Irana Astutiningsih
English Department, Faculty Of Humanities, Universitas Jember Jln.Kalimantan 37, Jember 68121

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

HIPERREALITAS DALAM NOVEL CYBERPUNK FREE TO FALL KARYA LAUREN MILLER Rahina Manik Wanodya; Hat Pujiati; Irana Astutiningsih
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakFree To Fall adalah sebuah novel cyberpunk yang ditulis oleh Lauren Miller. Sebagai sebuah novel cyberpunk, Free To Fall mengambil beberapa poin dari fiksi ilmiah dan fiksi postmodern. Novel ini berhubungan dengan teknologi dan efek dari teknologi yaitu hiperrealitas. Hiperrealitas adalah sebuah fenomena yang menyebabkan keterputusan antara yang asli dan tiruan. Hiperrealitas adalah topik utama dalam analisis ini. Analisis ini menggunakan metode analisis kualitatif. Data yang dikumpulkan adalah tentang informasi yang berhubungan dengan hiperrealitas di Free To Fall, informasi tentang Paradise Lost, dan kondisi Amerika saat ini terkait dengan perkembangan teknologi. Diskusi dimulai dengan analisis konstruksi fiksi cyberpunk yang menuntun pada diskusi tentang hiperrealitas. Dalam menganalisis hiperrealitas di Free To Fall, teori hiperrealitas oleh Baudrillard digunakan untuk menganalisis perubahan imaji tentang teknologi di dalam novel. diskusi berlanjut untuk menganalisis intertekstualitas antara Free To Fall dan Paradise Lost oleh John Milton. Selanjutnya, analisis ini juga mendiskusikan tentang kondisi Amerika yang digunakan untuk menunjukkan hubungan antara hiperrealitas di Free To Fall dan Amerika. Hasilnya, teknologi telah mengaburkan realitas dan membawa orang-orang menuju realitas buatan. Analisis tentang hiperrealitas menunjukkan bahwa terdapat simulasi dari simulasi di dalam Free To Fall. Selain itu, hiperrealitas di Amerika menunjukkan bahwa orang-orang Amerika menggunakan teknologi untuk menciptakan surga mereka sendiri dimana mereka mendapatkan kebahagiaan.
ANTI CAPITALISM THROUGH THE ADOPTION OF SOCIALIST IDEOLOGY SEEN IN JOHN STEINBECK’S THE GRAPES OF WRATH PANDANGAN ANTI KAPITALISME MELALUI ADOPSI IDEOLOGI SOSIALIS DALAM NOVEL THE GRAPES OF WRATH KARYA JOHN STEINBECK Silviana Selyandita; Imam Basuki; Irana Astutiningsih
Publika Budaya Vol 2 No 3 (2014): Nopember
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Through The Grapes of Wrath, Steinbeck shows his idea to protest against bourgeois class. He tells about the bad conditions faced by migrant workers in California. This novel is announcing that a worldwide of proletariat’s consciousness is in the process of formation for socialism. This consequence means that this novel connotatively saves the rejection of capitalism. Therefore, seen from this rejection and its involvement to portrait social conflict, this novel can be included as the part of social realism genre. To analyse this novel, Marx’s theory is applied. On Marxist perspective, Steinbeck’s novel is categorized as the superstructure basis. It is because this novel gives a portrait about the change of social system because of economic system called capitalism. As the part of social realism genre, however, Steinbeck applies Marx’s intention about the idea of socialism. He considers that there is a need for universal kinship to overcome this mass oppression occurred by capitalist class. This universal kinship will point to class struggle where at the end of the struggle, it emerges classless society. Keywords: Capitalism, Socialism, Universal Kinship ABTRAK Melalui The Grapes of Wrath, Steinbeck menunjukan kritiknya terhadap kelas borjuis. Ia menceritakan bagaimana kehidupan pekerja migran di California mendapat perlakuan begitu buruk. Karena itu, novel ini menawarkan sebuah solusi untuk mengatasi tindak-tindak opresif akibat sistem kapitalisme. Menurut Steinbeck salah satu caranya adalah dengan membentuk kesadaran kelas yang berujung pada terbentuknya sistem sosialisme. Dari sini juga, dapat diketahui bila novel ini termasuk dalam kategori novel realism social. Untuk itulah, teori Marxis digunakan untuk menyelidiki konsep-konsep sosialisme yang ditawarkan Steinbeck dalam novelnya. Ia ingin menunjukan bahwa kapitalisme dapat di atasi dengan adanya kesadaran kelas, dimana kelas proletar menyadari posisinya terhadap kelas borjuis. Kesadaran ini kemudian akan membawa sebuah rasa persaudaraan yang universal antar kelas proletar. Di titik inilah, serangan terhadap sistem kapitalisme dapat dimulai dengan memunculkan sebuah perjuangan kelas. Muara dari semua ini pada hakikatnya adalah menuju suatu masyarakat tanpa kelas. Kata Kunci: Kapitalisme, Persaudaraan Universal, Sosialisme
REPRESENTASI WACANA FANDOM DALAM NOVEL FANGIRL KARYA RAINBOW ROWELL Hat Pujiati; Irana Astutiningsih; Maya Novita Sari
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMelalui Fangirl, Rowell menyampaikan fenomena fandom dalam dua sudut pandang. Di satu sisi dia menunjukan pandangan seorang fan yang menilai fandom sebagai kegiatan yang wajar dan dia juga menunjukan gambaran orang-orang yang memberi penilaian buruk terhadap fandom. Wacana fandom di dalam novel dibentuk melalui karakter fiksi. Di dalam novel Fangirl terdapat pemeran utama dan pemeran pendukung yang memiliki perbedaan pandangan dalam menginterpretasikan sebuah teks. Teori representasi dan encoding/decoding oleh Stuart Hall diaplikasikan untuk menganalisa wacana fandom di dalam novel. Di dalam novel Fangirl, Rowell menunjukkan bahwa maksud dari sebuah teks tidak hanya dibentuk oleh satu pihak atau penulis saja tetapi juga bisa dibentuk oleh pembaca. Sebuah makna dibentuk melalui representasi wacana itu sendiri. Untuk menunjukan wacana fandom di dalam novel Fangirl, penelitian ini merangkum posisi karakter menjadi tiga grup sesuai dengan teori Hall yaitu posisi hegemoni dominan, negosiasi dan oposisi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahawa novel Fangirl merepresentasikan ketiga posisi proses decoding. Konstruksi wacana fandom di dalam novel memiliki keterkaitan dengan pemikiran masyarakat Amerika tentang fandom; sebagian dari mereka menolak dan sebagian menerima. Disisi lain penulis Fangirl meletakkan novel sebagai produk asli yang lebih layak untuk di apresiasi dibandingkan produk dari fan terutama fan fiction. Rowell mengembalikan lagi hal tersebut kepada hirarkinya bahwa posisi budaya subordinasi masih dibawah budaya populer.
PERSPEKTIF SANTRI DALAM KARYA SASTRA: SEBUAH REPRESENTASI WACANA RELIGIUS-HUMANIS Irana Astutiningsih; Hat Pujiati
POETIKA Vol 7, No 1 (2019): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v7i1.40902

