Irana Astutiningsih
English Department, Faculty Of Humanities, Universitas Jember Jln.Kalimantan 37, Jember 68121

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

MARKETING CONFLICT AND SHARPENING ANTAGONISM: DOCUMENTING AND PRESERVING SOCIAL DIVISION IN THE FILM 3 HATI DUA DUNIA SATU CINTA Hartanto, Denny Antyo; Murti, Ghanesya Hari; Sukmawati, Ni Luh Ayu; Astutiningsih, Irana
Capture : Jurnal Seni Media Rekam Vol. 14 No. 2 (2023)
Publisher : Seni Media Rekam ISI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/capture.v14i2.4982

Abstract

This research analyzes the 2010 film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta (3 Hearts Two Worlds One Love) amidst the social phenomenon indicating increased religious intolerance. Additionally, this study seeks to analyze social urban society's phenomenon and disparity through the film's narrative and characters. This research also seeks to understand the film's impact on urban society's heterogeneity from the spatial politics perspective. The study employed the qualitative method with narrative and discourse analysis approaches using Laclau-Mouffe's antagonistic framework. Data was collected by watching and directly analyzing the film and through relevant literature studies. The research results indicate that the film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta successfully utilized the social phenomenon as a marketing strategy, maintained disparity through its narrative and characters, resulted in subject dislocation towards a certain hegemonic identity, and influenced the heterogeneity of urban society from the perspective of spatial politics. 
MARKETING CONFLICT AND SHARPENING ANTAGONISM: DOCUMENTING AND PRESERVING SOCIAL DIVISION IN THE FILM 3 HATI DUA DUNIA SATU CINTA Hartanto, Denny Antyo; Murti, Ghanesya Hari; Sukmawati, Ni Luh Ayu; Astutiningsih, Irana
Capture : Jurnal Seni Media Rekam Vol. 14 No. 2 (2023)
Publisher : Seni Media Rekam ISI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/capture.v14i2.4982

Abstract

This research analyzes the 2010 film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta (3 Hearts Two Worlds One Love) amidst the social phenomenon indicating increased religious intolerance. Additionally, this study seeks to analyze social urban society's phenomenon and disparity through the film's narrative and characters. This research also seeks to understand the film's impact on urban society's heterogeneity from the spatial politics perspective. The study employed the qualitative method with narrative and discourse analysis approaches using Laclau-Mouffe's antagonistic framework. Data was collected by watching and directly analyzing the film and through relevant literature studies. The research results indicate that the film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta successfully utilized the social phenomenon as a marketing strategy, maintained disparity through its narrative and characters, resulted in subject dislocation towards a certain hegemonic identity, and influenced the heterogeneity of urban society from the perspective of spatial politics. 
Penerapan Strategi Manajemen dan Pemasaran Digital pada Usaha Mahasiswa Beady-Eyed di Era Ekonomi Kreatif Alfira Cindy Ramadhani; Bintang Putra Hidayatullah; Farras Shidqi; Nur Laili Rahmania; Jessinta Dwi Alexa Nanda; Irana Astutiningsih
Journal of Management, Accounting, and Administration Vol. 2 No. 3: January - March 2026
Publisher : Institut Nurul Islam Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52620/jomaa.v2i3.206

Abstract

Di era ekonomi kreatif, strategi manajemen dan pemasaran digital menjadi faktor utama dalam meningkatkan daya saing usaha kecil, terutama bagi pelaku usaha mahasiswa. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan penerapan strategi manajemen dan promosi digital pada usaha mahasiswa Beady-Eyed, yang bergerak di bidang aksesoris handmade. Kegiatan dilakukan menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi aktivitas promosi digital, wawancara dengan pemilik usaha, serta analisis interaksi pelanggan dan hasil penjualan. Strategi promosi yang diterapkan meliputi penggunaan media sosial Instagram sebagai platform utamadengan konsep puzzle feed, konten visual interaktif, serta pemanfaatan WhatsApp Business sebagai saluran komunikasi dan layanan pelanggan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penerapan promosi digital dengan desain visual konsisten, interaksi real-time, dan kemasan produk yang mengandung elemen sastra mampu meningkatkan keterlibatan pelanggan serta memperkuat identitas merek. Selain itu, terdapat peningkatan signifikan dalam penjualan pada periode promosi kedua setelah strategi digital diterapkan secara terencana dan berkelanjutan. Kesimpulan dari kegiatan ini menegaskan bahwa integrasi antara manajemen usaha, kreativitas visual, dan teknologi digital berperan penting dalam memperkuat efektivitas promosi, meningkatkan loyalitas pelanggan, serta mendorong pertumbuhan usaha mahasiswa di era ekonomi kreatif yang kompetitif dan dinamis.
LAKI-LAKI “CANTIK” DI MATA PEREMPUAN: KONSTRUKSI TUBUH SUPERHERO DALAM SASTRA CYBER Irana Astutiningsih
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v2i2.408

