Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM FILM WARKOP DKI REBORN JANGKRIK BOSS PART 1 DALAM PERSPEKTIF GENDER Anang Sulistiono; Sulih Indra Dewi
JISIP : Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.757 KB) | DOI: 10.33366/jisip.v8i4.2019

Abstract

Abstrak: Kertelibatan perempuan dalam suatu industri perfilaman baik internasional maupun lokal belum diperhitungkan dalam segi perannya, namun perempuan lebih bisa dimanfaatkan sebagai alat industrialisasi untuk meraup keuntungan dari citra yang dibawa oleh perempuan itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi perempuan dalam film dan bagaimana representasi perempuan dilihat dari perspektif gender dalam film warkop DKI Reborn  Jangrik Boss Part 1. Penelitian ini mengggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, menggunakan model analisa data interaktif Miles dan Huberman (2014) yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. hasil dari penelitian ditemukan bahwa 1) representasi perempuan masih tetap mendapatkan perlakuan gender dari masyarakat dan masih menjadi penomor dua setelah laki-laki. Perannnya dalam film masih menjelaskan terkait pemberian tugas yang tumpang tindih dan tidak adil; 2) beberapa ketidakadilan gender yang terkandung dalam film Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 yakni gender dan stereotipe, yang menunjukkan perempuan masih matrealistis dan suka menggoda laki-laki, termasuk pandangan masyarakat tentang perempuan berpakaian ketat dan terbuka sebagai perempuan nakal; gender  dan Violence yang ada dalam film ini adalah kekerasan non-verbal; gender dan Subordinasi yang mengungkapkan perempuan dengan peran di ruang domestik maupun ruang komersil masih mendapatkan perlakuan yang berbeda di bandingkan laki-laki; serta gender dan Beban kerja, yang menggambarkan bagaimana perempuan baik di ruang domestik maupun  ruang komersil masih memiliki beban kerja berlipat-lipat.  Kata Kunci: DKI Reborn, Perempuan, Representasi, Perspektif Gender Abstract: The involvement of women in a film industry both internationally and locally has not been taken into account in terms of their role, but women are more able to use it as an industrial tool to reap the rewards of the image that women themselves need. This study discusses the representation of women in film and how women's representation is viewed from a gender perspective in the DKI Reborn Jangrik Boss movie warkop Part 1. This study uses descriptive qualitative research methods by collecting data using documentation techniques,using the interactive data analysis model of Miles and Huberman (2014) which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study found that 1) representation of women still get gender treatment from the community and is still number two after men. His role in the film still explains the assignment of overlapping and unfair tasks; 2) some gender inequities contained in the film Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 namely gender and stereotypes, which shows women are still realistic and like to tease men, including the public's view of women dressed tightly and openly as naughty women; gender and Violence in this film are non-verbal violence; gender and Subordination which reveal women with roles in the domestic and commercial space still get different treatment compared to men; and gender and workload, which illustrates how women in both domestic and commercial spaces still have multiplied workloads. Keywords: DKI Reborn, Women, Representation, Gender Perspective
STRATEGI KOMUNIKASI DUTA HIV/AIDS DALAM KAMPANYE HIV/AIDS DI KALANGAN TRANSGENDER PADA IKATAN WARIA MALANG Yuni Lasari; Sulih Indra Dewi; Carmia Diahloka
JISIP : Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.492 KB) | DOI: 10.33366/jisip.v4i3.129

Abstract

IWAMA merupakan perkumpulan khusus kalangan waria yang aktif dalam mengkampanyekan HIV/AIDS. Meski waria merupakan orang yang rentan terkena penyakit HIV/AIDS ini, tetapi organisasi ini memiliki seorang Duta HIV/AIDS yang bertugas tidak hanya mengkampanyekan program HIV/AIDS kepada audiens yang berasal dari kelompok mereka, melainkan juga semua kalangan masyarakat. Selain cara berkomunikasi yang unik dan pembawaan kaum transgender dalam berkomunikasi seputar program HIV/AIDS yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya, duta HIV/AIDS IWAMA ini juga memiliki Strategi Komunikasi dalam kampanye HIV/AIDS. Hal ini dirasa cukup menarik, mengingat peneliti berharap dapat melihat pandangan transgender mengenai kampanye yang dilakukan Duta HIV/AIDS IWAMA dan seberapa besar efektifitas kampanye tersebut untuk kalangan waria tersendiri. Dan ini merupakan hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain. Sementara sumber data ialah berupa wawancara informan terkait dan studi buku serta referensi yang berkaitan dengan strategi komunikasi dalam kampanye HIV/AIDS. Teknik analisis data ialah dengan menggunakan model Miles dan Huberman berupa tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Kata Kunci : IWAMA, strategi, duta HIV/AIDS, kampanye HIV/AIDS, waria
EKSPLOITASI PEREMPUAN DALAM APLIKASI BIGO LIVE DITINJAU DARI PERSPEKTIF FEMINISME MARXIS-SOSIALIS Husen Bin Tahir; Sulih Indra Dewi
JISIP : Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.995 KB) | DOI: 10.33366/jisip.v8i1.1529

