Claim Missing Document
Check
Articles

PENILAIAN KEBERLANJUTAN PERMUKIMAN KAMPUNG LAMA DI KELURAHAN LEMPONGSARI Virgawasti Dyah P; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.766 KB)

Abstract

Kampung lama Lempongsari berdiri pada tahun 1920 dan merupakan bagian dari permukiman Candi Baru yang pembangunannya ditangani oleh Ir. Herman Thomas Karsten, seorang penasehat perencana kota, pada masa kolonial. Pertumbuhan di Kota Semarang yang semakin meningkat menyebabkan permukiman meluas hingga merambah ke daerah-daerah penyangga. Sangat disayangkan bahwa saat ini kualitas lingkungan permukiman di Kelurahan Lempongsari telah mengalami penurunan karena kepadatan permukiman yang semakin tinggi dan berkurangnya ruang terbuka hijau. Permasalahan yang menjadi inti dari penelitian ini adalah terancamnya keberlanjutan lingkungan permukiman di kampung lama Kelurahan Lempongsari sebagai permukiman bersejarah yang aman dan nyaman untuk ditinggali, mengingat kondisi topografi yang berupa perbukitan dan adanya longsor di beberapa lokasi yang dapat membahayakan keberlanjutan permukiman di Kelurahan Lempongsari. Dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan pembobotan menggunakan skala linkert, maka hasil dari penelitian ini adalah keberlanjutan Kelurahan Lempongsari belum sepenuhnya mengarah ke permukiman yang berkelanjutan dan termasuk dalam kategori SEDANG dengan nilai 2,25. Dari indikator sarana prasarana, lingkungan permukiman, kehidupan sosial masyarakat, dan kondisi perekonomian hanya kehidupan sosial yang masuk dalam kategori BAIK dengan skor 2,45. Sedangkan indikator lainnya masuk dalam kategori SEDANG. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi sosial merupakan pendukung keberlanjutan  di permukiman kampung lama Kelurahan Lempongsari, di mana aspek kehidupan masyarakat kampung tercermin dari kehidupan sosial budaya yang kental yaitu terus mengembangkan prinsip-prinsip keragaman dan toleransi antar masyarakat beragama sehingga keamanan lingkungan di mana minim terjadi konflik dan mengutamakan kesetiakawanan dapat terwujud.
Pengaruh Faktor Spasial Dan A-Spasial Terhadap Preferensi Masyarakat Kampung Tambak Lorok Tinggal Di Rumah Susun Argiean Luthfi; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.765 KB)

Abstract

Slums are an urban problem that is always faced by big cities in Indonesia. Addressing the issue, the government has planned a policy of 100-0-100. Implementation of 100-0-100 program in Semarang City is by launching Kampung Tambak Lorok area as a marine kampong area. One of the implementation of maritime villages concept is by building flats. Researchers understand the need for a review of the factors that affect people's preferences to live in a flat house. It is hoped that this study can produce the right policy formulation for the development of apartment project. The purpose of this study is to examine the influence of spatial and a-spatial factors on the preferences of Tambak Lorok villagers to live in flats. The approach used in this research is quantitative approach. This research uses multiple linear regression analysis technique. Based on the results of analysis it is known that the resulting regression equation is Y '= 22.366 + 0.127A1 + 0,183A3 + 0,246B2 + 0,096B5 + 0,054B6 + 0,076B8. Based on these results variables to be considered as the degree of influence are 1) the security of the disaster; 2) spacing of shopping; 3) distance to the main road; 4) completeness of space; 5) unit price; And 6) unit area
Kajian Karakteristik Lokasi Pedagang Kaki Lima Di Kawasan Pendidikan Gunungpati Di Kota Semarang Ivandi Pratama Hasibuan; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 5, No 4 (2016): November 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.026 KB)

