Claim Missing Document
Check
Articles

Spatial Planning and Community Involvement of Ecovillage Settlements in Tibang Village, Banda Aceh City Fahrizal Fahrizal; Nany Yuliastuti
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v16i2.21607

Abstract

One of the handling strategies towards achieving the SDG Agenda is the 11th goal at the moment, namely environmentally sound development. Tibang, as a residential area in the city of Banda Aceh, has implemented a program from the city government that leads to environmentally sound settlements by applying the eco-village concept. This step has received support from the government in the form of policies and the existence of community institutions that care about the environment but have not been implemented optimally. Based on the problem in this study, how is the assessment of residential and residential areas in Tibang Village an embodiment of environmentally friendly villages? This study aims to assess the factors that influence housing and settlement areas in realizing the concept of the eco-village in Tibang Village. The method used is descriptive quantitative method with factor analysis, which has 82 respondents. By analyzing using the method of assessment and weighting analysis, the results obtained indicate that Tibang settlements need to be improved, especially in maintaining the preservation and environmental quality that can be realized through space utilization and community involvement in environmental preservation. Recommendations addressed to the community to increase the utilization of residential space efficiently and optimize the role of community groups concerned with the environment by embracing all levels of society and participating in realizing the eco-village concept.
Pengembangan Kampung Tematik Berkelanjutan pada Kampung Blangkon Potrojayan Serengan Kota Surakarta Modiash, Alfina; Yuliastuti, Nany
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 21, No 1 (2025): JPWK Volume 21 No. 1 March 2025
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v21i1.58801

Abstract

Program kampung tematik merupakan inovasi pemerintah yang menonjolkan potensi lokal kampung bertujuan mengangkat kearifan lokal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kualitas lingkungan permukiman.  Kampung Blangkon Potrojayan merupakan salah satu kampung tematik yang berpotensi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat serta mendukung kearifan lokal menjadi sebuah ikonik di Kota Surakarta berupa produk budaya jawa yaitu blangkon. Namun, masih terdapat permasalahan terkait dukungan infrastruktur kawasan maupun kualitas pengelolaan kampungnya. Salah satunya berupa kegiatan promosi yang masih bersifat konvensional serta jaringan jalan yang dipergunakan sebagai tempat menjemur blangkon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tindakan pengembangan kampung tematik yang berkelanjutan di Kampung Blangkon Potrojayan. Dengan menggunakan metode kuantitatif berupa analisis skoring untuk mengetahui kondisi eksisting dan tingkat keberlanjutan kampung serta metode Importance Performance Analysis (IPA) untuk mengetahui tingkatan prioritas tindakan yang dapat menjadi usulan perbaikan. Hasil penelitian didapatkan Kampung Blangkon Potrojayan berada pada tingkat cukup berkelanjutan dengan skor 2,21 dimana terdapat 4 atribut yang menjadi prioritas utama dilakukan pengembangan yaitu kondisi jaringan jalan, jenis media promosi, pekerja yang kompeten, keikutsertaan kegiatan pameran. Prioritas pertama tindakan yang perlu dilakukan dalam mengembangkan Kampung Blangkon Potrojayan berupa perlu ditetapkannya lahan khusus penjemuran blangkon komunal yang terdapat di kawasan rencana kampung wisata dalam rangka meningkatkan kenyamanan pergerakan wisatawan dan warga lokal.
Priorities in Sustainable Management After Settlement Arrangement in The Coastal Area of Tegalsari Village Haidar, Noval Amani; Yuliastuti, Nany
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.6776