Abstract

Abstract: Bigo Live becomes the famous sosial mediadownloaded in Indonesia. The majority of Bigo Live users are woman, this is became phenomenal because woman become the object of exploitation in that application. Purpose of this research (1) to find out types of woman exploitation in Bigo Live aplication. (2) to find out woman exploitation in Bigo Live application according to Feminisme Marxis-Sosialis prespective. This Research using descriptive qualitative methods. Techniques of data collection by observation, interview and documentation. Intend tofind the results of the research about woman exploitation in the Bigo Live application according to Feminisme Marxis-Sosialis prespective. Exploitation that occurs in woman in Bigo Live applicaition, find main problem , according to the purpose and benefits of the research. Research conducted on Bigo Live Social Media. Result of the research (1) Exploitation of woman is carried out by viewers even broadcaster in live streaming. Exploitation includes sexsuality, force labor/slavery up to revocation of social status. Maxris decide that exploitation have three pillars (1) technology advances. (2) socialism occurs because of control over treasure, property, and income. (3) political economy is related to politics where there is mutual need to support economic status in society. Keywords: Bigo Live, Exploitation, Feminisme Marxis-SosialisAbstrak: Bigo Live menjadi media sosial yang terkenal dan banyak di unduh di Indonesia. Mayoritas pengguna Bigo Live adalah kaum perempuan, hal ini menjadi fenomena karena perempuan yang menjadi bahan eksploitasi dalam aplikasi tersebut. Tujuan dari penelitian ini (1) Untuk mengetahui bentuk-bentuk eksploitasi perempuan dalam aplikasi bigo live. (2) Untuk mengetahui eksploitasi perempuan dalam aplikasi bigo live menurut prespektif Feminisme Marxis-Sosialis Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dukumentasi. Bermaksud menemukan hasil penelitian tentang Ekspliotasi Perempuan Dalam Aplikasi Bigo Live Ditinjau Dari Perspektif Feminisme Marxis-Sosialis. Bentuk eksploitasi yang terjadi terhadap kaum perempuan dalam aplikasi Bigo Live, temukan poin masalah, sesuai tujuan dan manfaat penelitian. Penelitian di lakukan pada media sosial Bigo Live. Hasil penelitian yang diperoleh (1) Eksploitasi terhadap perempuan dilakukan oleh viewers maupun broadcaster itu sendiri  dalam live streaming. Ekspolitasi meliputi seksual, kerja paksa/perbudakan hingga penghambatan status sosial. Marxis sendiri menyimpulkan bahwa eksploitasi yang terjadi memiliki tiga pilar (1) Struktural ketidak siapan pemerintah dan masyarakat sosial dalam menghadapi dan merancang peraturan mengenai kemajuan teknologi. (2) Sosialime terjadi dikerenakan adanya kontrol atas harta, benda dan  pendapatan. (3) Ekonomi Politik berkaitan erat dengan politik dimana adanya saling membutuhkan demi menunjang status ekonomi di masyarakat. Kata Kunci: Bigo Live, Eksploitasi, Feminisme Marxis-Sosialis
PELAKSANAAN PROGRAM BERAS UNTUK KELUARGA MISKIN (RASKIN) DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN DI KOTA BATU Carmia Diahloka; Sulih Indra Dewi
REFORMASI Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.063 KB) | DOI: 10.33366/rfr.v3i2.37

Abstract

The more and more of poor communities in the urban area has changing lane of target direction when disscussing about poverty. Urban poverty potentially become a source of social economic and social politic problems which can be fatal for society in a bigger scale. A qualitative method is used in this reseach based on reality in the field where a data collected by involved directly in the programme implementation. The result of this research showed that 1) Implementation of Raskin Programme in Batu barely having no difficulties, however there is still a lack of fund in Raskin distribution so regional government aiding a help through their APBD 2) expected role of the community will be very helpful for stimulation process in where at the same time boost empowerment of those poor community, 3) empowering process that happen in Raskin programme is showing a very healthy progress to combat poverty and giving a good impact to elevate their welfare and food self family.
CULTURE SHOCK DAN AKULTURASI DALAM LINGKUNGAN BUDAYA BELANDA Sulih Indra Dewi
REFORMASI Vol 3, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.411 KB) | DOI: 10.33366/rfr.v3i1.33