Abstract

Street vendor can be found in downtown city, including education area. That also applies in education area of Semarang, such as Gunungpati Region. The emergence of street vendor in Gunungpati region makes a fairly high density environment which is less in order. To answer this problem, the purpose of this research can be formulated as to identify the characteristics of street vendor location in education area.The target to achieve the goal is to identify the activity and bussiness opportunity of street vendorr, consumer profile, consumer perception in the presence of street vendor, and to formulate the characteristics of the street vendor location around education area in Gunungpati by street vendor and consumer perception. The method of this research uses descriptive quantitative approach, comparative descriptive, frequency distribution and crosstab (cross-tabulations). The data collection method is by primary data in the form of questionnaire, field observation and secondary data in the form of documentation. Sampling method for street vendor population is by using stratified random sampling while the sample for the population of consumer is by using accidental sampling technique. The output produced from this research is to identify the characteristics of street vendor location in education area of Gunungpati influenced characteristics in education area of Gunungpati is affected predominantly by existing primary activities such as education and housing facility.
KEBERTAHANAN PERMUKIMAN SEBAGAI POTENSI KEBERLANJUTAN DI KELURAHAN PURWOSARI SEMARANG Ayu Risky Puastika; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 1, No 1 (2012): November 2012
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.428 KB)

Abstract

Kelurahan Purwosari merupakan suatu kawasan yang peruntukan lahannya digunakan untuk permukiman sejak pemerintahan Belanda tahun 1874 yang bernama Poncol Stresse, dan kini telah banyak mengalami perubahan. Perubahan permukiman di Kelurahan Purwosari cenderung mengalami penurunan. Dimana, penurunan tersebut berada pada lingkungan perumahan tersebut, yaitu mengalami rob . Penurunan lingkungan tersebut memperlukan suatu ketahanan untuk melindungi kawasan hunian yang menciptakan rasa kenyamanan. Dari gejala-gejala yang terjadi pada permukiman di Kelurahan Purwosari perlu dikaji lebih terperinci mengenai kemampuan bertahan Kelurahan Purwosari untuk tetap didiami oleh masyarakat sebagai suatu kawasan hunian dan berlanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai kemampuan kebertahanan permukiman di Kelurahan Purwosari terhadap ancaman rob sebagai potensi keberlanjutan perumahan dimasa yang akan datang yang tetap digunakan sebagai kawasan hunian., Untuk mencapai tujuan tersebut akan dilakukan analisis yang terkait dengan, analisis kemampuan sosial masyarakat dalam upaya bertahan terhadap rob, analisis kemampuan perekonomian masyarakat dalam upaya bertahan terhadap rob dan kemampuan lingkungan permukiman utuk bertahan terhadap rob. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan metode pengumpulan data primer maupun sekunder. Teknik analisis yang dilakukan dengan analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis pembobotan, dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil studi ini adalah kemampuan bertahan perumahan yang ada di Kelurahan Purwosari masuk kedalam kategori “cukup” dengan jumlah skor 1.5 dari nilai maksimal 3. Hal tersebut berarti kemampuan bertahan yang ada di Kelurahan Purwosari sudah dinilai cukup untuk melakukan kebertahanan menghadapi permasalahan yang ada yaitu adanya rob, dan potensi yang dapat membawa permukiman Kelurahan Purwosari berlanjut adalah kemampuan sosial masyarakat.
KAJIAN KEPUASAN PENGHUNI BERDASARKAN KUALITAS LINGKUNGAN DI PERUMNAS BUKIT SENDANGMULYO SEMARANG Yudhi Widiastomo; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.081 KB)

