Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Dinamika Kualitas Air pada Kolam Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) dengan Media Air Laut Buatan dan Perlakuan Dosis Fermentasi Bekatul yang Berbeda: Dynamics of Water Quality in Cultivating Ponds for Vannamei Shrimp (Litopenaeus Vannamei) Using Artificial Sea Water and Treatment with Different Rice and Fermentation Doses Suryanto Hertika, Asus Maizar; Musa, Muhammad; Arfiati, Diana; Risjani, Yenny; Rahardjo, Seto Sugianto Prabowo; Supriatin, Febriyani Eka; Nurdiani, Rahmi; Andayani, Sri; Utami, Tiwi Nurjannati; Putra, Renanda Baghaz D.S.; Ertikasari, Nuning; Kurnianingsih, Asmiyati; Alfarisi, Muhammad Asnin; Savira, Riza; Aisyah, Jumrotul; Patresna, Laelatul Nisa
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.14

Abstract

Udang vaname merupakan biota budidaya yang sangat rentan terhadap lingkungan sekitarnya. Kondisi kualitas air yang tidak ideal dapat mengakibatkan udang mengalami stress dan menghambat pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan dosis yang tepat dari pemberian fermentasi bekatul dan EM4 sebagai probiotik berdasarkan dampaknya terhadap perbaikan kualitas air kolam budidaya udang vaname. Penelitian ini dilakukan dengan mengaplikasikan 3 perlakuan berbeda terdiri dari kontrol, perlakuan 1 dengan dosis fermentasi bekatul 25 g dan EM4 10 ml dan perlakuan 2 dengan dosis fermentasi bekatul 50 g dan EM4 20 ml. Parameter kualitas air yang diukur sebanyak tujuh yaitu suhu, oksigen terlarut, pH, nitrat, nitrit, ammonia, dan fosfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kualitas air kolam udang cukup ideal dan perlakuan 1 dengan dosis fermentasi bekatul 25 g dan EM4 10 ml secara konsisten lebih unggul dalam memperbaiki kondisi kualitas air dibandingkan dengan perlakuan lainnya.   Vannamei shrimp are cultured biota that are very vulnerable to the surrounding environment. Water quality conditions that are not ideal can cause shrimp to experience stress and inhibit their growth. This study aimed to determine the appropriate dose of fermented rice bran and EM4 as probiotics based on their impact on improving the water quality of vannamei shrimp culture ponds. This study was conducted by applying 3 different treatments consisting of control, treatment 1 with fermented rice bran dose of 25 g and EM4 10 ml and treatment 2 with fermented rice bran dose of 50 g and EM4 20 ml. Seven water quality parameters were measured, temperature, dissolved oxygen, pH, nitrate, nitrite, ammonia, and phosphate. The results showed that the water quality conditions of shrimp ponds were quite ideal and treatment 1 with a fermentation dose of 25 g rice bran and 10 ml EM4 was consistently superior in improving water quality conditions compared to other treatments.
PENERAPAN MODEL REGRESI KUANTIL UNTUK MENGANALISIS HUBUNGAN PANJANG-BERAT IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI KOLAM IBAT PUNTEN, BATU Lusiana, Evellin Dewi; Musa, Muhammad; Ramadhan, Syahril
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 2 No. 3 (2018): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.4

Abstract

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang banyak digemari dan bersifat potensial dalam proses budidaya. Permintaan terhadap komoditas ini selalu meningkat, sehingga menjadi kesempatan bagi para pembudidaya untuk meningkatkan hasil produksi. Kondisi lingkungan perairan berperan penting dalam kelancaran proses budidaya ikan. Adapun salah satu cara yang bisa digunakan untuk menilai kondisi lingkungan perairan adalah melalui analisis hubungan panjang-berat. Hasil dari analisis hubungan tersebut yakni berupa faktor kondisi allometris dapat digunakan untuk menilai karakteristik fisiologis ikan, siklus hidup, kondisi lingkungan sekitar dan ketersediaan makanan. Umumnya, hubungan panjang berat dianalisis dengan pendekatan regresi linier sederhana di mana memiliki kelemahan yaitu sangat dipengaruhi oleh nilai ekstrim/outlier sehingga tidak mampu menggambarkan distribusi data secara keseluruhan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan alternatif metode lain yaitu regresi kuantil yang mampu menjelaskan hubungan panjang-berat ikan secara lebih menyeluruh. Data sampel ikan yang digunakan berasal dari kolam IBAT Punten, Batu yang merupakan salah satu sentra pembenihan dan budidaya Ikan Nila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum faktor kondisi allometris Ikan Nila di IBAT Punten bersifat allometris negatif, artinya pertambahan berat lebih kecil dibandingkan pertambahan panjang ikan atau dengan kata lain ikan cenderung kurus. Selain itu, dari analisis regresi kuantil didapatkan kecenderungan bahwa semakin besar ukuran ikan Nila maka nilai faktor kondisi allometris semakin kecil. Hal ini dikarenakan ikan Nila dewasa lebih rentan terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan ikan Nila yang lebih kecil.
MODEL pH DAN HUBUNGANNYA DENGAN PARAMETER KUALITAS AIR PADA TAMBAK INTENSIF UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) di BANYUWANGI JAWA TIMUR Supriatna, Mr.; Mahmudi, Mohammad; Musa, Muhammad; ., Kusriani
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 3 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.03.8

