Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH LEMBAGA RUKUN TETANGGA (RT) TERHADAP KONDISI RUMAH SUSUN DINAS PEMADAM KEBAKARAN PEGADUNGAN DAN PONCOL JAKARTA Lutfi Rahmat Firdaus; Nany Yuliastuti
Jurnal Pengembangan Kota Vol 3, No 1: Juli 2015
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.851 KB) | DOI: 10.14710/jpk.3.1.1-10

Abstract

Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta melalui Dinas Perumahan DKI Jakarta memprakarsai pembangunan Rumah Susun Dinas Pemadam Kebakaran di kawasan  Pegadungan, Jakarta Barat dan kawasan Poncol, Jakarta timur yang hanya diperuntukkan bagi petugas pemadam kebakaran. Kehidupan penghuni rumah susun Pegadungan dan Poncol yang sebelumnya tinggal di lingkungan dengan kehidupan sosio-kultural lingkungan horizontal dan di lingkungan yang bersifat heterogen, sehingga menjadi tanggung jawab tersendiri bagi rukun tetangga (RT) didalam mengatasi permasalahan hubungan bermasyarakat dan permasalahan kondisi fisik lingkungan sarana prasarana rumah susun. Tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi pengaruh lembaga rukun tetangga (RT) terhadap kondisi Rumah Susun Dinas Pemadam kebakaran Pegadungan dan Poncol. Kondisi rumah susun tersebut meliputi kondisi fisik lingkungan rumah susun, interaksi dan kegiatan penghuni rumah susun, dan kinerja rukun tetangga. Metode analisis yang digunakan  yaitu analisis deskriptif kuantitatif berupa skoring dengan skala linkert untuk menjelaskan pengaruh antar variabel sedangkan untuk teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi, wawancara dan kuesioner dengan jumlah sampel sebesar 80KK penghuni rumah susun. Hasil penelitian diketahui bahwa rukun tetangga terhadap kondisi rumah susun Pegadungan dan Poncol, rukun tetangga mempengaruhi dari ketersediaan dan kondisi sarana prasarana lingkungan rumah susun, kegiatan keragaman sosial budaya rumah susun, frekuensi dan antusiasme kegiatan lingkungan rumah susun , dan usaha sampingan penghuni rumah susun.
Pemanfaatan Ruang Bersama di Rusunawa Kaligawe, Semarang Zuyyina Laksita Dewi; Nany Yuliastuti
Ruang Vol 1, No 4 (2015): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.1.4.181-190

Abstract

Rusunawa Kaligawe merupakan salah satu hunian vertikal yang dibangun di  wilayah timur Kota Semarang. Perubahan pola permukiman dari horisontal (kampung) ke arah vertikal (rumah susun) membatasi pergerakan masyarakat dalam bersosialisasi. Rumah susun sebagai bentukan baru dari hunian seharusnya dapat mengakomodasi kebutuhan sosial masyarakat yaitu untuk berkumpul dan berinteraksi dengan sesama. Ruang publikdi dalam suatu hunian rumah susun seharusnya yang dapat menampung pergaulan masyarakat sehingga meningkatkan kebersamaan di antara penghuni. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemanfaatan ruang-ruang bersama yang ada di Rusunawa Kaligawe sebagai wadah interaksi sosial dan faktor apa sajakah yang mempengaruhi pemanfaatan ruang-ruang bersama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis statistik deskriptif dan analisis faktor dengan sampel 126 unit rumah tangga. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis dekriptif komparatif. Pola pemanfaatan ruang bersama menunjukkan bahwa ruang yang dekat dengan hunian warga, seperti selasar depan hunian (koridor) lebih sering dikunjungi dan digunakan untuk berinteraksi sedangkan ruang bersama yang terletak di lantai dasar kurang diminati. Pemanfaatan ruang bersama di Rusunawa Kaligawe tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fisik ruang, tetapi juga faktor nonfisik yaitu karakteristik masyarakat sebagai pengguna dari ruang tersebut.
Kajian Karakteristik Indeks Kualitas Air Menggunakan Metode IP, Storet Dan NSF WQI: Review Ade Lenty Hoya; Nany Yuliastuti; Sudarno Sudarno
xxxx-xxxx
Publisher : Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hoya AL, Yuliastuti N, Sudarno S. 2020. Study of water quality index characteristics using ip, storetic and NSF WQI methods: Review. In: Herlinda S et al. (Eds.), Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-8 Tahun 2020, Palembang  20 Oktober 2020. pp. xx.  Palembang: Penerbit & Percetakan Universitas Sriwijaya (UNSRI).Water is one of the main needs of living things. Everyday human life needs water, starting from drinking water, water recreation, aquaculture, animal husbandry and agriculture. About ¾ of the human body is made up of water. Water is very important, so humans must maintain the availability of water. Water availability needs to be balanced with the maintenance of water quality, so that it can be seen that the water is in good condition or polluted. Clean water needs attention according to SDGs number 6 concerning the availability of clean water and sanitation. The quality of water in water bodies such as rivers, lakes, swamps, reservoirs and others needs to be monitored so that water can be used properly according to its purpose. This study aims to examine the method of calculating the water quality index which is commonly used in determining water status so that the characteristics of the water quality method can be identified and the advantages and disadvantages of this method. The method used is literature study from related journals. The water quality index (IKA) method used in Indonesia includes the IP, Storet and NSF WQI methods. The results of the study will describe the advantages and disadvantages as well as the characteristics of the appropriate method used in accordance with the research needs which are expected to facilitate the selection of water quality monitoring methods.
PERKEMBANGAN PEMANFAATAN LAHAN DI KAWASAN SEKITAR BANDAR UDARA AHMAD YANI SEMARANG Iskandar Sillia; Nany Yuliastuti
JURNAL GEOGRAFI Vol 12, No 2 (2020): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v12i02.17879