Abstract

Abstract. In 2015, the United Nations formulated 17 Sustainable Development Goals (SDGs) to address global issues, including Goal 11: Sustainable Cities and Communities. Slum areas, especially in coastal regions, are a key concern. Tegalsari Village in Tegal City was designated as a slum area in the 2014 Slum Decree by the Mayor of Tegal. In response, the Ministry of Public Works and Housing (PUPR) implemented a settlement improvement program, completed in 2019. This study aims to analyze the priority of coastal area management following the settlement arrangement in Tegalsari. A quantitative approach using the Importance Performance Analysis (IPA) method was employed. Results show the level of importance-performance alignment as follows: coastal area structuring (95%), spatial planning (92%), slum area sustainability (58%), area management (49%), and environmental quality (92%). Based on the Cartesian diagram, coastal area management and slum area sustainability fall into the top priority quadrant (1), while coastal structuring is in the maintain achievement quadrant (2). Spatial planning and environmental quality are placed in the excessive quadrant (4). Effective management of the Tegalsari coastal area requires collaboration between the government and local communities to ensure the sustainability of the improvements made.
RENCANA BISNIS AKUAPONIK SKALA RUMAH TANGGA DI RT 09 RW IV KELURAHAN KANDRI SEMARANG Rahdriawan, Mardwi; Damayanti, Maya; Wahyono, Hadi; Sunarti, S; Yuliastuti, Nany; Caesarany, Dara Amalia
Jurnal Pasopati Vol 6, No 2 (2024): Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pasopati.2024.24031

Abstract

Kota Semarang adalah salah satu peserta program 100 Resilient Cities, yang berkomitmen untuk meningkatkan ketahanan kota dalam menghadapi berbagai bencana, salah satunya melalui pertanian perkotaan. Urban farming, khususnya akuaponik, menjadi solusi potensial dengan menggabungkan budidaya ikan (akuakultur) dan tanaman tanpa tanah (hidroponik), menciptakan sistem yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Komunitas akuaponik di RT 09 RW IV, Kelurahan Kandri, telah berupaya mengembangkan pertanian perkotaan ini namun masih menghadapi berbagai tantangan seperti kurangnya akses pasar, fasilitas yang tidak memadai, dan tantangan teknis lainnya. Tujuan kegiatan pengabdian untuk memberikan sosiaisasi dan pendampingan melalui Focus Group Discussion guna mengidentifikasi kendala dan memberikan solusi praktis rencana bisnis akuaponik. Hasil dari FGD menunjukkan bahwa sebagian komunitas sudah mampu memasarkan hasil pertaniannya, namun tidak secara rutin. Terkait sistem akupaonik, komunitas ini juga berupaya untuk mendapat fasilitasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) agar lebih efisien. Hal ini agar rencana bisnis yang disusun yang meliputi proses produksi, manajemen risiko, sumber daya manusia, dan keuangan dapat menunjukkan prospek keuntungan yang baik. Kesimpulannya, dengan dukungan dan pelatihan yang tepat, komunitas akuaponik di RT 09 RW IV dapat mencapai keberlanjutan dan berkontribusi pada ketahanan pangan lokal. Pendekatan kolaboratif perlu dilakukan untuk mengatasi tantangan pengembangan bisnis akuaponik di lingkungan komunitas.
Penilaian Kegiatan Agrowisata di Kampung Jambu Kristal Kota Semarang Pertiwi, Natania Nysa; Yuliastuti, Nany
Ruang Vol 11, No 2 (2025): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.11.2.50-57

Abstract

Kampung Jambu Kristal merupakan kampung tematik berbasis agrowisata yang terletak di Kelurahan Wates, Kota Semarang. Kampung ini memiliki potensi sebagai wisata edukatif berbasis pertanian yang dapat mendukung ekonomi kreatif dan urban farming. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kinerja kegiatan agrowisata di Kampung Jambu Kristal dan menganalisis aspek yang perlu ditingkatkan. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner, observasi lapangan, dan telaah dokumen. Penentuan sampel dilakukan secara purposive kepada 33 responden yang merupakan pengelola kegiatan agrowisata. Analisis data dilakukan menggunakan metode skoring dan pembobotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kinerja agrowisata tergolong cukup baik dengan skor total 1616. Secara rinci, aspek sarana prasarana (skor 1,74) dan manfaat ekonomi masyarakat (skor 1,98) berada pada kategori buruk, sedangkan aspek SDM pengelola (2,16), kelembagaan (2,27), dan peran stakeholder (2,53) tergolong cukup baik. Berdasarkan temuan ini, diperlukan peningkatan pada aspek fisik seperti infrastruktur pendukung dan aksesibilitas, serta perbaikan aspek ekonomi melalui penguatan kelembagaan dan dukungan stakeholder guna meningkatkan keberlanjutan kinerja agrowisata dan kesejahteraan masyarakat.
PENGENDALIAN TRANSFORMASI BENTUK RUMAH DI PERUMAHAN KORPRI PRAJAMUKTI, KOTA SALATIGA Sunarti, S; Yuliastuti, Nany; Tyas, Wido Prananing; Putri, Kharunia
Jurnal Pengembangan Kota Vol 13, No 1: Juli 2025
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.13.1.%p