Abstract

Perumnas Bukit Sendangmulyo merupakan salah satu perumnas yang dibangun oleh Perum Perumnas Regional V di pinggiran Kota Semarang pada tahun 1994. Perumnas ini dibangun dengan jumlah unit 2081 dan dilengkapi dengan infrastruktur yang lengkap. Tidak adanya pengelolaan dari pihak Perum Perumnas mengakibatkan perumnas yang sudah berumur 19 tahun tersebut mengalami penurunan kualitas lingkungan. Pada perumnas ini ditemui berbagai permasalahan seperti rusaknya jalan utama, drainase yang tidak terawat, buruknya kualitas air bersih, dan sarana lingkungan yang kurang lengkap. Dengan adanya berbagai permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengevaluasi kinerja Perumnas Bukit Sendangmulyo menggunakan indikator kepuasan penghuni. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat kepuasan penghuni berdasarkan kualitas lingkungan di Perumnas Bukit Sendangmulyo. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa tingkat kepuasan penghuni berdasarkan kualitas lingkungan termasuk dalam kategori sedang, dengan nilai indeks kepuasan sebesar 58,1% (dengan nilai tengah adalah 60%). Tingkat kepuasan tersebut paling tinggi dipengaruhi oleh variabel kualitas hubungan masyarakat dengan nilai indeks 73,4%, variabel kualitas prasarana lingkungan 57,6%, variabel kualitas fisik rumah 51,6%, dan paling rendah adalah variabel kualitas sarana lingkungan dengan nilai indeks 49,8%. Oleh karena itu pemerintah perlu menangani kondisi air bersih yang buruk serta perlu memperbaiki prasarana yang sudah rusak seperti jalan dan drainase utama perumnas. Pemerintah juga perlu menyediakan sarana yang lengkap di Perumnas Bukit Sendangmulyo seperti sekolah, pasar, sarana kesehatan, dan lain-lain sesuai dengan rencana pada siteplan pembangunan Perumnas Bukit Sendangmulyo agar perumnas tersebut dapat semakin berkembang.
PENILAIAN KEBERLANJUTAN PERMUKIMAN DI KELURAHAN BUGANGAN KOTA SEMARANG Intan Puspita Widodo; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.269 KB)

Abstract

Kawasan di perkotaan dewasa ini berkembang menjadi kawasan yang memiliki berbagai fungsi sekaligus yang dikenal dengan sebutan mixed used area. Seperti halnya Kecamatan Semarang Timur yang merupakan salah satu kecamatan di Kota Semarang yang terletak dipusat kota. Dengan posisinya yang strategis, maka selain sektor permukiman, terdapat sektor lapangan usaha yang berkembang di kecamatan ini yaitu sektor industri, perdagangan dan jasa. Selain itu, Kecamatan Semarang Timur khususnya Kelurahan Bugangan dan Jl. Barito memang diperuntukkan bagi penggunaan lahan usaha. Pengembangan IKM menurut RDTRK dipusatkan pada Kelurahan Bugangan dan sepanjang Jalan Barito, dimana Kelurahan Bugangan terkenal sebagai Sentra Industri Perkalengan. Berbagai potensi ini dapat dijadikan sebagai faktor pendukung dalam mewujudkan suatu permukiman yang berkelanjutan. Namun sangat disayangkan ternyata kawasan ini masih memiliki permasalahan permukiman, baik permasalahan yang terkait dengan kondisi prasarana dan sarana permukiman yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai tingkat keberlanjutan permukiman di Kelurahan Bugangan. Untuk mencapai tujuan tersebut, akan dilakukan analisis terkait dengan ketersediaan dan kondisi sarana dan prasarana kawasan, analisis kualitas hunian di Kelurahan Bugangan, analisis keberlanjutan sosial masyarakat Kelurahan Bugangan serta analisis keberlanjutan ekonomi masyarakat Kelurahan Bugangan.Pendekatan secara umum yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Teknik analisis yang dilakukan dengan analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis pembobotan, dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil didapat dari studi ini adalah diperolehnya nilai untuk tingkat keberlanjutan permukiman di Kelurahan Bugangan yang mana ternyata kawasan ini belum berkelanjutan. Hasil dari studi ini dapat digunakan sebagai arahan masyarakat dalam berperilaku di Kawasan Kelurahan Bugangan terhadap lingkungan tempat tinggal mereka, baik itu terhadap sarana umum, prasarana lingkungan maupun hubungan kekerabatan antar masyarakat.
Perubahan Ruang Terbuka Publik dan Interaksi Sosial di Kampung Lama (Studi Kasus: Kampung Gandekan dan Kulitan, Semarang) Inas Nadia Hanifah; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.414 KB) | DOI: 10.14710/tpwk.2017.18036