Abstract

Penelitian ini menggunakan dasain kausal dengan metode deskriptif  yang bersifat ex post-facto atau kajian fenomena alami yang mempelajari proses-proses yang terjadi ditambak sesuai dengan kondisi yang ada dengan mengobservasi kegiatan budidaya udang vaname secara intensif pada petak tambak yang terkendali selama ± 100 hari. Kegiatan pengelolaan tambak dilakukan sesuai dengan prosedur operasional baku . Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian meliputi satu petak tambak berukuran  3.295,5  m2, berpola intensif dengan padat tebar 120 ekor/m2, sarana dan prasarana produksi serta alat pengambilan dan pengukur contoh sesuai dengan variabel yang diukur. Parameter utama yang diukur adalah pH harian pada pagi hari dan siang hari.  Parameter  pendukung lainnya yang diukur setiap hari adalah suhu, salinitas, kecerahan, dan mingguan TOM, karbonat, bikarbonat dan total alkalinitas  Data yang dikumpulkan dianalisis untuk melihat keragaman data yang diukur. Selanjutnya dibuat model model hubungan pH-pagi dan pH sore hari selama satu siklus pemeliharaan udang vanamei. Selanjutnya dibuat korelasi antara kelarutan pH dengan Parameter kualitas air lainnya. Untuk mengetahui keterkaitan antar variabel, data yang diperoleh dianalisis regresi dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 16 serta analisis deskriptif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan pH-pagi ditambak udang adalah 7.94  ±  0.41 (7.70- 9.00) dan model hubungan pH-pagi adalah oksigen terlarut harian adalah  Y = = 0.0065x2 - 0.1973 X + 9.48 (R² = 0.77)  dan pH-siang hari adalah Y = 0.0064x2 - 0.175x + 9.4825 (R² = 0.801).  pH air tambak  berkorelasi dengan suhu,  total alkalinitas dan  karbonat (CO32-) dan korelasi  negatif dengan ortho fospat (PO43-), bikarbonat (HCO3-) dan TOM (total organic matter) dan tidak ada korelasinya dengan salinitas dan kelarutan oksigen di dalam air tambak
Expression Virus-Like Particles (VLPs) at Geomembrane and Concret in Asian Pacific Shrimp Culture (Litopenaeus vannamei) Hidayah, Venny Nur; Musa, Muhammad; Kilawati, Yuni
The Journal of Experimental Life Science Vol. 11 No. 3 (2021)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jels.2021.011.03.06

Abstract

Asian Pacific Shrimp is an invertebrate that the most culture in aquaculture. But the high demand for shrimp makes farmers cultivate a high density. There are several ways to increase the density of shrimp culture, usually called geomembrane plastic and concrete ponds. The ponds are located in the Laboratory of Brackishwater and Seawater Fisheries, Probolinggo and Lucky Windu, Situbondo. Day of Culture (DOC) on Laboratory of Brackishwater and Seawater Fisheries in Probolinggo pond is 85 days both, while in Lucky Windu Situbondo is 81 days on pond 2, and pond  3B 133 days. The study aimed to evaluate correlations of VLPs towards geomembrane and concrete ponds. The research method has two observations: 1. Periodic observations; nitrite, ammonium, and shrimp were observed; 2. Last observation; sampling water for analysis VLPs was observed. Data of sampling water in the different ponds were then analyzed using Pearson correlation analysis to look for the level of tightness and direction of the relationship. The results have obtained that geomembrane VLPs and concrete VLPs has a very strong relationship, while the type of geomembrane and concrete was close to 1 > 0.5 and the result is 0.90, 0.96, 0.69, and 0.82. Water quality showed pH 8.1 at geomembrane, nitrite 0.2mg.L-1 at geomembrane, and ammonium of 0.44 mg.L-1 at concrete. The pond area in geomembrane pond 1 and 2 was 1600 m2, meanwhile in concrete both is 4300 m2, which mean in concrete ponds more the existence of VLPs is because due to the different pond area factors and indicates from detections of WSSV that the result was positive that makes environment factor in abundances VLPs. But VLPs have no effect on the growth of shrimp vaname during the cultivated process.Keywords: Asian Shrimp Pasific (L. vannamei), Virus-Like Particles (VLPs), Water Quality, and WSSV.
Designing for Adoption: A Cross-Border UB–UPM Community-Engagement Model for Small-Scale Macrobrachium rosenbergii Aquaculture Musa, Muhammad
Journal of Innovation and Applied Technology Vol 12, No 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiat.2025.012.01.12