Abstract

Jika perspektif feminisme pada umumnya banyak ‘mencurigai’ karya sastra sebagai arena eksploitasi tubuh perempuan oleh laki-laki, dan jika pada perkembangannya perempuan penulis telah cukup berbicara tentang tubuh perempuan seperti banyak tergambar dalam karya sastra2000-an, dalam artikel ini akan dipaparkan bagaimana perempuan berbicara tentang tubuh dan daya tarik seksual laki-laki dalam sastra cyber. Berangkat dari yang dikatakan Viires tentang sastra cyber, artikel ini memaparkan wacana gender dalam sastra cyber; atau lebih spesifik, tentang bagaimana perempuan penulis nonprofesional menkonstruksi tubuh maskulin dan daya tarik seksual laki-laki melalui fiksi yang mereka tulis dan unggah di internet. Uniknya, konstruksi tubuh ini diungkapkan melalui karakterisasi lelaki pecinta sesama jenis yang juga dideskripsikansebagai laki-laki cantik dalam karya fiksi mereka. Jika di dunia rill para perempuan tersebut kerapkali harus menghadapi kendala normatif untuk ‘bebas berbicara’ terkait dengan isu yang dianggap tabu, internet dengan karakteristiknya yang ‘demokratis’ telah membuka peluang bagi mereka untuk berbicara sebagai subjek. Dalam konteks ini, internet memberi kesempatan bagi para perempuan tersebut untuk mengonstruksi fantasi mereka terkait tubuh dan daya tarik lakilaki sesuai yang mereka inginkan melalui karaktesasi homoseksual, sebuah isu yang kerapkali dianggap tabu secara normatif di dunia riil.
Africanfuturism and Magical Realism In Okorafor’s ‘Hello Moto’ M. Daffa Aufa Rifqi Amran; Irana Astutiningsih; Dina Dyah Kusumayanti; Dewianti Khazanah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.7765

Abstract

This article uses the concepts of Magical Realism by Wendy B. Faris (2004) and Africanfuturism by Okorafor (2019) to analyze ‘Hello Moto’ by Nnedi Okorafor (2011). We analyzed the magical elements and concepts of African futurism in Okorafor's short stories to explain the author's intention in writing her works, which mostly use similar themes such as postcolonialism. After analyzing these two concepts, it was found that Nnedi Okorafor, through her work 'Hello Moto' reflects a postcolonial perspective on cultural hybridity by presenting advanced technology in the form of wigs and combining it with the power of black magic which can release powers such as transmission and mind control. There is a blend of Eastern and Western culture in 'Hello Moto' based on the above explanation. The contribution of this study lies in its exploration of Africanfuturism uniquely represented in Okorafor’s ‘Hello Moto’ as a medium for postcolonial discourse, showcasing how her work reimagines technological advancement through an African cultural lens while bridging traditional and modern worlds. AbstrakArtikel ini menggunakan konsep Realisme Magis oleh Wendy B. Faris (2004) dan Africanfuturisme (2019) untuk menganalisis ‘Hello Moto’ karya Nnedi Okorafor (2011). Kami menganalisis elemen magis dan konsep africanfuturisme yang terdapat di dalam cerita pendek karya Okorafor untuk menjelaskan niat penulis menulis karya-karyanya yang kebanyakan menggunakan tema yang serupa yakni tentang poskolonialisme Setelah menganalisis kedua konsep tersebut, ditemukan bahwa Nnedi Okorafor melalui karyanya ‘Hello Moto’ mencerminkan perspektif postkolonial tentang hibriditas budaya dengan menghadirkan teknologi canggih berupa wig dan memadukannya dengan kekuatan ilmu hitam yang dapat melepaskan kekuatan seperti teleportasi dan pengendalian pikiran. Terdapat perpaduan budaya Timur dan Barat dalam ‘Hello Moto’ berdasarkan penjelasan di atas. Kontribusi penelitian ini terkait dengan eksplorasi Afrofuturism sebagaimana direpresentasi dalam ‘Hello Moto’ sebagai media wacana pascakolonial, dimana kemajuan teknologi di kultur Afrika digambarkan dengan cara menjembatani dunia tradisional dan modern.
MAGICAL REALISM-LIKE IN SHAKESPEARE'S A MIDSUMMER NIGHT'S DREAM Dio Catur Prasetyohadi; Hat Pujiati; Irana Astutiningsih
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.508