Abstract

Perkembangan pemanfaatan lahan terbangun yang semakin pesat dapat menimbulkan dampak bagi tata ruang, terutama dengan adanya alih fungsi lahan. Kondisi ini juga terjadi pada kawasan sekitar bandar udara Ahmad Yani Semarang, mengingat dengan adanya pengembangan bandar udara tersebut menyebabkan pergeseran pemanfaatan lahan pada kawasan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana keberadaan pengembangan bandar udara Ahmad Yani Semarang memberikan dampak terhadap pemanfaatan lahan di kawasan sekitar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa perkembangan pemanfaatan lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun di wilayah penelitian semakin bertambah setiap tahunnya sebagaimana pada tahun 2016 luas lahan terbangun berjumlah 60.893 m2. adanya pengembangan bandar udara pada tahun 2017, luasan pemanfaatan lahan terbangun semakin bertambah seperti pada tahun  2017 s/d 2019 bertambah menjadi  247.917 m2. Meningkatnya perkembangan pemanfaatan lahan terbangun perlu adanya penetapan kebijakan pemanfaatan lahan secara khusus oleh Pemerintah Kota Semarang/Dinas Penataan Ruang untuk Kelurahan dengan tingkat nilai daya dukung 0,091 Ha/Jiwa. Sedangkan Kelurahan dibawah ambang batas tingkat daya dukung lahan 0,026 s/d 0,006 juga perlu pengawasan pemanfaatan lahan terbangun agar tidak melebihi ambang batas daya dukung lahan 0,100 Ha/Jiwa. Adapun kesesuaian lahan di wilayah penelitian hanya terdapat satu kategori kesesuaian lahan yaitu sesuai sebagai fungsi budidaya, dengan jumlah  keseluruhan 1.691 Ha.Kata kunci: pemanfaatan lahan, daya dukung lahan, kesesuaian lahan, bandar udaraThe development of the land use built that growing rapidly could makes an impact on spatial planning, especially to the land conversion. This condition also happened to the area around the Ahmad Yani airport in Semarang city, in case that the airport development caused a land use change in the surrounding area. This study aims to see how the presence of the development of Ahmad Yani Airport in Semarang has an impact on land use in the surrounding area. This study uses quantitative descriptive methods. The results of the study found that there was increase of land use development  from not built to built up land in the study area for every year, as in 2016 the area of built up land amount of 60,893 m2. With the development of airports in 2017, the area of land use developed has increased as in 2017 to 2019, it has increased to 247,917 m2. Increasing the development of built land use requires the establishment of specific land use policies by the Semarang City Government / Spatial Planning Office for urban village with a carrying capacity value of 0.091 Hectare / Soul. While the urban village below the carrying capacity level of land 0.026 to 0.006 also needs supervision  land use so that it does not exceed the threshold of carrying capacity land of 0.100 Hectare / Soul. As for land suitability the study area there is only one land suitability that is suitable as a funcation of culvitation, with a number whole of 1,691 Hectare.Key words: land use, land carrying capacity, land suitability, airport
Sosialisasi Pendataan Perumahan Berbasis Tabungan Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Nany Yuliastuti
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 1, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) adalah masyarakat berpenghasilan tidak tetap dan memiliki keterbatasan daya beli sehingga dibutuhkan dukungan dari pemerintah untuk mendapatkan atau membangun rumah. Kota Tegal memiliki backlog perumahan sebesar 45.843. Dengan angka tersebut, Kota Tegal menempati peringkat ke-7 dari jumlah backlog terbanyak di Provinsi Jawa Tengah tahun 2015. Sosialisasi dipilih Kota Tegal sebagai langkah awal percontohan untuk kota-kota lainnya di Jawa Tengah. Salah satu kegiatan untuk dapat memenuhi kebutuhan perumahan bagi MBR adalah dengan dibantu oleh pemerintah melalui kredit atau pembiayaan bank pelaksana. Untuk itu tujuan sosialisasi terkait pendataan rumah subsidi berbasis tabungan agar lebih banyak diketahui oleh masyarakat yang memerlukan rumah subsidi. Kelompok sasaran dalam kegiatan pengabdian ini adalah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dengan batasan penghasilan tertentu dengan beberapa persyaratan baik yang belum memiliki rumah sendiri. Kegiatan ini, dilaksanakan melalui sosialisasi potensi minat masyarakat. Metode pelaksanaan dimulai dengan bimbingan teknis yaitu berupa pertemuan partisipatif dan diskusi fokus terarah. Selanjutnya pendataan potensi sebaran rumah subsidi dan pendataan minat melalui komunitas dan kelompok masyarakat yang berminat terhadap rumah subsidi di kota Tegal. Hasil pendataan, mendapatkan 192 masyarakat berpenghasilan rendah yang berminat terhadap rumah subsidi di Kota Tegal. Potensi pendataan ini diusulkan untuk diverifikasi agar realisasi pembangunan rumah subsidi berbaasis tabungan ini dapat segera terlaksana.
THE EXISTENCE OF WAQF IN ESTABLISHING A SUSTAINABLE COMMUNAL SPACE Agus Rochani; Nany Yuliastuti; Budi Sudarwanto
Journal of Islamic Architecture Vol 7, No 1 (2022): Journal of Islamic Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, UIN Maliki Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jia.v7i1.15310