Abstract

Open public space has an important function especially to supporting social interaction. But on the other hand the provision of public open space has its own problems, there is high rate of change of land for settlement because of demands and investments. At the end, it leads to the changes in public open space that makes the changes in social interaction in Kampung Gandekan and Kulitan. This study aimed to assess the changes of open public space and social interaction, as well as to assess the effect of open space changes to the social interaction in Kampung Gandekan and kulitan. The method used in this study is a survey research methods with descriptive and analytical (statistical tests) quantitative approach. Determination of the respondents using the technique of proposive sampling and proportionate stratified random sampling. Based on the analysis within a period of 17 years (1999-2016) showed a change in public open space in Kampung Gandekan and kulitan include; changes in land use as big as 16% of open public space area, changes in the spaces area that more small, change the type and function space as well as the complexity of the condition and utilization spaces. On the same period, social interaction in Kampung Gandekan and Kulitan also decreased regressively into worse condition. It can seen from decreased of average of score social interaction from 18,10 in 1999 become 16,22 in 2016. However, based on the results of research conducted showed no significant effect of public open space changes to change in social interaction. Changes in social interactions that occur are caused by three main factors including age, bustle and characteristic of the original residents as well as migrants.
KAJIAN KEHIDUPAN MASYARAKAT KAMPUNG LAMA SEBAGAI POTENSI KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN KELURAHAN GABAHAN SEMARANG Mustovia Azahro; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.066 KB)

Abstract

Kelurahan Gabahan merupakan kelurahan paling padat di Kecamatan Semarang Tengah, kepadatan mencapai  26.544 jiwa/km2 (BPS Kota Semarang, 2011). Kepadatan bangunan yang tinggi serta minimnya ruang terbuka hijau menyebabkan penurunan kualitas lingkungan. Dalam kaitannya dengan perkembangan Kota Semarang, Kelurahan Gabahan pernah menjadi pusat Pemerintahan pada tahun 1659. Lokasinya yang berada di pusat kota mengakibatkan Kelurahan Gabahan mengalami tantangan dalam menghadapi tekanan pembangunan pusat kota. Pada akhirnya, banyak bangunan yang mengalami perubahan facade, sehingga memunculkan permasalahan mengenai terancamnya keberadaan kampung lama di pusat kota atau bahkan  hilangnya kampung lama. Namun, kehidupan masyarakat kampung lama pasti mempunyai potensi untuk mencapai keberlanjutan lingkungan permukiman dan berpengaruh dalam dalam penciptaan lingkungan kota yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek kehidupan kampung lama di Kota Semarang sebagai potensi keberlanjutan lingkungan permukiman di Kelurahan Gabahan. Kelurahan Gabahan dipilih sebagai lokasi penelitian karena keberadaannya di pusat kota yang mengalami tekanan pembangunan tinggi serta Kelurahan Gabahan yang masih menjadi bagian dari Kawasan Pecinan serta memiliki kehidupan yang harmonis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat di Kelurahan Gabahan yang paling potensial adalah kehidupan sosial sedangkan kehidupan ekonomi tidak sepotensial kehidupan sosial. Kehidupan masyarakat sehari-hari banyak menggunakan ruang publik berupa jalan dan tepi Kali Semarang sebagai ruang interaksi. Kehidupan masyarakat mampu menjadi potensi keberlanjutan lingkungan permukiman dimana aspek kehidupan masyarakat sebagai potensi keberlanjutan lingkungan permukiman antara lain adalah frekuensi interaksi, pendapatan, ketidakinginan pindah, rendahnya intensitas konflik, kerja bakti, mata pencaharian, tingkat keamanan, tabungan perbulan, perayaan hari besar, kesehatan lingkungan, pekerjaan sampingan, keikutsertaan organisasi, rapat rt/rw/kelurahan, asal penduduk, antusiasme warga, tingkat pendidikan, lokasi interaksi, kegiatan sosial, lama tinggal, dan alasan tinggal. Frekuensi interaksi sebagai aspek kehidupan yang paling potensial untuk mencapai keberlanjutan.
ANALISIS UPAYA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN KAMPUNG HIJAU (STUDI KASUS : KELURAHAN GAYAMSARI, KOTA SEMARANG) Astrini Ayu Puspita; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.642 KB)