Abstract

The program, which aimed to operationalize fundamental husbandry concepts through skill application, involved a three-step organised training–demonstration–mentoring model and was conducted in Sungkai, Perak, Malaysia. The materials were considered to be suitable with respect to existing farm situation and would help in performance during next cycle including better FCR, SR and cost reduction. Satisfaction was high (60% scored 10), and the intent for follow-up clinic use strong (most ≥8), suggesting readiness for further capacity building. In conclusion, a short demand-driven UB–UPM collaboration model successfully developed basic competencies amongst amateur smallholder practitioners using cheaper higher controlled systems; program follow-on including post-training technical mentoring along with supervision and farm level targets are proposed in order to translate knowledge gains into verified mid-term production/ sustainability successes.
Deteksi Bakteri Salmonella sp sebagai Bioindikator pada Budidaya Udang Vaname di Pesisir Probolinggo: Detection Bacteria of Salmonella sp as Bioindicators in Vaname Shrimp Farming in Coastal Probolinggo Musa, Muhammad; Mahmudi, Mohammad; Lestari, Astri
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 2 No. 2 (2024): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2024.002.02.3

Abstract

Perairan pesisir Probolinggo menjadi salah satu sumber air baku untuk media budidaya udang vaname. Kasus penolakan hasil produksi udang yang diekspor karena teridentifikasi adanya bakteri Salmonella sp yang dapat berasal dari perairan budidaya. Hal ini telah banyak terjadi dikarenakan bakteri merupakan salah satu indikator keamanan pangan Keberadaan bakteri Salmonella sp tersebar di perairan dimana menjadi habitat dari udang vaname yang dibudidayakan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keberadaan bakteri Salmonella sp pada perairan pesisir Probolinggo sebagai bioindikator kegiatan budidaya udang vaname pada air di pesisir Probolinggo dan mengetahui kondisi parameter fisika-kimia perairannya. Penelitian menggunakan metode survei dengan pengukuran dilakukan secara insitu dan eksitu. Hasil penelitian diperoleh rata-rata total bakteri Salmonella dengan tiga kali pengambilan sampel di 5 stasiun pada kisaran 136,67 – 5025,33 CFU/ml dan dikatogerikan telah perairan telah tercemar bakteri Salmonella. Kadar bakteri Salmonella di 5 stasiun tidak berbeda nyata dan hasil pengukuran parameter suhu (30 – 32°C), pH (7,48 -7,59), oksigen terlarut (5,53 - 7,23 mg/L), salinitas (16,33 – 28,33 ppt), nitrit (0,0037 - 0.0121 mg/L), amonia (0,0565 - 0.1119 mg/L), dan total bahan organik (31.18 - 56.04 mg/L) menunjukkan nilai optimal dan masih sesuai dengan standar baku mutu air sumber budidaya udang vaname.   The coastal waters of Probolinggo are one of the sources of water supply for vaname shrimp farming media. Cases of rejection of exported shrimp production results due to the identification of Salmonella sp bacteria that can originate from cultivated waters. This has happened a lot because bacteria are one of the indicators of food safety. The presence of Salmonella sp bacteria is spread in waters where the habitat of cultured vaname shrimp. The purpose of the study was to determine the presence of Salmonella sp bacteria in the coastal waters of Probolinggo as a bioindicator of vaname shrimp farming activities in water in coastal Probolinggo and determine the condition of physico-chemical parameters of its waters. The study used a survey method with measurements taken insitu and exitu. The results obtained the average total Salmonella bacteria with three sampling times at 5 stations in the range of 136.67 - 5025.33 CFU/ml. . Salmonella bacteria levels at 5 stations were not significantly different and the measurement results of temperature parameters (30 - 32°C), pH (7.48 -7.59), dissolved oxygen (5.53 - 7.23 mg/L), salinity (16.33 - 28.33 ppt), nitrite (0.0037 - 0.0121 mg/L), ammonia (0.0565 - 0.1119 mg/L), and total organic matter (31.18 - 56.04 mg/L) showed optimal values and were still in accordance with the water quality standards for vaname shrimp culture sources.
Pemanfaatan Diatom sebagai Bioindikator Kualitas Perairan di Mangrove Muara Bajulmati, Kabupaten Malang: The Utilization of Diatoms as Water Quality Bioindicators of Mangrove at Bajulmati Estuary, Malang Regency Mahmudi, Mohammad; Musa, Muhammad; Elradinan, Naura Shofi; Lusiana, Evellin Dewi
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 2 No. 2 (2024): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2024.002.02.5