Abstract

In Indonesia, the number of urban settlements continues to grow, while the paucity of communal space in urban areas persists. Therefore, it is vital to support local potential to achieve long-term success. Waqf generosity is one form of social development that has been institutionalized in society. Waqf, or benevolent generosity in surrendering personal possessions for the public good, is practiced by almost the entire Muslim community worshiping Allah SWT. This research aims to uncover the role of waqf in the formation of public spaces from a long-term viewpoint. This study employs a case study method to comprehend the real life of the waqf spatial entity in the urban village. The research location is Tugurejo Village, Tugu District, Semarang City. The study deviates from the grand theory to investigate the events at the study site. Interviews, observation, and secondary data are used to acquire data; descriptive methods are used to analyze the data, and the research findings are fed back into the grand theory. The research found that sustaining communal ownership rights and productivity advantages between generations ensures the sustainability of waqf as a communal space, resulting in a sustainable community structure.
Identifikasi Bencana Rob dan Pengaruhnya Pada Kerentanan Sosial di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang Vica Gitya Haryanti; Nany Yuliastuti
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 17, No 3 (2021): JPWK Volume 17 No. 3 September 2021
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v17i3.37022

Abstract

Coastal innudation which is still happening today in the coastal area of Semarang City has caused the affected area to become socially vulnerable. This study aims to identify the effect of coastal innudation on conditions of social vulnerability in North Semarang District, Semarang City. The method used in this study is a quantitative method using quantitative descriptive analysis techniques and scoring analysis. The analysis was carried out using descriptive analysis of the condition of coastal innudation which caused social vulnerability and scoring analysis which resulted in the level of social vulnerability in the District of North Semarang.  The result of this research is that the coastal innudation in North Semarang District affects social vulnerability which is classified into 3 categories, namely high, medium and low social vulnerability.  High social vulnerability dominates the social vulnerability value in North Semarang Sub-District because 4 out of 9 urban villages in North Semarang Sub-District have a high vulnerability value due to coastal innudation.
PENILAIAN KUALITAS SARANA PRASARANA LINGKUNGAN DI RUSUNAWA KALIGAWE, KOTA SEMARANG Megy Utya Khairunisa; Nany Yuliastuti
Jurnal Riptek Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.166 KB) | DOI: 10.35475/riptek.v12i1.13