Abstract

Au pair for some Indonesian people is still a strange term, but this program is getting popular nowadays among Indonesian young women. This program gives opportunities to learn language, culture and also valuable life experiences. The Netherlands as one of the destination countries offers challenges for the participants to cope with cultural differences. The participants have experienced cultural friction and how they survived during the period of time, which is the focus of the study. This research used descriptive qualitative research method in collecting data by direct observation, participative, in depth interview and documentation. The respondents were taken with purposive sampling technique. To measure the data validity, the researcher used trust degree technique, there are peer debriefing and triangulation. Next, the data analysis used Miles and Huberman (1992) interactive data analysis which consist of data reduction, data display, conclusion withdrawal and verification.This study finally revealed some important result as follow: (1) The biggest motivation to join this program is getting experience living abroad; (2) All of the participants of this program experienced culture shock about food, life style and weather during their stay; (3) The internal factor and external factor helped the participants to acculturate in Dutch culture; (4) In general the smaller and shorter culture shock of the participants the easier acculturation process.
PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PENYIMPANGAN PERILAKU REMAJA (CYBERBULLYING) Dinar Primasti; Sulih Indra Dewi
REFORMASI Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.648 KB) | DOI: 10.33366/rfr.v7i2.754

Abstract

Abstract: The access to internet today is not merely to interact with other people, but also to socialize so the user will have a close relation with the real world. Facebook is one of social media which grows significantly nowdays. This research aimed to find out the effect of social media, facebook precisely to the misbehavior among teenagers. The focus of this research was the cyberbullying by teenagers which recently happens quite often. The method of this research is quantitative and involved students from High Schools and Vocational High Schools in Malang. The research showed a significant correlation between the using of facebook with the cyberbullying among teenagers in Malang. Keywords: Social Media, Cyberbullying, Facebook.
Analisis Film Kartini Dalam Perspektif Kesetaraan Gender Fansier Hamdja; Fathul Qorib; Sulih Indra Dewi
JURNAL SOSIAL Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 21 No. 1 (2020): JURNAL SOSIAL
Publisher : Universitas Merdeka Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33319/sos.v21i1.48

Abstract

The purpose of this study was to determine the efforts of gender equality contained in the Kartini film through the semiotic study of Roland Barthes. Roland Barthes's analysis is used to find out the meaning of denotation, connotation, and myth in an image contained in artistic visualization, act, and dialogue in the film "Kartini". The results of this study that the connotation meaning of the Kartini film in the perspective of gender equality is an effort to fight for gender equality by Kartini as a woman who likes to write and teach literacy to others while denotative meaningthe effort to fight for gender equality in Kartini's film is that Kartini struggles through the path of literacy because literacy is a good way to fight for gender equality, with literacy she breaks Javanese culture which considers women unequal to men andhave abilities below men.Keywords: Semiotics, Kartini, Gender equality. Keywords—: Semiotics; Kartini; Gender Equality.
Praktik Siniar dan Gerakan Literasi Perempuan Sulih Indra Dewi; Yuni Lasari; Dinar Primasti
Biokultur Vol. 11 No. 2 (2022): Peningkatan Literasi Kearifan Lokal
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v11i2.41737