Abstract

Ekosistem mangrove adalah salah satu ekosistem di kawasan pesisir yang memiliki peran krusial bagi lingkungan. Pemantauan terhadap kondisi perairan mangrove sangat penting dilakukan guna menjaga keberlanjutannya. Salah satu bioindikator yang dapat digunakan untuk tujuan ini adalah diatom. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi diatom di berbagai habitat (akar, kolom air dan sedimen mangrove) dan memanfaatkan mikroorganisme ini sebagai agen bioindikator pencemaran di ekosistem mangrove Muara Bajulmati. Kegiatan penelitian dilaksanakan selama Maret hingga April 2024 di tiga stasiun pengambilan sampel. Data yang dikumpulkan meliputi komposisi diatom dan hasil pengukuran parameter kualitas air fisika dan kimia. Analisis data yang digunakan adalah indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 15 – 17 genus yang teridentifikasi pada akar, kolom air, dan sedimen mangrove Muara Bajulmati. Kondisi perairan di lokasi penelitian juga mendukung pertumbuhan diatom secara optimal. Selain itu, berdasarkan nilai indeks biologi yang diperoleh, maka habitat kolom air dan stasiun pengambilan sampel pertama memiliki kondisi perairan yang terbaik di kawasan mangrove Muara Bajulmati.   The mangrove ecosystem is one of the ecosystems in coastal areas that has a crucial role for the environment. Monitoring the condition of mangrove waters is very important to maintain their sustainability. One bioindicator that can be used for this purpose is diatoms. This research aims to analyze the composition of diatoms in various habitats (roots, water column and mangrove sediment) and utilize these microorganisms as a bioindicator agents for pollution in the Bajulmati estuary mangrove ecosystem. Research activities were carried out from March to April 2024 at three sampling stations. The data collected includes diatom composition and measurement results of physical and chemical water quality parameters. The data analysis used is the diversity index, uniformity index and dominance index. The research results showed that there were 15 - 17 genera identified in the roots, water column and sediments of the Bajulmati estuary mangroves. Water conditions at the research location also support optimal diatom growth. In addition, based on the biological index values ​​obtained, the water column habitat and the first sampling station have the best water conditions in the Muara Bajulmati mangrove area.
Analisis Pencemaran Perairan Menggunakan Metode Indeks Pencemaran di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur: Analysis of Water Pollution Using the Pollution Index Method at Kenjeran Beach, Surabaya, East Java Muren, Gabby Gataria; Musa, Muhammad; Diffi, Pratama
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 3 No. 2 (2025): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2025
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2025.003.02.2