Abstract

Kaligawe Flats is one of the social housing in Semarang that located in Kaligawe Village. The provision of this social housing is to decrease the slum area in Semarang and provide a housing for low income people from Semarang City. Along with the passage of time quality of facilities and infrastructure in the area called rusunawa quality decline. This can be seen from some of the damage that occurred. The purpose of this research is to find the existing facilities and infrastructure in Kaligawe Rusunawa area, Semarang City. This study uses a quantitative approach by analyzing the quality and existing facilities. Therefore, the residents of Rusunawa need to be more active in the maintenance which is accompanied by an effort to perform maintenance that is done regularly and periodically to increase the level of facilities and infrastructure quality in Kaligawe Falts.
PENILAIAN KEBERLANJUTAN KAMPUNG JAWI SEBAGAI KAMPUNG TEMATIK WISATA DI KOTA SEMARANG Maharani, Edelways Tiara; Yuliastuti, Nany
Jurnal Pengembangan Kota Vol 11, No 2: Desember 2023
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.11.2.191-201

Abstract

Kota Semarang memiliki beragam kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pariwisata. Sebagaimana yang diamanatkan di dalam Sustainable Development Goals bahwa pembangunan diarahkan untuk memenuhi tujuan-tujuan berkelanjutan, salah satunya adalah pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi. Salah satu bentuk pariwisata, yakni pariwisata kampung dapat ditemukan pada kampung-kampung tematik. Salah satu kampung tematik di Kota Semarang yang cukup potensial dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah Kampung Jawi yang terletak di Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati. Terdapat indikasi bahwa kualitas atraksi yang diperoleh dari pengelolaan Kampung Jawi belum maksimal sehingga mengakibatkan penurunan jumlah pengunjung. Sehingga dikhawatirkan Kampung Jawi tidak berkelanjutan di masa depan. Untuk itu, penting untuk mengetahui keberlanjutan dan hal-hal yang mempengaruhi keberlanjutan Kampung Jawi saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keberlanjutan Kampung Jawi sebagai kampung Tematik wisata dilihat dari empat dimensi, yakni Pemanfaatan Lingkungan Fisik, Manfaat Ekonomi, Tata Kelola Kampung Tematik, dan Interaksi Sosial dan Budaya Masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif menggunakan MDS (Multidimensional Scaling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan tingkat keberlanjutan Kampung Jawi sebagai Kampung Tematik Wisata termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan. Keberlanjutan dimensi pemanfaatan lingkungan fisik dikategorikan sebagai dimensi yang berkelanjutan, sedangkan dimensi manfaat ekonomi, tata kelola kampung tematik dan interaksi sosial dan budaya dikategorikan cukup berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan pada atribut aksesibilitas, pendapatan masyarakat, kerjasama dengan pihak luar, dan keterlibatan masyarakat dalam pariwisata Kampung Jawi.
Penilaian Keberlanjutan Kampung Batik Laweyan Kota Surakarta Feritrianti, Anisa; Yuliastuti, Nany
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 20, No 3 (2024): JPWK Volume 20 No. 3 September 2024
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v20i3.58166

Abstract

Pariwisata telah berperan penting dalam menyelesaikan permasalahan permukiman, sejalan dengan tujuan (goal) pertama (tanpa kemisikinan), delapan (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi), dan sebelas (kota dan pemukiman yang berkelanjutan) dari Sustainable Development Goals. Kampung Tematik, seperti Kampung Batik Laweyan di Surakarta, merupakan contoh sektor pariwisata perkotaan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi lokal dan penyelesaian masalah ekonomi, sosial, serta lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keberlanjutan Kampung Batik Laweyan sebagai destinasi wisata kampung tematik. Dengan menggunakan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif, dan skoring, penelitian ini melibatkan 44 UMKM batik di Kampung Batik Laweyan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kampung Batik Laweyan memiliki total skor 78,81 atau 65,9% dalam kategori cukup berkelanjutan. Aspek fisik menunjukkan ketersediaan dan kualitas sarana yang baik, sementara aspek ekonomi menunjukkan peningkatan pendapatan dari industri batik. Aspek sosial dan budaya terjaga dengan pelestarian budaya lokal dan partisipasi aktif masyarakat. Untuk meningkatkan keberlanjutan, diperlukan pengembangan sumber daya manusia, peran aktif aktor lokal, dan strategi pemasaran yang efektif. Pelatihan, keterlibatan komunitas, dan pemanfaatan teknologi informasi akan membantu Kampung Batik Laweyan menjadi destinasi wisata budaya yang lebih berkelanjutan.