Abstract

Pesantren  kerap dicurigai sebagai lahan subur penyemai bibit radikalisme yang mengancam keutuhan bangsa dan negara, sejatinya sangat akrab dengan nilai-nilai yang humanis, yang salah satunya direpresentasikan dalam karya sastra pesantren.  Kajian ini membincang representasi wacana religius-humanis dalam sastra pesantren sebagai objek material, berupa tiga cerita pendek berjudul “Di Antara Dua Pilihan”, “Cinta Sejati Itu Tidak Mudah”, dan “Seruas Bingung. Ketiganya” terbit di buletin Tanwirul Afkar, sebuah buletin salah pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Sukorejo, Jawa Timur. Oleh sebab itu, teori representasi Stuart Hall dipakai sebagai alat analisis. Terkait dengan pendekatan konstruksionis model diskursif Foucauldian yang bertitik tekan pada produksi pengetahuan melalui wacana yang melibatkan sistem bahasa, ketiga cerpen dianalisis dengan memetakan wacana religius-Humanis dan dikaitkan dengan latar kontekstual tempat wacana tersebut diproduksi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam sastra pesantren konstruksi wacana religius-humanis dihadirkan melalui nilai- nilai kemanusiaan yang universal, alih-alih terjebak pada dikotomi yang rigid antara benar dan salah, sebagaimana pemahaman yang kerap memicu radikalisme. Nilai religius justru hadir seiring dengan nilai kemanusiaan universal sebagai satu representasi keberpihakan santri penulis terhadap wacana religius-humanis melalui sastra pesantren.Kata Kunci: wacana; pesantren; sastra pesantren; religius-humanis; representasi Pesantren (Islamic Boarding School) is suspected as a fertile place for the radicalism which treat the united nations and states of Indonesia as a republic. As a religious school, pesantren is supposed to be representative for humanism since religion is taken as a living guide for human being. This article discusses representation of religious-humanist discourse in Pesantren Literature as the material object; they are short stories entitled: “Diantara Dua Pilihan”, “Cinta Sejati Itu Tidak Mudah” dan “Seruas Bingung”. The short stories were published in Tanwirul Afkar,a monthly bulletin in Salafiyah Syafi’iyah Islamic Boarding School at Sukorejo, Situbondo, East Java Indonesia. We apply Stuart Hall’s representation theory as a tool to analyze the stories. Focusing on Foucauldian’s discursive method in constructionist model that emphasizes on the knowledge production in discourses through language, we map the contextual background to find out the genealogy of religious-humanist discourse production. The result shows that religious-humanist discourses in Pesantren literary works are presented through universal human values, instead of being trapped in a rigid dichotomy between right and wrong that lead to a radicalism. Religiosity comes along with the universal human values as a representation of santri writers’s partialit on religious-humanist discourse through Pesantren literature.Keywords: discourse; pesantren; pesantren literature; religious-humanist; representation
THE REPRESENTATION OF WOMAN’S OPPRESSION IN LISA SEE’S SNOW FLOWER AND THE SECRET FAN Azara Nafia Irmadani; Supiastutik Supiastutik; Irana Astutiningsih
SEMIOTIKA: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik Vol 20 No 1 (2019): Semiotika: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik
Publisher : Diterbitkan oleh Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember bekerja sama dengan Himpunan Sarjana - Kesusastraan Indonesia (HISKI), Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) dan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/semiotika.v20i1.12832

