of national education. The objective of national education is based on balanced values of spirituality, mentality, morality, intellectuality and skill. Emancipation and enlightenments are conducted by utilizing purification (tazkiyah) methodology with fully love values.The result of tazkiyah accounting education is enlightenment and emancipation of accounting education based on self interest and secularism towards accounting education based on God interest with fully love. There are consequences of tazkiyah. First, is to free education from corporate hegemony towards education that is more corporate-responsible that extends its accountability (stakeholders, nature, and God) and empowering oriented. Second, it produces synergy of learning conception based on reproductive view learning and constructive view of learning, and beyond (hyper view of learning).
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Bergulir Pada UPK-G
Syarifah Alawiyyah;
Unti Ludigdo;
Aji Dedi Mulawarman
Assets: Jurnal Akuntansi dan Pendidikan Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas PGRI Madiun
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (388.433 KB)
|
DOI: 10.25273/jap.v6i2.1537
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan akuntabilitas pengelolaan Dana bergulir dalam aspek pelaporan pada Program Gerbangmastaskin. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan paradigma interpretif. Tanggung jawab pengurus UPK memberikan pelaporan terhadap pengelolaan Dana bergulir ditunjukkan dalam bentuk laporan penggunaan dana dan laporan keuangan UPK. Laporan penggunaan dana UPK dibuat untuk memenuhi SPJ (pertanggung jawaban) UPK kepada pemerintah atas dana yang dicairkan, dan laporan keuangan sebagai informasi yang menunjukkan kondisi keuangan dan perkembangan dana UPK karena dana bergulir yang dikelola secara berkelanjutan. Hasilnya menunjukkan bahwa UPK selalu menyiapkan laporan penggunaan dananya karena suatu keharusan (tuntutan), berbeda dengan laporan keuangan yang hanya dibuat sebatas kebutuhan primer UPK dan hanya diberikan kepada pendamping (jika diperlukan/dibutuhkan). Laporan keuangan tidak diberikan kepada Sektap Kota sebagai pelaksana program kegiatan sehingga perkembangan dana UPK dari tahun ke tahun secara rinci tidak dapat diketahui oleh Sektap walaupun pada kenyataannya UPK mengelola perguliran dana dengan baik. Sejauh ini program Gerbangmastaskin telah berperan memberdayakan perekonomian masyarakat melalui perguliran dana simpan pinjam untuk usaha masyarakat. Akuntabilitas pelaporan UPK menunjukkan bahwa UPK tidak dapat menyediakan informasi yang dibutuhkan secara rutin kepada Sektap Kota sekalipun laporan keuangan telah dibuat oleh UPK namun laporan keuangan hanya tersedia selama beberapa tahun terakhir sehingga menunjukkan ketidaklengkapan arsip dan pelaporan UPK.
Tazkiyah: Metodologi Rekonstruksi Akuntansi Pertanian
Aji Dedi Mulawarman
Assets: Jurnal Akuntansi dan Pendidikan Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas PGRI Madiun
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (580.892 KB)
|
DOI: 10.25273/jap.v8i2.4656
ABSTRAKArtikel ini bertujuan mengonstruksi metodologi untuk memurnikan akuntansi pertanian kembali pada fitrah kesuciannya sehingga dapat menempati strata tertinggi bersama tulisan dan angka, sebagaimana kemunculan pertama kalinya di masa revolusi pertanian 12.000 tahun lalu. Konstruksi metodologi pemurnian akuntansi dilakukan melalui telaah kesejarahan pemikiran Ibnu Khaldun dan konsep pemurnian dalam Islam. Hasil konstruksi menunjukkan bahwa metodologi tazkiyah bersubstansi nilai dinamis berkeadilan bagi individu dan masyarakat serta lingkungan alam, dengan cara melalui penyucian terus-menerus. Temuan konstruksi juga menunjukkan bahwa kesucian akuntansi telah hilang dan tersisih sejak Revolusi Industri yang berorientasi materi dan pertumbuhan (ekonomi). Praksis akuntansi tanpa kesucian mewujud dalam standar IFRS dan PSAK di Indonesia hingga abad 21 berkolaborasi dengan Revolusi Industri 4.0.ABSTRACTThis article aims to construct a methodology to refine agricultural accounting back to its nature of holiness so that it can occupy the highest strata along with writing and numbers, as it first appeared during the agricultural revolution 12,000 years ago. The construction of the accounting refinement methodology is carried out through the historical study of Ibn Khaldun's thought and the concept of purification in Islam. The results of the construction show that the tazkiyah methodology has a dynamic value of justice for individuals and communities and the natural environment, by means of continuous purification. The construction findings also show that the sanctity of accounting has been lost and marginalized since the material revolution and growth (economic) orientation. Accounting practices without holiness embodied in IFRS and PSAK standards in Indonesia until the 21st century in collaboration with the Industrial Revolution 4.0.