Abstract

This article uses concepts of magical realism by Wendy B. Faris to analyze Shakespeare's A Midsummer Night's Dream. We analyze elements of magical realism of the work in mapping discourses between the text and the real life. The chosen material object that published earlier than the theory we chose make this work contributes to describe the trace of the civilization development; event of in-betweeness of human consciousness. However, we have found that A Midsummer Night’s Dream is only a magical realism-like mode, since realism is dominant in the text as the trace of modernity. Meanwhile, the characteristics of Magical Realism that is postulated by Faris is in-between realism and fantasy as a trace of transition era; modern to postmodern.Abstrak: Artikel ini menggunakan konsep-konsep realism magis oleh Wendy B. Faris untuk menganalisis “A Midsummer Night’s Dream” karya Shakespeare.  Kami menganalisis elemen-elemen realism magis yang ada dalam karya untuk memetakan wacana-wacana yang ada antara teks dan kenyataan. Pemilihan objek materi yang telah dipublikasi lebih awal dari kelahiran teori yangkami pilih ini berkontribusi untuk menjelaskan jejak perkembanan peradaban Kebudayaan; peristiwa keberantaraan pada kesadaran manusia. Namun demikian, kami menemukan bahwa “A Midsummer Night’s Dream” hanyalah moda tulisan Serupa Realisme Magis, karena dominan teks lebih pada realisme yang merupakan jejak dari modernitas. Sementara syarat realism magis yang ditawarkan Faris adalah keberantaraan realisme dan fantasi sebagai jejak era transisi modern menuju postmodern.
THE ROLE OF KOREAN CUISINE IN NEGOTIATING CULTURAL IDENTITY IN MICHELLE ZAUNER’S CRYING IN H MART Tri Wijayanto, M. Ganjar; Setiawan, Ikwan; Astutiningsih, Irana
Metahumaniora Vol 15 No 3 (2025): METAHUMANIORA, DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v15i3.63866

Abstract

This research discusses Zauner’s journey of identity as a second-generation Korean American diaspora living in America. She wants to negotiate her Korean identity in a dominant society using Korean cuisine as the ultimate gateway. The data for this research were taken from a memoir titled Crying in H Mart by Michelle Zauner, analyzed using Stuart Hall’s Cultural Identity theory, specifically the concepts of being, becoming, and positioning, to clarify how Zauner’s identity journey unfolded. This research aims to reveal the construction of diaspora cultural identity through cultural negotiation, utilizing Korean cuisine as a primary tool to explore cultural heritage. The results of this research indicate that Zauner’s identity is not static but dynamic instead, representing her complex life journey. Before deciding to negotiate her Korean identity, Zauner experienced many things in America, including discrimination that once made her ashamed of her Korean heritage. As she matured, she realized that Korean cuisine was not merely a means of sustenance but a tool for navigating Korean culture within American society. Thus, it becomes evident how the writing in this memoir constructs a framework that reveals the author’s purpose in writing the memoir or the author’s position. There is a construction of soft power diplomacy in her memoir, emphasizing detailed descriptions of cooking methods, serving, and Korean cuisine.