Abstract

Snow Flower and The Secret Fan is one type of fiction novel written by Lisa See in 2005. Snow Flower and The Secret Fan tells about the lives of Chinese women in the nineteenth century where women's position was lower than men. In that era, there was a tradition that required women to tie their legs when they were young then caused them to endure unbearable pain because of a leg tie. By tying their legs, they can get married and improve their social status and bring them to a better life. Legs bound are to be sexually pleasure for men to achieve sexual satisfaction. In addition, in that era women were not permitted to get education like men. This problem was the impact of the Patriarchal culture. In the Patriarchal culture, there is a Confucian teaching that is used as a way of life for Chinese people. The teaching requires women to obey men: Father, husband, and later their sons. Therefore, Chinese women live as a second-class. In conducting this research, the author uses Representation Theory by Stuart Hall. Research shows that female oppression is clearly illustrated in the novel through a leg tie. Lisa See realistically describes the real conditions of women's oppression in China in the Snow Flower novel and The Secret Fan.
MULTILAYER RACISMS AS REPRESENTED IN ARUNDHATI ROY’S THE GOD OF SMALL THINGS Dwi Fatmawati; Irana Astutiningsih
SEMIOTIKA: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik Vol 21 No 1 (2020): Semiotika: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik
Publisher : Diterbitkan oleh Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember bekerja sama dengan Himpunan Sarjana - Kesusastraan Indonesia (HISKI), Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) dan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/semiotika.v21i1.12848

Abstract

This article discusses racism in India as illustrated in Arundhati Roy’s The God of Small Things. The novel contains racism issues in India in 19th century. In the novel, not only is racism experienced by coloured people as a result of white people discriminating them, but also among the coloured people themselves, experienced by those considered inferior based on caste. The research aims at figuring out how racism is constructed in The God of Small Things as well as knowing the ideological position of the author. Hence, Hall’s representation theory is used in this research focusing on discursive approach. The result shows that the author criticizes racism and people’s classification based on caste.
MAGICAL REALISM-LIKE IN SHAKESPEARE'S A MIDSUMMER NIGHT'S DREAM Dio Catur Prasetyohadi; Hat Pujiati; Irana Astutiningsih
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.535 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.508

Abstract

This article uses concepts of magical realism by Wendy B. Faris to analyze Shakespeare's A Midsummer Night's Dream. We analyze elements of magical realism of the work in mapping discourses between the text and the real life. The chosen material object that published earlier than the theory we chose make this work contributes to describe the trace of the civilization development; event of in-betweeness of human consciousness. However, we have found that A Midsummer Night’s Dream is only a magical realism-like mode, since realism is dominant in the text as the trace of modernity. Meanwhile, the characteristics of Magical Realism that is postulated by Faris is in-between realism and fantasy as a trace of transition era; modern to postmodern.Abstrak: Artikel ini menggunakan konsep-konsep realism magis oleh Wendy B. Faris untuk menganalisis “A Midsummer Night’s Dream” karya Shakespeare.  Kami menganalisis elemen-elemen realism magis yang ada dalam karya untuk memetakan wacana-wacana yang ada antara teks dan kenyataan. Pemilihan objek materi yang telah dipublikasi lebih awal dari kelahiran teori yangkami pilih ini berkontribusi untuk menjelaskan jejak perkembanan peradaban Kebudayaan; peristiwa keberantaraan pada kesadaran manusia. Namun demikian, kami menemukan bahwa “A Midsummer Night’s Dream” hanyalah moda tulisan Serupa Realisme Magis, karena dominan teks lebih pada realisme yang merupakan jejak dari modernitas. Sementara syarat realism magis yang ditawarkan Faris adalah keberantaraan realisme dan fantasi sebagai jejak era transisi modern menuju postmodern.
LAKI-LAKI “CANTIK” DI MATA PEREMPUAN: KONSTRUKSI TUBUH SUPERHERO DALAM SASTRA CYBER Irana Astutiningsih
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9382.925 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v2i2.408