STUDI FENOMENOLIGI TANTENAG GOOD PERSANTREN GOVERNANCE PADA PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR, PONOROGO
Annisa Fitriana;
Gugus Irianto;
Aji Dedi Mulawarman
Jurnal Ilmiah Akuntansi Peradaban Vol 4 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/jiap.v4i1.5156
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman dan kesadaran dari tata kelola organisasi PMDG dari perspektif keIslamannya. Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi Islam yang memiliki motivasi untuk mengintegrasikan ilmu kauliyah (agama) dan ilmu kauniyah (empiris). Secara umum, pemahaman dan kesadaran dari tata kelola organisasi PMDG mengungkapkan bahwa nilai yang dijadikan driven dalam tata kelola dan keberlanjutan organisasi Pondok Modern Darussalam Gontor yaitu Ibadah karena Lillah yang ditransformasikan kepada seluruh penghuni pondok melalui Panca Jiwa yang membentuk etos kerja produktif dalam penyelenggaraan pondok. Totalitas dalam penyelenggaraan pondok menjadi lebih kental sense of belonging-nya terlebih karena konsep wakaf (harta, diri, dan ilmu) yang diusung dan menjadi ciri khas PMDG. Kata Kunci : Good Pesantren Governance, Wakaf dan UlamaABSTRACT This study aims to gain understanding and awareness of PMDG organizational governance from an Islamic perspective. The study used an Islamic phenomenology approach that has the motivation to integrate kauliyah (religious) and kauniyah (empirical) sciences. In general, the understanding and awareness of PMDG organizational governance reveals that the value that is driven in the governance and sustainability of Pondok Modern Darussalam Gontor organization is Worship because Lillah is transformed to all cottage residents through Panca Jiwa which form a productive work ethic in cottage management. Totality in the implementation of the cottage becomes more viscous sense of belonging, especially because the concept of waqf (wealth, self, and knowledge) that carried and became the hallmark of PMDG.Key Words: Good Pesantren Governance, Waqf dan Ulama
REALITAS SOSIO-SPIRITUAL AKUNTANSI PERTANIAN
Vaisal Amir;
Unti Ludigdo;
Aji Dedi Mulawarman
Jurnal Ilmiah Akuntansi Peradaban Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/jiap.v4i2.6934
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memahami nilai-nilai yang terkandung dalam biaya produksi pertanian. Penelitian ini menggunakan paradigma islam sebagai paradigma penelitiannya. Paradigma islam memandang bahwa segala yang ada hadir dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Selain itu paradigma islam juga memandang bahwa antara iman-ibadah dengan ilmu-amal sholeh tidak ada pertentangan dan berjalan selaras. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa paradigma positivis tidak bisa memotret secara utuh nilai-nilai yang terkandung dalam biaya produksi dikarenakan paradigma positivis memandang kesejahteraan batin petani yang terefleksi dari berbagai kegiatan sosial dan ritual untuk kegiatan pertanian sebagai inefisiensi produksi.Kata Kunci: Akuntansi Pertanian, Paradigma Islam, biaya produksi ABSTRACTThis study aims to determine the values contained in the costs of agricultural production. This study used the Islamic paradigm as its research paradigm. The Islamic paradigm views all that is present from God and will be return to God. In addition, the Islamic paradigm also considers that between faith-worship and knowledge-charity there is no resistance and walking in harmony. The results of this study indicate that the positivist paradigm cannot be portrayed as a whole-value contained in production costs because the positivist paradigm that is related to culture is reflected in various social activities and rituals for agricultural activities as production inefficiencies.Keywords: Agricultural Accounting, Islamic Paradigm, cost of productions
MENUJU TEORI AKUNTANSI SYARIAH BARU
Aji Dedi Mulawarman;
Iwan Triyuwono;
Gugus Irianto;
Unti Ludigdo
Jurnal Ekonomi & Keuangan Islam Volume 1 No. 1, Januari 2011
Publisher : Faculty of Economics, Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20885/jeki.vol1.iss1.art4
The purpose of this article is to develop shariate accounting theory called the New Islamic Accounting Theory (NIAT), constructed from simultaneous universalities of Islamic soul (Tauhid) and localities of Indonesian uniqueness (Moslem business activity). This methodology used is Extended Integrated Islamic Hyperstructuralism (EXIST)-revisited, based on purification (tazkiyah) that would take synergy of empirical and normative values. The result is, first, normative accounting values have Tauhid values. Second, the values from Indonesian Moslem is about unified tradition works (ma’isyah) to realize livelihood (rizq) and discover wealth (maal) that should be blessing of God (barakah). Third, synergy consequences from normative-empirical values compose the structure of shariate accounting theory that have unique accounting objectives and technological forms of shariate financial statements.