Abstract

Transformasi bentuk rumah merupakan fenomena yang umum terjadi pada perumahan subsidi, termasuk di Perumahan KORPRI Prajamukti, Kota Salatiga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian transformasi bentuk rumah agar tetap sesuai dengan regulasi dan standar yang berlaku. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed method), dengan pendekatan kuantitatif untuk mengklasifikasikan transformasi bentuk rumah melalui analisis spasial dan pembobotan, serta pendekatan kualitatif untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi transformasi dengan metode observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85,75% unit rumah mengalami transformasi, dengan rincian 6,75% mengalami transformasi ringan, 66,5% transformasi sedang, dan 12,5% transformasi total. Transformasi ini dipengaruhi oleh kebutuhan ruang akibat bertambahnya anggota keluarga, faktor ekonomi, serta ketidakpuasan terhadap desain awal rumah. Namun, transformasi yang tidak terkendali menyebabkan pelanggaran regulasi tata ruang, khususnya terkait koefisien dasar bangunan (KDB), berkurangnya ruang terbuka hijau, serta menurunnya kualitas lingkungan dan interaksi sosial. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian melalui regulasi yang lebih ketat, edukasi kepada penghuni, serta desain perumahan yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat tanpa melanggar ketentuan tata ruang yang berlaku.
Penentuan Prioritas Penyediaan Taman Kota Baru di Kota Semarang Sitanggang, Febrina; Yuliastuti, Nany
TATALOKA Vol 27, No 4 (2025): Volume 27 No 4, November 2025
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.27.4.327-346

Abstract

Penyediaan dan pemanfaatan taman kota kawasan perkotaan merupakan wujud komitmen pemerintah dalam mencapai Sustainable Development Goals, khususnya Pilar Pembangunan Lingkungan Tujuan ke-11. Elemen lingkungan yang penting pada suatu lingkungan perkotaan adalah ruang terbuka hijau yang krusial terhadap kehidupan masyarakat, yaitu taman kota. Taman kota memiliki signifikansi kuat dalam menjaga aspek hidrologis maupun ekologis. Keberadaan taman kota juga memiliki peran penting mengurangi suhu permukaan pada kawasan perkotaan yang relatif lebih tinggi. Kurang meratanya distribusi taman kota di Kota Semarang pada kawasan perkotaan mengurangi kualitas lingkungan perkotaan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan daerah-daerah prioritas dan lahan potensial dalam penyediaan tambahan kuantitas taman kota di Kota Semarang. Metodologi penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pemanfaatan perangkat lunak sistem informasi geografis (SIG). Metode SIG yang digunakan adalah weighted overlay dari variabel penentu, yaitu analisis tingkat kenyamanan termal, kerapatan vegetasi, kepadatan penduduk, dan aksesibilitas. Kebaruan penelitian ini adalah penambahan variabel aksesibilitas dengan analisis SIG yang belum digunakan dalam studi serupa di wilayah ini, sehingga menghasilkan pemetaan spasial daerah prioritas dan lahan potensial penyediaan taman kota di Kota Semarang yang lebih adatif dan komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Semarang sangat perlu untuk disediakan penambahan taman kota, hal ini dapat dilihat dari luas daerah dengan tingkat prioritas “Sangat Tinggi” sebesar 19.146,01 ha (49,90%) dan luas lahan potensial sebesar 2.374,71 ha (5,96%) dari luas total Kota Semarang. Kecamatan dengan prioritas dan persentase tertinggi yaitu Kecamatan Semarang Tengah, Semarang Selatan, Semarang Utara, Semarang Timur, dan Gayamsari.