Abstract

Jika perspektif feminisme pada umumnya banyak ‘mencurigai’ karya sastra sebagai arena eksploitasi tubuh perempuan oleh laki-laki, dan jika pada perkembangannya perempuan penulis telah cukup berbicara tentang tubuh perempuan seperti banyak tergambar dalam karya sastra2000-an, dalam artikel ini akan dipaparkan bagaimana perempuan berbicara tentang tubuh dan daya tarik seksual laki-laki dalam sastra cyber. Berangkat dari yang dikatakan Viires tentang sastra cyber, artikel ini memaparkan wacana gender dalam sastra cyber; atau lebih spesifik, tentang bagaimana perempuan penulis nonprofesional menkonstruksi tubuh maskulin dan daya tarik seksual laki-laki melalui fiksi yang mereka tulis dan unggah di internet. Uniknya, konstruksi tubuh ini diungkapkan melalui karakterisasi lelaki pecinta sesama jenis yang juga dideskripsikansebagai laki-laki cantik dalam karya fiksi mereka. Jika di dunia rill para perempuan tersebut kerapkali harus menghadapi kendala normatif untuk ‘bebas berbicara’ terkait dengan isu yang dianggap tabu, internet dengan karakteristiknya yang ‘demokratis’ telah membuka peluang bagi mereka untuk berbicara sebagai subjek. Dalam konteks ini, internet memberi kesempatan bagi para perempuan tersebut untuk mengonstruksi fantasi mereka terkait tubuh dan daya tarik lakilaki sesuai yang mereka inginkan melalui karaktesasi homoseksual, sebuah isu yang kerapkali dianggap tabu secara normatif di dunia riil.
FORMULAIC STRUCTURE IN THROUGH THE LOOKING GLASS BY LEWIS CARROLL Zafirna Arrofifah; Hat Pujiati; Irana Astutiningsih
Haluan Sastra Budaya Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v5i1.45263

Abstract

This article focuses on the formulaic stucture in a popular children’s literature entitled “Through the Looking Glass” by Lewis Carroll. This is aimed to analyze the formulaic stucture of the novel and the elements that caused the novel to become a popular children’s literature in Victorian era, which is undoubtedly related to the Victorian values in Britain.Formula theory by John G. Cawelti is used to analyze the novel. The story of the novel is about a little girl named Alice who wants to be the queen when she is stranded in another world called Looking Glass after leaning into a mirror in her painting room. Result of this research shows that Lewis Carroll’s “Through the Looking Glass” is written using adventure typologyshown through a hero with a goal to reach. The novel also uses fantasy and Victorian era setting to support the suspense.Furthermore, what made the story popular in the era is the need of escape provided by the novel for Victorian children through Alice’s adventure.
The Construction of Racism in Edward P Jones’s The Known World: A Genetic Structuralism Analysis Irana Astutiningsih
Metahumaniora Vol 7, No 1 (2017): METAHUMANIORA, APRIL 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i1.23322

Abstract

Wacana diskriminasi rasial telah  menjadi perbincangan yang tak henti baik dalam konteks akademik maupun non-akademik. Sebagai hasil penelitian, artikel ini membincang wacana rasisme yang mewujud dalam konteks perbudakan dengan objek materi novel The Known World, sebuah novel karya Eward P Jones yang diterbitkan  tahun 2003 dan berlatar fenomena perbudakan di abad ke-19. Dengan merujuk pada teori Strukturalisme Genetik yang digagas Lucien Goldman, riset ini berupaya untuk mengetahui bagaimana wacana rasis dalam perbudakan dikonstruksi dalam novel terkait dengan latar kontekstualnya di Amerika pada abad ke-19. Lebih jauh lagi, riset ini juga berupaya menemukan pandangan dunia terkait persoalan rasis sebagaimana terkonstruksi dalam novel. Melalui metode dialektik Goldman, hasil analisis menunjukkan bahwa diskriminasi rasial tidak hanya dilakukan oleh orang-orang kulit putih terhadap kulit hitam sebagai budak mereka, namun juga dilakukan oleh orangorang kulit hitam terhadap sesama kulit hitam. Dengan kata lain, ada wacana rasisme internal dimana orang kulit hitam yang telah dibebaskan dari perbudakan kembali mereproduksi wacana perbudakan dan rasisme dengan cara memiliki budak kulit hitam.