Jalan Laba Petani: Falāh al-Fallāh
Aji Dedi Mulawarman
Jurnal Riset dan Aplikasi: Akuntansi dan Manajemen Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Jur. Akuntansi, Politeknik Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1750.529 KB)
|
DOI: 10.33795/jraam.v4i2.008
AbstractThis study aims to find the concept of profit or even the concept of non-profits in accordance with the character of agriculture itself. The method used is the study of literature and mapping of various research related to agricultural accounting. The results show that fallāh(farmer) has a profit concept that is far from materialistic and capitalistic tendencies. Al falāh is a true advantage that is not trapped in a linear growth mechanism as knownthe meaning of modern accounting gainsAbstrakPenelitian ini bertujuan menemukan konsep laba atau bahkan konsep di luar laba yang sesuai dengan karakter pertanian itu sendiri. Metode yang digunakan adalah studi literatur dan pemetaan berbagai riset terkait akuntansi pertanian. Hasil menunjukkan bahwa fallāh(petani) memiliki konsep laba yang jauh dari kecenderungan materialistis dan kapitalistis. Al falāh adalah keuntungan sejati yang tidak terjebak pada mekanisme pertumbuhan (growth) yang linier bertambah seperti makna keuntungan akuntansi modern.
Aplikasi Sistem Informasi Bank Sampah: Sebuah Studi Kasus
Aji Dedi Mulawarman;
Novrida Qudsi Lutfillah;
Febrina Nur Ramadhani;
Meryana Ananda
Jurnal Riset dan Aplikasi: Akuntansi dan Manajemen Vol 5, No 3 (2022)
Publisher : Jur. Akuntansi, Politeknik Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33795/jraam.v5i3.002
This study designed an information system using an action research approach. The object in this study is a group of waste banks under the auspices of the Batu City Environmental Service. The new system that will be built will strengthen the ease of use. Several things in the design of information systems proposed in this study include; first, the switch from a manual recording system to the digital recording via a computer device (application) with centralized data in one database; second, improving the format for recording customer savings books, and; third, make records for the waste bank warehouse.AbstrakPenelitian ini dimaksudkanuntukmendesain sistem informasi bank sampah melalui pendekatan riset aksi (action research). Adapun objek dalam penelitian ini adalah kelompok bank sampah yang berada dalam naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu. Sistem baru yang dibangun nantinya akan memperkuat kemudahan penggunaan (easy to use). Dua hal yang diusulkan dalam penelitian ini yaituperbaikan pada sistem informasi manual bank sampah yang sudah berjalan sebagai diagnosis awal dan peralihan sistem pencatatan manual menuju pencatatan digital melalui perangkat komputer (aplikasi)dengan keterpusatan data dalam satu database.
Eksistensi Laporan Nilai Tambah Syariah Berbasis Rezeki
Aji Dedi Mulawarman
The Indonesian Journal of Accounting Research Vol 12, No 2 (2009): JRAI May 2009
Publisher : The Indonesian Journal of Accounting Research
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33312/ijar.205
The objective of this study is to prove evidence of the existence Shari'ate Value Added Statement from the real transaction and business habitues of Indonesian Moslem society. Utilising Hyperphenomenology Methods, I show that rizq is a substance of Shari'ate Value Added (SVA) concept. Rizq is a form of income called rizq income. This type of income can be observed empirically in everyday life of Indonesian Moslem society. I argue that rizq is actually value added gained (financially, socially, and environmentally) and has been purified (becomes halal, thoyib, and free from riba) in every step of its attainment, until its distribution. As a consequence, the quantitative and qualitative elements of the Shari'ate Value Added Statement can not presented separately.