Abstract

Kampung yang mulai mencoba mengedepankan aspek ekologi adalah Kelurahan Gayamsari, Semarang. Pemerintah kelurahan mencanangkan program green-village menuju permukiman yang berkelanjutan. Upaya yang dilakukan masyarakat Kelurahan Gayamsari menuju kampung hijau atau permukiman green-village adalah gerakan penghijauan dan optimalisasi ruang terbuka hijau, penerapan teknologi ramah lingkungan, peningkatan kenyamanan, dan pengolahan sampah secara mandiri. Partisipasi masyarakat juga muncul dengan pembentukan kelompok-kelompok peduli lingkungan. Namun, adanya implementasi Kelurahan Gayamsari dalam mewujudkan kampung hijau belum terwujud secara optimal, karena masih adanya permasalahan seperti banjir, peningkatan pencemaran udara, dan minimnya kulitas ruang terbuka hijau. Maka muncul research question penelitian ini yaitu “Seberapa Besar Upaya Yang Dilakukan Masyarakat Kawasan Permukiman Kelurahan Gayamsari Dalam Mewujudkan Kampung Hijau ?”. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk menilai upaya-upaya yang dilakukan masyarakat Kelurahan Gayamsari dalam mewujudkan kampung hijau. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan diketahui bahwa upaya masyarakat dalam mewujudkan kampung hijau secara umum sudah cukup baik yaitu dengan nilai indeks 1,99, hal ini dilihat dari upaya keterlibatan masyarakat tinggi (nilai indeks 2,43) pemanfaatan ruang permukiman yang cukup (nilai indeks 1,99, dan perilaku ramah lingkungan cukup (nilai indeks 1,91). Namun pada upaya kegiatan ekonomi masih rendah (nilai indeks 1,56). Hal ini disebabkan oleh kurangnya motivasi masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi. Oleh karena itu rekomendasi untuk masyarakat yaitu agar lebih meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan terutama dalam mempertahankan ruang terbuka hijau sebagai area resapan dan meningkatkan fungsi rumah secara ekologi. Rekomendasi untuk pemerintah yaitu agar lebih mengoptimalisasi program Gayamsari Green-village melalui sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih sadar terhadap permasalahan lingkungan.
KAJIAN BENTUK LINGKUNGAN PERMUKIMAN BERDASARKAN SENSE OF COMMUNITY DI KELURAHAN DADAPSARI SEMARANG Melody Kinanti Kristiani; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.649 KB)

Abstract

Kelurahan Dadapsari merupakan salah satu pusat permukiman yang terletak di Kecamatan Utara, Kota Semarang yang berupa kampung lama dan kampung baru. Permasalahan berupa heterogenitas penduduk yang memicu terjadinya percampuran nilai-nilai budaya dan sosial menjadikan rasa kebersamaan sebagai modal sosial sangat dibutuhkan dalam komunitas masyarakatnya. Talen (1999) mengungkapkan bahwa dibutuhkan sebuah lingkungan yang terencana untuk menciptakan sebuah rasa kebersamaan sementara kampung merupakan lingkungan tidak terencana dan tidak memiliki banyak ruang publik yang mendukung interaksi. Sehingga dari permasalahan diatas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kontribusi bentuk lingkungan kampung pada rasa kebersamaan sebagai modal sosial di Kelurahan Dadapsari. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, diketahui bahwa terdapat perbedaan mendasar pada lingkungan dengan tingkat rasa kebersamaan tinggi dan rendah pada indikator lebar jalan, ukuran rumah, fungsi bangunan dan kelengkapan dalam fasilitas lingkungan permukiman. Lingkungan dengan tingkat kebersamaan tinggi memiliki lebar jalan yang lebih sempit (2-4 m), ukuran rumah kecil (12-74 m2), fungsi bangunan yang bersifat campuran dan kelengkapan fasilitas lingkungan permukiman yang lebih lengkap terutama dalam ketersediaan ruang bersama. Hal ini mengindikasikan bahwa bentuk lingkungan kampung memberikan kontribusi dalam terbentuknya rasa kebersamaan di masyarakat Kelurahan Dadapsari.