Abstract

Pemanfaatan media baru bagi perempuan menjadi kajian yang menarik untuk dibahas. Perkembangan internet sudah tidak bisa dibendung dan setiap orang bisa ikut berpartisipasi di dalamnya termasuk perempuan. Perempuan memanfaatkan platform siniar atau podcast untuk menyuarakan gerakan literasi digital bagi perempuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaiamana gerakan literasi perempuan dengan menggunakan media baru dalam praktik siniarnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus pada siniar Suara Puan yang dikelola oleh tiga orang perempuan, yaitu Stefany, Putri dan Idha. Suara Puan merupakan podcast exclusive Spotify yang berfokus pada literasi. Data penelitian diperoleh dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan mampu menunjukkan kemampuannya dalam industri siniar/podcast yang didominasi oleh laki-laki. Suara Puan mampu menjadi ruang literasi bagi perempuan. Tanpa disadari siniar Suara Puan secara aktif telah melakukan gerakan literasi bagi perempuan sebagai bentuk digital activism. Suara Puan mampu menjawab keraguan bahwa perempuan gagap terhadap teknologi dengan memunculkan konten yang menarik dan mendatangkan keuntungan secara finansial. Respon dari pendengar siniar inipun sangat positif karena mereka merasa diajak untuk mencintai literasi dengan memanfaatkan media baru yang lebih akrab bagi mereka dan memunculkan kesadaran-kesadaran baru sebagai perempuan. Sebagai sebuah aktifisme, meskipun tidak secara terang-terangan diakui oleh para pembuat, tapi dengan secara konsisten membangun kesadaran literasi menjadikan praktik siniar ini mampu menggerakkan pendengarnya. Kata Kunci: Podcast, Siniar, Perempuan, Literasi digital, media baru, digital activism
12 Warna Maskulinitas: Standar Baru Maskulinitas Dalam Iklan Kosmetik Nature Republic Rinata, Asfira Rachmad; Dewi, Sulih Indra; Lasari, Yuni
Jurnal Representamen Vol 8 No 2 (2022): Jurnal Representamen Volume 8 No 02 Oktober 2022
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.512 KB) | DOI: 10.30996/representamen.v8i2.7122

Abstract

Abstrak Iklan menjadi alat promosi yang juga dapat menyebarkan ideologi, gaya hidup, dan budaya yang mempengaruhi pembentukan persepsi publik. Salah satu masalah dalam iklan adalah bias representasi gender dalam iklan. Sebelumnya Pria dalam iklan dicitrakan sebagai makhluk yang kokoh dan tangguh. Di sisi lain, wanita sebagai makhluk yang lemah lembut dan anggun. Namun saat ini konsep gender dalam iklan telah berubah, seperti pada iklan kosmetik Nature Republic yang menggunakan model pria yaitu idola K-pop EXO sebagai model iklannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana citra seorang pria ditampilkan dalam sebuah iklan kosmetik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes dengan objek penelitian yaitu iklan kosmetik Nature Republic “12 Shades of Light” yang terdiri dari 6 versi video. Penelitian ini menampilkan berbagai citra yang divisualisasikan melalui gaya rambut, efek pencahayaan, warna, gaya pakaian, ekspresi, dan gestur tubuh. Diantaranya adalah citra pria cantik, pria gentleman, pria flamboyan, pria anggun, pria misterius, pria lugu, pria sensual, pria menawan, pria imut, pria baik, pria pemberani dan citra dari seorang pria seksi. Gambar-gambar ini menunjukkan standar baru dalam maskulinitas. Bahwa kini, penampilan yang rapi dan penampilan fisik yang prima merupakan hal yang wajib dimiliki oleh seorang pria. Kosmetik menjadi kebutuhan para pria masa kini untuk menunjang penampilan mereka. Gambar-gambar yang ditampilkan menunjuk pada jenis pria maskulinitas lembut ini menunjukkan bagaimana media menetapkan standar baru untuk pria. Pria bisa menjaga penampilan dan menunjukkan sisi lembutnya. Hal ini membuktikan bahwa gender merupakan hasil konstruksi sosial yang akan terus berubah dari waktu ke waktu. Kata kunci: iklan, kosmetik, citra, laki-laki, soft masculinity
Penguasaan Tubuh Perempuan Oleh Budaya Patriarki Dalam Film Yuni Tania Zahirah Salwa; Sulih Indra Dewi; Asfira Rachmad Rinata
Lenvari: Journal of Social Science Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/jss.v1i1.23

Abstract

Patriarchal culture tends to exclude women, can bring up various social problems that shackle women’s freedom and curb the rights that women should have. This is what causes discrimination against women, especially against women’s bodily autonomy. This social reality is often raised in a media, especially a film. One of the films with the theme of women living in patriarchal shackles is Yuni’s film. The purpose of this study is to determine the mastery of women’s bodies by the patriarchal culture contained in Yuni’s film using the concept of critical discourse analysis by Norman Fairclough. According to Norman, the discourse in this film can be in form of text analysis, discursive practice, and socio-cultural practice. The type of research used is descriptive qualitative with approach Critical Discourse Analysis (CDA) in order to reveal more deeply the mastery of women’s bodies by patriarchal culture in Yuni’s film. The results of this study reveal that there are three forms of mastery over women’s bodies by patriarchal culture in Yuni’s film, namely (1) control over sexuality, (2) control over reproduction, and (3) control over movement space.