Abstract

Pantai Kenjeran terletak di Kelurahan Kenjeran, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya, Jawa Timur, terdiri atas Pantai Kenjeran Baru dan Lama. Padatnya pemukiman serta tingginya kunjungan wisatawan menyebabkan penurunan kualitas perairan yang berdampak pada ekosistem laut dan masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas air Pantai Kenjeran berdasarkan PP No. 22 Tahun 2021 tentang baku mutu air laut untuk biota laut. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan analisis deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan melalui pengukuran primer dan sekunder pada empat stasiun: sandaran perahu, pemukiman, kawasan mangrove, dan muara sungai, masing-masing dengan tiga kali pengulangan. Penentuan stasiun menggunakan purposive sampling berdasarkan aktivitas manusia dan potensi sumber pencemaran. Pengambilan data dilakukan pada Maret–April 2025. Analisis kualitas air menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP). Parameter in-situ meliputi suhu, pH, kecerahan, salinitas, dan DO, sedangkan parameter ex-situ meliputi TSS, amonia, nitrat, fosfat, dan BOD. Hasil pengukuran menunjukkan parameter yang memenuhi baku mutu yaitu suhu, kecerahan, pH, DO, BOD, dan amonia. Parameter yang melebihi baku mutu yaitu nitrat, fosfat, dan TSS. Suhu berkisar 30,6–31,9 °C; TSS 62–168 mg/L; kecerahan 19,1–26,7 cm; salinitas 18,13–31,67 ppt; pH 7,8–8,3; BOD 3,2–4,4 mg/L; DO 6,1–7,6 mg/L; amonia 0,024–0,038 mg/L; fosfat 0,179–0,252 mg/L; nitrat 0,206–0,292 mg/L. Berdasarkan perhitungan Indeks Pencemaran, Pantai Kenjeran tergolong tercemar ringan hingga sedang.   Kenjeran Beach, located in Kenjeran Village, Bulak District, Surabaya City, East Java, consists of New Kenjeran Beach and Old Kenjeran Beach. Dense settlements and the high number of tourist visits have led to a decline in water quality, affecting both the marine ecosystem and coastal communities. This study aimed to analyze the water quality of Kenjeran Beach based on Government Regulation No. 22 of 2021 concerning seawater quality standards for marine biota. The research employed a descriptive approach with quantitative descriptive analysis. Data were collected through primary and secondary measurements at four stations: boat mooring, residential area, mangrove area, and river estuary, each with three replications. Sampling stations were determined using purposive sampling based on human activities and potential pollution sources. Data collection was conducted from March to April 2025. Water quality was analyzed using the Pollution Index (IP) method. In-situ parameters included temperature, pH, transparency, salinity, and DO, while ex-situ parameters included TSS, ammonia, nitrate, phosphate, and BOD. The results showed that parameters meeting quality standards were temperature, transparency, pH, DO, BOD, and ammonia, while nitrate, phosphate, and TSS exceeded the standards. Temperature ranged from 30.6–31.9 °C; TSS 62–168 mg/L; transparency 19.1–26.7 cm; salinity 18.13–31.67 ppt; pH 7.8–8.3; BOD 3.2–4.4 mg/L; DO 6.1–7.6 mg/L; ammonia 0.024–0.038 mg/L; phosphate 0.179–0.252 mg/L; and nitrate 0.206–0.292 mg/L. Based on the Pollution Index, Kenjeran Beach was classified as lightly to moderately polluted.
Optimalisasi Produksi Benih Udang Vanamei (Litopenaeus vannamei) melalui Stimulasi Kualitas Pakan Alami di Kabupaten Tuban nanik retno buwono; Muhammad Musa; Evellin Dewi Lusiana; Kharisma Latifatul Afifah; Munauw Weretun Nikmah; Abdullah Radhi Maulana
Abdi Geomedisains Vol. 6, No. 2, December 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This community service program was conducted with the Benur Barokah Group (Tuban Regency), a producer of vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) post larvae at the PL-5 stage. Major constraints included inconsistent natural feed quality, water-quality management based mainly on experience, and limited marketing, leading to low harvest success (≈40% of stocked PL-5) and fluctuating survival rates. The program aimed to improve seed production by mentoring partners on Chlorella sp. microalgae culture as natural feed, training on routine water-quality monitoring, and providing measuring tools (digital thermometer and refractometer), supported by an operational culture module. A website was also developed to broaden marketing reach. Methods included site surveys, socialization and extension sessions, hands-on mentoring, and monitoring and evaluation. Outcomes included improved partner understanding of microalgae culture and key water-quality parameters, availability of monitoring instruments, and the establishment of digital promotional media. Questionnaire-based evaluation indicated highly positive partner responses. Sustainability will be supported by appointing responsible personnel, scheduling routine culture activities and water-quality record keeping, and periodically updating digital marketing content.
REMEDIASI MISKONSEPSI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SEARCH, SOLVE, CREATE, SHARE (SSCS) PADA MATERI SUHU DAN KALORI DI SMA NEGERI 1 SEPAUK Meisa Erlinda Elen; Stepanus Sahala; Muhammad Musa
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Februari 2026)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i2.1722

Abstract

This research aims to look at the misconceptions experienced by students before and after implementing remediation and also to reduce misconceptions among students using the Search, Solve, Create and Share learning model. This research was carried out by collecting quantitative data with two instruments, namely a pre-test to find out students' misconceptions before remediation, and a post-test to find out misconceptions after remediation. After conducting the research, it was found that there was a decrease in the average percentage of students' misconceptions by 88.8%, whereas initially there were 88.5% misconceptions. After remediation was carried out using the SSCS learning model, the level of students' misconceptions decreased by 9.6%. . The SSCS learning model is effective in reducing the number of students who have misconceptions. This is also shown by the DQM value of 81% which is included in the high category.